“Salam Maria…sampai mati…”

‪#‎SoulBites‬ 2.0 – 14/10/2015

Seorang romo Belanda yang sudah sangat sepuh ini setia sekali dengan rosarionya. Hampir tiap saat kita menjumpai jemari tangannya memainkan manik rosario…dan anehnya dengan sangat cepat…

Perlahan kami sadar bahwa ia – yang telah dimakan usia – hanya mendaraskan sepenggal saja doa Salam Maria itu: “Salam Maria…sampai mati…Amin…”

Continue reading ““Salam Maria…sampai mati…””

Advertisements

“Tangan Pendoa…”

‪#‎SoulBites‬ 2.0 | 15/10/2015
Di pedesaan Jerman pada abad XV. Albert and Albrecht adalah kaka beradik pecinta lukisan. Albert muda berjanji pada adiknya, Albrecht: “Kau akan dapat mengejar impianmu! Kau akan menjadi seorang seniman ulung!” Sang kakak pun bekerja sangat keras di tambang yang kasar agar adiknya dapat masuk akademi seni di kota. Dan sang adik pun belajar dengan sangat tekun agar ia dapat segera lulus lalu ganti bekerja agar sang kakak dapat masuk akademi seni yang sama. Tahun berlalu dan sang adik, Albrecht, lulus dengan sangat baik. Ia dengan cepat menjadi terkenal karena sketsa dan lukisannya yang indah.

Continue reading ““Tangan Pendoa…””

“Dari Abu Menuju Keabadian…”

‪#‎SoulBites‬ 2.0 | 17102015

Saya selalu ingat dengan salah satu penggalan kisah dalam Harry Potter: bagaimana burung phoenix tampak mati menjadi abu, namun kemudian dari abu itu ia dilahirkan kembali dengan lebih berkilau…

Continue reading ““Dari Abu Menuju Keabadian…””

Tentang Melayani…

Tanjung Sakti: Misi Pertama SCJ Indonesia di Pedalaman Sumatera Selatan
Tanjung Sakti: Misi Pertama SCJ Indonesia di Pedalaman Sumatera Selatan

Masa-masa menjelang Paskah, para imam membutuhkan karunia kesehatan fisik yang lebih dari biasanya. Betapa tidak! Saya kenang seorang imam pembimbingku yang tak lagi muda harus berkeliling mewartakan kabar baik tentang Allah yang Hidup ke banyak pelosok Jambi dengan jalan penuh lumpur dan batu tajam. Misionaris tua ini bahkan sampai harus menyeberangi rawa penuh lintah dengan setengah telanjang dan koper alat misa di atas kepalanya. Dalam usia senja, ia harus pensiun karena cacing kaki gajah menyerangnya dengan nanah dan luka basah yang harus selalu dibersihkan. Sambil bercanda, kami sering menggoda pastor senior ini: “Ah, romo, kakinya bengkak karena menerima stigmata alias luka paku salib Yesus!” Dan ia tak pernah marah, justru tertawa terbahak. Continue reading “Tentang Melayani…”

Segelas Teh Hangat…

Minggu Palma, 29 Maret 2015

Hari ini Gereja Semesta merayakan awal sebuah masa penuh rahmat: Pekan Suci – sebuah pekan di mana kita kenangkan sejarah penebusan kita. Ah, sobatku, walau berabad abad telah lampau, kita tetap saja terkagum dengan cara Allah mengasihi kita yang lemah dan berdosa ini! Dia menebus kita dengan jalan yang begitu mengejutkan dan mengharukan: jalan darah, jalan pengorbanan… jalan salib!

Continue reading “Segelas Teh Hangat…”

Belajarlah Menerima Kasih…

Sebuah sudut kota Manila. Kampung itu adalah gunungan sampah setinggi 8 meter yang jadi lahan terbuka di mana banyak manusia mengais penghidupan. Di sana terdapat sebuah pos nutrisi yang dilayani para relawan Gereja. Seorang sahabatku dari Komunitas Emmanuel diutus ke tempat ini beberapa waktu yang lalu. Ia berjumpa dengan seorang anak laki-laki berusia 6 tahun yang sedang menggali sampah. Anak itu kurus dan tubuhnya legam oleh lumpur sampah. Anak itu tersenyum polos dan berhenti mengais. Ia berlari mendekati sahabatku tanpa rasa takut… kemudian segera memeluknya! Sahabatku terkejut.

