Beato Juan María de la Cruz SCJ

phoca_thumb_l_030 d. mariano prroco

Juan Maria De La Cruz: Salah satu di antara begitu banyak kisah para kudus

Dataran tinggi yang mengelilingi kota Avila (Spanyol) terletak di antara blok-blok granit besar. Tiang-tiang kota tua itu muncul bagai tangan-tangan usang terbuka ke langit, ke  cakrawala yang ditempa oleh musim panas dan musim dingin yang ekstrim. Tanah Avila di negara Spanyol ini terkenal sebagai “tanah orang Kristiani” yang kuat dan taat. Keluarga-keluarga Katolik dengan banyak anak dan dengan latar belakang petani dan peternak telah hidup di sana selama berabad-abad. Dan beberapa di antara mereka menjadi hadiah dan saksi Allah bagi gerejaNya. Para kudus dari kota ini – St. Teresa dari Avila dan orangtuanya, serta beato Juan Maria de la Cruz – menjadi saksi Injil yang hidup!

Beato Juan Maria lahir di S. Esteban de los Patos (Ávila) pada tanggal 25 September 1891. Dia adalah putra pertama dari lima belas saudara dan setelah dibaptis dengan nama Mariano. Ia diberi nama yang sama dengan ayahnya – yang bersama istrinya, Dona Emerita – berusaha untuk memberi pendidikan Katolik yang kuat bagi anak-anak mereka.

Keluarga Mariano dikenal rajin mengurus gereja setempat. Sang ayah, pada sore hari, saat kembali dari tugas-tugas di ladang, memimpin novena dan rosario bagi umat sekitar karena mereka tidak memiliki imam di desa kecil itu. Inilah salah satu alasan kuat mengapa Mariano muda merasa terpanggil menjadi seorang imam.

Continue reading “Beato Juan María de la Cruz SCJ”

Advertisements

Superman di Balik Altar: Mengapa Saya Menjadi Imam-Religius untuk Hati Yesus

Saat saya kecil, salah satu super-hero yang lekat dalam hidup saya adalah Superman. Saya ingat saat Mama membeli baju Superman lengkap dengan mantel merah menyala untukku yang berusia 5 tahun. Saya ingin menjadi Superman yang kuat, yang bisa terbang dan yang selalu menolong orang lain.

Kisah panggilanku: “Romo Koko”

Saat saya berusia 8 tahun, saya perlahan mengerti bahwa Superman adalah tokoh kartun dan bukan sosok nyata. Saya sedikit kecewa dengan kenyataan bahwa Superman adalah tokoh fiksi (hahaha… mungkin teman-teman juga pernah mengalami rasa kecewa yang sama).

Namun, di usia yang sama, saya mulai sadar bahwa ada Superman lain dengan mantel warna-warni yang indah: para Imam di balik altar. Mereka memakai jubah bersayap yang sangat mirip dengan sayap Superman – walau celana dalamnya para Romo tidak kelihatan di luar seperti Superman hahahaha!

 

O gosh, bagi saya yang berusia 9 tahun, the priests do look like a Superman!

And I wannabe one of them!

 

“Tragedi Wafer Sakti”

Saya juga ingat bahwa saya ingin sekali ikut mencicipi ‘wafer’ tipis yang diangkat oleh para imam dan yang selalu dibagikan ke semua umat. Saya belum menerima Komuni Pertama karena masih terlalu muda. Suatu Minggu, saya mencoba merengek meminta Hosti Suci pada Mama saya – dan saya nekat berusaha merebutnya dari tangan Mama. Saya pikir: “Wafer sakti itulah yang dapat membuat saya cepat besar dan segera menjadi seperti sang Romo!”

 

“Plak!!!”

Tangan Mama tak segan mendarat di ubun-ubunku!

