Katolik Garis Lucu di antara Humor dan Hujat: Perspektif Filsafat Moral

Jagad maya Katolik di Nusantara belakangan resah dengan pro-kontra pada postingan meme Yesus di akun Katolik Garis Lucu (setelah ini disingkat “KGL”) yang dianggap menista iman. Aneka komentar di Facebook, Twitter dan Instagram saling bersahutan: ada yang mendukung, ada yang mengecam dan tak sedikit yang sampai mengutuk.  Mereka yang mendukung KGL menganggap bahwa meme bermaksud humor itu adalah bentuk satir untuk mengingatkan umat pada esensi ajaran. Media sosial juga menjadi riuh karena seolah kelompok yang mengecam merasa bahwa mereka sedang berusaha mempertahankan kemuliaan dan kekudusan Tuhan. Lalu mana yang benar? Bagaimana sikap kita?

Alasdair MacIntyre dan ketidak-setujuan moral di zaman modern

Alsadair MacIntyre, pemikir besar abad ini, menulis bahwa protes dan kemarahan adalah penanda dari debat publik di dunia modern. Mengapa? Karena bagi MacIntyre, mustahil bagi kelompok manapun untuk memenangkan argumen mereka sejauh tidak ada persetujuan antara kelompok sosial itu tentang cara bagaimana mereka menang dan bahkan apa itu kemenangan. Menurut MacIntyre, ketidak-setujuan moral di dunia modern menjadi sulit – bila tidak mustahil – dimitigasi oleh rasionalitas bersama.

Premis yang saling berlawanan sulit untuk sampai pada pengertian bersama yang dapat mengubah pikiran seseorang. Mustahil untuk meyakinkan pihak lain tentang apa itu “kebaikan” secara rasional karena masing-masing argumen yang berlawanan membawa kebenaran dan logika moral sendiri. Bagi mereka yang pro-aborsi, misalnya, “kebaikan” didefinisikan sebagai kebebasan yang dimiliki para perempuan untuk menentukan apa yang terjadi dengan tubuhnya sendiri. Karena janin adalah bagian dari tubuh perempuan, maka dapat dibenarkan tindakan menghilangkan janin itu bila yang bersangkutan memang menghendakinya. Argumen kebebasan dan hak asasi digunakan untuk mendefinisikan apa yang baik bagi pendukung aborsi. Namun, argumen moral yang sama dapat digunakan juga oleh penentang aborsi. Justru karena janin adalah individu manusia yang kebebasan dan hak asasi untuk hidupnya harus dilindungi sejak tahap awal mula, maka aborsi tidak pernah dapat dibenarkan. Bila dua argumen moral yang kurang lebih sama memunculkan perbedaan yang begitu tajam, jangan-jangan apa yang “baik” bergantung pada ranah emotif seseorang; pada selera dan pilihan masing-masing individu. Karenanya, secara rasional, menurut MacIntyre hampir tidak ada wadah yang dapat menampung perbedaan preferensi ini.

Humor, hujatan dan tiadanya konsensus rasional

Cara pandang Alasdair MacIntyre ini berbeda dengan relativisme moral. Relativisme moral adalah pandangan bahwa benar salahnya justifikasi moral bergantung pada satu titik pandang partikular tertentu dan bahwa tidak ada perspektif unik yang lebih tinggi dari yang lainnya. Bagi saya sebagai seorang Katolik, tentu aborsi adalah dosa besar yang melawan perintah Allah untuk menjaga kesucian hidup. Saya akan mengusahakan dengan segala upaya tenaga untuk mencegahnya. Keyakinan saya tentang “kekudusan hidup” adalah rasional. Di depan diskursus rasional dari mereka yang mendukung aborsi, saya tidak kehilangan argumen rasional saya dan tidak kehilangan preferensi moral saya. Dalam perspektif MacIntyre, karena begitu ramainya argumen rasional, maka pihak yang berlainan pendapat tidak dapat sampai pada konsensus bersama tentang apa yang “baik.” MacIntyre tidak hendak membela relativisme moral. Ia hanya menunjukkan bahwa dalam sejarah filsafat moral, kita tidak menemukan konsensus yang rasional tentang apa itu “kebaikan” sehingga tak dapat sampai pada kesimpulan yang sama tentang sebuah tindakan moral. Sekali lagi, ini bukan tentang relativisme moral.

Dalam konteks polemik KGL, masing-masing kubu pro dan kontra pasti memiliki argumen moralnya masing-masing. Bagi yang menjustifikasi bahwa humor KGL menista kekudusan Tuhan, beberapa argumen preskriptif berikut sering jadi rujukan:

a. Perintah Allah ke-2; yang berbunyi: “Kuduskanlah nama Tuhan!”

b. Katekismus Gereja Katolik

2161    Perintah kedua menentukan untuk menghormati nama Tuhan. Nama Tuhan itu kudus.

2162    Perintah kedua melarang tiap penggunaan nama Allah secara tidak pantas. siapa yang memakai nama Allah, Yesus Kristus, Perawan Maria, dan orang-orang kudus atas cara yang menghina, menghujat Allah.

c. Kitab Hukum Kanonik

1369    Yang dalam suatu pertunjukan atau pertemuan umum, atau tulisan yang tersebar secara publik, atau secara lain dengan menggunakan alat-alat komunikasi sosial, menghujat, atau melanggar moral umum secara berat, atau menyatakan penghinaan atau membangkitkan kebencian maupun pelecehan terhadap agama atau Gereja, hendaknya dihukum dengan hukuman yang adil.

Pendekatan preskriptif ini sahih bagi mereka yang mendaku diri katolik karena kebenaran moralnya dijaminkan pada Kitab Suci dan Magisterium Gereja. Menggunakan rasionalitas makna literal dari kutipan ini, menurut kelompok yang tersinggung, maka posting KGL dapat dimaknai sebagai sebuah penghujatan, penghinaan dan pelecehan pada agama dan Gereja. Bila kita gunakan pendekatan moral Gereja Katolik tentang obyek tindakan, maka penghujatan sendiri – lepas dari intensi dan situasi agen moralnya – adalah sebuah tindakan yang melawan cinta kasih dan akibatnya termasuk sebagai dosa.

Namun filsafat MacIntyre dapat memberi wawasan baru dalam klaim ini: apakah ada konsensus moral yang sama tentang definisi penghinaan dan penghujatan Allah? Dari sudut pandang mereka yang mendukung KGL, tunduk pada pendekatan preskriptif ini justru sangat membantu mereka lepas dari tuduhan penghujatan. Mengapa? Karena humor yang lahir dari cinta kasih sangat mungkin tidak termasuk dalam kategori “cara yang menghina, membangkitkan kebencian maupun pelecehan terhadap agama atau Gereja.” Melukai perasaan sebagian anggota Gereja adalah obyek moral yang berbeda dengan obyek kekudusan, yaitu: Tuhan, agama dan Gereja sebagai Tubuh Kristus.

