Novena Kepada Hati Kudus Yesus

 

 

 

Image

(Novena ini dilakukan setiap hari 9X,
berturut-turut pada jam yang sama)

Ya Yesus, Engkau berkata:
“Mintalah maka akan diberkan kepadamu,
carilah maka kamu akan mendapat;
ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu.”

Dengan perantaraan Maria Bunda-Mu
tersuci aku memanggil Engkau,
aku mencari dan memohon kepada-Mu
untuk mendengarkan permohonanku ini.
(Sebutkan karunia yang anda minta)

Ya Yesus, Engkau berkata:
“Apa saya yang kau minta kepada Bapa-Ku dengan
nama-Ku. Dia akan memberikannya kepadamu.”

Aku memohon dengan rendah hati dan penuh
kepercayaan dari Bapa Surgawi dalam nama-Mu,
dengan perantaraan Maria Bunda-Mu tersuci,
untuk mengabulkan permohonanku ini.
(Sebutkan permohonan anda)

Ya Yesus, Engkau berkata:
“Langit dan bumi akan musnah,
tetapi Sabda-Ku tidak akan musnah.”

Dengan perantaraan Maria Bunda-Mu tersuci,
aku percaya bahwa permohonanku akan dikabulkan
(Sebutkan permohonan anda)

Yesusku, Tuhan jiwaku, Engkau berjanji bahwa
Hati Kudus-Mu akan menjadi laut kerahiman
bagi orang-orang yang berharap pada-Mu,
aku sungguh percaya bahwa Engkau
akan mengabulkan apa yang aku minta,
walaupun itu memerlukan mukjizat.
Pada siapa aku akan mengetuk
kalau bukan pada hati-Mu.

Terberkatilah mereka yang berharap pada-Mu.
Ya Yesus, aku mempersembahkan kepada Hati-Mu
(penyakit ini, jiwa ini, permohonan ini).
Pandanglah dan buatlah apa yang hati-Mu kehendaki.

Ya Yesus, aku berharap pada-Mu dan percaya,
kepada-Mu aku mempersembahkan diriku,
di dalam Engkau aku merasa aman.
(1x Bapa Kami … Salam Maria … Kemuliaan …)

Hati Kudus Yesus, aku berharap pada-Mu
(Ulangi 10x dengan penuh semangat)

Ya Yesus yang baik, Engkau berkata:
“Jika engkau hendak menyenangkan Daku,
percayalah kepada-Ku.
Jika engkau hendak lebih menyenangkan Daku,
berharaplah pada-Ku selalu.”

Padamu Tuhan, aku berharap,
agar aku tidak binasa selamanya.
Amin.

 

 

 

Rm. YB. Mangunwijaya, Pr: Ode bagi Teologi yang “Terlibat”

 Image

“…esensi warta Tuhan pasti sangat sederhana. Namun, mengapa teologi

menjadi sukar dan memerlukan waktu bertahun-tahun

dalam dunia pikir elit yang memerlukan metodologi serta pembahasaan yang cangih,

dan karenanya tidak mungkin terjangkau oleh ‘sembarang’ orang?”

(Y.B. Mangunwijaya, Memuliakan Allah Mengangkat Manusia)

 

Romo Mangun berkisah tentang Teologi

Romo Mangun memaparkan realitas hidup manusia. Realitas yang di tampilkan yaitu menusia yang hidup di zaman modern, di mana manusia dihadapkan pada pola pikir ke arah rasio. Pola pikir ini merupakan salah satu ciri modernitas yang melibatkan penjabat tinggi (baca: atasan). Karena terlalu mengagungkan rasio, orang menjadi kurang peka akan perasaan. Hati (perasaan) yang tunpul memberi jalan bagi kekerasan, penindasan terutama terhadapa kaum kecil. Suasana kehidupan ini menghasilkan orang-orang yang takut dan menderita. Bagaimana melihat relasi antara Allah dan manusia dalam latarbelakang kehidupan semacam itu? Allah Bapa yang bagaimana yang bisa digambarkan oleh orang-orang kalau masyarakat hanya mengenal figur bapak yang otoriter, korupsi, suka cerai dan berjudi. Romo Mangun mengacu pada ayat kitab suci, ”Yesus adalah jalan, kebenaran, dan hidup.” Fakta keberagaman menuntut gereja terbuka dan menyatakan bahwa di luar gereja pun Roh Kudus hadir dan membawa keselamatan.

