Katekese 1 ~ “Percakapan tentang Doa”

Video ini adalah live-streaming pengajaran tentang doa dalam iman Katolik.

Semoga video ini dapat membantu para sahabat untuk mengenal apa dan bagaimana kita dapat belajar “mengangkat hati” kepada Tuhan…

Silahkan bagikan/share video ini pada komunitas atau pada sahabat lain yang dikau kenal…

 

 

Secara rutin video katekese singkat seperti ini akan dilakukan dengan via live-streaming Facebook.

Siapkan jaringan WiFi dan jangan sungkan untuk follow:

www.romokoko.org
IG: @romo_koko
YouTube Channel: Romo Koko

Tuhan memberkati para sahabat semua!

VCJ PCM
+ p. Albertus Joni scj

Advertisements

“Senyum seorang Imam…”

#SoulBites 2.0 | 19112015

Saat saya berjumpa dengan romo Sepiono SCJ, hal yang paling kuat membekas adalah senyum tulusnya. Ia adalah romo dengan senyum yang meyakinkan kita bahwa dunia ini masih layak ditempati…

image

Padahal, sahabatku, paroki tempatnya bertugas terletak lebih jauh dari tempatku berkarya. Medan pelayanannya berat…ah ya, per mobilnya baru saja patah karena jalan yang terlampau buruk untuk dilalui… Di pedalaman Sumatera ini, saya belajar banyak dari sosok imam SCJ yang sederhana ini.

Continue reading ““Senyum seorang Imam…””

Coming Soon: #SoulBites 1.0

cover

Coming soon: ‪#‎SoulBites‬ 1.0 – a compilation of inspirations for your souls… Kindly mark the launching event for my new book: Wednesday, Sept 30 2015 @Harper Hotel Mangkubumi Yogyakarta – 18.00…

Segera terbit: #SoulBites 1.0 – sebuah kompilasi renungan bagi jiwa Anda… Tandai kalender Anda untuk peluncuran buku baru ini: Rabu, 30 Sept 2015 @Harper Hotel Mangkubumi Yogyakarta – 18.00…

Save the date! Jesus love you!

Tentang Melayani…

Tanjung Sakti: Misi Pertama SCJ Indonesia di Pedalaman Sumatera Selatan
Tanjung Sakti: Misi Pertama SCJ Indonesia di Pedalaman Sumatera Selatan

Masa-masa menjelang Paskah, para imam membutuhkan karunia kesehatan fisik yang lebih dari biasanya. Betapa tidak! Saya kenang seorang imam pembimbingku yang tak lagi muda harus berkeliling mewartakan kabar baik tentang Allah yang Hidup ke banyak pelosok Jambi dengan jalan penuh lumpur dan batu tajam. Misionaris tua ini bahkan sampai harus menyeberangi rawa penuh lintah dengan setengah telanjang dan koper alat misa di atas kepalanya. Dalam usia senja, ia harus pensiun karena cacing kaki gajah menyerangnya dengan nanah dan luka basah yang harus selalu dibersihkan. Sambil bercanda, kami sering menggoda pastor senior ini: “Ah, romo, kakinya bengkak karena menerima stigmata alias luka paku salib Yesus!” Dan ia tak pernah marah, justru tertawa terbahak. Continue reading “Tentang Melayani…”

Our Lector-Acolyte Installation

This past Sunday (11/11), our Scholasticate of Indonesian Province celebrated the installation of lector and acolyte for seven final-year scholastics. It was a pretty big annual event for the whole community, since it is considered as the last formal step prior to diaconate ordination. As such, it was a great day for the seven freshly installed lectors and acolytes. Fra. Antonius Effendi, SCJ – one of the seven – said: “It was one of good decissions that I made after having deep discerments with God and my spiritual director. This decission lead me further to a deeper sense of responsibility for the upcoming ordination!” The installation process had started the night before when Fr. Priyo Widarto, SCJ – the rector of our Scholasticate – gave the orientation regarding this ministry of lectore and acolyte, which its dignity and values must be well preserved in our life.

Father Provincial –Fr. Andreas Madya Sriyanto, SCJ – was the one who lead the service and installation. His words in homily were encouraging and affirming. Fr. Madya spoke of the real challenges of our religious life and we are called to firmly be rooted in the spirit of love and reparation. Fr. Madya stated: “Yes, there are a lot of challenges in our present religious life. There are numerous scandals even in our Congregation. But these facts must not discourage us to follow Christ. They must force us even to more loudly spread the Good News and to more daringly serve the altar of God!

