Katekese 6 ~ Percakapan tentang Bunda Maria

Seri video ini adalah live-streaming pengajaran tentang pokok-pokok iman Katolik. Semoga video ini dapat membantu para sahabat untuk mengenal iman Gereja Katolik secara lebih mendalam…

Silahkan bagikan/share video ini pada komunitas atau pada sahabat lain yang dikau kenal… Secara rutin video katekese singkat seperti ini akan dilakukan dengan via live-streaming Facebook.

Jangan sungkan untuk follow:

http://www.romokoko.org

FB: Albertus Joni

IG: @romo_koko

YouTube Channel: Romo Koko

Tuhan memberkati para sahabat semua!

VCJ PCM + p. Albertus Joni scj

Advertisements

“Wajah Tuanku…”

#SoulBites 2.0 – 14 Feb 2016

Seorang sahabat berkisah tentang anjingnya, Hera, yang dilatih untuk berpantang daging di masa Prapaska ini. Awalnya sulit sekali melatih Hera. Tiap kali daging diletakkan di tanah, Hera langsung menyambarnya. Namun setiap kali pula Hera mendapatkan pukulan disiplinnya hingga ia mengerti bahwa daging tak boleh ia sentuh…betapapun menggodanya.

image

Hera punya trik sendiri agar ia tak tergoda dengan potongan daging merekah itu. Ia hanya sekali curi pandang ke arah daging lezat lalu mendongak ke atas, tak mau melihatnya. Ya, Hera memilih melihat selalu ke atas, berfokus pada wajah tuannya…

Continue reading ““Wajah Tuanku…””

“Berenikhe”

#SoulBites 2.0 – 12 Feb 2016

Para wanita pasti mengenal derita bulanan yang rutin datang. Bagi wanita muda bernama Berenikhe ini, derita ini jadi jauh lebih hebat karena ia mengalami perdarahan yang konstan. Tubuhnya melemah.

image

Ia kekurangan zat besi dan mineral karena darah dari rahimnya mengalir tetap. Orang-orang sebangsanya mengatakan bahwa ia kena tulah dan hukuman Allah.

Continue reading ““Berenikhe””

Belajar Beriman pada Sang Agnostik

Ada saat mencinta, saat bimbang dan mempertanyakan, saat gusar dan saat ujian;
terhadap semua itu kita harus menambhakan saat kita berjuang bersama Yesus,
suatu perjuangan yang tidak pernah selesai…
seperti pergulatan Yakub di sebuah tempat penyeberangan sungai Yabok di malam hari,
ketika ‘seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing…
Kardinal Carlo Maria Martini, My Life With Christ

 

Sekilas ia tampak seperti anak muda Katolik di awal usia 20-an yang bahagia dan aktif dalam kegiatan Gereja: misa, persekutuan doa, dan putera altar. Suatu senja, ia datang dan berkata pada saya: “Frater, saya tidak lagi percaya pada Tuhan! Saya letih mencari pendasaran rasional atas iman saya. Telah bertahun-tahun saya melihat ajaran Gereja dan lantas sulit menjadi percaya. Tetapi saya tetap menghormati Gereja Katolik yang selalu menekankan kasih pada sesama.” Pria muda ini lalu mengisahkan bahwa saat studi di luar negeri, ia diyakinkan bahwa hidup mestinya pragmatis, rasionalis dan segala sesuatu harus dapat dibuktikan secara ilmiah.

Bukan pertama kalinya saya berhadapan dengan orang-orang muda Katolik yang mengaku diri ‘agnostik’. Menjadi agnostik  dapat berarti (1) yakin bahwa keberadaaan Allah adalah mustahil atau (2) yakin bahwa nilai kebenaran iman tidak dapat dipastikan dan diraih sehingga hanya dapat diragukan. Oleh karena itu, judul tulisan ini memang mengandung ironi: bagaimana mungkin kita belajar beriman pada seorang agnostik?

religion

 

Keraguan: Iman yang Tak Menyerah Mencari

Dalam sebuah satire dokumenter Religilous (2008) yang menertawakan agama-agama dunia, Bill Maher, si pembawa acara, mengatakan: “Iman berarti menciptakan keutamaan tanpa banyak pikir. Agama berbahaya karena ia memungkinkan manusia yang tidak punya jawaban atas semua pertanyaan berpikir bahwa mereka memilikinya.” Gamblangnya: bagaimana mungkin manusia modern saat ini dapat ‘mengimani’ kisah ular yang dapat bicara pada wanita dan pria dengan cawat daun? Bagaimana mungkin manusia rasional dapat percaya bahwa merekamenyantap tubuh-darah seorang manusia yang berusia 2000 tahun?