Graphic: Atep Supriatna

Ia berpikir: apakah ia akan tertular banyak penyakit, tentang apakah bajunya akan ikut kotor… Namun sahabatku yang dipeluk itu segera sadar. Ini pelukan mereka yang empunya Kerajaan Allah! Ya, sahabatku tanpa ragu balas memeluk anak ini dengan sepenuh hatinya! Anak kecil itu lalu bertanya: “Apakah aku boleh mencium pipimu?” Sahabatku makin terkejut dengan pertanyaannya dan segera memberikan pipinya. Sahabatku kembali ke Indonesia dengan kenangan kuat bahwa di kampung pemulung itu, ia berjumpa, dipeluk, dicium dan diberkati oleh Kanak-kanak Yesus sendiri …

Continue reading “Belajarlah Menerima Kasih…”

Ditangkap Oleh Kekaguman

f2

Waktu aku masih kecil, dunia terasa begitu luas dan menunggu untuk dijelajahi. Semua rupa dan corak yang begitu ajaib ingin kukumpulkan dalam saku celanaku. Ibu sering memarahiku karena pulang dengan baju kotor penuh lumpur dan tas sekolah yang berisi batu atau bunga liar aneka warna. Perlahan, ketika aku beranjak dewasa, banyak orang di sekitarku mulai menjelaskan bahwa hijaunya daun datang dari klorofil dan langit menjadi biru karena lapisan atmosfer. Bunga-bunga mulai tak menyenangkan lagi sejak aku harus menghafalkan nama latin mereka dalam pelajaran biologi dan bebatuan itu kehilangan pesona saat kutahu pasti bahwa mereka hanya muntahan dari perut bumi.

 

Rindu untuk Kagum

Dalam saat-saat kita tumbuh dan berkembang jadi dewasa, makin banyak hal terwahyukan pada kita dalam penjelasan ilmiah dan rasional. Keajaiban lantas tampak makin mustahil. Semua hal menjadi dapat tertebak dan terukur. Mungkin ini sebabnya, di tahun-tahun belakangan ini kita jadi tergila-gila dengan kisah kapten Jack Sully dalam film The Avatar dan planet Pandora yang penuh kejaiban itu. Kita terbuai dengan macam-rupa sihir Harry Potter dan kisah petualangan lima anak di negeri impian Narnia serta cerita imajinatif percintaan manusia serigala dan vampir penghisap darah.

Walau telah banyak tahun berlalu dan kepandaian nyaris penuh mengisi kepala, hati kita tetap merindukan lagi rasa kagum itu. Rasa kagum yang membangkitkan kesadaran bahwa sejatinya hidup adalah sebuah perjalanan yang luar biasa, dengan aneka pilihan jalan yang luar biasa dan dengan tujuan yang luar biasa.

 

Membatinkan Yang Lampau

Kadang memang kita harus mengambil waktu untuk hening dan dengan hati tertunduk menyadari hal-hal yang luar biasa dalam hidup kita. Kearifan mengajar bahwa perjalanan kita, dalam banyak bentuk panggilan hidupnya, terbentang antara sejarah dan masa depan. Kita ada di lautan ‘antara’: mengapung dan berenang ‘di tengah’ masa lalu dan yang akan datang!

Kagum itu adalah saat kita menoleh ke belakang dan menerima kebijakan pengalaman. Ya, sejarah dan pengalaman selalu menyediakan kaidah. Mereka menunjukkan pada kita banyak kebenaran tentang diri kita: bahwa saya adalah seorang anak yang pernah dilahirkan dari sepasang orang tua yang saling mengasihi dan bahwa ternyata saya tumbuh dalam keluarga yang tidak sempurna dan bahwa petai memiliki rasa mantap bila dimasak dengan sambal dan bahwa ternyata seorang Romo pun bisa terlepas kentutnya saat sedang misa.

Ya! Pengalaman…sejarah…yang lampau… membuat saya lebih tahu tentang dunia yang saya hidupi. Lebih-lebih dalam generasi muda belakangan, sejarah dapat terentang begitu jauh. Bukankah anak sekarang lebih tahu tentang dinosaurus daripada tentang sapi dan lembu?! Pada suatu program live-in di pedesaan, seorang anak SMUberkata: “Oh, Suster… Ayam itu ternyata ada bulunya ya?” Walaupun telah belajar teori fisika tentang penciptaan alam semesta, namun si siswi gaul itu tak pernah melihat ayam hidup lengkap dengan bulunya!

Sejarah menganugerahkan kita banyak momen indah untuk dikenang, untuk dipelajari dan untuk dihargai. Itu sebabnya beberapa di antara kita senang menulis diary dan mengambil foto: dua hal yang dapat membuat hangatnya kenangan itu kembali terasakan. Maka, ambillah sejenak waktu untuk membatinkan sejarah kita dan kisah yang telah lalu: yang indah untuk disyukuri dan yang kelam untuk diterima dengan penuh kelapangan hati.

p1140067

Bersama Allah dalam Harapan di Masa Depan

Pada titik selanjutnya, kagum itu juga hanya akan datang dalam kepenuhannya ketika pendangan kita jauh mengarah ke depan… menuju harapan yang menggerakkan langkah. Kenangan tak cukup berarti bila tak menggerakkan kita menatap masa depan. Perjalanan tak akan tentu arah bila tak punya tujuan. Masa depan mengingatkan kita bahwa hidup selalu merupakan petualangan menuju Dia! Setiap kisah petualangan punya tujuannya: Columbus di tanah Indian, Frodo dalam the Lord of the Rings di Kawah Api Gunung Modor, atau Rama di Alengka!

