Katekese 1 ~ “Percakapan tentang Doa”

Video ini adalah live-streaming pengajaran tentang doa dalam iman Katolik.

Semoga video ini dapat membantu para sahabat untuk mengenal apa dan bagaimana kita dapat belajar “mengangkat hati” kepada Tuhan…

Silahkan bagikan/share video ini pada komunitas atau pada sahabat lain yang dikau kenal…

 

 

Secara rutin video katekese singkat seperti ini akan dilakukan dengan via live-streaming Facebook.

Siapkan jaringan WiFi dan jangan sungkan untuk follow:

www.romokoko.org
IG: @romo_koko
YouTube Channel: Romo Koko

Tuhan memberkati para sahabat semua!

VCJ PCM
+ p. Albertus Joni scj

Advertisements

Gereja dan Dunia Digital: Sebuah Risalah Seminar

Sore ini (27/11) pk. 16.00 – 19.15, FTW mengadakan Seminar dalam rangka memperingati 50 tahun Konsili Vatikan II. Kali ini temanya seputar Gereja dan Teknologi Media Komunikasi dalam terang dokumen Inter Mirifica. Pembicaranya: Dr. GP. Sindhunata, SJ dan Bp. Edi Taslim dan moderatornya Rm. CB. Kusmaryanto, SCJ.
Tema ini sangat menarik dibahas dan saya terpikir untuk menuliskan sedikit risalah perbincangan ini untuk menjadi bahan refleksi bagi kita yang hidup dalam realitas ‘digitalized world’.
 Semoga memperkaya kita semua dan mohon maaf bila ada salah ketik karena ngetiknya masih sebelas jari 🙂

NENEK TUA YANG TERTINGGAL ZAMANNYA

GP. Sindhunata (Budayawan, Jurnalis)

1. Kardinal Martini sebelum meninggalnya: “Gereja kita berjalan terseok-seokkarena keberatan beban, seperti beban birokrasi yang melebihi proporsi dan beban liturgi yang melulu ritualistik.” Inilah ajakan untuk menuju sebuah pembaruan!

Carlo Maria Cardinal Martini

2. Inter Mirifica dipandang dari seluruh konteks Konsili Vatikan II. KV II bukan sebuah ‘dialog komunikasi’ tetapi perbenturan wacana antara yang ‘reformis’ dan ‘tradisionalis’. Bapa-bapa Konsili tidak sepenuhnya menanggapi undangan untuk sebuah pembaharuan. yang terjadi bukan ide baru, tetapi banyak kompromi demi harmoni antara dua tegangan. Contoh: konsep “umat Allah” tidak (berani) terlalu didalami saat pembahasan KV II.

3. Tiga tahun setelah KV II, meletus “Revolusi 1968” yang menggoyang kebudayaan barat sampai ke akar-akarnya. KV II yang kurang visioner justru tidak mengantisipasi gerak perubahan ini. Mahzab frankfurt yang kritis terhadap kapitalisme, feodalisme, tata nilai masyarakat dan terutama tentang ‘kebenaran’.

 4. Inter Mirifica adalah sebuah ‘oasis’ dari pergumulan teologis yang begitu melelahkan. Penerimaan skema tentang ‘pastoral’ ini agak disepelekan karena diletakkan pada bagian akhir, setelah semua tenaga habis. Padahal dokumen ini menstinya menjadi bentuk nyata dari keterlibatan awam (ada reduksi dan redaksi dari 24 halaman menjadi hanya 9 halaman). Reduksi-redaksi besar-besaran ini dikritik oleh para wartawan dan bertahun kemudian tampaklah bahwa benarlah kritik para wartawan ini: dokumen ini secara spiritual dan pastoral seolah tak mampu mengimbangi kemajuan zaman teknologi media. Inter Mirifica lantas terasakan bukan sebagai visi tapi fatwa.

5. Gadget menjadi bagian hidup modernisasi. Dunia saat ini adalah dunia transparansi. Dengan internet, orang punya akses untuk semua informasi dan jalan masuk pada seluruh kesadaran. Institusi dan individu lebur dalam utopia post-privacy, semua wilayah jadi terbuka dan tiada privasi. Akankah hal ini juga akan mengguncang hirarki?

