Pengalaman Ambang Batas: Hidup dan Kiamat dapat Berpadu!

Kemarin aku mendengar bahwa ada pasien baru yang sakitnya sangat parah dan yang suara erangannya terdengar sepanjang malam. Teman fraterku yang semalam berjaga bersama pasien itu bercerita bahwa baunya juga luar biasa. Sontak aku merasa takut dan jijik. Jangan-jangan besok pagi aku yang akan giliran menjaga pasien ini. Ah, entah apa yang akan terjadi bila aku harus menjaganya. Selama ini aku sangat takut dengan Rumah Sakit dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Malam itu aku sempat berdoa agar tidak ditugaskan di bangsal itu. Keesokan paginya, aku tahu bahwa doaku ini tidak terdengar.

Kulihat dengan mata kepalaku sendiri pemandangan mengerikan itu. Perempuan tua itu berbaring telungkup. Nyaris telanjang. Ibu Nur namanya. Seluruh bagian kaki hingga punggungnya kini merah kehitaman dilalap kobaran api hebat dari kompor minyaknya yang jatuh sebulan lalu. Minggu-minggu terus berlalu namun luka bakarnya tak kunjung mengering. Minyak-minyak tradisional yang ia pakai sebelumnya tak banyak membantu. Suara rintih kesakitannya begitu menusuk hatiku.

“Kami takut tidak kuat membayar biaya Rumah Sakit ini, Mas!” ujar Dwi, putra bungsu dari perempuan yang telah lama menjanda ini. Dwi sendiri memang belum menikah, namun selalu saja upahnya sebagai buruh tani harian tak pernah cukup dapat diandalkan sebagai pegangan. Aku sejenak terdiam mendengar kisah ini. Bau amis darah yang tajam kini lebih menyengat kurasa karena telah bercampur dengan peluh kemiskinan. Akhirnya, baru lima hari belakangan Bu Nur mendapat perawatan medis di RS Ngesti Waluyo ini. Terlambat sekali, pikirku! Kini lukanya terbuka menganga dan mengeluarkan nanah kental campur darah kering yang sangat bau. Aku memang merasa jijik saat harus masuk ke dalam bangsalnya pertama kali. Untuk pasien yang ‘bersih’ sekalipun, aku masih merasa enggan untuk menyentuh langsung, apalagi harus mendekati dan menolong perempuan yang satu ini. Namun demikian, tenggorokanku seketika tercekat saat air matanya terlihat mengalir saat luka-luka itu harus dibersihkan. Aku tak mampu berkata apa-apa. Selama dua puluh menit lebih luka-lukanya dibersihkan perlahan. Kulit-kulit kering bekas darah beku harus dipecahkan kembali agar jaringan parutnya dapat segera pulih dan Bu Nur dapat kembali bergerak bebas. Bu Nur mengucapkan sesuatu dalam bahasa Jawa yang tidak kumengerti, namun jelas bahwa di tengah kalimatnya terselip kata-kata ‘ampun, Tuhan’!

Air mata dan kata-kata inilah yang menyadarkanku segera bahwa yang sedang merintih di depanku ini adalah seorang manusia yang tengah bergulat dengan hidupnya, dengan pedih dan keterbatasannya. Bu Nur menangis. Dan ia menangis dalam kesendiriannya. Dwi masih pergi bekerja. Para perawat sedang bersibuk dengan kapas, alkohol dan cairan-cairan pembersih nanah. Ia menanggung segala derita itu sendirian. Bau dan rasa jijik-takutku memang tidak hilang. Kepalaku masih pusing. Ada bagian dalam diriku yang berteriak agar aku lari menyingkir dan segera pergi. Namun saat tatapanku bertemu dengan mata basahnya, segalanya mulai tampak jelas bagiku: aku tak dapat membiarkannya menderita sendirian. Tatapan Bu Nur berkisah banyak tentang rasa sakit dan kesepiannya tanpa harus berkata-kata. Mata sendunya terlalu dalam bagi kata-kata. Tidak! Aku tidak dapat meninggalkannya! Aku memang tak dapat berbuat apa-apa untuk mengobati lukanya tetapi bukankah aku dapat menjadi teman yang ikut merasakan deritanya; menjadi teman agar Bu Nur tahu benar bahwa ia tak sendirian. Maka aku berjuang untuk tetap sadar dan mengabaikan takut dan rasa jijikku. Aku berusaha untuk memberanikan diriku tetap tegak dan tinggal di sana. Kubiarkan bahuku dicengkeramnya kuat. Di sana, di bahu itu, deritanya menembus semua benteng penolakanku dan entah telah berapa lama tanganku menggenggam lembut tangan keriputnya yang tampak gemetar menahan perih hebat itu.