Sebagai seorang Kristiani, kita tahu benar bahwa tujuan akhir kita adalah untuk berbahagia bersama Allah, Sang Cinta! Kita tahu benar bahwa Kitab Suci dimulai dengan kisah penciptaan dan ditutup dengan gambaran indah turunnya Yerusalem Surgawi dari Surga. Kita tahu tujuan kita! Sayang, dalam banyak kejadian, kita merasa bahwa masa depan kita terlalu kabur dan lantas kita jadi kuatir dengan banyak perkara. Bahkan dalam beberapa kesempatan, kita jadi takut berharap pada Dia!

Harus diakui bahwa Kerajaan Surga yang menjadi tujuan akhir itu tidak menawarkan peta yang jelas. Bahkan sebaliknya, Kerajaan Allah itu justru merampas semua kepastian dan jaminan kenyamanan yang kita miliki. Siapa di antara para murid yang dapat menyangka bahwa setelah Perjamuan di ruang atas itu, Sang Guru maha terhormat dan terkenal itu akan dijatuhi hukum mati keji dan hina? Namun demikian, bagian indah dari kisah itu adalah bahwa kasih, pelayanan dan harapan dirayakan di depan ketidak-pastian itu! Setiap perjamuan Ekaristi menjadi lambang bahwa kita dapat tetap berjalan dalam harapan walau masa depan menjadi tak jelas!

Jurgen Moltmann
Jurgen Moltmann

Jurgen Moltmann pernah berujar: “Harapan hidup sejati, tidak lahir karena rasa diri muda, betapapun indah cita-cita pada masa muda ini. Pengharapan juga tidak lahir dari kesempatan yang ditawarkan oleh sejarah, betapapun luas dan tanpa batas peluang-peluang itu. Harapan hidup kita yang sejati akhirnya dibangkitkan, dipertahankan dan akhirnya dipenuhi oleh misteri Ilahi yang besar, yang ada di atas kita dan di dalam kita dan yang melingkungi kita dan yang lebih dekat dengan kita daripada hati hidup kita sendiri. Misteri Ilahi mendatangi kita sebagai janji besar bagi hidup dan menjadi janji bagi seluruh dunia: “Tak sesuatupun sia-sia – semuanya akan membuahkan hasil – pada akhirnya segala sesuatu akan menjadi baik!”

Maka sobatku, janganlah takut untuk berjalan menuju masa depan dengan kekaguman atas sejarah dan tujuan hidupmu! Bersama Allah dan MisteriNya yang menjanjikan keselamatan itu, kita bergerak menciptakan sejarah dengan penuh harapan. Segala sesuatu akan menjadi baik!

 

Albertus Joni SCJ

albertusjoni.scj@gmail.com

 

IMAN, HARAPAN DAN CINTA

Di sepanjang sejarah keselamatan, iman, harapan dan cinta nyaris selalu menjadi kidung – dalam gelap sekalipun. Engkau pasti pernah mendengar kisah Abraham, yang dalam iman menangis pada Allahnya dengan nada-nada sunyi ketika diminta menyembelih putera tunggalnya di atas gunung. Engkau juga pasti pernah membaca cerita Ayub, yang  merayakan imannya di tengah kuburan anak-anaknya yang mati tiba-tiba, di tengah reruntuhan rumahnya, di tengah lalat yang mengerumuni borok-boroknya dan di tengah sahabat yang kini mencacinya. Atau perihal Hana dan Zakaria yang telah lama bertekun dalam sepotong harapan yang hampir-hampir naif; harapan tentang Allah mau menyelamatkan manusia. Bukankah kita tahu kemudian, bahwa naifnya harapan mereka justru dibalas dengan misteri yang tak pernah tuntas diselami: Allah Penyelamat yang menjelma dalam darah dan daging manusia. Kita dengar juga sukacita Maria yang berkata: “Terjadilah padaku seturut kehendakMu itu!” – “Fiat!” sewaktu sang Cinta sendiri merasuk dalam rahimnya. Hanya cinta yang sedemikian besarlah yang mampu membuat Maria bertahan hingga kaki salib dan mengucapkan kata-kata yang sama sekali lagi; walau dengan hati yang remuk.

