Surat Cinta Pastor Paroki St. Petrus – 30 Juli 2021

No. : 065/Sto. Pet/PLG/VII/21   Palembang, 30 Juli 2021

Hal : Surat Cinta Pastor Paroki

Kepada Ytk.

Ketua dan Pengurus Lingkungan/ Basis dan seluruh umat Allah yang terkasih
Paroki St. Petrus Palemban
g

di tempat

Salam Damai Kristus dan Salam Sehat, 

Perkenankanlah romo menyampaikan beberapa informasi seputar situasi Paroki kita tercinta ini:

  1. Memandang situasi nasional dan lokal serta komitmen kita untuk mendukung gerakan Pemerintah dalam mencegah penyebaran COVID19, kita memutuskan untuk memperpanjang pembatasan pelayanan tatap-muka hingga akhir Agustus 2021. 
  2. Misa Mingguan kita rayakan dari rumah masing-masing via kanal YouTube “Paroki Santo Petrus Palembang” pada hari Sabtu pk. 18.00 dan Minggu pk. 09.00. 
  3. Misa Harian dilayani lewat kanal YouTube “Romo Koko” dan Zoom Meeting yang aksesnya dapat Anda minta pada seksi Liturgi lingkungan.  Misa Harian Senin s.d. Jumat pk. 18.15. Khusus hari Sabtu, misa harian dirayakan pk. 06.00 pagi. 
  4. Pelayanan yang tak dapat ditundakan adalah pemberkatan pengantin, sakramen pengurapan miyak suci bagi yang menjelang ajal, pemberkatan jenazah, dan pelayanan konseling dalam situasi khusus. Para romo akan melayani sedapat mungkin setelah mendapat konsultasi dari Satgas COVID19 Paroki dan setelah yakin bahwa prokes ketat dapat dijaga baik. Jangan ragu untuk menghubungi Ketua Lingkungan bila Anda membutuhkan pelayanan ini. 
  5. Intensi misa untuk pelbagai kepentingan dapat dimintakan pada WA Sekretariat Paroki (Ibu Titin) di 0857-4317-6880 atau diantar langsung ke Sekretariat Paroki. Intensi untuk misa harian juga dapat dimintakan dengan menghubungi nomor yang sama. 
  6. Karena biaya operasional pelayanan Paroki tetap berjalan, maka kami sangat mengharapkan inisiatif Pengurus Lingkungan untuk mendorong umat semua mengumpulkan kolektenya secara sistematis. Bagi yang tergerak untuk transfer, dapat menggunakan rekening Paroki kita yang baru untuk kolekte: BCA KCP Kenten – no. 15.11.77.77.00 – an. Paroki St Petrus Palembang. Berilah keterangan: kolekte. Romo menghaturkan banyak terimakasih pada umat yang setia mempersembahkan kasih dan hatinya pada Tuhan.
  7. Juga rasa syukur kami haturkan pada para donatur pembangunan Gereja. Sampai saat ini terkumpul Rp. 97.044.027 dari 272.000.000 yang dibutuhkan. Berkat Tuhan menyertai keluarga para donatur semua. Juga terimakasih romo pada team Jager dan team Pembangunan yang bahu-membahu setia mengerjakan kanopi samping Pastoran yang 85% selesai dan taman baru Santo Mikael yang makin mempercantik Gereja kita. Perbaikan kubah Gereja kita yang bocor juga hampir selesai. Semoga kita tidak kuatir ketika hujan saat misa kudus. Setelah kanopi dan taman Santo Mikael 100% jadi, kita akan meneruskan pembangunan gudang paroki dan pelepasan keramik yang sudah runtuh di dinding Gereja. Mohon doa dan dukungan umat semua. Bila Anda hendak menyumbang, dapat menggunakan rekening Team Pembangunan Paroki: BCA KCP Kenten – no. 15.11.17.77.70 – an. Paroki St Petrus Palembang PEM. Sekali lagi terimakasih untuk cintamu. 
  8. Gerakan solidaritas Lingkungan dan Basis bagi keluarga Katolik yang terpapar COVID19 harus romo apresiasi sebesar-besarnya. Banyak lingkungan telah mewujud-nyatakan cinta mereka dengan mengirim logistik, menyediakan pondokan isolasi, meneguhkan dan mendoakan saudari/a kita yang terpapar. Bila dirasakan bahwa kas Lingkungan sudah ‘berat’ untuk gerakan cinta kasih ini, jangan takut bercerita pada Romo. Bila ada kesulitan tentang tempat isolasi, jangan ragu untuk menghubungi keluarga Pastoran – dalam hal ini Rm. Albertus Joni scj (0812-8878-0033). Romo Joni akan mengusahakan sebisa mungkin untuk mencarikan tempat isolasi dalam kerjasama dengan DPP dan Satgas COVID19.  Kita akan upayakan semua cara agar mereka yang terpapar tetap merasakan kasih dan dukungan kita. 
  9. Romo juga ingin berterimakasih pada Anda semua yang telah berbaik hati membantu Aksi Kasih Kamisan ibu-ibu WKRI dalam rupa pemberian nasi bungkus gratis. Ini saatnya Gereja menjadi juga rumah bagi semua orang. 
  10. Apresisasi romo juga diberikan pada team multimedia Paroki di bawah komando Bung Aryo Mahir dan OMK St. Petrus yang luar biasa. Pelayanan mereka selama masa pandemi ini sangat vital dan ke depan kita akan mengembangkan pelayanan KomSos ini secara lebih baik di bawah koordinasi Bung Cahya Pamungkas. Kita akan meng-agenda-kan pertemuan rutin virtual per lingkungan pada bulan Agustus ini. Romo berharap kita tetap dapat berwawan hati walau jarak memisahkan kita; khususnya romo rindu menyapa keluarga-keluarga muda dengan anak-anak kecil yang selama ini terhalang datang secara fisik karena pembatasan prokes.
  11. Vaksin Pemerintah yang gratis hadir dengan berlimpah. Ini satu-satunya jalan menuju kekebalan kelompok dan jalan keluar dari pandemi. Bila fisik Anda sehat dan baik, carilah vaksin dengan semua cara yang ada. 

