“Komitmen… “

#SoulBites 2.0 | 06112015

Wanita paruh baya itu acapkali mengusik batinku. Gurat wajahnya adalah kisah perjuangan yang berat membesarkan dan mendidik anak laki lakinya. Wanita ini sederhana jalan pikiran dan impiannya. Ia tak lulus SD namun selalu cerewet soal pendidikan anaknya. Ia mengusahakan putranya meraih apa yang ia impikan…

Continue reading ““Komitmen… “”

Advertisements

“Dari Abu Menuju Keabadian…”

‪#‎SoulBites‬ 2.0 | 17102015

Saya selalu ingat dengan salah satu penggalan kisah dalam Harry Potter: bagaimana burung phoenix tampak mati menjadi abu, namun kemudian dari abu itu ia dilahirkan kembali dengan lebih berkilau…

Continue reading ““Dari Abu Menuju Keabadian…””

Tentang Melayani…

Tanjung Sakti: Misi Pertama SCJ Indonesia di Pedalaman Sumatera Selatan
Tanjung Sakti: Misi Pertama SCJ Indonesia di Pedalaman Sumatera Selatan

Masa-masa menjelang Paskah, para imam membutuhkan karunia kesehatan fisik yang lebih dari biasanya. Betapa tidak! Saya kenang seorang imam pembimbingku yang tak lagi muda harus berkeliling mewartakan kabar baik tentang Allah yang Hidup ke banyak pelosok Jambi dengan jalan penuh lumpur dan batu tajam. Misionaris tua ini bahkan sampai harus menyeberangi rawa penuh lintah dengan setengah telanjang dan koper alat misa di atas kepalanya. Dalam usia senja, ia harus pensiun karena cacing kaki gajah menyerangnya dengan nanah dan luka basah yang harus selalu dibersihkan. Sambil bercanda, kami sering menggoda pastor senior ini: “Ah, romo, kakinya bengkak karena menerima stigmata alias luka paku salib Yesus!” Dan ia tak pernah marah, justru tertawa terbahak. Continue reading “Tentang Melayani…”

Rm. Antonius Effendi SCJ: Kisah sang Pemulung Berjubah!

senyumanmu menjadi jembatan surga dan dunia! 🙂

Ada lagu anak-anak yang sudah lama tidak kita dengar “Topi saya bundar.” Tapi diganti kata-katanya menjadi “Romo Pendi bundar, bundar Romo Pendi. Kalau tidak bundar, bukan Romo Pendi.” Kalau Anda melihat sosok Rm. Antonius Effendi SCJ ini, Anda akan segera yakin bahwa lagu ini bukan hasil rekaan saja. Dulu teman-teman SD-nya di Sungai Bahar, Jambi, memanggilnya “Gendut.” Sedari dulu ia bertubuh padat karena daerah asalnya berlimpah minyak kelapa sawit kualitas ekspor dan ditambah lagi hobinya memasak. Di tangah frater kelahiran 25 April 1984 ini semua masakan jadi sip. Terong dari Wonosari serasa bistik sapi Belanda dan kangkung dari Pakem secara capcay made in Taiwan.

Panggilan hidup membiaranya pertama kali diwahyukan pada kakak sulungnya. Ketika Pendi kecil sedang bermain bola (dulu jago lho, posisinya pengganti pemain cadangan, berarti lapis ketiga hehehe), si sulung bercerita pada teman-temannya bahwa Dik Pendi kelak akan menyusul kakak nomor duanya ke seminari. Sejak saat itu tumbuhlah panggilannya untuk menjadi imam. Jadi panggilan Frater Pendi tidak dimulai di sebuah gereja atau di sakristi atau di ruang doa, tapi di lapangan bola! Allah sungguh berkarya luar biasa di lapangan bola itu.

Tahun 2000 ia mendaftarkan diri di Seminari Menengah St. Paulus Palembang dan diterima dengan sukses. Ternyata memang perjalanan panggilan Romo yang mengidolakan Ibu Teresa ini sungguh seperti bola kaki. Disepak kian kemari oleh banyak cobaan. Mulai dari soal nilai studi yang terlalu mepet dengan ambang batas kehidupan hingga banyak persoalan pribadi yang lain. Tapi Tuhan tak berhenti bekerja. Tiga hal yang kemudian menguatkan Rm. Pendi ini: “Aku bisa, aku bersyukur, dan aku bahagia!” Pengalaman doa yang mendalamlah yang menguatkan Rm. Pendi ini untuk terus memotivasi dirinya, terutama di masa-masa sulit.

Alhasil, perlahan –lahan perkembangan diri dan nilai studi Romo kita ini makin seimbang dengan bobot badannya. Makin menanjak. Ia menyadari bahwa rahmatlah yang menguatkan dia selama ini. Mungkin inilah yang membuat Romo yang bercita-cita suatu hari bisa duet nyanyi bareng Agnes Monica ini tetap rendah hati dan punya perhatian pada aksi sosial. Di komunitas, ia dikenal sebagai “pemulung berjubah” karena setia mengumpulkan dan menyortir plastik dan kertas bekas. Ia juga gemar bercocok tanam dan beternak agar komunitas biara lebih dapat berhemat dan uangnya dapat digunakan untuk orang-orang yang kurang mampu. Betapa mulia hati biarawan muda ini. Dengan berbagai kualitas yang prima inilah Frater Pendi menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Sanfrades, Palembang. Beliau ditahbiskan sebagai Imam Hati Kudus Yesus pada Agustus 2013 yang lalu… Dengan motto “Lakukanlah hal kecil dengan cinta yang besar” ia siap gulung tikar dan hijrah dari kebun sawit ke kebun anggurNya, di mana tuaian memang banyak namun pekerja sedikit.