Bila humor datang dari kebencian akan iman dan Gereja Katolik (sebagaimana juga pernah dan masih dilakukan oleh tokoh agama lain), tentu dengan sangat mudah kita menempatkan rujukan preskriptif ini sebagai landasan definisi ‘hujatan’ dan sejauh apa humor tentang iman memiliki batasnya. Pun pula bila ada orang beriman Katolik yang menggunakan nama Tuhan untuk bersumpah palsu, tindakan ‘menghujat nama Tuhan’ ini dapat dengan mudah ditentukan definisinya baik berdasarkan obyek maupun intensi jahatnya.

Namun, bila humor itu datang dari sesama saudara-sudari seiman dan lahir bukan dari kebencian pada Gereja dan Tuhan, melainkan dari relasi personal dengan Allah Transendens yang berinkarnasi dalam Yesus Kristus; yang memanggil muridNya sebagai “sahabat” dan bukan “hamba,” masihkah humor itu jatuh dalam kategori hujat dan kebencian? Pertanyaan fundamental ini bukanlah mengenai intensi dan situasi si agen moral. Pertanyaan ini adalah tentang definisi obyek tindakan “menghujat.” MacIntyre mengingatkan bahwa konteks sosial yang berbeda akan melahirkan konten sosial yang berbeda pula. Ia mengambil contoh tentang betapa rumitnya definisi dari kata “definisi” yang ditemukan dalam kamus. Ada banyak sekali untaian turunan makna kata “definisi” sesuai konteksnya – bukan hanya dalam kamus bahasa Inggris, namun juga dalam KBBI – untuk mendefinisikan satu kata ini. Rupanya, definisi obyek tindakan moral ternyata tidak lepas dari konteks sosialnya.

Adalah sahih sebagai sebuah kemungkinan bahwa mereka yang tersinggung dengan ‘dark humor’ KGL adalah sekumpulan agen moral yang terlepas dari konteks sosial lahirnya KGL serta visi misi yang diusung oleh KGL ini. Kelompok yang berbeda konteks ini bisa jadi berhenti hanya pada “konten” yang dianggap melecehkan kekudusan Tuhan. Bagi mereka yang kontra KGL, sangatlah mungkin bahwa perbedaan cakrawala tentang apa yang kudus, yang mulia dan yang transedens itu menyebabkan “dark humor” tampil sebagai “penistaan.” Sementara, bagi yang mendukung KGL dan cara melucunya akan dengan mudah balik membalas kelompok yang tersinggung ini sebagai kelompok picik yang tidak punya selera humor. Padahal, belum tentu demikian adanya. Penyebab terjadinya polemik pro dan kontra KGL ini sebenarnya bukan sekadar soal gambar atau kata-kata suci yang dipelesetkan, namun karena ketiadaan konsensus rasional tentang apa itu hujat dan humor.

Dialog ke dalam yang lebih mendalam: demi satu Tubuh Kristus

Dua argumen moral yang sama-sama berangkat dari pendekatan preskriptif ini memiliki bobot rasional masing-masing. Karena kesetujuan pandangan tidak dimungkinkan dalam perdebatan antara kedua kelompok ini, maka pertanyaan utamanya adalah: bagaimana saya dan engkau, sebagai bagian dari anggota Gereja, harus bersikap?

MacIntyre mengingatkan bahwa modernisme telah menyebabkan identitas personal tiap agen moral tidak lagi lekat pada peran sosial tertentu. Akibatnya, tidak ada lagi yang mengharuskan masing-masing agen moral untuk menuju pada sebuah tujuan bersama (telos) sehingga pendapat pribadi rentan untuk lepas dari ikatan sosial. Mungkin ini sebabnya, masing-masing orang yang terlibat dalam perdebatan di media sosial cenderung untuk mempertahankan pendapatnya sendiri; bahkan tak jarang sampai mengutuki pandangan yang berbeda. Di kubu mereka yang tersinggung, misalnya, saya melihat beberapa seruan bahwa KGL, selain “menista agama”, juga adalah “golongan liberal, iblis, pelacur dan penjual harga diri Gereja.” Di kubu yang mendukung KGL, kita melihat narasi yang mengatakan bahwa mereka yang tersinggung adalah “golongan kadrun Katolik, bigot, dan golongan konservatif yang ketinggalan zaman.”

Saya mengusulkan, bila tidak dapat bersepaham dalam definisi tentang humor dan hujatan, maka sebaiknya kedua kubu mengambil argumen rasional yang pragmatis, yaitu: bersepaham bahwa perbedaan tidak akan sampai mengurangi prinsip kesatuan Gereja Katolik. Prinsip Gereja yang ‘satu’ dapat menjadi bingkai untuk melihat perbedaan dan ketidak-setujuan moral dengan lebih jernih. Penting bagi tiap individu untuk juga menimbang keanggotaan dalam satu Tubuh Kristus yang sama sebagai pengikat telos untuk menemukan titik dialog ke dalam yang lebih mendalam. Mungkin, kita sebagai Gereja telah terlalu banyak mengusahakan dialog ke luar hingga saat terjadi polemik internal, kita cenderung gagap dan sibuk berbantah dengan pendapat sendiri-sendiri.

Setidaknya ada lima hal konkret berdasar prinsip kesatuan Tubuh Kristus untuk mulai berdialog ke dalam dengan lebih mendalam, yaitu:

(1) Mengusahakan dialog yang santun, proporsional dan personal dengan yang berbeda paham. Konkretnya? Hindarilah komentar penuh penghakiman sepihak di ruang publik. Hindari diksi-diksi negatif yang mengancam persatuan Tubuh Kristus di ruang publik saat ingin saling mengingatkan ketidak-setujuan moral. Ingatlah bahwa masing-masing perbedaan paham, bila didukung oleh pandangan rasional, juga harus dihargai. Bila Anda tidak dapat menghargai kelucuan KGL, minimal Anda menjaga etika berkomunikasi sebagai murid Kristus. Sampaikan saja keberatan Anda dengan runut dan proporsional di jalur pribadi. Admin KGL juga harus menyadari bahwa humor adalah wilayah abu-abu yang relatif riskan memancing sentimen negatif pada agama. Para admin media sosial Katolik harus terbuka pada kritik dan secara proporsional makin menyadari tanggungjawab dan imbas setiap posting mereka; juga tanggungjawab untuk dengan rendah hati meminta maaf bila setelah discernment  bersama memang ditemukan teks atau gambar yang mengancam persatuan Tubuh Kristus.

(2) Perdalamlah argumen rasional dalam perdebatan untuk menjelaskan preferensi emotif Anda. Saya prihatin sekali dengan beberapa akun dan kelompok yang hanya copy-paste dokumen-dokumen Gereja dan Kitab Suci sebagai justifikasi mutlak tanpa penjelasan dan pengertian lebih jauh tentang sejarah pemikiran dan konteks perkembangan doktrin teologi yang dikutip. Mari bersama menghindari kedangkalan berpikir di ruang publik. Keberatan masing-masing pihak mestinya dikanalisasi oleh mereka yang mendalami filsafat dan teologi secara formal. Di lain pihak, Garis Lucu sendiri sebaiknya memberi pula ruang bagi humor yang “rasional” agar sensasi lucu tidak menjadi tujuan akhir, namun menjadi pintu masuk bagi orang-orang beriman untuk memikirkan kembali relasinya dengan Tuhan. Kolaborasi dengan mereka yang berbeda paham mungkin dapat membantu KGL menemukan humor yang juga menumbuhkan tradisi berpikir kritis sebagaimana selalu menjadi ciri iman Katolik.