Demikianlah surat cinta ini romo tuliskan. Romo mendoakan kesehatan kita semua. Ibu Maria – pelindung semua anak Tuhan yang mencintai Gereja – mendoakan kita semua. Tuhan memberkati Anda dan keluarga sekalian. Terimakasih. 

Hormat kami, 

Rm. Y. Harry Subekti, s.c.j.

Pastor Kepala Paroki St. Petrus Palembang

Novena kepada Hati Yesus yang Maha Kudus

Tuhan Yesus yang amat kami kasihi, Penebus bangsa manusia,
Lihatlah kami sekarang dengan rendah hati berlutut di hadapan-Mu.

Kami ini umat-Mu, dan kami ingin tetap menjadi umat-Mu;
Tetapi agar persatuan kami dengan Dikau lebih erat lagi
maka sekarang ini kami masing-masing dengan rela hati menyerahkan diri kepada hati-Mu yang Mahakudus. 

Tuhan Yesus, banyak orang yang belum mengenal Engkau, banyak pula yang menghina perintah-perintah-Mu dan yang mengingkari-Mu. 

Tuhan Yesus yang Mahamurah, kasihanilah semua orang itu,
Dan tariklah mereka kepada hati-Mu yang kudus.
Ya Tuhan, hendaklah Kaurajai bukan hanya mereka yang setia saja; yang belum pernah menjauhkan diri dari pada-Mu, tetapi juga anak-anak yang meninggalkan Dikau seperti si anak yang hilang itu. 

Berilah kami semua kesadaran untuk segera kembali ke rumah Bapa, jangan sampai kami binasa karena kesusahan dan kelaparan. 

Hendaklah Kaurajai juga mereka yang tertipu oleh pengajaran yang salah atau yang terpisah karena pengkhianatan. Pulangkanlah mereka ke pelabuhan kebenaran dan ke persatuan iman supaya hanya ada satu kawanan dan satu Gembala. 

Ya Tuhan berikanlah kepada Gereja-Mu kemerdekaan yang tetap dan sentosa. Berilah kepada segala bangsa keamanan dan ketertiban. 

Berilah juga kami semua yang hadir di dalam hatiMu saat ini, rahmat yang kami butuhkan pada saat ini …

hening sejenak – doakan ujub dan permohonan Anda dalam hati

Berilah kerinduan hati kami ini, supaya akhirnya di seluruh dunia berkumandanglah satu suara ini: 

“Kemuliaan kepada Hati Ilahi yang membawa bahagia kepada kita. Kepada Hati itulah hormat serta pujian selama segala abad.” Amin.

