Superman di Balik Altar: Mengapa Saya Menjadi Imam-Religius untuk Hati Yesus

Saat saya kecil, salah satu super-hero yang lekat dalam hidup saya adalah Superman. Saya ingat saat Mama membeli baju Superman lengkap dengan mantel merah menyala untukku yang berusia 5 tahun. Saya ingin menjadi Superman yang kuat, yang bisa terbang dan yang selalu menolong orang lain.

Kisah panggilanku: “Romo Koko”

Saat saya berusia 8 tahun, saya perlahan mengerti bahwa Superman adalah tokoh kartun dan bukan sosok nyata. Saya sedikit kecewa dengan kenyataan bahwa Superman adalah tokoh fiksi (hahaha… mungkin teman-teman juga pernah mengalami rasa kecewa yang sama).

Namun, di usia yang sama, saya mulai sadar bahwa ada Superman lain dengan mantel warna-warni yang indah: para Imam di balik altar. Mereka memakai jubah bersayap yang sangat mirip dengan sayap Superman – walau celana dalamnya para Romo tidak kelihatan di luar seperti Superman hahahaha!

 

O gosh, bagi saya yang berusia 9 tahun, the priests do look like a Superman!

And I wannabe one of them!

 

“Tragedi Wafer Sakti”

Saya juga ingat bahwa saya ingin sekali ikut mencicipi ‘wafer’ tipis yang diangkat oleh para imam dan yang selalu dibagikan ke semua umat. Saya belum menerima Komuni Pertama karena masih terlalu muda. Suatu Minggu, saya mencoba merengek meminta Hosti Suci pada Mama saya – dan saya nekat berusaha merebutnya dari tangan Mama. Saya pikir: “Wafer sakti itulah yang dapat membuat saya cepat besar dan segera menjadi seperti sang Romo!”

 

“Plak!!!”

Tangan Mama tak segan mendarat di ubun-ubunku!

Mata mamaku mendelik murka – bayangkanlah sejenak betapa sulitnya seorang Mama Tionghoa berusaha melotot demi menampakkan ekspresi geramnya, hahahaha…

Continue reading “Superman di Balik Altar: Mengapa Saya Menjadi Imam-Religius untuk Hati Yesus”

Advertisements

“Senyum seorang Imam…”

#SoulBites 2.0 | 19112015

Saat saya berjumpa dengan romo Sepiono SCJ, hal yang paling kuat membekas adalah senyum tulusnya. Ia adalah romo dengan senyum yang meyakinkan kita bahwa dunia ini masih layak ditempati…

image

Padahal, sahabatku, paroki tempatnya bertugas terletak lebih jauh dari tempatku berkarya. Medan pelayanannya berat…ah ya, per mobilnya baru saja patah karena jalan yang terlampau buruk untuk dilalui… Di pedalaman Sumatera ini, saya belajar banyak dari sosok imam SCJ yang sederhana ini.

Continue reading ““Senyum seorang Imam…””

Andai Keajaiban itu Datang…

a tribute to Martin by Fra. Tugi SCJ

Fra. Tugi SCJ (Penulis)
Fra. Tugi SCJ (Penulis)

Suatu siang dipertengahan musim panas Juni 2012, sebuah mobil Mitsubhisi warna putih meluncur dari arah Pamulang menuju Wisma Bambu Apus.  Di dekat sebuah tikungan, mobil itu belok dan memasuki pintu gerbang rumah bercat putih. Beberapa saat setelah klakson berbunyi tampak keluar seorang anak lelaki usia 20-an berbaju coklat membukakan pintu. Dia adalah Martin, salah satu anak penghuni Wisma Bambu Apus.

Martin adalah anak yatim piatu yang dilahirkan di Jakarta 1984. Suatu yang istimewa adalah tanggal kelahirannya yaitu 25 Desember. Bagi orang Kristen tentu saja tanggal dan bulan itu merupakan suatu Kabar Sukacita dan hari yang penuh rahmat. Tetapi Martin dilahirkan dalam situasi yang kurang menguntungkan baginya. Dia memiliki penyakit epilepsy, gangguan pendengaran, jalannya yang agak miring dan bicaranya kurang jelas. Namun, dalam kondisi seperti itu Martin sangat rajin dalam melayani komunitasnya. Dari bangun pagi hingga menjelang dia tidur, Martin tak pernah lupa mengerjakan tugas  yang dipercayakan kepadanya.

Ketika sebuah mobil Mitsubhisi warna putih itu berhenti di depan rumah dan membunyikan klakson dua kali, dengan langkahnya yang agak sedikit tertatih Martin berlari kecil menyahut kunci pintu yang tergantung di sebuah paku dekat almari TV. Beberapa Frater yang seringkali menyaksikan semangat Martin sering merasa terharu. Ada perasaan melayang-layang, berandai-andai dan terkadang air mata pun jatuh tatkala menyaksikan Martin yang dengan keterbatasannya melakukan hal-hal sederhana menjadi luar biasa.

“Seandainya dapat kulakukan, aku ingin berlari secepat angin ataupun kereta bawah tanah. Aku juga ingin terbang seperti burung yang mengintari danau dan melompat dari ranting ke ranting. Tetapi Tuhan mengaruniakan padaku sesuatu lebih dari apa yang mungkin dimiliki orang lain. Dengan segenap kekuranganku, ternyata Kau tetap dapat memperhatikan sesamaku yang ada dalam keluarga tercinta Bambu Apus ini”.  

Mungkin kata ini akan terucap dari bibir Martin, jika dia dapat menceritakan isi hatinya dengan terbuka. Martin mampu menyimpan perkara-perkara besar dalam hatinya, dan sungguh yakin bahwa semangatnya yang besar dalam melayani dijiwai oleh suatu ketulusan dari lubuk hati yang dalam.

Musim liburan hampir tiba dan tiba saat bagi Martin untuk mengambil raport.

’Hoqeee,,, qigak aga ngiai meqrahnga”. Suatu kata yang asing didengar pada lazimnya diucapkan Martin. Sebenarnya dia ingin mengatakan, “Horeee,,,, tidak ada nilai merahnya”. Suatu ungkapan kegembiraan dari hati Martin yang paling dalam terlihat saat itu. Para Frater pun ikut merasa bahagia melihat anak-anak yang lain juga ada yang merasa bangga, tetapi ada juga yang terlihat sedikit murung ketika membuka-buka rapor mereka. Pak Peno sebagai pendamping asrama juga merasa senang, karena keberhasilan anak-anak juga keberhasilan semua keluarga Bambu Apus.

Malam hari ketika selesai makan, tugas utama Martin adalah mencuci peralatan makan. Saat itu Frater Gie dan dua Frater lainnya membantu tugas Martin. Tiba-tiba pada langit yang gemerlap oleh bintang-bintang terdapat suatu cahaya terang sebesar bola ping pong yang melesat dengan begitu cepat.

“Oh,,, ada bintang jatuh”, kata frater Gie.

“Hqa,,,, aqkwa?”, (maksud Martin adalah “Ha…apa..?”).

“Bintang jatuh!”, kata Frater Gie lebih tegas.

