Katekese 1 ~ “Percakapan tentang Doa”

Video ini adalah live-streaming pengajaran tentang doa dalam iman Katolik.

Semoga video ini dapat membantu para sahabat untuk mengenal apa dan bagaimana kita dapat belajar “mengangkat hati” kepada Tuhan…

Silahkan bagikan/share video ini pada komunitas atau pada sahabat lain yang dikau kenal…

 

 

Secara rutin video katekese singkat seperti ini akan dilakukan dengan via live-streaming Facebook.

Siapkan jaringan WiFi dan jangan sungkan untuk follow:

www.romokoko.org
IG: @romo_koko
YouTube Channel: Romo Koko

Tuhan memberkati para sahabat semua!

VCJ PCM
+ p. Albertus Joni scj

Advertisements

“Senyum seorang Imam…”

#SoulBites 2.0 | 19112015

Saat saya berjumpa dengan romo Sepiono SCJ, hal yang paling kuat membekas adalah senyum tulusnya. Ia adalah romo dengan senyum yang meyakinkan kita bahwa dunia ini masih layak ditempati…

image

Padahal, sahabatku, paroki tempatnya bertugas terletak lebih jauh dari tempatku berkarya. Medan pelayanannya berat…ah ya, per mobilnya baru saja patah karena jalan yang terlampau buruk untuk dilalui… Di pedalaman Sumatera ini, saya belajar banyak dari sosok imam SCJ yang sederhana ini.

Continue reading ““Senyum seorang Imam…””

“Tangan Pendoa…”

‪#‎SoulBites‬ 2.0 | 15/10/2015
Di pedesaan Jerman pada abad XV. Albert and Albrecht adalah kaka beradik pecinta lukisan. Albert muda berjanji pada adiknya, Albrecht: “Kau akan dapat mengejar impianmu! Kau akan menjadi seorang seniman ulung!” Sang kakak pun bekerja sangat keras di tambang yang kasar agar adiknya dapat masuk akademi seni di kota. Dan sang adik pun belajar dengan sangat tekun agar ia dapat segera lulus lalu ganti bekerja agar sang kakak dapat masuk akademi seni yang sama. Tahun berlalu dan sang adik, Albrecht, lulus dengan sangat baik. Ia dengan cepat menjadi terkenal karena sketsa dan lukisannya yang indah.

Continue reading ““Tangan Pendoa…””

Coming Soon: #SoulBites 1.0

cover

Coming soon: ‪#‎SoulBites‬ 1.0 – a compilation of inspirations for your souls… Kindly mark the launching event for my new book: Wednesday, Sept 30 2015 @Harper Hotel Mangkubumi Yogyakarta – 18.00…

Segera terbit: #SoulBites 1.0 – sebuah kompilasi renungan bagi jiwa Anda… Tandai kalender Anda untuk peluncuran buku baru ini: Rabu, 30 Sept 2015 @Harper Hotel Mangkubumi Yogyakarta – 18.00…

Save the date! Jesus love you!

Tentang Melayani…

Tanjung Sakti: Misi Pertama SCJ Indonesia di Pedalaman Sumatera Selatan
Tanjung Sakti: Misi Pertama SCJ Indonesia di Pedalaman Sumatera Selatan

Masa-masa menjelang Paskah, para imam membutuhkan karunia kesehatan fisik yang lebih dari biasanya. Betapa tidak! Saya kenang seorang imam pembimbingku yang tak lagi muda harus berkeliling mewartakan kabar baik tentang Allah yang Hidup ke banyak pelosok Jambi dengan jalan penuh lumpur dan batu tajam. Misionaris tua ini bahkan sampai harus menyeberangi rawa penuh lintah dengan setengah telanjang dan koper alat misa di atas kepalanya. Dalam usia senja, ia harus pensiun karena cacing kaki gajah menyerangnya dengan nanah dan luka basah yang harus selalu dibersihkan. Sambil bercanda, kami sering menggoda pastor senior ini: “Ah, romo, kakinya bengkak karena menerima stigmata alias luka paku salib Yesus!” Dan ia tak pernah marah, justru tertawa terbahak. Continue reading “Tentang Melayani…”

Segelas Teh Hangat…

Minggu Palma, 29 Maret 2015

Hari ini Gereja Semesta merayakan awal sebuah masa penuh rahmat: Pekan Suci – sebuah pekan di mana kita kenangkan sejarah penebusan kita. Ah, sobatku, walau berabad abad telah lampau, kita tetap saja terkagum dengan cara Allah mengasihi kita yang lemah dan berdosa ini! Dia menebus kita dengan jalan yang begitu mengejutkan dan mengharukan: jalan darah, jalan pengorbanan… jalan salib!

