Katolik Garis Lucu di antara Humor dan Hujat: Perspektif Filsafat Moral

Jagad maya Katolik di Nusantara belakangan resah dengan pro-kontra pada postingan meme Yesus di akun Katolik Garis Lucu (setelah ini disingkat “KGL”) yang dianggap menista iman. Aneka komentar di Facebook, Twitter dan Instagram saling bersahutan: ada yang mendukung, ada yang mengecam dan tak sedikit yang sampai mengutuk.  Mereka yang mendukung KGL menganggap bahwa meme bermaksud humor itu adalah bentuk satir untuk mengingatkan umat pada esensi ajaran. Media sosial juga menjadi riuh karena seolah kelompok yang mengecam merasa bahwa mereka sedang berusaha mempertahankan kemuliaan dan kekudusan Tuhan. Lalu mana yang benar? Bagaimana sikap kita?

Alasdair MacIntyre dan ketidak-setujuan moral di zaman modern

Alsadair MacIntyre, pemikir besar abad ini, menulis bahwa protes dan kemarahan adalah penanda dari debat publik di dunia modern. Mengapa? Karena bagi MacIntyre, mustahil bagi kelompok manapun untuk memenangkan argumen mereka sejauh tidak ada persetujuan antara kelompok sosial itu tentang cara bagaimana mereka menang dan bahkan apa itu kemenangan. Menurut MacIntyre, ketidak-setujuan moral di dunia modern menjadi sulit – bila tidak mustahil – dimitigasi oleh rasionalitas bersama.

Premis yang saling berlawanan sulit untuk sampai pada pengertian bersama yang dapat mengubah pikiran seseorang. Mustahil untuk meyakinkan pihak lain tentang apa itu “kebaikan” secara rasional karena masing-masing argumen yang berlawanan membawa kebenaran dan logika moral sendiri. Bagi mereka yang pro-aborsi, misalnya, “kebaikan” didefinisikan sebagai kebebasan yang dimiliki para perempuan untuk menentukan apa yang terjadi dengan tubuhnya sendiri. Karena janin adalah bagian dari tubuh perempuan, maka dapat dibenarkan tindakan menghilangkan janin itu bila yang bersangkutan memang menghendakinya. Argumen kebebasan dan hak asasi digunakan untuk mendefinisikan apa yang baik bagi pendukung aborsi. Namun, argumen moral yang sama dapat digunakan juga oleh penentang aborsi. Justru karena janin adalah individu manusia yang kebebasan dan hak asasi untuk hidupnya harus dilindungi sejak tahap awal mula, maka aborsi tidak pernah dapat dibenarkan. Bila dua argumen moral yang kurang lebih sama memunculkan perbedaan yang begitu tajam, jangan-jangan apa yang “baik” bergantung pada ranah emotif seseorang; pada selera dan pilihan masing-masing individu. Karenanya, secara rasional, menurut MacIntyre hampir tidak ada wadah yang dapat menampung perbedaan preferensi ini.

Humor, hujatan dan tiadanya konsensus rasional

Cara pandang Alasdair MacIntyre ini berbeda dengan relativisme moral. Relativisme moral adalah pandangan bahwa benar salahnya justifikasi moral bergantung pada satu titik pandang partikular tertentu dan bahwa tidak ada perspektif unik yang lebih tinggi dari yang lainnya. Bagi saya sebagai seorang Katolik, tentu aborsi adalah dosa besar yang melawan perintah Allah untuk menjaga kesucian hidup. Saya akan mengusahakan dengan segala upaya tenaga untuk mencegahnya. Keyakinan saya tentang “kekudusan hidup” adalah rasional. Di depan diskursus rasional dari mereka yang mendukung aborsi, saya tidak kehilangan argumen rasional saya dan tidak kehilangan preferensi moral saya. Dalam perspektif MacIntyre, karena begitu ramainya argumen rasional, maka pihak yang berlainan pendapat tidak dapat sampai pada konsensus bersama tentang apa yang “baik.” MacIntyre tidak hendak membela relativisme moral. Ia hanya menunjukkan bahwa dalam sejarah filsafat moral, kita tidak menemukan konsensus yang rasional tentang apa itu “kebaikan” sehingga tak dapat sampai pada kesimpulan yang sama tentang sebuah tindakan moral. Sekali lagi, ini bukan tentang relativisme moral.

