Iman dan Kearifan Panggilan

HOMILI PAUS FRANSISKUS

MISA PENUTUPAN SIDANG UMUM BIASA SINODE TENTANG KAUM MUDA, BASILIKA SANTO PETRUS, VATIKAN, 28 Oktober 2018

Bacaan Ekaristi : Yer. 31:7-9; Mzm. 126:1-2ab,2cd-3,4-5,6; Ibr. 5:1-6; Mrk. 10:46-52.

Kisah yang baru saja kita dengar adalah kisah terakhir dari kisah-kisah penginjil Markus yang berkaitan dengan pelayanan keliling Yesus, yang akan memasuki Yerusalem untuk wafat dan bangkit. Bartimeus dengan demikian adalah orang terakhir dari orang-orang yang mengikuti Yesus di sepanjang jalan : dari seorang pengemis di sepanjang jalan menuju Yerikho, ia menjadi seorang murid yang berjalan bersama murid-murid lainnya dalam perjalanan menuju Yerusalem.. Kita juga telah berjalan saling berdampingan; kita telah menjadi sebuah “sinode”. Injil ini memetereikan tiga langkah dasariah dalam perjalanan iman.

Pertama, marilah kita membahas Bartimeus. Namanya berarti “anak Timeus”. Begitulah cara Injil menggambarkannya : “Bartimeus, anak Timeus” (Mrk 10:46). Namun anehnya, ayahnya tidak didapati. Bartimeus sendirian di pinggir jalan, jauh dari rumah dan tanpa ayah. Ia tidak dicintai, tetapi terabaikan. Ia buta dan tidak punya siapa-siapa untuk mendengarkannya. Yesus mendengar permohonannya. Ketika Ia datang kepadanya, Ia membiarkannya berbicara. Tidaklah sulit menebak apa yang diinginkan Bartimeus : jelas, orang buta ingin melihat atau mendapatkan kembali penglihatannya. Tetapi Yesus meluangkan waktu; Ia meluangkan waktu untuk mendengarkan. Inilah langkah pertama dalam membantu perjalanan iman : mendengarkan. Mendengarkan adalah kerasulan telinga : mendengarkan sebelum berbicara.

WORLD YOUTH DAY KRAKOW

Continue reading “Iman dan Kearifan Panggilan”

Advertisements

Mukjizat di Ujung Sedotan Plastik

26 Juni 2016. Minggu pagi itu berlalu begitu cepat.

Misa akhir pekan untuk beberapa stasi di pedalaman Tulangbawang, Lampung, kututup dengan survei Gereja yang akan dibangun oleh Yayasan Vinea Dei. Kebetulan, di minggu ini saya tak sendirian. Albert Gregory Tan, orang muda inspiratif pendiri Yayasan Vinea Dei ini menemani perjalananku melewati hutan-hutan karet Sumatra yang berlumpur. Sahabat dapat membuka web Yayasan sosial Katolik ini di peduligerejakatolik.org.

13626450_1309712262390283_1856975725443586683_n
Albert Gregory Tan – OMK pendiri Yayasan Vinea Dei – bersama rekan-rekan volunteer telah membangun lebih dari 100 gereja di 25 Keuskupan seluruh nusantara!

Kebetulan, saya juga menjadi salah satu pengawas Yayasan luar biasa ini. Yayasan ini semua dimotori oleh orang muda Katolik ragam latar belakang dan bergelut membangun gereja di tempat yang jauh dan terpencil di seluruh pelosok nusantara.

Di tengah hari, saya bersiap mengantar Albert Tan kembali ke bandara yang berjarak 3,5 jam dari paroki. Dalam perjalanan kami, Rm. Sriyanto SCJ – yang akrab kupanggil Romo Sri, hahaha – menelponku:

“Bro, apakah bisa membantu memberi baptisan anak di RSUD Tulangbawang? Jaraknya jauh sekali dari Mesuji…” tanya beliau. Maklumlah, Paroki St. Andreas Mesuji adalah paroki paling utara di Keuskupan Tanjung Karang.

IMG-9261
Perjalananku untuk pelayanan Ekaristi: setia dengan motor Scorpio, sandal jepit dan tas misa berisi hosti dan anggur 🙂

“Oh ya Mas, kebetulan kami akan lewat RSUD dalam perjalanan ke bandara,” ujarku. Puji Tuhan, di dalam mobilku yang masih penuh bekas lumpur, masih tersimpan stola dan minyak suci. Firasatku mengatakan anak yang akan kubaptis ini pasti sudah parah sakitnya.

