Doa Kepada Hati Kudus Yesus

Ya Tuhan, aku berdoa, agar di rumahku ada damai, ketenangan dan kesejahteraan di dalam naungan-Mu. Berkatilah dan lindungilah usahaku, pekerjaanku, segala keingiananku dan semua yang Kauserahkan kepadaku. Usirlah nafsu dari dalam hatiku, rencana palsu dan pikiran jahat. Tuangkanlah di dalam hatiku, cinta kepada sesama dan anugerahkanlah kepadaku semangat penyerahan yang teguh, teristimewa pada saat kemalangan, agar supaya aku bangun dari kebimbangan.

Ya Tuhan, bimbinglah dan lindungilah hidupku dari bahaya-bahaya dan ketidaktentuan dunia. Jangan lupa, ya Yesusku, orang-orang yang kukasihi, baik yang masih hidiup maupun yang sudah meninggal, yang menyebabkan kesedihan kami. Tetapi kami dihibur oleh ketaatan mereka waktu mereka masih hidup, sehingga Engkau tidak menyerahkan mereka kepada maut. Kasihanilah mereka Tuhan, dan bawalah mereka kepada kemuliaan surgawi. Amin.

 

 

 

Advertisements

Novena Kepada Hati Kudus Yesus

 

 

 

Image

(Novena ini dilakukan setiap hari 9X,
berturut-turut pada jam yang sama)

Ya Yesus, Engkau berkata:
“Mintalah maka akan diberkan kepadamu,
carilah maka kamu akan mendapat;
ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu.”

Dengan perantaraan Maria Bunda-Mu
tersuci aku memanggil Engkau,
aku mencari dan memohon kepada-Mu
untuk mendengarkan permohonanku ini.
(Sebutkan karunia yang anda minta)

Ya Yesus, Engkau berkata:
“Apa saya yang kau minta kepada Bapa-Ku dengan
nama-Ku. Dia akan memberikannya kepadamu.”

Aku memohon dengan rendah hati dan penuh
kepercayaan dari Bapa Surgawi dalam nama-Mu,
dengan perantaraan Maria Bunda-Mu tersuci,
untuk mengabulkan permohonanku ini.
(Sebutkan permohonan anda)

Ya Yesus, Engkau berkata:
“Langit dan bumi akan musnah,
tetapi Sabda-Ku tidak akan musnah.”

Dengan perantaraan Maria Bunda-Mu tersuci,
aku percaya bahwa permohonanku akan dikabulkan
(Sebutkan permohonan anda)

Yesusku, Tuhan jiwaku, Engkau berjanji bahwa
Hati Kudus-Mu akan menjadi laut kerahiman
bagi orang-orang yang berharap pada-Mu,
aku sungguh percaya bahwa Engkau
akan mengabulkan apa yang aku minta,
walaupun itu memerlukan mukjizat.
Pada siapa aku akan mengetuk
kalau bukan pada hati-Mu.

Terberkatilah mereka yang berharap pada-Mu.
Ya Yesus, aku mempersembahkan kepada Hati-Mu
(penyakit ini, jiwa ini, permohonan ini).
Pandanglah dan buatlah apa yang hati-Mu kehendaki.

Ya Yesus, aku berharap pada-Mu dan percaya,
kepada-Mu aku mempersembahkan diriku,
di dalam Engkau aku merasa aman.
(1x Bapa Kami … Salam Maria … Kemuliaan …)

Hati Kudus Yesus, aku berharap pada-Mu
(Ulangi 10x dengan penuh semangat)

Ya Yesus yang baik, Engkau berkata:
“Jika engkau hendak menyenangkan Daku,
percayalah kepada-Ku.
Jika engkau hendak lebih menyenangkan Daku,
berharaplah pada-Ku selalu.”

Padamu Tuhan, aku berharap,
agar aku tidak binasa selamanya.
Amin.

 

 

 

Devosi Hati Kudus Yesus dan Adorasi Ekaristi: Titik Temunya?