 “Seng sabar, yo Bu…” ujarku lirih dalam bahasa Jawa patah-patah. Ibu itu hanya menjawab dengan erangan. Berulang kali aku mengatakan kalimat yang sama. Kesabaran mungkin adalah jenis obat lain yang ia butuhkan saat ini. Kesabaran untuk menanggung segalanya dengan hati lapang. Kesabaran untuk tetap bertahan di hari-hari selanjutnya yang penuh tantangan karena pada waktu selanjutnya aku tetap menemani Bu Nur berjalan keliling kamar agar bekas lukanya tetap elastis – dan itu berarti rasa sakit kulit yang diiris-iris oleh tiap gerakan ototnya. Ya! Aku tak dapat meninggalkannya sendirian saja!

Pada hari-hari selanjutnya, aku belajar memapahnya, menyuapinya makan, mendengar ceritanya dalam bahasa yang tak kumengerti, ikut menyisiri rambutnya dan juga berdoa bersamanya walau ia Muslim dan aku Katolik. Ada begitu banyak sekat yang kami lampaui bersama ketika berjumpa dengan pengalaman keterbatasan ini. Ah, aku sendiri heran mengapa selama ini lebih sering kudengar apa yang ‘membedakan’ daripada apa yang ‘menyatukan dan menyamakan’ kita sebagai manusia. Aneka kategori identitas menjadi tenggelam saat aku hadir di sana bersama Bu Nur. Pilihanku untuk tetap tinggal dan hadir di sana bagi Bu Nur merupakan pengalaman luar biasa. Aku belajar mengenal batas-batasku sendiri dan bahkan aku belajar melampaui batas-batas itu. Tak mudah memang untuk setia dengan pilihanku. Ada kalanya aku lebih ingin berjalan ke bangsal lain yang lebih ‘nyaman’ dan ‘sejuk’, namun dengan sadar aku tahu benar bahwa pasien kelas III macam Bu Nur inilah yang paling membutuhkan uluran tangan. Bagaimana mungkin aku dapat lari dari ia yang menderita sendirian?!

Pilihan untuk tetap hadir dan setia berusaha membantu sebisanya mereka yang menderita dalam ambang batasnya juga dirasakan dalam banyak pengalaman rekan-rekan yang lain: rela hadir bagi pasien yang meneriakkan sumpah serapah karena sakit luar biasa selepas operasi otak, memilih untuk menemani dan membantu menghentikan pendarahan seorang pemuda dengan tujuhbelas luka tusuk hingga ajal menjemputnya, atau sedia mencari alamat tinggal pasien yang jenazahnya ditinggal tanpa keterangan di Rumah Sakit. Di depan warna-warna buram penggalan hidup manusia itu, rasanya tak mungkin bagi kami untuk tinggal berpangku tangan saja tanpa berbuat apa-apa. Memang – seperti telah tertulis pada bagian sebelumnya – selalu ada kesempatan untuk lari dari semua itu. Namun dalam wajah mereka yang menderita itulah kami dapat bercermin melihat ‘kemanusiaan’ kami yang sejati: ‘kemanusiaan’ yang sarat dengan derita dan keterbatasan.

Dalam banyak lakon fiksi, kita temukan sederetan figur super-hero yang membuat kita seolah yakin bahwa ada kesempatan bagi ‘kemanusiaan’ untuk tetap tinggal kokoh, teguh-tak terkalahkan. Namun, perjumpaan dengan Bu Nur dan sekian banyak pasien lain menunjukkan bahwa ‘kemanusiaan’ adalah sesuatu yang rentan, rapuh dan mudah retak. Ketika kami memilih dengan sadar untuk tetap hadir dan setia ada di sana bagi para pasien, kami mengerti bahwa justru dalam pilihan inilah kami merayakan ‘kemanusiaan’ yang sesungguhnya. Kami mengerti bahwa kemanusiaan ditampakkan bukan melulu dalam ‘sukses’, ‘potensi’ atau ‘invetarisasi kekuatan’, tapi dalam kesediaan menerima derita dan kesetiaan untuk tinggal-berada bersama mereka yang ada di ambang batas itu.