Yang menarik adalah usaha dari Romo Mangun yang melihat realitas hidup, kepekaan akan mereka yang tersingkirkan. Sungguh menarik bahwa realitas itu dihubungkan lebih dalam, mengarah ke Yang Maha Tinggi. Menjunjung tinggi kebenaran dengan berjalan atau berusaha bersama dengan mereka yang mengalami ketidakadilan, pada jalan, kebenaran dan hidup Kristus. Hal ini menarik karena kita berteologi tidak terlepas dari pengalaman kongkrit kita sendiri dan di tengah-tengah masyarakat. Memperjuangkan kebenaran dan memberi harapan yang jelas akan kerinduan masyarakat.

            Pergulatan teologi adalah pergulatan tentang Allah, Allah sejauh dialami dalam pengalaman dan yang serempak pula tetap bersembunyi di baliknya. Memahami Allah sejauh pengalaman mengandaikan kesungguhan ‘mata’ untuk melihat kehadiranNya yang mengagungkan dalam kesederhanaan yang mungkin pula tampak begitu biasa. Berteologi, seyogianya mengangkat Allah dalam pengalaman dan menghadirkan Allah dalam pengalaman. Menghadapkan dan mempersoalkan Allah dengan kenyataan hari ini, merupakan sebuah langkah di dalam memaknai suatu kebenarana bahwa Allah ternyata tampak pada hari ini. Maka berteologi tentang Allah berarti berteologi pada kenyataan hari ini, dengan aneka fenomena dan warna kehidupannya. Karena itu, ajaran dan tradisi teologi yasng muncul dan yang telah terwarisi sejak hari kemarin, perlu dibaca secara baru dengan tidak mengabaikan tardisi dan kiatab suci sebagai pijakannya. Teolog perlu merumuskan warna teologi yang bersandar pada tradisi dan berkiprah pada fakta hidup manusia. Maka berteologi sekali lagi menegaskan, bahwa tataran teologi adalah tataran Allah yang terlibat, dan berteologi berarti pula berada dalam alur manusia yang terbuka pada Allah.

 

Ode bagi teologi yang ’terlibat’

Menghadirkan Allah sejauh pengalaman, bukan merujuk pada keterlibatan Allah pada tradisi, tetapi keterlibatan Allah pada hari ini. Tetapi, berusahalah agar jangan sampai hari ini, membuat kita menutup mata pada kebenaran tradisi, kalau saja pengalaman hari ini menjadi dominasi pijakan kita. Pengalaman hari ini, tidak semuas secara langsung menghadirkan konsep tentang Allah, karena Allah pun masih bisa tersembunyi di balik rumitnya pengalaman kita. Maka tradisi jangan dipisahkan dan dilupakan dan pengalaman jangan diabaikan tanpa kata. Mungkinkah satu metode berteologi sanggup menjawabi dan hadir pada setiap kenyataan hidup manusia? Berbicara tentang Allah jangan sejauh Allah teatpi juga yang terlibat. Pandanglah hari ini, dan tengoklah yang telah terhidupi kemarin. Kini, katakan kepada dunia, bahwa aku ada bagi Allah dan berkisah tentangNya dalam kataku yang terucap hari ini dan dalam kesungguhan tindakan saat ini, serta saat demi saat…itulah Ode bagi teologi yang ’terlibat’!

Minggu ‘Kita’ – Pengudusan ‘Kita’

“Aku ingin begini, aku ingin begitu.

Ingin-ingin-ingin ini itu banyak sekali…

La la la… Aku senang sekali Doraemon!”