Dalam konteks polemik KGL, masing-masing kubu pro dan kontra pasti memiliki argumen moralnya masing-masing. Bagi yang menjustifikasi bahwa humor KGL menista kekudusan Tuhan, beberapa argumen preskriptif berikut sering jadi rujukan:

a. Perintah Allah ke-2; yang berbunyi: “Kuduskanlah nama Tuhan!”

b. Katekismus Gereja Katolik

2161    Perintah kedua menentukan untuk menghormati nama Tuhan. Nama Tuhan itu kudus.

2162    Perintah kedua melarang tiap penggunaan nama Allah secara tidak pantas. siapa yang memakai nama Allah, Yesus Kristus, Perawan Maria, dan orang-orang kudus atas cara yang menghina, menghujat Allah.

c. Kitab Hukum Kanonik

1369    Yang dalam suatu pertunjukan atau pertemuan umum, atau tulisan yang tersebar secara publik, atau secara lain dengan menggunakan alat-alat komunikasi sosial, menghujat, atau melanggar moral umum secara berat, atau menyatakan penghinaan atau membangkitkan kebencian maupun pelecehan terhadap agama atau Gereja, hendaknya dihukum dengan hukuman yang adil.

Pendekatan preskriptif ini sahih bagi mereka yang mendaku diri katolik karena kebenaran moralnya dijaminkan pada Kitab Suci dan Magisterium Gereja. Menggunakan rasionalitas makna literal dari kutipan ini, menurut kelompok yang tersinggung, maka posting KGL dapat dimaknai sebagai sebuah penghujatan, penghinaan dan pelecehan pada agama dan Gereja. Bila kita gunakan pendekatan moral Gereja Katolik tentang obyek tindakan, maka penghujatan sendiri – lepas dari intensi dan situasi agen moralnya – adalah sebuah tindakan yang melawan cinta kasih dan akibatnya termasuk sebagai dosa.

Namun filsafat MacIntyre dapat memberi wawasan baru dalam klaim ini: apakah ada konsensus moral yang sama tentang definisi penghinaan dan penghujatan Allah? Dari sudut pandang mereka yang mendukung KGL, tunduk pada pendekatan preskriptif ini justru sangat membantu mereka lepas dari tuduhan penghujatan. Mengapa? Karena humor yang lahir dari cinta kasih sangat mungkin tidak termasuk dalam kategori “cara yang menghina, membangkitkan kebencian maupun pelecehan terhadap agama atau Gereja.” Melukai perasaan sebagian anggota Gereja adalah obyek moral yang berbeda dengan obyek kekudusan, yaitu: Tuhan, agama dan Gereja sebagai Tubuh Kristus.

Bila humor datang dari kebencian akan iman dan Gereja Katolik (sebagaimana juga pernah dan masih dilakukan oleh tokoh agama lain), tentu dengan sangat mudah kita menempatkan rujukan preskriptif ini sebagai landasan definisi ‘hujatan’ dan sejauh apa humor tentang iman memiliki batasnya. Pun pula bila ada orang beriman Katolik yang menggunakan nama Tuhan untuk bersumpah palsu, tindakan ‘menghujat nama Tuhan’ ini dapat dengan mudah ditentukan definisinya baik berdasarkan obyek maupun intensi jahatnya.

Namun, bila humor itu datang dari sesama saudara-sudari seiman dan lahir bukan dari kebencian pada Gereja dan Tuhan, melainkan dari relasi personal dengan Allah Transendens yang berinkarnasi dalam Yesus Kristus; yang memanggil muridNya sebagai “sahabat” dan bukan “hamba,” masihkah humor itu jatuh dalam kategori hujat dan kebencian? Pertanyaan fundamental ini bukanlah mengenai intensi dan situasi si agen moral. Pertanyaan ini adalah tentang definisi obyek tindakan “menghujat.” MacIntyre mengingatkan bahwa konteks sosial yang berbeda akan melahirkan konten sosial yang berbeda pula. Ia mengambil contoh tentang betapa rumitnya definisi dari kata “definisi” yang ditemukan dalam kamus. Ada banyak sekali untaian turunan makna kata “definisi” sesuai konteksnya – bukan hanya dalam kamus bahasa Inggris, namun juga dalam KBBI – untuk mendefinisikan satu kata ini. Rupanya, definisi obyek tindakan moral ternyata tidak lepas dari konteks sosialnya.