 Fra. Albertus Joni, SCJ

Rm. Markus Apriyono SCJ: Pawang Hujan Amatir

penunggu Tugu Yogyakarta 🙂

Tak banyak yang tahu bahwa Rm. Markus Apriyono SCJ ini dinobatkan menjadi pawang hujan resmi Skolastikat SCJ Yogyakarta. Berawal dari pembawaan Rm. Apri yang tenang, pendoa, meditatif-kontemplatif inilah ia dipercaya untuk berdoa mohon hujan tidak turun setiap kali ada hajatan outdoor komunitas. Sampai saat ini, belum ada doanya yang tak terkabul. Walau mendung pekat menghadang, seorang Romo kelahiran Tanjung Kemuning, 29 April 1985 ini tinggal menghembuskan nafasnya saja dan awan hujan akan pergi jauh-jauh (wah seperti film Kungfu Hustle-nya Tonny Leung hehehe … agak lebay ya … hehehe).

 Dengan doa dan puasa, frater dari 8 bersaudara ini sungguh yakin bahwa segala permintaan akan dikabulkan sesuai kehendak Sang Maha Kuasa. Maka tak heran bahwa perawakannya kurus kering (beberapa teman frater bahkan memaksanya puasa supaya ujian mereka joss).

Buah hati dari Bapak Andreas Kiswimikarjo (alm) dan Ibu Yustina Kasmirah ini sejak kecil memang terkagum-kagum dengan sosok romo paroki yang melayani stasinya. Kekaguman ini bertambah ketika ia bergabung menjadi misdinar dan mendapat berkat pertama serta menyalami romo. Hatinya yang terlanjur kepincut ini mendorong frater berkulit sawo (terlalu) matang ini masuk ke Seminari Menengah St. Paulus Palembang setamat dari SMPN 3 Purwodadi pada tahun 2000. Pembawaannya yang tenang, berwibawa dan kalem langsung membuat teman-teman seminarinya menaruh hormat pada frater satu ini.

 Kebiasaannya berdoa, meditasi dan olah rohani makin berkembang di seminari, sampai-sampai banyak yang meramalkan frater kita ini akan mendirikan kongregasi sendiri. Ternyata ramalan ini gagal total karena setelah menempuh pendidikan di seminari, Rm. Apri melamar dan diterima dalam Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ). Ketekunan dan keuletan yang menjadi keutamaannya membuatnya makin bersinar cemerlang dalam masa novisiat maupun skolastikan. Kreativitasnya pun patut diacungi jempul. Lihat saja kamarnya yang setiap tahun berganti tema dekorasi. Ada tema “musim gugur di Belanda” (ada hiasan ranting-ranting dan daun-daun kering dari kebun di seluruh kamar) hingga tema “Tuhan Yesus berdoa di Goa Selarong” (di kamarnya ada foto Tuhan Yesus dan gua buatan lengkap dengan stalaktit dan stalagmit lho).

 Tentu saja banyak juga tantangan yang ia hadapi selama ini, apalagi setelah ia menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) nya di Paroki Kabar Gembira Kotabumi, Lampung. Tetapi keyakinannya tetap teguh, “Dia yang telah memanggil itu adalah setia. Dia yang telah memulai karya baik dalam diriku, maka Dia pula yang akan menyelesaikannya!” Keyakinan inilah yang memberanikan pawang hujan kita mengikat janji berjubah putih hingga mati pada Agustus 2011 dan ditahbiskan sebagai Imam Hati Kudus Yesus pada Agustus 2013 yang lalu! Maju terus, pawang hujanku… eh… romoku!

 

 

 

Rm. Gregorius Dedi Rusdianto SCJ: “Makin Tua – Makin Holy!”

usia bukan halangan menanggapi panggilanNya!

Dari seluruh iklan televisi yang ada, hati Mbah Dedi – demikian nama akrabnya – ini pasti miris bila melihat iklan Salonpas atau Minyak Urut Cap Lang. Dua benda inilah yang setia mendampingi boyoknya jika memaksakan diri berjoget dan bergoyang seperti teman-teman frater yang usianya layak jadi anaknya.

Ya, di usia yang terbilang istimewa (terlahir 29 Mei 1973), si sulung dari 3 bersaudara buah hati Bapak Andreas Roeslan dan Ibu Rosalia Sradiyah ini dengan mantap memutuskan untuk menjadi seorang biarawan dan calon imam. Dibandingkan dengan teman-teman angkatannya yang lebih muda sebelas atau dua belas tahun, Rm. Dedi tidak pernah mau kalah semangat. Dengan tekun ia selalu belajar, diskusi, membuat ringkasan dan giat membaca. Sampai-sampai para frater yang lebih muda merasa malu karena justru Mbah kesayangan mereka itu meberi teladan yang sangat baik di usia ‘senja’nya.

Romo Dedi yang berasal dari Kotagede, Yogyakarta ini mengaku bahwa panggilan hidup membiara tidak muncul dari kecil atau remaja. “Ketika aku remaja pun aku pingin punya pacar dan kelak menikah dengan seorang wanita yang kucintai.” Itulah sebabnya Mbah Dedi pun kuliah Sarjana Ekonomi, bekerja sebagai ekonom dan akuntan, lalu sudah mempersiapkan diri ke pelaminan.