Continue reading “Segelas Teh Hangat…”

Belajarlah Menerima Kasih…

Sebuah sudut kota Manila. Kampung itu adalah gunungan sampah setinggi 8 meter yang jadi lahan terbuka di mana banyak manusia mengais penghidupan. Di sana terdapat sebuah pos nutrisi yang dilayani para relawan Gereja. Seorang sahabatku dari Komunitas Emmanuel diutus ke tempat ini beberapa waktu yang lalu. Ia berjumpa dengan seorang anak laki-laki berusia 6 tahun yang sedang menggali sampah. Anak itu kurus dan tubuhnya legam oleh lumpur sampah. Anak itu tersenyum polos dan berhenti mengais. Ia berlari mendekati sahabatku tanpa rasa takut… kemudian segera memeluknya! Sahabatku terkejut.

Graphic: Atep Supriatna

Ia berpikir: apakah ia akan tertular banyak penyakit, tentang apakah bajunya akan ikut kotor… Namun sahabatku yang dipeluk itu segera sadar. Ini pelukan mereka yang empunya Kerajaan Allah! Ya, sahabatku tanpa ragu balas memeluk anak ini dengan sepenuh hatinya! Anak kecil itu lalu bertanya: “Apakah aku boleh mencium pipimu?” Sahabatku makin terkejut dengan pertanyaannya dan segera memberikan pipinya. Sahabatku kembali ke Indonesia dengan kenangan kuat bahwa di kampung pemulung itu, ia berjumpa, dipeluk, dicium dan diberkati oleh Kanak-kanak Yesus sendiri …

Continue reading “Belajarlah Menerima Kasih…”

Rm. Gregorius Dedi Rusdianto SCJ: “Makin Tua – Makin Holy!”

usia bukan halangan menanggapi panggilanNya!

Dari seluruh iklan televisi yang ada, hati Mbah Dedi – demikian nama akrabnya – ini pasti miris bila melihat iklan Salonpas atau Minyak Urut Cap Lang. Dua benda inilah yang setia mendampingi boyoknya jika memaksakan diri berjoget dan bergoyang seperti teman-teman frater yang usianya layak jadi anaknya.

Ya, di usia yang terbilang istimewa (terlahir 29 Mei 1973), si sulung dari 3 bersaudara buah hati Bapak Andreas Roeslan dan Ibu Rosalia Sradiyah ini dengan mantap memutuskan untuk menjadi seorang biarawan dan calon imam. Dibandingkan dengan teman-teman angkatannya yang lebih muda sebelas atau dua belas tahun, Rm. Dedi tidak pernah mau kalah semangat. Dengan tekun ia selalu belajar, diskusi, membuat ringkasan dan giat membaca. Sampai-sampai para frater yang lebih muda merasa malu karena justru Mbah kesayangan mereka itu meberi teladan yang sangat baik di usia ‘senja’nya.

Romo Dedi yang berasal dari Kotagede, Yogyakarta ini mengaku bahwa panggilan hidup membiara tidak muncul dari kecil atau remaja. “Ketika aku remaja pun aku pingin punya pacar dan kelak menikah dengan seorang wanita yang kucintai.” Itulah sebabnya Mbah Dedi pun kuliah Sarjana Ekonomi, bekerja sebagai ekonom dan akuntan, lalu sudah mempersiapkan diri ke pelaminan.

Tetapi ternyata semua berubah 180 derajat karena percakapan Yesus dengan Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Jawab Petrus untuk ketiga kalinya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu. Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau!” Lalu Yesus bersabda: “Gembalakanlah domba-dombaKu.”

Mbah Dedi merasa tersentak ketika merenungkan sabda ini dan akhirnya iapun mulai berpikiran untuk menjadi seorang biarawan. Semangat ini makin berkobar saat ia menjalani masa perkenalan hidup membiara bersama para Yesuit yang ia kenal. Pengenalan hidup doa dan olah batin Yesuit makin membuatnya mantap, apalagi memang Frater Dedi ini alumni Resimen Mahasiswa yang dididik disiplin dan tegas seperti St. Ignatius yang naluri militeristiknya begitu kuat. Namun sekali lagi Tuhan membuat kejutan dalam hidupnya. Di tengah pengembaraannya, ia jatuh hati dengan bumi Sumatera tempat para SCJ berkarya. Iapun terkagum-kagum dengan semangat cinta, pemulihan dan persaudaraan yang dimiliki para SCJ. Tiga hal inilah yang selalu ditimba Rm. Dedi pada spiritualitas SCJ dan membuatnya senantiasa gembira dalam menjalani panggilan (konon suara tawanya bisa terdengar dari radius 50 meter).

dekat dengan orang muda dan menjadi teladan bagi mereka…

Jangan heran kalau di tengah malam kita melihat Romo ini sedang duduk bersimpuh di depan tabernakel seorang diri atau sendirian meditasi di pojok-pojok rumah yang dikenal wingit. Rm. Dedi sungguh sebuah teladan pendoa yang setia, seperti Simeon, nabi tua yang setia menantikan Mesias di Bait Allah.