Mata mamaku mendelik murka – bayangkanlah sejenak betapa sulitnya seorang Mama Tionghoa berusaha melotot demi menampakkan ekspresi geramnya, hahahaha…

Continue reading “Superman di Balik Altar: Mengapa Saya Menjadi Imam-Religius untuk Hati Yesus”

“Senyum seorang Imam…”

#SoulBites 2.0 | 19112015

Saat saya berjumpa dengan romo Sepiono SCJ, hal yang paling kuat membekas adalah senyum tulusnya. Ia adalah romo dengan senyum yang meyakinkan kita bahwa dunia ini masih layak ditempati…

image

Padahal, sahabatku, paroki tempatnya bertugas terletak lebih jauh dari tempatku berkarya. Medan pelayanannya berat…ah ya, per mobilnya baru saja patah karena jalan yang terlampau buruk untuk dilalui… Di pedalaman Sumatera ini, saya belajar banyak dari sosok imam SCJ yang sederhana ini.

Continue reading ““Senyum seorang Imam…””

Our Lector-Acolyte Installation

This past Sunday (11/11), our Scholasticate of Indonesian Province celebrated the installation of lector and acolyte for seven final-year scholastics. It was a pretty big annual event for the whole community, since it is considered as the last formal step prior to diaconate ordination. As such, it was a great day for the seven freshly installed lectors and acolytes. Fra. Antonius Effendi, SCJ – one of the seven – said: “It was one of good decissions that I made after having deep discerments with God and my spiritual director. This decission lead me further to a deeper sense of responsibility for the upcoming ordination!” The installation process had started the night before when Fr. Priyo Widarto, SCJ – the rector of our Scholasticate – gave the orientation regarding this ministry of lectore and acolyte, which its dignity and values must be well preserved in our life.

Father Provincial –Fr. Andreas Madya Sriyanto, SCJ – was the one who lead the service and installation. His words in homily were encouraging and affirming. Fr. Madya spoke of the real challenges of our religious life and we are called to firmly be rooted in the spirit of love and reparation. Fr. Madya stated: “Yes, there are a lot of challenges in our present religious life. There are numerous scandals even in our Congregation. But these facts must not discourage us to follow Christ. They must force us even to more loudly spread the Good News and to more daringly serve the altar of God!

 Fra. Albertus Joni, SCJ

Rm. Antonius Effendi SCJ: Kisah sang Pemulung Berjubah!

senyumanmu menjadi jembatan surga dan dunia! 🙂

Ada lagu anak-anak yang sudah lama tidak kita dengar “Topi saya bundar.” Tapi diganti kata-katanya menjadi “Romo Pendi bundar, bundar Romo Pendi. Kalau tidak bundar, bukan Romo Pendi.” Kalau Anda melihat sosok Rm. Antonius Effendi SCJ ini, Anda akan segera yakin bahwa lagu ini bukan hasil rekaan saja. Dulu teman-teman SD-nya di Sungai Bahar, Jambi, memanggilnya “Gendut.” Sedari dulu ia bertubuh padat karena daerah asalnya berlimpah minyak kelapa sawit kualitas ekspor dan ditambah lagi hobinya memasak. Di tangah frater kelahiran 25 April 1984 ini semua masakan jadi sip. Terong dari Wonosari serasa bistik sapi Belanda dan kangkung dari Pakem secara capcay made in Taiwan.

Panggilan hidup membiaranya pertama kali diwahyukan pada kakak sulungnya. Ketika Pendi kecil sedang bermain bola (dulu jago lho, posisinya pengganti pemain cadangan, berarti lapis ketiga hehehe), si sulung bercerita pada teman-temannya bahwa Dik Pendi kelak akan menyusul kakak nomor duanya ke seminari. Sejak saat itu tumbuhlah panggilannya untuk menjadi imam. Jadi panggilan Frater Pendi tidak dimulai di sebuah gereja atau di sakristi atau di ruang doa, tapi di lapangan bola! Allah sungguh berkarya luar biasa di lapangan bola itu.

