Kakiku Milik Bunda Maria

 

fatima-en-fondo-negro
“Totus tuus” – “Semua milikmu, ya Maria!” adalah motto Bapa Suci St. Yohanes Paulus II

 

Saat masih kecil, kaki kanan saya tiba-tiba menjadi menekuk kaku sepulang dari bermain sepeda di rumah teman. Saya ingat betul Mama, Papa dan seisi rumahku menjadi heboh karena saya – yang masih berusia sembilan tahun saat itu – berteriak kesakitan saat berusaha bangun dari tempat tidur dan meluruskan kakiku.

Tukang urut segera dicari. Saya menangis makin keras saat Mbah Putri tukang urut itu mulai berusaha meluruskan lutut kananku. Rasa sakit luar biasa menjalar sampai di ubun-ubunku. Karena tubuhku terlihat ringkih dan tangisanku makin menjadi, sang nenek tukang urut jadi ciut nyalinya. Ia pun mengatakan tidak sanggup dan tidak sampai hati.

 

Tak dapat diterangkan

Mama mengantarku ke Rumah Sakit dengan segera. Rontgen dilakukan. Janji dengan dokter spesialis tulang dan syaraf juga dibuat. Hasilnya? Mereka tidak menemukan apapun yang salah dengan kaki saya. Second opinion juga menunjukkan hasil yang serupa. Dan dari sana perjalanan panjang berbulan-bulan untuk mencari kesembuhan-pun di mulai.

Saya yang masih duduk di kelas 4 SD harus dipapah dan digendong untuk masuk kelas. Saya harus belajar menggunakan kruk untuk berjalan. Sepulang sekolah, saya masih harus pergi ke aneka dokter, tukang urut, shinse (ahli pengobatan Tiongkok) hingga ke macam-macam dukun (ya… dukun! Ha ha ha …).

Continue reading “Kakiku Milik Bunda Maria”

Advertisements

Superman di Balik Altar: Mengapa Saya Menjadi Imam-Religius untuk Hati Yesus

Saat saya kecil, salah satu super-hero yang lekat dalam hidup saya adalah Superman. Saya ingat saat Mama membeli baju Superman lengkap dengan mantel merah menyala untukku yang berusia 5 tahun. Saya ingin menjadi Superman yang kuat, yang bisa terbang dan yang selalu menolong orang lain.

Kisah panggilanku: “Romo Koko”

Saat saya berusia 8 tahun, saya perlahan mengerti bahwa Superman adalah tokoh kartun dan bukan sosok nyata. Saya sedikit kecewa dengan kenyataan bahwa Superman adalah tokoh fiksi (hahaha… mungkin teman-teman juga pernah mengalami rasa kecewa yang sama).

Namun, di usia yang sama, saya mulai sadar bahwa ada Superman lain dengan mantel warna-warni yang indah: para Imam di balik altar. Mereka memakai jubah bersayap yang sangat mirip dengan sayap Superman – walau celana dalamnya para Romo tidak kelihatan di luar seperti Superman hahahaha!

 

O gosh, bagi saya yang berusia 9 tahun, the priests do look like a Superman!

And I wannabe one of them!

 

“Tragedi Wafer Sakti”

Saya juga ingat bahwa saya ingin sekali ikut mencicipi ‘wafer’ tipis yang diangkat oleh para imam dan yang selalu dibagikan ke semua umat. Saya belum menerima Komuni Pertama karena masih terlalu muda. Suatu Minggu, saya mencoba merengek meminta Hosti Suci pada Mama saya – dan saya nekat berusaha merebutnya dari tangan Mama. Saya pikir: “Wafer sakti itulah yang dapat membuat saya cepat besar dan segera menjadi seperti sang Romo!”

 

“Plak!!!”

Tangan Mama tak segan mendarat di ubun-ubunku!