Pertanyaan-pertanyaan para agnostik ini seringkali sangat praktis dan mengena: bagaimana mungkin kita dapat beriman bila kita memiliki rasio untuk mencermati dan mengerti hubungan sebab-akibat dalam kaidah ilmu pasti? Saya tidak akan mengulangi jawaban klasik sebagian guru teologi tentang hubungan iman dan akal budi. Ah, tidak! Saya memilih untuk mengagumi jalan pencarian yang dilalui oleh para agnostik muda ini.

Perjalanan seorang agnostik biasanya ditandai dengan pergulatan intelektual yang panjang: sebuah pencarian kebenaraniman. Ia berusaha menemukan penjelasan-penjelasan logis tentang apa yang ia percayai. Ia membaca banyak sumber. Ia menganalisa pola hubungan kejadian dan keterkaitannya. Ia akhirnya memutuskan bahwa Allah bukanlah niscaya; bukanlah persona. Seorang agnostik selalu yakin bahwa Tuhan masuk wilayah ‘abu-abu’ – wilayah yang senantiasa harus diragukan. Dan hal inilah yang membuat saya kagum!

rosary-image

Iman, dalam banyak ukuran dan penjelasan, sering digambarkan sebagai usaha manusia ‘tunduk’ dan ‘berserah’ pada Allah dan rencanaNya. Seorang agnostik menempuh jalan yang agak berbeda dari pengertian‘iman’ pada umumnya. Dengan menolak tunduk, ia tak segan melawan, mencari dan meragukan Allah. Justru ‘perlawanan’nya ini menggambarkan bagaimana manusia telah diberi rahmat kehendak bebas dan nalar saat Allah mewahyukan diriNya. Mereka mengingatkan kita bahwa iman – pada bagian terbaiknya – juga adalah sebuah perjuangan dan pencarian terus menerus. Iman, jawaban manusia atas sapaan Allah, datang pada kita bukan pertama-tama sebagai sikap patuh dan tunduk pada ajaran Gereja. Iman datang dari pergulatan pribadi kita dalam mengalami Allah yang tak terselami sepenuhnya, yang tak pernah jelas dan yang selalu tinggal sebagai misteri.

 

Sampai Fajar Menyingsing

(Alm.) Kardinal Carlo Maria Martini dalam tulisannya “My Life With Christ” (The Tablet, 251, 1997, hal. 416-418) mengisahkan bagaimana ia bergulat menemukan iman pada Kristus yang adalah misteri itu. Kardinal ini dengan luar biasa berkisah bagaimana imannya ditantang keluar dari ‘zona aman’ seorang anak kecil oleh para rasionalis dan para agnostik skeptis hingga menuju kebenaran yang paling dalam. Ia maju terus dan tak mau berhenti dengan menerima begitu saja apa yang diajarkan Gereja tentang Kristus. Budinya mencari dan bergulat, meragukan dan gusar, merasa dicobai dan frustasi. Pengetahuan-pengetahuan teologis yang muktahir dan pendalaman yang serius terhadap fakta sejarah Kitab Suci dan Tradisi membuat sang Kardinal gelisah dengan apa yang dikatakan orang beribu tahun tentang manusia Nazareth itu. Ia lelah. Tetapi ia tidak berhenti mencari.

Carlo Maria Cardinal Martini
Carlo Maria Cardinal Martini

Kita kemudian tahu bahwa sang Kardinal sampai pada pengalaman iman justru ketika pengetahuan tentang iman mencapai batasnya. Ia tertunduk bukan di depan ‘figur’ Yesus, tetapi di depan ‘misteri’ Yesus: hubungan unikNya dengan Bapa, transendensiNya, maknaNya bagi sejarah kemanusiaan dan kemampuanNya mewahyukan wajah Allah yang berbelas kasih justru dalam penderitaan dan salib. Di depan misteri ini, Kardinal Martini memutuskan untuk membuat lompatan untuk mengimani Yesus sebagai Allah; sebuah lompatan yang tidak didasarkan pada riset dan kaidah sains.

