Beato Juan María de la Cruz SCJ

phoca_thumb_l_030 d. mariano prroco

Juan Maria De La Cruz: Salah satu di antara begitu banyak kisah para kudus

Dataran tinggi yang mengelilingi kota Avila (Spanyol) terletak di antara blok-blok granit besar. Tiang-tiang kota tua itu muncul bagai tangan-tangan usang terbuka ke langit, ke  cakrawala yang ditempa oleh musim panas dan musim dingin yang ekstrim. Tanah Avila di negara Spanyol ini terkenal sebagai “tanah orang Kristiani” yang kuat dan taat. Keluarga-keluarga Katolik dengan banyak anak dan dengan latar belakang petani dan peternak telah hidup di sana selama berabad-abad. Dan beberapa di antara mereka menjadi hadiah dan saksi Allah bagi gerejaNya. Para kudus dari kota ini – St. Teresa dari Avila dan orangtuanya, serta beato Juan Maria de la Cruz – menjadi saksi Injil yang hidup!

Beato Juan Maria lahir di S. Esteban de los Patos (Ávila) pada tanggal 25 September 1891. Dia adalah putra pertama dari lima belas saudara dan setelah dibaptis dengan nama Mariano. Ia diberi nama yang sama dengan ayahnya – yang bersama istrinya, Dona Emerita – berusaha untuk memberi pendidikan Katolik yang kuat bagi anak-anak mereka.

Keluarga Mariano dikenal rajin mengurus gereja setempat. Sang ayah, pada sore hari, saat kembali dari tugas-tugas di ladang, memimpin novena dan rosario bagi umat sekitar karena mereka tidak memiliki imam di desa kecil itu. Inilah salah satu alasan kuat mengapa Mariano muda merasa terpanggil menjadi seorang imam.

Continue reading “Beato Juan María de la Cruz SCJ”

Advertisements

Superman di Balik Altar: Mengapa Saya Menjadi Imam-Religius untuk Hati Yesus

Saat saya kecil, salah satu super-hero yang lekat dalam hidup saya adalah Superman. Saya ingat saat Mama membeli baju Superman lengkap dengan mantel merah menyala untukku yang berusia 5 tahun. Saya ingin menjadi Superman yang kuat, yang bisa terbang dan yang selalu menolong orang lain.

Kisah panggilanku: “Romo Koko”

Saat saya berusia 8 tahun, saya perlahan mengerti bahwa Superman adalah tokoh kartun dan bukan sosok nyata. Saya sedikit kecewa dengan kenyataan bahwa Superman adalah tokoh fiksi (hahaha… mungkin teman-teman juga pernah mengalami rasa kecewa yang sama).

Namun, di usia yang sama, saya mulai sadar bahwa ada Superman lain dengan mantel warna-warni yang indah: para Imam di balik altar. Mereka memakai jubah bersayap yang sangat mirip dengan sayap Superman – walau celana dalamnya para Romo tidak kelihatan di luar seperti Superman hahahaha!

 

O gosh, bagi saya yang berusia 9 tahun, the priests do look like a Superman!

And I wannabe one of them!

 

“Tragedi Wafer Sakti”

Saya juga ingat bahwa saya ingin sekali ikut mencicipi ‘wafer’ tipis yang diangkat oleh para imam dan yang selalu dibagikan ke semua umat. Saya belum menerima Komuni Pertama karena masih terlalu muda. Suatu Minggu, saya mencoba merengek meminta Hosti Suci pada Mama saya – dan saya nekat berusaha merebutnya dari tangan Mama. Saya pikir: “Wafer sakti itulah yang dapat membuat saya cepat besar dan segera menjadi seperti sang Romo!”

 

“Plak!!!”

Tangan Mama tak segan mendarat di ubun-ubunku!

Mata mamaku mendelik murka – bayangkanlah sejenak betapa sulitnya seorang Mama Tionghoa berusaha melotot demi menampakkan ekspresi geramnya, hahahaha…

Continue reading “Superman di Balik Altar: Mengapa Saya Menjadi Imam-Religius untuk Hati Yesus”

“Komitmen… “

#SoulBites 2.0 | 06112015

Wanita paruh baya itu acapkali mengusik batinku. Gurat wajahnya adalah kisah perjuangan yang berat membesarkan dan mendidik anak laki lakinya. Wanita ini sederhana jalan pikiran dan impiannya. Ia tak lulus SD namun selalu cerewet soal pendidikan anaknya. Ia mengusahakan putranya meraih apa yang ia impikan…

Continue reading ““Komitmen… “”