Singa Tanpa Auman

www.romokoko.org

Alkisah, hiduplah seekor singa yang tidak bisa mengaum. Di balik penampilannya yang gagah dan kokoh, sang raja padang rumput itu tidak mampu menggetarkan lawannya dengan suara yang dalam. Si Singa sejak masa kecilnya telah menemukan bahwa ia tidak bisa mengaum – namun tidak ada hewan lain di sekitarnya yang mengetahui hal ini. Si Singa tumbuh besar dengan suara yang lembut dan karenanya tidak ada hewan yang takut bermain di sekitar si Singa besar ini. Ia justru mendapatkan rasa hormat dari hewan lain karena si Singa selalu bertutur kata sopan dan lebih memilih untuk mendengarkan keluhan sahabat-sahabatnya.

Scott Randal

Sampai di suatu hari, seekor babi hutan muda membuat onar seluruh warga padang rumput. Babi hutan ini berani melanggar batas dengan merusak ladang manusia dan menyerang anak-anak hewan lain. Semua hewan datang mengeluh pada si Singa yang terkenal bijak dan lembut itu. Akhirnya si babi muda digiring menghadap si Singa dan semua hewan lain menunggu nasihat apa yang akan dikatakan oleh Raja mereka.

Mulailah sang Singa menasihati si babi muda pembuat masalah itu. Alih-alih menyesal, si babi menertawakan si Singa yang ‘terlalu lembut’. Merasa terhina, si Singa murka dan nalurinya untuk mengaum berkobar-kobar… namun ia seketika sadar dirinya tidak bisa mengaum.

Continue reading “Singa Tanpa Auman”

Advertisements

“Komitmen… “

#SoulBites 2.0 | 06112015

Wanita paruh baya itu acapkali mengusik batinku. Gurat wajahnya adalah kisah perjuangan yang berat membesarkan dan mendidik anak laki lakinya. Wanita ini sederhana jalan pikiran dan impiannya. Ia tak lulus SD namun selalu cerewet soal pendidikan anaknya. Ia mengusahakan putranya meraih apa yang ia impikan…

Continue reading ““Komitmen… “”

“Angela…”

#SoulBites 2.0 | 05112015

Usianya 8 tahun. Namanya Angela. Anak perempuan manis itu selalu menyambutku di depan pintu gereja sebelum misa: “Romo, salaman ya!” Lelahku seketika hilang tiap kali melihat senyum lebarnya di sana…

image

Seminggu lalu, senyumnya menghilang. Ia tak sadarkan diri karena demam terlampau tinggi. Kejang demam mendera sementara orangtuanya, petani karet sederhana di pedalaman Lampung, tak mampu banyak berbuat… Mereka dibatasi jarak dan tipisnya isi dompet… Sang ibu hanya mampu menangis dan ayahnya malah justru jatuh pingsan melihat putri kecilnya amat menderita…

Continue reading ““Angela…””

Facebook dan Awal Sindrom Kesepian …

Hi readers.
lama juga ya saya belum update blog ini… 🙂
Pagi ini saya mendapat link video inspirasi tentang fenomena facebook dan rasa kesepian 🙂
Video ini sangat sangat sangat menginspirasi… jadi, bagi Anda yang punya talenta untuk translation dan punya waktu, saya undang Anda untuk menerjemahkan video ini dalam bahasa Indonesia…

Happy watching and God bless you all! 🙂

Andai Keajaiban itu Datang…

a tribute to Martin by Fra. Tugi SCJ

Fra. Tugi SCJ (Penulis)
Fra. Tugi SCJ (Penulis)

Suatu siang dipertengahan musim panas Juni 2012, sebuah mobil Mitsubhisi warna putih meluncur dari arah Pamulang menuju Wisma Bambu Apus.  Di dekat sebuah tikungan, mobil itu belok dan memasuki pintu gerbang rumah bercat putih. Beberapa saat setelah klakson berbunyi tampak keluar seorang anak lelaki usia 20-an berbaju coklat membukakan pintu. Dia adalah Martin, salah satu anak penghuni Wisma Bambu Apus.

Martin adalah anak yatim piatu yang dilahirkan di Jakarta 1984. Suatu yang istimewa adalah tanggal kelahirannya yaitu 25 Desember. Bagi orang Kristen tentu saja tanggal dan bulan itu merupakan suatu Kabar Sukacita dan hari yang penuh rahmat. Tetapi Martin dilahirkan dalam situasi yang kurang menguntungkan baginya. Dia memiliki penyakit epilepsy, gangguan pendengaran, jalannya yang agak miring dan bicaranya kurang jelas. Namun, dalam kondisi seperti itu Martin sangat rajin dalam melayani komunitasnya. Dari bangun pagi hingga menjelang dia tidur, Martin tak pernah lupa mengerjakan tugas  yang dipercayakan kepadanya.

Ketika sebuah mobil Mitsubhisi warna putih itu berhenti di depan rumah dan membunyikan klakson dua kali, dengan langkahnya yang agak sedikit tertatih Martin berlari kecil menyahut kunci pintu yang tergantung di sebuah paku dekat almari TV. Beberapa Frater yang seringkali menyaksikan semangat Martin sering merasa terharu. Ada perasaan melayang-layang, berandai-andai dan terkadang air mata pun jatuh tatkala menyaksikan Martin yang dengan keterbatasannya melakukan hal-hal sederhana menjadi luar biasa.

“Seandainya dapat kulakukan, aku ingin berlari secepat angin ataupun kereta bawah tanah. Aku juga ingin terbang seperti burung yang mengintari danau dan melompat dari ranting ke ranting. Tetapi Tuhan mengaruniakan padaku sesuatu lebih dari apa yang mungkin dimiliki orang lain. Dengan segenap kekuranganku, ternyata Kau tetap dapat memperhatikan sesamaku yang ada dalam keluarga tercinta Bambu Apus ini”.  

Mungkin kata ini akan terucap dari bibir Martin, jika dia dapat menceritakan isi hatinya dengan terbuka. Martin mampu menyimpan perkara-perkara besar dalam hatinya, dan sungguh yakin bahwa semangatnya yang besar dalam melayani dijiwai oleh suatu ketulusan dari lubuk hati yang dalam.

Musim liburan hampir tiba dan tiba saat bagi Martin untuk mengambil raport.

’Hoqeee,,, qigak aga ngiai meqrahnga”. Suatu kata yang asing didengar pada lazimnya diucapkan Martin. Sebenarnya dia ingin mengatakan, “Horeee,,,, tidak ada nilai merahnya”. Suatu ungkapan kegembiraan dari hati Martin yang paling dalam terlihat saat itu. Para Frater pun ikut merasa bahagia melihat anak-anak yang lain juga ada yang merasa bangga, tetapi ada juga yang terlihat sedikit murung ketika membuka-buka rapor mereka. Pak Peno sebagai pendamping asrama juga merasa senang, karena keberhasilan anak-anak juga keberhasilan semua keluarga Bambu Apus.

Malam hari ketika selesai makan, tugas utama Martin adalah mencuci peralatan makan. Saat itu Frater Gie dan dua Frater lainnya membantu tugas Martin. Tiba-tiba pada langit yang gemerlap oleh bintang-bintang terdapat suatu cahaya terang sebesar bola ping pong yang melesat dengan begitu cepat.

“Oh,,, ada bintang jatuh”, kata frater Gie.

“Hqa,,,, aqkwa?”, (maksud Martin adalah “Ha…apa..?”).

“Bintang jatuh!”, kata Frater Gie lebih tegas.

Konon ketika ada hujan meteor atau ada bintang jatuh katanya setiap orang yang melihatnya boleh mengucapkan suatu permohonan. (Orang-orang yang tidak melihat bintang jatuh juga boleh saja mengucapkan permohonan dan harapannya. Jadi, tidak perlu menunggu bintang jatuh). Hal itu hanya suatu kepercayaan yang tidak perlu diyakini, tetapi kesempatan itu digunakan Frater Gie untuk menyemangati Martin.

“Martin,,,  Martin,, coba lihat bintang itu”!.

“Hnga,,,, ungkuk anga?”. (Ha,,, untuk apa?)

“Ketika menyaksikan bintang jatuh, kamu dapat membuat suatu harapan besar!”.

Frater Gie mencoba menghibur dengan kata-kata itu, tetapi rupanya saat itu Martin belum mengerti maksud Frater Gie. Semua yang turut mencuci piring hanya tertawa, tetapi Martin masih terlihat dengan wajahnya yang terbesit suatu pertanyaan tentang bintang jatuh itu. Setelah selesai mencuci piring, semua anak dan para Frater masuk ruang doa untuk berdoa bersama.

Martin adalah namaku...
Martin adalah namaku…

Martin yang dengan segenap keterbatasannya pula tidak pernah terlambat dalam berdoa. Mungkin banyak anak zaman ini yang walaupun hidupnya serba berkecukupan dan memiliki jasmani yang lengkap terkadang masih tetap memiliki kekurangan, di antaranya sedikit lupa bersyukur. Ketika selesai berdoa malam, Martin pun segera masuk kamar. Dia tidak memiliki kebiasaan seperti anak-anak lain yang seringkali menghabiskan waktu mereka sampai larut untuk main Play station. Ketika teman-temannya tertawa karena serunya permainan itu, mungkin Martin sudah tidur bersama mimpi-mimpinya.