Ya. Akhir seorang Kardinal tentu berbeda dengan akhir seorang agnostik. Tetapi keduanya memiliki keutamaan yang sama: pencarian pemahaman akan Allah dalam nalar dan budi yang tak gampang dihentikan. Kedua kelompok ini sama-sama mengalami pergulatan seperti Yakub yang tak berhenti menyerah bergulat dengan Allah semalam-malaman sampai fajar menyingsing di tepi sungai Yabok. Gambaran pergulatan di ‘malam hari’ ini melambangkan pencarian di tengah buramnya ketidakpastian, keraguan dan kelelahan. Namun, Yakub tidak menyerah hingga fajar datang dan ia mendapatkan berkatNya.

 

Lebih Dekat dengan Kebijaksanaan

Paus Benediktus XVI dalam salah satu homilinya di Freiburg mengatakan bahwa para ‘agnostik yang terus mencari’ adalah lebih baik dari seorang yang mengaku Katolik hanya demi alasan bersosialisasi. Di Indonesia, kita mengalami bahwa agama adalah ‘wajib’ bagi setiap warga negara. Karenanya, kadang beragama bukanlah pilihan pribadi yang diambil-resapi matang-mendalam. Kadang, beragama hanya menjadi label ‘sosial’ dan budi tak pernah sungguh mencari sang Kebenaran.

Para agnostik yang terus mencari ini dapat jadi lebih dekat dengan sang Kebijaksanaan daripada orang-orang yang mengaku Katolik namun hidup imannya hanya sebuah rutinitas mingguan, memandang Gereja hanya sebagai institusi tanpa membiarkan hidup mereka disentuh oleh pengalaman akan Allah.Kita memang tak dapat mengatakan bahwa agnostisisme adalah sebuah jalan yang baik dibanding iman Kristiani. Tidak! Namun demikian, kita yang mengaku diri beriman, juga harus memiliki keutamaan seorang agnostik yang budinya tak lelah berziarah sampai pada pilihan sadar untuk mengikuti Kristus.

 

Albertus Joni, SCJ

albertusjoni.scj@gmail.com

IMAN, HARAPAN DAN CINTA

Di sepanjang sejarah keselamatan, iman, harapan dan cinta nyaris selalu menjadi kidung – dalam gelap sekalipun. Engkau pasti pernah mendengar kisah Abraham, yang dalam iman menangis pada Allahnya dengan nada-nada sunyi ketika diminta menyembelih putera tunggalnya di atas gunung. Engkau juga pasti pernah membaca cerita Ayub, yang  merayakan imannya di tengah kuburan anak-anaknya yang mati tiba-tiba, di tengah reruntuhan rumahnya, di tengah lalat yang mengerumuni borok-boroknya dan di tengah sahabat yang kini mencacinya. Atau perihal Hana dan Zakaria yang telah lama bertekun dalam sepotong harapan yang hampir-hampir naif; harapan tentang Allah mau menyelamatkan manusia. Bukankah kita tahu kemudian, bahwa naifnya harapan mereka justru dibalas dengan misteri yang tak pernah tuntas diselami: Allah Penyelamat yang menjelma dalam darah dan daging manusia. Kita dengar juga sukacita Maria yang berkata: “Terjadilah padaku seturut kehendakMu itu!” – “Fiat!” sewaktu sang Cinta sendiri merasuk dalam rahimnya. Hanya cinta yang sedemikian besarlah yang mampu membuat Maria bertahan hingga kaki salib dan mengucapkan kata-kata yang sama sekali lagi; walau dengan hati yang remuk.

 

Mungkin benarlah Tagore, seorang mistikus India, bila ia berujar: “…di kuil gelap malam, titahkanlah aku berdiri di hadapanMu, Junjunganku, untuk berkidung.” Kini, bersama tokoh sepanjang sejarah itu kita berkidung juga – walau tanpa nada dan bahkan… walau tanpa ceria sekalipun.

 

 ABRAHAM (dan mereka yang mencoba ‘beriman’)

 Image

Tuhan, ini aku: Abraham!

Pilihan untuk beriman memang kadang terlalu mahal untuk dibayar! Aku ingat pedih hatiku saat memandang Ishak-ku terkasih yang menjulurkan lehernya.. siap dihabisi oleh bapanya yang ia kasihi. Aku meratap dalam diam, Tuhan.. Engkau pasti tahu itu. Tapi aku tetap berusaha untuk setia dan berpegang pada janjiMu. Aku hadir di sini ya Tuhan, bersama mereka yang sedang galau dan tak cukup berani untuk melangkah dalam hidup, yang sedang kalut dan ragu dengan masa depannya. Tunjukkan gema suaraMu Tuhan, seperti ketika aku kalut di atas gunung itu! Ya, perdengarkan suaraMu dalam hati mereka agar mereka selalu tahu bahwa Engkau selalu berjalan bersama mereka, sebagaimana Engkau juga berjalan bersamaku dalam pendakian itu. Niscaya dengan iman itu Tuhan, mereka akan menjadi Abraham-Abraham yang baru…

 

 

AYUB(dan mereka yang mencoba ‘berharap’)

 Image

Ini aku, Tuhan: Ayub!