Ketika pengertian-pengertian arif ini datang kepada kami, perlahan kami menyadari bahwa bukankah dalam semua ini iman Kristiani ditunjukkan dengan terang benderang. Iman Kristiani adalah iman pada Allah yang tak pernah lari menyerah dan berpangku tangan pada manusia yang telah celaka akibat dosa. Kami kenangkan dengan kagum betapa Allah setia hadir dan menyertai kita sampai rela menjadi manusia, merasakan derita dan bahkan kematian yang keji, sepi dan gelap. Sedemikian tinggi ‘kemanusiaan’ itu di mata Allah sehingga kita tidak dapat berdiam di depan sesama yang menderita. Bila ambang batas yang gelap itu juga menjadi saat yang dipilih Allah untuk tinggal dan menunjukkan belas-kasihNya, maka iman pada Allah adalah sebuah tindakan setia solidaritas pada sesama yang menderita: sebuah iman yang dengan bergegas hadir bersama mereka yang menderita. Iman inilah yang pada gilirannya menunjukkan bahwa ada saat di mana harapan lahir dari kehadiran Allah yang terlihat dalam diri mereka yang setia menemani yang sakit. Inilah saat di mana ambang batas tidak lagi menjadi halangan untuk menghargai hidup. Inilah saat yang dengan manis disebut Sitor Situmorang dalam sajaknya ‘Cathedral des Chartres’ sebagai saat di mana ‘hidup dan kiamat dapat berpadu’…

 

 

 

Advertisements

(Krisis) Intelektual Kritis: Catatan bagi ISKA

“Hanya dalam cahaya iman dan berkat renungan sabda Allah, manusia dapat selalu dan di mana-mana mengenal Allah
– ‘kita hidup, bergerak dan ada di dalam Dia’ – dalam segala peristiwa mencari kehendakNya,
memandang Kristus dalam semua orang, entah mereka termasuk kaum kerabat entah tidak,
mempertimbangkan dengan cermat makna serta nilai-nilai duniawi yang sesungguhnya, dalam dirinya maupun sehubungan dengan tujuan manusia” (AA 4)

 Dewasa ini, media dengan begitu gamblang mempertontonkan wajah kebangsaan yang tergagap-gagap menghadapi isu formalisme agama, terorisme, menjalarnya korupsi, karut-marutnya kebijakan pemerintahan, rekayasa tata peradilan, hingga rakyat yang makin sulit mencari makan dan kisah kecil yang terselip di antara narasi besar itu tentang Rio, bocah SD yang memilih gantung diri karena tak bisa membayar SPPnya. Kita dengar-saksikan pula sekian banyak komentar (dan sungguh… bahkan kadang dirasa terlampau banyak) atas galaunya hidup berbangsa kita ini. Banyak kalangan yang gelisah dengan semua hal yang kita alami belakangan ini, namun tidak sedikit pula yang merasa ‘aman-aman’ saja karena sekat antara mereka dan derita bangsa masih terlalu tebal atau karena hati mereka telah bebal.

 Satu kalangan yang mestinya bergulat paling dalam dengan kegelisahan akan coreng-moreng bangsa ini adalah kalangan intelektual – kalangan yang secara khusus mengabdi pada proses pembelajaran dan buah-buah pemikiran dalam ranah ilmu pengetahuan. ‘Modalitas’ – meminjam istilah Anthony Giddens dalam teori perubahan strukturasinya – kaum terpelajar ini terletak pada kemampuannya untuk menganalisa secara lebih dalam fenomena-fenomena yang terjadi di sekelilingnya sesuai dengan paham keilmuan yang ia geluti. Sayang memang, bahwa modalitas ini tak selalu berbanding lurus dengan kepekaan dan rasa tanggung jawab yang juga mestinya dimiliki oleh para intelektual. Pengetahuan yang dimiliki lalu hanya sebatas diketahui dan menjadi wacana – dan tidak menampakkan pengubahan yang lebih baik bagi masyarakat. Pengetahuan kehilangan dayanya untuk mengubah. Theoria dalam trilogi pengetahuan Plato kemudian tidak lagi disandingkan dengan poecis dan praxis – tuntutan pengetahuan untuk mengubah kondisi masyarakat menjadi lebih baik. Kondisi dasar macam inilah yang menciptakan disposisi bagi kekosongan ideologi dalam masyarakat kita.

 Kekosongan ideologi, menurut J.G. Blummer, lahir dari resistensi masyarakat terhadap golongan intelektual yang hanya pandai ‘berteori(a)’ dan tak mampu secara serius melawan arus maha dahsyat dari kapitalisme global dan komersialisasi gaya hidup. Di media televisi saat ini, sebagai contoh nyata, peran para intelektual dengan begitu mudah disandingkan dengan komentar warga biasa, pandangan orang yang hanya lewat di tepi jalan raya, atau talkshow interaktif dengan telepon. Apa artinya ini semua? Di sisi positif kita dapat pertumbuhan komunikasi publik yang menantang peran serta lebih besar dari lapisan masyarakat. Di sisi lain, kita justru ternganga karena legitimasi dunia intelektual makin tergeser dan hanya menjadi bagian dari marketing policy dari sekian banyak pemangku kepentingan media dan politik. Dan sekali lagi, para intelektual yang tidak sungguh memberi sumbangsih ‘mengubah’ dalam masyarakat akan kehilangan legitimasinya dengan segera.