Di pagi hari ketika matahari mulai terbit, Martin telah mengumpulkan pakaian-pakaian temannya yang lebih berkesulitan. Ada pakaian yang kotor karena temannya yang mengompol, ada yang kotor karena keringat, air liur dan sebagainya. Satu bak penuh setiap harinya. Oh… tapi tunggu dulu. Tidak hanya itu saja. Martin juga mendapatkan giliran menyapu dan mengepel lantai. Frater Gie dan para frater lain menjadi saksi, bahwa Martin selalu mengerjakan tugas itu tanpa keluhan tetapi penuh dengan semangat pelayanan yang tulus ikhlas. Suatu cinta yang rela berkurban dan layak menjadi teladan bagi setiap orang. Bagi komunitasnya betapa setiap saat Martin begitu berharga meskipun kecil.

Bagaikan seorang pengembara yang mempunyai tujuan yang jauh, begitu juga terkadang pikiran melayang jauh tanpa batas. Jika saat ini banyak anak usia Sekolah Dasar berlomba dengan segudang cita-cita mereka yang tinggi, begitu juga Martin terkadang memiliki cita-cita yang tinggi walaupun hanya tinggal dalam angan-angan. Martin ingin dipeluk oleh Mama dan Papa, Martin juga ingin bermain bersama teman-teman. Martin ingin merasakan berlari dan memakai sepatu roda. Ingin mendaki bukit yang tinggi dan menyentuh awan. Tapi itu semuanya hanya tinggal mungkin. Mungkin di luar sana milyaran mata tertawa ketika langit menjadi cerah bersama harapan setiap orang. Tetapi menyaksikan Martin yang berjalan saja sulit maka keindahan itu akan tampak menjadi langit yang selalu keruh dengan mendung hitam menggelayut seperti habis hujan. Itulah yang akan dirasakan seseorang ketika menyaksikan kehidupan Martin.

Suatu hari sekolah Luar Biasa Pamulang yang merupakan tempat sekolah Martin dan teman-teman mengadakan olahraga bersama. banyak orang hadir, baik siswa maupun pendamping. Saat itu terlihat semuanya antusias menyiapkan sarana olahraga dan membawa alat-alat masing-masing. Di sudutsudut lapangan tampak beberapa orang yang memutar-mutar badannya melakukan pemanasan. Ada pula yang berlari-lari kecil mengelilingi lapangan. Tetapi yang tampak dilakukan oleh Martin adalah memegang sapu dan mengayunkannya pada daun-daun dan sampah yang berserakan di lapangan. Meskipun setiap orang dapat membuat pilihan masing-masing yang menurut mereka baik untuk dilakukan saat itu, ternyata Martin telah memilih yang terbaik.

Pada suatu malam di dalam kamar yang ditempati Martin bersama teman-temannya timbul suatu kegaduhan. Tempat tidur yang ditiduri Martin bergerak seperti ada gempa bumi besar. Saat itu ternyata Martin mengalami kejang. Seluruh badannya kaku dan matanya melotot kencang seperti seorang yang sedang marah. Begitulah dia ketika epilepsinya kambuh. Namun dalam keadan seperti itu juga tidak aka nada yang menolongnya, karena pada saat seperti itu memang tak ada yang dapat dilakukan orang-orang yang di sekitarnya kecuali menjadi penonton. Hal itu akan terjadi kurang lebih selama tiga menit. Rasa sakit yang luar biasa akan dialami oleh Martin. Hanya obat Tegretol  (obat untuk ayan), yang dapat membantu mengatasi sedikit rasa sakitnya itu pun harus diminum setiap hari dan jangan sampai terlambat.

Di antara perjuangan Martin menghadapi penyakitnya ada seorang pendamping yang juga hadir memperhatikannya. Pak Peno selalu mendoakan Martin dan membantu dia supaya selalu kuat dalam menghadapi penyakitnya. Walaupun harus membagi waktu bersama keluarga, pak Peno selalu hadir dengan penuh kasih bagi  Martin dan teman-temannya.

“Jangan sampai ada satu orang pun yang kekurangan cintakasih”.

Itulah kalimat pak Peno yang selalu diingat oleh frater ketika pak Peno melayani anak-anak yang diasuhnya termasuk Martin. Dalam komunitas keluarga Bambu Apus tampak suatu rasa memiliki dan persaudaraan yang besar. Hal itu pula selalu ditampakkan dalam diri Martin ketika berada ditengah teman-temannya. Sayang sekali tidak setiap kegiatan dapat diikuti oleh Martin.

Suatu hari komunitas Bambu Apus mengadakan rekreasi ke pantai Salyra Jawa Barat. Tampaknya perjalanan yang lumayan jauh pun menggembirakan, walau ada yang tertidur dalam perjalanan. Cuaca langit yang cerah menambah semangat untuk bermain di pantai. Ketika sampai di tempat parker, minibus yang ditumpangi mereka berhenti dan anak-nak langsung turun untuk berganti pakaian renang. Tidak ketinggalan para frater yang saat itu sedang Live in turut bermain bergembira di pantai. Mereka berenang, bermain ombak dan pasir. Tetapi Martin hanya dapat melihat dari pinggir pantai dan tidak dapat merasakan kegembiraan seperti temannya yang lain. Sekali-sekali Martin tersenyum melihat tingkah temannya yang lucu ketika tidak dapat berenang.

Suatu kali terlihat Martin yang sedang melamun ketika duduk di sebuah gundukan batu karang menatap laut.

“Bersama teman engkau takkan kesepian

Hari-hari akan kembali

Tidak peduli dekat atau jauh

Aku mengangkat segenap cinta untuk mendorong angin dan hujan

Untuk selalu menahan badai

Aku percaya mimpi yang kusut tidak pernah berarti

Pelukan erat dan keberanian akanselalu mendorongku

Satu kata satu kehidupan

Ada kesepian ada keluh kesah

Jika engkau punya sahabat sejati maka engkau akan tahu

Badai akan berlalu dan hujanpun akan pergi

Berjalan keluar dari kabut

Berlari untuk melihat bintang-bintang

Menunggu matahari setelah hujan

Ada luka ada rasa sakit

Ada perpisahan

Aku selalu ada”.

Mungkin syair lagu itu yang dinyanyikan Martin ketika dalam lamunannya. Walaupun tiada orang tua kandungnya, tetapi teman-teman Martin selalu ada. Untuk saat yang baik atau saat buruk, Martin juga selalu ada bersama keluarga Bambu Apus. Para frater yang sedang Live –in di sana pun melihat suatu cerita indah tentang besarnya arti persahabatan yang terjalin akrab di antara Martin dan teman-temannya. Sungguh hal itu menjadikan suatu pengalaman berharga. Sesudah anak-anak merasa capai bermain air, pak Peno mengajak mereka dan para frater untuk beristirahat. Setelah selesai bersantap siang, rombongan masuk kembali ke dalam mobil minibus yang dikemudikan pak Leo. Di sepanjang perjalanan itu, semuanya tertidur, kecuali pak Leo sendirian.

Hari berikutnya adalah hari-hari yang semakin sepi bagi Martin begitu juga dengan keluarga Bambu Apus. Beberapa dari mereka yang masih memiliki orang tua ternyata dijemput untuk berlibur di rumah masing-masing. Itu artinya bagi Martin harus siap untuk menggantikan tugas mereka. Tetapi para frater yang ada di sana ternyata juga peka akan keadaan, sehingga turut ambil bagian meringankan beban Martin. Beberapa tugas seperti mengelap kaca jendela, menyapu lantai, mengepel, dan menyiram bunga akhirnya dibagi bersama-sama.

Suatu kesempatan yang menyenangkan bagi Martin adalah ketika ada kunjungan. Meskipun sekolah libur, tetapi seringkali ada kunjungan dari suatu lembaga instansi pendidikan atau pekerjaan. Yang menyenangkan adalah mereka terkadang menghibur dengan membawa pemain sulap atau membagi makanan ringan. Setiap kunjungan usai, ingin rasanya Martin memutar waktu yang tinggal kenangan ketika suasana itu sudah lewat darinya.

Pada Minggu kedua di pertengahan Juli, tibalah waktunya juga bagi para frater untuk kembali ke Jogja. Saat itu cuaca Jakarta cukup panas karena memang musim kemarau. Di hari itu Martin juga tampak sedih karena harus ditinggalkan oleh para frater yang akan kembali ke Jogja.

“Nangki kangau ugah sangai gangang ngupa nga”, (nanti kalau sudah sampai jangan lupa ya). Itulah pesan Martin kepada para frater.

“Oh,,, tentu saja Martin,,, kami akan selalu ingat kalian semua”. Jawab salah seorang frater. Akhirnya setelah mereka berpelukan dan saling melambaikan tangan, para frater meninggalkan rumah Bambu Apus dan Martin pun melangkah menuju kamarnya untuk istirahat. Pukul tiga sore Martin bangun dan kembali melaksanakan tugas-tugasnya dalam komunitas. Suatu pelayanan bagi Tuhan yang dilakukan oleh Martin melalui sesamanya sungguh berharga di mata dunia yang melihatnya. Hanya suatu harapan yang indah dan mungkin juga diharapkan yaitu jika keajaiban mungkin datang.