Tahun 2000 ia mendaftarkan diri di Seminari Menengah St. Paulus Palembang dan diterima dengan sukses. Ternyata memang perjalanan panggilan Romo yang mengidolakan Ibu Teresa ini sungguh seperti bola kaki. Disepak kian kemari oleh banyak cobaan. Mulai dari soal nilai studi yang terlalu mepet dengan ambang batas kehidupan hingga banyak persoalan pribadi yang lain. Tapi Tuhan tak berhenti bekerja. Tiga hal yang kemudian menguatkan Rm. Pendi ini: “Aku bisa, aku bersyukur, dan aku bahagia!” Pengalaman doa yang mendalamlah yang menguatkan Rm. Pendi ini untuk terus memotivasi dirinya, terutama di masa-masa sulit.

Alhasil, perlahan –lahan perkembangan diri dan nilai studi Romo kita ini makin seimbang dengan bobot badannya. Makin menanjak. Ia menyadari bahwa rahmatlah yang menguatkan dia selama ini. Mungkin inilah yang membuat Romo yang bercita-cita suatu hari bisa duet nyanyi bareng Agnes Monica ini tetap rendah hati dan punya perhatian pada aksi sosial. Di komunitas, ia dikenal sebagai “pemulung berjubah” karena setia mengumpulkan dan menyortir plastik dan kertas bekas. Ia juga gemar bercocok tanam dan beternak agar komunitas biara lebih dapat berhemat dan uangnya dapat digunakan untuk orang-orang yang kurang mampu. Betapa mulia hati biarawan muda ini. Dengan berbagai kualitas yang prima inilah Frater Pendi menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Sanfrades, Palembang. Beliau ditahbiskan sebagai Imam Hati Kudus Yesus pada Agustus 2013 yang lalu… Dengan motto “Lakukanlah hal kecil dengan cinta yang besar” ia siap gulung tikar dan hijrah dari kebun sawit ke kebun anggurNya, di mana tuaian memang banyak namun pekerja sedikit.

 

 

 

Rm. Markus Apriyono SCJ: Pawang Hujan Amatir

penunggu Tugu Yogyakarta 🙂

Tak banyak yang tahu bahwa Rm. Markus Apriyono SCJ ini dinobatkan menjadi pawang hujan resmi Skolastikat SCJ Yogyakarta. Berawal dari pembawaan Rm. Apri yang tenang, pendoa, meditatif-kontemplatif inilah ia dipercaya untuk berdoa mohon hujan tidak turun setiap kali ada hajatan outdoor komunitas. Sampai saat ini, belum ada doanya yang tak terkabul. Walau mendung pekat menghadang, seorang Romo kelahiran Tanjung Kemuning, 29 April 1985 ini tinggal menghembuskan nafasnya saja dan awan hujan akan pergi jauh-jauh (wah seperti film Kungfu Hustle-nya Tonny Leung hehehe … agak lebay ya … hehehe).

 Dengan doa dan puasa, frater dari 8 bersaudara ini sungguh yakin bahwa segala permintaan akan dikabulkan sesuai kehendak Sang Maha Kuasa. Maka tak heran bahwa perawakannya kurus kering (beberapa teman frater bahkan memaksanya puasa supaya ujian mereka joss).

Buah hati dari Bapak Andreas Kiswimikarjo (alm) dan Ibu Yustina Kasmirah ini sejak kecil memang terkagum-kagum dengan sosok romo paroki yang melayani stasinya. Kekaguman ini bertambah ketika ia bergabung menjadi misdinar dan mendapat berkat pertama serta menyalami romo. Hatinya yang terlanjur kepincut ini mendorong frater berkulit sawo (terlalu) matang ini masuk ke Seminari Menengah St. Paulus Palembang setamat dari SMPN 3 Purwodadi pada tahun 2000. Pembawaannya yang tenang, berwibawa dan kalem langsung membuat teman-teman seminarinya menaruh hormat pada frater satu ini.

