Kraków: Dari Kota Sang Naga hingga Kota Kerahiman Ilahi – Bagian 1

Tumpukan salju dan tiupan angin beku menyambut langkahku di Bandara St. Yohanes Paulus II di kota Kraków. Sehari sebelum saya tiba di kota ini, badai salju hebat melanda dan membauat banyak orang memilih tinggal di dalam rumah. Kraków – yang terletak di bagian selatan Polandia – adalah sebuah kota tua yang sejarahnya dimulai sekitar abad keempat. Alkisah, di salah satu gua dalam Bukit Wawel, hiduplah seekor naga bernama Smok Wawelski.

Wawel
Patung Smok Wawelski di pinggir Sungai Vistula

Banyak ksatria berusaha mengalahkannya dengan pedang dan tombak, namun gagal dan gugur sia-sia. Sampai akhirnya seorang pembuat sepatu cerdik bernama Krakus mengumpan sang naga dengan daging domba yang diisi serbuk mesiu. Naga yang penuh semburan api dari perutnya tidak mengetahui hal ini. Saat domba berisi serbuk mesiu itu dimakan, api tak kunjung henti meletup dalam tubuh sang naga. Ia pun dikalahkan dengan mudah dan tulang-belulangnya – yang sebenarnya lebih mirip tulang gajah purba – dipajang di Katedral Wawel hingga hari ini.

Pusat Peradaban Eropa dan Katolisitas

Iman dan tradisi Katolik sendiri tidak terpisahkan dari kebudayaan Polandia – khususnya Kraków. Sejarah iman Katolik di kota ini dimulai pada Malam Paskah tahun 966 – saat penguasa awal Polandia, Miezko I, dibaptis di sebuah tempat suci antara Poznan dan Gniezno. Rakyat Polandia yang awalnya terdiri dari suku-suku pagan perlahan mulai mengenal Kristus lewat usaha evangelisasi yang didukung oleh sang penguasa Kristiani ini – dan lebih-lebih oleh istrinya, Dobrawa dari Bohemia serta putra mereka yang kelak menjadi Raja pertama Polandia, Raja Bolesław I Sang Pemberani.

IMG_2957
Di salah satu Plaza tua pusat kota Krakow ~ setiap beberapa ratus meter pasti terdapat banguan Gereja atau Kapel

 

Sejarah Katolisitas yang begitu kuat dan mendalam sejak sebelas abad yang silam membuat kota Kraków memiliki banyak sekali monumen, Gereja dan kapel dengan gaya baroque dan gothic yang sampai hari ini masih dirawat dengan baik. Kota ini menjadi kota budaya yang terkenal di Eropa, terutama sejak Raja Casimir III mendirikan Akademi Krakow, universitas kedua di Eropa Tengah setelah Universitas Praha. Nicolaus Copernicus yang terkenal dengan teori bumi-nya juga adalah lulusan dari akademi setempat di kota ini. Tidak terhitung pula para cendekia dari Italia, Jerman dan bagian Eropa yang lain, mengunjungi kota ini untuk mendalami dan bertukar ilmu, seni dan kebudayaan. Singkat cerita, kota yang terkenal dengan sungai Vistula ini sejak lama telah dikenal sebagai salah satu pusat peradaban Kristiani di Eropa.

Sekitar 95 persen dari populasi Kraków beriman Katolik; dan ini sebabnya Keuskupaan Agung Kraków memiliki sekitar 640 paroki – sebuah angka yang sangat mengagumkan. Yang lebih mengesankan lagi adalah partisipasi umat dalam kegiatan menggereja. Gambaran benua Eropa sebagai “benua tua yang telah mandul” seolah tak berlaku di kota ini dan di banyak kota lain di Polandia. Kraków – yang dikenal sebagai kota kampus dan kota orang muda – memanggil umatnya dengan paduan lonceng yang anggun dan megah, yang saling bergantian bersahutan pada hari Minggu. Di salah satu paroki tempat saya tinggal beberapa hari, misalnya, Ekaristi Minggu diadakan sebanyak delapan kali dalam satu hari. Gereja Paroki dipenuhi dengan banyak umat.