Image
Sebuah Misa Mingggu di Gereja Haiti

Hari Minggu: antara Doraemon dan Kristus

Lagu ini sangat familiar di benak saya bahkan setelah saya duduk di bangku kuliah sekalipun. Figur Doraemon – si robot kucing animasi yang datang dari masa depan – ini sangat kuat tertanam dalam diri saya. Alasannya sederhana. Pertama, karena impian masa kecil saya adalah memiliki ragam alat ajaib. Kedua, karena setiap hari Minggu, Doraemon menjadi sumber perbantahan antara saya dan mama. Mama berkeras anak-anaknya ikut bersama dia ke Gereja untuk misa pagi. Sementara saya dan adik-adik merasa terlanggar haknya untuk menikmati petualangan Nobita, Shizuka dan teman-teman si kucing ajaib ini. Seperti orang-orang tua pada zamannya, bila bibir mama telah letih menghadapi kami, maka giliran rotan bertindak dan dengan mata sembab kami kemudian pergi ke Gereja.

 

Sampai saat ini keluhan masa kecil saya masih sering terngiang. Mengapa setelah hari-hariku penuh dengan kuliah, paper, diktat dan diskusi, aku tidak dapat menikmati hari Minggu? Hari Minggu-ku masih diisi dengan misa, dengan aneka pastoral, kunjungan keluarga, mengisi retret dan acara-acara lain yang meletihkan raga. Akibatnya? Senin pagi menjadi waktu di mana selimut seolah menjadi ‘kulit kedua’ yang sulit lepas dari tubuh. Seperti Garfield, tokoh kucing animasi lain, saya juga akan mengeluh: “I hate Mondays!” Keluhan macam ini juga rasanya dialami oleh banyak orang Katolik saat ini; terutama di kalangan orang muda. Ada begitu banyak alasan untuk menjadi ‘malas’ ke Gereja. Pepatah Italia yang dikutip Elizabeth – si tokoh wanita dalam film Eat, Pray and Love – sering begitu tepat kita rasakan: “Il dolce far niente” alias “Betapa nikmatnya tidak melakukan apa-apa!” Hari Minggu – entah kapan dan bagaimana – sangat bisa kita curigai telah kehilangan pesona kekudusannya karena pepatah Italia yang satu ini telah dihayati begitu dalam oleh masyarakat modern. Minggu lantas menjadi hanya memiliki arti ‘bersenang-senang dan bersantai’. Minggu menjadi sebatas ‘hari libur’ atau ‘tanggal merah’ yang maknanya dipisahkan dari pengudusan hidup kita.  

 

Ekaristi Minggu dan Pengudusan Hati Kita

Pengudusan? Ya! Bagi kita, umat beriman Katolik, hari Minggu adalah hari yang luar biasa istimewa karena unsur pengudusan ini. Hari Minggu tidak hanya menjadi waktu untuk ‘beristirahat’ seperti Allah ketika selesai menjadikan dunia dan ciptaan pada hari ketujuh sebagaimana begitu ketat dijaga dalam aturan-aturan Sabat Yahudi. Hari Minggu mestinya lebih bernilai bagi orang Kristiani. Pada hari itu, secara istimewa kita merayakan, mengenangkan dan menghadirkan kembali Kebangkitan Kristus yang telah menebus kita. Alasan ini mungkin terkesan terlalu religius bagi mereka yang hidup dalam dunia sekular. Saya bayangkan alis mata mereka dengan cepat naik sebelah karena alasan ini. Namun, jelas Gereja tak punya alasan yang lebih baik menganjurkan agar jemaatNya berkumpul sebagai Gereja, satu Tubuh Kristus di hari Minggu selain alasan ‘perayaan kebangkitan’ yang menjadi pusat pengudusan hidup para pengikut Kristus. Dengan mengambil bagian dalam Ekaristi hari Minggu, kita mengambil bagian dalam roti yang satu dan piala yang sama untuk menghadirkan kembali kasih Tuhan yang memberika diriNya dalam hidup, sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus. Idealnya, perayaan Ekaristi Minggu kta rayakan dengan agung dan meriah. Sayang, realitas kadang berbicara lain. Saya sering mendengar keluhan bagaimana Ekaristi Minggu menjadi sesuatu yang membosankan – terutama bagi orang-orang muda. Bayangkan: dari tiga ribu orang umat, hanya sekitar tigapuluh manusia dengan label ‘anggota koor’ yang membuka mulut dan bernyanyi. Belum lagi kita mendengar homili beberapa imam yang kurang menyentuh dan membosankan.