Benar saja. Saya dan Albert disambut oleh ibu dari anak ini. Sang ibu masih pucat dan matanya terlihat sembab. Saya tak menyangka bahwa “anak” yang dimaksud oleh Romo Sri ternyata adalah bayi yang baru saja dilahirkan dalam kondisi prematur. Hatiku trenyuh. Ya Tuhan, bayi laki-laki ini kecil sekali; mungkin seukuran kepalan tanganku. Ia berada dalam inkubator dengan banyak selang: infus, oksigen, selang sonde ke dalam mulutnya…

Continue reading “Mukjizat di Ujung Sedotan Plastik”

Kakiku Milik Bunda Maria

 

fatima-en-fondo-negro
“Totus tuus” – “Semua milikmu, ya Maria!” adalah motto Bapa Suci St. Yohanes Paulus II

 

Saat masih kecil, kaki kanan saya tiba-tiba menjadi menekuk kaku sepulang dari bermain sepeda di rumah teman. Saya ingat betul Mama, Papa dan seisi rumahku menjadi heboh karena saya – yang masih berusia sembilan tahun saat itu – berteriak kesakitan saat berusaha bangun dari tempat tidur dan meluruskan kakiku.

Tukang urut segera dicari. Saya menangis makin keras saat Mbah Putri tukang urut itu mulai berusaha meluruskan lutut kananku. Rasa sakit luar biasa menjalar sampai di ubun-ubunku. Karena tubuhku terlihat ringkih dan tangisanku makin menjadi, sang nenek tukang urut jadi ciut nyalinya. Ia pun mengatakan tidak sanggup dan tidak sampai hati.

 

Tak dapat diterangkan

Mama mengantarku ke Rumah Sakit dengan segera. Rontgen dilakukan. Janji dengan dokter spesialis tulang dan syaraf juga dibuat. Hasilnya? Mereka tidak menemukan apapun yang salah dengan kaki saya. Second opinion juga menunjukkan hasil yang serupa. Dan dari sana perjalanan panjang berbulan-bulan untuk mencari kesembuhan-pun di mulai.

Saya yang masih duduk di kelas 4 SD harus dipapah dan digendong untuk masuk kelas. Saya harus belajar menggunakan kruk untuk berjalan. Sepulang sekolah, saya masih harus pergi ke aneka dokter, tukang urut, shinse (ahli pengobatan Tiongkok) hingga ke macam-macam dukun (ya… dukun! Ha ha ha …).

Continue reading “Kakiku Milik Bunda Maria”

Singa Tanpa Auman

www.romokoko.org

Alkisah, hiduplah seekor singa yang tidak bisa mengaum. Di balik penampilannya yang gagah dan kokoh, sang raja padang rumput itu tidak mampu menggetarkan lawannya dengan suara yang dalam. Si Singa sejak masa kecilnya telah menemukan bahwa ia tidak bisa mengaum – namun tidak ada hewan lain di sekitarnya yang mengetahui hal ini. Si Singa tumbuh besar dengan suara yang lembut dan karenanya tidak ada hewan yang takut bermain di sekitar si Singa besar ini. Ia justru mendapatkan rasa hormat dari hewan lain karena si Singa selalu bertutur kata sopan dan lebih memilih untuk mendengarkan keluhan sahabat-sahabatnya.

Scott Randal

Sampai di suatu hari, seekor babi hutan muda membuat onar seluruh warga padang rumput. Babi hutan ini berani melanggar batas dengan merusak ladang manusia dan menyerang anak-anak hewan lain. Semua hewan datang mengeluh pada si Singa yang terkenal bijak dan lembut itu. Akhirnya si babi muda digiring menghadap si Singa dan semua hewan lain menunggu nasihat apa yang akan dikatakan oleh Raja mereka.

Mulailah sang Singa menasihati si babi muda pembuat masalah itu. Alih-alih menyesal, si babi menertawakan si Singa yang ‘terlalu lembut’. Merasa terhina, si Singa murka dan nalurinya untuk mengaum berkobar-kobar… namun ia seketika sadar dirinya tidak bisa mengaum.

Continue reading “Singa Tanpa Auman”

Tiga Alasan Mengapa Tidak Perlu ‘Terlalu Marah’ Pada Pelaku Perusakan Gedung Gereja

Oleh: Rm. Albertus Joni SCJ ~ Sacred Heart Seminary and School of Theology, USA

facebook_1520506965004

  1. … karena Tuhan Yesus sendiri anti-kekerasan!

Gedung gereja memang menjadi simbol dari kehadiran Tuhan di tengah kita. Bila ia dirusak dan dihancurkan, wajar bila hati kita terusik dan tergelitik oleh amarah. Namun demikian, amarah – dalam kadar rasional – tidak boleh memicu rasa panik dan tindak kekerasan apapun sebagai bentuk balas dendam. Amarah kita tidak boleh membuat kita gagal menjadi pribadi yang welas-asih dan pemaaf. Kita tentu tidak asing dengan sabda Tuhan Yesus ini: “…tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Mat 5:39).