Sosok Mbah Dedi ini sulit dicari tandingannya: tua-tua keladi, makin tua makin holy (suci). Putusannya untuk mengikrarkan kaul kekalnya di Agustus 2011 juga membawanya kembali ke jawaban Petrus: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu. Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau di atas segalanya.”

Skolastikat SCJ: Rumah Formasi SCJ Yogyakarta

Para Frater-Bruder Skolastik (students) SCJ di Yogyakarta

Skolastikat SCJ adalah tempat pembinaan utama para SCJ muda setelah masa Tahun Rohani di Novisiat. Para Frater dan Bruder selama paling sedikit 6 tahun membentuk- mengolah diri serta panggilan bersama Allah dan para pembimbing. Inilah tempat di mana para imam SCJ ‘dilahirkan’ dan karya pelayanan-persembahan diri seluas dunia disemaikan.

Terletak di pinggiran kota Yogyakarta, komunitas studi ini terbagi menjadi dua rumah pembinaan. Rumah pertama kami di Jalan Kaliurang KM 7,5 ditempati oleh para Frater-Bruder  tingkat I hingga tingkat IV. Rumah kedua kami di Jalan Wulung 9A – Papringan dihuni oleh para Frater-Bruder tingkat V dan VI yang berfokus lebih pada studi pasca-sarjana dan persiapan menuju imamat mereka.

Saat ini, kita memiliki 32 orang Frater-Bruder Skolastik tingkat I hingga tingkat IV, 3 orang Frater yang sedang menjalani masa Tahun Orientasi Pastroral di paroki, 8 orang Frater-Bruder di tingkat V, 1 orang Frater di tingkat VI dan 2 orang Frater tingkat akhir yang hampir menyelesaikan Program Imamat mereka. Empat puluh enam pemuda dengan cita-cita mulia ini didampingi oleh Rm. FX Tri Priyo Widarto, SCJ (Rektor Rumah), Rm. Gerard Zwaard, SCJ (Ekonom), Rm. FA Purwanto, SCJ (Pembimbing dan Dosen), Rm. Markus Tukiman, SCJ (Delegatus Rektor untuk Rumah SCJ II) dan Rm. CB. Kusmaryanto , SCJ (Pembimbing dan Dosen).  Kelima staff formator ini dengan sepenuh hati mengabdikan diri mereka untuk pendampingan yang integral bagi para Frater-Bruder ini.

 

Enam pilar pendidikan integral yang selalu menjadi panduan bagi para formator dan formandi ini adalah: hidup rohani, kepribadian, hidup komunitas, kesehatan, spiritualitas dehoniana, dan karya pastoral. Berbekal enam dimensi ini, setiap anggota SCJ muda diharapkan terbantu menghayati hidup kemurnian, kemiskinan dan ketaatan yang ia pilih dan ikrarkan dihadapan Allah.

 

Pendampingan cura personalis (memperhatikan perkembangan setiap pribadi) menjadi tekanan utama dalam masa pembinaan di Skolatikat SCJ ini karena kami menyadari benar bahwa masa formasi ini bukanlah sekadar ‘masa kuliah’ saja. Kami menyadari benar-benar bahwa Gereja dan umat saat ini membutuhkan seorang imam-biarawan yang mau setia dan dengan rendah hati berpegang pada Allah saja.

 

Oleh karena itu, dalam banyak kesempatan kami selalu membuat penegasan roh bersama dalam pertemuan komunitas, dalam bimbingan rohani dan dalam perjumpaan dan keterlibatan karya pastoral mengajar di sekolah, kunjungan doa bagi yang sakit, pendampingan retret dan rekoleksi, pastoral penjara dan orang muda. Panggilan menjadi biarawan dan imam adalah panggilan istimewa yang menuntut kepenuhan pribadi yang baik dan kepasarahan luar biasa pada kehendak Allah. Kita tentu tidak mengharapkan imam-imam yang semata-mata pandai dalam olah nalar dan pikiran, tetapi juga yang sekaligus tajam dalam budi, halus dalam hati-rasa dan berpakaian kekudusan.