6. Iman Kristen bukan lagi ke-dengan-sendiri-an. Rahmat Allah-lah yang bekerja dalam diri masing-masing orang dan yang menumbuhkan iman. Rahmat itu juga bekerja lewat perkembangan media yang luar biasa. Iman tak dengan sendirinya dimengerti. Iman diusahakan dan dikomunikasikan. Potensi Gereja sering diekskomunikasikan atas nama ‘kebertundukan’ dan bukan ‘keberkembangan’, ‘disiplin’ dan bukan ‘kreativitas’. Pembaruan Gereja tidak mungkin lagi mulai dari liturgi. Pembaruan hanya lewat praksis terus menerus antara Gereja dengan dunia.

7. Saat ini kita perlu berbahasa positif tentang iman. Menurut Christiane Florin, penting untuk keluar dari bahasa negatif dalam merumuskan iman. Gereja kurang memakai bahasa yang personal, yang menyentuh bersubjek dan inklusif.

8. Jangan pernah puas ketika mengkomunikasikan iman. Jadikan iman sebagai diskursus terus menerus yang penuh dialektika etis dan komunikatif (bdk. Habermas). Terutama di zaman yang penuh gurun kekosongan makna dan Gereja harus berani menjadi Musa yang membawa air dan kesegaran bagi umat yang kahausan dan mulai meninggalkan Allah. Keberanian untuk melompati ‘tradisi’ diperlukan karena Gereja adalah kehidupan itu sendiri. Beranilah menghadapi medan-medan kebebasan dan tidak sibuk dengan beban-bebannya sendiri. Gereja menjadi ngreggiyek kabotan sesanggan: ia telah menjadi nenek tua yang lelah dan renta.

9. Sebagai masyarakat komunikasi yang universal dan tak terbatas, gereja hasrus terus menerus mengadakan tindakan-tindakan komunikasi. Dengan tindakan-tindakan komunikasinya, gereja au tak mau harus berhadapan dengan medan-medan kebebasan. gereja harus solider dengan kebebasan itu, dan dengan demikian gereja sendiri menjadi bebas atau terbebaskan daris egala keterbatasan dan kukungannya, yang selalu menghalangi dia untuk menjadi sebuah universale Kommunikationgemeinschaft.

FENOMENA SOCIAL MEDIA

Bp. Edi Taslim (Digital Group Director di Kompas Gramedia)

1. Case study: di KAJ ada ponsel ‘gembala baik’. Panduan ‘berketuhanan’ ada dalam HP ini, mulai dari Kitab Suci, Puji Syukur, alarm doa, alarm peringatan Santo/a, alarm Rosario, aneka doa dan jadwal misa. Edisi perdana Gembala Baik ini 7000 unit laku dan per bulan habis di atas 4000 unit. Penjual HP terkagum-kagum: tak pernah menjual HP selaris ini. Ini trend apa?

 2. Internet user penetration di Indonesia: 61,1 juta (baru 23%). Indonesia menjadi basis pengembangan internet paling seksi di Asia Tenggara. Internet mengganggu seluruh tatatan media yang ada. Internet bersifat distraktif sehingga media cetak stagnan selama 12 tahun terakhir. Teori pasarnya: Indonesia telah ketinggalan 15-20 tahun dalam industri internet, tapi ternyata teori ini salah. Pasar Internet Indonesia terus berkembang sangat cepat sehingga butuh pembaruan yang mengubah kultur kerja di industri media – dan juga di bidang pastoral. Kalau penetrasi internet sampai 50% nantinya, maka pola lama dalam membaca, belajar dan mengetahui akan terganggau.

 3. Data lain: pada 2011 oleh Nielsen Research untuk pertama kalinya di Indonesia, informasi media cetak kalah oleh internet (internet menjadi sumber informasi no. 2 setelah TV). Tidak ada alat yang begitu dominan dalam media, semua menjadi alat komunikasi yang diversed. Konvergensi media terjadi karena orangnya sendiri sudah berubah. Indonesia menjadi negara keempat dunia dan Jakarta menjadi kota tersibuk ketiga di dunia dengan 11,3 juta pengguna aktif per hari.

 4. 65% di Indonesia pendudukanya di bawah 35 tahun. Ini mengakibatkan media menjadi sangat kuat dengan digital minded (bagaimana dengan pastoral kita?). Social media mengambil peran sangat besar: bahkan gerakan politik dan pengawasan juga telah ada di FB.