Tetapi ternyata semua berubah 180 derajat karena percakapan Yesus dengan Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Jawab Petrus untuk ketiga kalinya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu. Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau!” Lalu Yesus bersabda: “Gembalakanlah domba-dombaKu.”

Mbah Dedi merasa tersentak ketika merenungkan sabda ini dan akhirnya iapun mulai berpikiran untuk menjadi seorang biarawan. Semangat ini makin berkobar saat ia menjalani masa perkenalan hidup membiara bersama para Yesuit yang ia kenal. Pengenalan hidup doa dan olah batin Yesuit makin membuatnya mantap, apalagi memang Frater Dedi ini alumni Resimen Mahasiswa yang dididik disiplin dan tegas seperti St. Ignatius yang naluri militeristiknya begitu kuat. Namun sekali lagi Tuhan membuat kejutan dalam hidupnya. Di tengah pengembaraannya, ia jatuh hati dengan bumi Sumatera tempat para SCJ berkarya. Iapun terkagum-kagum dengan semangat cinta, pemulihan dan persaudaraan yang dimiliki para SCJ. Tiga hal inilah yang selalu ditimba Rm. Dedi pada spiritualitas SCJ dan membuatnya senantiasa gembira dalam menjalani panggilan (konon suara tawanya bisa terdengar dari radius 50 meter).

dekat dengan orang muda dan menjadi teladan bagi mereka…

Jangan heran kalau di tengah malam kita melihat Romo ini sedang duduk bersimpuh di depan tabernakel seorang diri atau sendirian meditasi di pojok-pojok rumah yang dikenal wingit. Rm. Dedi sungguh sebuah teladan pendoa yang setia, seperti Simeon, nabi tua yang setia menantikan Mesias di Bait Allah.

Sosok Mbah Dedi ini sulit dicari tandingannya: tua-tua keladi, makin tua makin holy (suci). Putusannya untuk mengikrarkan kaul kekalnya di Agustus 2011 juga membawanya kembali ke jawaban Petrus: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu. Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau di atas segalanya.”

Mengenal SCJ – Dehonian?

Mengenal SCJ Lebih Dalam…

Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus (Congregatio Sacerdotum a Sacro Corde Jesu) – SCJ – adalah sebuah komunitas religius internasional berstatus kepausan yang didirikan oleh Venerabillis Jéan Léon Dehon di Paris pada 1878. Spiritualitas kami didasarkan pada kasih Kristus mengalir dari HatiNya yang Tertikam dan yang mendorong kita untuk memberi-Nya cinta dan pemulihan melalui doa, adorasi dan persembahan diri kami dalam berbagai pelayanan; terutama kepada orang-orang miskin dan kaum marjinal. Para SCJ sekarang hadir di empat benua – di lebih dari 40 negara di seluruh dunia.

 Kehadiran para SCJ di Indonesia sendiri bermula sejak tahun 1923 dengan kehadiran para missionaris Belanda di tanah Sumatera Selatan. Tanah missi ini sebelumnya telah ditinggalkan para imam Yesuit dan Fransiskan karena beratnya medan dan pertumbuhan yang kurang menjanjikan. Didorong oleh semangat cinta pada Hati Kudus Yesus, para missionaris SCJ tetap menerima tugas penuh tantangan ini dengan hati besar. Sedari awal karyanya di Indonesia hingga penghujung millenium kedua, mandat yang diberikan oleh Tahta Suci pada para SCJ adalah untuk menanam-tumbuhkan benih Gereja di Sumatra Selatan. Kami memulai karya besar Allah di bumi Raflesia ini dan lalu membuka hampir seluruh paroki yang ada di Keuskupan Agung Palembang dan di Keuskupan Tanjung Karang. Keringat dan usaha keras terus dilakukan. Darah para martir SCJ yang tertumpah saat penjajahan Jepang pun turut menyuburkan Gereja. Ratusan ribu jiwa ditobatkan. Perlahan, saat Gereja di Sumatera Selatan telah mandiri, para SCJ terus menerus mengembangkan umat dengan semangat cinta dan pengorbanan. Karya misi lokal di daerah transimgrasi baru Pangkalan Kerinci (Kesukupan Padang) dan di paroki-paroki terpencil Papua yang tak memiliki imam-pun diambil dengan berani walau tak mempunyai jaminan finansial yang mencukupi. Karya kesehatan dan pendidikan digalakkan oleh SCJ sampai ke pelosok yang penuh lumpur dan rawa-rawa.

