Kraków: Dari Kota Sang Naga hingga Kota Kerahiman Ilahi – Bagian 2

Kali ini saya mendapat kesempatan untuk berziarah ke Sanctuarium  (tempat suci) St. Yohanes Paulus II di kota Krakow yang indah. Bangunan suci ini sangat unik karena dibangun tanpa jendela, namun terlihat terang benderang karena pencahayaan yang baik dan karena pantulan sinar dari banyak mosaik suci yang dilapis emas. Sanctuarium ini sangat indah.

Mosaic St. Yohanes Paulus II yang digambarkan mengunjungi ragam tempat ziarah Bunda Maria mewakili cinta beliau yang amat besar sebagai Putra Maria. Saat saya duduk di kapel utama bawah tanahnya yang dingin dan sangat tenang, saya tidak hanya jatuh hati pada ruang oktagonal (bersudut delapan) ini saja, tapi juga saya kagum dengan St. Yohanes Paulus II ini.

St. Yohanes Paulus II sendiri mendapat tempat istimewa dalam hati penduduk Kraków. Ia – sebelum dipilih menjadi Paus – adalah Uskup Agung Kraków. Banyak orang meyakini bahwa St. Yohanes Paulus II adalah sosok “anak api” yang memang dipilih Tuhan sendiri untuk menggembalakan Gereja Semesta di tengah tantangan komunisme, kacau balaunya tatanan politik bangsa-bangsa, dan tidak jelasnya arah bangsa manusia di zaman modern.

john-paul-ii-profile-featured-w740x493

Bila Anda masih ingat dengan tegangan hebat antara dua negara adidaya  – Amerika Serikat dan Uni Soviet – di tengah abad 20, kita akan tahu betapa besar peran St. Yohanes Paulus II. Perang antara ideologi liberalisme dan komunisme ini mengancam keamanan dunia yang baru saja pulih dari Perang Dunia II. Banyak orang kuatir bahwa bencana nuklir akan terjadi bila kedua negara besar ini maju berperang. Dalam situasi inilah peran Paus sebagai “penjaga perdamaian bangsa-bangsa” sangat dibutuhkan pada zaman ini. Paus Yohanes Paulus II yang lahir di Polandia dengan nama kecil Karol Wojtyla tahu betul penderitaan akibat perang. Saat Perang Dunia II terjadi dan ketika Nazi Jerman menduduki Polandia, universitas tempat Wojtyla menimba ilmu ditutup. Alhasil, Wojtyla muda terpaksa bekerja di tambang dan kemudian di pabrik bahan kimia. Pada 1941, ibu, ayah, dan saudara laki-laki Wojtyla meninggal dunia dan membuatnya menjadi sebatang kara. Pengalaman kengerian perang membentuk St. Yohanes Paulus II sebagai sosok yang sangat gigih memperjuangkan perdamaian dunia. Ia tak ingin orang lain menderita karena hal serupa. Ia dikenal sebagai tokoh yang getol menyampaikan pesan-pesan damai dan dialog untuk negara-negara yang mengalami konflik dan kekerasan. Ketika Timur Tengah mengalami konflik dan peperangan, ia dengan lantang menyerukan dialog dan kasih. Ia menjadi tokoh perdamaian bagi negara-negara yang berkonflik.

FILE PHOTO POPE JOHN PAUL II

Upaya gigihnya di tengah dunia yang porak poranda oleh kebencian selalu dilandasi dengan kekuatan doa. Devosinya yang besar pada Bunda Maria tampak pada semboyan kepausannya: “Totus Tuus” – “Aku sepenuhnya milikmu, Maria!” St. Yohanes Paulus II menulis surat apostolik yang sangat indah tentang Bunda Maria Rosarium Virginis Mariae  atau “Rosario Perawan Maria.” Dalam surat apostolik inilah, St. Yohanes Paulus II menetapkan satu lagi peristiwa rosario baru untuk umat Katolik sedunia, yaitu: Peristiwa Terang atau Peristiwa Cahaya.