Mengenal SCJ – Dehonian?

Mengenal SCJ Lebih Dalam…

Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus (Congregatio Sacerdotum a Sacro Corde Jesu) – SCJ – adalah sebuah komunitas religius internasional berstatus kepausan yang didirikan oleh Venerabillis Jéan Léon Dehon di Paris pada 1878. Spiritualitas kami didasarkan pada kasih Kristus mengalir dari HatiNya yang Tertikam dan yang mendorong kita untuk memberi-Nya cinta dan pemulihan melalui doa, adorasi dan persembahan diri kami dalam berbagai pelayanan; terutama kepada orang-orang miskin dan kaum marjinal. Para SCJ sekarang hadir di empat benua – di lebih dari 40 negara di seluruh dunia.

 Kehadiran para SCJ di Indonesia sendiri bermula sejak tahun 1923 dengan kehadiran para missionaris Belanda di tanah Sumatera Selatan. Tanah missi ini sebelumnya telah ditinggalkan para imam Yesuit dan Fransiskan karena beratnya medan dan pertumbuhan yang kurang menjanjikan. Didorong oleh semangat cinta pada Hati Kudus Yesus, para missionaris SCJ tetap menerima tugas penuh tantangan ini dengan hati besar. Sedari awal karyanya di Indonesia hingga penghujung millenium kedua, mandat yang diberikan oleh Tahta Suci pada para SCJ adalah untuk menanam-tumbuhkan benih Gereja di Sumatra Selatan. Kami memulai karya besar Allah di bumi Raflesia ini dan lalu membuka hampir seluruh paroki yang ada di Keuskupan Agung Palembang dan di Keuskupan Tanjung Karang. Keringat dan usaha keras terus dilakukan. Darah para martir SCJ yang tertumpah saat penjajahan Jepang pun turut menyuburkan Gereja. Ratusan ribu jiwa ditobatkan. Perlahan, saat Gereja di Sumatera Selatan telah mandiri, para SCJ terus menerus mengembangkan umat dengan semangat cinta dan pengorbanan. Karya misi lokal di daerah transimgrasi baru Pangkalan Kerinci (Kesukupan Padang) dan di paroki-paroki terpencil Papua yang tak memiliki imam-pun diambil dengan berani walau tak mempunyai jaminan finansial yang mencukupi. Karya kesehatan dan pendidikan digalakkan oleh SCJ sampai ke pelosok yang penuh lumpur dan rawa-rawa.

Tanjung Sakti: Misi Pertama SCJ Indonesia di Pedalaman Sumatera Selatan

 Ketika Kongregasi ini mencoba untuk memperluas kehadiran Hati Kudus Yesus ke wilayah lain di Asia, para SCJ Indonesia juga dipercaya memulai misi di pedalaman Filipina – tempat para teroris muslim MILF sempat selama beberapa bulan menculik dan hampir membunuh salah satu imam kami. Beberapa tahun kemudian, SCJ Indonesia juga merintis kemungkinan baru untuk masuk ke India – sebuah negara yang juga diwarnai konflik agama yang berkepanjangan. Roh Kudus kemudian menegaskan kehadiran kami di kedua negara ini dan akhirnya para SCJ lokal mulai ditahbiskan satu per satu hingga hari ini. Kisah yang sama juga terjadi ketika SCJ Indonesia memulai karyanya di Vietnam – sebuah negara Komunis yang sangat menekan Gereja dan para imam. Kehadiran kami yang diam-diam dan rahasia di Vietnam sekarang ada dalam proses maju yang cukup berarti. Akhir-akhir ini, kami memimpikan juga hadirnya Kerajaan Hati Yesus di Cina – sebuah negara besar di mana iman Kristen kita memiliki sejarah panjang penganiayaan dan kemartiran.

Impian kami: membakar dunia dengan kasih Allah!

Impian kami bagi dunia sederhana saja: agar dunia saat ini – yang ditandai makin maraknya kekerasan, kemiskinan dan perpecahan – dapat sungguh percaya bahwa Allah tetap mencintai dan menyelamatkan mereka. Namun impian sederhana ini ternyata membutuhkan banyak sekali sumberdaya. Tak banyak yang tahu bahwa semua impian kami ini pertama kali harus dicapai dengan tersedianya pendidikan yang baik bagi para SCJ muda – para frater dan bruder yang dipersiapkan untuk terjun dan membawa Allah di tengah dunia. Dan untuk itulah, kisah ini dituliskan bagi Anda, agar kisah keselamatan ini tidak lagi menjadi hanya kisah ‘kami’ namun juga menjadi kisah ‘kita’…