Tanjung Sakti: Misi Pertama SCJ Indonesia di Pedalaman Sumatera Selatan

 Ketika Kongregasi ini mencoba untuk memperluas kehadiran Hati Kudus Yesus ke wilayah lain di Asia, para SCJ Indonesia juga dipercaya memulai misi di pedalaman Filipina – tempat para teroris muslim MILF sempat selama beberapa bulan menculik dan hampir membunuh salah satu imam kami. Beberapa tahun kemudian, SCJ Indonesia juga merintis kemungkinan baru untuk masuk ke India – sebuah negara yang juga diwarnai konflik agama yang berkepanjangan. Roh Kudus kemudian menegaskan kehadiran kami di kedua negara ini dan akhirnya para SCJ lokal mulai ditahbiskan satu per satu hingga hari ini. Kisah yang sama juga terjadi ketika SCJ Indonesia memulai karyanya di Vietnam – sebuah negara Komunis yang sangat menekan Gereja dan para imam. Kehadiran kami yang diam-diam dan rahasia di Vietnam sekarang ada dalam proses maju yang cukup berarti. Akhir-akhir ini, kami memimpikan juga hadirnya Kerajaan Hati Yesus di Cina – sebuah negara besar di mana iman Kristen kita memiliki sejarah panjang penganiayaan dan kemartiran.

Impian kami: membakar dunia dengan kasih Allah!

Impian kami bagi dunia sederhana saja: agar dunia saat ini – yang ditandai makin maraknya kekerasan, kemiskinan dan perpecahan – dapat sungguh percaya bahwa Allah tetap mencintai dan menyelamatkan mereka. Namun impian sederhana ini ternyata membutuhkan banyak sekali sumberdaya. Tak banyak yang tahu bahwa semua impian kami ini pertama kali harus dicapai dengan tersedianya pendidikan yang baik bagi para SCJ muda – para frater dan bruder yang dipersiapkan untuk terjun dan membawa Allah di tengah dunia. Dan untuk itulah, kisah ini dituliskan bagi Anda, agar kisah keselamatan ini tidak lagi menjadi hanya kisah ‘kami’ namun juga menjadi kisah ‘kita’…

Devosi Hati Kudus Yesus dan Adorasi Ekaristi: Titik Temunya?

Devosi Hati Kudus Yesus dan Adorasi Ekaristi

1.        Pengantar

Saat ini, banyak praktek devosi bersama maupun pribadi yang dijalankan umat. Dari banyaknya praktek devosi itu, devosi Hati Kudus Yesus rasanya kurang menarik bagi umat. Memang, devosi ini pernah sangat berkembang dan diminati umat. Bahkan, sebelum 1960 Karl Rahner berpandangan bahwa devosi Hati Kudus merupakan puncak agama dan bahwa semestinya setiap orang Kristen menghormati Hati Yesus[1]. Namun, setelah 1966 rupanya devosi Hati Kudus yang begitu jaya mengalami kemunduran. Rahner menduga bahwa sebagai devosi umat, Hati Kudus akan mundur pula[2].

Saat ini, devosi adorasi Ekaristi sebagai salah satu bentuk devosi Ekaristi malah berkembang dan booming terutama di Keuskupan Agung Semarang. Menarik bahwa dua devosi ini rupanya dihidupi bahkan menjadi tradisi dalam kongregasi SCJ. Dihidupinya dua devosi dalam satu kongregasi memunculkan suatu pertanyaan: mungkinkah bahwa dua devosi ini sebenarnya terkait satu sama lain bahkan mempunyai penghayatan sama hanya saja bentuknya beda hingga sebuah kongregasi Hati Kudus Yesus mempunyai tradisi kuat akan adorasi?

 

2.        Isi Devosi Hati Kudus Yesus

Dalam Kapitel Jenderal Yesuit mengenai Devosi Hati Kudus Yesus, dinyatakan bahwa devosi kepada Hati Kudus adalah untuk membalas cinta kasih yang dinyatakan Allah kepada kita melalui Yesus, dan pelaksanaan cinta kasih kita kepada Allah dan sesama kita. Devosi Hati Kudus Yesus mewujudkan cinta kasih pribadi timbal balik yang merupakan inti hidup kristiani dan hidup membiara. Inilah alasannya mengapa devosi kepada Hati Kudus dipandang sebagai bentuk yang unggul dan teruji untuk pembaktian diri kepada Kristus Yesus, raja dan pusat segala hati, yang begitu diperlukan oleh zaman kita, sebagaimana ditegaskan oleh KV II[3].

Dinyatakan bahwa devosi kepada Hati Kudus adalah untuk membalas cinta kasih yang dinyatakan Allah kepada kita melalui Yesus. Hal ini terkait erat dengan pemahaman bahwa Hati Yesus adalah lambang dan perwujudan cinta kasih Kristus yang tak terbatas. Cinta kasih itulah yang menjadi alasan utama pembaktian kepada Hati Yesus. Cinta kasih Allah itu sudah dinyatakan baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Di dalamnya, kita dapati suatu penggambaran yang hidup, yang memuncak dalam kedatangan Sabda yang menjadi manusia. Itulah awal Hati Yesus sebagai lambang cinta kasih-Nya[4].

