Karena Hidup Seperti Terminal

“For if we have been united with him in a death like his, we shall certainly be united with him in a resurrection like his.” ~ Romans 6:5

74507811_2540139279552770_8462072569489522688_o

Salah satu kepastian tentang hidup duniawi adalah bahwa kita semua akan mati, wafat, meninggal dunia (you name it-lah!). Kelak, pada satu waktu, engkau dan aku yang gemar berselancar di IG, FB, Twitter dan YouTube, akan sama-sama berujung di kematian; kembali pada debu dan tanah. Kita mungkin pernah bertanya: “Mengapa aku harus dilahirkan kalau suatu hari hidup ini akan berakhir dengan maut yang kaku dan dingin?”

Iman Kristiani menjawab pertanyaan ini dengan sederhana: “Maut bukan akhir dari segalanya!” Kematian adalah keberlanjutan; sebuah tiket di terminal menuju bahagia yang abadi bersama Bapa yang Maha Welas Asih.

Salah satu pewahyuan agung dalam Yesus Kristus adalah bahwa sengat maut telah binasa di atas kayu salib. Maut – yang mulanya hadir akibat dosa – seolah memangsa manusia sejak Adam jatuh. Sebelum Kristus datang, manusia jauh dari Allah bahkan setelah kematian.

Di sinilah indahnya misteri iman Kristiani: Allah menyelamatkan; Ia menjelma menjadi manusia agar raga dan jiwa manusia kembali mulia sesuai martabat saat ia diciptakan! Dan di atas palang penghinaan itu, Sang Putra menebus dosa ketidak-taatan Adam dengan menjadi taat pada kehendak BapaNya; bahkan taat hingga mati. 

Dan kematian Kristus mengubah segalanya! Betapa indah paradoks iman kita: Sumber Hidup justru dipaku hingga mati, dari kuburan yang dingin memancar cinta yang begitu besar, dan dalam kematian justru kita mengenal misteri kebangkitan!

Paradoks iman ini tak dapat dinalar akal! Bagiku, itu sebabnya, iman Kristiani menjadi amat istimewa: selalu ada ruang bagi misteri yang tak dapat dijelaskan indera. Di saat kematian menjadi begitu menakutkan, kita percaya bahwa hidup akan dilanjutkan. Kita hanya sebentar saja di dunia; “untuk mampir minum,” kata pepatah bijak dari tanah Jawa.

Akhirnya, sobat, terminalmu dan terminalku masih di sini. Keretamu dan keretaku belum berangkat laju. Kadang kita begitu sibuk dengan apa yang fana dan sementara. Semoga langkah kita tegak dan siap saat kereta itu datang! + Rm Albertus Joni scj

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s