 Kebiasaannya berdoa, meditasi dan olah rohani makin berkembang di seminari, sampai-sampai banyak yang meramalkan frater kita ini akan mendirikan kongregasi sendiri. Ternyata ramalan ini gagal total karena setelah menempuh pendidikan di seminari, Rm. Apri melamar dan diterima dalam Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ). Ketekunan dan keuletan yang menjadi keutamaannya membuatnya makin bersinar cemerlang dalam masa novisiat maupun skolastikan. Kreativitasnya pun patut diacungi jempul. Lihat saja kamarnya yang setiap tahun berganti tema dekorasi. Ada tema “musim gugur di Belanda” (ada hiasan ranting-ranting dan daun-daun kering dari kebun di seluruh kamar) hingga tema “Tuhan Yesus berdoa di Goa Selarong” (di kamarnya ada foto Tuhan Yesus dan gua buatan lengkap dengan stalaktit dan stalagmit lho).

 Tentu saja banyak juga tantangan yang ia hadapi selama ini, apalagi setelah ia menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) nya di Paroki Kabar Gembira Kotabumi, Lampung. Tetapi keyakinannya tetap teguh, “Dia yang telah memanggil itu adalah setia. Dia yang telah memulai karya baik dalam diriku, maka Dia pula yang akan menyelesaikannya!” Keyakinan inilah yang memberanikan pawang hujan kita mengikat janji berjubah putih hingga mati pada Agustus 2011 dan ditahbiskan sebagai Imam Hati Kudus Yesus pada Agustus 2013 yang lalu! Maju terus, pawang hujanku… eh… romoku!

 

 

 

Rm. Gregorius Dedi Rusdianto SCJ: “Makin Tua – Makin Holy!”

usia bukan halangan menanggapi panggilanNya!

Dari seluruh iklan televisi yang ada, hati Mbah Dedi – demikian nama akrabnya – ini pasti miris bila melihat iklan Salonpas atau Minyak Urut Cap Lang. Dua benda inilah yang setia mendampingi boyoknya jika memaksakan diri berjoget dan bergoyang seperti teman-teman frater yang usianya layak jadi anaknya.

Ya, di usia yang terbilang istimewa (terlahir 29 Mei 1973), si sulung dari 3 bersaudara buah hati Bapak Andreas Roeslan dan Ibu Rosalia Sradiyah ini dengan mantap memutuskan untuk menjadi seorang biarawan dan calon imam. Dibandingkan dengan teman-teman angkatannya yang lebih muda sebelas atau dua belas tahun, Rm. Dedi tidak pernah mau kalah semangat. Dengan tekun ia selalu belajar, diskusi, membuat ringkasan dan giat membaca. Sampai-sampai para frater yang lebih muda merasa malu karena justru Mbah kesayangan mereka itu meberi teladan yang sangat baik di usia ‘senja’nya.

Romo Dedi yang berasal dari Kotagede, Yogyakarta ini mengaku bahwa panggilan hidup membiara tidak muncul dari kecil atau remaja. “Ketika aku remaja pun aku pingin punya pacar dan kelak menikah dengan seorang wanita yang kucintai.” Itulah sebabnya Mbah Dedi pun kuliah Sarjana Ekonomi, bekerja sebagai ekonom dan akuntan, lalu sudah mempersiapkan diri ke pelaminan.

Tetapi ternyata semua berubah 180 derajat karena percakapan Yesus dengan Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Jawab Petrus untuk ketiga kalinya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu. Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau!” Lalu Yesus bersabda: “Gembalakanlah domba-dombaKu.”