(3) Para imam yang aktif di dunia maya sebaiknya juga menyadari fungsi kegembalaan dan martabatnya sehingga tak mudah teragitasi dan menjadi reaktif. Pahami lebih dulu konteks sosial akun media Katolik yang problematik. KGL sebagai wadah orang-orang muda di Twitter telah menjadi jembatan konkret untuk dialog antar-agama dan untuk aksi sosial kemanusiaan. Tak dapat dipungkiri bahwa dalam beberapa posting yang melukai hati sebagian umat, KGL sekilas tampak lupa bahwa dalam Tubuh Kristus yang satu itu, ada rupa-rupa budaya dan pemahaman yang berbeda penghayatan imannya. Namun, itu bukan alasan bagi para imam yang aktif di media sosial untuk bereaksi secara berlebihan. Ingatlah bahwa pada zaman post-truth ini,  polarisasi yang datang dari preferensi emotif akan sangat mudah terjadi. Jangan-jangan postingan pendapat pribadi para Gembala yang tidak proporsional di media sosial dapat makin menajamkan polarisasi di antara umat yang bergulat dengan ketidak-setujuan moral dan dengan demikian malah kontraproduktif dengan cita-cita kesatuan Gereja.

(4) Berhadapan dengan fenomena media sosial, sebaiknya kita sebagai Gereja makin mengusahakan literasi penggunaan internet dalam kerangka spiritualitas dan etikanya. Sudah saatnya, baik di level personal maupun komunal, kita membawa wacana penting ini untuk didalami lebih lanjut. Mengapa? Karena informasi selalu memiliki daya formasinya sendiri di kalangan orang muda.

(5) Mengusahakan keterlibatan sosial yang nyata adalah imperatif bagi penggunaan media sosial yang sehat. Kita mendorong setiap orang muda Katolik untuk tidak hanya menjadi “penikmat” humor berbumbu iman, namun juga sebagai “pencipta” narasi-narasi besar tentang ketidak-adilan, kemiskinan, kesetaraan gender dan tanggung-jawab ekologis. Dalam perspektif sosial yang lebih luas, ketidak-setujuan moral bukan alasan untuk tidak memberi buah nyata di tengah dunia. Mereka yang menikmati kelucuan tidak boleh berhenti hanya pada tawanya. Mereka yang membela transendensi Ilahi tidak boleh lupa untuk “turun dari gunung devosional atau intelektualnya” serta menyapa orang-orang sekitarnya. Komitmen bersama pada perjumpaan offline dan pada aksi kasih yang nyata adalah pintu perjumpaan yang baik bagi mereka yang berbeda paham dan penghayatan tentang apa yang kudus dan apa yang profan!

Ahirnya …

Internet adalah pintu masuk ke dunia komunikasi yang luar biasa dahsyat dan yang menjanjikan kenyamanan lebih dalam berhubungan dan memperoleh akses informasi; sebuah dunia yang disebut oleh Manuel Castellis sebagai the internet Galaxy. Galaksi baru ini membawa revolusi besar atas cara manusia (modern) berinteraksi satu sama lain dan bahkan dengan dirinya sendiri. Di dalam ‘galaksi’ itu kita melihat bagaimana tatanan sosial dalam segala seginya – ekonomi, budaya, religiositas, politik  dan lain-lain – terbentuk dalam interkonektivitas yang mengatasi batas-batas teritorial dan moral. Polemik dan ketidak-setujuan moral tentang humor dan hujat dalam salah satu bagian kecil dari perubahan pola interaksi manusia di zaman modern ini. Semoga, para pengikut Kristus tidak tenggelam dalam galaksi baru ini dan tidak lupa untuk mengubah gelanggang sosial ini menjadi serupa dengan Kristus sendiri. “Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi” (Ef 1:9-10).

Albertus Joni, s.c.j

Yang Muda Ikut Terlibat

Video ini adalah rekaman percakapan @romo_koko dengan @albertus.gregory seputar aktivisme orang muda Katolik. Salah satu program kepedulian sosial dalam Gereja Katolik Indonesia adalah @jalakasih – digagas dan dirawat oleh orang muda luar biasa! Saat ini program jalakasih.com telah menjangkau 128 gereja dan puluhan anak didik di pedalaman tanah air. Selamat menikmati percakapan kami dan tolong sebarkan agar lebih banyak kebaikan disemai dan dipetik buahnya… Dua pekan mendatang, kami akan berbincang tentang tema lain. Tunggu update-nya di akun IG @jalakasih dan FB Jala Kasih!

Untuk Indonesiaku di September 2019

Saffir Maki
Photo credit: Safir Makki/CNN Indonesia

‘Revolusi Mental’ seharusnya membuat orang-orang besar tidak fobia pada kritik dari rakyat kecil… Semoga aku dan engkau – walau saling beradu pendapat – tetaplah sadar bahwa kita adalah saudari-saudara sebangsa yang lahir dari rahim Nusantara!

Jangan saling baku pukul dan bunuh karena kekerasan tak pernah sampai pada solusi yang utuh! Yang berseragam cokelat dan loreng sejatinya disumpah menjadi penjaga anak bangsa… tak boleh kau lukai dan kau ciderai! Pelajar muda berseragam aneka warna juga tak akan jadi dewasa bila argumen mereka disambut dengan gas air mata, peluru, dan pentung! Bijak-bijaklah menghadiahi Dhandy dan Ananda jeruji besi karena jangan-jangan dua orang muda ini tak kalah cintanya pada negeri dibandingkan mereka yang punya lencana dan kuasa membui!

Telinga lebar dan hati yang besar adalah jalan untuk saling mendengar dan bertukar nalar… bukan untuk menetapkan yang salah dan yang benar; melainkan untuk mendamaikan yang bertengkar dan bersama menemukan akar soal di antara kita! Berteriak dan berkelahi terlalu lama kadang mengubah ketidaksukaan menjadi obsesi kebencian. Atau, jangan-jangan, diam-diam kita sebenarnya menikmati kekerasan itu dan menggunakannya sebagai alat pemuas kebutuhan kita akan identitas golongan? Atau, justru ini yang diinginkan orang-orang yang memang punya kepentingan untuk menggulingkan demokrasi? Ah, entahlah! Aku tak mau kita saling curiga! Bila hati habis dimakan syak wasangka, kapan kita dapat kembali berpelukan sebagai anak-anak Pancasila?

Yang kutahu sederhana saja: ini saatnya menghentikan kekerasan – baik dari jalanan dan dari tahta para pejabat! Ini saatnya menggunakan jalur komunikasi! Yang kutahu sederhana saja: tak elok kita saling beradu otot sementara Mama-Mama di Ambon belum kering tangisnya karena rumah, harta dan cinta mereka dihantam lindu! Yang kutahu sederhana saja: pada akhirnya, hanya kasih yang boleh dan yang akan menang!

