Our Lector-Acolyte Installation

This past Sunday (11/11), our Scholasticate of Indonesian Province celebrated the installation of lector and acolyte for seven final-year scholastics. It was a pretty big annual event for the whole community, since it is considered as the last formal step prior to diaconate ordination. As such, it was a great day for the seven freshly installed lectors and acolytes. Fra. Antonius Effendi, SCJ – one of the seven – said: “It was one of good decissions that I made after having deep discerments with God and my spiritual director. This decission lead me further to a deeper sense of responsibility for the upcoming ordination!” The installation process had started the night before when Fr. Priyo Widarto, SCJ – the rector of our Scholasticate – gave the orientation regarding this ministry of lectore and acolyte, which its dignity and values must be well preserved in our life.

Father Provincial –Fr. Andreas Madya Sriyanto, SCJ – was the one who lead the service and installation. His words in homily were encouraging and affirming. Fr. Madya spoke of the real challenges of our religious life and we are called to firmly be rooted in the spirit of love and reparation. Fr. Madya stated: “Yes, there are a lot of challenges in our present religious life. There are numerous scandals even in our Congregation. But these facts must not discourage us to follow Christ. They must force us even to more loudly spread the Good News and to more daringly serve the altar of God!

 Fra. Albertus Joni, SCJ

Advertisements

Skolastikat SCJ: Rumah Formasi SCJ Yogyakarta

Para Frater-Bruder Skolastik (students) SCJ di Yogyakarta

Skolastikat SCJ adalah tempat pembinaan utama para SCJ muda setelah masa Tahun Rohani di Novisiat. Para Frater dan Bruder selama paling sedikit 6 tahun membentuk- mengolah diri serta panggilan bersama Allah dan para pembimbing. Inilah tempat di mana para imam SCJ ‘dilahirkan’ dan karya pelayanan-persembahan diri seluas dunia disemaikan.

Terletak di pinggiran kota Yogyakarta, komunitas studi ini terbagi menjadi dua rumah pembinaan. Rumah pertama kami di Jalan Kaliurang KM 7,5 ditempati oleh para Frater-Bruder  tingkat I hingga tingkat IV. Rumah kedua kami di Jalan Wulung 9A – Papringan dihuni oleh para Frater-Bruder tingkat V dan VI yang berfokus lebih pada studi pasca-sarjana dan persiapan menuju imamat mereka.

Saat ini, kita memiliki 32 orang Frater-Bruder Skolastik tingkat I hingga tingkat IV, 3 orang Frater yang sedang menjalani masa Tahun Orientasi Pastroral di paroki, 8 orang Frater-Bruder di tingkat V, 1 orang Frater di tingkat VI dan 2 orang Frater tingkat akhir yang hampir menyelesaikan Program Imamat mereka. Empat puluh enam pemuda dengan cita-cita mulia ini didampingi oleh Rm. FX Tri Priyo Widarto, SCJ (Rektor Rumah), Rm. Gerard Zwaard, SCJ (Ekonom), Rm. FA Purwanto, SCJ (Pembimbing dan Dosen), Rm. Markus Tukiman, SCJ (Delegatus Rektor untuk Rumah SCJ II) dan Rm. CB. Kusmaryanto , SCJ (Pembimbing dan Dosen).  Kelima staff formator ini dengan sepenuh hati mengabdikan diri mereka untuk pendampingan yang integral bagi para Frater-Bruder ini.

 

Enam pilar pendidikan integral yang selalu menjadi panduan bagi para formator dan formandi ini adalah: hidup rohani, kepribadian, hidup komunitas, kesehatan, spiritualitas dehoniana, dan karya pastoral. Berbekal enam dimensi ini, setiap anggota SCJ muda diharapkan terbantu menghayati hidup kemurnian, kemiskinan dan ketaatan yang ia pilih dan ikrarkan dihadapan Allah.

 

Pendampingan cura personalis (memperhatikan perkembangan setiap pribadi) menjadi tekanan utama dalam masa pembinaan di Skolatikat SCJ ini karena kami menyadari benar bahwa masa formasi ini bukanlah sekadar ‘masa kuliah’ saja. Kami menyadari benar-benar bahwa Gereja dan umat saat ini membutuhkan seorang imam-biarawan yang mau setia dan dengan rendah hati berpegang pada Allah saja.

 

Oleh karena itu, dalam banyak kesempatan kami selalu membuat penegasan roh bersama dalam pertemuan komunitas, dalam bimbingan rohani dan dalam perjumpaan dan keterlibatan karya pastoral mengajar di sekolah, kunjungan doa bagi yang sakit, pendampingan retret dan rekoleksi, pastoral penjara dan orang muda. Panggilan menjadi biarawan dan imam adalah panggilan istimewa yang menuntut kepenuhan pribadi yang baik dan kepasarahan luar biasa pada kehendak Allah. Kita tentu tidak mengharapkan imam-imam yang semata-mata pandai dalam olah nalar dan pikiran, tetapi juga yang sekaligus tajam dalam budi, halus dalam hati-rasa dan berpakaian kekudusan.