“Wajah Tuanku…”

#SoulBites 2.0 – 14 Feb 2016

Seorang sahabat berkisah tentang anjingnya, Hera, yang dilatih untuk berpantang daging di masa Prapaska ini. Awalnya sulit sekali melatih Hera. Tiap kali daging diletakkan di tanah, Hera langsung menyambarnya. Namun setiap kali pula Hera mendapatkan pukulan disiplinnya hingga ia mengerti bahwa daging tak boleh ia sentuh…betapapun menggodanya.

image

Hera punya trik sendiri agar ia tak tergoda dengan potongan daging merekah itu. Ia hanya sekali curi pandang ke arah daging lezat lalu mendongak ke atas, tak mau melihatnya. Ya, Hera memilih melihat selalu ke atas, berfokus pada wajah tuannya…

Continue reading ““Wajah Tuanku…””

Advertisements

Belajar Hidup Bagi Allah Saja!

Refleksi atas Injil Lk 4:1-13 di awal masa Prapaska…

Yesus digodai Setan di padang gurun
Yesus digodai Setan di padang gurun

Saudari-saudara terkasih dalam Kristus,
Untuk sekian kalinya kita memasuki sebuah masa yang penuh rahmat: masa Prapaskah – atau lebih akrab dikenal sebagai masa Tobat dan Puasa. Injil Lukas hari ini mengingatkan kita bahwa masa ini juga adalah sebuah waktu untuk “belajar hidup sesuai jalan Allah saja!” Ada tiga poin penting dalam Injil hari ini yang akan kita lihat bersama.

Pertama, godaan Iblis biasanya datang dalam bentuk yang halus dan menarik! Perhatikan bahwa Iblis mengatakan tiga kali kata: “Jika” (Jika Anak Allah dan Jika menyembah saya). Kata Jika dalam kisah Injil hari ini seolah hendak mengatakan: “Gunakan semua yang kesempatan dan kemampuan yang kamu miliki untuk mendapatkan apa saja yang kamu inginkan demi dirimu sendiri!” – Inilah kebohongan Iblis! Godaan biasanya tampak menarik dan baik bila dibumbui dengan kata ‘Jika’ – sebagaimana kita baca dalam bacaan pertama: “Jika engkau makan buah ini, maka engkau akan menjadi seperti Allah. Kamu akan hebat: tidak akan mati, tahu yang baik dan yang yang tidak…” Ternyata sifat godaan ini dari dulu hingga zaman yang modern ini masih sama. Dunia menawarkan pada kita banyak kemudahan. Bukankah kita juga makin sulit untuk memilih karena semua tampak sangat baik dan menarik sehingga kita kadang lupa bahwa hidup ini bukan untuk ‘aku’ saja, bukan untuk apa yang ‘aku’ inginkan saja, bukan untuk apa yang ‘aku’ anggap baik, tapi untuk apa yang Tuhan anggap ‘baik’ bagi hidupku!

Tuhan Yesus dengan tegas menunjukkan bahwa tidak semua kemampuan dan kesempatan dapat kita gunakan untuk mencapai keinginan kita! Dan inilah poin kedua dari Injil hari ini: Hanya kemampuan dan kesempatan yang mengarahkan kita pada hidup kekal bersama Allah saja yang dapat kita gunakan! Dengan menolak godaan Iblis, maka kuasa, kemuliaan dan kekayaan yang dimilikiNya sebagai Anak Allah hanya terarah pada kemuliaan BapaNya saja, bukan untuk diriNya sendiri! Tuhan Yesus digoda pada saat Ia lapar, letih, dan sepi. Tapi Tuhan Yesus tidak mau kompromi dengan semua itu. Yesus dengan tegas menolak aneka tawaran menarik walau situasinya tampak pas! Dengan tangkas ia menolak, mengambil jarak! Mungkinkah ini terjadi pada kita juga? YA! Sangat mungkin! Paulus mengatakan dalam bacaan kedua: dalam Yesus dosa dikalahkan dan rahmatNya tercurah berlimpah pada kita yang lemah! Maka, mulailah melibatkan Tuhan dalam hati Anda, bercakaplah denganNya: bertanya, komplain, bersyukur , berbincang denganNya – lebih-lebih dalam anugerah Sakramen Ekaristi dan Tobat – dalam segala situasi – juga saat kita tergoda! Itulah doa kita, itulah kekuatan kita!