Damailah Indonesiaku!

“Tetap Mengasihi adalah Kebodohan?” Credo quia absurdum

Penyegelan. Penolakan. Pembubaran. Penutupan paksa.

Ini adalah kata-kata yang relatif sering berkaitan dengan ibadah jemaat Kristiani di Indonesia. Lancungnya hukum dan politik identitas yang makin kuat adalah dua dari sekian banyak penyebabnya. Video viral dari Kab. Indragiri Hilir, Riau, bukan yang pertama, dan tidak akan jadi yang terakhir.

EC6GqptWkAUtK5h

Geram? Ya, pada awalnya. Namun, Kristianitas dikenal dengan ajaran kasih dan pengampunan sehingga tak mungkin kami lama memendam amarah; apalagi hingga berbalas dendam. Tetap mencintai walau ditolak adalah hukum utama dari Manusia Tersalib itu…

Continue reading ““Tetap Mengasihi adalah Kebodohan?” Credo quia absurdum”

Singa Tanpa Auman

www.romokoko.org

Alkisah, hiduplah seekor singa yang tidak bisa mengaum. Di balik penampilannya yang gagah dan kokoh, sang raja padang rumput itu tidak mampu menggetarkan lawannya dengan suara yang dalam. Si Singa sejak masa kecilnya telah menemukan bahwa ia tidak bisa mengaum – namun tidak ada hewan lain di sekitarnya yang mengetahui hal ini. Si Singa tumbuh besar dengan suara yang lembut dan karenanya tidak ada hewan yang takut bermain di sekitar si Singa besar ini. Ia justru mendapatkan rasa hormat dari hewan lain karena si Singa selalu bertutur kata sopan dan lebih memilih untuk mendengarkan keluhan sahabat-sahabatnya.

Scott Randal

Sampai di suatu hari, seekor babi hutan muda membuat onar seluruh warga padang rumput. Babi hutan ini berani melanggar batas dengan merusak ladang manusia dan menyerang anak-anak hewan lain. Semua hewan datang mengeluh pada si Singa yang terkenal bijak dan lembut itu. Akhirnya si babi muda digiring menghadap si Singa dan semua hewan lain menunggu nasihat apa yang akan dikatakan oleh Raja mereka.

Mulailah sang Singa menasihati si babi muda pembuat masalah itu. Alih-alih menyesal, si babi menertawakan si Singa yang ‘terlalu lembut’. Merasa terhina, si Singa murka dan nalurinya untuk mengaum berkobar-kobar… namun ia seketika sadar dirinya tidak bisa mengaum.

Continue reading “Singa Tanpa Auman”

“Komitmen… “

#SoulBites 2.0 | 06112015

Wanita paruh baya itu acapkali mengusik batinku. Gurat wajahnya adalah kisah perjuangan yang berat membesarkan dan mendidik anak laki lakinya. Wanita ini sederhana jalan pikiran dan impiannya. Ia tak lulus SD namun selalu cerewet soal pendidikan anaknya. Ia mengusahakan putranya meraih apa yang ia impikan…

Continue reading ““Komitmen… “”

“Angela…”

#SoulBites 2.0 | 05112015

Usianya 8 tahun. Namanya Angela. Anak perempuan manis itu selalu menyambutku di depan pintu gereja sebelum misa: “Romo, salaman ya!” Lelahku seketika hilang tiap kali melihat senyum lebarnya di sana…

image

Seminggu lalu, senyumnya menghilang. Ia tak sadarkan diri karena demam terlampau tinggi. Kejang demam mendera sementara orangtuanya, petani karet sederhana di pedalaman Lampung, tak mampu banyak berbuat… Mereka dibatasi jarak dan tipisnya isi dompet… Sang ibu hanya mampu menangis dan ayahnya malah justru jatuh pingsan melihat putri kecilnya amat menderita…

Continue reading ““Angela…””

Facebook dan Awal Sindrom Kesepian …

Hi readers.
lama juga ya saya belum update blog ini… 🙂
Pagi ini saya mendapat link video inspirasi tentang fenomena facebook dan rasa kesepian 🙂
Video ini sangat sangat sangat menginspirasi… jadi, bagi Anda yang punya talenta untuk translation dan punya waktu, saya undang Anda untuk menerjemahkan video ini dalam bahasa Indonesia…

Happy watching and God bless you all! 🙂

Andai Keajaiban itu Datang…

a tribute to Martin by Fra. Tugi SCJ

Fra. Tugi SCJ (Penulis)
Fra. Tugi SCJ (Penulis)

Suatu siang dipertengahan musim panas Juni 2012, sebuah mobil Mitsubhisi warna putih meluncur dari arah Pamulang menuju Wisma Bambu Apus.  Di dekat sebuah tikungan, mobil itu belok dan memasuki pintu gerbang rumah bercat putih. Beberapa saat setelah klakson berbunyi tampak keluar seorang anak lelaki usia 20-an berbaju coklat membukakan pintu. Dia adalah Martin, salah satu anak penghuni Wisma Bambu Apus.

Martin adalah anak yatim piatu yang dilahirkan di Jakarta 1984. Suatu yang istimewa adalah tanggal kelahirannya yaitu 25 Desember. Bagi orang Kristen tentu saja tanggal dan bulan itu merupakan suatu Kabar Sukacita dan hari yang penuh rahmat. Tetapi Martin dilahirkan dalam situasi yang kurang menguntungkan baginya. Dia memiliki penyakit epilepsy, gangguan pendengaran, jalannya yang agak miring dan bicaranya kurang jelas. Namun, dalam kondisi seperti itu Martin sangat rajin dalam melayani komunitasnya. Dari bangun pagi hingga menjelang dia tidur, Martin tak pernah lupa mengerjakan tugas  yang dipercayakan kepadanya.

Ketika sebuah mobil Mitsubhisi warna putih itu berhenti di depan rumah dan membunyikan klakson dua kali, dengan langkahnya yang agak sedikit tertatih Martin berlari kecil menyahut kunci pintu yang tergantung di sebuah paku dekat almari TV. Beberapa Frater yang seringkali menyaksikan semangat Martin sering merasa terharu. Ada perasaan melayang-layang, berandai-andai dan terkadang air mata pun jatuh tatkala menyaksikan Martin yang dengan keterbatasannya melakukan hal-hal sederhana menjadi luar biasa.

“Seandainya dapat kulakukan, aku ingin berlari secepat angin ataupun kereta bawah tanah. Aku juga ingin terbang seperti burung yang mengintari danau dan melompat dari ranting ke ranting. Tetapi Tuhan mengaruniakan padaku sesuatu lebih dari apa yang mungkin dimiliki orang lain. Dengan segenap kekuranganku, ternyata Kau tetap dapat memperhatikan sesamaku yang ada dalam keluarga tercinta Bambu Apus ini”.  