Konon ketika ada hujan meteor atau ada bintang jatuh katanya setiap orang yang melihatnya boleh mengucapkan suatu permohonan. (Orang-orang yang tidak melihat bintang jatuh juga boleh saja mengucapkan permohonan dan harapannya. Jadi, tidak perlu menunggu bintang jatuh). Hal itu hanya suatu kepercayaan yang tidak perlu diyakini, tetapi kesempatan itu digunakan Frater Gie untuk menyemangati Martin.

“Martin,,,  Martin,, coba lihat bintang itu”!.

“Hnga,,,, ungkuk anga?”. (Ha,,, untuk apa?)

“Ketika menyaksikan bintang jatuh, kamu dapat membuat suatu harapan besar!”.

Frater Gie mencoba menghibur dengan kata-kata itu, tetapi rupanya saat itu Martin belum mengerti maksud Frater Gie. Semua yang turut mencuci piring hanya tertawa, tetapi Martin masih terlihat dengan wajahnya yang terbesit suatu pertanyaan tentang bintang jatuh itu. Setelah selesai mencuci piring, semua anak dan para Frater masuk ruang doa untuk berdoa bersama.

Martin adalah namaku...
Martin adalah namaku…

Martin yang dengan segenap keterbatasannya pula tidak pernah terlambat dalam berdoa. Mungkin banyak anak zaman ini yang walaupun hidupnya serba berkecukupan dan memiliki jasmani yang lengkap terkadang masih tetap memiliki kekurangan, di antaranya sedikit lupa bersyukur. Ketika selesai berdoa malam, Martin pun segera masuk kamar. Dia tidak memiliki kebiasaan seperti anak-anak lain yang seringkali menghabiskan waktu mereka sampai larut untuk main Play station. Ketika teman-temannya tertawa karena serunya permainan itu, mungkin Martin sudah tidur bersama mimpi-mimpinya.

Di pagi hari ketika matahari mulai terbit, Martin telah mengumpulkan pakaian-pakaian temannya yang lebih berkesulitan. Ada pakaian yang kotor karena temannya yang mengompol, ada yang kotor karena keringat, air liur dan sebagainya. Satu bak penuh setiap harinya. Oh… tapi tunggu dulu. Tidak hanya itu saja. Martin juga mendapatkan giliran menyapu dan mengepel lantai. Frater Gie dan para frater lain menjadi saksi, bahwa Martin selalu mengerjakan tugas itu tanpa keluhan tetapi penuh dengan semangat pelayanan yang tulus ikhlas. Suatu cinta yang rela berkurban dan layak menjadi teladan bagi setiap orang. Bagi komunitasnya betapa setiap saat Martin begitu berharga meskipun kecil.

Bagaikan seorang pengembara yang mempunyai tujuan yang jauh, begitu juga terkadang pikiran melayang jauh tanpa batas. Jika saat ini banyak anak usia Sekolah Dasar berlomba dengan segudang cita-cita mereka yang tinggi, begitu juga Martin terkadang memiliki cita-cita yang tinggi walaupun hanya tinggal dalam angan-angan. Martin ingin dipeluk oleh Mama dan Papa, Martin juga ingin bermain bersama teman-teman. Martin ingin merasakan berlari dan memakai sepatu roda. Ingin mendaki bukit yang tinggi dan menyentuh awan. Tapi itu semuanya hanya tinggal mungkin. Mungkin di luar sana milyaran mata tertawa ketika langit menjadi cerah bersama harapan setiap orang. Tetapi menyaksikan Martin yang berjalan saja sulit maka keindahan itu akan tampak menjadi langit yang selalu keruh dengan mendung hitam menggelayut seperti habis hujan. Itulah yang akan dirasakan seseorang ketika menyaksikan kehidupan Martin.

Suatu hari sekolah Luar Biasa Pamulang yang merupakan tempat sekolah Martin dan teman-teman mengadakan olahraga bersama. banyak orang hadir, baik siswa maupun pendamping. Saat itu terlihat semuanya antusias menyiapkan sarana olahraga dan membawa alat-alat masing-masing. Di sudutsudut lapangan tampak beberapa orang yang memutar-mutar badannya melakukan pemanasan. Ada pula yang berlari-lari kecil mengelilingi lapangan. Tetapi yang tampak dilakukan oleh Martin adalah memegang sapu dan mengayunkannya pada daun-daun dan sampah yang berserakan di lapangan. Meskipun setiap orang dapat membuat pilihan masing-masing yang menurut mereka baik untuk dilakukan saat itu, ternyata Martin telah memilih yang terbaik.

Pada suatu malam di dalam kamar yang ditempati Martin bersama teman-temannya timbul suatu kegaduhan. Tempat tidur yang ditiduri Martin bergerak seperti ada gempa bumi besar. Saat itu ternyata Martin mengalami kejang. Seluruh badannya kaku dan matanya melotot kencang seperti seorang yang sedang marah. Begitulah dia ketika epilepsinya kambuh. Namun dalam keadan seperti itu juga tidak aka nada yang menolongnya, karena pada saat seperti itu memang tak ada yang dapat dilakukan orang-orang yang di sekitarnya kecuali menjadi penonton. Hal itu akan terjadi kurang lebih selama tiga menit. Rasa sakit yang luar biasa akan dialami oleh Martin. Hanya obat Tegretol  (obat untuk ayan), yang dapat membantu mengatasi sedikit rasa sakitnya itu pun harus diminum setiap hari dan jangan sampai terlambat.

Di antara perjuangan Martin menghadapi penyakitnya ada seorang pendamping yang juga hadir memperhatikannya. Pak Peno selalu mendoakan Martin dan membantu dia supaya selalu kuat dalam menghadapi penyakitnya. Walaupun harus membagi waktu bersama keluarga, pak Peno selalu hadir dengan penuh kasih bagi  Martin dan teman-temannya.

“Jangan sampai ada satu orang pun yang kekurangan cintakasih”.

Itulah kalimat pak Peno yang selalu diingat oleh frater ketika pak Peno melayani anak-anak yang diasuhnya termasuk Martin. Dalam komunitas keluarga Bambu Apus tampak suatu rasa memiliki dan persaudaraan yang besar. Hal itu pula selalu ditampakkan dalam diri Martin ketika berada ditengah teman-temannya. Sayang sekali tidak setiap kegiatan dapat diikuti oleh Martin.

Suatu hari komunitas Bambu Apus mengadakan rekreasi ke pantai Salyra Jawa Barat. Tampaknya perjalanan yang lumayan jauh pun menggembirakan, walau ada yang tertidur dalam perjalanan. Cuaca langit yang cerah menambah semangat untuk bermain di pantai. Ketika sampai di tempat parker, minibus yang ditumpangi mereka berhenti dan anak-nak langsung turun untuk berganti pakaian renang. Tidak ketinggalan para frater yang saat itu sedang Live in turut bermain bergembira di pantai. Mereka berenang, bermain ombak dan pasir. Tetapi Martin hanya dapat melihat dari pinggir pantai dan tidak dapat merasakan kegembiraan seperti temannya yang lain. Sekali-sekali Martin tersenyum melihat tingkah temannya yang lucu ketika tidak dapat berenang.

Suatu kali terlihat Martin yang sedang melamun ketika duduk di sebuah gundukan batu karang menatap laut.