Bila kita merasa marah dan merasa perlu ‘membela Tuhan’ dengan balik menghancurkan, balas menjelekkan dan melukai hati saudara-saudari yang beriman lain, dengan sendirinya, kita tidak lagi menjadi Kristiani!

Continue reading “Tiga Alasan Mengapa Tidak Perlu ‘Terlalu Marah’ Pada Pelaku Perusakan Gedung Gereja”

“Si Tukang Kayu Misterius …”

#SoulBites 2.0

Tahun 1873 di sebuah desa di Amerika Utara. Para suster Loretto kebingungan. Mereka kekurangan satu tangga naik menuju balkon koor di dalam kapel yang baru dibangun. Tangga dengan model biasa seperti yang kita gunakan untuk memanjat pohon tidak bisa mereka pakai. Maklum, para suster mengenakan jubah panjang. Mudah sekali menginjak jubah sendiri lalu terpeleset saat memanjat tangga. Belum lagi kalau ada nakal yang berusaha mengintip rok para suster, hahaha… Sayang, sisa ruangan begitu kecil hingga tak mungkin membuat sebuah tangga beton.

Loretto-Chapels-spiral-staircase

Akhirnya, mereka memutuskan untuk berdoa Novena kepada St. Yosef. Pada hari kesembilan doa Novena, muncullah seorang asing yang kusam baju namun kuat dan gagah penampilannya. Ia mengatakan akan membangun tangga untuk para suster dengan syarat ia butuh privasi selama tiga bulan. Para suster Loretto tidak yakin karena alat-alatnya sangat primitif: sebuah gergaji dan pahat-palu tua. Lebih aneh lagi, si lelaki misterius itu hanya meminta air hangat setiap hari.

Continue reading ““Si Tukang Kayu Misterius …””

“Pengertian yang Lebih Mendalam…”

#SoulBites 2.0

Seorang profesor peneliti biota laut sedang menertawakan awak kapal yang bahkan tidak lulus SD. Si Prof dengan kacamata sedikit turun bertanya meremehkan: “Apa kau pernah belajar zoologi, biologi atau fisiologi?” Sang pelaut muda itu menjawab santun: “Tidak, Tuan! Saya bahkan tak lancar membaca…” Sang Prof terbahak tertawa dan berlalu sambil berkata: “Oh Tuhan! Anak muda ini akan mati karena buta huruf…”

IMG_7333

Continue reading ““Pengertian yang Lebih Mendalam…””

“Asuransi yang Menyembuhkan…”

#SoulBites 2.0

image

Ibu paruh baya itu berlutut cukup lama mengakukan dosanya dan telingaku – yang tak begitu baik kualitasnya – mulai lelah mendengarkan ratusan jenis dosa. Sampai di ujung pengakuannya, sang ibu bertutur: “Romo, saya menyesal dan saya mohon asuransi yang berguna bagi jiwa saya…” Sambil berusaha menenangkan diriku, saya berujar: “Bu, penitensi atau asuransi yang Anda minta?” Dan sekali lagi, dengan mantap ibu itu menjawab sambil menatap dalam mataku: “Asuransi, rom!”

Continue reading ““Asuransi yang Menyembuhkan…””

“Wajah Tuanku…”

#SoulBites 2.0 – 14 Feb 2016

Seorang sahabat berkisah tentang anjingnya, Hera, yang dilatih untuk berpantang daging di masa Prapaska ini. Awalnya sulit sekali melatih Hera. Tiap kali daging diletakkan di tanah, Hera langsung menyambarnya. Namun setiap kali pula Hera mendapatkan pukulan disiplinnya hingga ia mengerti bahwa daging tak boleh ia sentuh…betapapun menggodanya.

image

Hera punya trik sendiri agar ia tak tergoda dengan potongan daging merekah itu. Ia hanya sekali curi pandang ke arah daging lezat lalu mendongak ke atas, tak mau melihatnya. Ya, Hera memilih melihat selalu ke atas, berfokus pada wajah tuannya…

Continue reading ““Wajah Tuanku…””

“Berenikhe”

#SoulBites 2.0 – 12 Feb 2016

Para wanita pasti mengenal derita bulanan yang rutin datang. Bagi wanita muda bernama Berenikhe ini, derita ini jadi jauh lebih hebat karena ia mengalami perdarahan yang konstan. Tubuhnya melemah.

image

Ia kekurangan zat besi dan mineral karena darah dari rahimnya mengalir tetap. Orang-orang sebangsanya mengatakan bahwa ia kena tulah dan hukuman Allah.

Continue reading ““Berenikhe””