Adalah sahih sebagai sebuah kemungkinan bahwa mereka yang tersinggung dengan ‘dark humor’ KGL adalah sekumpulan agen moral yang terlepas dari konteks sosial lahirnya KGL serta visi misi yang diusung oleh KGL ini. Kelompok yang berbeda konteks ini bisa jadi berhenti hanya pada “konten” yang dianggap melecehkan kekudusan Tuhan. Bagi mereka yang kontra KGL, sangatlah mungkin bahwa perbedaan cakrawala tentang apa yang kudus, yang mulia dan yang transedens itu menyebabkan “dark humor” tampil sebagai “penistaan.” Sementara, bagi yang mendukung KGL dan cara melucunya akan dengan mudah balik membalas kelompok yang tersinggung ini sebagai kelompok picik yang tidak punya selera humor. Padahal, belum tentu demikian adanya. Penyebab terjadinya polemik pro dan kontra KGL ini sebenarnya bukan sekadar soal gambar atau kata-kata suci yang dipelesetkan, namun karena ketiadaan konsensus rasional tentang apa itu hujat dan humor.

Dialog ke dalam yang lebih mendalam: demi satu Tubuh Kristus

Dua argumen moral yang sama-sama berangkat dari pendekatan preskriptif ini memiliki bobot rasional masing-masing. Karena kesetujuan pandangan tidak dimungkinkan dalam perdebatan antara kedua kelompok ini, maka pertanyaan utamanya adalah: bagaimana saya dan engkau, sebagai bagian dari anggota Gereja, harus bersikap?

MacIntyre mengingatkan bahwa modernisme telah menyebabkan identitas personal tiap agen moral tidak lagi lekat pada peran sosial tertentu. Akibatnya, tidak ada lagi yang mengharuskan masing-masing agen moral untuk menuju pada sebuah tujuan bersama (telos) sehingga pendapat pribadi rentan untuk lepas dari ikatan sosial. Mungkin ini sebabnya, masing-masing orang yang terlibat dalam perdebatan di media sosial cenderung untuk mempertahankan pendapatnya sendiri; bahkan tak jarang sampai mengutuki pandangan yang berbeda. Di kubu mereka yang tersinggung, misalnya, saya melihat beberapa seruan bahwa KGL, selain “menista agama”, juga adalah “golongan liberal, iblis, pelacur dan penjual harga diri Gereja.” Di kubu yang mendukung KGL, kita melihat narasi yang mengatakan bahwa mereka yang tersinggung adalah “golongan kadrun Katolik, bigot, dan golongan konservatif yang ketinggalan zaman.”

Saya mengusulkan, bila tidak dapat bersepaham dalam definisi tentang humor dan hujatan, maka sebaiknya kedua kubu mengambil argumen rasional yang pragmatis, yaitu: bersepaham bahwa perbedaan tidak akan sampai mengurangi prinsip kesatuan Gereja Katolik. Prinsip Gereja yang ‘satu’ dapat menjadi bingkai untuk melihat perbedaan dan ketidak-setujuan moral dengan lebih jernih. Penting bagi tiap individu untuk juga menimbang keanggotaan dalam satu Tubuh Kristus yang sama sebagai pengikat telos untuk menemukan titik dialog ke dalam yang lebih mendalam. Mungkin, kita sebagai Gereja telah terlalu banyak mengusahakan dialog ke luar hingga saat terjadi polemik internal, kita cenderung gagap dan sibuk berbantah dengan pendapat sendiri-sendiri.

Setidaknya ada lima hal konkret berdasar prinsip kesatuan Tubuh Kristus untuk mulai berdialog ke dalam dengan lebih mendalam, yaitu:

(1) Mengusahakan dialog yang santun, proporsional dan personal dengan yang berbeda paham. Konkretnya? Hindarilah komentar penuh penghakiman sepihak di ruang publik. Hindari diksi-diksi negatif yang mengancam persatuan Tubuh Kristus di ruang publik saat ingin saling mengingatkan ketidak-setujuan moral. Ingatlah bahwa masing-masing perbedaan paham, bila didukung oleh pandangan rasional, juga harus dihargai. Bila Anda tidak dapat menghargai kelucuan KGL, minimal Anda menjaga etika berkomunikasi sebagai murid Kristus. Sampaikan saja keberatan Anda dengan runut dan proporsional di jalur pribadi. Admin KGL juga harus menyadari bahwa humor adalah wilayah abu-abu yang relatif riskan memancing sentimen negatif pada agama. Para admin media sosial Katolik harus terbuka pada kritik dan secara proporsional makin menyadari tanggungjawab dan imbas setiap posting mereka; juga tanggungjawab untuk dengan rendah hati meminta maaf bila setelah discernment  bersama memang ditemukan teks atau gambar yang mengancam persatuan Tubuh Kristus.