Tetap Bersyukur Meski Autis

Fra. Florent SCJ (Penulis)
Fra. Florent SCJ (Penulis)

Ditulis oleh Fr. Florentinus SCJ

 

Tampangku Bisa Menipu

Rasanya wajar kalau tiap orang yang melihatku pertama kali akan kagum. Tetapi  ketika tahu siapa aku yang sebenarnya, mungkin susah untuk dipercaya. Dari penampilan luar, aku tampak keren seperti teman-teman (normal). Tubuhku sehat. Wajahku sedikit mirip dengan orang Korea. Kulitku putih terawat. Namun siapa sangka kalau aku punya kelemahan yang kadang susah diterima kebanyakan orang.

Dari pengalamanku, yang sering terjadi adalah ketika orang melihat aku pertama kali, mereka spontan kira aku normal seperti anak lainnya. Namun, ketika mereka mulai mengajakku berbicara, jangan harap mereka akan mendapat tanggapan dariku meski hanya sepatah kata saja. Lalu ketika orang menatapku lebih lama lagi dan memperhatikan dengan cermat, barulah mereka akan tahu bahwa aku seorang autis.

Salah satu kisah dimana penampilanku menipu orang kalau aku tidak autis adalah ketika para frater SCY berjumpa denganku. Mereka datang di Panti Asuhan Bhakti Luhur, tepatnya di asramaku, untuk tinggal dan belajar mendampingi kami selama kurang lebih 3 minggu pada bulan Juni 2012. Ketika aku pulang sekolah bersama teman-teman yang cacat lain dan para perawat, di rumah (asrama) aku melihat ada 3 orang baru. Mereka itu pemuda-pemuda yang lumayan keren dari Yogya. Ternyata mereka adalah para frater SCY yang mau belajar tinggal bersama kami di Panti Asuhan Bhakti Luhur.

Melihat aku, mereka menatapku kagum. Lalu, salah seorang mengajakku bercakap-cakap seolah menganggapku anak normal. Aku sih diam saja seperti biasa. Mana kutahu bahasa orang itu. Lagi pula aku kan memang tidak bisa bicara. Rupanya ia belum percaya kalau aku autis. Hehe…kasihan para frater itu. mereka tertipu oleh penampilan sekilasku.

Siapa Aku ini

Namaku Nio...
Namaku Nio…

Nama lengkapku Geovranio Imanuella Purba. Orang fasih memanggilku Nio saja. Aku dilahirkan di kota Tangerang pada tanggal 7 Maret 1997.  Aku hanya 2 bersaudara. Aku anak pertama dan memiliki seorang adik. Karena keadaanku yang seperti ini, setelah lumayan gede aku masuk ke Panti Asuhan Bhakti Luhur Jakarta. Aku rasa ini adalah tempat yang tepat untukku supaya bisa sedikit demi sedikit berkembang mengatasi keterbatasanku ini.

Aku sama lho dengan teman-teman lain. Aku juga punya orang tua. Mereka telah membesarkan dan merawat aku dari kecil. Lalu aku masuk ke Panti Asuhan Bhakti Luhur ketika sudah cukup gede. Keluargaku tergolong keluarga yang berkecukupan. Papa punya mobil bagus juga kok. Mobil itu sering dibawa untuk menjemputku ketika mulai liburan dan menghantarku kembali ke Panti Asuhan Bhakti Luhur tiap kali masuk semester baru.

Aku sudah cukup lama tinggal di Panti asuhan Bhakti Luhur. Orangtuaku berharap agar aku bisa sedikit demi sedikit berkembang dan bisa lebih mandiri dengan memasukkan aku ke Panti Asuhan Bhakti Luhur tercinta ini. Di sekolah Panti Asuhan kan ada pelajaran “Bantu Diri”. Setidaknya aku dan teman-teman mendapat perhatian khusus layaknya anak-anak berkebutuhan khusus seperti kami ini. Memang sih sekolahan kami tak seperti sekolah anak-anak normal di luar sana. Yang pasti para perawat kesulitan dan harus bersusah payah mendampingi dan membimbing kami supaya lebih berkembang dan bisa bantu diri. Itulah tugas mereka yang mungkin tidak mudah.

 

Aku Berbeda dengan Yang lain

Aku sudah bilang sebelumnya bahwa aku berbeda dengan teman-teman yang normal lainnya. Aku tidak bisa berbicara. Aku juga tidak bisa menangkap maksud orang lain ketika diajak bicara. Aku susah berkomunikasi dengan orang lain baik secara verbal maupun non verbal. Aku memang hidup bersama dengan teman-teman di Asrama Panti Asuhan, tetapi jangan harap aku bisa berkomunikasi dengan mereka. Kehidupan sosialku bersama para perawat dan teman-temanku hanya sebatas tinggal bersama. Tidak pernah ada “ngobrol bareng” bersama, kecuali di antara para perawat sendiri.

Aku lebih sibuk dan hanya mengerti dengan duniaku sendiri. Itulah yang bisa kupahami tentang diriku. Setiap hal yang kulakukan cenderung mengarah ke diriku sendiri sebagai pusat. Orang mungkin akan bilang aku egois, tetapi inilah situasiku. Aku tidak bisa mengerti maksud orang lain, apalagi harus membantu orang lain. Mengurus diri sendiri saja, aku belum bisa, bagaimana bisa mengurus orang lain.

Ketika aku melihat apapun juga yang bisa dipandang oleh kedua mataku, aku tidak bisa memberikan nama kepada benda itu. Kalau anak-anak seumuranku yang normal tentu bisa melakukannya dengan mudah. Sejauh aku mengerti, benda-benda yang kulihat itu ada yang diam saja, ada yang bergerak. Ternyata ada benda yang mirip dengan aku, tetapi bisa ngomong.

Semua benda bisa kulihat, tapi aku tidak bisa mengatakan apa namanya kepada orang lain. Aku tidak bisa berpikir benda itu apa, kenapa ada yang diam dan bergerak, darimana asal benda itu dan sebagainya. Yang jelas, apa yang ada itu biarlah tetap berada seperti itu. Semua itu tidak perlu dipikirkan dan dipertanyakan.

Kebiasaan-kebiasaanku yang menyenangkan, tapi kadang mencelakakanku juga

Ada beberapa kebiasaan yang sering kulakukan. Semua itu cukup asyik kulakukan  sendiri. Aku tidak bisa menuntut orang lain untuk mengerti aku seutuhnya sebab ini memang keadaanku. Kebiasaan-kebiasaan ini terjadi otomatis begitu saja. Aku sendiri kesulitan  untuk mengubah kebiasaanku ini. Para perawat dan pendampingku pun rasanya juga kewalahan menghadapiku. Tapi aku sendiri tentu merasa asyik donk dengan kebiasaan-kebiasaanku sendiri.

Pertama, aku sering ngompol. Seandainya ditanya kamar siapa yang paling bau di asramaku, jawabannya pasti kamarku. Kenapa? Karena aku suka ngompol, bahkan tidak hanya di kamar. Dalam satu hari saja, aku bisa ganti celana 100 kali kalau aku mau sebab aku sering kencing di celana. Itu terjadi otomatis begitu saja dan tidak kusadari. Maka, para perawat tidak mengganti celanaku setiap aku kencing di celana. Kita perlu belajar hemat. Kalau celanaku sudah basah kuyub, barulah ada yang mau mengganti celanaku. Aku sendiri tidak mungkin berpikir untuk mengganti celana sendiri.

Kedua, aku tidak bisa duduk diam. Selama mataku terbuka, selama itu pula aku akan bergerak dan berjalan. Susah bagiku untuk duduk diam. Aku akan terus berjalan dan berjalan menyusuri setiap ruangan asrama yang bisa aku lewati. Tidak peduli apa kata orang, apa larangan orang. Mungkin mereka ada yang terganggu. Yang penting aku bergerak terus tanpa tujuan. Kalau sudah capek, ya enaknya langsung tidur. Dan ketika mataku perlahan tertutup, saat itulah aku bisa diam meski nantinya tetap aja ngompol.

Ketiga, aku akan makan makanan apa saja yang kutemui. Itu kulakukan sambil bergerak dan terus bergerak. Akibatnya, kadang apa yang kumakan itu tidak selamanya baik untuk kesehatanku. Kadang perutku menjadi mual. Kadang tubuhku juga jadi lemas. Pokoknya macam-macam deh yang kurasakan. Misalnya aku makan sesuatu di atas cobek pada suatu siang. Ternyata setelah itu, lidahku panas banget dan tanganku juga ikut panas. Rupanya sambal cabe kumakan begitu saja secara diam-diam seperti nasi. Aku mengambil dengan tanganku. Tetapi tetap saja aku mengulanginya saat semua orang tidak melihatku dan melarangku.