IMG_2413
Misa paling larut di Hari Minggu Malam pk. 20.00 diisi oleh banyak orang muda dari penjuru kota Krakow

Saya sendiri terkagum-kagum dengan salah satu misa orang muda di penghujung hari Minggu, pada pukul 19.30 di paroki St. Maria – salah satu Paroki Dehonian. Ratusan orang muda datang ke Gereja dan merayakan Ekaristi dengan khidmat. Musik liturgi dinyanyikan dengan iringan beberapa gitar dan koor terdiri dari mahasiwa-mahasiswi lokal. Banyak dari umat muda ini terpaksa berdiri hingga di batas pintu keluar karena tidak ada tempat duduk lagi yang tersedia.

 

Misa akhir hari ini sangat populer di kalangan orang muda Kraków. Rm. Szymon Bendowski SCJ yang tinggal di komunitas Domus Mater sedikit bercanda: “inilah panggilan terakhir untuk masuk surga”…

Sekilas Dehonian Polandia

Pada saat ini , ada sekitar 240-an Dehonian imam, frater dan bruder dalam Provinsi Polandia. Jumlah ini adalah salah satu yang terbesar dari seluruh entitas SCJ internasional; dan sekaligus menjadi yang terbesar di benua Eropa sendiri. Bila ditambahkan dengan para Dehonian yang menjadi misionaris di banyak negara dan yang memindahkan status keanggotaannya di negara tempat mereka melayani, saat ini ada lebih dari 300 Dehonian dari Polandia. Sebut saja, misalnya para misionaris legendaris yang melayani di SCJ Provinsi Indonesia: Rm. Andreas Lukasik SCJ, Rm. Henslok SCJ, Rm. Jozef Kurkowski SCJ dan Rm.Tadeus Laton SCJ.

Para Dehonian di Polandia menempuh pendidikan filsafat dan teologi mereka di Seminari Dehonian Stadniki, sebuah kota kecil pinggiran Kraków berjarak satu jam perjalanan. Rumah studi berusia nyaris 100 tahun ini memiliki lima lantai yang lengkap dengan fasilitas studi, perpustakaan modern, gereja paroki hingga pusat evangelisasi (website, radio dan toko online).

59775313_2238392036253125_5625584985055428608_n
Para romo dan frater SCJ di Stadniki

Saat ini, Seminari SCJ Stadniki memiliki 15 frater dan 1 bruder yang ada dalam masa formasio. Berbeda dengan Skolastikat SCJ Yogyakarta – yang mengirimkan para frater dan bruder ke Universitas Sanata Dharma – sebagian besar dosen yang mengampu pelajaran untuk para frater dan bruder adalah para Romo SCJ sendiri. Seminari ini memang didesain khusus untuk para Dehonian.

Salah satu yang mengagumkan saya di Seminari Stadniki ini – selain usia para frater-bruder yang masih di awal 20 tahun – adalah bahwa mereka menggunakan jubah setiap hari selama studi di kelas dan selama acara rohani sepanjang hari. Deretan orang muda berjubah hitam dengan collar putih di leher mereka dan tali cincture hitam bersimpul tiga menyentuh hati kecil saya: betapa identitas kebiaraan itu dibentuk dalam hal-hal kecil dan lahiriah. Tentu jubah itu bukan jaminan kesucian, namun setidaknya menjadi pengingat akan kaul-kaul kebiaraan yang mestinya serius dihidupi oleh para Dehonian.

Dengan penuh keceriaan, komunitas Seminari Stadniki ini menjumpai dan menyambut saya sebagai saudara Dehonian mereka dari negeri yang jauh: negeri tropis yang sering mereka dengar dari kisah-kisah para misionaris. Para frater dan bruder muda ini dengan penuh semangat menyapa dan memberi salam. Sebagian besar dari mereka dapat berbicara bahasa Inggris dengan fasih dan hal ini sangat memudahkan komunikasi kami. Budaya “duduk ngopi” bersama setelah makan siang dan makan malam – sebuah budaya yang sangat mirip dengan budaya komunitas SCJ Indonesia – sangat kuat berakar di komunitas Dehonian Polandia; termasuk di Seminari ini. Selama 20 hingga 30 menit setelah makan siang dan makan malam, anggota komunitas berjumpa, bercengkerama, bercerita dan sebagian bermain kartu sambil menimati pahitnya kopi mereka. Canda tawa mengisi perjumpaan mereka. Hal kecil ini mengingatkan saya akan semangat Dehonian: “Komunitas – bagi para Dehonian – bukanlah sarana, namun tujuan.” — bersambung di bagian 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s