“Bersama teman engkau takkan kesepian

Hari-hari akan kembali

Tidak peduli dekat atau jauh

Aku mengangkat segenap cinta untuk mendorong angin dan hujan

Untuk selalu menahan badai

Aku percaya mimpi yang kusut tidak pernah berarti

Pelukan erat dan keberanian akanselalu mendorongku

Satu kata satu kehidupan

Ada kesepian ada keluh kesah

Jika engkau punya sahabat sejati maka engkau akan tahu

Badai akan berlalu dan hujanpun akan pergi

Berjalan keluar dari kabut

Berlari untuk melihat bintang-bintang

Menunggu matahari setelah hujan

Ada luka ada rasa sakit

Ada perpisahan

Aku selalu ada”.

Mungkin syair lagu itu yang dinyanyikan Martin ketika dalam lamunannya. Walaupun tiada orang tua kandungnya, tetapi teman-teman Martin selalu ada. Untuk saat yang baik atau saat buruk, Martin juga selalu ada bersama keluarga Bambu Apus. Para frater yang sedang Live –in di sana pun melihat suatu cerita indah tentang besarnya arti persahabatan yang terjalin akrab di antara Martin dan teman-temannya. Sungguh hal itu menjadikan suatu pengalaman berharga. Sesudah anak-anak merasa capai bermain air, pak Peno mengajak mereka dan para frater untuk beristirahat. Setelah selesai bersantap siang, rombongan masuk kembali ke dalam mobil minibus yang dikemudikan pak Leo. Di sepanjang perjalanan itu, semuanya tertidur, kecuali pak Leo sendirian.

Hari berikutnya adalah hari-hari yang semakin sepi bagi Martin begitu juga dengan keluarga Bambu Apus. Beberapa dari mereka yang masih memiliki orang tua ternyata dijemput untuk berlibur di rumah masing-masing. Itu artinya bagi Martin harus siap untuk menggantikan tugas mereka. Tetapi para frater yang ada di sana ternyata juga peka akan keadaan, sehingga turut ambil bagian meringankan beban Martin. Beberapa tugas seperti mengelap kaca jendela, menyapu lantai, mengepel, dan menyiram bunga akhirnya dibagi bersama-sama.

Suatu kesempatan yang menyenangkan bagi Martin adalah ketika ada kunjungan. Meskipun sekolah libur, tetapi seringkali ada kunjungan dari suatu lembaga instansi pendidikan atau pekerjaan. Yang menyenangkan adalah mereka terkadang menghibur dengan membawa pemain sulap atau membagi makanan ringan. Setiap kunjungan usai, ingin rasanya Martin memutar waktu yang tinggal kenangan ketika suasana itu sudah lewat darinya.

Pada Minggu kedua di pertengahan Juli, tibalah waktunya juga bagi para frater untuk kembali ke Jogja. Saat itu cuaca Jakarta cukup panas karena memang musim kemarau. Di hari itu Martin juga tampak sedih karena harus ditinggalkan oleh para frater yang akan kembali ke Jogja.

“Nangki kangau ugah sangai gangang ngupa nga”, (nanti kalau sudah sampai jangan lupa ya). Itulah pesan Martin kepada para frater.

“Oh,,, tentu saja Martin,,, kami akan selalu ingat kalian semua”. Jawab salah seorang frater. Akhirnya setelah mereka berpelukan dan saling melambaikan tangan, para frater meninggalkan rumah Bambu Apus dan Martin pun melangkah menuju kamarnya untuk istirahat. Pukul tiga sore Martin bangun dan kembali melaksanakan tugas-tugasnya dalam komunitas. Suatu pelayanan bagi Tuhan yang dilakukan oleh Martin melalui sesamanya sungguh berharga di mata dunia yang melihatnya. Hanya suatu harapan yang indah dan mungkin juga diharapkan yaitu jika keajaiban mungkin datang.

Tetap Bersyukur Meski Autis

Fra. Florent SCJ (Penulis)
Fra. Florent SCJ (Penulis)

Ditulis oleh Fr. Florentinus SCJ

 

Tampangku Bisa Menipu

Rasanya wajar kalau tiap orang yang melihatku pertama kali akan kagum. Tetapi  ketika tahu siapa aku yang sebenarnya, mungkin susah untuk dipercaya. Dari penampilan luar, aku tampak keren seperti teman-teman (normal). Tubuhku sehat. Wajahku sedikit mirip dengan orang Korea. Kulitku putih terawat. Namun siapa sangka kalau aku punya kelemahan yang kadang susah diterima kebanyakan orang.

Dari pengalamanku, yang sering terjadi adalah ketika orang melihat aku pertama kali, mereka spontan kira aku normal seperti anak lainnya. Namun, ketika mereka mulai mengajakku berbicara, jangan harap mereka akan mendapat tanggapan dariku meski hanya sepatah kata saja. Lalu ketika orang menatapku lebih lama lagi dan memperhatikan dengan cermat, barulah mereka akan tahu bahwa aku seorang autis.

Salah satu kisah dimana penampilanku menipu orang kalau aku tidak autis adalah ketika para frater SCY berjumpa denganku. Mereka datang di Panti Asuhan Bhakti Luhur, tepatnya di asramaku, untuk tinggal dan belajar mendampingi kami selama kurang lebih 3 minggu pada bulan Juni 2012. Ketika aku pulang sekolah bersama teman-teman yang cacat lain dan para perawat, di rumah (asrama) aku melihat ada 3 orang baru. Mereka itu pemuda-pemuda yang lumayan keren dari Yogya. Ternyata mereka adalah para frater SCY yang mau belajar tinggal bersama kami di Panti Asuhan Bhakti Luhur.

Melihat aku, mereka menatapku kagum. Lalu, salah seorang mengajakku bercakap-cakap seolah menganggapku anak normal. Aku sih diam saja seperti biasa. Mana kutahu bahasa orang itu. Lagi pula aku kan memang tidak bisa bicara. Rupanya ia belum percaya kalau aku autis. Hehe…kasihan para frater itu. mereka tertipu oleh penampilan sekilasku.

Siapa Aku ini

Namaku Nio...
Namaku Nio…

Nama lengkapku Geovranio Imanuella Purba. Orang fasih memanggilku Nio saja. Aku dilahirkan di kota Tangerang pada tanggal 7 Maret 1997.  Aku hanya 2 bersaudara. Aku anak pertama dan memiliki seorang adik. Karena keadaanku yang seperti ini, setelah lumayan gede aku masuk ke Panti Asuhan Bhakti Luhur Jakarta. Aku rasa ini adalah tempat yang tepat untukku supaya bisa sedikit demi sedikit berkembang mengatasi keterbatasanku ini.

Aku sama lho dengan teman-teman lain. Aku juga punya orang tua. Mereka telah membesarkan dan merawat aku dari kecil. Lalu aku masuk ke Panti Asuhan Bhakti Luhur ketika sudah cukup gede. Keluargaku tergolong keluarga yang berkecukupan. Papa punya mobil bagus juga kok. Mobil itu sering dibawa untuk menjemputku ketika mulai liburan dan menghantarku kembali ke Panti Asuhan Bhakti Luhur tiap kali masuk semester baru.