Mbah Dedi merasa tersentak ketika merenungkan sabda ini dan akhirnya iapun mulai berpikiran untuk menjadi seorang biarawan. Semangat ini makin berkobar saat ia menjalani masa perkenalan hidup membiara bersama para Yesuit yang ia kenal. Pengenalan hidup doa dan olah batin Yesuit makin membuatnya mantap, apalagi memang Frater Dedi ini alumni Resimen Mahasiswa yang dididik disiplin dan tegas seperti St. Ignatius yang naluri militeristiknya begitu kuat. Namun sekali lagi Tuhan membuat kejutan dalam hidupnya. Di tengah pengembaraannya, ia jatuh hati dengan bumi Sumatera tempat para SCJ berkarya. Iapun terkagum-kagum dengan semangat cinta, pemulihan dan persaudaraan yang dimiliki para SCJ. Tiga hal inilah yang selalu ditimba Rm. Dedi pada spiritualitas SCJ dan membuatnya senantiasa gembira dalam menjalani panggilan (konon suara tawanya bisa terdengar dari radius 50 meter).

dekat dengan orang muda dan menjadi teladan bagi mereka…

Jangan heran kalau di tengah malam kita melihat Romo ini sedang duduk bersimpuh di depan tabernakel seorang diri atau sendirian meditasi di pojok-pojok rumah yang dikenal wingit. Rm. Dedi sungguh sebuah teladan pendoa yang setia, seperti Simeon, nabi tua yang setia menantikan Mesias di Bait Allah.

Sosok Mbah Dedi ini sulit dicari tandingannya: tua-tua keladi, makin tua makin holy (suci). Putusannya untuk mengikrarkan kaul kekalnya di Agustus 2011 juga membawanya kembali ke jawaban Petrus: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu. Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau di atas segalanya.”

Skolastikat SCJ: Rumah Formasi SCJ Yogyakarta

Para Frater-Bruder Skolastik (students) SCJ di Yogyakarta

Skolastikat SCJ adalah tempat pembinaan utama para SCJ muda setelah masa Tahun Rohani di Novisiat. Para Frater dan Bruder selama paling sedikit 6 tahun membentuk- mengolah diri serta panggilan bersama Allah dan para pembimbing. Inilah tempat di mana para imam SCJ ‘dilahirkan’ dan karya pelayanan-persembahan diri seluas dunia disemaikan.

Terletak di pinggiran kota Yogyakarta, komunitas studi ini terbagi menjadi dua rumah pembinaan. Rumah pertama kami di Jalan Kaliurang KM 7,5 ditempati oleh para Frater-Bruder  tingkat I hingga tingkat IV. Rumah kedua kami di Jalan Wulung 9A – Papringan dihuni oleh para Frater-Bruder tingkat V dan VI yang berfokus lebih pada studi pasca-sarjana dan persiapan menuju imamat mereka.

Saat ini, kita memiliki 32 orang Frater-Bruder Skolastik tingkat I hingga tingkat IV, 3 orang Frater yang sedang menjalani masa Tahun Orientasi Pastroral di paroki, 8 orang Frater-Bruder di tingkat V, 1 orang Frater di tingkat VI dan 2 orang Frater tingkat akhir yang hampir menyelesaikan Program Imamat mereka. Empat puluh enam pemuda dengan cita-cita mulia ini didampingi oleh Rm. FX Tri Priyo Widarto, SCJ (Rektor Rumah), Rm. Gerard Zwaard, SCJ (Ekonom), Rm. FA Purwanto, SCJ (Pembimbing dan Dosen), Rm. Markus Tukiman, SCJ (Delegatus Rektor untuk Rumah SCJ II) dan Rm. CB. Kusmaryanto , SCJ (Pembimbing dan Dosen).  Kelima staff formator ini dengan sepenuh hati mengabdikan diri mereka untuk pendampingan yang integral bagi para Frater-Bruder ini.

 

Enam pilar pendidikan integral yang selalu menjadi panduan bagi para formator dan formandi ini adalah: hidup rohani, kepribadian, hidup komunitas, kesehatan, spiritualitas dehoniana, dan karya pastoral. Berbekal enam dimensi ini, setiap anggota SCJ muda diharapkan terbantu menghayati hidup kemurnian, kemiskinan dan ketaatan yang ia pilih dan ikrarkan dihadapan Allah.