Ada kisah lain lagi yang serupa. Aku minum cairan kehitam-hitaman di samping kompor. Cukup manis rasanya. Tapi setelahnya, kepalaku jadi pusing dan mataku berat untuk kubuka. Aku hampir saja pingsan. Rupanya aku minum kecap. Anehnya, aku terus mengulangi dan mengulangi lagi esok hari tanpa sadar itu adalah salah satu jenis barang alergiku.

Keempat, aku suka memainkan sesuatu sendirian. Asyik rasanya. Misalnya  memutar gelas plastik atau juga segala jenis kertas sambil berjalan dan terus berjalan. Sebuah buku frater  menjadi salah satu korban tangan saya. Benda di tanganku bisa bertahan lama kuputar-putar. Semakin lama rasanya semakin asyik. Mungkin orang normal akan bosan melihatku seperti ini, tetapi aku enjoy aja karena memang duniaku memang seperti ini. Dunia yang penuh dengan keasyikanku sendiri.

Itulah beberapa kebiasaan yang aku lakukan tiap hari. Mungkin orang (normal) bisa bilang kebiasaanku ada yang kurang bagus. Tapi aku sendiri tetap merasakan asyiknya duniaku. Kebiasaan-kebiasaan itu menyenangkan, meski kadang mencelakakanku juga. Namanya juga autis, aku tetap aja melakukan apa aja yang mungkin bisa mencelakakanku. Untung para perawat berusaha senantiasa memperhatikanku.

Aku Bisa Bahagia dan Bersyukur

“Inilah aku, utuslah aku”, seperti kata-kata nabi Yesaya. Keadaanku memang begini. Kalau bisa memilih, tentunya siapa sih yang tidak mau hidup normal seperti anak-anak yang lain. Tapi aku tidak mau pusing dan memberontak seperti manusia normal yang kebanyakan malah susah untuk mensyukuri keadaannya. Aku dengan keadaan seperti ini saja bisa happy kok.

Aku mencoba menerima keadaanku ini. Bahkan aku sendiri saja tidak bisa menciptakan diriku yang seperti ini, kenapa harus menolak situasi. Tanpa adanya rasa syukur,  aku tidak akan bisa menikmati hidup. Rasa syukurku mungkin bisa dilihat bagaimana aku tidak memberontak dalam menjalani hidup. Hidup dalam ketegangan dan tekanan dalam diri terus menerus itu sungguh mengerikan. Maka aku tidak mau ambil pusing dan meratapi diri yang seperti ini. Aku sudah merasa hidupku ini adalah hadiah Tuhan yang berharga.

Aku bisa melihat bagaimana hidup orang-orang normal yang tidak seperti aku dan teman-teman berkebutuhan khusus lainnya juga mengalami perjuangan keras dalam hidupnya. Setidaknya aku sendiri tidak akan menyesal pernah dilahirkan di dunia ini, sekalipun harus menjadi seorang autis. Kalau aku bisa bicara, mungkin aku akan mengucapkan maaf kepada keluargaku karena aku hanya bisa seperti ini. Aku yakin kalau mereka diberi pilihan oleh Tuhan, mereka pun akan memilih anak yang tidak seperti aku, artinya normal.

Awalnya mungkin para orang tua susah menerima keadaan anak yang seperti aku ini. Tapi jika mereka tahu, aku pun tidak pernah berharap hidupku seperti ini. Sekarang yang paling diperlukan hanyalah saling menerima keadaan. Aku menerima keadaanku dan keluargaku juga menerima keadaanku. Jalani semua dengan penuh syukur. Tuhan pasti mencintai semua kok.

Belajar dari Dia Lewat dia

Mengikuti kisah singkat adek Nio tadi, membuat penulis sendiri merasa iba dan terharu. Dia dengan keadaan yang sedemikian itu bisa membuat mata dunia dibantu untuk menatap dengan jernih. Ada hal yang perlu disyukuri dalam hidup sehari-hari. Kita tidak perlu meratapi dan menyesali keadaan diri yang memang demikian adanya. Ada hal yang bisa diubah, tetapi ada juga sesuatu yang hanya bisa diterima kalau kita mau mendapat ketenangan dalam hidup.

Sosok Nio mungkin susah diterima dalam masyarakat pada umumnya. Praktis, dia tidak bisa berelasi dan berkomunikasi dengan orang lain. Dia sendiri saja tidak bisa memahami dan memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Dia butuh uluran tangan kasih dari orang lain untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Tidak jarang susah menemukan orang yang mau peduli seperti adik kita yang satu ini.

Apa saja sih yang bisa kita dapat kalau kita mau belajar dari Nio? Sekilas, orang pasti akan berpikir tidak ada satu hal pun yang bisa dijadikan hikmah dari kisah Nio ini. Orang umumnya hanya akan terfokus melihat sisi lemah seseorang. Padahal lewat kehadiran Nio, Tuhan bisa berkarya dan menyapa kita. Mari sejenak kita merenung.

Penulis sendiri sempat merasa kebingungan menemukan Tuhan yang hadir. Bagaimana bisa hidup seperti Nio ini dikatakan bahagia. Penulis sendiri setelah mengalami pengalaman tinggal bersama adik Nio selama kurang lebih 3 minggu, awalnya merasa berat mendampingi anak seperti ini. Gak habis pikir rasanya. Tuhan kok menganugerahkan keadaan seperti ini kepada ciptaan yang dikasihiNya.

Berbagai variasi keadaan manusia diciptakan oleh-Nya. Ada yang lengkap, sempurna tetapi juga ada yang kurang beruntung seperti Nio ini. Rupanya perbedaan yang diberikan oleh Tuhan kepada masing-masing ciptaanNya mengundang kita untuk hidup saling melengkapi dalam ikatan kasih. Kasih yang ia ajarkan dan teladankan dalam diri Yesus Kristus itu menjadi patokan utama dalam menjalankan hidup sebagai pengikutNya. Hidup bersama orang lain menjadi indah kalau semua bisa hidup seperti Yesus.

Terhadap orang yang lemah dan tersingkir, Tuhan menaruh perhatianNya. Maka prioritas hidup kita memang mestinya mengarah kepada ketergerakkan hati untuk mengulurkan tangan kepada yang lemah.  Anak seperti Nio adalah salah satu contohnya.

Dalam arti tertentu, Nio sebenarnya menerima dan menikmati keadaanNya. Namun sebagai seorang autis, tentu ia hidup dengan dunianya sendiri. Membantu orang lain baginya tentu tidak pernah terpikirkan di dalam benaknya. Kita sebagai manusia yang diberi karunia lebih oleh Dia mesti mampu membantu sesama dengan meneladan Dia. Meneladan Dia berarti harus sampai pada pelayanan kepada dia yang membutuhkan, seperti Nio.

 

Belajar Hidup Bagi Allah Saja!

Refleksi atas Injil Lk 4:1-13 di awal masa Prapaska…

Yesus digodai Setan di padang gurun
Yesus digodai Setan di padang gurun

Saudari-saudara terkasih dalam Kristus,
Untuk sekian kalinya kita memasuki sebuah masa yang penuh rahmat: masa Prapaskah – atau lebih akrab dikenal sebagai masa Tobat dan Puasa. Injil Lukas hari ini mengingatkan kita bahwa masa ini juga adalah sebuah waktu untuk “belajar hidup sesuai jalan Allah saja!” Ada tiga poin penting dalam Injil hari ini yang akan kita lihat bersama.

Pertama, godaan Iblis biasanya datang dalam bentuk yang halus dan menarik! Perhatikan bahwa Iblis mengatakan tiga kali kata: “Jika” (Jika Anak Allah dan Jika menyembah saya). Kata Jika dalam kisah Injil hari ini seolah hendak mengatakan: “Gunakan semua yang kesempatan dan kemampuan yang kamu miliki untuk mendapatkan apa saja yang kamu inginkan demi dirimu sendiri!” – Inilah kebohongan Iblis! Godaan biasanya tampak menarik dan baik bila dibumbui dengan kata ‘Jika’ – sebagaimana kita baca dalam bacaan pertama: “Jika engkau makan buah ini, maka engkau akan menjadi seperti Allah. Kamu akan hebat: tidak akan mati, tahu yang baik dan yang yang tidak…” Ternyata sifat godaan ini dari dulu hingga zaman yang modern ini masih sama. Dunia menawarkan pada kita banyak kemudahan. Bukankah kita juga makin sulit untuk memilih karena semua tampak sangat baik dan menarik sehingga kita kadang lupa bahwa hidup ini bukan untuk ‘aku’ saja, bukan untuk apa yang ‘aku’ inginkan saja, bukan untuk apa yang ‘aku’ anggap baik, tapi untuk apa yang Tuhan anggap ‘baik’ bagi hidupku!