 

Bila menghayati hari Minggu berarti pertama-tama merayakan pengudusan dalam Perayaan Ekaristi, maka saya merasa bahwa sangatlah penting bagi para Imam dan Umat untuk menyadari bahwa Perayaan ini mesti menjadi sebuah keterlibatan aktif yang hidup, menyentuh dan berdaya ubah. Kita tidak perlu menjadikan Ekaristi menjadi kebaktian Gereja denominasi Protestan Evangelikal yang meriah dengan musik pop menghentak atau kotbah yang berapi-api. Kita tidak pertama-tama memerlukan itu agar Ekaristi minggu menjadi ‘hidup’ dan ‘partisipatif’. Bila umat pelan-pelan mendalami makna Ekaristi dalam banyak buku sumber dan dalam katakese para imam, kita juga akan menumbuhkan hati baru yang terbuka pada pengalaman akan Allah. Penghayatan kita akan Ekaristi menjadi ‘kering’ saat kita tidak mengenal makna di balik ‘simbol-simbol’ sakramen yang sedang dirayakan. Usaha para imam untuk mengajarkan teologi ekaristi dengan sederhana, mendalam dan menarik sangatlah penting. Tentu hal ini hanya satu dari sekian banyak usaha menghidupi pengudusan dalam Ekaristi Minggu.

 

Istirahat yang Mengalir Dari Kekudusan

Tentu saja pengudusan dalam Ekaristi itu akan lebih berdaya-guna apabila raga kita juga dalam keadaan baik. Sulit membayangkan bahwa orang yang kelelahan akan dapat menghayati Ekaristi dengan baik. Maka, dengan bijak kita juga harus memberi perhatian pada soal ‘istirahat’ fisik. Lantas, salahkah bila di hari Minggu kita benar-benar beristirahat? Tidak! Kesempatan istirahat itu adalah kesempatan untuk menunjukkan pada dunia kita saat ini bahwa ‘berhenti dan beristirahat’ bukanlah sebuah ‘dosa’. Henri Nouwen pernah mengatakan bahwa manusia saat ini sulit ‘berhenti’ dari pekerjaannya. Ia seolah dikejar oleh target dan pencapaian, oleh prestasi dan lalu merasa mejadi berarti saat melakukan sesuatu. Orang lantas sering merasa berdosa saat tidak melakukan apa-apa. ‘Berhenti’ menjadi asing dalam dunia yang disebut oleh Giddens – seorang filsuf terkenal – sebagai ‘dunia yang sedang berlari.’ Istirahat selalu penting dan baik, apalagi bila istirahat kita ada dalam dan bersama keluarga. Yang penting, istirahat Anda tidak mengasingkan Anda dari diri Anda, dari sesama dan dari Tuhan sendiri… Seolah dengan istirahat ‘total’ di hari Minggu, diri kita menjadi milik kita sendiri dan Tuhan serta sesama diasingkan dalam wilayah kita sendiri.

 

Timothy Radcliffe, OP dalam buku terkenalnya What is the Point of Being Christian, mengisahkan bahwa kita mesti belajar berkata ‘kita’ di tengah dunia yang makin akrab dengan individualisme. Mudah bagi saya untuk merasa ‘dikorbankan’ saat meng-klaim hari Minggu sebagai “hari Minggu-ku“. Doraemon dan waktu bersantai terpaksa dihilangkan karena harus ke Gereja. Namun, saat saya meyakini hari Minggu sebagai “Hari Minggu kita“, saya akan belajar menjadikan hari khusus ini sebagai kesempatan untuk membiarkan pengudusan yang kita alami mengalir juga bagi keluarga, tetangga, dan orang-orang yang tinggal di sekitar kita. Bukankah kesempatan istirahat kita di hari Minggu itu menjadi spesial justru bukan karena saya tidur atau menonton sepanjang hari, melainkan karena saya membiarkan diri mengasihi dan dikasihi lebih oleh keluarga, oleh masyarakat kita?