 Kegelisahan atas kacaunya tatanan hidup berbangsa kita ini mengandaikan adanya ideal yang lahir dari analisa dan visi ke depan yang dimiliki kaum intelektual kita. Dalam istilah yang lebih baku, ‘kegelisahan’ atau lebih tepatnya ‘kemampuan untuk menjadi gelisah’ ini dinamakan juga kritisisme. Kritisisme ini menolak pola keberpusatan pengetahuan. Ia selalu mencari celah kebenaran pengetahuan hingga di periferi – di bagian pinggiran yang bahkan tak diperhitungkan. Lebih jelasnya, ia menolak menerima begitu saja fenomena sebagai fenomena. Kritisisme intelektual menuntut penjelasan alternatif yang ada di luar zona nyaman (nyaman akibat pangkat kedudukan yang tinggi atau, lebih parahnya, nyaman akibat malas berpikir).

 ISKA – Ikatan Sarjana Katolik – dalam kaitan dengan pemikiran-pemikiran ini – juga memiliki peran  besar dalam mengisi ‘kekosongan ideologi’ masyarakat Indonesia saat ini. Sebagai wadah bertemunya para intelektual Katolik, ISKA mestinya bertanya diri pula: apakah dirinya juga (masih bisa) gelisah dengan situasi kebangsaan saat ini – dan yang lebih penting – apakah sumbangsih pengubahan yang ia berikan bagi masyarakat sekitarnya dan bagi Gerejanya? Yang membuat ISKA istimewa bukan hanya kemampuannya untuk menjadi ‘kritis’ dalam membaca tanda-tanda zaman hingga berdaya ubah dan mendatangkan sesuatu yang konkret bagi masyarakat (baca: pragmatis), namun lebih-lebih kesetiaannya pada ajaran dan tradisi suci dari gereja Katolik. Mgr. Ignatius Suharyo, Pr., dalam buku visionernya, The Catholic Way, mengatakan bahwa sifat ke-Katolik-an inilah yang membuat orang-orang Katolik terlibat secara terbuka dan bagi semua – bukankah arti Katolik sendiri adalah ‘umum’, ‘terbuka’ dan ‘bagi semua orang’. Nilai inilah yang dirindukan oleh bangsa kita.

 Para intelektual Katolik tidak cukup mengembangkan kekritisan yang pragmatis saja karena bila demikian intelektual Katolik tidak berbeda dengan Dengan kesetiaannya pada nilai-nilai (dan bahkan ideologi) Kristiani, ISKA bahkan dapat digambarkan sebagai sebuah badan yang membawa suara kenabian untuk zaman ini – suara profetis yang yang dapat menjadi pegangan bagi orang-orang pada zaman ini untuk bersama-sama bertindak.

 Tiga poros inilah yang harus menjadi diskusi kita bersama: kritisisme – pragmatisme – dan suara profetis! Dalam tiga poros inilah kita melihat peran dan sumbangan ISKA secara holistik bagi Indonesia dan Gereja. Mungkinkah kita menjadi seorang intelektual yang ‘hatinya tergerak’ (kritis) dan lalu bertindak meng-ubah dengan daya analisa yang kuat (pragmatis) sembari tetap setia dan berpedoman pada ajaran dan tradisi suci Gereja Kristus yang kita cintai (profetis)? Seharusnya, ini bukan sebuah kemungkinan lagi… melainkan sebuah keniscayaan bila ISKA sungguh ingin berbuah sepuluh, seratus dan seribu kali lipat!

 

Agama yang Ter(per)ang(ah)

 

Pendeta Terry Jones

Banyak orang terperangah saat mendengar rencana Terry Jones – seorang pendeta Kristen dari Florida, AS  – yang hendak membakar Al-Quran. Kecaman atas rencananya itu datang mengalir dari berbagai pelosok dunia, bahkan dari putri kandungnya sendiri. Aneka reaksi itu menunjukkan setidaknya satu hal positif: sakralitas yang tersimbolkan dalam Kitab Suci masih mendapat tempat dalam dunia yang makin modern ini. Minimal sekali, sakralitas dan nilai agama diperhitungkan sebagai salah satu tonggak hidup sosial yang utama. Namun demikian, kasus Terry Jones ini juga makin meyakinkan saya akan dua hal lain. Pertama, bahwa jurang antara sakralitas simbol agama dengan kemanusiaan justru terasa makin terbentang lebar. Kedua, semakin diperlukanlah sebuah kesadaran kolektif yang selalu kritis pada ragam-rupa wacana agamis sehingga teologi agama-agama sungguh juga mengabdi dan terarah pada perkembangan manusia yang lebih manusiawi.

 Kesucian versus Kemanusiaan?