5. Setiap hari ada 25 Miliyar content di dunia FB dalam satu bulan. Setiap menit ada 24 jam content yang diuunggah ke Youtube. Setiap hari ada 2 milyar video yang dilihat di YouTube. 4 Juta gambar yang di Flickr per hari. Ada 27 Milyar tweets per hari. Jakarta menjadi capital city of twitter. Social media is the ongoing conversation of the planet. It is the connector. Individu saat ini bisa membuat perbedan lewat dunia digital.

6. Bahkan dunia media menjadi mainstream dan bahkan mengubah karakter lai-laki menjdi lebih ekpsresif. Social media now IS the media. “It is at risk of getting corrupted, polluted, overly commercial and too powerfull.”

7. Strategi mengkomunikasikan iman: bisa aktif menggunakan FB untuk tujuan pastoral, membuat engagement baru dengan users (penggalangan dana, share foto, dll.), twitter dan blog kabar Gereja. Di USA ada network of pastor’s blog. Medium internet berbeda karakter dengan cetak (karakter bebas, foto unlimited, dll.). Pewartaan dapat terbantu dengan domino effect dari social media ke mainstream media. Sarana youtube juga sangat penting. Berani membuat channel homili untuk diunggah ke YouTube?

yang tua yang ikut mengembara dalam kekosongan dunia digital …

Beberapa Diskusi

 

Kalau ‘disiplin’ tidak menjadi tekanan dan dialog dalam kebebasan berisiko menjadi sebuah slippery slope, dalam cara praktis apa kita dapat mengingatkan orang muda dan sebagian orang tua tentang pengendalian diri dan penertiban diri? Sejauh apa suara kenabian Gereja dapat didengar bila tidak ada distansiasi dengan pengertian kebebasan sebagaimana mahfum di generasi saat ini?

 Jawab:

 – Dunia digital memang membuat kita dangkal dalam banyak hal: istant, spontan dan tidak efektif (pengaturan emosi). Orang gampang menjadi reaktif: tidak ada resep murahan bagaimana caranya orang kembali membaca buku. Ini tantangan kita. Untuk keluarga: ada jam di mana seluruh gadget mati dan fokus ke keluarga (seorang Rabi di Jerman mengaitkannya dengan hari Sabat). Kekosongan ini sudha menjadi realitas, maka ikutlah di dalamnya agar kita menemkan resep yang pas.

 – Bicara mengenai pengendalian diri tidak harus kembali ke rumus lama tentang ‘disiplin’ – kita tak bisa bicara tentang pengendalian diri dalam teori klasik: harus dicari bersama. Larangan tak kunjung efektif (Rm. Hari Kus mengomentari larangan penggunaan HP di antara para frater: “Kalau frater gak boleh pakai sementara Romo-Romo boleh pakai, mirip dengan peribahasa: ‘Guru kencing berdiri, murid tak boleh kencing!’” hahahaha…). Praksis komunikasi tetap harus dibuat tapi tidak dalam ajaran doktriner lagi.

 – Saat ini kita perlu keberanian yang membuat para pelayan Gereja mau masuk dan ikut merasakan kehampaan luar biasa yang dialami orang muda dengan dunia digitalnya. Larangan tak akan efektif. Keberanian seperti kita temukan dalam inkarnasi sangat penting agar kita mengenal-merasakan apa yang digeluti orang muda dan dunianya sehingga bersama orang muda itulah kita berjalan mengarungi kehampaan itu menuju Allah. Spiritualitas (bela-rasa) inilah yang dibutuhkan saat ini. Banyaknya resiko yang datang dari kemajuan IT jangan membuat kita cepat-cepat mengatakan ‘tidak’. Bagaimana menyikapinya lantas? Tak ada resep murahan! Semua ditemukan dalam komunikasi yang terjadi dalam perjumpaan yang mendalam dengan generasi yang sama sekali berbeda dengan generasi pendahulu! Maka dari itu, penting juga generasi ‘senior’ yang asing dengan perkembangan ini juga mau terbuka mengikuti perkembangan agar tak cepat-cepat mengekskomunikasikan orang, tapi turut bersama orang-orang digital mengarungi ‘kekosongan’ hidupnya dan membantunya menemukan Allah!