Tuhan Yesus dengan tegas menunjukkan bahwa tidak semua kemampuan dan kesempatan dapat kita gunakan untuk mencapai keinginan kita! Dan inilah poin kedua dari Injil hari ini: Hanya kemampuan dan kesempatan yang mengarahkan kita pada hidup kekal bersama Allah saja yang dapat kita gunakan! Dengan menolak godaan Iblis, maka kuasa, kemuliaan dan kekayaan yang dimilikiNya sebagai Anak Allah hanya terarah pada kemuliaan BapaNya saja, bukan untuk diriNya sendiri! Tuhan Yesus digoda pada saat Ia lapar, letih, dan sepi. Tapi Tuhan Yesus tidak mau kompromi dengan semua itu. Yesus dengan tegas menolak aneka tawaran menarik walau situasinya tampak pas! Dengan tangkas ia menolak, mengambil jarak! Mungkinkah ini terjadi pada kita juga? YA! Sangat mungkin! Paulus mengatakan dalam bacaan kedua: dalam Yesus dosa dikalahkan dan rahmatNya tercurah berlimpah pada kita yang lemah! Maka, mulailah melibatkan Tuhan dalam hati Anda, bercakaplah denganNya: bertanya, komplain, bersyukur , berbincang denganNya – lebih-lebih dalam anugerah Sakramen Ekaristi dan Tobat – dalam segala situasi – juga saat kita tergoda! Itulah doa kita, itulah kekuatan kita!

Saudara-saudariku,
Marilah kita belajar tegas pada diri sendiri untuk ‘hidup dalam jalan Allah saja’ – terutama dalam masa tobat ini. Anda sendiri yang mengenal di mana kelemahan Anda dan mohonlah rahmat Allah untuk berani menolak godaan Anda! Tentu saja godaan bukan hanya datang saat Anda ditawari banyak kemudahan dan kenikmatan – tetapi lebih dari itu juga datang terutama saat-saat sulit:
(a) saat kita – para pelajar dan mahasiswa– menemukan di pagi hari IPnya diawali angka satu dan ketika membuka dompet, saldonya bahkan tak cukup untuk beli nasi kucing… Alih-alih tergoda meyakini bahwa hidupnya sia-sia, mohonlah rahmat untuk bangkit lagi dengan ceria…
(b) saat kita – orang muda – berada dalam situasi putus asa menjomblo atau putus cinta: alih-alih tergoda ‘cinta ditolak dukun bertindak’, kita belajar menerima kekecewaan dan pasrah sambil menata hidup dengan semangat baru bersama Allah…
(c) saat kita – pasangan berkeluarga – mengalami kekecewaan: alih-alih tergoda membenci suami atau istri Anda, kita memilih bersama Roh Allah untuk belajar mengampuni dan menyelami hati pasangan lebih dalam lagi…
(d) saat kita – para pekerja – alih-alih stress karena tuntutan pekerjaan atau atasan yang wajahnya terlipat dua belas, kita justru mengalami Allah berkarya memenuhi hidup dengan semangat belaskasih!
(e) saat kita – para biarawan/ti – alih-alih tergoda untuk menyalahkan orang lain, kita memilih menjadi ‘tangan’ Allah seperti yang kita janjikan saat kaul pertama…

Tentu hal-hal ini tidak selalu mudah untuk dibuat. Suatu saat dalam hidup ini, kita pastilah pernah terpeleset dalam dosa! Tetapi kita tidak boleh pernah putus asa untuk bertobat dan bangkit lagi… Mengapa? St. Paulus dalam bacaan kedua memberi jawabnya! Karena Warta Sukacita iman Kristiani adalah bahwa Allah berjalan bersama kemanusiaan kita yang lemah dan rapuh – bahkan Ia sendiri merasakan kemanusiaan kita dalam Yesus Kristus! Sejak kita menerima baptisan, RohNya secara istimewa ada dalam tubuh dan jiwa kita: kita dijadikan AnakNya, Anak Allah sendiri! Juga saat berdosa sekalipun identitas Anda tidak hilang! Allah tetap ada di sana dan terus berharap agar kita tidak menyerah dan agar kita kembali padaNya. Dan persis ketika kita memutuskan kembali padaNya, Allah ada di sana sebagai Bapa yang baik hati, yang berlari menyambut anakNya dengan sukacita!

Akhirnya, saudari-saudaraku yang terkasih… (ah, akhirnya…)
Pesan Injil di awal masa istimewa ini sederhana saja:
(a) Ayo, kenali godaan Anda dalam hidup sehari-hari…
(b) Belajarlah dengan tegas dan tanpa kompromi menolak godaan.
(c) Dan, bila suatu kali Anda jatuh dalam dosa, jangan ragu kembali pada Bapa yang Baik Hati itu… Segera hubungi imam terdekat… (tidak harus yang tua atau agak tuli)
(d) Godaan di zaman ini lebih dahysat mengepung hidup kita! Tapi kita akan berusaha terus untuk menggunakan kesempatan dan kehendak kita sesuai jalan Tuhan!
Semoga dengan demikian, Masa Prapaskah menjadi bagi kita sebuah Retret Agung, sebuah masa di mana kita belajar hidup dengan dipimpin oleh Roh Kudus hingga kita tiap-tiap hari mengalami sukacita kebangkitan yang sejati! Amin!

Tips Membimbing Anak untuk Berdoa Sejak Usia Dini

Berdoa berarti mengenalkan dan menghubungkan anak dengan sang pencipta. Ingin dia berdoa dengan benar, bimbing dia dengan panduan ini:

    • Mulai dengan sikap doa sesuai cara Anda berdoa.
    • Berikan doa singkat, misalnya doa sebelum makan.
    • Minta anak menirukan doa yang Anda ucapkan dengan bahasa sederhana.
    • ambahkan doa lain, setelah anak bisa mengingat satu doa. Misalnya doa sebelum tidur.
    • Jangan dipaksa, bila anak tak mau diajak berdoa. Pemaksaan membuatnya semakin tak mau berdoa.
    • Siapkan foto, karena kadang-kadang anak binging ingin mendoakan siapa. Sediakan kotak berisi foto-foto anggota keluarga atau orang terdekat anak. Gambar ini bisa membantunya mengingat orang yang ingin dia doakan.
    • Beri pujian bila ia berinisiatif mengajak berdoa atau ingin berdoa sendiri.
ajari anak anda berdoa sejak saat ini!

Jangan lupa untuk mengajarkan bahwa:

    • Berdoa bisa di mana saja, selama di perjalanan, di sekolah, di rummah kakek nenek.
    • Berdoa bisa dilakukan dalam suasana hati apapun. Marah, sedih, senang, takut, atau bingung.
    • Berdoa bisa dilakukan bersama, bisa juga sendiri.
    • Berdoa bisa kapan saja. Pagi, siang, malam, tak perlu di acara khusus.
    • Berdoa bisa untuk diri sendiri atau mendoakan orang lain.
    • Berdoa boleh dengan kata-kata sendiri. Kata apa pun yang digunakan, Tuhan pasti tahu.
    • Berdoa tidak harus meminta, bisa bersyukur atas apa yang sudah diterima
semua dimulai sejak usia dini!

Info ini disadur oleh Majalah Anak Katolik Indonesia MOGI…

Majalah dengan content sangat baik: Follow @MajalahMogi – info langganan juga ada di https://www.facebook.com/MajalahMogi

Content Iman untuk Anak Katolik LUAR BIASA! Ayo berlangganan!

Gereja dan Dunia Digital: Sebuah Risalah Seminar

Sore ini (27/11) pk. 16.00 – 19.15, FTW mengadakan Seminar dalam rangka memperingati 50 tahun Konsili Vatikan II. Kali ini temanya seputar Gereja dan Teknologi Media Komunikasi dalam terang dokumen Inter Mirifica. Pembicaranya: Dr. GP. Sindhunata, SJ dan Bp. Edi Taslim dan moderatornya Rm. CB. Kusmaryanto, SCJ.
Tema ini sangat menarik dibahas dan saya terpikir untuk menuliskan sedikit risalah perbincangan ini untuk menjadi bahan refleksi bagi kita yang hidup dalam realitas ‘digitalized world’.
 Semoga memperkaya kita semua dan mohon maaf bila ada salah ketik karena ngetiknya masih sebelas jari 🙂

NENEK TUA YANG TERTINGGAL ZAMANNYA

GP. Sindhunata (Budayawan, Jurnalis)

1. Kardinal Martini sebelum meninggalnya: “Gereja kita berjalan terseok-seokkarena keberatan beban, seperti beban birokrasi yang melebihi proporsi dan beban liturgi yang melulu ritualistik.” Inilah ajakan untuk menuju sebuah pembaruan!

Carlo Maria Cardinal Martini

2. Inter Mirifica dipandang dari seluruh konteks Konsili Vatikan II. KV II bukan sebuah ‘dialog komunikasi’ tetapi perbenturan wacana antara yang ‘reformis’ dan ‘tradisionalis’. Bapa-bapa Konsili tidak sepenuhnya menanggapi undangan untuk sebuah pembaharuan. yang terjadi bukan ide baru, tetapi banyak kompromi demi harmoni antara dua tegangan. Contoh: konsep “umat Allah” tidak (berani) terlalu didalami saat pembahasan KV II.

3. Tiga tahun setelah KV II, meletus “Revolusi 1968” yang menggoyang kebudayaan barat sampai ke akar-akarnya. KV II yang kurang visioner justru tidak mengantisipasi gerak perubahan ini. Mahzab frankfurt yang kritis terhadap kapitalisme, feodalisme, tata nilai masyarakat dan terutama tentang ‘kebenaran’.