Hati Yesus adalah bagian badan Yesus yang paling suci, bagian yang paling luhur dari kodrat manusiawi-Nya. Di dalamnya terjadi persatuan hipostasis antara kemanusiaan dengan pribadi sabda Ilahi. Hati Yesus menampakkan dua kodrat dalam diri Yesus, yakni ilahi dan insani, dan menampakkan pribadi sang Sabda sendiri. Hati merupakan simbol seluruh misteri penebusan manusia. Maka, bila kita menyembah Hati Yesus, yang sesungguhnya kita sembah adalah cinta Kristus yang ilahi dan insani. Kristus memperlihatkan Hati-Nya yang terluka dan bernyala-nyala kepada manusia yang tiada pernah akan padam selamanya[5]. Bila devosi ini dipraktekkan dengan jujur dan dengan pemahaman yang benar, akan membantu umat beriman untuk merasakan cinta kasih Kristus yang besar yang merupakan puncak kehidupan Kristiani[6].

 

3.        Isi Devosi Adorasi Ekaristi

Fokus seluruh praktek sembah sujud dan penghormatan di dalam Adorasi Ekaristi sebagai salah satu bentuk devosi Ekaristi adalah Tuhan Yesus Kristus yang diimani hadir dalam Ekaristi, dalam rupa roti dan anggur, baik dalam perayaan Ekaristi maupun sesudah misa kudus selesai[7]. Devosi Ekaristi merupakan ungkapan iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus yang hadir dengan seluruh misteri penebusan-Nya sebagaimana dirayakan secara sakramental dalam Perayaan Ekaristi. Maka, dalam devosi Ekaristi, meskipun hanya memandang dan menyembah Sakramen Mahakudus, yakni Kristus yang hadir dalam rupa roti, kita sebenarnya sedang mengungkapkan pujian syukur, sembah dan sujud, serta kekaguman atas misteri kasih Allah yang terwujud dalam karya penebusan Kristus yang dirayakan dalam Perayaan Ekaristi[8].

4.        Relasi antara Devosi Hati Kudus Yesus dengan Adorasi Ekaristi

Devosi Hati Kudus Yesus sangat erat kaitannya dengan Ekaristi Kudus. Dari dirinya sendiri, Ekaristi adalah anugerah Hati Yesus yang terluka karena cinta kepada kita. Sebab dari lambung yang tertikam, keluar darah dan air. Darah melambangkan sakramen Ekaristi. Kepada Margaretha Maria, Yesus mengeluh karena kedinginan dan ketidakacuhan manusia akan sakramen cinta kasih, yakni Ekaristi. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa perkembangan devosi Hati Kudus Yesus selanjutnya sangat berwarna ekaristis[9].

Paus Paulus VI sendiri menyatakan bahwa diantara devosi-devosi popular, devosi Hati Kudus mendapat tempat istimewa, sebab devosi itu terutama mempunyai dasarnya dalam misteri suci Ekaristi, yang daripadanya mengalir pengudusan manusia dalam Kristus dan pemuliaan Allah[10]. Bahkan, Paus Yohanes Paulus II menunjukkan bahwa hati Kristus yang ditikam demi kita, itulah cinta kasih yang menebus dosa, yang merupakan sumber keselamatan. Kita tidak hanya dipanggil untuk merenungkan dan memandang misteri cinta kasih Kristus itu, tetapi juga mengambil bagian di dalamnya. Itulah misteri Ekaristi Kudus, pusat iman kita, pusat kebaktian kita kepada cinta penuh belas kasih Kristus yang dinyatakan dalam Hati Kudus-Nya.

Oleh Yohanes Paulus II, devosi kepada Hati Kudus Yesus dengan tekanannya pada Ekaristi dipandang sebagai cara yang paling tepat untuk menghayati perutusan pokok Gereja, yaitu mengimani dan memberi kesaksian mengenai belas kasih ilahi. Dengan masuk ke dalam misteri Hati Kristus, kita mengenal kekayaan cinta kasih Kristus dalam sabda dan karya-Nya, yang mewahyukan cinta belas kasih Bapa di surga[11].

Dalam ensiklik Haurietis Aquas, devosi Hati Kudus akan membawa umat manusia untuk memperkembangkan penghormatan kepada Sakramen Mahakudus dan salib suci, sebab tidak ada seorangpun yang dapat mencintai Yesus yang tergantung di salib dengan tepat bila ia belum mengerti rahasia-rahasia misteri Hati Kudus Yesus. Devosi kepada Hati Yesus, bertujuan untuk mengingatkan kita bahwa karya cinta kasih Kristus yang paling utama ialah penetapan Ekaristi. Dengan sakramen Ekaristi, Kristus ingin bersama-sama dengan kita sampai akhir jaman. Ekaristi adalah anugerah Hati Yesus yang amat besar, sebab diberikan berdasarkan cinta-Nya yang amat besar pula[12]. Hati Yesus dalam Ekaristi melanjutkan hidup cinta kasih dan pengorbanan hidup-Nya di dunia ini. Semua misteri cinta kasih diungkapkan Tuhan secara padat dalam Sakramen Ekaristi yang agung dan patut dicinta[13].