Aku kerap bertanya: “mengapa semua nestapa harus turun padaku?”. Bukankah aku orang benar dan lurus hati ya Tuhan? Dan pertanyaan itulah yang membuatku mengecam keadilanMu! Aku tak sendiri, Tuhan! Aku berdiri bersama sekian banyak orang-orang benar yang terkapar di jalan-jalan kehidupan yang kejam ini. Aku hadir dan menuntut Engkau bersama korban kekerasan dan kejahatan, bersama orang-orang yang dimiskinkan dan yang dilacurkan, yang harus meratap putus asa dalam debu dan abu.

Tuhan…Tuhan… buatlah kami cukup mengerti bahwa harapan padaMu tak boleh kehilangan harganya.. bahkan dalam gelap yang sesak dan menghimpit. Berbisiklah pada kami dalam badai dan angin ribut ya Tuhan, bahwa harapan padaMu bukanlah bianglala yang semarak. Bukankah dari riwayat yang rusak, Engkau menuntun kami untuk dengan penuh harap memandang satu titik sempurna di depan sana. Ajari kami untuk mengenal misteriMu lebih mendalam dengan penuh harapan, yang justru hadir dalam temaram yang penuh soal dan gelisah.  

 

MARIA (dan mereka yang berusaha mencinta)

Image

Tuhan, tak mungkin engkau lupa akan aku, akan hangatnya rahimku. Aku, Maria, bundaMu. Ingatkah Engkau sewaktu dulu kudongengkan kisah tentang kerajaan pepohonan yang hijau itu. Mana pernah kubayangkan bahwa salah satu kayunya akan menjadi singgasanamu di puncak kalvari. Dengan gemetar yang hebat kuikuti jalan-jalanmu yang berdarah. Hingga mati rasa aku mengelap darah-dagingMu, darah dagingku sendiri, di lantai tempat Engkau dicambuk. Hanya cinta saja, Anakku.. hanya cinta saja yang mengukuhkan aku! Dan entah mengapa, justru aku yang harus belajar banyak tentang cinta dariMu… Engkau mengampuni mereka yang menembus tangan dan kakiMu dengan keji. Engkau menjanjikan Firdaus tanpa mengenal tunda bagi penjahat di sebelahMu. Engkau tak pernah mengutuki mereka yang menghina dan meludahimu. Ah, Cinta… Cinta! Bantulah kami untuk menawarkan pengampunan, perhatian … menawarkan Cinta, itu pada sesama kami…bahkan ketika hal itu serasa mustahil dilakukan!   

 

***

 

Ah, teman…

Kidung itu tak memanggul seluruh niat, juga niatnya sendiri, karena ia sebenarnya hanyalah mencoba… mencoba untuk pergi pada yang Maha Cinta. Kidung kita adalah sesuatu yang kita kirim pergi, “agar membawa pulang sesuatu yang mustahil” tanpa harus jadi hilang tujuan. Tuhan bukanlah kepastian, teman! Kidung kita melagukan Dia sebagai sebuah harapan…sebuah harapan yang seperti mata pancing mengail iman dan cinta pada Yesus Kristus, Tuhan dan Sahabat kita. Amin!

 

