“Tetap Mengasihi adalah Kebodohan?” Credo quia absurdum

Penyegelan. Penolakan. Pembubaran. Penutupan paksa.

Ini adalah kata-kata yang relatif sering berkaitan dengan ibadah jemaat Kristiani di Indonesia. Lancungnya hukum dan politik identitas yang makin kuat adalah dua dari sekian banyak penyebabnya. Video viral dari Kab. Indragiri Hilir, Riau, bukan yang pertama, dan tidak akan jadi yang terakhir.

EC6GqptWkAUtK5h

Geram? Ya, pada awalnya. Namun, Kristianitas dikenal dengan ajaran kasih dan pengampunan sehingga tak mungkin kami lama memendam amarah; apalagi hingga berbalas dendam. Tetap mencintai walau ditolak adalah hukum utama dari Manusia Tersalib itu…

Thích Nhất Hạnh – seorang biksu Budhhis dari Vietnam yang sangat terkenal – pernah berdialog tentang ajaran non-kekerasan dengan seorang veteran Amerika.

0

“Engkau seorang yang bodoh,” kata veteran perang tersebut.

“Bagaimana bila seseorang menghabisi semua penganut Buddhisme di seluruh dunia, dan engkau jadi satu-satunya orang Buddhis yang tersisa. Apakah engkau masih tak mau melawan dan membunuh orang yang mencoba melenyapkan Buddhisme itu? Bukankah engkau akan menyelamatkan ajaran Buddhisme dari kepunahan dengan membunuh orang itu?!” ujar si veteran dengan berapi-api.

Biksu bijak Thích Nhất Hạnh tersenyum dan menjawab: “Adalah lebih baik bagi orang itu untuk membunuhku. Bila ajaran Buddhisme dan Dharma itu mengandung kebenaran, maka ia tak akan hilang dari muka bumi. Kebenaran itu akan kembali muncul bagi para pencari kebenaran yang siap menemukannya…”

“Dengan membunuh, saya akan mengkhianati dan melalaikan ajaran yang justru saya pertahankan dengan setia. Jadi, lebih baik, saya yang dibunuh dan saya tetap setia pada semangat Dharma…” ujar Biksu Thích Nhất Hạnh masih dengan senyum yang tulus.

51j3CP0WYML._SX331_BO1,204,203,200_Tak mengapa bila umat Kristiani dianggap bodoh karena tak melawan dan tak membenci mereka yang menyegel, menolak, membubarkan dan menutup paksa Gereja dan ibadahnya. “Credo quia absurdum,” kata Tertullianus. “Saya percaya justru karena hal tersebut tak masuk akal,” ujar Bapa Gereja dari abad ke-3 ini. Kita adalah seorang Kristiani justru karenakasih melampaui hitung-hitungan akal budi dan karena ampun melewati batas tujuh kali tujuh puluh kali dalam sehari! Kasih dan ampun tak masuk di akal dunia! Dan karenanya, saya percaya!

Viralnya video dari Riau itu, di lain sisi, memunculkan juga ragam komentar yang mendukung dan menguatkan dari sahabat-sahabat berbeda iman. Indonesia – dengan segala keragamannya – tak mungkin bisa ditelan oleh buruk sangka dan kebencian. Jadi, alih-alih menjadi panas hati dan tergoda memaki, lihat saja bagaimana kebenaran selalu akan bersinar dan bekerja lewat banyak orang yang masih memiliki hati untuk mencintai.

keepo.me-14642117_997339187059103_1969202462015693509_n

Jalan gelap hukum dan politik akan menemukan suarnya bila kita mengasihi dan tetap mengasihi. Mengasihi bukan pilihan yang bodoh. Mengasihi juga bukan diam. Hati yang mengasihi dan memberkati adalah suara nurani yang paling ditakuti oleh para pembenci. Mengapa? Karena mereka tahu, sejatinya, jauh sebelum segala akidah dan dogma tercipta, manusia diciptakan untuk saling mengasihi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s