Devosi Hati Kudus Yesus dan Adorasi Ekaristi

1.        Pengantar

Saat ini, banyak praktek devosi bersama maupun pribadi yang dijalankan umat. Dari banyaknya praktek devosi itu, devosi Hati Kudus Yesus rasanya kurang menarik bagi umat. Memang, devosi ini pernah sangat berkembang dan diminati umat. Bahkan, sebelum 1960 Karl Rahner berpandangan bahwa devosi Hati Kudus merupakan puncak agama dan bahwa semestinya setiap orang Kristen menghormati Hati Yesus[1]. Namun, setelah 1966 rupanya devosi Hati Kudus yang begitu jaya mengalami kemunduran. Rahner menduga bahwa sebagai devosi umat, Hati Kudus akan mundur pula[2].

Saat ini, devosi adorasi Ekaristi sebagai salah satu bentuk devosi Ekaristi malah berkembang dan booming terutama di Keuskupan Agung Semarang. Menarik bahwa dua devosi ini rupanya dihidupi bahkan menjadi tradisi dalam kongregasi SCJ. Dihidupinya dua devosi dalam satu kongregasi memunculkan suatu pertanyaan: mungkinkah bahwa dua devosi ini sebenarnya terkait satu sama lain bahkan mempunyai penghayatan sama hanya saja bentuknya beda hingga sebuah kongregasi Hati Kudus Yesus mempunyai tradisi kuat akan adorasi?

 

2.        Isi Devosi Hati Kudus Yesus

Dalam Kapitel Jenderal Yesuit mengenai Devosi Hati Kudus Yesus, dinyatakan bahwa devosi kepada Hati Kudus adalah untuk membalas cinta kasih yang dinyatakan Allah kepada kita melalui Yesus, dan pelaksanaan cinta kasih kita kepada Allah dan sesama kita. Devosi Hati Kudus Yesus mewujudkan cinta kasih pribadi timbal balik yang merupakan inti hidup kristiani dan hidup membiara. Inilah alasannya mengapa devosi kepada Hati Kudus dipandang sebagai bentuk yang unggul dan teruji untuk pembaktian diri kepada Kristus Yesus, raja dan pusat segala hati, yang begitu diperlukan oleh zaman kita, sebagaimana ditegaskan oleh KV II[3].

Dinyatakan bahwa devosi kepada Hati Kudus adalah untuk membalas cinta kasih yang dinyatakan Allah kepada kita melalui Yesus. Hal ini terkait erat dengan pemahaman bahwa Hati Yesus adalah lambang dan perwujudan cinta kasih Kristus yang tak terbatas. Cinta kasih itulah yang menjadi alasan utama pembaktian kepada Hati Yesus. Cinta kasih Allah itu sudah dinyatakan baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Di dalamnya, kita dapati suatu penggambaran yang hidup, yang memuncak dalam kedatangan Sabda yang menjadi manusia. Itulah awal Hati Yesus sebagai lambang cinta kasih-Nya[4].

Hati Yesus adalah bagian badan Yesus yang paling suci, bagian yang paling luhur dari kodrat manusiawi-Nya. Di dalamnya terjadi persatuan hipostasis antara kemanusiaan dengan pribadi sabda Ilahi. Hati Yesus menampakkan dua kodrat dalam diri Yesus, yakni ilahi dan insani, dan menampakkan pribadi sang Sabda sendiri. Hati merupakan simbol seluruh misteri penebusan manusia. Maka, bila kita menyembah Hati Yesus, yang sesungguhnya kita sembah adalah cinta Kristus yang ilahi dan insani. Kristus memperlihatkan Hati-Nya yang terluka dan bernyala-nyala kepada manusia yang tiada pernah akan padam selamanya[5]. Bila devosi ini dipraktekkan dengan jujur dan dengan pemahaman yang benar, akan membantu umat beriman untuk merasakan cinta kasih Kristus yang besar yang merupakan puncak kehidupan Kristiani[6].