Kisah Layunya Melati

Mereka yang menangis dalam diam…

Oleh: Fra. Antonius Effendi, SCJ

Perempuan di depanku kini sebut saja namanya Melati.  Ia lahir dari keluarga miskin  dengan empat bersaudara dan kedua orangtuanya meninggal ketika mereka masih kecil. Neneknyalah yang mengasuh dan membesarkan mereka. Kesulitan ekonomi membawanya merantau dari Manado sampai pulau Jawa ini. Ijazah SMA yang ia miliki tidak dapat untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Apalagi zaman sekarang, persaingan mencari pekerjaan sangat ketat dan penuh dengan KKN. Orang yang mempunyai relasi dan uang yang mendapat kesempatan lebih untuk mendapat pekerjaan. Lucu rasanya karena orang diterima bekerja bukan pertama didasarkan kemampuan tetapi relasi dan uang. Namun itulah realita yang terjadi di negeri ini. Maka semakin kecillah kemungkinan dirinya untuk mendapat pekerjaan. Ia juga tidak bisa meminta bantuan saudaranya untuk mencari pekerjaan karena sama-sama susah dan tidak punya pekerjaan. Akhirnya ia memutuskan untuk mengorbankan kemurnian tubuhnya. “Biarlah aku yang menderita dan berdosa, asal adik-adikku bahagia dan memiliki masa depan yang lebih baik”. Pikirnya inilah pilihan yang terbaik untuk memperoleh uang memenuhi kebutuhan hidup dan membiayai adik-adiknya sekolah dan kuliah.

Melati seringkali merasa muak dengan pekerjaannya yang sudah ia geluti lebih dari lima tahun. Ia tahu benar arti dosa, karena ia lahir dan dibesarkan dalam lingkungan  Kristen yang taat. Neneknya selalu mengajarkan jangan berbuat dosa (jangan mencuri, menipu, berbuat jahat dll). Ia tahu pekerjaanya ini memang penuh dengan dosa. Tiba-tiba dia bertanya padaku “Lebih baik mana mas, untuk mendapatkan uang dengan mencuri dan korupsi atau bekerja seperti saya? Mana dosanya yang lebih ringan”. Aku terdiam seribu bahasa tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan yang tidak mudah dijawab dalam situasi ini. Sebagai seorang mahasiswa Teologi dalam otakku mulai muncul apa yang telah aku dapat di bangku kuliah mengenai paham dosa dalam kitab suci dan  secara  moral. Aku ingin menjelaskan secara moral sesuai yang aku dapat di bangku kuliah namun  tidak kesampaian. Rasanya penjelasan itu berhenti di tenggorokan tidak dapat dikeluarkan. Dalam benakku masih teringat jelas akan beberapa kriteria tindakan itu berdosa atau tidak secara  moral. Pertama sadar, bila tindakan itu dilakukan  dengan sadar. Kedua bebas, tindakan itu dilakukan dengan bebas tanpa ada suatu tekanan. Ketiga motivasi atau tujuan pada dasarnya baik. Saat ujian cukup baik aku menjelaskan kriteria itu, namun saat dihadapkan pada persoalan kongkret aku terdiam.

Pada dasarnya tindakan itu (mencuri, korupsi dan mejadi PSK) semua tidak baik. Namun orang pada umumnya akan memandang Pekerja Seks Komersial lebih jelek. Pandang ini muncul karena selama ini masyarakat memandang buruk profesi ini. Ini terbukti ketika orang ketahuan mencuri dan korupsi masih dapat diterima banyak orang dan orang dengan cepat melupakan kesalahan itu. Tetapi kalau orang mantan PSK seumur hidup melekat dan tetap memandang rendah. Kendati orang terjun atau menjadi PSK karena terpaksa atau dijebak. Orang tidak peduli alasan apa yang membuat mereka terjun kedunia porstitusi. Bahkan orang yang diperkosapun sering dipandang rendah dan kadang juga dipersalahkan padahal mereka korban.

Pandangan lain yang terasa kurang adil ketika perempuanya saja yang dipandang rendah dan dicap buruk. Padahal mereka ada dan menjadi seperti itu juga karena ada “pelanggan” yakni kaum Adam. Tetapi kaum Adam ini jarang dipersalahkan, mereka bersih dari tindakannya. Saat aku berjalan mengelilingi kompleks itu ada banyak kaum Adam di sana. Aku yakin salah satu atau dua orang yang datang di sana dikenal baik atau bahkan memiliki kedudukan terhormat dalam masyarakat. Setelah “jajan” di sana mereka pulang kehidupan normal seperti biasa. Di luar sarkem (di hotel-hotel) ada orang yang terpandang dan orang-orang kaya yang “jajan”.  Rasanya mereka tidak pernah dicap senegatif kaum Hawa yang bekerja sebagai PSK.