(2) Perdalamlah argumen rasional dalam perdebatan untuk menjelaskan preferensi emotif Anda. Saya prihatin sekali dengan beberapa akun dan kelompok yang hanya copy-paste dokumen-dokumen Gereja dan Kitab Suci sebagai justifikasi mutlak tanpa penjelasan dan pengertian lebih jauh tentang sejarah pemikiran dan konteks perkembangan doktrin teologi yang dikutip. Mari bersama menghindari kedangkalan berpikir di ruang publik. Keberatan masing-masing pihak mestinya dikanalisasi oleh mereka yang mendalami filsafat dan teologi secara formal. Di lain pihak, Garis Lucu sendiri sebaiknya memberi pula ruang bagi humor yang “rasional” agar sensasi lucu tidak menjadi tujuan akhir, namun menjadi pintu masuk bagi orang-orang beriman untuk memikirkan kembali relasinya dengan Tuhan. Kolaborasi dengan mereka yang berbeda paham mungkin dapat membantu KGL menemukan humor yang juga menumbuhkan tradisi berpikir kritis sebagaimana selalu menjadi ciri iman Katolik.

(3) Para imam yang aktif di dunia maya sebaiknya juga menyadari fungsi kegembalaan dan martabatnya sehingga tak mudah teragitasi dan menjadi reaktif. Pahami lebih dulu konteks sosial akun media Katolik yang problematik. KGL sebagai wadah orang-orang muda di Twitter telah menjadi jembatan konkret untuk dialog antar-agama dan untuk aksi sosial kemanusiaan. Tak dapat dipungkiri bahwa dalam beberapa posting yang melukai hati sebagian umat, KGL sekilas tampak lupa bahwa dalam Tubuh Kristus yang satu itu, ada rupa-rupa budaya dan pemahaman yang berbeda penghayatan imannya. Namun, itu bukan alasan bagi para imam yang aktif di media sosial untuk bereaksi secara berlebihan. Ingatlah bahwa pada zaman post-truth ini,  polarisasi yang datang dari preferensi emotif akan sangat mudah terjadi. Jangan-jangan postingan pendapat pribadi para Gembala yang tidak proporsional di media sosial dapat makin menajamkan polarisasi di antara umat yang bergulat dengan ketidak-setujuan moral dan dengan demikian malah kontraproduktif dengan cita-cita kesatuan Gereja.

(4) Berhadapan dengan fenomena media sosial, sebaiknya kita sebagai Gereja makin mengusahakan literasi penggunaan internet dalam kerangka spiritualitas dan etikanya. Sudah saatnya, baik di level personal maupun komunal, kita membawa wacana penting ini untuk didalami lebih lanjut. Mengapa? Karena informasi selalu memiliki daya formasinya sendiri di kalangan orang muda.

(5) Mengusahakan keterlibatan sosial yang nyata adalah imperatif bagi penggunaan media sosial yang sehat. Kita mendorong setiap orang muda Katolik untuk tidak hanya menjadi “penikmat” humor berbumbu iman, namun juga sebagai “pencipta” narasi-narasi besar tentang ketidak-adilan, kemiskinan, kesetaraan gender dan tanggung-jawab ekologis. Dalam perspektif sosial yang lebih luas, ketidak-setujuan moral bukan alasan untuk tidak memberi buah nyata di tengah dunia. Mereka yang menikmati kelucuan tidak boleh berhenti hanya pada tawanya. Mereka yang membela transendensi Ilahi tidak boleh lupa untuk “turun dari gunung devosional atau intelektualnya” serta menyapa orang-orang sekitarnya. Komitmen bersama pada perjumpaan offline dan pada aksi kasih yang nyata adalah pintu perjumpaan yang baik bagi mereka yang berbeda paham dan penghayatan tentang apa yang kudus dan apa yang profan!