 

3.        Isi Devosi Adorasi Ekaristi

Fokus seluruh praktek sembah sujud dan penghormatan di dalam Adorasi Ekaristi sebagai salah satu bentuk devosi Ekaristi adalah Tuhan Yesus Kristus yang diimani hadir dalam Ekaristi, dalam rupa roti dan anggur, baik dalam perayaan Ekaristi maupun sesudah misa kudus selesai[7]. Devosi Ekaristi merupakan ungkapan iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus yang hadir dengan seluruh misteri penebusan-Nya sebagaimana dirayakan secara sakramental dalam Perayaan Ekaristi. Maka, dalam devosi Ekaristi, meskipun hanya memandang dan menyembah Sakramen Mahakudus, yakni Kristus yang hadir dalam rupa roti, kita sebenarnya sedang mengungkapkan pujian syukur, sembah dan sujud, serta kekaguman atas misteri kasih Allah yang terwujud dalam karya penebusan Kristus yang dirayakan dalam Perayaan Ekaristi[8].

4.        Relasi antara Devosi Hati Kudus Yesus dengan Adorasi Ekaristi

Devosi Hati Kudus Yesus sangat erat kaitannya dengan Ekaristi Kudus. Dari dirinya sendiri, Ekaristi adalah anugerah Hati Yesus yang terluka karena cinta kepada kita. Sebab dari lambung yang tertikam, keluar darah dan air. Darah melambangkan sakramen Ekaristi. Kepada Margaretha Maria, Yesus mengeluh karena kedinginan dan ketidakacuhan manusia akan sakramen cinta kasih, yakni Ekaristi. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa perkembangan devosi Hati Kudus Yesus selanjutnya sangat berwarna ekaristis[9].

Paus Paulus VI sendiri menyatakan bahwa diantara devosi-devosi popular, devosi Hati Kudus mendapat tempat istimewa, sebab devosi itu terutama mempunyai dasarnya dalam misteri suci Ekaristi, yang daripadanya mengalir pengudusan manusia dalam Kristus dan pemuliaan Allah[10]. Bahkan, Paus Yohanes Paulus II menunjukkan bahwa hati Kristus yang ditikam demi kita, itulah cinta kasih yang menebus dosa, yang merupakan sumber keselamatan. Kita tidak hanya dipanggil untuk merenungkan dan memandang misteri cinta kasih Kristus itu, tetapi juga mengambil bagian di dalamnya. Itulah misteri Ekaristi Kudus, pusat iman kita, pusat kebaktian kita kepada cinta penuh belas kasih Kristus yang dinyatakan dalam Hati Kudus-Nya.

Oleh Yohanes Paulus II, devosi kepada Hati Kudus Yesus dengan tekanannya pada Ekaristi dipandang sebagai cara yang paling tepat untuk menghayati perutusan pokok Gereja, yaitu mengimani dan memberi kesaksian mengenai belas kasih ilahi. Dengan masuk ke dalam misteri Hati Kristus, kita mengenal kekayaan cinta kasih Kristus dalam sabda dan karya-Nya, yang mewahyukan cinta belas kasih Bapa di surga[11].

Dalam ensiklik Haurietis Aquas, devosi Hati Kudus akan membawa umat manusia untuk memperkembangkan penghormatan kepada Sakramen Mahakudus dan salib suci, sebab tidak ada seorangpun yang dapat mencintai Yesus yang tergantung di salib dengan tepat bila ia belum mengerti rahasia-rahasia misteri Hati Kudus Yesus. Devosi kepada Hati Yesus, bertujuan untuk mengingatkan kita bahwa karya cinta kasih Kristus yang paling utama ialah penetapan Ekaristi. Dengan sakramen Ekaristi, Kristus ingin bersama-sama dengan kita sampai akhir jaman. Ekaristi adalah anugerah Hati Yesus yang amat besar, sebab diberikan berdasarkan cinta-Nya yang amat besar pula[12]. Hati Yesus dalam Ekaristi melanjutkan hidup cinta kasih dan pengorbanan hidup-Nya di dunia ini. Semua misteri cinta kasih diungkapkan Tuhan secara padat dalam Sakramen Ekaristi yang agung dan patut dicinta[13].