 

Pendampingan cura personalis (memperhatikan perkembangan setiap pribadi) menjadi tekanan utama dalam masa pembinaan di Skolatikat SCJ ini karena kami menyadari benar bahwa masa formasi ini bukanlah sekadar ‘masa kuliah’ saja. Kami menyadari benar-benar bahwa Gereja dan umat saat ini membutuhkan seorang imam-biarawan yang mau setia dan dengan rendah hati berpegang pada Allah saja.

 

Oleh karena itu, dalam banyak kesempatan kami selalu membuat penegasan roh bersama dalam pertemuan komunitas, dalam bimbingan rohani dan dalam perjumpaan dan keterlibatan karya pastoral mengajar di sekolah, kunjungan doa bagi yang sakit, pendampingan retret dan rekoleksi, pastoral penjara dan orang muda. Panggilan menjadi biarawan dan imam adalah panggilan istimewa yang menuntut kepenuhan pribadi yang baik dan kepasarahan luar biasa pada kehendak Allah. Kita tentu tidak mengharapkan imam-imam yang semata-mata pandai dalam olah nalar dan pikiran, tetapi juga yang sekaligus tajam dalam budi, halus dalam hati-rasa dan berpakaian kekudusan.

Mengenal SCJ – Dehonian?

Mengenal SCJ Lebih Dalam…

Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus (Congregatio Sacerdotum a Sacro Corde Jesu) – SCJ – adalah sebuah komunitas religius internasional berstatus kepausan yang didirikan oleh Venerabillis Jéan Léon Dehon di Paris pada 1878. Spiritualitas kami didasarkan pada kasih Kristus mengalir dari HatiNya yang Tertikam dan yang mendorong kita untuk memberi-Nya cinta dan pemulihan melalui doa, adorasi dan persembahan diri kami dalam berbagai pelayanan; terutama kepada orang-orang miskin dan kaum marjinal. Para SCJ sekarang hadir di empat benua – di lebih dari 40 negara di seluruh dunia.

 Kehadiran para SCJ di Indonesia sendiri bermula sejak tahun 1923 dengan kehadiran para missionaris Belanda di tanah Sumatera Selatan. Tanah missi ini sebelumnya telah ditinggalkan para imam Yesuit dan Fransiskan karena beratnya medan dan pertumbuhan yang kurang menjanjikan. Didorong oleh semangat cinta pada Hati Kudus Yesus, para missionaris SCJ tetap menerima tugas penuh tantangan ini dengan hati besar. Sedari awal karyanya di Indonesia hingga penghujung millenium kedua, mandat yang diberikan oleh Tahta Suci pada para SCJ adalah untuk menanam-tumbuhkan benih Gereja di Sumatra Selatan. Kami memulai karya besar Allah di bumi Raflesia ini dan lalu membuka hampir seluruh paroki yang ada di Keuskupan Agung Palembang dan di Keuskupan Tanjung Karang. Keringat dan usaha keras terus dilakukan. Darah para martir SCJ yang tertumpah saat penjajahan Jepang pun turut menyuburkan Gereja. Ratusan ribu jiwa ditobatkan. Perlahan, saat Gereja di Sumatera Selatan telah mandiri, para SCJ terus menerus mengembangkan umat dengan semangat cinta dan pengorbanan. Karya misi lokal di daerah transimgrasi baru Pangkalan Kerinci (Kesukupan Padang) dan di paroki-paroki terpencil Papua yang tak memiliki imam-pun diambil dengan berani walau tak mempunyai jaminan finansial yang mencukupi. Karya kesehatan dan pendidikan digalakkan oleh SCJ sampai ke pelosok yang penuh lumpur dan rawa-rawa.