Ahirnya …

Internet adalah pintu masuk ke dunia komunikasi yang luar biasa dahsyat dan yang menjanjikan kenyamanan lebih dalam berhubungan dan memperoleh akses informasi; sebuah dunia yang disebut oleh Manuel Castellis sebagai the internet Galaxy. Galaksi baru ini membawa revolusi besar atas cara manusia (modern) berinteraksi satu sama lain dan bahkan dengan dirinya sendiri. Di dalam ‘galaksi’ itu kita melihat bagaimana tatanan sosial dalam segala seginya – ekonomi, budaya, religiositas, politik  dan lain-lain – terbentuk dalam interkonektivitas yang mengatasi batas-batas teritorial dan moral. Polemik dan ketidak-setujuan moral tentang humor dan hujat dalam salah satu bagian kecil dari perubahan pola interaksi manusia di zaman modern ini. Semoga, para pengikut Kristus tidak tenggelam dalam galaksi baru ini dan tidak lupa untuk mengubah gelanggang sosial ini menjadi serupa dengan Kristus sendiri. “Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi” (Ef 1:9-10).

Albertus Joni, s.c.j

#RomoKoko: Mengapa Berdevosi Kerahiman Ilahi?

Kerahiman Ilahi mungkin adalah devosi yang paling populer saat ini. Namun pertanyaan utamanya: mengapa kita berdevosi pada Kerahiman Ilahi di zaman modern ini? Sembari mendengar kesaksian iman dari Angelina Streenstra, kita akan belajar lebih dalam antara kaitan Kitab Suci dengan devosi ini dan mengapa orang di zaman modern masih harus berharap pada Kerahiman Ilahi…

Iman dan Kearifan Panggilan

HOMILI PAUS FRANSISKUS

MISA PENUTUPAN SIDANG UMUM BIASA SINODE TENTANG KAUM MUDA, BASILIKA SANTO PETRUS, VATIKAN, 28 Oktober 2018

Bacaan Ekaristi : Yer. 31:7-9; Mzm. 126:1-2ab,2cd-3,4-5,6; Ibr. 5:1-6; Mrk. 10:46-52.

Kisah yang baru saja kita dengar adalah kisah terakhir dari kisah-kisah penginjil Markus yang berkaitan dengan pelayanan keliling Yesus, yang akan memasuki Yerusalem untuk wafat dan bangkit. Bartimeus dengan demikian adalah orang terakhir dari orang-orang yang mengikuti Yesus di sepanjang jalan : dari seorang pengemis di sepanjang jalan menuju Yerikho, ia menjadi seorang murid yang berjalan bersama murid-murid lainnya dalam perjalanan menuju Yerusalem.. Kita juga telah berjalan saling berdampingan; kita telah menjadi sebuah “sinode”. Injil ini memetereikan tiga langkah dasariah dalam perjalanan iman.

Pertama, marilah kita membahas Bartimeus. Namanya berarti “anak Timeus”. Begitulah cara Injil menggambarkannya : “Bartimeus, anak Timeus” (Mrk 10:46). Namun anehnya, ayahnya tidak didapati. Bartimeus sendirian di pinggir jalan, jauh dari rumah dan tanpa ayah. Ia tidak dicintai, tetapi terabaikan. Ia buta dan tidak punya siapa-siapa untuk mendengarkannya. Yesus mendengar permohonannya. Ketika Ia datang kepadanya, Ia membiarkannya berbicara. Tidaklah sulit menebak apa yang diinginkan Bartimeus : jelas, orang buta ingin melihat atau mendapatkan kembali penglihatannya. Tetapi Yesus meluangkan waktu; Ia meluangkan waktu untuk mendengarkan. Inilah langkah pertama dalam membantu perjalanan iman : mendengarkan. Mendengarkan adalah kerasulan telinga : mendengarkan sebelum berbicara.

WORLD YOUTH DAY KRAKOW

Continue reading “Iman dan Kearifan Panggilan”

Mukjizat di Ujung Sedotan Plastik

26 Juni 2016. Minggu pagi itu berlalu begitu cepat.

Misa akhir pekan untuk beberapa stasi di pedalaman Tulangbawang, Lampung, kututup dengan survei Gereja yang akan dibangun oleh Yayasan Vinea Dei. Kebetulan, di minggu ini saya tak sendirian. Albert Gregory Tan, orang muda inspiratif pendiri Yayasan Vinea Dei ini menemani perjalananku melewati hutan-hutan karet Sumatra yang berlumpur. Sahabat dapat membuka web Yayasan sosial Katolik ini di peduligerejakatolik.org.