Mata mamaku mendelik murka – bayangkanlah sejenak betapa sulitnya seorang Mama Tionghoa berusaha melotot demi menampakkan ekspresi geramnya, hahahaha…

Continue reading “Superman di Balik Altar: Mengapa Saya Menjadi Imam-Religius untuk Hati Yesus”

Tentang Melayani…

Tanjung Sakti: Misi Pertama SCJ Indonesia di Pedalaman Sumatera Selatan
Tanjung Sakti: Misi Pertama SCJ Indonesia di Pedalaman Sumatera Selatan

Masa-masa menjelang Paskah, para imam membutuhkan karunia kesehatan fisik yang lebih dari biasanya. Betapa tidak! Saya kenang seorang imam pembimbingku yang tak lagi muda harus berkeliling mewartakan kabar baik tentang Allah yang Hidup ke banyak pelosok Jambi dengan jalan penuh lumpur dan batu tajam. Misionaris tua ini bahkan sampai harus menyeberangi rawa penuh lintah dengan setengah telanjang dan koper alat misa di atas kepalanya. Dalam usia senja, ia harus pensiun karena cacing kaki gajah menyerangnya dengan nanah dan luka basah yang harus selalu dibersihkan. Sambil bercanda, kami sering menggoda pastor senior ini: “Ah, romo, kakinya bengkak karena menerima stigmata alias luka paku salib Yesus!” Dan ia tak pernah marah, justru tertawa terbahak. Continue reading “Tentang Melayani…”

Segelas Teh Hangat…

Minggu Palma, 29 Maret 2015

Hari ini Gereja Semesta merayakan awal sebuah masa penuh rahmat: Pekan Suci – sebuah pekan di mana kita kenangkan sejarah penebusan kita. Ah, sobatku, walau berabad abad telah lampau, kita tetap saja terkagum dengan cara Allah mengasihi kita yang lemah dan berdosa ini! Dia menebus kita dengan jalan yang begitu mengejutkan dan mengharukan: jalan darah, jalan pengorbanan… jalan salib!

Continue reading “Segelas Teh Hangat…”

Belajarlah Menerima Kasih…

Sebuah sudut kota Manila. Kampung itu adalah gunungan sampah setinggi 8 meter yang jadi lahan terbuka di mana banyak manusia mengais penghidupan. Di sana terdapat sebuah pos nutrisi yang dilayani para relawan Gereja. Seorang sahabatku dari Komunitas Emmanuel diutus ke tempat ini beberapa waktu yang lalu. Ia berjumpa dengan seorang anak laki-laki berusia 6 tahun yang sedang menggali sampah. Anak itu kurus dan tubuhnya legam oleh lumpur sampah. Anak itu tersenyum polos dan berhenti mengais. Ia berlari mendekati sahabatku tanpa rasa takut… kemudian segera memeluknya! Sahabatku terkejut.

Graphic: Atep Supriatna

Ia berpikir: apakah ia akan tertular banyak penyakit, tentang apakah bajunya akan ikut kotor… Namun sahabatku yang dipeluk itu segera sadar. Ini pelukan mereka yang empunya Kerajaan Allah! Ya, sahabatku tanpa ragu balas memeluk anak ini dengan sepenuh hatinya! Anak kecil itu lalu bertanya: “Apakah aku boleh mencium pipimu?” Sahabatku makin terkejut dengan pertanyaannya dan segera memberikan pipinya. Sahabatku kembali ke Indonesia dengan kenangan kuat bahwa di kampung pemulung itu, ia berjumpa, dipeluk, dicium dan diberkati oleh Kanak-kanak Yesus sendiri …

Continue reading “Belajarlah Menerima Kasih…”

Hati Kudus Yesus: Hati Yang Membawa Perubahan

Image
“Inilah Hati yang sedemikian mencintai umat manusia hingga rela terbakar sehabis-habisnya…” (penampakan pada St. Margareta Maria Alacoque)

Hati dan Manusia

Kiranya bukan sesuatu yang baru bagi kita untuk menyebut dan memahami kata “hati” bukan hanya sebagai suatu ungkapan harafiah yang menunjuk bagian anggota tubuh tertentu. Ungkapan atau istilah kata “hati” sudah menjadi ungkapan dan pemahaman yang akrab bagi kita untuk menggambarkan pusat dan sumber hidup pribadi manusia, suatu titik konsentrasi pribadi, pusat hidup batin[1].

Hati mau menggambarkan kepenuhan diri manusia. Dalam diri manusia ada yang menjadi sumber atau inti terdalam yang menggerakkan seluruh hidupnya. Itulah hati. Maka tepatlah gambaran Origenes seorang tokoh yang mempunyai pengaruh yang besar atas pemikiran-pemikirannya[2]. Dia menekankan bahwa hati itu bukan hanya perasaan saja, melainkan juga pengetahuan dan pengertian. Istilah yang sering dipakainya “hegemonikon” yang berarti bagian luhur dari jiwa, yang seharusnya memimpin seluruh jiwa dan tingkah laku manusia dimana kita sadar akan cita-cita yang luhur.

