Kraków: Dari Kota Sang Naga hingga Kota Kerahiman Ilahi – Bagian 2

Kali ini saya mendapat kesempatan untuk berziarah ke Sanctuarium  (tempat suci) St. Yohanes Paulus II di kota Krakow yang indah. Bangunan suci ini sangat unik karena dibangun tanpa jendela, namun terlihat terang benderang karena pencahayaan yang baik dan karena pantulan sinar dari banyak mosaik suci yang dilapis emas. Sanctuarium ini sangat indah.

Mosaic St. Yohanes Paulus II yang digambarkan mengunjungi ragam tempat ziarah Bunda Maria mewakili cinta beliau yang amat besar sebagai Putra Maria. Saat saya duduk di kapel utama bawah tanahnya yang dingin dan sangat tenang, saya tidak hanya jatuh hati pada ruang oktagonal (bersudut delapan) ini saja, tapi juga saya kagum dengan St. Yohanes Paulus II ini.

Continue reading “Kraków: Dari Kota Sang Naga hingga Kota Kerahiman Ilahi – Bagian 2”

Beato Juan María de la Cruz SCJ

phoca_thumb_l_030 d. mariano prroco

Juan Maria De La Cruz: Salah satu di antara begitu banyak kisah para kudus

Dataran tinggi yang mengelilingi kota Avila (Spanyol) terletak di antara blok-blok granit besar. Tiang-tiang kota tua itu muncul bagai tangan-tangan usang terbuka ke langit, ke  cakrawala yang ditempa oleh musim panas dan musim dingin yang ekstrim. Tanah Avila di negara Spanyol ini terkenal sebagai “tanah orang Kristiani” yang kuat dan taat. Keluarga-keluarga Katolik dengan banyak anak dan dengan latar belakang petani dan peternak telah hidup di sana selama berabad-abad. Dan beberapa di antara mereka menjadi hadiah dan saksi Allah bagi gerejaNya. Para kudus dari kota ini – St. Teresa dari Avila dan orangtuanya, serta beato Juan Maria de la Cruz – menjadi saksi Injil yang hidup!

Beato Juan Maria lahir di S. Esteban de los Patos (Ávila) pada tanggal 25 September 1891. Dia adalah putra pertama dari lima belas saudara dan setelah dibaptis dengan nama Mariano. Ia diberi nama yang sama dengan ayahnya – yang bersama istrinya, Dona Emerita – berusaha untuk memberi pendidikan Katolik yang kuat bagi anak-anak mereka.

Keluarga Mariano dikenal rajin mengurus gereja setempat. Sang ayah, pada sore hari, saat kembali dari tugas-tugas di ladang, memimpin novena dan rosario bagi umat sekitar karena mereka tidak memiliki imam di desa kecil itu. Inilah salah satu alasan kuat mengapa Mariano muda merasa terpanggil menjadi seorang imam.

Continue reading “Beato Juan María de la Cruz SCJ”

Ndhèrèk Dèwi Maria

Bunda 1

Ndhèrèk Dèwi Maria temtu gengkang manah,

mboten yèn kuwatosa Ibu njangkung tansah.

Kanjeng Ratu ing swarga amba sumarah samya.

Sang Dèwi, Sang Dèwi, mangestanana.

Sang Dèwi, Sang Dèwi, mangestanana.

Nadyan manah getera dipun godha sétan,

nanging batos èngètnya wonten pitulungan.

Wit sang putri Maria mangsa tega anilar.

Sang Dèwi, Sang Dèwi, mangèstanana.

Sang Dèwi, Sang Dèwi, mangestanana.

Poverty in the Eyes of Jon Sobrino

image

“This poverty is also a call to action, a cry to abolish poverty. It requires the mobilization of human spirit so that the reality of this world is oriented toward life. it questions the meaning of life, personally and collectively, and challenges us to take a stand on whether or not history provide a solution, whether hope or resignation is offered, whether love or egoism takes precedence…”

#Merefleksikan kemiskinan melulu sebagai sebuah realitas sosial tak pernah cukup menyelesaikan soal besar ini, teman! Kemiskinan adalah soal makna hidup dan pencarian jiwa – baik secara personal maupun komunal! Luar biasa pemikiran Jon Sobrino ini!

Kisah Obor Penerang

Ya… kita juga bisa menjadi obor itu…

Seorang murid bertanya pada gurunya:

“Guru, apakah bedanya penerangan budi dan penerangan iman?”

Guru itu menjawab dengan bijak:

“Akal budi akan menjadi obor bagi hidupmu, namun dengan iman yang menyala, engkau akan menjadi obor itu sendiri…”

Kadang, iman itu berarti juga menerima dengan hati besar rancangan Allah yang tidak dapat kita mengerti dengan akal budi…

It’s Time to Fly!