Tanjung Sakti: Misi Pertama SCJ Indonesia di Pedalaman Sumatera Selatan

 Ketika Kongregasi ini mencoba untuk memperluas kehadiran Hati Kudus Yesus ke wilayah lain di Asia, para SCJ Indonesia juga dipercaya memulai misi di pedalaman Filipina – tempat para teroris muslim MILF sempat selama beberapa bulan menculik dan hampir membunuh salah satu imam kami. Beberapa tahun kemudian, SCJ Indonesia juga merintis kemungkinan baru untuk masuk ke India – sebuah negara yang juga diwarnai konflik agama yang berkepanjangan. Roh Kudus kemudian menegaskan kehadiran kami di kedua negara ini dan akhirnya para SCJ lokal mulai ditahbiskan satu per satu hingga hari ini. Kisah yang sama juga terjadi ketika SCJ Indonesia memulai karyanya di Vietnam – sebuah negara Komunis yang sangat menekan Gereja dan para imam. Kehadiran kami yang diam-diam dan rahasia di Vietnam sekarang ada dalam proses maju yang cukup berarti. Akhir-akhir ini, kami memimpikan juga hadirnya Kerajaan Hati Yesus di Cina – sebuah negara besar di mana iman Kristen kita memiliki sejarah panjang penganiayaan dan kemartiran.

Impian kami: membakar dunia dengan kasih Allah!

Impian kami bagi dunia sederhana saja: agar dunia saat ini – yang ditandai makin maraknya kekerasan, kemiskinan dan perpecahan – dapat sungguh percaya bahwa Allah tetap mencintai dan menyelamatkan mereka. Namun impian sederhana ini ternyata membutuhkan banyak sekali sumberdaya. Tak banyak yang tahu bahwa semua impian kami ini pertama kali harus dicapai dengan tersedianya pendidikan yang baik bagi para SCJ muda – para frater dan bruder yang dipersiapkan untuk terjun dan membawa Allah di tengah dunia. Dan untuk itulah, kisah ini dituliskan bagi Anda, agar kisah keselamatan ini tidak lagi menjadi hanya kisah ‘kami’ namun juga menjadi kisah ‘kita’…

The Identity of Priest: A Summary

Fr. Dehon: Founder of the Priests of Sacred Heart

Definition of ‘Identity’

A similar explanation is offered by Wheelis:

  • Identity is a coherent sense of self. It depends upon the awareness that one’s endeavours and one’s life makes sense, that they are meaningful in the context in which life is lived. It depends upon stable values, and upon the conviction that one’s actions and values are harmoniously related. It is a sense of wholeness, of integration, of knowing what is right and what is wrong, and of being able to choose.
  • Identity produces an inner coherence that is manifested externally as a consistency between ideals and actions. One of premises to the previous chapter stated that identity is an elusive concept whose meaning is analogous; the dissertation has discussed at least three meanings of identity.

Term ‘identity’ is used since upon it rests the whole of the personality structure and all its operations.

The first meaning is identity as the basic sense of self. This is the most fundamental use of the the third meaning is the notion of a priestly identity. This has reference to the process by which an individual with an already constituted sense of self and ego identity internalizes and lives the central defining values of the catholic priesthood.

The second meaning refers to the consolidation of the young adult personality described by Erikson as ego identity. This is a specific element of the self and represents a more restricted use of the term.

Traditional

The priest was ordained to serve in the person and spirit of Christ; he was to lead those entrusted to his care; he was to nurture those in his care the celebration if the Eucharist and the other sacraments; and he was to live a life of self-sacrificing love, exemplified by his commitment to life-long prayer and celibacy.