Aku sudah cukup lama tinggal di Panti asuhan Bhakti Luhur. Orangtuaku berharap agar aku bisa sedikit demi sedikit berkembang dan bisa lebih mandiri dengan memasukkan aku ke Panti Asuhan Bhakti Luhur tercinta ini. Di sekolah Panti Asuhan kan ada pelajaran “Bantu Diri”. Setidaknya aku dan teman-teman mendapat perhatian khusus layaknya anak-anak berkebutuhan khusus seperti kami ini. Memang sih sekolahan kami tak seperti sekolah anak-anak normal di luar sana. Yang pasti para perawat kesulitan dan harus bersusah payah mendampingi dan membimbing kami supaya lebih berkembang dan bisa bantu diri. Itulah tugas mereka yang mungkin tidak mudah.

 

Aku Berbeda dengan Yang lain

Aku sudah bilang sebelumnya bahwa aku berbeda dengan teman-teman yang normal lainnya. Aku tidak bisa berbicara. Aku juga tidak bisa menangkap maksud orang lain ketika diajak bicara. Aku susah berkomunikasi dengan orang lain baik secara verbal maupun non verbal. Aku memang hidup bersama dengan teman-teman di Asrama Panti Asuhan, tetapi jangan harap aku bisa berkomunikasi dengan mereka. Kehidupan sosialku bersama para perawat dan teman-temanku hanya sebatas tinggal bersama. Tidak pernah ada “ngobrol bareng” bersama, kecuali di antara para perawat sendiri.

Aku lebih sibuk dan hanya mengerti dengan duniaku sendiri. Itulah yang bisa kupahami tentang diriku. Setiap hal yang kulakukan cenderung mengarah ke diriku sendiri sebagai pusat. Orang mungkin akan bilang aku egois, tetapi inilah situasiku. Aku tidak bisa mengerti maksud orang lain, apalagi harus membantu orang lain. Mengurus diri sendiri saja, aku belum bisa, bagaimana bisa mengurus orang lain.

Ketika aku melihat apapun juga yang bisa dipandang oleh kedua mataku, aku tidak bisa memberikan nama kepada benda itu. Kalau anak-anak seumuranku yang normal tentu bisa melakukannya dengan mudah. Sejauh aku mengerti, benda-benda yang kulihat itu ada yang diam saja, ada yang bergerak. Ternyata ada benda yang mirip dengan aku, tetapi bisa ngomong.

Semua benda bisa kulihat, tapi aku tidak bisa mengatakan apa namanya kepada orang lain. Aku tidak bisa berpikir benda itu apa, kenapa ada yang diam dan bergerak, darimana asal benda itu dan sebagainya. Yang jelas, apa yang ada itu biarlah tetap berada seperti itu. Semua itu tidak perlu dipikirkan dan dipertanyakan.

Kebiasaan-kebiasaanku yang menyenangkan, tapi kadang mencelakakanku juga

Ada beberapa kebiasaan yang sering kulakukan. Semua itu cukup asyik kulakukan  sendiri. Aku tidak bisa menuntut orang lain untuk mengerti aku seutuhnya sebab ini memang keadaanku. Kebiasaan-kebiasaan ini terjadi otomatis begitu saja. Aku sendiri kesulitan  untuk mengubah kebiasaanku ini. Para perawat dan pendampingku pun rasanya juga kewalahan menghadapiku. Tapi aku sendiri tentu merasa asyik donk dengan kebiasaan-kebiasaanku sendiri.

Pertama, aku sering ngompol. Seandainya ditanya kamar siapa yang paling bau di asramaku, jawabannya pasti kamarku. Kenapa? Karena aku suka ngompol, bahkan tidak hanya di kamar. Dalam satu hari saja, aku bisa ganti celana 100 kali kalau aku mau sebab aku sering kencing di celana. Itu terjadi otomatis begitu saja dan tidak kusadari. Maka, para perawat tidak mengganti celanaku setiap aku kencing di celana. Kita perlu belajar hemat. Kalau celanaku sudah basah kuyub, barulah ada yang mau mengganti celanaku. Aku sendiri tidak mungkin berpikir untuk mengganti celana sendiri.

Kedua, aku tidak bisa duduk diam. Selama mataku terbuka, selama itu pula aku akan bergerak dan berjalan. Susah bagiku untuk duduk diam. Aku akan terus berjalan dan berjalan menyusuri setiap ruangan asrama yang bisa aku lewati. Tidak peduli apa kata orang, apa larangan orang. Mungkin mereka ada yang terganggu. Yang penting aku bergerak terus tanpa tujuan. Kalau sudah capek, ya enaknya langsung tidur. Dan ketika mataku perlahan tertutup, saat itulah aku bisa diam meski nantinya tetap aja ngompol.

Ketiga, aku akan makan makanan apa saja yang kutemui. Itu kulakukan sambil bergerak dan terus bergerak. Akibatnya, kadang apa yang kumakan itu tidak selamanya baik untuk kesehatanku. Kadang perutku menjadi mual. Kadang tubuhku juga jadi lemas. Pokoknya macam-macam deh yang kurasakan. Misalnya aku makan sesuatu di atas cobek pada suatu siang. Ternyata setelah itu, lidahku panas banget dan tanganku juga ikut panas. Rupanya sambal cabe kumakan begitu saja secara diam-diam seperti nasi. Aku mengambil dengan tanganku. Tetapi tetap saja aku mengulanginya saat semua orang tidak melihatku dan melarangku.

Ada kisah lain lagi yang serupa. Aku minum cairan kehitam-hitaman di samping kompor. Cukup manis rasanya. Tapi setelahnya, kepalaku jadi pusing dan mataku berat untuk kubuka. Aku hampir saja pingsan. Rupanya aku minum kecap. Anehnya, aku terus mengulangi dan mengulangi lagi esok hari tanpa sadar itu adalah salah satu jenis barang alergiku.

Keempat, aku suka memainkan sesuatu sendirian. Asyik rasanya. Misalnya  memutar gelas plastik atau juga segala jenis kertas sambil berjalan dan terus berjalan. Sebuah buku frater  menjadi salah satu korban tangan saya. Benda di tanganku bisa bertahan lama kuputar-putar. Semakin lama rasanya semakin asyik. Mungkin orang normal akan bosan melihatku seperti ini, tetapi aku enjoy aja karena memang duniaku memang seperti ini. Dunia yang penuh dengan keasyikanku sendiri.

Itulah beberapa kebiasaan yang aku lakukan tiap hari. Mungkin orang (normal) bisa bilang kebiasaanku ada yang kurang bagus. Tapi aku sendiri tetap merasakan asyiknya duniaku. Kebiasaan-kebiasaan itu menyenangkan, meski kadang mencelakakanku juga. Namanya juga autis, aku tetap aja melakukan apa aja yang mungkin bisa mencelakakanku. Untung para perawat berusaha senantiasa memperhatikanku.

Aku Bisa Bahagia dan Bersyukur

“Inilah aku, utuslah aku”, seperti kata-kata nabi Yesaya. Keadaanku memang begini. Kalau bisa memilih, tentunya siapa sih yang tidak mau hidup normal seperti anak-anak yang lain. Tapi aku tidak mau pusing dan memberontak seperti manusia normal yang kebanyakan malah susah untuk mensyukuri keadaannya. Aku dengan keadaan seperti ini saja bisa happy kok.