13626450_1309712262390283_1856975725443586683_n
Albert Gregory Tan – OMK pendiri Yayasan Vinea Dei – bersama rekan-rekan volunteer telah membangun lebih dari 100 gereja di 25 Keuskupan seluruh nusantara!

Kebetulan, saya juga menjadi salah satu pengawas Yayasan luar biasa ini. Yayasan ini semua dimotori oleh orang muda Katolik ragam latar belakang dan bergelut membangun gereja di tempat yang jauh dan terpencil di seluruh pelosok nusantara.

Di tengah hari, saya bersiap mengantar Albert Tan kembali ke bandara yang berjarak 3,5 jam dari paroki. Dalam perjalanan kami, Rm. Sriyanto SCJ – yang akrab kupanggil Romo Sri, hahaha – menelponku:

“Bro, apakah bisa membantu memberi baptisan anak di RSUD Tulangbawang? Jaraknya jauh sekali dari Mesuji…” tanya beliau. Maklumlah, Paroki St. Andreas Mesuji adalah paroki paling utara di Keuskupan Tanjung Karang.

IMG-9261
Perjalananku untuk pelayanan Ekaristi: setia dengan motor Scorpio, sandal jepit dan tas misa berisi hosti dan anggur 🙂

“Oh ya Mas, kebetulan kami akan lewat RSUD dalam perjalanan ke bandara,” ujarku. Puji Tuhan, di dalam mobilku yang masih penuh bekas lumpur, masih tersimpan stola dan minyak suci. Firasatku mengatakan anak yang akan kubaptis ini pasti sudah parah sakitnya.

Benar saja. Saya dan Albert disambut oleh ibu dari anak ini. Sang ibu masih pucat dan matanya terlihat sembab. Saya tak menyangka bahwa “anak” yang dimaksud oleh Romo Sri ternyata adalah bayi yang baru saja dilahirkan dalam kondisi prematur. Hatiku trenyuh. Ya Tuhan, bayi laki-laki ini kecil sekali; mungkin seukuran kepalan tanganku. Ia berada dalam inkubator dengan banyak selang: infus, oksigen, selang sonde ke dalam mulutnya…

Continue reading “Mukjizat di Ujung Sedotan Plastik”

Beato Juan María de la Cruz SCJ

phoca_thumb_l_030 d. mariano prroco

Juan Maria De La Cruz: Salah satu di antara begitu banyak kisah para kudus

Dataran tinggi yang mengelilingi kota Avila (Spanyol) terletak di antara blok-blok granit besar. Tiang-tiang kota tua itu muncul bagai tangan-tangan usang terbuka ke langit, ke  cakrawala yang ditempa oleh musim panas dan musim dingin yang ekstrim. Tanah Avila di negara Spanyol ini terkenal sebagai “tanah orang Kristiani” yang kuat dan taat. Keluarga-keluarga Katolik dengan banyak anak dan dengan latar belakang petani dan peternak telah hidup di sana selama berabad-abad. Dan beberapa di antara mereka menjadi hadiah dan saksi Allah bagi gerejaNya. Para kudus dari kota ini – St. Teresa dari Avila dan orangtuanya, serta beato Juan Maria de la Cruz – menjadi saksi Injil yang hidup!

Beato Juan Maria lahir di S. Esteban de los Patos (Ávila) pada tanggal 25 September 1891. Dia adalah putra pertama dari lima belas saudara dan setelah dibaptis dengan nama Mariano. Ia diberi nama yang sama dengan ayahnya – yang bersama istrinya, Dona Emerita – berusaha untuk memberi pendidikan Katolik yang kuat bagi anak-anak mereka.

Keluarga Mariano dikenal rajin mengurus gereja setempat. Sang ayah, pada sore hari, saat kembali dari tugas-tugas di ladang, memimpin novena dan rosario bagi umat sekitar karena mereka tidak memiliki imam di desa kecil itu. Inilah salah satu alasan kuat mengapa Mariano muda merasa terpanggil menjadi seorang imam.

