“Komitmen… “

#SoulBites 2.0 | 06112015

Wanita paruh baya itu acapkali mengusik batinku. Gurat wajahnya adalah kisah perjuangan yang berat membesarkan dan mendidik anak laki lakinya. Wanita ini sederhana jalan pikiran dan impiannya. Ia tak lulus SD namun selalu cerewet soal pendidikan anaknya. Ia mengusahakan putranya meraih apa yang ia impikan…

Continue reading ““Komitmen… “”

Advertisements

Rm. Antonius Effendi SCJ: Kisah sang Pemulung Berjubah!

senyumanmu menjadi jembatan surga dan dunia! 🙂

Ada lagu anak-anak yang sudah lama tidak kita dengar “Topi saya bundar.” Tapi diganti kata-katanya menjadi “Romo Pendi bundar, bundar Romo Pendi. Kalau tidak bundar, bukan Romo Pendi.” Kalau Anda melihat sosok Rm. Antonius Effendi SCJ ini, Anda akan segera yakin bahwa lagu ini bukan hasil rekaan saja. Dulu teman-teman SD-nya di Sungai Bahar, Jambi, memanggilnya “Gendut.” Sedari dulu ia bertubuh padat karena daerah asalnya berlimpah minyak kelapa sawit kualitas ekspor dan ditambah lagi hobinya memasak. Di tangah frater kelahiran 25 April 1984 ini semua masakan jadi sip. Terong dari Wonosari serasa bistik sapi Belanda dan kangkung dari Pakem secara capcay made in Taiwan.

Panggilan hidup membiaranya pertama kali diwahyukan pada kakak sulungnya. Ketika Pendi kecil sedang bermain bola (dulu jago lho, posisinya pengganti pemain cadangan, berarti lapis ketiga hehehe), si sulung bercerita pada teman-temannya bahwa Dik Pendi kelak akan menyusul kakak nomor duanya ke seminari. Sejak saat itu tumbuhlah panggilannya untuk menjadi imam. Jadi panggilan Frater Pendi tidak dimulai di sebuah gereja atau di sakristi atau di ruang doa, tapi di lapangan bola! Allah sungguh berkarya luar biasa di lapangan bola itu.

Tahun 2000 ia mendaftarkan diri di Seminari Menengah St. Paulus Palembang dan diterima dengan sukses. Ternyata memang perjalanan panggilan Romo yang mengidolakan Ibu Teresa ini sungguh seperti bola kaki. Disepak kian kemari oleh banyak cobaan. Mulai dari soal nilai studi yang terlalu mepet dengan ambang batas kehidupan hingga banyak persoalan pribadi yang lain. Tapi Tuhan tak berhenti bekerja. Tiga hal yang kemudian menguatkan Rm. Pendi ini: “Aku bisa, aku bersyukur, dan aku bahagia!” Pengalaman doa yang mendalamlah yang menguatkan Rm. Pendi ini untuk terus memotivasi dirinya, terutama di masa-masa sulit.

Alhasil, perlahan –lahan perkembangan diri dan nilai studi Romo kita ini makin seimbang dengan bobot badannya. Makin menanjak. Ia menyadari bahwa rahmatlah yang menguatkan dia selama ini. Mungkin inilah yang membuat Romo yang bercita-cita suatu hari bisa duet nyanyi bareng Agnes Monica ini tetap rendah hati dan punya perhatian pada aksi sosial. Di komunitas, ia dikenal sebagai “pemulung berjubah” karena setia mengumpulkan dan menyortir plastik dan kertas bekas. Ia juga gemar bercocok tanam dan beternak agar komunitas biara lebih dapat berhemat dan uangnya dapat digunakan untuk orang-orang yang kurang mampu. Betapa mulia hati biarawan muda ini. Dengan berbagai kualitas yang prima inilah Frater Pendi menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Sanfrades, Palembang. Beliau ditahbiskan sebagai Imam Hati Kudus Yesus pada Agustus 2013 yang lalu… Dengan motto “Lakukanlah hal kecil dengan cinta yang besar” ia siap gulung tikar dan hijrah dari kebun sawit ke kebun anggurNya, di mana tuaian memang banyak namun pekerja sedikit.