The New Context

  • Vatican II: the council intended to affirm also the hierarchically-ordered constitution of the church in which priests were to lead local communities in union with bishop. However, the Council did intended that the Church was to affirm the equality of all the baptized and their shared responsibility for the mission of the church and the equality if the baptized has been more formative of popular ecclesiology than has the hierarchical ordering of the church.
  • In the addition, the Council affirmed the equality of all the baptized has given birth to a rejection of the “clericalism”, that attitude which implied that ordination was a gateway to privilege and power, there than service.
  • The priests hold over ministry and leadership in the church increase last three decades. This means often that a priest will reside in one parish but have responsibility for a number of parishes. In concrete terms, the priest generally takes responsibility for the liturgical life and administration of these various communities and delegates the day-to-day pastoral care and leadership to others.
  • Vatican II highlighted the ministry of the priest- his service of the people in the name of the church-rather than the “state” of the priest. Significantly, it emphasized also the relation of the priest to the preaching of the Word. This ended what had been an exclusive focus on cultic activity.
  • Priest could be dedicated to pastoral care of the sick and broken, they could be prayerful men anxious to lead congregation to experience Jesus in the Eucharist, but they often felt ill-equipped to draw on their own faith in other to lead others to a deeper encounter with the Spirit in prayer.
  • With Clerical sexual abuse recently, priests have generally had to face mistrust, adopt codes of conduct, and suspect their own spontaneity.
  • This identity crisis applies not simply to how priests see themselves, but to how others see them. The priests can believe that they are the least cared for segment of the church, even while being perceived to be the most pampered. Priests cab be portrayed at different times as either heroes or villains, even while they usually believe themselves to be neither.

Priestly identity: affirmation and challenges

This section will attempt to occupy the ground between two poles

  1. There is nothing to be said with certainty about priestly identity
  2. There is nothing about it which is problematic
  • Priestly identity is ultimately a concern for the church. The identity of the priest will be clarified only as the whole church grapples with all the issues involved.
  • Foundational to our tradition is that the candidate for the priesthood is responding to a vocation: an authentic desire for the priesthood is God initiated, not self-initiated.
  • The primary requirement, therefore, for a priest who wants to have a strong sense of his identity is that he remains grounded in his relationship with God and the church.
  • Nurturing one’s relationship with God must not be contrasted with living as a minister engaged with the need of the world and the church. In order to do this well, the priest needs both to be immersed in the Word and in the world which the Word addresses: “the proclamation of the Word that has become his word.”
  • The priest is called firstly to be a disciple of Jesus in the Spirit. The disciplineship of the priest is inseparated from the life-style of the priest.
  • There are also issues about provision for adequate income and retirement planning for priests. A system where the priest is depended on the patronage of his superiors promotes immaturity, a lack of responsibility, and the temptation to focus on seeking one’s security and comfort. All of these are injurious to a prophetic witness to the Gospel.
  • What is the required instead is honest appraisal of what helps or hinders the human development of priest in the context of relationship and sexuality, and the provision of adequate formation programmers, both before and after ordination, to promote both authentic humanity and authentic holiness.

“What makes the priests different?’

“What makes the priest who he is?”

The priest is the one called by Spirit, and confirmed by the church’s ordination, to live a life of discipline in and for the church. The agenda for the life of the priest: a commitment to conversion so that his witness to the movement of the Spirit will be ever deeper.

The notion of the priest as the one who is sacramentally ordination to live his call to discipleship in and for the church is sustainable only within a church which realizes its identity as a community of faith. In other words, the issue of priestly identity is not only an issue for the church as a while; it is a touchstone by which we can measure whether the church exists as a community of faith or as something else, as something less.

Challenges

  • Priests take on responsibility for several parishes and in proposal that priests remain in active ministry beyond the age of 75
  • The priest may well be inseparable from heroic sacrifice, but we ought to name as sacrifice what is demanded of priests because we as a church refuse to face the implications of our situation.
  • Fewer and fewer priests to take on more and more responsibility will not meet all the needs that must be met, will not make the priesthood attractive, and will not resolve the issues about ministry in the church.
  • We need to look again at the nature of ministry, its relationship to the need of the church, and its relationship to the structures of the church, not all of which exist iure divino,. We need also to continue to explore the relationship and different between women and men in the church.