Karena Hidup Seperti Terminal

“For if we have been united with him in a death like his, we shall certainly be united with him in a resurrection like his.” ~ Romans 6:5

74507811_2540139279552770_8462072569489522688_o

Salah satu kepastian tentang hidup duniawi adalah bahwa kita semua akan mati, wafat, meninggal dunia (you name it-lah!). Kelak, pada satu waktu, engkau dan aku yang gemar berselancar di IG, FB, Twitter dan YouTube, akan sama-sama berujung di kematian; kembali pada debu dan tanah. Kita mungkin pernah bertanya: “Mengapa aku harus dilahirkan kalau suatu hari hidup ini akan berakhir dengan maut yang kaku dan dingin?”

Iman Kristiani menjawab pertanyaan ini dengan sederhana: “Maut bukan akhir dari segalanya!” Kematian adalah keberlanjutan; sebuah tiket di terminal menuju bahagia yang abadi bersama Bapa yang Maha Welas Asih.

Salah satu pewahyuan agung dalam Yesus Kristus adalah bahwa sengat maut telah binasa di atas kayu salib. Maut – yang mulanya hadir akibat dosa – seolah memangsa manusia sejak Adam jatuh. Sebelum Kristus datang, manusia jauh dari Allah bahkan setelah kematian.

Di sinilah indahnya misteri iman Kristiani: Allah menyelamatkan; Ia menjelma menjadi manusia agar raga dan jiwa manusia kembali mulia sesuai martabat saat ia diciptakan! Dan di atas palang penghinaan itu, Sang Putra menebus dosa ketidak-taatan Adam dengan menjadi taat pada kehendak BapaNya; bahkan taat hingga mati.  Lanjutkan membaca “Karena Hidup Seperti Terminal”

Melihat dari Ketinggian

72634493_2528055497427815_546812743382990848_o

Penting untuk dapat melihat semua masalahmu dari “ketinggian”! Banyak orang gagal mengambil jarak dari masalahnya dan dari emosi negatifnya lalu menjadi over-reactive dan over-sensitive. Dalam doa, kita jadi “terhubung” pada Yang Maha Tinggi… dan kita jadi lebih mudah melihat masalah dari perspektif yang lebih luas; dari cakrawala yang memberi kesempatan pada pergulatan untuk diubah menjadi berkat…
Semoga Anda hari ini diberi rahmat untuk mampu melihat persoalan dan tantangan hidup dengan lebih jernih… dari ketinggian!

Panggilan Menjadi Dehonian

“Saya menemukan cinta di dalam panggilan menjadi Dehonian… dan saya sangat bahagia karenanya!” ~ Selamat merayakan Hari Minggu Panggilan, sahabatku semua!
.
.
Bagikanlah video kecil ini untuk anak-anakmu, untuk kawanmu, untuk banyak jiwa muda yang tergerak mengikuti Dia dengan lebih sempurna!
.
.
#dehonian #dehonians #imamhatikudusyesus #scj #scjindonesia #skolastikatscj #minggupanggilan #imamkatolik #gerejakatolik #katolikindonesia

#SoulBites: Tentang Penderitaan

#SoulBites – “Tentang Penderitaan”

Roma 8:28: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
.
.
Silahkan membagikan berkat Tuhan kepada keluarga, rekan dan sahabat Anda semua! #romokoko #renungandehonian #priestsofthesacredheart#dehonian #dehonianos #imamhatikudusyesus

IMAN, HARAPAN DAN CINTA

Di sepanjang sejarah keselamatan, iman, harapan dan cinta nyaris selalu menjadi kidung – dalam gelap sekalipun. Engkau pasti pernah mendengar kisah Abraham, yang dalam iman menangis pada Allahnya dengan nada-nada sunyi ketika diminta menyembelih putera tunggalnya di atas gunung. Engkau juga pasti pernah membaca cerita Ayub, yang  merayakan imannya di tengah kuburan anak-anaknya yang mati tiba-tiba, di tengah reruntuhan rumahnya, di tengah lalat yang mengerumuni borok-boroknya dan di tengah sahabat yang kini mencacinya. Atau perihal Hana dan Zakaria yang telah lama bertekun dalam sepotong harapan yang hampir-hampir naif; harapan tentang Allah mau menyelamatkan manusia. Bukankah kita tahu kemudian, bahwa naifnya harapan mereka justru dibalas dengan misteri yang tak pernah tuntas diselami: Allah Penyelamat yang menjelma dalam darah dan daging manusia. Kita dengar juga sukacita Maria yang berkata: “Terjadilah padaku seturut kehendakMu itu!” – “Fiat!” sewaktu sang Cinta sendiri merasuk dalam rahimnya. Hanya cinta yang sedemikian besarlah yang mampu membuat Maria bertahan hingga kaki salib dan mengucapkan kata-kata yang sama sekali lagi; walau dengan hati yang remuk.