 4. Inter Mirifica adalah sebuah ‘oasis’ dari pergumulan teologis yang begitu melelahkan. Penerimaan skema tentang ‘pastoral’ ini agak disepelekan karena diletakkan pada bagian akhir, setelah semua tenaga habis. Padahal dokumen ini menstinya menjadi bentuk nyata dari keterlibatan awam (ada reduksi dan redaksi dari 24 halaman menjadi hanya 9 halaman). Reduksi-redaksi besar-besaran ini dikritik oleh para wartawan dan bertahun kemudian tampaklah bahwa benarlah kritik para wartawan ini: dokumen ini secara spiritual dan pastoral seolah tak mampu mengimbangi kemajuan zaman teknologi media. Inter Mirifica lantas terasakan bukan sebagai visi tapi fatwa.

5. Gadget menjadi bagian hidup modernisasi. Dunia saat ini adalah dunia transparansi. Dengan internet, orang punya akses untuk semua informasi dan jalan masuk pada seluruh kesadaran. Institusi dan individu lebur dalam utopia post-privacy, semua wilayah jadi terbuka dan tiada privasi. Akankah hal ini juga akan mengguncang hirarki?

6. Iman Kristen bukan lagi ke-dengan-sendiri-an. Rahmat Allah-lah yang bekerja dalam diri masing-masing orang dan yang menumbuhkan iman. Rahmat itu juga bekerja lewat perkembangan media yang luar biasa. Iman tak dengan sendirinya dimengerti. Iman diusahakan dan dikomunikasikan. Potensi Gereja sering diekskomunikasikan atas nama ‘kebertundukan’ dan bukan ‘keberkembangan’, ‘disiplin’ dan bukan ‘kreativitas’. Pembaruan Gereja tidak mungkin lagi mulai dari liturgi. Pembaruan hanya lewat praksis terus menerus antara Gereja dengan dunia.

7. Saat ini kita perlu berbahasa positif tentang iman. Menurut Christiane Florin, penting untuk keluar dari bahasa negatif dalam merumuskan iman. Gereja kurang memakai bahasa yang personal, yang menyentuh bersubjek dan inklusif.

8. Jangan pernah puas ketika mengkomunikasikan iman. Jadikan iman sebagai diskursus terus menerus yang penuh dialektika etis dan komunikatif (bdk. Habermas). Terutama di zaman yang penuh gurun kekosongan makna dan Gereja harus berani menjadi Musa yang membawa air dan kesegaran bagi umat yang kahausan dan mulai meninggalkan Allah. Keberanian untuk melompati ‘tradisi’ diperlukan karena Gereja adalah kehidupan itu sendiri. Beranilah menghadapi medan-medan kebebasan dan tidak sibuk dengan beban-bebannya sendiri. Gereja menjadi ngreggiyek kabotan sesanggan: ia telah menjadi nenek tua yang lelah dan renta.

9. Sebagai masyarakat komunikasi yang universal dan tak terbatas, gereja hasrus terus menerus mengadakan tindakan-tindakan komunikasi. Dengan tindakan-tindakan komunikasinya, gereja au tak mau harus berhadapan dengan medan-medan kebebasan. gereja harus solider dengan kebebasan itu, dan dengan demikian gereja sendiri menjadi bebas atau terbebaskan daris egala keterbatasan dan kukungannya, yang selalu menghalangi dia untuk menjadi sebuah universale Kommunikationgemeinschaft.

FENOMENA SOCIAL MEDIA

Bp. Edi Taslim (Digital Group Director di Kompas Gramedia)

1. Case study: di KAJ ada ponsel ‘gembala baik’. Panduan ‘berketuhanan’ ada dalam HP ini, mulai dari Kitab Suci, Puji Syukur, alarm doa, alarm peringatan Santo/a, alarm Rosario, aneka doa dan jadwal misa. Edisi perdana Gembala Baik ini 7000 unit laku dan per bulan habis di atas 4000 unit. Penjual HP terkagum-kagum: tak pernah menjual HP selaris ini. Ini trend apa?

 2. Internet user penetration di Indonesia: 61,1 juta (baru 23%). Indonesia menjadi basis pengembangan internet paling seksi di Asia Tenggara. Internet mengganggu seluruh tatatan media yang ada. Internet bersifat distraktif sehingga media cetak stagnan selama 12 tahun terakhir. Teori pasarnya: Indonesia telah ketinggalan 15-20 tahun dalam industri internet, tapi ternyata teori ini salah. Pasar Internet Indonesia terus berkembang sangat cepat sehingga butuh pembaruan yang mengubah kultur kerja di industri media – dan juga di bidang pastoral. Kalau penetrasi internet sampai 50% nantinya, maka pola lama dalam membaca, belajar dan mengetahui akan terganggau.

 3. Data lain: pada 2011 oleh Nielsen Research untuk pertama kalinya di Indonesia, informasi media cetak kalah oleh internet (internet menjadi sumber informasi no. 2 setelah TV). Tidak ada alat yang begitu dominan dalam media, semua menjadi alat komunikasi yang diversed. Konvergensi media terjadi karena orangnya sendiri sudah berubah. Indonesia menjadi negara keempat dunia dan Jakarta menjadi kota tersibuk ketiga di dunia dengan 11,3 juta pengguna aktif per hari.

 4. 65% di Indonesia pendudukanya di bawah 35 tahun. Ini mengakibatkan media menjadi sangat kuat dengan digital minded (bagaimana dengan pastoral kita?). Social media mengambil peran sangat besar: bahkan gerakan politik dan pengawasan juga telah ada di FB.

5. Setiap hari ada 25 Miliyar content di dunia FB dalam satu bulan. Setiap menit ada 24 jam content yang diuunggah ke Youtube. Setiap hari ada 2 milyar video yang dilihat di YouTube. 4 Juta gambar yang di Flickr per hari. Ada 27 Milyar tweets per hari. Jakarta menjadi capital city of twitter. Social media is the ongoing conversation of the planet. It is the connector. Individu saat ini bisa membuat perbedan lewat dunia digital.

6. Bahkan dunia media menjadi mainstream dan bahkan mengubah karakter lai-laki menjdi lebih ekpsresif. Social media now IS the media. “It is at risk of getting corrupted, polluted, overly commercial and too powerfull.”

7. Strategi mengkomunikasikan iman: bisa aktif menggunakan FB untuk tujuan pastoral, membuat engagement baru dengan users (penggalangan dana, share foto, dll.), twitter dan blog kabar Gereja. Di USA ada network of pastor’s blog. Medium internet berbeda karakter dengan cetak (karakter bebas, foto unlimited, dll.). Pewartaan dapat terbantu dengan domino effect dari social media ke mainstream media. Sarana youtube juga sangat penting. Berani membuat channel homili untuk diunggah ke YouTube?

yang tua yang ikut mengembara dalam kekosongan dunia digital …

Beberapa Diskusi

 

Kalau ‘disiplin’ tidak menjadi tekanan dan dialog dalam kebebasan berisiko menjadi sebuah slippery slope, dalam cara praktis apa kita dapat mengingatkan orang muda dan sebagian orang tua tentang pengendalian diri dan penertiban diri? Sejauh apa suara kenabian Gereja dapat didengar bila tidak ada distansiasi dengan pengertian kebebasan sebagaimana mahfum di generasi saat ini?

 Jawab:

 – Dunia digital memang membuat kita dangkal dalam banyak hal: istant, spontan dan tidak efektif (pengaturan emosi). Orang gampang menjadi reaktif: tidak ada resep murahan bagaimana caranya orang kembali membaca buku. Ini tantangan kita. Untuk keluarga: ada jam di mana seluruh gadget mati dan fokus ke keluarga (seorang Rabi di Jerman mengaitkannya dengan hari Sabat). Kekosongan ini sudha menjadi realitas, maka ikutlah di dalamnya agar kita menemkan resep yang pas.

 – Bicara mengenai pengendalian diri tidak harus kembali ke rumus lama tentang ‘disiplin’ – kita tak bisa bicara tentang pengendalian diri dalam teori klasik: harus dicari bersama. Larangan tak kunjung efektif (Rm. Hari Kus mengomentari larangan penggunaan HP di antara para frater: “Kalau frater gak boleh pakai sementara Romo-Romo boleh pakai, mirip dengan peribahasa: ‘Guru kencing berdiri, murid tak boleh kencing!’” hahahaha…). Praksis komunikasi tetap harus dibuat tapi tidak dalam ajaran doktriner lagi.