Berdasarkan penjelasan Origenes maka yang menentukan diri kita yang mendalam ialah hati kita. Hati inilah yang merupakan sumber yang menyebabkan tingkah laku kita. Hatilah yang menjadi sumber yang merangkum pikiran dan perasaan kita, pengetahuan dan pengertian kita dan yang kemudian menyebabkan tingkah laku kita. Singkatnya mau mengatakan bahwa hati merupakan pusat batin diri manusia, titik yang paling inti dan penting.

Hati yang menjauh

 Sudah sejak dari Perjanjian Lama kita mendapat gambaran bahwa yang paling menyakiti hati Allah ialah hati yang melepaskan diri dari Dia. Apabila hati kita menjauh dari Allah maka perbuatan lahiriah tidak berguna lagi, sebagaimana dikatakan oleh nabi Yesaya: “bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh daripada-Ku” (Yes 29:13).

Meskipun bangsa Israel taat dan setia dalam menjalankan ibadah, itu tidak dapat menutupi situasi hati mereka yang menjauh dari Allah. Semua yang mereka lakukan dalam ibadah hanya sebatas ungkapan lahiriah saja. Mereka hanya melaksanakan tuntutan ibadah tanpa kedalaman hati. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari mereka seringkali melakukan tindakan-tindakan yang menjauhkan mereka dari Allah : “Celakalah orang yang menyembunyikan dalam-dalam rancangannya terhadap TUHAN, yang pekerjaan-pekerjaannya terjadi dalam gelap sambil berkata: “Siapakah yang melihat kita dan siapakah yang mengenal kita?” (Yes 29:15).

Hati yang menjauh berada dalam kuasa kegelapan karena telah berpaling dari Allah. Dalam kuasa kegelapan tidak ada yang lain kecuali melakukan perbuatan-perbuatan yang melawan cinta kasih. Santo Paulus menggambarkannya sebagai perbuatan daging: “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,

kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya” (Gal 5:19-21).

Situasi yang demikian sungguh membelenggu manusia. Akan tetapi selalu ada kerinduan mendalam dari manusia untuk kembali mendekatkan hatinya kepada Allah. Di lain pihak Allah pun menginginkan agar hati manusia selalu terarah kepada-Nya. Tetapi dari pihak manusia sendiri yang karena kerapuhan dan kelemahannya, sulit rasanya dengan kemampuan sendiri mengarahkan hati kepada Allah. Oleh karena itu, Allah kemudian mengambil keputusan untuk melaksanakan rahasia penjelmaan, memakai bentuk insani sehingga cinta-Nya dapat terlihat[3]. Dan semuanya itu bermula dari hati.

Hati Kudus Yesus Hati Yang Membawa Perubahan

Misi Yesus di dunia sebagaimana terdapat dalam Markus 1:15 adalah mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan. Keadaan manusia yang terbelenggu karena dosa kini hendak diselamatkan oleh Allah melalui pewartaan Kerajaan Allah dan itu harus dimulai dengan pertobatan. Hati manusia yang selama ini telah menjauh dari Allah hendak ditarik kembali kepada Allah melalui Putera-Nya sendiri, Yesus Kristus.

Lukas menggambarkan misi Yesus ini sebagai upaya membawa “api perubahan”: “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! (Luk 12:49). Misi yang dibawa oleh Yesus ini merupakan suatu upaya untuk melakukan perubahan mendalam bagi manusia. Api itu merupakan suatu semangat yang dapat membakar dan membersihkan hati manusia sehingga mengalami perubahan. Dan Yesus sendirilah yang akan menggerakan sekaligus menjadi pelaku utama yang melakukan perubahan itu.

Misi Yesus yang membawa perubahan itu mencapai puncaknya di kayu salib. Di kayu salib karya keselamatan Allah kepada manusia diwujudkan. Karya keselamatan yang dilakukan oleh Yesus ini mengalir dari hati-Nya yang menginginkan perubahan dalam hati manusia. Ketika Yesus memulai karya-Nya dan yang kemudian memuncak pada peristiwa Salib, Yesus telah membakar hati manusia yang merupakan pusat hidup manusia agar kembali kepada Allah. Peristiwa salib pertama-tama merupakan peristiwa penebusan dosa sekaligus sebagai langkah awal untuk menyalakan api perubahan dalam diri manusia.