 

Mungkin benarlah Tagore, seorang mistikus India, bila ia berujar: “…di kuil gelap malam, titahkanlah aku berdiri di hadapanMu, Junjunganku, untuk berkidung.” Kini, bersama tokoh sepanjang sejarah itu kita berkidung juga – walau tanpa nada dan bahkan… walau tanpa ceria sekalipun.

 

 ABRAHAM (dan mereka yang mencoba ‘beriman’)

 Image

Tuhan, ini aku: Abraham!

Pilihan untuk beriman memang kadang terlalu mahal untuk dibayar! Aku ingat pedih hatiku saat memandang Ishak-ku terkasih yang menjulurkan lehernya.. siap dihabisi oleh bapanya yang ia kasihi. Aku meratap dalam diam, Tuhan.. Engkau pasti tahu itu. Tapi aku tetap berusaha untuk setia dan berpegang pada janjiMu. Aku hadir di sini ya Tuhan, bersama mereka yang sedang galau dan tak cukup berani untuk melangkah dalam hidup, yang sedang kalut dan ragu dengan masa depannya. Tunjukkan gema suaraMu Tuhan, seperti ketika aku kalut di atas gunung itu! Ya, perdengarkan suaraMu dalam hati mereka agar mereka selalu tahu bahwa Engkau selalu berjalan bersama mereka, sebagaimana Engkau juga berjalan bersamaku dalam pendakian itu. Niscaya dengan iman itu Tuhan, mereka akan menjadi Abraham-Abraham yang baru…

 

 

AYUB(dan mereka yang mencoba ‘berharap’)

 Image

Ini aku, Tuhan: Ayub!

Aku kerap bertanya: “mengapa semua nestapa harus turun padaku?”. Bukankah aku orang benar dan lurus hati ya Tuhan? Dan pertanyaan itulah yang membuatku mengecam keadilanMu! Aku tak sendiri, Tuhan! Aku berdiri bersama sekian banyak orang-orang benar yang terkapar di jalan-jalan kehidupan yang kejam ini. Aku hadir dan menuntut Engkau bersama korban kekerasan dan kejahatan, bersama orang-orang yang dimiskinkan dan yang dilacurkan, yang harus meratap putus asa dalam debu dan abu.

Tuhan…Tuhan… buatlah kami cukup mengerti bahwa harapan padaMu tak boleh kehilangan harganya.. bahkan dalam gelap yang sesak dan menghimpit. Berbisiklah pada kami dalam badai dan angin ribut ya Tuhan, bahwa harapan padaMu bukanlah bianglala yang semarak. Bukankah dari riwayat yang rusak, Engkau menuntun kami untuk dengan penuh harap memandang satu titik sempurna di depan sana. Ajari kami untuk mengenal misteriMu lebih mendalam dengan penuh harapan, yang justru hadir dalam temaram yang penuh soal dan gelisah.  

 

MARIA (dan mereka yang berusaha mencinta)

Image

Tuhan, tak mungkin engkau lupa akan aku, akan hangatnya rahimku. Aku, Maria, bundaMu. Ingatkah Engkau sewaktu dulu kudongengkan kisah tentang kerajaan pepohonan yang hijau itu. Mana pernah kubayangkan bahwa salah satu kayunya akan menjadi singgasanamu di puncak kalvari. Dengan gemetar yang hebat kuikuti jalan-jalanmu yang berdarah. Hingga mati rasa aku mengelap darah-dagingMu, darah dagingku sendiri, di lantai tempat Engkau dicambuk. Hanya cinta saja, Anakku.. hanya cinta saja yang mengukuhkan aku! Dan entah mengapa, justru aku yang harus belajar banyak tentang cinta dariMu… Engkau mengampuni mereka yang menembus tangan dan kakiMu dengan keji. Engkau menjanjikan Firdaus tanpa mengenal tunda bagi penjahat di sebelahMu. Engkau tak pernah mengutuki mereka yang menghina dan meludahimu. Ah, Cinta… Cinta! Bantulah kami untuk menawarkan pengampunan, perhatian … menawarkan Cinta, itu pada sesama kami…bahkan ketika hal itu serasa mustahil dilakukan!   