 – Saat ini kita perlu keberanian yang membuat para pelayan Gereja mau masuk dan ikut merasakan kehampaan luar biasa yang dialami orang muda dengan dunia digitalnya. Larangan tak akan efektif. Keberanian seperti kita temukan dalam inkarnasi sangat penting agar kita mengenal-merasakan apa yang digeluti orang muda dan dunianya sehingga bersama orang muda itulah kita berjalan mengarungi kehampaan itu menuju Allah. Spiritualitas (bela-rasa) inilah yang dibutuhkan saat ini. Banyaknya resiko yang datang dari kemajuan IT jangan membuat kita cepat-cepat mengatakan ‘tidak’. Bagaimana menyikapinya lantas? Tak ada resep murahan! Semua ditemukan dalam komunikasi yang terjadi dalam perjumpaan yang mendalam dengan generasi yang sama sekali berbeda dengan generasi pendahulu! Maka dari itu, penting juga generasi ‘senior’ yang asing dengan perkembangan ini juga mau terbuka mengikuti perkembangan agar tak cepat-cepat mengekskomunikasikan orang, tapi turut bersama orang-orang digital mengarungi ‘kekosongan’ hidupnya dan membantunya menemukan Allah!

Kisah Layunya Melati

Mereka yang menangis dalam diam…

Oleh: Fra. Antonius Effendi, SCJ

Perempuan di depanku kini sebut saja namanya Melati.  Ia lahir dari keluarga miskin  dengan empat bersaudara dan kedua orangtuanya meninggal ketika mereka masih kecil. Neneknyalah yang mengasuh dan membesarkan mereka. Kesulitan ekonomi membawanya merantau dari Manado sampai pulau Jawa ini. Ijazah SMA yang ia miliki tidak dapat untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Apalagi zaman sekarang, persaingan mencari pekerjaan sangat ketat dan penuh dengan KKN. Orang yang mempunyai relasi dan uang yang mendapat kesempatan lebih untuk mendapat pekerjaan. Lucu rasanya karena orang diterima bekerja bukan pertama didasarkan kemampuan tetapi relasi dan uang. Namun itulah realita yang terjadi di negeri ini. Maka semakin kecillah kemungkinan dirinya untuk mendapat pekerjaan. Ia juga tidak bisa meminta bantuan saudaranya untuk mencari pekerjaan karena sama-sama susah dan tidak punya pekerjaan. Akhirnya ia memutuskan untuk mengorbankan kemurnian tubuhnya. “Biarlah aku yang menderita dan berdosa, asal adik-adikku bahagia dan memiliki masa depan yang lebih baik”. Pikirnya inilah pilihan yang terbaik untuk memperoleh uang memenuhi kebutuhan hidup dan membiayai adik-adiknya sekolah dan kuliah.

Melati seringkali merasa muak dengan pekerjaannya yang sudah ia geluti lebih dari lima tahun. Ia tahu benar arti dosa, karena ia lahir dan dibesarkan dalam lingkungan  Kristen yang taat. Neneknya selalu mengajarkan jangan berbuat dosa (jangan mencuri, menipu, berbuat jahat dll). Ia tahu pekerjaanya ini memang penuh dengan dosa. Tiba-tiba dia bertanya padaku “Lebih baik mana mas, untuk mendapatkan uang dengan mencuri dan korupsi atau bekerja seperti saya? Mana dosanya yang lebih ringan”. Aku terdiam seribu bahasa tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan yang tidak mudah dijawab dalam situasi ini. Sebagai seorang mahasiswa Teologi dalam otakku mulai muncul apa yang telah aku dapat di bangku kuliah mengenai paham dosa dalam kitab suci dan  secara  moral. Aku ingin menjelaskan secara moral sesuai yang aku dapat di bangku kuliah namun  tidak kesampaian. Rasanya penjelasan itu berhenti di tenggorokan tidak dapat dikeluarkan. Dalam benakku masih teringat jelas akan beberapa kriteria tindakan itu berdosa atau tidak secara  moral. Pertama sadar, bila tindakan itu dilakukan  dengan sadar. Kedua bebas, tindakan itu dilakukan dengan bebas tanpa ada suatu tekanan. Ketiga motivasi atau tujuan pada dasarnya baik. Saat ujian cukup baik aku menjelaskan kriteria itu, namun saat dihadapkan pada persoalan kongkret aku terdiam.

Pada dasarnya tindakan itu (mencuri, korupsi dan mejadi PSK) semua tidak baik. Namun orang pada umumnya akan memandang Pekerja Seks Komersial lebih jelek. Pandang ini muncul karena selama ini masyarakat memandang buruk profesi ini. Ini terbukti ketika orang ketahuan mencuri dan korupsi masih dapat diterima banyak orang dan orang dengan cepat melupakan kesalahan itu. Tetapi kalau orang mantan PSK seumur hidup melekat dan tetap memandang rendah. Kendati orang terjun atau menjadi PSK karena terpaksa atau dijebak. Orang tidak peduli alasan apa yang membuat mereka terjun kedunia porstitusi. Bahkan orang yang diperkosapun sering dipandang rendah dan kadang juga dipersalahkan padahal mereka korban.

Pandangan lain yang terasa kurang adil ketika perempuanya saja yang dipandang rendah dan dicap buruk. Padahal mereka ada dan menjadi seperti itu juga karena ada “pelanggan” yakni kaum Adam. Tetapi kaum Adam ini jarang dipersalahkan, mereka bersih dari tindakannya. Saat aku berjalan mengelilingi kompleks itu ada banyak kaum Adam di sana. Aku yakin salah satu atau dua orang yang datang di sana dikenal baik atau bahkan memiliki kedudukan terhormat dalam masyarakat. Setelah “jajan” di sana mereka pulang kehidupan normal seperti biasa. Di luar sarkem (di hotel-hotel) ada orang yang terpandang dan orang-orang kaya yang “jajan”.  Rasanya mereka tidak pernah dicap senegatif kaum Hawa yang bekerja sebagai PSK.

Situasi yang tidak adil rupaya sudah berlangsung sejak lama bahkan pada zaman Yesus sudah ada. Salah satu gambaran posisi perempuan lemah dan dipersalahkan  terdapat dalam Injil Yohanes dalam kisah perempuan yang berzinah (Yoh 8:1-11). Pada kisah itu yang ditangkap hanya perempuan padahal dengan jelas dikatakan  “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah” (Yoh 8:4).  Berarti lelaki juga ada dan tertangkap saat itu namun anehnya tidak diadili, yang dibawa pada Yesus hanya perempuannya saja.  Tradisi saat rupaya itu lebih memihak pada kaum lelaki dan melindungi mereka dari hukuman. Sedangkan posisi perempuan lemah dan rentan dipersalahkan. Sampai hari ini pun masih ada agama dan budaya yang tetap melestarikan akan situasi ini. Entah sampai kapan situasi ini akan berakhir aku tidak tahu. Yang pasti aku ingin mereka dihargai dan diperlakukan dengan adil. Perempuan semacam itu tanpa hukuman sosialpun sudah menderita, janganlah menambah derita pada mereka. Karena aku terdiam ia melanjutkan kisah hidupnya yang berliku.

“Aku datang bukan bagi mereka yang benar, tetapi bagi mereka yang berdosa!”

Air matanya menetes ketika malam telah larut dan ia merenungkan perjalanan hidupnya ini. Kala mengingat ketiga adiknya, ia mendapat kekuatan untuk bertahan menekuni profesinya. Ketika aku ungkapkan kekagumanku atas pengorbanannya matanya berbinar. Ia mengatakan jarang sekali atau tidak pernah orang lelaki yang datang padanya mengungkapkan demikian. Orang datang padanya hanya ingin menikmati tubuhnya, tidak ada kasih yang tercermin hanya nafsu belaka.

Ketika Melati masuk dunia prostitusi, ia bermimpi mendapat uang sebanyak-banyaknya; bukan kesenangan pribadi atau kenikmatan seksual yang dicari. Saat teman-temanya setiap minggu berbelanja pakai sesuai mode, ia tidak melakukan itu.  Ia sisihkan uang yang didapat untuk adiknya. Ia tidak menggunakan uangnya hanya sekedar memburu kesenangan pribadi. Kepentingan keluarganya yang selalu diutamakan. Hal yang mengagumkan Melati tetap mampu bertahan ditengah derasnya arus orang yang memuja kenikmatan seksual dan mengikuti mode. Dimana orang rela mengorbankan kemurnian tubuhnya guna membiayai gaya hidupnya (baju, perhiasan, kendaraan, HP dan tempat tinggal). Ada juga yang melakukan semata untuk kenikmatan atau kepuasan seksual. Orang melakukan atas dasar suka sama suka  dan tidak mau terikat dalam perkawinan. Dua hal terakhir tidak muncul dalam benak Melati.

Teman-temannya umumnya memiliki lelaki simpanan, mereka hidup bersama namun tidak menikah. Melati tidak ingin seperti mereka, kendati ada juga kerinduan mendapat perlindungan dan kasih dari seorang laki-laki. Tetapi ia ingin itu terjadi dalam ikatan resmi (sebuah perkawinan). Kendati pernah gagal dalam membangun rumah tangga ia tetap memandang suci akan nilai sebuah perkawinan. Hidup bersama setelah menjadi suami istri yang sah. Terdengar kontraditif rasanya pernyataan ini dengan profesinya sebagai PSK. Kiranya pandangan ini muncul dari nilai-nilai Kristiani yang didapat sejak kecil dan ia terjun ke dunia PSK hanya karena uang belaka.