 

5.        Sebuah pergeseran bentuk devosi namun sama dalam penghayatan

Telah dijelaskan bahwa devosi Hati Kudus Yesus rupanya mempunyai keterikatan yang sangat erat dengan Ekaristi yang menjadi sumber dari Adorasi Ekaristi. Dari devosi Hati Kudus Yesus dan Adorasi Ekaristi, sebenarnya terkandung spiritualitas yang sama, yaitu keterarahan pada cinta kasih Allah yang tanpa batas. Cinta kasih Allah ini, tampak dalam karya penebusan yang dihadirkan dalam Ekaristi dan kemudian dipandang dan disembah dalam bentuk Sakramen Mahakudus serta disimbolkan melalui Hati Yesus yang penuh cinta.

Spiritualitas yang sama ini, membuat masuk akal bahwa suatu kongregasi dengan spiritualitas Hati Kudus Yesus mempunyai tradisi Adorasi yang kuat. Bahkan, bila mau dikembangkan lebih lanjut, devosi Hati Kudus Yesus yang sekarang mundur dan diganti devosi Adorasi Ekaristi yang kini berjaya, sebenarnya tidaklah demikian. Devosi Adorasi Ekaristi yang sekarang berkembang sebenarnya adalah bentuk baru dari devosi Hati Kudus Yesus. Mengutip kembali apa yang dinyatakan oleh TT O’Donnel: “Ekaristi adalah anugerah Hati Yesus yang terluka karena cinta kepada kita,  tidak mengherankan bahwa perkembangan devosi Hati Kudus Yesus selanjutnya sangat berwarna ekaristis”. Pun pula pernyataan ensiklik Haurietis Aquas: “devosi Hati Kudus akan membawa umat manusia untuk memperkembangkan penghormatan kepada Sakramen Mahakudus dan salib suci, sebab tidak ada seorangpun yang dapat mencintai Yesus yang tergantung di salib dengan tepat bila ia belum mengerti rahasia-rahasia misteri Hati Kudus Yesus”.

Pernyataan bahwa Devosi Adorasi Ekaristi yang sekarang berkembang sebenarnya adalah bentuk baru dari devosi Hati Kudus Yesus, mungkin terlalu berani dan dianggap sebagai pembelaan dari pendukung devosi Hati Kudus Yesus.  Namun, tak ada salahnya untuk membuat suatu pernyataan yang baru dan unik.

 


[1] Bert van der Heijden, “Karl Rahner SJ, orang yang tertikam hatinya”, Pedoman Hidup 13 (1987) 6.

[2] Bert van der Heijden, “Karl Rahner SJ, orang yang tertikam hatinya”, 22.

[3] Bdk. NN, “Kapitel Jenderal Yesuit mengenai Devosi Hati Kudus Yesus”, Pedoman Hidup 13 (1987) 3-4.

[4] TT O’Donnel, “Ajaran Pimpinan Gereja Mengenai Devosi Kepada Hati Kudus Yesus”, Pedoman Hidup 20 (1990) 26.

[5] TT O’Donnel, “Ajaran Pimpinan Gereja Mengenai Devosi Kepada Hati Kudus Yesus”, 33.

[6] TT O’Donnel, “Ajaran Pimpinan Gereja Mengenai Devosi Kepada Hati Kudus Yesus”, 35.

[7] Bdk. E. Martasudjita, Pr, Ekaristi, Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral, 415.

[8] E. Martasudjita, Pr, Ekaristi, Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral, Kanisius, Yogyakarta 2005, 419.

[9] TT O’Donnel, “Ajaran Pimpinan Gereja Mengenai Devosi Kepada Hati Kudus Yesus”, 45-46.

[10] TT O’Donnel, “Ajaran Pimpinan Gereja Mengenai Devosi Kepada Hati Kudus Yesus”, 48.

[11] Bdk. TT O’Donnel, “Ajaran Pimpinan Gereja Mengenai Devosi Kepada Hati Kudus Yesus”, 52-53.

[12] Bdk. TT O’Donnel, “Ajaran Pimpinan Gereja Mengenai Devosi Kepada Hati Kudus Yesus”, 39.

[13] C. van Paasen, SCJ, “komentar pada konstitusi SCJ, Fasal II: setia pada kharisma bapa pendiri”, 68.