Situasi yang tidak adil rupaya sudah berlangsung sejak lama bahkan pada zaman Yesus sudah ada. Salah satu gambaran posisi perempuan lemah dan dipersalahkan  terdapat dalam Injil Yohanes dalam kisah perempuan yang berzinah (Yoh 8:1-11). Pada kisah itu yang ditangkap hanya perempuan padahal dengan jelas dikatakan  “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah” (Yoh 8:4).  Berarti lelaki juga ada dan tertangkap saat itu namun anehnya tidak diadili, yang dibawa pada Yesus hanya perempuannya saja.  Tradisi saat rupaya itu lebih memihak pada kaum lelaki dan melindungi mereka dari hukuman. Sedangkan posisi perempuan lemah dan rentan dipersalahkan. Sampai hari ini pun masih ada agama dan budaya yang tetap melestarikan akan situasi ini. Entah sampai kapan situasi ini akan berakhir aku tidak tahu. Yang pasti aku ingin mereka dihargai dan diperlakukan dengan adil. Perempuan semacam itu tanpa hukuman sosialpun sudah menderita, janganlah menambah derita pada mereka. Karena aku terdiam ia melanjutkan kisah hidupnya yang berliku.

“Aku datang bukan bagi mereka yang benar, tetapi bagi mereka yang berdosa!”

Air matanya menetes ketika malam telah larut dan ia merenungkan perjalanan hidupnya ini. Kala mengingat ketiga adiknya, ia mendapat kekuatan untuk bertahan menekuni profesinya. Ketika aku ungkapkan kekagumanku atas pengorbanannya matanya berbinar. Ia mengatakan jarang sekali atau tidak pernah orang lelaki yang datang padanya mengungkapkan demikian. Orang datang padanya hanya ingin menikmati tubuhnya, tidak ada kasih yang tercermin hanya nafsu belaka.

Ketika Melati masuk dunia prostitusi, ia bermimpi mendapat uang sebanyak-banyaknya; bukan kesenangan pribadi atau kenikmatan seksual yang dicari. Saat teman-temanya setiap minggu berbelanja pakai sesuai mode, ia tidak melakukan itu.  Ia sisihkan uang yang didapat untuk adiknya. Ia tidak menggunakan uangnya hanya sekedar memburu kesenangan pribadi. Kepentingan keluarganya yang selalu diutamakan. Hal yang mengagumkan Melati tetap mampu bertahan ditengah derasnya arus orang yang memuja kenikmatan seksual dan mengikuti mode. Dimana orang rela mengorbankan kemurnian tubuhnya guna membiayai gaya hidupnya (baju, perhiasan, kendaraan, HP dan tempat tinggal). Ada juga yang melakukan semata untuk kenikmatan atau kepuasan seksual. Orang melakukan atas dasar suka sama suka  dan tidak mau terikat dalam perkawinan. Dua hal terakhir tidak muncul dalam benak Melati.

Teman-temannya umumnya memiliki lelaki simpanan, mereka hidup bersama namun tidak menikah. Melati tidak ingin seperti mereka, kendati ada juga kerinduan mendapat perlindungan dan kasih dari seorang laki-laki. Tetapi ia ingin itu terjadi dalam ikatan resmi (sebuah perkawinan). Kendati pernah gagal dalam membangun rumah tangga ia tetap memandang suci akan nilai sebuah perkawinan. Hidup bersama setelah menjadi suami istri yang sah. Terdengar kontraditif rasanya pernyataan ini dengan profesinya sebagai PSK. Kiranya pandangan ini muncul dari nilai-nilai Kristiani yang didapat sejak kecil dan ia terjun ke dunia PSK hanya karena uang belaka.

Aku semakin kagum ketika ia mengatakan tidak lupa Tuhan. Yang dimaksudnya adalah sekalipun pelacur ia tetap pergi ke gereja. Maka setiap  Hari minggu ia memilih untuk pergi ke gereja dan mempersembahkan sebagian penghasilannya untuk Gereja. Ia sadar bentul akan profesi dan status hidupnya ini dosa dan tidak baik dimata umum. Saat masuk ke gereja ia merasa seperti orang pendosa tidak layak menghadap Tuhan karena kelakuannya.  Ia takut juga orang risih dengannya bila tahu apa profesinya.

Saat merenungkan kembali pengalaman  ini aku teringat akan kisah antara pemungut cukai dan orang Farisi. “Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini. “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Luk 18: 9-14).