Aku mencoba menerima keadaanku ini. Bahkan aku sendiri saja tidak bisa menciptakan diriku yang seperti ini, kenapa harus menolak situasi. Tanpa adanya rasa syukur,  aku tidak akan bisa menikmati hidup. Rasa syukurku mungkin bisa dilihat bagaimana aku tidak memberontak dalam menjalani hidup. Hidup dalam ketegangan dan tekanan dalam diri terus menerus itu sungguh mengerikan. Maka aku tidak mau ambil pusing dan meratapi diri yang seperti ini. Aku sudah merasa hidupku ini adalah hadiah Tuhan yang berharga.

Aku bisa melihat bagaimana hidup orang-orang normal yang tidak seperti aku dan teman-teman berkebutuhan khusus lainnya juga mengalami perjuangan keras dalam hidupnya. Setidaknya aku sendiri tidak akan menyesal pernah dilahirkan di dunia ini, sekalipun harus menjadi seorang autis. Kalau aku bisa bicara, mungkin aku akan mengucapkan maaf kepada keluargaku karena aku hanya bisa seperti ini. Aku yakin kalau mereka diberi pilihan oleh Tuhan, mereka pun akan memilih anak yang tidak seperti aku, artinya normal.

Awalnya mungkin para orang tua susah menerima keadaan anak yang seperti aku ini. Tapi jika mereka tahu, aku pun tidak pernah berharap hidupku seperti ini. Sekarang yang paling diperlukan hanyalah saling menerima keadaan. Aku menerima keadaanku dan keluargaku juga menerima keadaanku. Jalani semua dengan penuh syukur. Tuhan pasti mencintai semua kok.

Belajar dari Dia Lewat dia

Mengikuti kisah singkat adek Nio tadi, membuat penulis sendiri merasa iba dan terharu. Dia dengan keadaan yang sedemikian itu bisa membuat mata dunia dibantu untuk menatap dengan jernih. Ada hal yang perlu disyukuri dalam hidup sehari-hari. Kita tidak perlu meratapi dan menyesali keadaan diri yang memang demikian adanya. Ada hal yang bisa diubah, tetapi ada juga sesuatu yang hanya bisa diterima kalau kita mau mendapat ketenangan dalam hidup.

Sosok Nio mungkin susah diterima dalam masyarakat pada umumnya. Praktis, dia tidak bisa berelasi dan berkomunikasi dengan orang lain. Dia sendiri saja tidak bisa memahami dan memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Dia butuh uluran tangan kasih dari orang lain untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Tidak jarang susah menemukan orang yang mau peduli seperti adik kita yang satu ini.

Apa saja sih yang bisa kita dapat kalau kita mau belajar dari Nio? Sekilas, orang pasti akan berpikir tidak ada satu hal pun yang bisa dijadikan hikmah dari kisah Nio ini. Orang umumnya hanya akan terfokus melihat sisi lemah seseorang. Padahal lewat kehadiran Nio, Tuhan bisa berkarya dan menyapa kita. Mari sejenak kita merenung.

Penulis sendiri sempat merasa kebingungan menemukan Tuhan yang hadir. Bagaimana bisa hidup seperti Nio ini dikatakan bahagia. Penulis sendiri setelah mengalami pengalaman tinggal bersama adik Nio selama kurang lebih 3 minggu, awalnya merasa berat mendampingi anak seperti ini. Gak habis pikir rasanya. Tuhan kok menganugerahkan keadaan seperti ini kepada ciptaan yang dikasihiNya.

Berbagai variasi keadaan manusia diciptakan oleh-Nya. Ada yang lengkap, sempurna tetapi juga ada yang kurang beruntung seperti Nio ini. Rupanya perbedaan yang diberikan oleh Tuhan kepada masing-masing ciptaanNya mengundang kita untuk hidup saling melengkapi dalam ikatan kasih. Kasih yang ia ajarkan dan teladankan dalam diri Yesus Kristus itu menjadi patokan utama dalam menjalankan hidup sebagai pengikutNya. Hidup bersama orang lain menjadi indah kalau semua bisa hidup seperti Yesus.

Terhadap orang yang lemah dan tersingkir, Tuhan menaruh perhatianNya. Maka prioritas hidup kita memang mestinya mengarah kepada ketergerakkan hati untuk mengulurkan tangan kepada yang lemah.  Anak seperti Nio adalah salah satu contohnya.

Dalam arti tertentu, Nio sebenarnya menerima dan menikmati keadaanNya. Namun sebagai seorang autis, tentu ia hidup dengan dunianya sendiri. Membantu orang lain baginya tentu tidak pernah terpikirkan di dalam benaknya. Kita sebagai manusia yang diberi karunia lebih oleh Dia mesti mampu membantu sesama dengan meneladan Dia. Meneladan Dia berarti harus sampai pada pelayanan kepada dia yang membutuhkan, seperti Nio.

 

Was Fr Dehon an Economist?

 

a report of Dehonian Seminar delivered by Fr. Quang Nguyen SCJ

Cita-cita Dehon: Menjadi Imam yang Kudus, Rasuli dan Terpelajar
Cita-cita Dehon: Menjadi Imam yang Kudus, Rasuli dan Terpelajar

“Clergy have to learn about economic issues and the problems of social science… Our seminaries have to offer courses in social and political economics.”

Who said it? Originally, Fr. Leo John Dehon, founder of the Priests of the Sacred Heart.

Echoing it about a 100 years later was Fr. Quang Nguyen, SCJ, presenter at Sacred Heart School of Theology’s annual Dehon Lecture on March 26. The title of his presentation: “Fr. Dehon’s Ministry from an Economic Perspective.”

Fr. Quang began by listing the founder’s academic resumé, including degrees in canon and civil law, theology and philosophy.

“But was he an economist?” asked Fr. Quang. Fr. Dehon held no degree in the field, but “his self-taught knowledge and respect for the discipline of economics was evident in his ministries and in his young congregation.

“His approach to ministry signified a deep understanding of economic issues and principles. And he did not stop at understanding the issues and theories but more important, he put them into practice.”

“Christ exerts His influence through His Church,” Fr. Dehon wrote. Economics is one of the driving forces of society. If priests and religious are to influence society, they must be educated in what drives it. How are the people of a society affected by economics?

How can economics be affected by the people of a society?

Fr. Dehon began his priestly ministry in the midst of the Industrial Revolution in France. It was in the gritty factory town of Saint Quentin that the roots of the Priests of the Sacred Heart took hold.

“The relationship between industry and labor resulted not only in the mass production of goods for consumers and industry, but also in massive fortunes for the wealthy ownership class and economic deprivation for the working class,” said Fr. Quang.

Employees as young as six worked 12-hour days, and sometimes longer. Family structures were strained. People were treated as expendable cogs in the factory machines.

Fr. Dehon, by birth a member of France’s aristocratic elite, courageously challenged these social injustices. “An example of his courage was his Christmas Sermon in 1871 where he denounced ‘the deplorable organization of the world of business and labor,’” said Fr. Quang. “He saw a situation in which working men and women were no longer able to obtain the minimal requirements that were essential for human survival.”

Essential in Fr. Dehon’s efforts to improve the lives of workers, said Fr. Quang, was that the founder didn’t demonize one side of the equation over the other. He didn’t just rally on the side of the worker without considering the concerns of the business owner.