Seraya meneriakkan kecaman pada rencana Jones membakar Al Quran, kita hendaknya tak boleh lupa bahwa sakralitas manusia juga harus diperjuangkan secara serius. Simbol-simbol sakral-agamis seperti Kitab Suci begitu dilindungi dari pencemaran dan perusakan karena ia sangat jelas menjadi wujud kehadiran dari Yang Ilahi sendiri. Dan mestinya, demikian pula yang mesti terjadi dengan kemanusiaan dalam hidup sehari-hari. Kasus Jones ini menjadi semacam pengingat kembali bahwa bukan hanya Kitab Suci, tetapi juga terutama manusia dalam tradisi agama-agama Abrahamis mendapat tempat utama dalam kosmos. Manusia dalam banyak cara digambarkan sebagai wakil Allah di dunia. Jones lupa bahwa dengan membakar Al-Quran, ia sama-sekali tidak dapat menista langsung Allah yang Maha Agung dan Maha Mulia. Penghinaan itu justru pertama datang karena ia melukai kerinduan terdalam manusia akan Allah yang terumuskan dalam kalam ilahi. Sejauh Jones menyakiti sesama manusianya dengan rencana itu, ia menyakiti ‘hati’ Allah sang Pencipta.

Rencana Jones tidak dapat melukai ‘Allah’ dan ‘Islam’ secara masif-anonim saja. Jones lupa  bahwa manusia yang mencintai Allah dan SabdaNya itu sungguh – meminjam istilah Levinas, sang filsuf Prancis – ‘berwajah’ dan ‘tidak anonim’. Ia menyakiti teman SD saya Muhammad Kurniawan. Ia menyinggung hati Bang Soleh yang adalah pengisi bensin di SPBU samping rumah saya dan Bu Yanti yang menjadi koki favorit keluarga. Artinya, ikatan makna dan persepsi yang menghasilkan sikap dan tindakan itu juga selalu bersifat relasional-personal. Terry Jones dengan mudah berencana membakar Al Quran karena rasanya ia tidak pernah sungguh mengenal wajah manusia Muslim sejati yang penuh kasih sebagaimana ditulis oleh Al. Andang L. Binawan dalam “Terima Kasih Islam!” (Kompas, 8/9/2011).

Rencana penodaan terhadap Al Quran oleh Jones mestinya membuat kita berpikir lebih jauh tentang sakralitas kemanusiaan kita. Anda, saya dan kita sendiri juga mungkin pernah turut terlibat ‘melukai’ liyan lewat perkataan atau tindakan yang kurang terpuji tanpa merasa bersalah karena moral (pemuka) agamaku mengajarkan bahwa pemeluk agama lain adalah sesat dan harus dihancurkan. Ada pertanyaan besar di balik reaksi atas rencana pembakaran Al Quran itu: sudah jauhkah ‘kesucian’ itu dari ‘kemanusiaan’ dalam hidup kita sehari-hari?

Falsifikasi dan Humanisme Praktis Teologi

Supaya jurang antara keduanya dapat terjembatani, dibutuhkan pikiran yang kritis pada semua wacana agamis; terutama yang datang dari para pemuka agama. Dalam pendekatan strukturasi Giddens, agama merupakan modalitas kekuasaan yang berasaskan norma-nilai. Oleh karena itu, modalitas yang terutama dimiliki oleh pemimpin agama mesti diimbangi dengan nalar kritis para pengikutnya agar teologi dan prinsip hermeneutika yang dikembangkan selalu terbuka pada falsifikasi. Previlegi normatif agama yang terletak pada infalibilitasnya (ke-tidak-dapat-salah-an) mesti terus dikaji dan ditafsirkan dengan teliti. Hans Küng, seorang teolog Katolik, misalnya membangun sebuah kriteria universal bagi agama-agama dunia agar dapat dikatakan sebagai ’benar’, yaitu: humanum alias ’kemanusiaan’.

Ia mengatakan dalam etika globalnya bahwa hanya agama yang sungguh mengabdi dan membela kemanusiaan-lah yang layak disebut sebagai ’benar’. Maka, rencana pendeta Jerry yang melukai sedemikian banyak orang secara objektif dapat dikatakan sebagai ’ajaran yang salah’. Orientasi dan keberpihakan pada liyan yang ditunjukkan Obama dalam dukungannya terhadap pembangunan masjid di kawasan Ground Zero adalah suatu tindakan etis yang heroik dan ungkapan iman yang hidup. Nalar budi yang terbuka dan disertai pertimbangan etis-humanis tanpa prasangka-lah yang akan dapat membuat agama kita menjadi agama yang mudah terperangah bukan hanya saat Kitab Suci kita hendak dinista, tetapi juga saat martabat kemanusiaan liyan disakiti dan direndahkan. Tentu saja terperangah tidak pernah cukup! Agama juga harus menumbuhkan iman yang hidup pada Allah, iman yang setia dengan ajaran masa lampau dan bergelut untuk soal hari ini seraya memberi harapan pada masa depan. Hanya dengan demikian, agama dapat menjadi terang bagi dunia yang makin kelam oleh kejahatan dan kekerasan.