 

Minggu dan Misa yang Terus-Menerus

Ven. Jean Leon Dehon, pendiri Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus (SCJ), pernah mengatakan: “hidup kita hendaknya menjadi sebuah Misa yang terus menerus…” Pater Dehon tidak memaksudkan bahwa kita harus pergi misa sepuluh kali sehari. Tidak!  Pater Dehon melihat bahwa di dalam Ekaristi kita dipersatukan secara istimewa dalam Kristus. Salah satu ayat favorit Dehon adalah Gal 2:20: “Bukan aku yang hidup dalam diriku, tapi Kristuslah yang hidup di dalam aku!” Persatuan dengan Tuhan inilah yang menjadikan hidup kita seperti sebuah ‘misa yang terus-menerus’. Panggilan bersatu dengan Allah: inilah panggilan Paskah yang kita rayakan dalam hari Minggu dan mengalir untuk hari-hari lainnya. Kita menjadi seorang “mistikus” yang membawa sifat-sifat Allah dalam keluarga, tempat kerja dan masyarakat lebih-lebih dalam 6 hari setelah hari Minggu yang penuh berkat. Semoga setiap hari Minggu kita menjadi berkat luar biasa untuk semua yang kita jumpai!

 

dimuat di Majalah UTUSAN edisi April 2012

Lima Alasan Terbaik Menjadi Seorang Putra Altar

Banyak yang berkata bahwa menjadi putra altar adalah tugas yang membosankan atau berbahaya (karena akan malu sekali bila salah bergerak di depan ribuan umat) … mungkin ini sebabnya saat ini anggota misdinar yang putri jauh lebih banyak daripada yang putra… 🙂 Hmm, tidak bermaksud diskriminasi gender sih, tetapi dalam Tradisi memang pelayan altar adalah para putra dan ini dimaksudkan juga agar kedekatan dengan altar mendorong mereka untuk mau menjawab panggilan pada imamat suci… 🙂

Nah, buat para putra, mari kita lihat lima alasan terbaik menjadi seorang putra altar… 🙂

1. Jubah – pakaian putra altarmuakan menjadikan kamu kelihatan lebih gagah dan menawan lho 🙂 Tidak percaya Lihat saja Christian Bale dalam balutan jubahnya atau Kwon Sang-woo dalam Love so Divine 🙂

Jubahnya keren kan? Rata-rata pakaian putra altar pasti bermodel macam ini, hanya di Indonesia dibuat dalam dua bagian (atasan dan bawahan) yang terpisah 🙂 tapi tetap cool ya dilihat! 🙂
Para misdinar biasanya langsung mengenakan ‘superpli’ – bagian warna putih di atas jubah hitam mereka… 🙂 berwibawa ya… ini potongan dari drama Korea 🙂


2. Menjadi putra altar membuatmu makin manly! Bayangkan: sebuah organisasi dalam Gereja dengan struktur jelas – mulai dari yang kecil badannya hingga setinggi bambu ada di sana – dan semua melayani Gereja dan Allah! Sebagai putra altar kamu punya prinsip yang jelas dan dididik untuk disiplin serta tepat waktu! Bayangkan, tahap-tahap yang dilewati penuh tantangan dan kita harus melalui latihan yang tidak sebentar! Rasanya seperti masuk akademi militer Gereja deh… hehehehe… tetapi istimewanya, kamu tetap bisa bersenang-senang dan bersukacita di dalamnya (tidak seperti tentara asli yang suka cemberut ya 🙂 )

Barisan tentara elite Gereja… ^^ tentu dengan senyum dan persaudaraan di dalamnya!