 

5.        Sebuah pergeseran bentuk devosi namun sama dalam penghayatan

Telah dijelaskan bahwa devosi Hati Kudus Yesus rupanya mempunyai keterikatan yang sangat erat dengan Ekaristi yang menjadi sumber dari Adorasi Ekaristi. Dari devosi Hati Kudus Yesus dan Adorasi Ekaristi, sebenarnya terkandung spiritualitas yang sama, yaitu keterarahan pada cinta kasih Allah yang tanpa batas. Cinta kasih Allah ini, tampak dalam karya penebusan yang dihadirkan dalam Ekaristi dan kemudian dipandang dan disembah dalam bentuk Sakramen Mahakudus serta disimbolkan melalui Hati Yesus yang penuh cinta.

Spiritualitas yang sama ini, membuat masuk akal bahwa suatu kongregasi dengan spiritualitas Hati Kudus Yesus mempunyai tradisi Adorasi yang kuat. Bahkan, bila mau dikembangkan lebih lanjut, devosi Hati Kudus Yesus yang sekarang mundur dan diganti devosi Adorasi Ekaristi yang kini berjaya, sebenarnya tidaklah demikian. Devosi Adorasi Ekaristi yang sekarang berkembang sebenarnya adalah bentuk baru dari devosi Hati Kudus Yesus. Mengutip kembali apa yang dinyatakan oleh TT O’Donnel: “Ekaristi adalah anugerah Hati Yesus yang terluka karena cinta kepada kita,  tidak mengherankan bahwa perkembangan devosi Hati Kudus Yesus selanjutnya sangat berwarna ekaristis”. Pun pula pernyataan ensiklik Haurietis Aquas: “devosi Hati Kudus akan membawa umat manusia untuk memperkembangkan penghormatan kepada Sakramen Mahakudus dan salib suci, sebab tidak ada seorangpun yang dapat mencintai Yesus yang tergantung di salib dengan tepat bila ia belum mengerti rahasia-rahasia misteri Hati Kudus Yesus”.

Pernyataan bahwa Devosi Adorasi Ekaristi yang sekarang berkembang sebenarnya adalah bentuk baru dari devosi Hati Kudus Yesus, mungkin terlalu berani dan dianggap sebagai pembelaan dari pendukung devosi Hati Kudus Yesus.  Namun, tak ada salahnya untuk membuat suatu pernyataan yang baru dan unik.

 


[1] Bert van der Heijden, “Karl Rahner SJ, orang yang tertikam hatinya”, Pedoman Hidup 13 (1987) 6.

[2] Bert van der Heijden, “Karl Rahner SJ, orang yang tertikam hatinya”, 22.

[3] Bdk. NN, “Kapitel Jenderal Yesuit mengenai Devosi Hati Kudus Yesus”, Pedoman Hidup 13 (1987) 3-4.

[4] TT O’Donnel, “Ajaran Pimpinan Gereja Mengenai Devosi Kepada Hati Kudus Yesus”, Pedoman Hidup 20 (1990) 26.

[5] TT O’Donnel, “Ajaran Pimpinan Gereja Mengenai Devosi Kepada Hati Kudus Yesus”, 33.

[6] TT O’Donnel, “Ajaran Pimpinan Gereja Mengenai Devosi Kepada Hati Kudus Yesus”, 35.

[7] Bdk. E. Martasudjita, Pr, Ekaristi, Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral, 415.

[8] E. Martasudjita, Pr, Ekaristi, Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral, Kanisius, Yogyakarta 2005, 419.