 

 

 

Rm. Markus Apriyono SCJ: Pawang Hujan Amatir

penunggu Tugu Yogyakarta 🙂

Tak banyak yang tahu bahwa Rm. Markus Apriyono SCJ ini dinobatkan menjadi pawang hujan resmi Skolastikat SCJ Yogyakarta. Berawal dari pembawaan Rm. Apri yang tenang, pendoa, meditatif-kontemplatif inilah ia dipercaya untuk berdoa mohon hujan tidak turun setiap kali ada hajatan outdoor komunitas. Sampai saat ini, belum ada doanya yang tak terkabul. Walau mendung pekat menghadang, seorang Romo kelahiran Tanjung Kemuning, 29 April 1985 ini tinggal menghembuskan nafasnya saja dan awan hujan akan pergi jauh-jauh (wah seperti film Kungfu Hustle-nya Tonny Leung hehehe … agak lebay ya … hehehe).

 Dengan doa dan puasa, frater dari 8 bersaudara ini sungguh yakin bahwa segala permintaan akan dikabulkan sesuai kehendak Sang Maha Kuasa. Maka tak heran bahwa perawakannya kurus kering (beberapa teman frater bahkan memaksanya puasa supaya ujian mereka joss).

Buah hati dari Bapak Andreas Kiswimikarjo (alm) dan Ibu Yustina Kasmirah ini sejak kecil memang terkagum-kagum dengan sosok romo paroki yang melayani stasinya. Kekaguman ini bertambah ketika ia bergabung menjadi misdinar dan mendapat berkat pertama serta menyalami romo. Hatinya yang terlanjur kepincut ini mendorong frater berkulit sawo (terlalu) matang ini masuk ke Seminari Menengah St. Paulus Palembang setamat dari SMPN 3 Purwodadi pada tahun 2000. Pembawaannya yang tenang, berwibawa dan kalem langsung membuat teman-teman seminarinya menaruh hormat pada frater satu ini.

 Kebiasaannya berdoa, meditasi dan olah rohani makin berkembang di seminari, sampai-sampai banyak yang meramalkan frater kita ini akan mendirikan kongregasi sendiri. Ternyata ramalan ini gagal total karena setelah menempuh pendidikan di seminari, Rm. Apri melamar dan diterima dalam Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ). Ketekunan dan keuletan yang menjadi keutamaannya membuatnya makin bersinar cemerlang dalam masa novisiat maupun skolastikan. Kreativitasnya pun patut diacungi jempul. Lihat saja kamarnya yang setiap tahun berganti tema dekorasi. Ada tema “musim gugur di Belanda” (ada hiasan ranting-ranting dan daun-daun kering dari kebun di seluruh kamar) hingga tema “Tuhan Yesus berdoa di Goa Selarong” (di kamarnya ada foto Tuhan Yesus dan gua buatan lengkap dengan stalaktit dan stalagmit lho).

 Tentu saja banyak juga tantangan yang ia hadapi selama ini, apalagi setelah ia menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) nya di Paroki Kabar Gembira Kotabumi, Lampung. Tetapi keyakinannya tetap teguh, “Dia yang telah memanggil itu adalah setia. Dia yang telah memulai karya baik dalam diriku, maka Dia pula yang akan menyelesaikannya!” Keyakinan inilah yang memberanikan pawang hujan kita mengikat janji berjubah putih hingga mati pada Agustus 2011 dan ditahbiskan sebagai Imam Hati Kudus Yesus pada Agustus 2013 yang lalu! Maju terus, pawang hujanku… eh… romoku!

 

 

 

Rm. Gregorius Dedi Rusdianto SCJ: “Makin Tua – Makin Holy!”

usia bukan halangan menanggapi panggilanNya!

Dari seluruh iklan televisi yang ada, hati Mbah Dedi – demikian nama akrabnya – ini pasti miris bila melihat iklan Salonpas atau Minyak Urut Cap Lang. Dua benda inilah yang setia mendampingi boyoknya jika memaksakan diri berjoget dan bergoyang seperti teman-teman frater yang usianya layak jadi anaknya.

Ya, di usia yang terbilang istimewa (terlahir 29 Mei 1973), si sulung dari 3 bersaudara buah hati Bapak Andreas Roeslan dan Ibu Rosalia Sradiyah ini dengan mantap memutuskan untuk menjadi seorang biarawan dan calon imam. Dibandingkan dengan teman-teman angkatannya yang lebih muda sebelas atau dua belas tahun, Rm. Dedi tidak pernah mau kalah semangat. Dengan tekun ia selalu belajar, diskusi, membuat ringkasan dan giat membaca. Sampai-sampai para frater yang lebih muda merasa malu karena justru Mbah kesayangan mereka itu meberi teladan yang sangat baik di usia ‘senja’nya.

