“Semper fidelis, Pater!”

Rm. Raphael Trần Xuân Nhàn dari Keuskupan Vinh, Vietnam

Rm. Raphael Trần Xuân Nhàn dari Keuskupan Vinh di Vietnam adalah teladan kesetiaan bagi para imam. Foto kecil ini menggambarkan imannya di kala kanker paru-paru stadium akhir menggerogoti tubuhnya. Kanker menjalar ke banyak bagian tubuhnya dan rasa sakit merasuk sampa ke tulang sum-sumnya. Ia tak mampu berdiri atau duduk. Namun Romo Raphael ini masih kuat mengangkat hosti murni dan piala suci demi melihat Sang Guru yang setia ia ikuti sampai akhir nanti.

Umat Katolik terkasih, janganlah lupa dengan para Rama dan biarawan-biarawati yang telah lanjut usia dan sakit. Dalam masa muda, mereka memberi pelayanan: membaptismu dan anak-cucumu, mendengarkan keluh kesahmu, mengeringkan air matamu, membawa ampunan bagi dosamu, memberkati pernikahanmu, mengunjungi engkau di kala sakit, mendidikmu di sekolah-sekolah Katolik, membawa Yesus dalam Ekaristi – bahkan hingga pelosok dan tempat yang tak mudah dijangkau. Walau pelayanan mereka belum sempurna, mereka ada hampir di tiap bagian penting dalam hidupmu. Jangan lupakan mereka yang telah renta dan sakit.

Foto Romo Raphael Trần Xuân Nhàn ini menyentuhku secara pribadi. Semoga, kelak, saya boleh menghadap Sang Guru dengan stola yang melingkar di leher saya, dengan tali cincture yang  mengikat pinggang saya, dan dengan kasula sederhana di atas tubuh saya. Semoga! Semper fidelis, Pater! Tetaplah setia, Romo!

P.S.: Bila Anda tergerak untuk membantu Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus – SCJ, Provinsi Indonesia – baik dalam karya konfrater muda maupun topangan hidup para imam/bruder kami yang telah sepuh dan sakit, Anda dapat berbagi via

BCA (Kcp. Sudirman). No. Rek. 855-554-98-88

an. Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus.

Sila memberi kabar dan intensi doa Anda pada

Rm Sugiarno Scj +62 811 7833 367.

Terimakasih dan Tuhan memberkati!

Kraków: Dari Kota Sang Naga hingga Kota Kerahiman Ilahi – Bagian 2

Kali ini saya mendapat kesempatan untuk berziarah ke Sanctuarium  (tempat suci) St. Yohanes Paulus II di kota Krakow yang indah. Bangunan suci ini sangat unik karena dibangun tanpa jendela, namun terlihat terang benderang karena pencahayaan yang baik dan karena pantulan sinar dari banyak mosaik suci yang dilapis emas. Sanctuarium ini sangat indah.

Mosaic St. Yohanes Paulus II yang digambarkan mengunjungi ragam tempat ziarah Bunda Maria mewakili cinta beliau yang amat besar sebagai Putra Maria. Saat saya duduk di kapel utama bawah tanahnya yang dingin dan sangat tenang, saya tidak hanya jatuh hati pada ruang oktagonal (bersudut delapan) ini saja, tapi juga saya kagum dengan St. Yohanes Paulus II ini.

Continue reading “Kraków: Dari Kota Sang Naga hingga Kota Kerahiman Ilahi – Bagian 2”

Beato Juan María de la Cruz SCJ

phoca_thumb_l_030 d. mariano prroco

Juan Maria De La Cruz: Salah satu di antara begitu banyak kisah para kudus

Dataran tinggi yang mengelilingi kota Avila (Spanyol) terletak di antara blok-blok granit besar. Tiang-tiang kota tua itu muncul bagai tangan-tangan usang terbuka ke langit, ke  cakrawala yang ditempa oleh musim panas dan musim dingin yang ekstrim. Tanah Avila di negara Spanyol ini terkenal sebagai “tanah orang Kristiani” yang kuat dan taat. Keluarga-keluarga Katolik dengan banyak anak dan dengan latar belakang petani dan peternak telah hidup di sana selama berabad-abad. Dan beberapa di antara mereka menjadi hadiah dan saksi Allah bagi gerejaNya. Para kudus dari kota ini – St. Teresa dari Avila dan orangtuanya, serta beato Juan Maria de la Cruz – menjadi saksi Injil yang hidup!

Beato Juan Maria lahir di S. Esteban de los Patos (Ávila) pada tanggal 25 September 1891. Dia adalah putra pertama dari lima belas saudara dan setelah dibaptis dengan nama Mariano. Ia diberi nama yang sama dengan ayahnya – yang bersama istrinya, Dona Emerita – berusaha untuk memberi pendidikan Katolik yang kuat bagi anak-anak mereka.

Keluarga Mariano dikenal rajin mengurus gereja setempat. Sang ayah, pada sore hari, saat kembali dari tugas-tugas di ladang, memimpin novena dan rosario bagi umat sekitar karena mereka tidak memiliki imam di desa kecil itu. Inilah salah satu alasan kuat mengapa Mariano muda merasa terpanggil menjadi seorang imam.

Continue reading “Beato Juan María de la Cruz SCJ”

Ndhèrèk Dèwi Maria

Bunda 1

Ndhèrèk Dèwi Maria temtu gengkang manah,

mboten yèn kuwatosa Ibu njangkung tansah.

Kanjeng Ratu ing swarga amba sumarah samya.

Sang Dèwi, Sang Dèwi, mangestanana.

Sang Dèwi, Sang Dèwi, mangestanana.

Nadyan manah getera dipun godha sétan,

nanging batos èngètnya wonten pitulungan.

Wit sang putri Maria mangsa tega anilar.

Sang Dèwi, Sang Dèwi, mangèstanana.

Sang Dèwi, Sang Dèwi, mangestanana.

Poverty in the Eyes of Jon Sobrino

image

“This poverty is also a call to action, a cry to abolish poverty. It requires the mobilization of human spirit so that the reality of this world is oriented toward life. it questions the meaning of life, personally and collectively, and challenges us to take a stand on whether or not history provide a solution, whether hope or resignation is offered, whether love or egoism takes precedence…”

#Merefleksikan kemiskinan melulu sebagai sebuah realitas sosial tak pernah cukup menyelesaikan soal besar ini, teman! Kemiskinan adalah soal makna hidup dan pencarian jiwa – baik secara personal maupun komunal! Luar biasa pemikiran Jon Sobrino ini!

Kisah Obor Penerang

Ya… kita juga bisa menjadi obor itu…

Seorang murid bertanya pada gurunya:

“Guru, apakah bedanya penerangan budi dan penerangan iman?”

Guru itu menjawab dengan bijak:

“Akal budi akan menjadi obor bagi hidupmu, namun dengan iman yang menyala, engkau akan menjadi obor itu sendiri…”

Kadang, iman itu berarti juga menerima dengan hati besar rancangan Allah yang tidak dapat kita mengerti dengan akal budi…

It’s Time to Fly!

“Seorang penulis pernah berkata padaku bahwa malaikat itu dapat terbang melayang karena mereka tidak pernah berpikir terlalu serius tentang diri mereka sendiri… kita juga mungkin dapat terbang andai tidak terlalu menganggap diri kita yang terpenting!” (Paus Benediktus XVI )

# saatnya menyadari dan menghargai keberadaan orang-orang di sekitar kita… mereka membuat dunia tampak semarak, bukan? It’s time to fly, brothers-sisters! ^^

Image