“Come, Be My Light!”

Seorang sutradara Inggris bernama Malcom Muggeridge pergi ke India untuk membuat sebuah film tentang kehidupan Ibu Teresa dari Calcutta dan orang-orang miskin sekarat yang dia dan para susternya tolong setiap hari. Ternyata para kameramen harus mengambil gambar dalam ruangan yang begitu remang-remang tanpa membawa lampu tambahan apapun. Mereka tidak membawa penerangan ekstra. Sang sutradara bersama kru merasa sungguh sia-sia membuat film dalam ruangan yang gelap macam itu. Namun demikian, seseorang akhirnya mengusulkan agar sang kameramen tetap mengambil gambar karena mereka toh sudah datang jauh-jauh dari Inggris.

Sesuatu yang mengejutkan terjadi! Ternyata mereka dapat mengambil gambar para suster itu dengan sempurna, seolah ruangan itu diterangi oleh seberkas cahaya misterius yang entah datang dari mana. Para kameramen bingung dengan hasil yang mereka dapatkan. Kru profesional itu mengatakan bahwa hasil macam ini tak dapat dijelaskan sama sekali. Tetapi, Malcom – sang sutradara – punya teorinya sendiri. Ia mengatakan:

“Rumah Ibu Teresa bagi orang-orang sekarat itu dipenuhi oleh cinta! Kita semua bisa merasakannya segera setelah kita masuk dalam ruangan ini. Cinta inilah yang menjadi cahaya, seperti cahaya bulat yang sering dilukis oleh para seniman di sekitar kepala santo-santa. Menurut saya, bukanlah sesuatu yang aneh bila cahaya seperti ini tertangkap juga oleh kamera film kita!”

 

Cintalah yang dapat mengalahkan kegelapan dan ketakutan!

Malcom – sang sutradara – tak pernah tahu bahwa jauh sebelum ia mengatakan hal itu, suster Teresa muda telah mendengar seruan Yesus dari atas salib: “Come, be My Light!” – “Mari, jadilah TerangKu!” Panggilan Yesus ini tak pernah hilang dari hati Teresa muda – bahkan saat ia mengalami penolakan luar biasa dari orang-orang yang ia tolong, perpecahan dari mereka yang ia kasihi, intimidasi dari orang-orang Hindu, dan bahkan saat ia ragu dengan panggilan dirinya sendiri sekalipun. Bagi Teresa, semua derita itu sederhana saja maknanya: semua adalah pertanda cinta! Cinta yang sejati adalah selalu cinta yang siap memberi hingga berpeluh dan berdarah… Dengan caranya yang istimewa, Bunda Teresa sungguh telah menjadi terang bagi sesamanya… dan mungkin memang terang inilah yang ditangkap oleh kamera tadi!

Ketabahan Titus Brandsma

Si Kudus yang Menyerahkan Segalanya bagi Allah dalam Derita

Pastor Titus Brandsma adalah seorang rektor universitas di negeri Belanda selama Perang Dunia kedua. Beliau ditangkap oleh Nazi yang ateis dan dijebloskan ke sebuah kamp kerja paksa di Dachau – Jerman.

Di sana, ia diasingkan sendirian di sebuah kandang anjing tua. Para penjada suka menghibur diri dengan memerintahkan dia menyalak seperti seekor anjing jika mereka kebetulan melintas. Akhirnya Romo Titus Brandsma itupun meninggal dunia karena penyiksaan fisik yang hebat. Apa yang tidak diketahui oleh para Nazi itu ialah bahwa ia menyimpan sebuah buku catatan harian tentang pengadilannya. Romo Titus Brandsma menulis di antara baris-baris cetakan sebuah buku doa tua yang ia simpan diam-diam.

Pada salah satu halamannya, ditemukan sebuah puisi mengenai Yesus:

 

                Tak ada kesedihan yang sanggup menghalangi jalanku

                karena aku melihat mataMu penuh kesedihan;

                Jalan kesunyian yang pernah Engkau lewati

                membuat aku sanggup memahami kesengsaraan…

 

                CintaMu telah mengubah

                jalanku yang gelap seperti malam

                menjadi terang benderang…

 

                Tinggallah bersamaku Yesus, tinggallah…

                aku tak akan takut

                jika aku mengulurkan tanganku

                dan merasakan Engkau dekat…