Romo Dedi yang berasal dari Kotagede, Yogyakarta ini mengaku bahwa panggilan hidup membiara tidak muncul dari kecil atau remaja. “Ketika aku remaja pun aku pingin punya pacar dan kelak menikah dengan seorang wanita yang kucintai.” Itulah sebabnya Mbah Dedi pun kuliah Sarjana Ekonomi, bekerja sebagai ekonom dan akuntan, lalu sudah mempersiapkan diri ke pelaminan.

Tetapi ternyata semua berubah 180 derajat karena percakapan Yesus dengan Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Jawab Petrus untuk ketiga kalinya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu. Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau!” Lalu Yesus bersabda: “Gembalakanlah domba-dombaKu.”

Mbah Dedi merasa tersentak ketika merenungkan sabda ini dan akhirnya iapun mulai berpikiran untuk menjadi seorang biarawan. Semangat ini makin berkobar saat ia menjalani masa perkenalan hidup membiara bersama para Yesuit yang ia kenal. Pengenalan hidup doa dan olah batin Yesuit makin membuatnya mantap, apalagi memang Frater Dedi ini alumni Resimen Mahasiswa yang dididik disiplin dan tegas seperti St. Ignatius yang naluri militeristiknya begitu kuat. Namun sekali lagi Tuhan membuat kejutan dalam hidupnya. Di tengah pengembaraannya, ia jatuh hati dengan bumi Sumatera tempat para SCJ berkarya. Iapun terkagum-kagum dengan semangat cinta, pemulihan dan persaudaraan yang dimiliki para SCJ. Tiga hal inilah yang selalu ditimba Rm. Dedi pada spiritualitas SCJ dan membuatnya senantiasa gembira dalam menjalani panggilan (konon suara tawanya bisa terdengar dari radius 50 meter).

dekat dengan orang muda dan menjadi teladan bagi mereka…

Jangan heran kalau di tengah malam kita melihat Romo ini sedang duduk bersimpuh di depan tabernakel seorang diri atau sendirian meditasi di pojok-pojok rumah yang dikenal wingit. Rm. Dedi sungguh sebuah teladan pendoa yang setia, seperti Simeon, nabi tua yang setia menantikan Mesias di Bait Allah.

Sosok Mbah Dedi ini sulit dicari tandingannya: tua-tua keladi, makin tua makin holy (suci). Putusannya untuk mengikrarkan kaul kekalnya di Agustus 2011 juga membawanya kembali ke jawaban Petrus: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu. Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau di atas segalanya.”

Lima Alasan Terbaik Menjadi Seorang Putra Altar

Banyak yang berkata bahwa menjadi putra altar adalah tugas yang membosankan atau berbahaya (karena akan malu sekali bila salah bergerak di depan ribuan umat) … mungkin ini sebabnya saat ini anggota misdinar yang putri jauh lebih banyak daripada yang putra… 🙂 Hmm, tidak bermaksud diskriminasi gender sih, tetapi dalam Tradisi memang pelayan altar adalah para putra dan ini dimaksudkan juga agar kedekatan dengan altar mendorong mereka untuk mau menjawab panggilan pada imamat suci… 🙂

Nah, buat para putra, mari kita lihat lima alasan terbaik menjadi seorang putra altar… 🙂

1. Jubah – pakaian putra altarmuakan menjadikan kamu kelihatan lebih gagah dan menawan lho 🙂 Tidak percaya Lihat saja Christian Bale dalam balutan jubahnya atau Kwon Sang-woo dalam Love so Divine 🙂

Jubahnya keren kan? Rata-rata pakaian putra altar pasti bermodel macam ini, hanya di Indonesia dibuat dalam dua bagian (atasan dan bawahan) yang terpisah 🙂 tapi tetap cool ya dilihat! 🙂
Para misdinar biasanya langsung mengenakan ‘superpli’ – bagian warna putih di atas jubah hitam mereka… 🙂 berwibawa ya… ini potongan dari drama Korea 🙂


2. Menjadi putra altar membuatmu makin manly! Bayangkan: sebuah organisasi dalam Gereja dengan struktur jelas – mulai dari yang kecil badannya hingga setinggi bambu ada di sana – dan semua melayani Gereja dan Allah! Sebagai putra altar kamu punya prinsip yang jelas dan dididik untuk disiplin serta tepat waktu! Bayangkan, tahap-tahap yang dilewati penuh tantangan dan kita harus melalui latihan yang tidak sebentar! Rasanya seperti masuk akademi militer Gereja deh… hehehehe… tetapi istimewanya, kamu tetap bisa bersenang-senang dan bersukacita di dalamnya (tidak seperti tentara asli yang suka cemberut ya 🙂 )

Barisan tentara elite Gereja… ^^ tentu dengan senyum dan persaudaraan di dalamnya!