Mungkin kata ini akan terucap dari bibir Martin, jika dia dapat menceritakan isi hatinya dengan terbuka. Martin mampu menyimpan perkara-perkara besar dalam hatinya, dan sungguh yakin bahwa semangatnya yang besar dalam melayani dijiwai oleh suatu ketulusan dari lubuk hati yang dalam.

Musim liburan hampir tiba dan tiba saat bagi Martin untuk mengambil raport.

’Hoqeee,,, qigak aga ngiai meqrahnga”. Suatu kata yang asing didengar pada lazimnya diucapkan Martin. Sebenarnya dia ingin mengatakan, “Horeee,,,, tidak ada nilai merahnya”. Suatu ungkapan kegembiraan dari hati Martin yang paling dalam terlihat saat itu. Para Frater pun ikut merasa bahagia melihat anak-anak yang lain juga ada yang merasa bangga, tetapi ada juga yang terlihat sedikit murung ketika membuka-buka rapor mereka. Pak Peno sebagai pendamping asrama juga merasa senang, karena keberhasilan anak-anak juga keberhasilan semua keluarga Bambu Apus.

Malam hari ketika selesai makan, tugas utama Martin adalah mencuci peralatan makan. Saat itu Frater Gie dan dua Frater lainnya membantu tugas Martin. Tiba-tiba pada langit yang gemerlap oleh bintang-bintang terdapat suatu cahaya terang sebesar bola ping pong yang melesat dengan begitu cepat.

“Oh,,, ada bintang jatuh”, kata frater Gie.

“Hqa,,,, aqkwa?”, (maksud Martin adalah “Ha…apa..?”).

“Bintang jatuh!”, kata Frater Gie lebih tegas.

Konon ketika ada hujan meteor atau ada bintang jatuh katanya setiap orang yang melihatnya boleh mengucapkan suatu permohonan. (Orang-orang yang tidak melihat bintang jatuh juga boleh saja mengucapkan permohonan dan harapannya. Jadi, tidak perlu menunggu bintang jatuh). Hal itu hanya suatu kepercayaan yang tidak perlu diyakini, tetapi kesempatan itu digunakan Frater Gie untuk menyemangati Martin.

“Martin,,,  Martin,, coba lihat bintang itu”!.

“Hnga,,,, ungkuk anga?”. (Ha,,, untuk apa?)

“Ketika menyaksikan bintang jatuh, kamu dapat membuat suatu harapan besar!”.

Frater Gie mencoba menghibur dengan kata-kata itu, tetapi rupanya saat itu Martin belum mengerti maksud Frater Gie. Semua yang turut mencuci piring hanya tertawa, tetapi Martin masih terlihat dengan wajahnya yang terbesit suatu pertanyaan tentang bintang jatuh itu. Setelah selesai mencuci piring, semua anak dan para Frater masuk ruang doa untuk berdoa bersama.

Martin adalah namaku...
Martin adalah namaku…

Martin yang dengan segenap keterbatasannya pula tidak pernah terlambat dalam berdoa. Mungkin banyak anak zaman ini yang walaupun hidupnya serba berkecukupan dan memiliki jasmani yang lengkap terkadang masih tetap memiliki kekurangan, di antaranya sedikit lupa bersyukur. Ketika selesai berdoa malam, Martin pun segera masuk kamar. Dia tidak memiliki kebiasaan seperti anak-anak lain yang seringkali menghabiskan waktu mereka sampai larut untuk main Play station. Ketika teman-temannya tertawa karena serunya permainan itu, mungkin Martin sudah tidur bersama mimpi-mimpinya.

Di pagi hari ketika matahari mulai terbit, Martin telah mengumpulkan pakaian-pakaian temannya yang lebih berkesulitan. Ada pakaian yang kotor karena temannya yang mengompol, ada yang kotor karena keringat, air liur dan sebagainya. Satu bak penuh setiap harinya. Oh… tapi tunggu dulu. Tidak hanya itu saja. Martin juga mendapatkan giliran menyapu dan mengepel lantai. Frater Gie dan para frater lain menjadi saksi, bahwa Martin selalu mengerjakan tugas itu tanpa keluhan tetapi penuh dengan semangat pelayanan yang tulus ikhlas. Suatu cinta yang rela berkurban dan layak menjadi teladan bagi setiap orang. Bagi komunitasnya betapa setiap saat Martin begitu berharga meskipun kecil.

Bagaikan seorang pengembara yang mempunyai tujuan yang jauh, begitu juga terkadang pikiran melayang jauh tanpa batas. Jika saat ini banyak anak usia Sekolah Dasar berlomba dengan segudang cita-cita mereka yang tinggi, begitu juga Martin terkadang memiliki cita-cita yang tinggi walaupun hanya tinggal dalam angan-angan. Martin ingin dipeluk oleh Mama dan Papa, Martin juga ingin bermain bersama teman-teman. Martin ingin merasakan berlari dan memakai sepatu roda. Ingin mendaki bukit yang tinggi dan menyentuh awan. Tapi itu semuanya hanya tinggal mungkin. Mungkin di luar sana milyaran mata tertawa ketika langit menjadi cerah bersama harapan setiap orang. Tetapi menyaksikan Martin yang berjalan saja sulit maka keindahan itu akan tampak menjadi langit yang selalu keruh dengan mendung hitam menggelayut seperti habis hujan. Itulah yang akan dirasakan seseorang ketika menyaksikan kehidupan Martin.

Suatu hari sekolah Luar Biasa Pamulang yang merupakan tempat sekolah Martin dan teman-teman mengadakan olahraga bersama. banyak orang hadir, baik siswa maupun pendamping. Saat itu terlihat semuanya antusias menyiapkan sarana olahraga dan membawa alat-alat masing-masing. Di sudutsudut lapangan tampak beberapa orang yang memutar-mutar badannya melakukan pemanasan. Ada pula yang berlari-lari kecil mengelilingi lapangan. Tetapi yang tampak dilakukan oleh Martin adalah memegang sapu dan mengayunkannya pada daun-daun dan sampah yang berserakan di lapangan. Meskipun setiap orang dapat membuat pilihan masing-masing yang menurut mereka baik untuk dilakukan saat itu, ternyata Martin telah memilih yang terbaik.

Pada suatu malam di dalam kamar yang ditempati Martin bersama teman-temannya timbul suatu kegaduhan. Tempat tidur yang ditiduri Martin bergerak seperti ada gempa bumi besar. Saat itu ternyata Martin mengalami kejang. Seluruh badannya kaku dan matanya melotot kencang seperti seorang yang sedang marah. Begitulah dia ketika epilepsinya kambuh. Namun dalam keadan seperti itu juga tidak aka nada yang menolongnya, karena pada saat seperti itu memang tak ada yang dapat dilakukan orang-orang yang di sekitarnya kecuali menjadi penonton. Hal itu akan terjadi kurang lebih selama tiga menit. Rasa sakit yang luar biasa akan dialami oleh Martin. Hanya obat Tegretol  (obat untuk ayan), yang dapat membantu mengatasi sedikit rasa sakitnya itu pun harus diminum setiap hari dan jangan sampai terlambat.