Aku semakin kagum ketika ia mengatakan tidak lupa Tuhan. Yang dimaksudnya adalah sekalipun pelacur ia tetap pergi ke gereja. Maka setiap  Hari minggu ia memilih untuk pergi ke gereja dan mempersembahkan sebagian penghasilannya untuk Gereja. Ia sadar bentul akan profesi dan status hidupnya ini dosa dan tidak baik dimata umum. Saat masuk ke gereja ia merasa seperti orang pendosa tidak layak menghadap Tuhan karena kelakuannya.  Ia takut juga orang risih dengannya bila tahu apa profesinya.

Saat merenungkan kembali pengalaman  ini aku teringat akan kisah antara pemungut cukai dan orang Farisi. “Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini. “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Luk 18: 9-14).

Dalam hati aku bertanya apakah Melati juga akan dibenarkan seperti pemungut cukai itu? Ia sadar akan situasi dirinya yang hidup bergelimpang dengan dosa namun dengan sadar pula ia pergi ke Gereja untuk berdoa dan mohon ampun.  Dalam kisah Injil itu tidak dijelaskan lebih lanjut mengenai pemungut cukai itu. Setelah pulang dari rumah ibadat apakah sungguh bertobat seperti Matius yang mengembalikan pajak yang telah diambil melebihi kentetuan dan memberikan setengah hartanya pada orang miskin. Ataukan pemungut cukai itu masih melanjutkan pekerjaannya seperti biasanya? Pertanyaan lebih lanjut apakah Melati berdosa sepenuhnya. Ia sadar tindakannya itu salah dan berdosa. Tapi saat ini tidak ada pilihan yang lebih baik yang dapat menghasilkan uang yang cukup untuk membiayai adiknya. Ia juga melakukan itu bukan untuk mencari kepuasan hanya uang semata. Uang yang ia dapatpun  pertama-tama bukan untuk dirinya tapi untuk adik-adik dan neneknya untuk kuliah dan hidup. Suatu persoalan yang tidak mudah dijawab begitu saja. Seperti waktu Melati bertanya padaku saat itu, tindakan mana yang lebih baik mencuri dan korupsi atau profesinya?

Bila suatu kali saat di gereja disebelahku duduk seorang PSK apakah aku juga akan berkata sama dengan orang Farisi itu. Kalau peristiwa itu terjadi sebelum perjumpaanku dengan Melati dapat dipastikan aku akan mempunyai diposisi yang sama dengan orang Farisi. Merasa diri lebih baik, apalagi aku seorang calon imam yang dibentuk untuk hidup suci dan selalu disposisikan demikian. Setelah perjumpaanku dengan melati cara pandangku terhadap PSK mulai berubah. Aku tidak begitu saja memandang rendah dan memojokan mereka. Kalau berbicara fakta kehidupan memang belum tentu aku dan orang lain jauh lebih baik dari Melati. Memang aku dan orang pada umumnya tidak berbuat zinah tetapi pilihan tindakanku belum tentu selalu baik. Bisa jadi tindakanku sangat kejam pada orang lain. Kini aku mencoba untuk lebih menghargai mereka dan perjuangan hidupnya, bukan berarti aku setuju dengan piliahn hidup atau profesi itu.

Kisah hidup yang  berliku dan terjal berlanjut. Dibalik senyum dan keramahannya Melati rupanya menyimpan banyak pengalaman pahit. Sebelum menjadi PSK ia pernah berkeluarga dan akhirnya berpisah, karena suaminya mempunyai isteri simpanan. Sejak pengalaman pahit itu ia belum mempunyai keinginan untuk menikah. Ia trauma dengan pengalam pahit itu terulang lagi.

            Ia juga pernah tersangkut obat-obat terlarang . Ketergantungan itu berawal dari para pelanggannya yang memaksanya untuk menggunakan obat-obatan itu. Untunglah ia segera sadar bahwa itu tidak baik dan ada tanggungjawab yang masih diembannya. Adik-adiknya masih kuliah dan sekolah mendorongnya untuk berhenti dan bebas dari ketergantungan obat-obatan. Rasa tanggungjawab membuatnya mampu keluar dari ketergantungan. Kemudian aku teringat pada para pemimpin dan figur publik yang juga tergantung obat-obatan terlarang apakah mereka meiliki semangat seperti Melati. Adanya rasa tanggungjawab membuat sadar dan keluar dari jerat itu.

Pengalaman pahit lainya yakni ketika ia mengandung. Saat itu ia bingung sekali dan bergulat  mempertahankan anak itu atau tidak. Ia juga tidak tahu siapa ayah anak itu. Kalau tetap dipertahankan kasih masa depan anak tersebut. Akhirnya ia mengambil sebuah keputusan yang berat yakni menggugurkan anak itu.  Ini sebuah pilihan yang berat dan sulit baginya. Namun pilihan mengorbankan yang lemah bukan sebuah pilihan yang tepat. Tetapi hal demikian yang sering terjadi pada Melati dan dalam masyarakat kita. Orang akan dengan mudah mengorbankan yang lemah atau kecil untuk kepentingan yang lebih besar. Seharusnya mereka yang lemah dan kecil itu yang harus dilindungi bukan dikorbankan. Bila membaca surat kabar dan melihat berita di TV hatiku selalu miris melihat realitas semacam ini, dari para petani, buruh sampai anak gelandangan termasuk para PSK sering menjadi korban. Mereka ini orang yang dalam posisi lemah dan kecil namun sering dikorbankan demi keuntungan sekelompok orang atau alasan kepentingan yang lebih besar. Ini realita yang terjadi di negara kita.

Padahal  negara ini dikenal sebagai negara yang taat beragama. Di mana sebagian besar warganya memeluk agama dan sering mengklaim sebagai umat yang taat pada agama. Melihat realita ini lalu seberapa jauh agama yang dipahami  mempengaruhi perilaku masyarakat dalam kehidupan beragama dan sosial. Gejala yang tampak umat baik yang Kristen maupun agama lain di Indonesia lebih menekankan aspek ritual-individual untuk mencapai kesalehan individual, tetapi kurang memperhatikan kesalehan sosial. Orang merasa diri cukup kalau sudah menjalankan ritual agama. Orang akhirnya jatuh pada pencapain kesucian pribadi.

Bila melihat acara TV atau kehidupan sehari-hari  dapat dijumpai dengan acara-acara yang bersifat keagamaan. Di TV hampir setiap hari disiarkan dakwah agama. Banyak kelompok doa-doa yang rajin berkumpul  untuk berdoa dan mendalami agama. Orang juga sering tampil terutama di media santun dan menunjukan bahwa dia seorang yang  beragama dan taat. Namun sangat disayangkan perilaku sosial masyarakat sebagian jauh  dari ajaran yang mereka pahami dan jalankan secara ritual. Kembali ini tampak dari perilaku mereka yang diskriminatif pada minoritas, lemah, kecil, menderita, maraknya korupsi, kekayaan yang tidak merata dan penggunaan kekerasan untuk mencapai tujuan. Saat ini tantangan bagi umat yang beragama yakni menyeimbangkan antara semangat ritual dan praktik. Ini menjadi PR besar bagi kita semua terutama para pemuka agama. Apa yang terjadi pada umat saat ini dan tindakan apa yang harus diambil untuk mengatasi situasi ini?

Bila malam tiba menjelang tidur Melati mengalami kegelisahan juga, apakah selamanya akan menjalani hidup seperti ini. Karena tidak mudah meninggalkan profesi itu. Bila keluar berarti harus mencari pekerjaan pengganti agar dapat hidup. Dengan modal ijazah SMA tentunya tidak mudah baginya mencari pekerjaan, belum lagi penolakan masyarakat karena pekerjaannya dulu. Tentunya ini berat baginya juga teman-teman lainya yang akan meninggalkan profesi ini. Masa depan baginya saat ini tidak penting yang penting bagaimana dapat membiayai adiknya agar dapat menyelesaikan kuliahnya.

Membenci atau memusuhi mereka bukanlah sebuah solusi, bahkan akan membuat mereka semakin sakit dan tersingkir sari masyarakat. Langkah awal yang perlu dibuat adalah menerima mereka, menerima bukan dalam artian menerima profesi mereka tetapi tetapi menerima mereka dan masa lalunya yang kelam. Kemudian mengajak mereka  untuk bertobat dan menjalani hidup baru. Tentunya tidak semudah membalik telapak tangan karena begitu kompleks persoalan yang berkaiatan. Walaupun demikian, langkah kecil harus tetap dibuat karena dengan langkah kecil itu kita dapat membuat langkah besar. Mereka membutuhkan bantuan kita untuk dapat keluar situasi ini.

Pertanyaan yang dapat diajukan pada Gereja. Kalau Gereja selalu menyatakan dirinya sebagai pelindung dan pembela kaum yang lemah dan tersingkir pertanyaan yang dapat diajukan apa yang sudah dilakukan Gereja selama ini pada mereka? Apakah sudah membuat sebuah langkah yang nyata untuk mendampingi dan membantu mereka untuk keluar dari situasi itu? Tampaknya selama ini belum banyak tindakan kongkret dari Gereja untuk membantu mereka untuk keluar dari situasi itu. Bukan sesuatu yang mudah memang untuk membantu mereka. Kalau Gereja hendak serius membantu pasti bisa.