3. Siapa yang tidak senang bermain api? Ya! Menjadi putra altar berarti punya kesempatan lebih banyak bermain dengan api – sesuatu yang pasti dilarang oleh orangtuamu bila kau melakukannya di rumah. Di dalam Gereja, para putra altar sangat punya banyak kesempatan: lilin altar, lilin paskah, lilin komuni, bahkan dupa dari wiruk yang berisi arang bernyala plus asapnya yang harum dan sedikit buat pusing… 🙂

Keren ya bila kebagian membawa dupa wiruk… jadi seperti malaikat karena dikelilingi asap harum… Tapi hati-hati, malaikat bajunya tak bisa hangus dan berlubang ya… ^^
Menyerempet bahaya ya? hehehe

Kalau kamu tidak puas dengan lilin dan wiruk kecil normal yang biasa ada di gereja, kamu bisa pergi ke Barcelona, Spanyol dan menjadi misdinar di sana… Frater tidak tahu apakah ada wiruk dupa yang lebih besar dari yang ada di sana… namanya: “Botafumeiro”… Wiruk ini tingginya 2 meter dan perlu sekitar 5-6 orang dewasa untuk menariknya dengan katrol khusus… hahahahaha… bermimpilah menjadi putra altar yang bisa membawa wiruk super “Botafumeiro” ini! hehehehe 🙂

Wakakakaka…. Siapa yang kuat bawa wiruk segede ini?

4. Nah, ini alasan seriusnya! Dengan menjadi putra altar, kamu akan menjadi makin dekat dengan Ekaristi Kudus… dan hidupmu akan menjadi hidup yang terberkati karenanya! Para Putra Altar adalah umat yang paling pertama menyambut Tubuh dandarah Kristus dalam Ekaristi dan ini luar biasa! Kamu juga paling dekat dengan altar pada saat imam mengubah hosti anggur menjadi tubuh dan darah Kristus… Kagumlah! Kamu bahkan bisa bilang: “Demi segala tulang-belulang dinosaurus, ada Allah di depan mataku saat ini!” 🙂 Ini adalah pengalaman luar biasa… saat kamu begitu dekat dengan Allah yang mengasihimu dalam cara yang luar biasa pula!

Bapa Suci Benedictus XVI memberi komuni pada putra Altar
Asyik… paling dekat dengan altar dan paling awal menerima sakramen Maha Kudus! 🙂 makin dekat dengan Tuhan Yesus!

5. Alasan terbaik terakhir adalah: kamu akan mendapat banyak sekali pengetahuan iman yang tidak kamu dapatkan di sekolah, di keluarga atau bahkan di sekolah Minggu-mu dulu… Di Indonesia belakangan ini, pengetahuan orang muda tentang iman Katolik (tentang sakramen, tentang Allah Tritunggal, tentang kebangkitan Yesus dan ajaran-moral) makin memprihatinkan… Frater bahkan pernah bertemu dengan remaja Katolik yang tidak lancar berdoa Bapa Kami dan salam Maria…

Dengan ikut sebagai putra altar, kamu akan mendapat bimbingan lebih dan pengetahuan yang dapat berguna ketika kamu harus menjelaskan soal-soal iman Katolik di depan teman-temanmu yang beragama Islam atau Protestan, misalnya tentang Kehadiran Nyata Kristus dalam sakramen Maha Kudus…

Memang belajar tentang game-console terbaru lebih mengasyikkan, tetapi sekali kamu ikut dan mengetahui pokok iman kita yang mengagumkan bersama kelompok putra altar, kamu akan benar-benar merasa tertarik… Coba saja kalau tidak percaya!

Banggalah menjadi seorang Katolik!
Bersama putra Altar yang lain, kita menimba iman Katolik…

Dan siapa tahu… kelak dari panggilan melayani Altar Tuhan sebagai Misdinar ini kamu juga dipanggil untuk menjadi seorang IMAM alias PASTOR alias ROMO atau HIDUP MEMBIARA sebagai BRUDER dan FRATER!

sekarang putra altar… esok: IMAM ALLAH yang KUDUS!