Hati Kudus Yesus: Hati Yang Membawa Perubahan

Image
“Inilah Hati yang sedemikian mencintai umat manusia hingga rela terbakar sehabis-habisnya…” (penampakan pada St. Margareta Maria Alacoque)

Hati dan Manusia

Kiranya bukan sesuatu yang baru bagi kita untuk menyebut dan memahami kata “hati” bukan hanya sebagai suatu ungkapan harafiah yang menunjuk bagian anggota tubuh tertentu. Ungkapan atau istilah kata “hati” sudah menjadi ungkapan dan pemahaman yang akrab bagi kita untuk menggambarkan pusat dan sumber hidup pribadi manusia, suatu titik konsentrasi pribadi, pusat hidup batin[1].

Hati mau menggambarkan kepenuhan diri manusia. Dalam diri manusia ada yang menjadi sumber atau inti terdalam yang menggerakkan seluruh hidupnya. Itulah hati. Maka tepatlah gambaran Origenes seorang tokoh yang mempunyai pengaruh yang besar atas pemikiran-pemikirannya[2]. Dia menekankan bahwa hati itu bukan hanya perasaan saja, melainkan juga pengetahuan dan pengertian. Istilah yang sering dipakainya “hegemonikon” yang berarti bagian luhur dari jiwa, yang seharusnya memimpin seluruh jiwa dan tingkah laku manusia dimana kita sadar akan cita-cita yang luhur.

Berdasarkan penjelasan Origenes maka yang menentukan diri kita yang mendalam ialah hati kita. Hati inilah yang merupakan sumber yang menyebabkan tingkah laku kita. Hatilah yang menjadi sumber yang merangkum pikiran dan perasaan kita, pengetahuan dan pengertian kita dan yang kemudian menyebabkan tingkah laku kita. Singkatnya mau mengatakan bahwa hati merupakan pusat batin diri manusia, titik yang paling inti dan penting.

Hati yang menjauh

 Sudah sejak dari Perjanjian Lama kita mendapat gambaran bahwa yang paling menyakiti hati Allah ialah hati yang melepaskan diri dari Dia. Apabila hati kita menjauh dari Allah maka perbuatan lahiriah tidak berguna lagi, sebagaimana dikatakan oleh nabi Yesaya: “bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh daripada-Ku” (Yes 29:13).

Meskipun bangsa Israel taat dan setia dalam menjalankan ibadah, itu tidak dapat menutupi situasi hati mereka yang menjauh dari Allah. Semua yang mereka lakukan dalam ibadah hanya sebatas ungkapan lahiriah saja. Mereka hanya melaksanakan tuntutan ibadah tanpa kedalaman hati. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari mereka seringkali melakukan tindakan-tindakan yang menjauhkan mereka dari Allah : “Celakalah orang yang menyembunyikan dalam-dalam rancangannya terhadap TUHAN, yang pekerjaan-pekerjaannya terjadi dalam gelap sambil berkata: “Siapakah yang melihat kita dan siapakah yang mengenal kita?” (Yes 29:15).

Hati yang menjauh berada dalam kuasa kegelapan karena telah berpaling dari Allah. Dalam kuasa kegelapan tidak ada yang lain kecuali melakukan perbuatan-perbuatan yang melawan cinta kasih. Santo Paulus menggambarkannya sebagai perbuatan daging: “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,

kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya” (Gal 5:19-21).

Situasi yang demikian sungguh membelenggu manusia. Akan tetapi selalu ada kerinduan mendalam dari manusia untuk kembali mendekatkan hatinya kepada Allah. Di lain pihak Allah pun menginginkan agar hati manusia selalu terarah kepada-Nya. Tetapi dari pihak manusia sendiri yang karena kerapuhan dan kelemahannya, sulit rasanya dengan kemampuan sendiri mengarahkan hati kepada Allah. Oleh karena itu, Allah kemudian mengambil keputusan untuk melaksanakan rahasia penjelmaan, memakai bentuk insani sehingga cinta-Nya dapat terlihat[3]. Dan semuanya itu bermula dari hati.

Hati Kudus Yesus Hati Yang Membawa Perubahan

Misi Yesus di dunia sebagaimana terdapat dalam Markus 1:15 adalah mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan. Keadaan manusia yang terbelenggu karena dosa kini hendak diselamatkan oleh Allah melalui pewartaan Kerajaan Allah dan itu harus dimulai dengan pertobatan. Hati manusia yang selama ini telah menjauh dari Allah hendak ditarik kembali kepada Allah melalui Putera-Nya sendiri, Yesus Kristus.

Lukas menggambarkan misi Yesus ini sebagai upaya membawa “api perubahan”: “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! (Luk 12:49). Misi yang dibawa oleh Yesus ini merupakan suatu upaya untuk melakukan perubahan mendalam bagi manusia. Api itu merupakan suatu semangat yang dapat membakar dan membersihkan hati manusia sehingga mengalami perubahan. Dan Yesus sendirilah yang akan menggerakan sekaligus menjadi pelaku utama yang melakukan perubahan itu.