Dalam hati aku bertanya apakah Melati juga akan dibenarkan seperti pemungut cukai itu? Ia sadar akan situasi dirinya yang hidup bergelimpang dengan dosa namun dengan sadar pula ia pergi ke Gereja untuk berdoa dan mohon ampun.  Dalam kisah Injil itu tidak dijelaskan lebih lanjut mengenai pemungut cukai itu. Setelah pulang dari rumah ibadat apakah sungguh bertobat seperti Matius yang mengembalikan pajak yang telah diambil melebihi kentetuan dan memberikan setengah hartanya pada orang miskin. Ataukan pemungut cukai itu masih melanjutkan pekerjaannya seperti biasanya? Pertanyaan lebih lanjut apakah Melati berdosa sepenuhnya. Ia sadar tindakannya itu salah dan berdosa. Tapi saat ini tidak ada pilihan yang lebih baik yang dapat menghasilkan uang yang cukup untuk membiayai adiknya. Ia juga melakukan itu bukan untuk mencari kepuasan hanya uang semata. Uang yang ia dapatpun  pertama-tama bukan untuk dirinya tapi untuk adik-adik dan neneknya untuk kuliah dan hidup. Suatu persoalan yang tidak mudah dijawab begitu saja. Seperti waktu Melati bertanya padaku saat itu, tindakan mana yang lebih baik mencuri dan korupsi atau profesinya?

Bila suatu kali saat di gereja disebelahku duduk seorang PSK apakah aku juga akan berkata sama dengan orang Farisi itu. Kalau peristiwa itu terjadi sebelum perjumpaanku dengan Melati dapat dipastikan aku akan mempunyai diposisi yang sama dengan orang Farisi. Merasa diri lebih baik, apalagi aku seorang calon imam yang dibentuk untuk hidup suci dan selalu disposisikan demikian. Setelah perjumpaanku dengan melati cara pandangku terhadap PSK mulai berubah. Aku tidak begitu saja memandang rendah dan memojokan mereka. Kalau berbicara fakta kehidupan memang belum tentu aku dan orang lain jauh lebih baik dari Melati. Memang aku dan orang pada umumnya tidak berbuat zinah tetapi pilihan tindakanku belum tentu selalu baik. Bisa jadi tindakanku sangat kejam pada orang lain. Kini aku mencoba untuk lebih menghargai mereka dan perjuangan hidupnya, bukan berarti aku setuju dengan piliahn hidup atau profesi itu.

Kisah hidup yang  berliku dan terjal berlanjut. Dibalik senyum dan keramahannya Melati rupanya menyimpan banyak pengalaman pahit. Sebelum menjadi PSK ia pernah berkeluarga dan akhirnya berpisah, karena suaminya mempunyai isteri simpanan. Sejak pengalaman pahit itu ia belum mempunyai keinginan untuk menikah. Ia trauma dengan pengalam pahit itu terulang lagi.

            Ia juga pernah tersangkut obat-obat terlarang . Ketergantungan itu berawal dari para pelanggannya yang memaksanya untuk menggunakan obat-obatan itu. Untunglah ia segera sadar bahwa itu tidak baik dan ada tanggungjawab yang masih diembannya. Adik-adiknya masih kuliah dan sekolah mendorongnya untuk berhenti dan bebas dari ketergantungan obat-obatan. Rasa tanggungjawab membuatnya mampu keluar dari ketergantungan. Kemudian aku teringat pada para pemimpin dan figur publik yang juga tergantung obat-obatan terlarang apakah mereka meiliki semangat seperti Melati. Adanya rasa tanggungjawab membuat sadar dan keluar dari jerat itu.

Pengalaman pahit lainya yakni ketika ia mengandung. Saat itu ia bingung sekali dan bergulat  mempertahankan anak itu atau tidak. Ia juga tidak tahu siapa ayah anak itu. Kalau tetap dipertahankan kasih masa depan anak tersebut. Akhirnya ia mengambil sebuah keputusan yang berat yakni menggugurkan anak itu.  Ini sebuah pilihan yang berat dan sulit baginya. Namun pilihan mengorbankan yang lemah bukan sebuah pilihan yang tepat. Tetapi hal demikian yang sering terjadi pada Melati dan dalam masyarakat kita. Orang akan dengan mudah mengorbankan yang lemah atau kecil untuk kepentingan yang lebih besar. Seharusnya mereka yang lemah dan kecil itu yang harus dilindungi bukan dikorbankan. Bila membaca surat kabar dan melihat berita di TV hatiku selalu miris melihat realitas semacam ini, dari para petani, buruh sampai anak gelandangan termasuk para PSK sering menjadi korban. Mereka ini orang yang dalam posisi lemah dan kecil namun sering dikorbankan demi keuntungan sekelompok orang atau alasan kepentingan yang lebih besar. Ini realita yang terjadi di negara kita.