 

Harapan Bersayarat dari Media dan Institusi Agama

Dari banyak percakapan yang saya dengar di warung makan tepi jalan hingga di pusat-pusat kajian ilmiah, ada fenomena menarik: krisis kepercayaan pada pejabat publik dan bangunan negara ini sangat parah.  Pesimisme terhadap mereka yang mengaku diri sebagai ‘penguasa’ mewabah di mana-mana. Sebenarnya, pesimisme tak selalu buruk. Pesimisme juga awalnya datang dari polaritas kesadaran seseorang atas harapan akan sebuah ideal, harapan untuk menjadi lebih baik. Harapan inilah yang harus diusahakan oleh dua institusi penting non-Pemerintah yang (semestinya) menjaga jarak dengan para pejabat publik: media massa dan institusi keagamaan.

Peran Institusi Keagamaan: menjaga tajamnya suara hati…

Cerita Baik untuk Berita yang Baik

Pertama, media massa dapat menjadi agen perubahan luar biasa karena tugasnya sebagai pembawa ‘kebenaran’. Sayang bahwa kebenaran tak pernah telanjang. Ia selalu memiliki konstruksi persepsi dan tak pernah bebas kepentingan. Bila kepentingan media massa sungguh terletak pada kebangkitan rakyat untuk menjadi lebih baik, saya pikir isi kebenaran yang disampaikan mestinya tidak berhenti pada sensasi sesaat saja. Berita buruk tentang pejabat publik dan kondisi bangsa ini tidak cukup berhenti hanya pada informasi. Rakyat kebanyakan juga punya hak untuk mendapatkan “jalan keluar” dari khaos yang ditimbulkan berita. Pesimisme di akar rumput terhadap kondisi bangsa ini terjadi karena media tak dapat menjawab pertnayaan utama “So, what?” setelah informasi skandal dan kasus mega-raksasa itu selesai diwartakan.

Bukankah mahfum di dunia media adanya pameo dalam dunia jurnalistik bahwa ‘cerita buruk adalah berita yang baik’? Mungkin ini yang menyebabkan banyak orang muda kita tak percaya lagi pada media massa dan memilih blog, twitter atau wordpress di internet untuk mengapresiasi ‘cerita baik’ sebagai ‘berita yang baik’. Saya sendiri jarang menemukan berita baik yang menginspirasi bangsa ini untuk menjadi lebih maju dalam surat kabar atau dalam berita televisi. Tidaklah salah media mengangkat aneka pemberitaan tentang carut marutnya negeri ini, namun apakah proporsi ‘cerita baik’ juga diperhatikan? Di kalangan masyarakat telah banyak muncul jaringan kebaikan yang dapat menjadi ‘cerita dan berita baik’. Ada kelompok pencinta lingkungan hidup, pemerhati soal-soal sosial, kelompok anti korupsi, dan banyak lagi yang menunggu untuk diwartakan media massa. Jawaban yang dirindukan rakyat dari media adalah jaringan kebaikan yang muncul di akar rumput dan informasi bagaimana seseorang dapat bergabung di dalamnya. Inilah yang disebut oleh Jürgen Habermas sebagai ‘diskursus publik’ yang bertujuan untuk mengubah informasi menjadi formasi masyarakat.

Media: Kabar Buruk adalah Berita Baik?

Iman (Institusi) Agama demi Kemanusiaan

Institusi keagamaan – mengacu pada teori perubahan struktur Anthony Giddens – adalah sebuah modalitas penting dalam proses reparasi situasi kebangsaan ini. Dengan mendaku diri sebagai negara berke-Tuhan-an Yang Maha Esa, Republik ini mengizinkan institusi keagamaan memberi pendasaran moral-etis bagi tiap tindakan warganya, termasuk juga di bidang politik. Sayangnya, masih ada jua institusi keagamaan yang hanya menyibukkan diri pada ritus kesalehan dan hukum-hukum suci daripada membuka pada dan bersikap pada soal kemiskinan, korupsi, pengangguran, ketidak-adilan. Belum lagi ada institusi keagamaan yang mengeluarkan aturan sektarian dengan mengatakan bahwa tak layaklah memberi ucapan hari raya pada mereka yang beragama lain. Sebagai benteng moralitas, institusi keagamaan tak boleh menumpulkan kekritisannya pada tata politik yang kacau-balau, turut bermain di dalam amisnya korupsi di tubuh Pemerintahan dan bersembunyi di balik topeng kekudusan. Hormat dan bakti pada Sang Pencipta tak boleh berhenti pada soal ortodoksi ajaran, soal legalisme agama, atau soal laku-doa, tetapi juga harus sampai pada perjuangan untuk hormat seluas-luasnya bagi kemanusiaan dan perdamaian seluruh tata ciptaan.