Misi Yesus yang membawa perubahan itu mencapai puncaknya di kayu salib. Di kayu salib karya keselamatan Allah kepada manusia diwujudkan. Karya keselamatan yang dilakukan oleh Yesus ini mengalir dari hati-Nya yang menginginkan perubahan dalam hati manusia. Ketika Yesus memulai karya-Nya dan yang kemudian memuncak pada peristiwa Salib, Yesus telah membakar hati manusia yang merupakan pusat hidup manusia agar kembali kepada Allah. Peristiwa salib pertama-tama merupakan peristiwa penebusan dosa sekaligus sebagai langkah awal untuk menyalakan api perubahan dalam diri manusia.

Sabda Yesus dalam Lukas di atas mengingatkan kita akan janji profetis Nabi Yehezkiel “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat” (Yeh 36:26). Melalui janji profetis ini ada satu hal yang dikehendaki oleh Allah yakni perubahan dalam hati manusia. Rahmat Allah ini membebaskan manusia dari kekerasan hati-Nya yang menjauh dari Allah. Hati Yesus yang membakar hati manusia membawa perubahan bagi manusia yang membebaskan hatinya dan mengarahkannya kepada Allah.

Bersatu Hati Dengan-Nya

Bagi Pater Dehon, Lambung Penebus yang tertikam dan Hati-Nya yang terbuka merupakan suatu ungkapan yang paling mampu untuk mengungkapkan dan membangkitkan cinta Kasih (bdk. Konst.SCJ no.2). Santa Margaretha Maria dalam salah satu tulisannya mengungkapkan : “Saya rasa tidak ada daya upaya yang lebih pasti menuju ke keselamatan kekal daripada mempersembahkan diri kepada Hati Kudus untuk memberikan segala pujian, cinta kasih, hormat dan kemuliaan yang kita janjikan kepada-Nya”[4].

Sebagai pengikut Kristus kita hendaknya menyatukan hati kita dengan Hati Kudus Yesus yang telah membawa api perubahan bagi kita. Dengan bersatu hati dengan-Nya, kita masuk dalam Inti Hati atau Diri, Pribadi, Yesus yang menerima dan mengembalikan cintakasih Allah Bapa tanpa ada batasnya. Dengan bersatu Hati dengan-Nya kita juga turut bersatu dengan Bapa. Sebab Kristus tak lain daripada hubungan dengan Bapa[5]. Oleh karena itu, dalam penghayatan doa kita, sebaiknya sekaligus menyembah Kristus dengan Bapa-Nya. Sebab misteri Allah Bapa dan Putera ialah justru kesatuan mereka.

Isi utama devosi kepada Hati Kudus ialah menyadari Kristus sebagai tempat hadirat cintakasih Allah yang sepenuhnya diterima dan dikembalikan oleh Yesus. Maka tindakan kita untuk bersatu hati dengan Yesus merupakan tindakan yang menerima dan mengembalikan cintaksih Allah Bapa dan Yesus itu. Di dalam dan melalui Kristus berkat peristiwa Salib, hati kita manusia yang lemah dan berdosa telah diubah dan tercurah oleh cintakasih-Nya sendiri yang juga disebut hidup atau Roh Allah. Maka dengan bersatu hati dengan-Nya kita membiarkan Roh Allah yang menjiwai hati kita untuk menerima dan mengembalikan cintakasih Allah sendiri.

Pada akhirnya Hati Kudus Yesus menjadi Sumber yang membawa perubahan dalam hati manusia. Daripada-Nya lahirlah manusia dengan hati yang baru, hati yang senantiasa mengarahkan seluruh dirinya kepada Bapa.

Daftar Pustaka

Bert van der Heijden,

1975, Cintabakti Kepada Hati Kudus Yesus, Puskat, Yogyakarta.

Forrest, M.D.,

1981, Hati yang Membara, Surya Cipta M.E., Jakarta.

.


[1] Bdk. Dr. Bert van der Heijden, Cintabakti Kepada Hati Kudus Yesus, Bagian Publikasi, PUSKAT, Yogyakarta, 1975,8.

[2] Disarikan dari Dr. Bert van der Heijden, Cintabakti Kepada Hati Kudus Yesus, Bagian Publikasi, PUSKAT, Yogyakarta, 1975,26.

[3] M.D.Forrest, Hati yang Membara, Surya Cipta M.E., Jakarta, 1981,16.

 [4] M.D.Forrest, Hati yang Membara, Surya Cipta M.E., Jakarta, 1981,37.

[5] Disarikan dari Dr. Bert van der Heijden, Cintabakti Kepada Hati Kudus Yesus, Bagian Publikasi, PUSKAT, Yogyakarta, 1975, 66.