[9] TT O’Donnel, “Ajaran Pimpinan Gereja Mengenai Devosi Kepada Hati Kudus Yesus”, 45-46.

[10] TT O’Donnel, “Ajaran Pimpinan Gereja Mengenai Devosi Kepada Hati Kudus Yesus”, 48.

[11] Bdk. TT O’Donnel, “Ajaran Pimpinan Gereja Mengenai Devosi Kepada Hati Kudus Yesus”, 52-53.

[12] Bdk. TT O’Donnel, “Ajaran Pimpinan Gereja Mengenai Devosi Kepada Hati Kudus Yesus”, 39.

[13] C. van Paasen, SCJ, “komentar pada konstitusi SCJ, Fasal II: setia pada kharisma bapa pendiri”, 68.

Hati Kudus Yesus: Hati Yang Membawa Perubahan

Image
“Inilah Hati yang sedemikian mencintai umat manusia hingga rela terbakar sehabis-habisnya…” (penampakan pada St. Margareta Maria Alacoque)

Hati dan Manusia

Kiranya bukan sesuatu yang baru bagi kita untuk menyebut dan memahami kata “hati” bukan hanya sebagai suatu ungkapan harafiah yang menunjuk bagian anggota tubuh tertentu. Ungkapan atau istilah kata “hati” sudah menjadi ungkapan dan pemahaman yang akrab bagi kita untuk menggambarkan pusat dan sumber hidup pribadi manusia, suatu titik konsentrasi pribadi, pusat hidup batin[1].

Hati mau menggambarkan kepenuhan diri manusia. Dalam diri manusia ada yang menjadi sumber atau inti terdalam yang menggerakkan seluruh hidupnya. Itulah hati. Maka tepatlah gambaran Origenes seorang tokoh yang mempunyai pengaruh yang besar atas pemikiran-pemikirannya[2]. Dia menekankan bahwa hati itu bukan hanya perasaan saja, melainkan juga pengetahuan dan pengertian. Istilah yang sering dipakainya “hegemonikon” yang berarti bagian luhur dari jiwa, yang seharusnya memimpin seluruh jiwa dan tingkah laku manusia dimana kita sadar akan cita-cita yang luhur.

Berdasarkan penjelasan Origenes maka yang menentukan diri kita yang mendalam ialah hati kita. Hati inilah yang merupakan sumber yang menyebabkan tingkah laku kita. Hatilah yang menjadi sumber yang merangkum pikiran dan perasaan kita, pengetahuan dan pengertian kita dan yang kemudian menyebabkan tingkah laku kita. Singkatnya mau mengatakan bahwa hati merupakan pusat batin diri manusia, titik yang paling inti dan penting.

Hati yang menjauh

 Sudah sejak dari Perjanjian Lama kita mendapat gambaran bahwa yang paling menyakiti hati Allah ialah hati yang melepaskan diri dari Dia. Apabila hati kita menjauh dari Allah maka perbuatan lahiriah tidak berguna lagi, sebagaimana dikatakan oleh nabi Yesaya: “bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh daripada-Ku” (Yes 29:13).

Meskipun bangsa Israel taat dan setia dalam menjalankan ibadah, itu tidak dapat menutupi situasi hati mereka yang menjauh dari Allah. Semua yang mereka lakukan dalam ibadah hanya sebatas ungkapan lahiriah saja. Mereka hanya melaksanakan tuntutan ibadah tanpa kedalaman hati. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari mereka seringkali melakukan tindakan-tindakan yang menjauhkan mereka dari Allah : “Celakalah orang yang menyembunyikan dalam-dalam rancangannya terhadap TUHAN, yang pekerjaan-pekerjaannya terjadi dalam gelap sambil berkata: “Siapakah yang melihat kita dan siapakah yang mengenal kita?” (Yes 29:15).