 

***

 

Ah, teman…

Kidung itu tak memanggul seluruh niat, juga niatnya sendiri, karena ia sebenarnya hanyalah mencoba… mencoba untuk pergi pada yang Maha Cinta. Kidung kita adalah sesuatu yang kita kirim pergi, “agar membawa pulang sesuatu yang mustahil” tanpa harus jadi hilang tujuan. Tuhan bukanlah kepastian, teman! Kidung kita melagukan Dia sebagai sebuah harapan…sebuah harapan yang seperti mata pancing mengail iman dan cinta pada Yesus Kristus, Tuhan dan Sahabat kita. Amin!

 

Fitrah Sosial: Narasi Ketupat dan Sate Padang bagi Seorang Katolik

Image

Selalu datang kabar yang menarik dari Vatikan – pusat Gereja Katolik semesta – di akhir bulan Ramadhan. Di penghujung bulan yang suci itu, Tahta Suci melalui Badan Kepausan bagi Dialog Antar-Iman menyampaikan salam dan pesan Idul Fitrinya bagi umat Muslim seluruh dunia dalam sebuah surat terbuka.  Dalam tiga tahun terakhir ini, pesan utama surat terbuka ini dilatar-belakangi oleh keprihatinan yang sama: eskalasi konflik antar umat Kristen dan Muslim yang berujung pada banyak tragedi. Pada perayaan Idul Fitri 1433 H ini, Tahta Suci mengusung pesan agar diciptakan pendidikan keadilan dan perdamaian bagi orang muda, baik Kristen maupun Muslim. Saya bertanya-tanya dalam hati: dapat relevankah bagi saudari-saudara Muslim Indonesia, pesan ini yang, tidak hanya datang dari orang beriman lain, tetapi juga dari latar ‘Barat’ yang memiliki definisi dan sejarah (kelam) sendiri mengenai ‘keadilan dan perdamaian’?

Narasi Riil bagi Keadilan dan Perdamaian

Sebagai seorang muda beriman Katolik di negeri dengan mayoritas penduduk Muslim, saya mengalami bahwa pendidikan ‘keadilan dan perdamaian’ itu jauh lebih dulu saya ketahui dari tetangga saya daripada dari Jean-Francis Kardinal Tauran, sang penulis pesan tahunan ini. Tanpa bermaksud mengecilkan Kardinal Tauran, saya mengalami lezatnya perdamaian dari Ayuk Sa’idah yang selalu mengirim ketupat lengkap untuk keluarga kami tiap lebaran dan harumnya keadilan dari bonus tiga tusuk sate padang dari Uda Ahmad di depan sekolah saya dulu. Ketupat dan sate padang untuk analogi bagi konsep perdamaian dan keadilan dari Vatikan? Terlalu dekat dengan perut-kah pernyataan saya ini? Ya, bahkan mungkin teralu ‘keduniawian’!

Saya memang hendak menunjukkan bahwa, (1) ‘perdamaian dan keadilan’ bukanlah konsep abstrak dengan pengertian tunggal saja dan (2) konsep ini memang harus berurusan dengan perut, dengan hal yang sering diklaim oleh kelompok agamawan yang hidup dalam paham dualis sebagai ‘duniawi’. Pendidikan ‘perdamaian dan keadilan’ bagi orang muda – baik Kristen maupun Muslim – mestinya tidak dimulai dari narasi-narasi metafisik yang datang dari teori melulu. Pendidikan yang menentukan karakter ini mestinya mulai dari keterbukaan pada narasi riil akan makna adil dan damai yang bertaburan di antara kita. Orang muda saat ini lelah dengan teori yang mereka telah hapalkan sejak mulai dapat membaca. Mereka merindukan pengalaman damai yang terselip dalam senyuman orang beriman lain yang memberi salam di depan pintu kita dan yang tetap mengampuni walau gereja mereka dibakar. Mereka rindu mengalami narasi riil tentang keadilan yang terlihat secara karitatif saat memberi derma pada fakir miskin atau secara struktural turut dalam demonstrasi melawan perusahaan pencemar lingkungan hidup.