 

Mungkin benarlah Tagore, seorang mistikus India, bila ia berujar: “…di kuil gelap malam, titahkanlah aku berdiri di hadapanMu, Junjunganku, untuk berkidung.” Kini, bersama tokoh sepanjang sejarah itu kita berkidung juga – walau tanpa nada dan bahkan… walau tanpa ceria sekalipun.

 

 ABRAHAM (dan mereka yang mencoba ‘beriman’)

 Image

Tuhan, ini aku: Abraham!

Pilihan untuk beriman memang kadang terlalu mahal untuk dibayar! Aku ingat pedih hatiku saat memandang Ishak-ku terkasih yang menjulurkan lehernya.. siap dihabisi oleh bapanya yang ia kasihi. Aku meratap dalam diam, Tuhan.. Engkau pasti tahu itu. Tapi aku tetap berusaha untuk setia dan berpegang pada janjiMu. Aku hadir di sini ya Tuhan, bersama mereka yang sedang galau dan tak cukup berani untuk melangkah dalam hidup, yang sedang kalut dan ragu dengan masa depannya. Tunjukkan gema suaraMu Tuhan, seperti ketika aku kalut di atas gunung itu! Ya, perdengarkan suaraMu dalam hati mereka agar mereka selalu tahu bahwa Engkau selalu berjalan bersama mereka, sebagaimana Engkau juga berjalan bersamaku dalam pendakian itu. Niscaya dengan iman itu Tuhan, mereka akan menjadi Abraham-Abraham yang baru…

 

 

AYUB(dan mereka yang mencoba ‘berharap’)

 Image

Ini aku, Tuhan: Ayub!

Aku kerap bertanya: “mengapa semua nestapa harus turun padaku?”. Bukankah aku orang benar dan lurus hati ya Tuhan? Dan pertanyaan itulah yang membuatku mengecam keadilanMu! Aku tak sendiri, Tuhan! Aku berdiri bersama sekian banyak orang-orang benar yang terkapar di jalan-jalan kehidupan yang kejam ini. Aku hadir dan menuntut Engkau bersama korban kekerasan dan kejahatan, bersama orang-orang yang dimiskinkan dan yang dilacurkan, yang harus meratap putus asa dalam debu dan abu.

Tuhan…Tuhan… buatlah kami cukup mengerti bahwa harapan padaMu tak boleh kehilangan harganya.. bahkan dalam gelap yang sesak dan menghimpit. Berbisiklah pada kami dalam badai dan angin ribut ya Tuhan, bahwa harapan padaMu bukanlah bianglala yang semarak. Bukankah dari riwayat yang rusak, Engkau menuntun kami untuk dengan penuh harap memandang satu titik sempurna di depan sana. Ajari kami untuk mengenal misteriMu lebih mendalam dengan penuh harapan, yang justru hadir dalam temaram yang penuh soal dan gelisah.  

 

MARIA (dan mereka yang berusaha mencinta)

Image

Tuhan, tak mungkin engkau lupa akan aku, akan hangatnya rahimku. Aku, Maria, bundaMu. Ingatkah Engkau sewaktu dulu kudongengkan kisah tentang kerajaan pepohonan yang hijau itu. Mana pernah kubayangkan bahwa salah satu kayunya akan menjadi singgasanamu di puncak kalvari. Dengan gemetar yang hebat kuikuti jalan-jalanmu yang berdarah. Hingga mati rasa aku mengelap darah-dagingMu, darah dagingku sendiri, di lantai tempat Engkau dicambuk. Hanya cinta saja, Anakku.. hanya cinta saja yang mengukuhkan aku! Dan entah mengapa, justru aku yang harus belajar banyak tentang cinta dariMu… Engkau mengampuni mereka yang menembus tangan dan kakiMu dengan keji. Engkau menjanjikan Firdaus tanpa mengenal tunda bagi penjahat di sebelahMu. Engkau tak pernah mengutuki mereka yang menghina dan meludahimu. Ah, Cinta… Cinta! Bantulah kami untuk menawarkan pengampunan, perhatian … menawarkan Cinta, itu pada sesama kami…bahkan ketika hal itu serasa mustahil dilakukan!   

 

***

 

Ah, teman…

Kidung itu tak memanggul seluruh niat, juga niatnya sendiri, karena ia sebenarnya hanyalah mencoba… mencoba untuk pergi pada yang Maha Cinta. Kidung kita adalah sesuatu yang kita kirim pergi, “agar membawa pulang sesuatu yang mustahil” tanpa harus jadi hilang tujuan. Tuhan bukanlah kepastian, teman! Kidung kita melagukan Dia sebagai sebuah harapan…sebuah harapan yang seperti mata pancing mengail iman dan cinta pada Yesus Kristus, Tuhan dan Sahabat kita. Amin!