Hati yang menjauh berada dalam kuasa kegelapan karena telah berpaling dari Allah. Dalam kuasa kegelapan tidak ada yang lain kecuali melakukan perbuatan-perbuatan yang melawan cinta kasih. Santo Paulus menggambarkannya sebagai perbuatan daging: “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,

kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya” (Gal 5:19-21).

Situasi yang demikian sungguh membelenggu manusia. Akan tetapi selalu ada kerinduan mendalam dari manusia untuk kembali mendekatkan hatinya kepada Allah. Di lain pihak Allah pun menginginkan agar hati manusia selalu terarah kepada-Nya. Tetapi dari pihak manusia sendiri yang karena kerapuhan dan kelemahannya, sulit rasanya dengan kemampuan sendiri mengarahkan hati kepada Allah. Oleh karena itu, Allah kemudian mengambil keputusan untuk melaksanakan rahasia penjelmaan, memakai bentuk insani sehingga cinta-Nya dapat terlihat[3]. Dan semuanya itu bermula dari hati.

Hati Kudus Yesus Hati Yang Membawa Perubahan

Misi Yesus di dunia sebagaimana terdapat dalam Markus 1:15 adalah mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan. Keadaan manusia yang terbelenggu karena dosa kini hendak diselamatkan oleh Allah melalui pewartaan Kerajaan Allah dan itu harus dimulai dengan pertobatan. Hati manusia yang selama ini telah menjauh dari Allah hendak ditarik kembali kepada Allah melalui Putera-Nya sendiri, Yesus Kristus.

Lukas menggambarkan misi Yesus ini sebagai upaya membawa “api perubahan”: “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! (Luk 12:49). Misi yang dibawa oleh Yesus ini merupakan suatu upaya untuk melakukan perubahan mendalam bagi manusia. Api itu merupakan suatu semangat yang dapat membakar dan membersihkan hati manusia sehingga mengalami perubahan. Dan Yesus sendirilah yang akan menggerakan sekaligus menjadi pelaku utama yang melakukan perubahan itu.

Misi Yesus yang membawa perubahan itu mencapai puncaknya di kayu salib. Di kayu salib karya keselamatan Allah kepada manusia diwujudkan. Karya keselamatan yang dilakukan oleh Yesus ini mengalir dari hati-Nya yang menginginkan perubahan dalam hati manusia. Ketika Yesus memulai karya-Nya dan yang kemudian memuncak pada peristiwa Salib, Yesus telah membakar hati manusia yang merupakan pusat hidup manusia agar kembali kepada Allah. Peristiwa salib pertama-tama merupakan peristiwa penebusan dosa sekaligus sebagai langkah awal untuk menyalakan api perubahan dalam diri manusia.

Sabda Yesus dalam Lukas di atas mengingatkan kita akan janji profetis Nabi Yehezkiel “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat” (Yeh 36:26). Melalui janji profetis ini ada satu hal yang dikehendaki oleh Allah yakni perubahan dalam hati manusia. Rahmat Allah ini membebaskan manusia dari kekerasan hati-Nya yang menjauh dari Allah. Hati Yesus yang membakar hati manusia membawa perubahan bagi manusia yang membebaskan hatinya dan mengarahkannya kepada Allah.

Bersatu Hati Dengan-Nya

Bagi Pater Dehon, Lambung Penebus yang tertikam dan Hati-Nya yang terbuka merupakan suatu ungkapan yang paling mampu untuk mengungkapkan dan membangkitkan cinta Kasih (bdk. Konst.SCJ no.2). Santa Margaretha Maria dalam salah satu tulisannya mengungkapkan : “Saya rasa tidak ada daya upaya yang lebih pasti menuju ke keselamatan kekal daripada mempersembahkan diri kepada Hati Kudus untuk memberikan segala pujian, cinta kasih, hormat dan kemuliaan yang kita janjikan kepada-Nya”[4].