Di antara perjuangan Martin menghadapi penyakitnya ada seorang pendamping yang juga hadir memperhatikannya. Pak Peno selalu mendoakan Martin dan membantu dia supaya selalu kuat dalam menghadapi penyakitnya. Walaupun harus membagi waktu bersama keluarga, pak Peno selalu hadir dengan penuh kasih bagi  Martin dan teman-temannya.

“Jangan sampai ada satu orang pun yang kekurangan cintakasih”.

Itulah kalimat pak Peno yang selalu diingat oleh frater ketika pak Peno melayani anak-anak yang diasuhnya termasuk Martin. Dalam komunitas keluarga Bambu Apus tampak suatu rasa memiliki dan persaudaraan yang besar. Hal itu pula selalu ditampakkan dalam diri Martin ketika berada ditengah teman-temannya. Sayang sekali tidak setiap kegiatan dapat diikuti oleh Martin.

Suatu hari komunitas Bambu Apus mengadakan rekreasi ke pantai Salyra Jawa Barat. Tampaknya perjalanan yang lumayan jauh pun menggembirakan, walau ada yang tertidur dalam perjalanan. Cuaca langit yang cerah menambah semangat untuk bermain di pantai. Ketika sampai di tempat parker, minibus yang ditumpangi mereka berhenti dan anak-nak langsung turun untuk berganti pakaian renang. Tidak ketinggalan para frater yang saat itu sedang Live in turut bermain bergembira di pantai. Mereka berenang, bermain ombak dan pasir. Tetapi Martin hanya dapat melihat dari pinggir pantai dan tidak dapat merasakan kegembiraan seperti temannya yang lain. Sekali-sekali Martin tersenyum melihat tingkah temannya yang lucu ketika tidak dapat berenang.

Suatu kali terlihat Martin yang sedang melamun ketika duduk di sebuah gundukan batu karang menatap laut.

“Bersama teman engkau takkan kesepian

Hari-hari akan kembali

Tidak peduli dekat atau jauh

Aku mengangkat segenap cinta untuk mendorong angin dan hujan

Untuk selalu menahan badai

Aku percaya mimpi yang kusut tidak pernah berarti

Pelukan erat dan keberanian akanselalu mendorongku

Satu kata satu kehidupan

Ada kesepian ada keluh kesah

Jika engkau punya sahabat sejati maka engkau akan tahu

Badai akan berlalu dan hujanpun akan pergi

Berjalan keluar dari kabut

Berlari untuk melihat bintang-bintang

Menunggu matahari setelah hujan

Ada luka ada rasa sakit

Ada perpisahan

Aku selalu ada”.

Mungkin syair lagu itu yang dinyanyikan Martin ketika dalam lamunannya. Walaupun tiada orang tua kandungnya, tetapi teman-teman Martin selalu ada. Untuk saat yang baik atau saat buruk, Martin juga selalu ada bersama keluarga Bambu Apus. Para frater yang sedang Live –in di sana pun melihat suatu cerita indah tentang besarnya arti persahabatan yang terjalin akrab di antara Martin dan teman-temannya. Sungguh hal itu menjadikan suatu pengalaman berharga. Sesudah anak-anak merasa capai bermain air, pak Peno mengajak mereka dan para frater untuk beristirahat. Setelah selesai bersantap siang, rombongan masuk kembali ke dalam mobil minibus yang dikemudikan pak Leo. Di sepanjang perjalanan itu, semuanya tertidur, kecuali pak Leo sendirian.

Hari berikutnya adalah hari-hari yang semakin sepi bagi Martin begitu juga dengan keluarga Bambu Apus. Beberapa dari mereka yang masih memiliki orang tua ternyata dijemput untuk berlibur di rumah masing-masing. Itu artinya bagi Martin harus siap untuk menggantikan tugas mereka. Tetapi para frater yang ada di sana ternyata juga peka akan keadaan, sehingga turut ambil bagian meringankan beban Martin. Beberapa tugas seperti mengelap kaca jendela, menyapu lantai, mengepel, dan menyiram bunga akhirnya dibagi bersama-sama.

Suatu kesempatan yang menyenangkan bagi Martin adalah ketika ada kunjungan. Meskipun sekolah libur, tetapi seringkali ada kunjungan dari suatu lembaga instansi pendidikan atau pekerjaan. Yang menyenangkan adalah mereka terkadang menghibur dengan membawa pemain sulap atau membagi makanan ringan. Setiap kunjungan usai, ingin rasanya Martin memutar waktu yang tinggal kenangan ketika suasana itu sudah lewat darinya.

Pada Minggu kedua di pertengahan Juli, tibalah waktunya juga bagi para frater untuk kembali ke Jogja. Saat itu cuaca Jakarta cukup panas karena memang musim kemarau. Di hari itu Martin juga tampak sedih karena harus ditinggalkan oleh para frater yang akan kembali ke Jogja.

“Nangki kangau ugah sangai gangang ngupa nga”, (nanti kalau sudah sampai jangan lupa ya). Itulah pesan Martin kepada para frater.

“Oh,,, tentu saja Martin,,, kami akan selalu ingat kalian semua”. Jawab salah seorang frater. Akhirnya setelah mereka berpelukan dan saling melambaikan tangan, para frater meninggalkan rumah Bambu Apus dan Martin pun melangkah menuju kamarnya untuk istirahat. Pukul tiga sore Martin bangun dan kembali melaksanakan tugas-tugasnya dalam komunitas. Suatu pelayanan bagi Tuhan yang dilakukan oleh Martin melalui sesamanya sungguh berharga di mata dunia yang melihatnya. Hanya suatu harapan yang indah dan mungkin juga diharapkan yaitu jika keajaiban mungkin datang.

Tetap Bersyukur Meski Autis

Fra. Florent SCJ (Penulis)
Fra. Florent SCJ (Penulis)

Ditulis oleh Fr. Florentinus SCJ

 

Tampangku Bisa Menipu

Rasanya wajar kalau tiap orang yang melihatku pertama kali akan kagum. Tetapi  ketika tahu siapa aku yang sebenarnya, mungkin susah untuk dipercaya. Dari penampilan luar, aku tampak keren seperti teman-teman (normal). Tubuhku sehat. Wajahku sedikit mirip dengan orang Korea. Kulitku putih terawat. Namun siapa sangka kalau aku punya kelemahan yang kadang susah diterima kebanyakan orang.

Dari pengalamanku, yang sering terjadi adalah ketika orang melihat aku pertama kali, mereka spontan kira aku normal seperti anak lainnya. Namun, ketika mereka mulai mengajakku berbicara, jangan harap mereka akan mendapat tanggapan dariku meski hanya sepatah kata saja. Lalu ketika orang menatapku lebih lama lagi dan memperhatikan dengan cermat, barulah mereka akan tahu bahwa aku seorang autis.