Perjumpaan dengan konsep riil perdamaian dan keadilan inilah yang mestinya dipikirkan, digagas dan diwujudkan oleh lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia – apalagi di tengah formalisme agama dan makin tebalnya sekat sosial akibat ketidak-merataan hasil pembangunan. (Alm.) Rm. Mangunwijaya pernah melontarkan ide untuk membubarkan Seminari Menengah – sekolah tempat para calon pastor dididik. Seminari dinilainya mengasingkan orang dari masyarakatnya, dari mereka yang mesti dilayaninya. Tembok-tembok seminari menjadi suaka dari realitas kemiskinan yang merajalela dan korupsi yang menggurita, sehingga mereka yang di dalamnya seolah tinggal dalam goa platonis. Kritik Rm. Mangun ini ada mungkin ada benarnya. Beliau seolah hendak mengatakan: pendidikan perdamaian dan keadilan hanya terwujud bila orang punya pengalaman dasar bahwa dunia bisa menjadi lebih baik lewat apa yang saya lakukan bersama mereka yang lain iman, suku dan rasnya.

Persentuhan dengan narasi riil ini mestinya juga didukung dengan fondasi teologis yang juga berakar pada soal-soal dunia, pada soal-soal orang hari ini! Salah satu keprihatinan saya atas tayangan religius yang marak di televisi saat bulan Ramadhan yang lalu adalah maraknya ide bahwa kemenangan di penghujung Ramadhan hanya bersifat rohani-individualistis yang kelak cukup diganjar dengan surga beragam-warna. Padahal, saya sangat meyakini bahwa Idul Fitri tidak berhenti pada level personal saja, tetapi menjadi ‘spiritualitas’ – ‘roh atau semangat yang menggerakkan orang dari dalam’ – untuk bertindak nyata menciptakan tata sosial yang lebih baik, yang sesuai dengan fitrahnya.

Transendensi Menuju Fitrah Sosial yang Bhinneka

Salah satu fondasi teologis yang kuat untuk digunakan sebagai dasar dalam pendidikan keadilan dan perdamaian ini justru terletak secara istimewa pada makna Idul Fitri sendiri. Baik umat Kristen dan Muslim meyakini bahwa manusia diciptakan dalam fitrah, dalam keadaan yang suci dan baik – sebuah keadaan yang mencerminkan sifat sang Pencipta sendiri. Itu sebabnya, mereka seharusnya bersama-sama berjuang demi kemanusiaan yang telah disucikan oleh sang Khalik sendiri.

Kesucian ini tidak hanya harus menyentuh level personal, tetapi juga sosial. Di Indonesia lebih-lebih, soal kesucian dalam tata sosial ini pertama-tama berkutat pada soal pengakuan dan penerimaan kehadiran liyan. Tata sosial yang adil dan damai memerlukan kemampuan transendensi diri – kemampuan mengatasi batas-batas diri sebagaimana diteladankan dengan amat mulia oleh saudari-saudara Muslim ketika berpuasa. Kemampuan ini membuat orang mampu meletakkan diri pada posisi orang lain – dan sungguh ‘lain’ karena perbedaan iman, latar belakang dan suku – dalam empati dan solidaritas.

Bhinneka bukan alasan untuk tak mengenali sucinya Pencipta dalam mereka yang beriman lain dan mereka yang masih harus berpikir untuk mendapat tambahan seribu rupiah demi lauk anak-istrinya. Setelah momen  Idul Fitri yang penuh sukacita dan kebersamaan ini, baiklah kita mengambil ruang hening untuk bertanya: masihkah kita mau berjuang untuk kebenaran dan kebebasan yang membuat orang lain makin dihargai sebagai pribadi yang diciptakan Allah?

Dunia akan terus berputar dan – tentu saja –  liburan agung ini akan usai. Waktu jugalah yang menantang kita pada akhirnya untuk tetap menyematkan kemenangan sebagai ciptaan yang bermartabat mulia dengan tindakan nyata di tengah masyarakat yang plural. Pendidikan bagi keadilan dan perdamaian? Ah, engkau dan saya tahu sekali bahwa ada begitu banyak kesempatan untuk mencapai fitrah kita, setiap hari. Tentu saja, seperti ditulis Kardinal Tauran dalam pesan terbukanya tahun ini, semua ideal ini membutuhkan keteguhan, kesabaran dan banyak sekali rahmat Allah untuk dapat direalisasikan! Selamat Hari Raya Idul Fitri, teman!

 

Albertus Joni, SCJ