Bunda Maria mendapat tempat sangat penting dalam hidup St. Yohanes Paulus II. Bunda Maria menjadi satu-satunya ibu baginya setelah sang Mama meninggalkan dunia ini semasa perang. Di dalam Sanctuarium – tempat ziarah – untuk St. Yohanes Paulus II di kota Karkow, disimpan banyak memorabilia yang indah dan relikui suci milik beliau dan ada begitu banyak karya seni suci tentang Bunda Maria. Di salah satu sudut kapelnya, terdapat replika patung suci Bunda Maria Pelindung Kraków yang digambarkan sedang memegang tongkat ratu. Dikisahkan bahwa dalam satu kesempatan prosesi patung suci yang diikuti ribuan umat dan Uskup Karol Wotyla, tongkat ini terlepas sendiri dengan misterius dari tangan patung Bunda Maria Ratu dan tongkat ini jatuh di tangan Uskup Karol. Ribuan umat yang menyaksikan adegan ini baru akan mengerti maknanya saat beberapa bulan kemudian, tanpa disangka-sangka, Uskup mereka yang masih muda ini dipilih oleh Kolegium Kardinal untuk menjadi Gembala Agung, Pengganti Petrus.

Juga saat beliau ditembak oleh teroris bernama Mehmet Ali Agca, St. Yohanes Paulus II berdoa pada Bunda Maria dan meletakkan peluru yang hampir menembus jantungnya di mahkota Bunda Maria dari Fatima sebagai tanda syukur dan cinta.

Cinta beliau pada hidup doa juga ditopang oleh devosi agung Kerahiman Ilahi yang lahir di Polandia. Pada tahun 1993, pada hari Minggu Kerahiman Ilahi yang jatuh pada tanggal 18 April, Paus Yohanes Paulus II memaklumkan Sr Faustina Kowalska, biarawati sederhana dari Kongregasi Suster-suster Santa Perawan Maria Berbelas Kasih, sebagai beata. Tujuh tahun kemudian, juga pada hari Minggu Kerahiman Ilahi, pada tanggal 30 April 2000, Bapa Suci mengangkat Beata Faustina, yang disebutnya sebagai “Rasul Besar Kerahiman Ilahi di jaman kita”, menjadi seorang Santa dan masuk dalam himpunan para kudus. Semuanya itu, baik beatifikasi maupun kanonisasi St Faustina Kowalska, dilakukan Paus di Roma, bukan di Polandia, guna menggarisbawahi bahwa Kerahiman Ilahi diperuntukkan bagi seluruh dunia.

Hubungan antara St. Yohanes Paulus II dan St. Faustina Kowalska ini sangat unik. Dalam salah satu catatan harian penampakan pada St. Faustina Kowalska, disebutkan bahwa Tuhan Yesus mewahyukan pada Santa ini: “Aku akan membangkitkan anak api dari negaramu, dari Polandia…” Rupanya memang ‘anak api’ yang dimaksudkan adalah St. Yohanes Paulus II yang menyiapkan dunia bagi perdamaian dan bagi Kerahiman Ilahi.

divine_mercy2.jpg

Satu hal yang menarik saat kita berziarah di Sanctuarium Yohanes Paulus II di kota Krakow ini adalah begitu banyak relikui (peninggalan suci para Santo dan Santa) yang dipajang dalam tempat ini. Di sini juga terdapat kubur batu tempat dibaringkannya Kardinal Nagy SCJ – seorang kardinal dan sahabat dekat St. Yohanes Paulus II. Saya dengan bangga melihat huruf SCJ pada kuburnya: “Ah, beliau juga seorang Dehonian, sama sepertiku!” Ya, Kardinal Nagy bersahabat dengan St. Yohanes Paulus II dan mereka saat muda biasa bermain ski di Pengunungan Tatra dekat Zakopane. Rupanya saat beliau wafat-pun, ia tak ingin tinggal jauh dari kenangan indah dengan sahabatnya.

Selalu ada kesempatan untuk diam dan tunduk dalam doa lalu mengecup peninggalan suci para kudus: potongan tulang, potongan jubah, bercak darah, dan sekian banyak tanda duniawi lain yang ditinggalkan bagi kita. Saya sendiri berkesempatan untuk memegang langsung monstran khusus berisi darah St. Yohanes Paulus II (yang masih cair dan tidak mengering sampai hari ini!) yang disimpan di sakristi utama.

Saya begitu terharu saat memegang dan mengecup relikui suci ini. Dalam hati saya berdoa untuk kesetiaan dalam imamat suci dan hidup membiara para Dehonian. Semoga berkat doa St. Yohanes Paulus II, kami selalu ingat untuk hidup sebagai Putra Maria dan sebagai Rasul Kerahiman Ilahi…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s