“Seorang penulis pernah berkata padaku bahwa malaikat itu dapat terbang melayang karena mereka tidak pernah berpikir terlalu serius tentang diri mereka sendiri… kita juga mungkin dapat terbang andai tidak terlalu menganggap diri kita yang terpenting!” (Paus Benediktus XVI )

# saatnya menyadari dan menghargai keberadaan orang-orang di sekitar kita… mereka membuat dunia tampak semarak, bukan? It’s time to fly, brothers-sisters! ^^

Image

Soegija dan Visi Politis Devosi Hati Kudus Yesus

“Kemanusiaan itu satu… ” (Mgr. Soegijapranoto, SJ)

Film Soegija yang telah banyak menjadi buah bibir umat naik tayang pada awal Juni 2012 ini. Bagi saya, momen ‘Soegija’ ini menjadi lebih bermakna karena Juni adalah sebuah bulan yang sesuai tradisi Gereja dipersembahkan pada Hati Kudus Yesus. Memang banyak di antara kita yang dekat dengan devosi ini dalam banyak bentuk: adorasi pemulihan, doa novena Hati Kudus Yesus, Ekaristi Jumat Pertama, atau hormat pada gambar-gambar Hati Kudus Yesus. Laku tapa-kesalehan ini telah membawa banyak sekali rahmat bagi jiwa-jiwa. Namun film ‘Soegija’ ini membuat saya ingat akan satu sisi lain dari devosi Hati Kudus Yesus, yaitu: visi politis, soal kekuasaan dan keterlibatan dalam tata masyarakat.

Di balik devosi yang menekankan hidup persatuan hati yang penuh kasih ini, terdapat pula seruan bagi umat untuk maju mengusahkan sebuah gerakan sosial: gerakan ‘Kerajaan Hati Kudus.’ Istilah ‘kerajaan’ ini dapat ditelusuri dari kisah St. Margareta-Maria, mistikus yang mendapat penampakan Hati Kudus Yesus dan pesan untuk menyebarluaskan hormat bakti bagi HatiNya. Sesudah penampakan Hati Kudus Yesus pada tanggal 17 Juni 1689, St. Margareta-Maria mengirim surat permohonan pada Raja Louis XIV yang meminta agar Kerajaan Perancis dibaktikan pada Hati Kudus dan gambar Hati Ilahi itu dipasang pada panji kerajaan. Bagi St. Maria-Margareta, pesan penampakan Hati Kudus Yesus menjadi jelas: agar kebaktian rohani ini menyentuh juga sendi-sendi hidup sosial-politik. Pada waktu itu memang monarki dan Gereja masih tidak dipisahkan secara organisatoris karena para Kaisar diangkat oleh Paus yang adalah wakil Allah. Walau demikian, tetap saja visi politis ini juga dapat diterapkan pada zaman ini.

Pater Leo Yohanes Dehon, pendiri Imam-Imam Hati Kudus Yesus, menangkap dua pengertian dalam visi politis devosi ini bagi umat saat ini: kerajaan Hati Kudus Yesus dalam jiwa-jiwa dan dalam masyarakat. Di dalam pengertian ini, terlihat jelas bahwa hidup batin dan kewajiban sosietal (gesellschaftlich) tidak dipisahkan. Bagi Dehon, ketika kita masuk dalam misteri Allah yang paling dalam, yaitu HatiNya yang penuh kasih, kita masuk dalam kasih yang menyejarah, yang konkret dan real dalam peristiwa Lambung Tertikam di salib. Maka, hidup batin yang mendalam mestinya juga masuk dalam sejarah, masuk dalam perjuangan nyata Gereja bagi kesekawanan, persaudaraan antar manusia, keadilan, serta pembelaan hak dan martabat manusia. Pembatinan yang mendalam akan misteri kasih Allah itu membuat kita sampai pada sebuah vitalitas rohani. Vitalitas ini tidak hanya mengundang orang untuk datang dan belajar pada Yesus yang lemah-lembut dan rendah hati, tetapi juga untuk bersama Yesus melemparkan api ke bumi, membalik meja-meja penuh uang hasil kongkalikong dengan penguasa di pelataran Bait Suci, dan berani melawan struktur sosial macam Sabat yang tidak memanusiakan orang.

Vitalitas inilah yang membuat kita dan sekian banyak orang non-Katolik tertegun dengan kisah Soegija. Kisah Soegija adalah kisah tentang seorang Kristiani yang berusaha melalui doa, keringat dan air mata meneruskan ‘sejarah keselamatan’ yang telah mulai sejak Allah menjadi manusia. Cintanya pada Allah tidak tinggal sebagai rasa-rasa rohani, atau gerakan emosi sesaat. Doa Soegija membuatnya mampu terlibat ‘melemparkan api ke bumi Indonesia’, sebagaimana dicita-citakan oleh setiap tradisi spiritualitas dan devosi Kristiani. Kita melihat perjuangan sang Uskup yang dengan sepeda onthel bersahaja membela orang-orang bangsanya yang rapuh dan dibelenggu penjajahan. Dengan kagum kita saksikan dalam diri Soegija bagaimana integritas yang datang dari doa-tapa dapat mengubah satu bangsa.

Semoga di bulan Hati Kudus Yesus ini, pelan-pelan kita belajar terlibat dalam tata-masyarakat dan memiliki integritas moral, iman dan tindakan yang sama dengan Soegija, yang lahir dari dalamnya pengenalan kita akan kasih Allah pada dunia. Inilah dua hal utama bagi bangsa kita yang belakangan makin akut dengan wabah korupsi, konsumerisme dan tumpulnya ketergerakan hati.

In Corde Iesu 🙂