Sebagai pengikut Kristus kita hendaknya menyatukan hati kita dengan Hati Kudus Yesus yang telah membawa api perubahan bagi kita. Dengan bersatu hati dengan-Nya, kita masuk dalam Inti Hati atau Diri, Pribadi, Yesus yang menerima dan mengembalikan cintakasih Allah Bapa tanpa ada batasnya. Dengan bersatu Hati dengan-Nya kita juga turut bersatu dengan Bapa. Sebab Kristus tak lain daripada hubungan dengan Bapa[5]. Oleh karena itu, dalam penghayatan doa kita, sebaiknya sekaligus menyembah Kristus dengan Bapa-Nya. Sebab misteri Allah Bapa dan Putera ialah justru kesatuan mereka.

Isi utama devosi kepada Hati Kudus ialah menyadari Kristus sebagai tempat hadirat cintakasih Allah yang sepenuhnya diterima dan dikembalikan oleh Yesus. Maka tindakan kita untuk bersatu hati dengan Yesus merupakan tindakan yang menerima dan mengembalikan cintaksih Allah Bapa dan Yesus itu. Di dalam dan melalui Kristus berkat peristiwa Salib, hati kita manusia yang lemah dan berdosa telah diubah dan tercurah oleh cintakasih-Nya sendiri yang juga disebut hidup atau Roh Allah. Maka dengan bersatu hati dengan-Nya kita membiarkan Roh Allah yang menjiwai hati kita untuk menerima dan mengembalikan cintakasih Allah sendiri.

Pada akhirnya Hati Kudus Yesus menjadi Sumber yang membawa perubahan dalam hati manusia. Daripada-Nya lahirlah manusia dengan hati yang baru, hati yang senantiasa mengarahkan seluruh dirinya kepada Bapa.

Daftar Pustaka

Bert van der Heijden,

1975, Cintabakti Kepada Hati Kudus Yesus, Puskat, Yogyakarta.

Forrest, M.D.,

1981, Hati yang Membara, Surya Cipta M.E., Jakarta.

.


[1] Bdk. Dr. Bert van der Heijden, Cintabakti Kepada Hati Kudus Yesus, Bagian Publikasi, PUSKAT, Yogyakarta, 1975,8.

[2] Disarikan dari Dr. Bert van der Heijden, Cintabakti Kepada Hati Kudus Yesus, Bagian Publikasi, PUSKAT, Yogyakarta, 1975,26.

[3] M.D.Forrest, Hati yang Membara, Surya Cipta M.E., Jakarta, 1981,16.

 [4] M.D.Forrest, Hati yang Membara, Surya Cipta M.E., Jakarta, 1981,37.

[5] Disarikan dari Dr. Bert van der Heijden, Cintabakti Kepada Hati Kudus Yesus, Bagian Publikasi, PUSKAT, Yogyakarta, 1975, 66.

Soegija dan Visi Politis Devosi Hati Kudus Yesus

“Kemanusiaan itu satu… ” (Mgr. Soegijapranoto, SJ)

Film Soegija yang telah banyak menjadi buah bibir umat naik tayang pada awal Juni 2012 ini. Bagi saya, momen ‘Soegija’ ini menjadi lebih bermakna karena Juni adalah sebuah bulan yang sesuai tradisi Gereja dipersembahkan pada Hati Kudus Yesus. Memang banyak di antara kita yang dekat dengan devosi ini dalam banyak bentuk: adorasi pemulihan, doa novena Hati Kudus Yesus, Ekaristi Jumat Pertama, atau hormat pada gambar-gambar Hati Kudus Yesus. Laku tapa-kesalehan ini telah membawa banyak sekali rahmat bagi jiwa-jiwa. Namun film ‘Soegija’ ini membuat saya ingat akan satu sisi lain dari devosi Hati Kudus Yesus, yaitu: visi politis, soal kekuasaan dan keterlibatan dalam tata masyarakat.