“There are two main approaches in economics,” said Fr. Quang. “Traditionally you either maximize profit or minimize loss… Employers either have to increase prices in a market which is fairly competitive or reduce the cost which would include the wages and benefits of the workers.”

The business of business is to make money. But when financial profit is the ultimate goal, “the well-being of the employer ends up being held in higher regard than that of the worker,” said Fr. Quang.

Fr. Dehon challenged this. “He provided workers with information that would legally and morally help them to improve their wages and working conditions,” said Fr. Quang. “By organizing unions he helped them to have a collective voice that could not be ignored by owners.

“But most importantly, through his care and assistance, Fr. Dehon enabled workers to reclaim the endowed human dignity that had been neglected and trampled upon.”

He did this “not by creating a war between workers and factory owners, not by entering into a ‘blame game’ or calling for a redistributive economy,” said Fr. Quang. “Instead, he tried to serve as a bridge connecting the two sides, as an instrument for closing the inequality gap.

Pitting workers against their employers could have easily backfired. In an economy where there was a surplus of labor, business owners could have set even more challenging working conditions, assuming that there were always people desperate enough to take them. Employers could have moved their factories, or fired “troublesome” workers who challenged the status quo.

“Worse yet, such situations can become violent when employers and workers are unable to find a common voice to address their differences,” said Fr. Quang.

“Fr. Dehon recognized that it was important to evangelize the workers but even more necessary to instill into the employers the living of the Gospel… after all, employers held the greater responsibility and had the means to make a difference.”

Fr. Quang noted that Pope Francis, in the opening Mass of his pontificate, said much the same:

““Please, I would like to ask all those who have positions of responsibility in economic, political and social life, and all men and women of goodwill: let us be ‘protectors’ of creation; protectors of God’s plan inscribed in nature, protectors of one another and of the environment.”

Like Pope Francis, Fr. Dehon not only helped workers to organize so that their voices could be heard, “but he also appealed for the participation of people from the other side of the equation, those who had the power and ability to make a difference in the lives of those entrusted to their care, despite the fact that this would not easy to do,” said Fr. Quang.

“The apostolate among management is often ineffective,” Fr. Dehon is said to have complained.

“But setbacks did not dissuade him from moving forward,” said Fr. Quang.  “Using his own recognition and family influence, he approached leading employers and made them aware of their responsibilities.  Surprisingly, some of the employers eventually became his friends and active collaborators in his ministry.”

Fr. Quang continued, noting that Fr. Dehon sought systemic, long-term solutions. He wasn’t just trying to make the lives of workers of his day better, but the lives of the next generation as well. He did this by emphasizing education.

“Without education he recognized that the children of workers were likely to face the same dilemma as their parents,” said Fr. Quang. He invested in youth, increasing the value of their “human capital” by creating educational opportunities, such as St. John High School.

“Those who invest in education are predicted to have higher income levels than those who don’t,” said Fr. Quang. “This was Fr. Dehon’s long-term goal for the people of Saint Quentin.”

Fr. Quang challenged his audience –– many of whom are seminarians at Sacred Heart School of Theology –– to look at how they can affect change in today’s world.

“I think that today’s globalization can be seen as another Industrial Revolution,” said Fr. Quang. “There are many of the same characteristics, similar challenges.

“Can we –– as Fr. Dehon did –– do anything to affect change?

A panel discussion followed the presentation, helping participants process what they had heard. Panelists included seminarians who had experience in the business world, whose experiences put them on both sides of the business equation. Their lived realities showed the many grey areas in the questions; there are not easy black and white answers to the concerns brought forth by an increasingly disparate economy.

“We need to ‘evangelize’ in a sense; working together to help employers and shareholders realize that the bottom line is not always the bottom line,” said one of the panelists. “We can help to open up conversations, to get various sides to understand one another, to help humanize the business equation.”

“We all have responsibility,” said an audience member. “Many of us own stocks, if not directly, then through retirement plans or mutual funds. Do we make the effort to find out what is being done in our name? We are business owners too.”

“The economy is global,” said another. “But so too is our faith.”

Fr. Quang Nguyen received his Ph.D. in Economics/Political Science from Claremont Graduate University in California last year. He professed his first vows with the Priests of the Sacred Heart in 1995. 

At the Heart of the World: SCJ’s Presence

SCJ India
SCJ India

Wherever our work takes us, we continuously discover a world troubled with evil yet ever seeking the fulfillment of its deepest aspirations: truth, justice, love, freedom (See Rule of Life, n. 36).

We recognize that our vocation is, as Pope John Paul II reminds us, “always compelling because more than ever, today’s society needs to be prodded into contact with the Heart of Christ where peace, serenity, comfort and pardon can be found” (06-14-1989).

DEHONIANOS_BRASO_-_wallpaperIn living out our vocation, it is our desire to give witness to the primacy of love in the world and to bind ourselves without reserve to achieving a new humanity in the Heart of Christ (see Rule of Life, n. 3). We, the Priests of the Sacred Heart, often introduce ourselves as “Dehonians” in affectionate reference to our Founder, the Venerable, Fr. Leo Dehon, a genuine apostle of love and reparation to the Heart of Christ. We are committed to living out and sharing Fr. Dehon’s charism, spirituality, and works in the church and in the world.

Our Congregation appeared in 1878 and spread quickly because its life reflected a continuous response to the social and spiritual expectations that people held. Our presence today in the world is somewhat modest when compared to the urgent needs that humanity has of faith and healing. But with the assistance of the saving love of Christ and the maternal protection of Mary, we are able to accomplish necessary and useful things wherever we are: missions, parishes, specialized movements within the church, teaching, youth work, the press and mass media, social apostolates and human welfare on behalf of the poor, the working class, and castaways.

SCJ Indonesia
SCJ Indonesia

We dedicate our life and our energy to the Lord to proclaim the Gospel of Love and to serve our brothers and sisters particularly in those situations and areas that are the most troubled and needy.

Our religious experience is at one and the same time a mission and an offering, perhaps an invitation, to anyone who is moved by the Holy Spirit and senses a call to give themselves totally to affirm the Reign of Love that exists among peoples and nations and to bring about the Reign of the Heart of Christ.

At the Heart of God

“I leave you the most wonderful of treasures: the Heart of Jesus. He belongs to all but has special tenderness toward those consecrated to him and are given over wholly to his love” (Spiritual Testament of Fr. Dehon).

“As disciples of Father Dehon, we want to make union with Christ in His love for the Father and for people the principle and center of our life” (Rule of Life n. 17).

Hati Kudus Yesus: Pusat Keilahian dan Kemanusiaan...
Hati Kudus Yesus: Pusat Keilahian dan Kemanusiaan…

In all that we are and do, in all the different situations and works we find ourselves, we Dehonians are called to enter into the advancement of redeeming love in a spirit of oblation so as to join our lives and the lives of all human beings to their origin: the Heart of God.