Langkah para pemuka agama di negara ini yang beberapa waktu lalu mengatakan Pemerintah berbohong dan melalaikan janji-janjinya adalah satu langkah besar yang patut dihargai. Sayangnya seruan itu tak diikuti dengan kesepakatan prksis yang konkret, misalnya edukasi kejujuran dan keutamaan moral dalam seluruh lini sekolah yang ada di bawah kuasa pemuka agama. Edukasi demi habitus baru ini bagaimanapun tetap menjadi jalan utama perubahan sosial. Ada contoh menarik dari negeri seberang. Seorang Imam Katolik dari Perancis, Ven. Jèan-Lèon Dehon, pernah menyerukan agar rekan-rekan pastornya keluar dari bangunan Gereja dan pergi menjumpai-mendidik umat-buruh yang menderita akibat revolusi industri. Dehon menugaskan para pastor bawahannya juga untuk bekerja di pabrik-pabrik agar dapat menjadi teman dan pendidik bagi orang-muda di sana sembari menyadarkan hak-hak kelompok buruh memperjuangkan hukum yang lebih adil di tingkat Kongres Rakyat. Apakah negara ini juga memiliki pemuka agama yang dapat menyeimbangkan praktek kesalehan dengan praksis edukasi sosial?

Mungkinkah Perubahan Itu?

Perubahan dapat datang bila dua institusi ini bersama melakukan otokritik atas posisi mereka yang sekarang dan dengan jelas menggariskan keberpihakan pada rakyat dengan tugas dan fungsi mereka. Tentu godaan tetap besar karena baik media massa maupun insitusi keagamaan tetap membutuhkan harta dan kuasa dalam porsinya untuk dapat bertahan hidup. Dalam pesimisme yang kental ini, kita dapat menunjukkan bahwa harapan bagi Indonesia dapat datang dari surat kabar di tangan kiri dan Kitab Suci di tangan kanan. Harapan ini baru mungkin kalau kedua institusi besar itu belajar mengendalikan nafsunya atas harta dan kuasa. Jadi, mungkinkah? Demi bangsa yang besar ini, jawabannya mestinya niscaya!

Tragedi “9/11”: Felix Culpa Est

“Tak mungkin lagi aku membenci celeng... –
Dan saat itu ia sungguh mengerti, mengapa,
untuk membebaskan diri dari celeng, ia mesti bertanya kepada celeng.”
(Sindhunata, Tak Enteni Keplokmu)
Monumen bagi korban tragedi 9/11

 

Sembilan tahun telah berlalu ketika pembajakan empat pesawat terbang yang ditabrakkan ke menara World Trade Center (WTC) dan Pentagon itu terjadi. Gelombang reaksi masif-pun lahir di seluruh pelosok dunia yang terperangah. Sebagian besar reaksi itu berisi sesal dan kutukan karena memang nyatanya peristiwa tersebut adalah sebuah kejahatan melawan kemanusiaan. Rantai penjelasan yang dibuat lalu banyak berkait seputar isu terrorisme. ‘Terror’ menjadi isu panas yang bergulir sedari obrolan anak SD hingga konferensi para pemimpin bangsa-bangsa. Namun, adakah ‘terorisme’ menjadi satu-satunya kunci untuk menjawab pertanyaan, “mengapa lembar buram ‘9/11’ itu harus terjadi?”

 Di tengah dunia yang sedang ‘meng-global’, meledaklah kemarahan mereka yang menjadi ‘korban’ disparitas yang terus tumbuh setinggi busung menara kembar WTC. Mungkinkah tabrakan maut yang sengaja itu pun pula hendak mengkritik kapital perdagangan transnasional yang menjadi perancang globalisasi?

 Inkohenrensi Ekonomi

Menurut Ettiene Perrot, seorang profesor ekonomi dan etika sosial di Universitas Paris,  globalisasi dapat dengan mudah dimengerti sebagai akumulasi dari internasionalisasi dan homogenisasi yang bergerak pertama-tama dan terutama dalam tataran ekonomi (“The Ambiguities of Globalization” dalam Concilium, 2001/5). Kesadaran mondial yang telah terpupuk sedari penemuan ‘dunia-dunia baru’ pada zaman eksplorasi bahari sepanjang sejarah peradaban manusia telah membuatnya lekat pada bahasa ekonomi dan dominasi. Sementara, kolaborasi sains dan teknologi di zaman modern telah menambahkan banyak kemungkinan baru untuk berkomunikasi dan bertukar informasi, yang menjadi imperatif penguasaan ekonomi. Namun kemajuan itu tak lalu serta merta berarti kemajuan dalam solidaritas manusiawi yang inter-subjektif.