 

 

 

Rm. Markus Apriyono SCJ: Pawang Hujan Amatir

penunggu Tugu Yogyakarta 🙂

Tak banyak yang tahu bahwa Rm. Markus Apriyono SCJ ini dinobatkan menjadi pawang hujan resmi Skolastikat SCJ Yogyakarta. Berawal dari pembawaan Rm. Apri yang tenang, pendoa, meditatif-kontemplatif inilah ia dipercaya untuk berdoa mohon hujan tidak turun setiap kali ada hajatan outdoor komunitas. Sampai saat ini, belum ada doanya yang tak terkabul. Walau mendung pekat menghadang, seorang Romo kelahiran Tanjung Kemuning, 29 April 1985 ini tinggal menghembuskan nafasnya saja dan awan hujan akan pergi jauh-jauh (wah seperti film Kungfu Hustle-nya Tonny Leung hehehe … agak lebay ya … hehehe).

 Dengan doa dan puasa, frater dari 8 bersaudara ini sungguh yakin bahwa segala permintaan akan dikabulkan sesuai kehendak Sang Maha Kuasa. Maka tak heran bahwa perawakannya kurus kering (beberapa teman frater bahkan memaksanya puasa supaya ujian mereka joss).

Buah hati dari Bapak Andreas Kiswimikarjo (alm) dan Ibu Yustina Kasmirah ini sejak kecil memang terkagum-kagum dengan sosok romo paroki yang melayani stasinya. Kekaguman ini bertambah ketika ia bergabung menjadi misdinar dan mendapat berkat pertama serta menyalami romo. Hatinya yang terlanjur kepincut ini mendorong frater berkulit sawo (terlalu) matang ini masuk ke Seminari Menengah St. Paulus Palembang setamat dari SMPN 3 Purwodadi pada tahun 2000. Pembawaannya yang tenang, berwibawa dan kalem langsung membuat teman-teman seminarinya menaruh hormat pada frater satu ini.

 Kebiasaannya berdoa, meditasi dan olah rohani makin berkembang di seminari, sampai-sampai banyak yang meramalkan frater kita ini akan mendirikan kongregasi sendiri. Ternyata ramalan ini gagal total karena setelah menempuh pendidikan di seminari, Rm. Apri melamar dan diterima dalam Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ). Ketekunan dan keuletan yang menjadi keutamaannya membuatnya makin bersinar cemerlang dalam masa novisiat maupun skolastikan. Kreativitasnya pun patut diacungi jempul. Lihat saja kamarnya yang setiap tahun berganti tema dekorasi. Ada tema “musim gugur di Belanda” (ada hiasan ranting-ranting dan daun-daun kering dari kebun di seluruh kamar) hingga tema “Tuhan Yesus berdoa di Goa Selarong” (di kamarnya ada foto Tuhan Yesus dan gua buatan lengkap dengan stalaktit dan stalagmit lho).

 Tentu saja banyak juga tantangan yang ia hadapi selama ini, apalagi setelah ia menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) nya di Paroki Kabar Gembira Kotabumi, Lampung. Tetapi keyakinannya tetap teguh, “Dia yang telah memanggil itu adalah setia. Dia yang telah memulai karya baik dalam diriku, maka Dia pula yang akan menyelesaikannya!” Keyakinan inilah yang memberanikan pawang hujan kita mengikat janji berjubah putih hingga mati pada Agustus 2011 dan ditahbiskan sebagai Imam Hati Kudus Yesus pada Agustus 2013 yang lalu! Maju terus, pawang hujanku… eh… romoku!

 

 

 

Keberanian untuk Bertahan: Catatan Kecil bagi Adik-adik Seminaris

Siaplah dibentuk, adik-adik seminarisku… seperti bejana tanah liat di tangan tukang periuk…

Adik-adik Seminarisku,

Dalam masa formatio yang masih baru bagimu, kamu pasti juga mengalami pergumulan dan pergulatan. Banyak hal berbeda dengan situasi dulu di rumah; harus bangun pagi, makan serba teratur, belajar ada jamnya… bahkan untuk beol pun sudah ada ritme jamnya… hehehehe…

Semua itu jika dimaknai hanya sebagai rutinitas saja, maka akan terasa berat… akan terasa sebagai beban!

Di saat terbebani ini, kita membutuhkan keberanian untuk bertahan dan menanggung segalanya! Keberanian ini dibutuhkan lebih-lebih pada saat kita merasa penat dan letih dengan banyaknya tuntutan di luar diri kita. Apalagi Anda sekarang bukan anak biasa lagi: anda adalah seorang seminaris yang jelas tujuan dan tuntutannya!

Kadang banyak tuntutan membuat kita stress. Ada tuntutan studi, hidup rohani, kebersamaan, kepribadian, belum lagi tugas-tugas seksi atau kebidelan…

Ada banyak seminaris yang keluar karena takut menghadapi diri sendiri! Bisa saja para seminaris yang kelihatannya baik dan tidak punay masalah atau kasus tiba-tiba mengundurkan diri… Mengapa? Karena di dalam dirinya ia merasa takut dengan banyak hal…

Maka beranilah untuk menjadi diri sendiri dan terbuka terhadap pembimbing! Ini adalah salah satu cara untuk mewujudkan ‘berani bertahan’…

Berani bertahan bukan berarti berani bertahan untuk tetap jadi tidak baik! Berani bertahan berarti setia dengan panggilan dan itu berarti dengan jujur terbuka menyediakan diri dibentuk oleh pembimbing…

Tetapi diatas semuanya, kita baru akan jadi terang kalau berani bertahan! Lilin itu tak akan bernayala kalau sumbu itu takut terbakar panas api…

Jangan takut! Non abiate paura!

 

Salam dan doa dari kakakmu,

fra. Albertus Joni, SCJ