Salah satu kisah dimana penampilanku menipu orang kalau aku tidak autis adalah ketika para frater SCY berjumpa denganku. Mereka datang di Panti Asuhan Bhakti Luhur, tepatnya di asramaku, untuk tinggal dan belajar mendampingi kami selama kurang lebih 3 minggu pada bulan Juni 2012. Ketika aku pulang sekolah bersama teman-teman yang cacat lain dan para perawat, di rumah (asrama) aku melihat ada 3 orang baru. Mereka itu pemuda-pemuda yang lumayan keren dari Yogya. Ternyata mereka adalah para frater SCY yang mau belajar tinggal bersama kami di Panti Asuhan Bhakti Luhur.

Melihat aku, mereka menatapku kagum. Lalu, salah seorang mengajakku bercakap-cakap seolah menganggapku anak normal. Aku sih diam saja seperti biasa. Mana kutahu bahasa orang itu. Lagi pula aku kan memang tidak bisa bicara. Rupanya ia belum percaya kalau aku autis. Hehe…kasihan para frater itu. mereka tertipu oleh penampilan sekilasku.

Siapa Aku ini

Namaku Nio...
Namaku Nio…

Nama lengkapku Geovranio Imanuella Purba. Orang fasih memanggilku Nio saja. Aku dilahirkan di kota Tangerang pada tanggal 7 Maret 1997.  Aku hanya 2 bersaudara. Aku anak pertama dan memiliki seorang adik. Karena keadaanku yang seperti ini, setelah lumayan gede aku masuk ke Panti Asuhan Bhakti Luhur Jakarta. Aku rasa ini adalah tempat yang tepat untukku supaya bisa sedikit demi sedikit berkembang mengatasi keterbatasanku ini.

Aku sama lho dengan teman-teman lain. Aku juga punya orang tua. Mereka telah membesarkan dan merawat aku dari kecil. Lalu aku masuk ke Panti Asuhan Bhakti Luhur ketika sudah cukup gede. Keluargaku tergolong keluarga yang berkecukupan. Papa punya mobil bagus juga kok. Mobil itu sering dibawa untuk menjemputku ketika mulai liburan dan menghantarku kembali ke Panti Asuhan Bhakti Luhur tiap kali masuk semester baru.

Aku sudah cukup lama tinggal di Panti asuhan Bhakti Luhur. Orangtuaku berharap agar aku bisa sedikit demi sedikit berkembang dan bisa lebih mandiri dengan memasukkan aku ke Panti Asuhan Bhakti Luhur tercinta ini. Di sekolah Panti Asuhan kan ada pelajaran “Bantu Diri”. Setidaknya aku dan teman-teman mendapat perhatian khusus layaknya anak-anak berkebutuhan khusus seperti kami ini. Memang sih sekolahan kami tak seperti sekolah anak-anak normal di luar sana. Yang pasti para perawat kesulitan dan harus bersusah payah mendampingi dan membimbing kami supaya lebih berkembang dan bisa bantu diri. Itulah tugas mereka yang mungkin tidak mudah.

 

Aku Berbeda dengan Yang lain

Aku sudah bilang sebelumnya bahwa aku berbeda dengan teman-teman yang normal lainnya. Aku tidak bisa berbicara. Aku juga tidak bisa menangkap maksud orang lain ketika diajak bicara. Aku susah berkomunikasi dengan orang lain baik secara verbal maupun non verbal. Aku memang hidup bersama dengan teman-teman di Asrama Panti Asuhan, tetapi jangan harap aku bisa berkomunikasi dengan mereka. Kehidupan sosialku bersama para perawat dan teman-temanku hanya sebatas tinggal bersama. Tidak pernah ada “ngobrol bareng” bersama, kecuali di antara para perawat sendiri.

Aku lebih sibuk dan hanya mengerti dengan duniaku sendiri. Itulah yang bisa kupahami tentang diriku. Setiap hal yang kulakukan cenderung mengarah ke diriku sendiri sebagai pusat. Orang mungkin akan bilang aku egois, tetapi inilah situasiku. Aku tidak bisa mengerti maksud orang lain, apalagi harus membantu orang lain. Mengurus diri sendiri saja, aku belum bisa, bagaimana bisa mengurus orang lain.

Ketika aku melihat apapun juga yang bisa dipandang oleh kedua mataku, aku tidak bisa memberikan nama kepada benda itu. Kalau anak-anak seumuranku yang normal tentu bisa melakukannya dengan mudah. Sejauh aku mengerti, benda-benda yang kulihat itu ada yang diam saja, ada yang bergerak. Ternyata ada benda yang mirip dengan aku, tetapi bisa ngomong.

Semua benda bisa kulihat, tapi aku tidak bisa mengatakan apa namanya kepada orang lain. Aku tidak bisa berpikir benda itu apa, kenapa ada yang diam dan bergerak, darimana asal benda itu dan sebagainya. Yang jelas, apa yang ada itu biarlah tetap berada seperti itu. Semua itu tidak perlu dipikirkan dan dipertanyakan.

Kebiasaan-kebiasaanku yang menyenangkan, tapi kadang mencelakakanku juga

Ada beberapa kebiasaan yang sering kulakukan. Semua itu cukup asyik kulakukan  sendiri. Aku tidak bisa menuntut orang lain untuk mengerti aku seutuhnya sebab ini memang keadaanku. Kebiasaan-kebiasaan ini terjadi otomatis begitu saja. Aku sendiri kesulitan  untuk mengubah kebiasaanku ini. Para perawat dan pendampingku pun rasanya juga kewalahan menghadapiku. Tapi aku sendiri tentu merasa asyik donk dengan kebiasaan-kebiasaanku sendiri.

Pertama, aku sering ngompol. Seandainya ditanya kamar siapa yang paling bau di asramaku, jawabannya pasti kamarku. Kenapa? Karena aku suka ngompol, bahkan tidak hanya di kamar. Dalam satu hari saja, aku bisa ganti celana 100 kali kalau aku mau sebab aku sering kencing di celana. Itu terjadi otomatis begitu saja dan tidak kusadari. Maka, para perawat tidak mengganti celanaku setiap aku kencing di celana. Kita perlu belajar hemat. Kalau celanaku sudah basah kuyub, barulah ada yang mau mengganti celanaku. Aku sendiri tidak mungkin berpikir untuk mengganti celana sendiri.

Kedua, aku tidak bisa duduk diam. Selama mataku terbuka, selama itu pula aku akan bergerak dan berjalan. Susah bagiku untuk duduk diam. Aku akan terus berjalan dan berjalan menyusuri setiap ruangan asrama yang bisa aku lewati. Tidak peduli apa kata orang, apa larangan orang. Mungkin mereka ada yang terganggu. Yang penting aku bergerak terus tanpa tujuan. Kalau sudah capek, ya enaknya langsung tidur. Dan ketika mataku perlahan tertutup, saat itulah aku bisa diam meski nantinya tetap aja ngompol.

Ketiga, aku akan makan makanan apa saja yang kutemui. Itu kulakukan sambil bergerak dan terus bergerak. Akibatnya, kadang apa yang kumakan itu tidak selamanya baik untuk kesehatanku. Kadang perutku menjadi mual. Kadang tubuhku juga jadi lemas. Pokoknya macam-macam deh yang kurasakan. Misalnya aku makan sesuatu di atas cobek pada suatu siang. Ternyata setelah itu, lidahku panas banget dan tanganku juga ikut panas. Rupanya sambal cabe kumakan begitu saja secara diam-diam seperti nasi. Aku mengambil dengan tanganku. Tetapi tetap saja aku mengulanginya saat semua orang tidak melihatku dan melarangku.