Sabda Yesus dalam Lukas di atas mengingatkan kita akan janji profetis Nabi Yehezkiel “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat” (Yeh 36:26). Melalui janji profetis ini ada satu hal yang dikehendaki oleh Allah yakni perubahan dalam hati manusia. Rahmat Allah ini membebaskan manusia dari kekerasan hati-Nya yang menjauh dari Allah. Hati Yesus yang membakar hati manusia membawa perubahan bagi manusia yang membebaskan hatinya dan mengarahkannya kepada Allah.

Bersatu Hati Dengan-Nya

Bagi Pater Dehon, Lambung Penebus yang tertikam dan Hati-Nya yang terbuka merupakan suatu ungkapan yang paling mampu untuk mengungkapkan dan membangkitkan cinta Kasih (bdk. Konst.SCJ no.2). Santa Margaretha Maria dalam salah satu tulisannya mengungkapkan : “Saya rasa tidak ada daya upaya yang lebih pasti menuju ke keselamatan kekal daripada mempersembahkan diri kepada Hati Kudus untuk memberikan segala pujian, cinta kasih, hormat dan kemuliaan yang kita janjikan kepada-Nya”[4].

Sebagai pengikut Kristus kita hendaknya menyatukan hati kita dengan Hati Kudus Yesus yang telah membawa api perubahan bagi kita. Dengan bersatu hati dengan-Nya, kita masuk dalam Inti Hati atau Diri, Pribadi, Yesus yang menerima dan mengembalikan cintakasih Allah Bapa tanpa ada batasnya. Dengan bersatu Hati dengan-Nya kita juga turut bersatu dengan Bapa. Sebab Kristus tak lain daripada hubungan dengan Bapa[5]. Oleh karena itu, dalam penghayatan doa kita, sebaiknya sekaligus menyembah Kristus dengan Bapa-Nya. Sebab misteri Allah Bapa dan Putera ialah justru kesatuan mereka.

Isi utama devosi kepada Hati Kudus ialah menyadari Kristus sebagai tempat hadirat cintakasih Allah yang sepenuhnya diterima dan dikembalikan oleh Yesus. Maka tindakan kita untuk bersatu hati dengan Yesus merupakan tindakan yang menerima dan mengembalikan cintaksih Allah Bapa dan Yesus itu. Di dalam dan melalui Kristus berkat peristiwa Salib, hati kita manusia yang lemah dan berdosa telah diubah dan tercurah oleh cintakasih-Nya sendiri yang juga disebut hidup atau Roh Allah. Maka dengan bersatu hati dengan-Nya kita membiarkan Roh Allah yang menjiwai hati kita untuk menerima dan mengembalikan cintakasih Allah sendiri.

Pada akhirnya Hati Kudus Yesus menjadi Sumber yang membawa perubahan dalam hati manusia. Daripada-Nya lahirlah manusia dengan hati yang baru, hati yang senantiasa mengarahkan seluruh dirinya kepada Bapa.

Daftar Pustaka

Bert van der Heijden,

1975, Cintabakti Kepada Hati Kudus Yesus, Puskat, Yogyakarta.

Forrest, M.D.,

1981, Hati yang Membara, Surya Cipta M.E., Jakarta.

.


[1] Bdk. Dr. Bert van der Heijden, Cintabakti Kepada Hati Kudus Yesus, Bagian Publikasi, PUSKAT, Yogyakarta, 1975,8.

[2] Disarikan dari Dr. Bert van der Heijden, Cintabakti Kepada Hati Kudus Yesus, Bagian Publikasi, PUSKAT, Yogyakarta, 1975,26.

[3] M.D.Forrest, Hati yang Membara, Surya Cipta M.E., Jakarta, 1981,16.

 [4] M.D.Forrest, Hati yang Membara, Surya Cipta M.E., Jakarta, 1981,37.

[5] Disarikan dari Dr. Bert van der Heijden, Cintabakti Kepada Hati Kudus Yesus, Bagian Publikasi, PUSKAT, Yogyakarta, 1975, 66.