At the Heart of the Church

The vocation of a Dehonian, which is centered on the mystery of the Heart of Christ from which the Church takes its origins, puts us at the very heart of the Church as “prophets of love and servants of reconciliation.” “By its very nature our Institute is an apostolic institute; and so we readily place ourselves at the service of the Church” (Rule of Life n. 30).

dekat dengan orang muda dan menjadi teladan bagi mereka...
dekat dengan orang muda dan menjadi teladan bagi mereka…

Our authentic service to the Church is based on a life of prayer and oblation. It is expressed through our ministry to workers, the lowly and the poor, our missionary activity, and our efforts in priestly and religious formation. According to the signs of the times and in communion with the life of the Church, we want to contribute to establishing the reign of justice and Christian charity in the world. We join our efforts to those of Jesus that the human family, sanctified in the Holy Spirit, might become an offering pleasing to God. (cf. Rom.15:16 and Our Rule of Life, n. 31-32)

Where do we live and work?

There are over 2200 scj priests and brothers world wide working on five continents in 41 countries:

Albania Angola Argentina Austria

Belgio Bielorussia Brasile

Camerun Canada Chile Ciad Rep. D. del Congo         Croazia

Ecuador

Filippine Finlandia Francia

Germania

India Indonesia Inghilterra Irlanda Italia

Lussemburgo               

Madagascar Moldavia Mozambico

Olanda

Paraguay Polonia Portogallo

Scozia Slovacchia Spagna Stati Uniti                    Sud Africa Svizzera

Ucraina Uruguay

Venezuela Vietnam

As a congregation we divide ourselves into provinces, regions and districts for purposes of government. A growing list of provinces, regions and districts maintain their own web sites with information specific to our work in that area and in local languages.

What do we do?

Para Frater-Bruder Skolastik (students) SCJ di Yogyakarta
Para Frater-Bruder Skolastik (students) SCJ di Yogyakarta

[30] By its very nature our Institute is an apostolic institute; and so we readily place ourselves at the service of the Church in its various pastoral works.

Although our Institute was not founded for a specific work, it gets from the Founder some apostolic orientations which characterize its mission in the Church.

This mission, for Father Dehon in a spirit of love and oblation, entailed eucharistic adoration, as an authentic service of the Church (cf. Notes Quotidiennes, 1.3.1893), “and ministry to the lowly and the humble, the workers and the poor” (cf. Souvenirs XV), to proclaim to them the unfathomable riches of Christ (cf. Ephesians 3:8).

With this ministry in mind, Father Dehon gave great importance to the formation of priests and religious.

For him missionary activity was a privileged form of apostolic service.

In all this his constant concern was that the human community, sanctified in the Holy Spirit, became an offering pleasing to God (cf. Romans 15:16).

Our Lector-Acolyte Installation

This past Sunday (11/11), our Scholasticate of Indonesian Province celebrated the installation of lector and acolyte for seven final-year scholastics. It was a pretty big annual event for the whole community, since it is considered as the last formal step prior to diaconate ordination. As such, it was a great day for the seven freshly installed lectors and acolytes. Fra. Antonius Effendi, SCJ – one of the seven – said: “It was one of good decissions that I made after having deep discerments with God and my spiritual director. This decission lead me further to a deeper sense of responsibility for the upcoming ordination!” The installation process had started the night before when Fr. Priyo Widarto, SCJ – the rector of our Scholasticate – gave the orientation regarding this ministry of lectore and acolyte, which its dignity and values must be well preserved in our life.

Father Provincial –Fr. Andreas Madya Sriyanto, SCJ – was the one who lead the service and installation. His words in homily were encouraging and affirming. Fr. Madya spoke of the real challenges of our religious life and we are called to firmly be rooted in the spirit of love and reparation. Fr. Madya stated: “Yes, there are a lot of challenges in our present religious life. There are numerous scandals even in our Congregation. But these facts must not discourage us to follow Christ. They must force us even to more loudly spread the Good News and to more daringly serve the altar of God!

 Fra. Albertus Joni, SCJ

Rm. Antonius Effendi SCJ: Kisah sang Pemulung Berjubah!

senyumanmu menjadi jembatan surga dan dunia! 🙂

Ada lagu anak-anak yang sudah lama tidak kita dengar “Topi saya bundar.” Tapi diganti kata-katanya menjadi “Romo Pendi bundar, bundar Romo Pendi. Kalau tidak bundar, bukan Romo Pendi.” Kalau Anda melihat sosok Rm. Antonius Effendi SCJ ini, Anda akan segera yakin bahwa lagu ini bukan hasil rekaan saja. Dulu teman-teman SD-nya di Sungai Bahar, Jambi, memanggilnya “Gendut.” Sedari dulu ia bertubuh padat karena daerah asalnya berlimpah minyak kelapa sawit kualitas ekspor dan ditambah lagi hobinya memasak. Di tangah frater kelahiran 25 April 1984 ini semua masakan jadi sip. Terong dari Wonosari serasa bistik sapi Belanda dan kangkung dari Pakem secara capcay made in Taiwan.

Panggilan hidup membiaranya pertama kali diwahyukan pada kakak sulungnya. Ketika Pendi kecil sedang bermain bola (dulu jago lho, posisinya pengganti pemain cadangan, berarti lapis ketiga hehehe), si sulung bercerita pada teman-temannya bahwa Dik Pendi kelak akan menyusul kakak nomor duanya ke seminari. Sejak saat itu tumbuhlah panggilannya untuk menjadi imam. Jadi panggilan Frater Pendi tidak dimulai di sebuah gereja atau di sakristi atau di ruang doa, tapi di lapangan bola! Allah sungguh berkarya luar biasa di lapangan bola itu.

Tahun 2000 ia mendaftarkan diri di Seminari Menengah St. Paulus Palembang dan diterima dengan sukses. Ternyata memang perjalanan panggilan Romo yang mengidolakan Ibu Teresa ini sungguh seperti bola kaki. Disepak kian kemari oleh banyak cobaan. Mulai dari soal nilai studi yang terlalu mepet dengan ambang batas kehidupan hingga banyak persoalan pribadi yang lain. Tapi Tuhan tak berhenti bekerja. Tiga hal yang kemudian menguatkan Rm. Pendi ini: “Aku bisa, aku bersyukur, dan aku bahagia!” Pengalaman doa yang mendalamlah yang menguatkan Rm. Pendi ini untuk terus memotivasi dirinya, terutama di masa-masa sulit.

Alhasil, perlahan –lahan perkembangan diri dan nilai studi Romo kita ini makin seimbang dengan bobot badannya. Makin menanjak. Ia menyadari bahwa rahmatlah yang menguatkan dia selama ini. Mungkin inilah yang membuat Romo yang bercita-cita suatu hari bisa duet nyanyi bareng Agnes Monica ini tetap rendah hati dan punya perhatian pada aksi sosial. Di komunitas, ia dikenal sebagai “pemulung berjubah” karena setia mengumpulkan dan menyortir plastik dan kertas bekas. Ia juga gemar bercocok tanam dan beternak agar komunitas biara lebih dapat berhemat dan uangnya dapat digunakan untuk orang-orang yang kurang mampu. Betapa mulia hati biarawan muda ini. Dengan berbagai kualitas yang prima inilah Frater Pendi menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Sanfrades, Palembang. Beliau ditahbiskan sebagai Imam Hati Kudus Yesus pada Agustus 2013 yang lalu… Dengan motto “Lakukanlah hal kecil dengan cinta yang besar” ia siap gulung tikar dan hijrah dari kebun sawit ke kebun anggurNya, di mana tuaian memang banyak namun pekerja sedikit.