 Globalisasi, pada mata pedang negatifnya, justru telah menyulam paksa inkoherensi dalam tata perekonomian lokal; sebuah tindakan destabilisasi yang dilahirkan dari banyaknya kemungkinan pilihan produksi dan konsumsi. Batas kepemilikan-pun tak lagi dikungkung oleh teritorial, tetapi oleh kapital sehingga struktur negara hanya menjadi salah satu pusat dari masyarakat yang kompleks. Sekian banyak perusahaan multi-nasional tumbuh subur sementara sumber-sumber kemakmuran lalu hanya menjadi hak mereka yang bermodal kuat, bukannya mereka yang miskin. Bantuan moneter (baca: utang) yang berbanjiran datang dari lembaga-lembaga supranasional, seperti IMF, Bank Dunia, justru menjadi jerat bagi struktur negara berkembang. Ilusi ‘standar kemajuan’ yang ditawarkan oleh negara dunia pertama akan menggiring negara dunia ketiga menjadi ‘negara-gagal’  ketika pesona sumber dayanya telah habis diserap secara tidak adil.

“Cerita Kecil” tentang “Orang Kecil”

Pada kutub sosial, inkoherensi ekonomi itu telah mencipta sebuah ‘dunia maya’ yang menjadikan ‘the haves’ sebagai cita-cita dan bahwa ada seribu-satu cara instan untuk mengatasi seluruh persoalan. Cerita besar tentang ‘dunia maya’ yang dilihat para pialang dari balik kaca jendela menara WTC tentu sangat berbeda dengan cerita kecil para ‘korban globalisasi’ yang kakinya masih tertanam di tanah kemiskinan, tanah realitas. Cerita kecil seorang bocah bernama Arifin, misalnya, bertutur pahit tentang pilihannya gantung diri karena putus asa tak mampu membayar SPP kedua adiknya. Sementara, narasi kecil lain berkisah tentang seorang TKI yang harus bergantung dengan jalinan kain di ketinggian apartemen demi melarikan diri dari majikan yang kejam atau cerita seorang ayah yang dihajar massa karena terpaksa mencuri demi sesuap nasi bagi anak-anaknya.

 Globalisasi, sebagaimana proses perubahan sosial lainnya, nyatanya selalu menciptakan pemenang dan korban. Para advokat globalisasi memuja globalisasi sebagai ‘kunci bagi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran manusia.’ Memang ada dasar empiris di atas kertas bahwa kondisi kehidupan di semua negara meningkat pasca bergulirnya globalisasi, apalagi jika diukur dengan indikator yang lebih luas. Namun seringkali teriakan mereka yang miskin dan menjadi korban inkoherensi ekonomi ini dibisukan di hadapan riuh-rendahnya transaksi arus besar di pasar global.  Tak heran bila pada satu titik, akumulasi murka dan tangis korban kesenjangan ini menghantam menara-menara gagah seperti WTC agar dunia mau mendengar impian dan, yang terutama, kritik mereka.

 Dari Kritik ke Diskursus: “Felix Culpa”

Bila kita sempat dengan bijak mengubah kritik menjadi diskursus, sebagaimana dilontarkan oleh Jurgen Habermas (F. Budi Hardiman, Filsafat Fragmentaris, 2007), tragedi ‘9/11’ itu dapat menyimbolkan soal lain yang melebihi daya mata telanjang kita. Diskursus mengandaikan problematisasi publik dan merangsang semua orang untuk bergegas meluaskan jawaban dan argumen rasional, hingga soal ‘terorisme’ tidak berhenti pada dirinya sendiri. Perluasan ini dapat dengan jujur melampaui tembok-tembok kepentingan politik tertentu dan berujung pada satu terma lain: globalisasi.

 Biarlah luka ‘9/11’ menjadi sebuah felix culpa  – “dosa yang yang membahagiakan” – sejauh ia diingat dan terus menjadi diskursus yang membuat manusia sesudahnya belajar untuk tidak menutup telinga pada teriakan para korban. Biarlah globalisasi dan imbasnya terus diproblematisasikan, agar wawasan rasional publik makin luas hingga tahu meneriakkan hak-hak para korban demi membangun solidaritas manusiawi yang lebih baik. Bila sebagian dunia hadir dengan cengkeraman dominasi ekonominya yang seolah membenci mereka yang miskin layaknya membenci celeng (babi hutan), kita dipanggil untuk menjumpai, menyentuh dan bertanya pada arak-arakan celeng itu. Siapa tahu, seperti digores Sindhunata dalam novel klasiknya Tak Enteni Keplokmu, kita akan mampu merasakan betapa tak mungkin membenci celeng yang kita jumpai di sepanjang lorong hidup kita.