Continue reading “Beato Juan María de la Cruz SCJ”

Superman di Balik Altar: Mengapa Saya Menjadi Imam-Religius untuk Hati Yesus

Saat saya kecil, salah satu super-hero yang lekat dalam hidup saya adalah Superman. Saya ingat saat Mama membeli baju Superman lengkap dengan mantel merah menyala untukku yang berusia 5 tahun. Saya ingin menjadi Superman yang kuat, yang bisa terbang dan yang selalu menolong orang lain.

Kisah panggilanku: “Romo Koko”

Saat saya berusia 8 tahun, saya perlahan mengerti bahwa Superman adalah tokoh kartun dan bukan sosok nyata. Saya sedikit kecewa dengan kenyataan bahwa Superman adalah tokoh fiksi (hahaha… mungkin teman-teman juga pernah mengalami rasa kecewa yang sama).

Namun, di usia yang sama, saya mulai sadar bahwa ada Superman lain dengan mantel warna-warni yang indah: para Imam di balik altar. Mereka memakai jubah bersayap yang sangat mirip dengan sayap Superman – walau celana dalamnya para Romo tidak kelihatan di luar seperti Superman hahahaha!

 

O gosh, bagi saya yang berusia 9 tahun, the priests do look like a Superman!

And I wannabe one of them!

 

“Tragedi Wafer Sakti”

Saya juga ingat bahwa saya ingin sekali ikut mencicipi ‘wafer’ tipis yang diangkat oleh para imam dan yang selalu dibagikan ke semua umat. Saya belum menerima Komuni Pertama karena masih terlalu muda. Suatu Minggu, saya mencoba merengek meminta Hosti Suci pada Mama saya – dan saya nekat berusaha merebutnya dari tangan Mama. Saya pikir: “Wafer sakti itulah yang dapat membuat saya cepat besar dan segera menjadi seperti sang Romo!”

 

“Plak!!!”

Tangan Mama tak segan mendarat di ubun-ubunku!

Mata mamaku mendelik murka – bayangkanlah sejenak betapa sulitnya seorang Mama Tionghoa berusaha melotot demi menampakkan ekspresi geramnya, hahahaha…

Continue reading “Superman di Balik Altar: Mengapa Saya Menjadi Imam-Religius untuk Hati Yesus”

Tiga Alasan Mengapa Tidak Perlu ‘Terlalu Marah’ Pada Pelaku Perusakan Gedung Gereja

Oleh: Rm. Albertus Joni SCJ ~ Sacred Heart Seminary and School of Theology, USA

facebook_1520506965004

  1. … karena Tuhan Yesus sendiri anti-kekerasan!

Gedung gereja memang menjadi simbol dari kehadiran Tuhan di tengah kita. Bila ia dirusak dan dihancurkan, wajar bila hati kita terusik dan tergelitik oleh amarah. Namun demikian, amarah – dalam kadar rasional – tidak boleh memicu rasa panik dan tindak kekerasan apapun sebagai bentuk balas dendam. Amarah kita tidak boleh membuat kita gagal menjadi pribadi yang welas-asih dan pemaaf. Kita tentu tidak asing dengan sabda Tuhan Yesus ini: “…tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Mat 5:39).

Bila kita merasa marah dan merasa perlu ‘membela Tuhan’ dengan balik menghancurkan, balas menjelekkan dan melukai hati saudara-saudari yang beriman lain, dengan sendirinya, kita tidak lagi menjadi Kristiani!

Continue reading “Tiga Alasan Mengapa Tidak Perlu ‘Terlalu Marah’ Pada Pelaku Perusakan Gedung Gereja”

“Senyum seorang Imam…”

#SoulBites 2.0 | 19112015

Saat saya berjumpa dengan romo Sepiono SCJ, hal yang paling kuat membekas adalah senyum tulusnya. Ia adalah romo dengan senyum yang meyakinkan kita bahwa dunia ini masih layak ditempati…

image

Padahal, sahabatku, paroki tempatnya bertugas terletak lebih jauh dari tempatku berkarya. Medan pelayanannya berat…ah ya, per mobilnya baru saja patah karena jalan yang terlampau buruk untuk dilalui… Di pedalaman Sumatera ini, saya belajar banyak dari sosok imam SCJ yang sederhana ini.

Continue reading ““Senyum seorang Imam…””