Saudara-saudariku,
Marilah kita belajar tegas pada diri sendiri untuk ‘hidup dalam jalan Allah saja’ – terutama dalam masa tobat ini. Anda sendiri yang mengenal di mana kelemahan Anda dan mohonlah rahmat Allah untuk berani menolak godaan Anda! Tentu saja godaan bukan hanya datang saat Anda ditawari banyak kemudahan dan kenikmatan – tetapi lebih dari itu juga datang terutama saat-saat sulit:
(a) saat kita – para pelajar dan mahasiswa– menemukan di pagi hari IPnya diawali angka satu dan ketika membuka dompet, saldonya bahkan tak cukup untuk beli nasi kucing… Alih-alih tergoda meyakini bahwa hidupnya sia-sia, mohonlah rahmat untuk bangkit lagi dengan ceria…
(b) saat kita – orang muda – berada dalam situasi putus asa menjomblo atau putus cinta: alih-alih tergoda ‘cinta ditolak dukun bertindak’, kita belajar menerima kekecewaan dan pasrah sambil menata hidup dengan semangat baru bersama Allah…
(c) saat kita – pasangan berkeluarga – mengalami kekecewaan: alih-alih tergoda membenci suami atau istri Anda, kita memilih bersama Roh Allah untuk belajar mengampuni dan menyelami hati pasangan lebih dalam lagi…
(d) saat kita – para pekerja – alih-alih stress karena tuntutan pekerjaan atau atasan yang wajahnya terlipat dua belas, kita justru mengalami Allah berkarya memenuhi hidup dengan semangat belaskasih!
(e) saat kita – para biarawan/ti – alih-alih tergoda untuk menyalahkan orang lain, kita memilih menjadi ‘tangan’ Allah seperti yang kita janjikan saat kaul pertama…

Tentu hal-hal ini tidak selalu mudah untuk dibuat. Suatu saat dalam hidup ini, kita pastilah pernah terpeleset dalam dosa! Tetapi kita tidak boleh pernah putus asa untuk bertobat dan bangkit lagi… Mengapa? St. Paulus dalam bacaan kedua memberi jawabnya! Karena Warta Sukacita iman Kristiani adalah bahwa Allah berjalan bersama kemanusiaan kita yang lemah dan rapuh – bahkan Ia sendiri merasakan kemanusiaan kita dalam Yesus Kristus! Sejak kita menerima baptisan, RohNya secara istimewa ada dalam tubuh dan jiwa kita: kita dijadikan AnakNya, Anak Allah sendiri! Juga saat berdosa sekalipun identitas Anda tidak hilang! Allah tetap ada di sana dan terus berharap agar kita tidak menyerah dan agar kita kembali padaNya. Dan persis ketika kita memutuskan kembali padaNya, Allah ada di sana sebagai Bapa yang baik hati, yang berlari menyambut anakNya dengan sukacita!

Akhirnya, saudari-saudaraku yang terkasih… (ah, akhirnya…)
Pesan Injil di awal masa istimewa ini sederhana saja:
(a) Ayo, kenali godaan Anda dalam hidup sehari-hari…
(b) Belajarlah dengan tegas dan tanpa kompromi menolak godaan.
(c) Dan, bila suatu kali Anda jatuh dalam dosa, jangan ragu kembali pada Bapa yang Baik Hati itu… Segera hubungi imam terdekat… (tidak harus yang tua atau agak tuli)
(d) Godaan di zaman ini lebih dahysat mengepung hidup kita! Tapi kita akan berusaha terus untuk menggunakan kesempatan dan kehendak kita sesuai jalan Tuhan!
Semoga dengan demikian, Masa Prapaskah menjadi bagi kita sebuah Retret Agung, sebuah masa di mana kita belajar hidup dengan dipimpin oleh Roh Kudus hingga kita tiap-tiap hari mengalami sukacita kebangkitan yang sejati! Amin!