Padahal  negara ini dikenal sebagai negara yang taat beragama. Di mana sebagian besar warganya memeluk agama dan sering mengklaim sebagai umat yang taat pada agama. Melihat realita ini lalu seberapa jauh agama yang dipahami  mempengaruhi perilaku masyarakat dalam kehidupan beragama dan sosial. Gejala yang tampak umat baik yang Kristen maupun agama lain di Indonesia lebih menekankan aspek ritual-individual untuk mencapai kesalehan individual, tetapi kurang memperhatikan kesalehan sosial. Orang merasa diri cukup kalau sudah menjalankan ritual agama. Orang akhirnya jatuh pada pencapain kesucian pribadi.

Bila melihat acara TV atau kehidupan sehari-hari  dapat dijumpai dengan acara-acara yang bersifat keagamaan. Di TV hampir setiap hari disiarkan dakwah agama. Banyak kelompok doa-doa yang rajin berkumpul  untuk berdoa dan mendalami agama. Orang juga sering tampil terutama di media santun dan menunjukan bahwa dia seorang yang  beragama dan taat. Namun sangat disayangkan perilaku sosial masyarakat sebagian jauh  dari ajaran yang mereka pahami dan jalankan secara ritual. Kembali ini tampak dari perilaku mereka yang diskriminatif pada minoritas, lemah, kecil, menderita, maraknya korupsi, kekayaan yang tidak merata dan penggunaan kekerasan untuk mencapai tujuan. Saat ini tantangan bagi umat yang beragama yakni menyeimbangkan antara semangat ritual dan praktik. Ini menjadi PR besar bagi kita semua terutama para pemuka agama. Apa yang terjadi pada umat saat ini dan tindakan apa yang harus diambil untuk mengatasi situasi ini?

Bila malam tiba menjelang tidur Melati mengalami kegelisahan juga, apakah selamanya akan menjalani hidup seperti ini. Karena tidak mudah meninggalkan profesi itu. Bila keluar berarti harus mencari pekerjaan pengganti agar dapat hidup. Dengan modal ijazah SMA tentunya tidak mudah baginya mencari pekerjaan, belum lagi penolakan masyarakat karena pekerjaannya dulu. Tentunya ini berat baginya juga teman-teman lainya yang akan meninggalkan profesi ini. Masa depan baginya saat ini tidak penting yang penting bagaimana dapat membiayai adiknya agar dapat menyelesaikan kuliahnya.

Membenci atau memusuhi mereka bukanlah sebuah solusi, bahkan akan membuat mereka semakin sakit dan tersingkir sari masyarakat. Langkah awal yang perlu dibuat adalah menerima mereka, menerima bukan dalam artian menerima profesi mereka tetapi tetapi menerima mereka dan masa lalunya yang kelam. Kemudian mengajak mereka  untuk bertobat dan menjalani hidup baru. Tentunya tidak semudah membalik telapak tangan karena begitu kompleks persoalan yang berkaiatan. Walaupun demikian, langkah kecil harus tetap dibuat karena dengan langkah kecil itu kita dapat membuat langkah besar. Mereka membutuhkan bantuan kita untuk dapat keluar situasi ini.

Pertanyaan yang dapat diajukan pada Gereja. Kalau Gereja selalu menyatakan dirinya sebagai pelindung dan pembela kaum yang lemah dan tersingkir pertanyaan yang dapat diajukan apa yang sudah dilakukan Gereja selama ini pada mereka? Apakah sudah membuat sebuah langkah yang nyata untuk mendampingi dan membantu mereka untuk keluar dari situasi itu? Tampaknya selama ini belum banyak tindakan kongkret dari Gereja untuk membantu mereka untuk keluar dari situasi itu. Bukan sesuatu yang mudah memang untuk membantu mereka. Kalau Gereja hendak serius membantu pasti bisa.

Hening Doa dan Pergulatan Hidup

Bergulat dalam Doa…

Kadang-kadang ada wilayah yang terlalu dalam untuk dapat digapai dengan kata-kata…

Kadang-kadang kita hanya perlu diam, hening sejenak…

Belajar mendengar Allah dengan hati tertunduk,

juga di saat-saat ketika tampaknya Ia juga diam dan seolah menjadi tiada…

Kadang-kadang, teman, Ia hanya meminta kita untuk bertahan sebentar lagi… bertahan bergantung pada salib kita sendirian…

Menurut saya, ini juga terbilang doa…