Ada kisah lain lagi yang serupa. Aku minum cairan kehitam-hitaman di samping kompor. Cukup manis rasanya. Tapi setelahnya, kepalaku jadi pusing dan mataku berat untuk kubuka. Aku hampir saja pingsan. Rupanya aku minum kecap. Anehnya, aku terus mengulangi dan mengulangi lagi esok hari tanpa sadar itu adalah salah satu jenis barang alergiku.

Keempat, aku suka memainkan sesuatu sendirian. Asyik rasanya. Misalnya  memutar gelas plastik atau juga segala jenis kertas sambil berjalan dan terus berjalan. Sebuah buku frater  menjadi salah satu korban tangan saya. Benda di tanganku bisa bertahan lama kuputar-putar. Semakin lama rasanya semakin asyik. Mungkin orang normal akan bosan melihatku seperti ini, tetapi aku enjoy aja karena memang duniaku memang seperti ini. Dunia yang penuh dengan keasyikanku sendiri.

Itulah beberapa kebiasaan yang aku lakukan tiap hari. Mungkin orang (normal) bisa bilang kebiasaanku ada yang kurang bagus. Tapi aku sendiri tetap merasakan asyiknya duniaku. Kebiasaan-kebiasaan itu menyenangkan, meski kadang mencelakakanku juga. Namanya juga autis, aku tetap aja melakukan apa aja yang mungkin bisa mencelakakanku. Untung para perawat berusaha senantiasa memperhatikanku.

Aku Bisa Bahagia dan Bersyukur

“Inilah aku, utuslah aku”, seperti kata-kata nabi Yesaya. Keadaanku memang begini. Kalau bisa memilih, tentunya siapa sih yang tidak mau hidup normal seperti anak-anak yang lain. Tapi aku tidak mau pusing dan memberontak seperti manusia normal yang kebanyakan malah susah untuk mensyukuri keadaannya. Aku dengan keadaan seperti ini saja bisa happy kok.

Aku mencoba menerima keadaanku ini. Bahkan aku sendiri saja tidak bisa menciptakan diriku yang seperti ini, kenapa harus menolak situasi. Tanpa adanya rasa syukur,  aku tidak akan bisa menikmati hidup. Rasa syukurku mungkin bisa dilihat bagaimana aku tidak memberontak dalam menjalani hidup. Hidup dalam ketegangan dan tekanan dalam diri terus menerus itu sungguh mengerikan. Maka aku tidak mau ambil pusing dan meratapi diri yang seperti ini. Aku sudah merasa hidupku ini adalah hadiah Tuhan yang berharga.

Aku bisa melihat bagaimana hidup orang-orang normal yang tidak seperti aku dan teman-teman berkebutuhan khusus lainnya juga mengalami perjuangan keras dalam hidupnya. Setidaknya aku sendiri tidak akan menyesal pernah dilahirkan di dunia ini, sekalipun harus menjadi seorang autis. Kalau aku bisa bicara, mungkin aku akan mengucapkan maaf kepada keluargaku karena aku hanya bisa seperti ini. Aku yakin kalau mereka diberi pilihan oleh Tuhan, mereka pun akan memilih anak yang tidak seperti aku, artinya normal.

Awalnya mungkin para orang tua susah menerima keadaan anak yang seperti aku ini. Tapi jika mereka tahu, aku pun tidak pernah berharap hidupku seperti ini. Sekarang yang paling diperlukan hanyalah saling menerima keadaan. Aku menerima keadaanku dan keluargaku juga menerima keadaanku. Jalani semua dengan penuh syukur. Tuhan pasti mencintai semua kok.

Belajar dari Dia Lewat dia

Mengikuti kisah singkat adek Nio tadi, membuat penulis sendiri merasa iba dan terharu. Dia dengan keadaan yang sedemikian itu bisa membuat mata dunia dibantu untuk menatap dengan jernih. Ada hal yang perlu disyukuri dalam hidup sehari-hari. Kita tidak perlu meratapi dan menyesali keadaan diri yang memang demikian adanya. Ada hal yang bisa diubah, tetapi ada juga sesuatu yang hanya bisa diterima kalau kita mau mendapat ketenangan dalam hidup.

Sosok Nio mungkin susah diterima dalam masyarakat pada umumnya. Praktis, dia tidak bisa berelasi dan berkomunikasi dengan orang lain. Dia sendiri saja tidak bisa memahami dan memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Dia butuh uluran tangan kasih dari orang lain untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Tidak jarang susah menemukan orang yang mau peduli seperti adik kita yang satu ini.

Apa saja sih yang bisa kita dapat kalau kita mau belajar dari Nio? Sekilas, orang pasti akan berpikir tidak ada satu hal pun yang bisa dijadikan hikmah dari kisah Nio ini. Orang umumnya hanya akan terfokus melihat sisi lemah seseorang. Padahal lewat kehadiran Nio, Tuhan bisa berkarya dan menyapa kita. Mari sejenak kita merenung.

Penulis sendiri sempat merasa kebingungan menemukan Tuhan yang hadir. Bagaimana bisa hidup seperti Nio ini dikatakan bahagia. Penulis sendiri setelah mengalami pengalaman tinggal bersama adik Nio selama kurang lebih 3 minggu, awalnya merasa berat mendampingi anak seperti ini. Gak habis pikir rasanya. Tuhan kok menganugerahkan keadaan seperti ini kepada ciptaan yang dikasihiNya.

Berbagai variasi keadaan manusia diciptakan oleh-Nya. Ada yang lengkap, sempurna tetapi juga ada yang kurang beruntung seperti Nio ini. Rupanya perbedaan yang diberikan oleh Tuhan kepada masing-masing ciptaanNya mengundang kita untuk hidup saling melengkapi dalam ikatan kasih. Kasih yang ia ajarkan dan teladankan dalam diri Yesus Kristus itu menjadi patokan utama dalam menjalankan hidup sebagai pengikutNya. Hidup bersama orang lain menjadi indah kalau semua bisa hidup seperti Yesus.

Terhadap orang yang lemah dan tersingkir, Tuhan menaruh perhatianNya. Maka prioritas hidup kita memang mestinya mengarah kepada ketergerakkan hati untuk mengulurkan tangan kepada yang lemah.  Anak seperti Nio adalah salah satu contohnya.

Dalam arti tertentu, Nio sebenarnya menerima dan menikmati keadaanNya. Namun sebagai seorang autis, tentu ia hidup dengan dunianya sendiri. Membantu orang lain baginya tentu tidak pernah terpikirkan di dalam benaknya. Kita sebagai manusia yang diberi karunia lebih oleh Dia mesti mampu membantu sesama dengan meneladan Dia. Meneladan Dia berarti harus sampai pada pelayanan kepada dia yang membutuhkan, seperti Nio.