3. Siapa yang tidak senang bermain api? Ya! Menjadi putra altar berarti punya kesempatan lebih banyak bermain dengan api – sesuatu yang pasti dilarang oleh orangtuamu bila kau melakukannya di rumah. Di dalam Gereja, para putra altar sangat punya banyak kesempatan: lilin altar, lilin paskah, lilin komuni, bahkan dupa dari wiruk yang berisi arang bernyala plus asapnya yang harum dan sedikit buat pusing… 🙂

Keren ya bila kebagian membawa dupa wiruk… jadi seperti malaikat karena dikelilingi asap harum… Tapi hati-hati, malaikat bajunya tak bisa hangus dan berlubang ya… ^^
Menyerempet bahaya ya? hehehe

Kalau kamu tidak puas dengan lilin dan wiruk kecil normal yang biasa ada di gereja, kamu bisa pergi ke Barcelona, Spanyol dan menjadi misdinar di sana… Frater tidak tahu apakah ada wiruk dupa yang lebih besar dari yang ada di sana… namanya: “Botafumeiro”… Wiruk ini tingginya 2 meter dan perlu sekitar 5-6 orang dewasa untuk menariknya dengan katrol khusus… hahahahaha… bermimpilah menjadi putra altar yang bisa membawa wiruk super “Botafumeiro” ini! hehehehe 🙂

Wakakakaka…. Siapa yang kuat bawa wiruk segede ini?

4. Nah, ini alasan seriusnya! Dengan menjadi putra altar, kamu akan menjadi makin dekat dengan Ekaristi Kudus… dan hidupmu akan menjadi hidup yang terberkati karenanya! Para Putra Altar adalah umat yang paling pertama menyambut Tubuh dandarah Kristus dalam Ekaristi dan ini luar biasa! Kamu juga paling dekat dengan altar pada saat imam mengubah hosti anggur menjadi tubuh dan darah Kristus… Kagumlah! Kamu bahkan bisa bilang: “Demi segala tulang-belulang dinosaurus, ada Allah di depan mataku saat ini!” 🙂 Ini adalah pengalaman luar biasa… saat kamu begitu dekat dengan Allah yang mengasihimu dalam cara yang luar biasa pula!

Bapa Suci Benedictus XVI memberi komuni pada putra Altar
Asyik… paling dekat dengan altar dan paling awal menerima sakramen Maha Kudus! 🙂 makin dekat dengan Tuhan Yesus!

5. Alasan terbaik terakhir adalah: kamu akan mendapat banyak sekali pengetahuan iman yang tidak kamu dapatkan di sekolah, di keluarga atau bahkan di sekolah Minggu-mu dulu… Di Indonesia belakangan ini, pengetahuan orang muda tentang iman Katolik (tentang sakramen, tentang Allah Tritunggal, tentang kebangkitan Yesus dan ajaran-moral) makin memprihatinkan… Frater bahkan pernah bertemu dengan remaja Katolik yang tidak lancar berdoa Bapa Kami dan salam Maria…

Dengan ikut sebagai putra altar, kamu akan mendapat bimbingan lebih dan pengetahuan yang dapat berguna ketika kamu harus menjelaskan soal-soal iman Katolik di depan teman-temanmu yang beragama Islam atau Protestan, misalnya tentang Kehadiran Nyata Kristus dalam sakramen Maha Kudus…

Memang belajar tentang game-console terbaru lebih mengasyikkan, tetapi sekali kamu ikut dan mengetahui pokok iman kita yang mengagumkan bersama kelompok putra altar, kamu akan benar-benar merasa tertarik… Coba saja kalau tidak percaya!

Banggalah menjadi seorang Katolik!
Bersama putra Altar yang lain, kita menimba iman Katolik…

Dan siapa tahu… kelak dari panggilan melayani Altar Tuhan sebagai Misdinar ini kamu juga dipanggil untuk menjadi seorang IMAM alias PASTOR alias ROMO atau HIDUP MEMBIARA sebagai BRUDER dan FRATER!

sekarang putra altar… esok: IMAM ALLAH yang KUDUS!