 

 

 

Rm. Markus Apriyono SCJ: Pawang Hujan Amatir

penunggu Tugu Yogyakarta 🙂

Tak banyak yang tahu bahwa Rm. Markus Apriyono SCJ ini dinobatkan menjadi pawang hujan resmi Skolastikat SCJ Yogyakarta. Berawal dari pembawaan Rm. Apri yang tenang, pendoa, meditatif-kontemplatif inilah ia dipercaya untuk berdoa mohon hujan tidak turun setiap kali ada hajatan outdoor komunitas. Sampai saat ini, belum ada doanya yang tak terkabul. Walau mendung pekat menghadang, seorang Romo kelahiran Tanjung Kemuning, 29 April 1985 ini tinggal menghembuskan nafasnya saja dan awan hujan akan pergi jauh-jauh (wah seperti film Kungfu Hustle-nya Tonny Leung hehehe … agak lebay ya … hehehe).

 Dengan doa dan puasa, frater dari 8 bersaudara ini sungguh yakin bahwa segala permintaan akan dikabulkan sesuai kehendak Sang Maha Kuasa. Maka tak heran bahwa perawakannya kurus kering (beberapa teman frater bahkan memaksanya puasa supaya ujian mereka joss).

Buah hati dari Bapak Andreas Kiswimikarjo (alm) dan Ibu Yustina Kasmirah ini sejak kecil memang terkagum-kagum dengan sosok romo paroki yang melayani stasinya. Kekaguman ini bertambah ketika ia bergabung menjadi misdinar dan mendapat berkat pertama serta menyalami romo. Hatinya yang terlanjur kepincut ini mendorong frater berkulit sawo (terlalu) matang ini masuk ke Seminari Menengah St. Paulus Palembang setamat dari SMPN 3 Purwodadi pada tahun 2000. Pembawaannya yang tenang, berwibawa dan kalem langsung membuat teman-teman seminarinya menaruh hormat pada frater satu ini.

 Kebiasaannya berdoa, meditasi dan olah rohani makin berkembang di seminari, sampai-sampai banyak yang meramalkan frater kita ini akan mendirikan kongregasi sendiri. Ternyata ramalan ini gagal total karena setelah menempuh pendidikan di seminari, Rm. Apri melamar dan diterima dalam Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ). Ketekunan dan keuletan yang menjadi keutamaannya membuatnya makin bersinar cemerlang dalam masa novisiat maupun skolastikan. Kreativitasnya pun patut diacungi jempul. Lihat saja kamarnya yang setiap tahun berganti tema dekorasi. Ada tema “musim gugur di Belanda” (ada hiasan ranting-ranting dan daun-daun kering dari kebun di seluruh kamar) hingga tema “Tuhan Yesus berdoa di Goa Selarong” (di kamarnya ada foto Tuhan Yesus dan gua buatan lengkap dengan stalaktit dan stalagmit lho).

 Tentu saja banyak juga tantangan yang ia hadapi selama ini, apalagi setelah ia menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) nya di Paroki Kabar Gembira Kotabumi, Lampung. Tetapi keyakinannya tetap teguh, “Dia yang telah memanggil itu adalah setia. Dia yang telah memulai karya baik dalam diriku, maka Dia pula yang akan menyelesaikannya!” Keyakinan inilah yang memberanikan pawang hujan kita mengikat janji berjubah putih hingga mati pada Agustus 2011 dan ditahbiskan sebagai Imam Hati Kudus Yesus pada Agustus 2013 yang lalu! Maju terus, pawang hujanku… eh… romoku!

 

 

 

Rm. Gregorius Dedi Rusdianto SCJ: “Makin Tua – Makin Holy!”

usia bukan halangan menanggapi panggilanNya!

Dari seluruh iklan televisi yang ada, hati Mbah Dedi – demikian nama akrabnya – ini pasti miris bila melihat iklan Salonpas atau Minyak Urut Cap Lang. Dua benda inilah yang setia mendampingi boyoknya jika memaksakan diri berjoget dan bergoyang seperti teman-teman frater yang usianya layak jadi anaknya.

Ya, di usia yang terbilang istimewa (terlahir 29 Mei 1973), si sulung dari 3 bersaudara buah hati Bapak Andreas Roeslan dan Ibu Rosalia Sradiyah ini dengan mantap memutuskan untuk menjadi seorang biarawan dan calon imam. Dibandingkan dengan teman-teman angkatannya yang lebih muda sebelas atau dua belas tahun, Rm. Dedi tidak pernah mau kalah semangat. Dengan tekun ia selalu belajar, diskusi, membuat ringkasan dan giat membaca. Sampai-sampai para frater yang lebih muda merasa malu karena justru Mbah kesayangan mereka itu meberi teladan yang sangat baik di usia ‘senja’nya.

Romo Dedi yang berasal dari Kotagede, Yogyakarta ini mengaku bahwa panggilan hidup membiara tidak muncul dari kecil atau remaja. “Ketika aku remaja pun aku pingin punya pacar dan kelak menikah dengan seorang wanita yang kucintai.” Itulah sebabnya Mbah Dedi pun kuliah Sarjana Ekonomi, bekerja sebagai ekonom dan akuntan, lalu sudah mempersiapkan diri ke pelaminan.

Tetapi ternyata semua berubah 180 derajat karena percakapan Yesus dengan Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Jawab Petrus untuk ketiga kalinya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu. Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau!” Lalu Yesus bersabda: “Gembalakanlah domba-dombaKu.”

Mbah Dedi merasa tersentak ketika merenungkan sabda ini dan akhirnya iapun mulai berpikiran untuk menjadi seorang biarawan. Semangat ini makin berkobar saat ia menjalani masa perkenalan hidup membiara bersama para Yesuit yang ia kenal. Pengenalan hidup doa dan olah batin Yesuit makin membuatnya mantap, apalagi memang Frater Dedi ini alumni Resimen Mahasiswa yang dididik disiplin dan tegas seperti St. Ignatius yang naluri militeristiknya begitu kuat. Namun sekali lagi Tuhan membuat kejutan dalam hidupnya. Di tengah pengembaraannya, ia jatuh hati dengan bumi Sumatera tempat para SCJ berkarya. Iapun terkagum-kagum dengan semangat cinta, pemulihan dan persaudaraan yang dimiliki para SCJ. Tiga hal inilah yang selalu ditimba Rm. Dedi pada spiritualitas SCJ dan membuatnya senantiasa gembira dalam menjalani panggilan (konon suara tawanya bisa terdengar dari radius 50 meter).

dekat dengan orang muda dan menjadi teladan bagi mereka…

Jangan heran kalau di tengah malam kita melihat Romo ini sedang duduk bersimpuh di depan tabernakel seorang diri atau sendirian meditasi di pojok-pojok rumah yang dikenal wingit. Rm. Dedi sungguh sebuah teladan pendoa yang setia, seperti Simeon, nabi tua yang setia menantikan Mesias di Bait Allah.

Sosok Mbah Dedi ini sulit dicari tandingannya: tua-tua keladi, makin tua makin holy (suci). Putusannya untuk mengikrarkan kaul kekalnya di Agustus 2011 juga membawanya kembali ke jawaban Petrus: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu. Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau di atas segalanya.”