Di balik devosi yang menekankan hidup persatuan hati yang penuh kasih ini, terdapat pula seruan bagi umat untuk maju mengusahkan sebuah gerakan sosial: gerakan ‘Kerajaan Hati Kudus.’ Istilah ‘kerajaan’ ini dapat ditelusuri dari kisah St. Margareta-Maria, mistikus yang mendapat penampakan Hati Kudus Yesus dan pesan untuk menyebarluaskan hormat bakti bagi HatiNya. Sesudah penampakan Hati Kudus Yesus pada tanggal 17 Juni 1689, St. Margareta-Maria mengirim surat permohonan pada Raja Louis XIV yang meminta agar Kerajaan Perancis dibaktikan pada Hati Kudus dan gambar Hati Ilahi itu dipasang pada panji kerajaan. Bagi St. Maria-Margareta, pesan penampakan Hati Kudus Yesus menjadi jelas: agar kebaktian rohani ini menyentuh juga sendi-sendi hidup sosial-politik. Pada waktu itu memang monarki dan Gereja masih tidak dipisahkan secara organisatoris karena para Kaisar diangkat oleh Paus yang adalah wakil Allah. Walau demikian, tetap saja visi politis ini juga dapat diterapkan pada zaman ini.

Pater Leo Yohanes Dehon, pendiri Imam-Imam Hati Kudus Yesus, menangkap dua pengertian dalam visi politis devosi ini bagi umat saat ini: kerajaan Hati Kudus Yesus dalam jiwa-jiwa dan dalam masyarakat. Di dalam pengertian ini, terlihat jelas bahwa hidup batin dan kewajiban sosietal (gesellschaftlich) tidak dipisahkan. Bagi Dehon, ketika kita masuk dalam misteri Allah yang paling dalam, yaitu HatiNya yang penuh kasih, kita masuk dalam kasih yang menyejarah, yang konkret dan real dalam peristiwa Lambung Tertikam di salib. Maka, hidup batin yang mendalam mestinya juga masuk dalam sejarah, masuk dalam perjuangan nyata Gereja bagi kesekawanan, persaudaraan antar manusia, keadilan, serta pembelaan hak dan martabat manusia. Pembatinan yang mendalam akan misteri kasih Allah itu membuat kita sampai pada sebuah vitalitas rohani. Vitalitas ini tidak hanya mengundang orang untuk datang dan belajar pada Yesus yang lemah-lembut dan rendah hati, tetapi juga untuk bersama Yesus melemparkan api ke bumi, membalik meja-meja penuh uang hasil kongkalikong dengan penguasa di pelataran Bait Suci, dan berani melawan struktur sosial macam Sabat yang tidak memanusiakan orang.

Vitalitas inilah yang membuat kita dan sekian banyak orang non-Katolik tertegun dengan kisah Soegija. Kisah Soegija adalah kisah tentang seorang Kristiani yang berusaha melalui doa, keringat dan air mata meneruskan ‘sejarah keselamatan’ yang telah mulai sejak Allah menjadi manusia. Cintanya pada Allah tidak tinggal sebagai rasa-rasa rohani, atau gerakan emosi sesaat. Doa Soegija membuatnya mampu terlibat ‘melemparkan api ke bumi Indonesia’, sebagaimana dicita-citakan oleh setiap tradisi spiritualitas dan devosi Kristiani. Kita melihat perjuangan sang Uskup yang dengan sepeda onthel bersahaja membela orang-orang bangsanya yang rapuh dan dibelenggu penjajahan. Dengan kagum kita saksikan dalam diri Soegija bagaimana integritas yang datang dari doa-tapa dapat mengubah satu bangsa.

Semoga di bulan Hati Kudus Yesus ini, pelan-pelan kita belajar terlibat dalam tata-masyarakat dan memiliki integritas moral, iman dan tindakan yang sama dengan Soegija, yang lahir dari dalamnya pengenalan kita akan kasih Allah pada dunia. Inilah dua hal utama bagi bangsa kita yang belakangan makin akut dengan wabah korupsi, konsumerisme dan tumpulnya ketergerakan hati.

In Corde Iesu 🙂