Beato Juan María de la Cruz SCJ

phoca_thumb_l_030 d. mariano prroco

Juan Maria De La Cruz: Salah satu di antara begitu banyak kisah para kudus

Dataran tinggi yang mengelilingi kota Avila (Spanyol) terletak di antara blok-blok granit besar. Tiang-tiang kota tua itu muncul bagai tangan-tangan usang terbuka ke langit, ke  cakrawala yang ditempa oleh musim panas dan musim dingin yang ekstrim. Tanah Avila di negara Spanyol ini terkenal sebagai “tanah orang Kristiani” yang kuat dan taat. Keluarga-keluarga Katolik dengan banyak anak dan dengan latar belakang petani dan peternak telah hidup di sana selama berabad-abad. Dan beberapa di antara mereka menjadi hadiah dan saksi Allah bagi gerejaNya. Para kudus dari kota ini – St. Teresa dari Avila dan orangtuanya, serta beato Juan Maria de la Cruz – menjadi saksi Injil yang hidup!

Beato Juan Maria lahir di S. Esteban de los Patos (Ávila) pada tanggal 25 September 1891. Dia adalah putra pertama dari lima belas saudara dan setelah dibaptis dengan nama Mariano. Ia diberi nama yang sama dengan ayahnya – yang bersama istrinya, Dona Emerita – berusaha untuk memberi pendidikan Katolik yang kuat bagi anak-anak mereka.

Keluarga Mariano dikenal rajin mengurus gereja setempat. Sang ayah, pada sore hari, saat kembali dari tugas-tugas di ladang, memimpin novena dan rosario bagi umat sekitar karena mereka tidak memiliki imam di desa kecil itu. Inilah salah satu alasan kuat mengapa Mariano muda merasa terpanggil menjadi seorang imam.

Pastor Parokinya menuntun panggilan Mariano dengan memberinya pendidikan sastra. Kemudian Mariano muda ini melanjutkan pendidikan filsafat dan teologinya di Seminari Ávila. Teman-teman dan para pimpinan di Seminari terkesan dengan kepribadiannya. Mariano menjadi “teladan dalam segala hal karena kerendahan hatinya yang mendalam… ia dikenal sebagai seorang pria muda dengan bakat luar biasa”.

Ia tak sungkan berkorban, berdoa, dan bekerja keras – dan “dia sangat riang, bersenang-senang dengan semua orang tanpa pernah melanggar keharmonisan di antara teman-temannya. Itu adalah seorang Santo kecil… “

Gembala yang baik di tengah “domba yang miskin”

Pada tanggal 18 Maret 1916, Mariano ditahbiskan sebagai imam untuk Keuskupan Avila. Ia mendedikasikan beberapa tahun hidupnya untuk pelayanan parokial di desa-desa terpencil. Sampai saat ini, banyak penduduk menuturkan kenangan mereka tentang Pater Mariano: “Ia ringkih secara fisik, mudah sakit-sakitan, tetapi benar-benar menjadi utusan Allah di tengah-tengah orang-orang Kastilia yang miskin dan yang selalu menjadi korban atas kekacuan politik negeri Spanyol…”

Paroki-paroki Hernansancho, Villanueva de Gómez, San Juan de la Encinilla, Santo Tomé de Zabarcos, Sotillo de las Palomas adalah bagian kecil dari Umat Tuhan yang dipercayakan oleh Keuskupan Avila kepadanya. Semua Paroki itu miskin dan jarang penduduknya, tetapi tetap kaya dengan akar Kristani yang kuat.

Pada 23 Mei 1916, Romo Mariano pergi ke Paroki Hernansancho. Di sana dia mulai mengembangkan karya pastoral yang intens. Ia mengajak umat untuk ikut dalam doa sederhana dan adorasi Sakramen Mahakudus, matiraga dan pelayanan amal-kasih. Banyak Umat yang miskin tersentuh oleh ajakannya. Romo Mariano, sang imam desa ini, hidup dari apa yang diberikan oleh umat kepadanya. Kesaksian umatnya masih dicatat: “Romo Mariano tidak pernah minta apa-apa… bahkan uang pelayanan tidak ia tentukan. Umat menganggap hal ini aneh. Romo Mariano menjawab singkat: “(Bila imam meminta uang pelayanan), maka hal itu akan mengubah gereja menjadi cabang bank.”

Pintunya selalu terbuka, siang dan malam, bagi yang membutuhkan, orang sakit, yang membutuhkannya … bahkan walau ia sendiri sering sakit-sakitan…

 

Dari Mariano menjadi Juan Maria de la Cruz SCJ: Menjadi seorang DEHONIAN

Hatinya yang gelisah

Romo Mariano membagikan kegelisahan hatinya pada seorang sahabatnya:

’Saya bahagia menjadi imam diosesan, namun saya harus mengakui bahwa ini bukan panggilan utama saya. Saya merasa pelayanan paroki bukan jalanku. Di sisi lain saya sangat terganggu oleh kondisi kesehatanku. Jika bukan karena janji ketaatan, saya akan mengambil jalan lain: kerinduan batinku yang tak tertahankan adalah kehidupan membiara… “

Ya, Romo Mariano rupanya ingin menjadi seorang religius. Kisahnya mirip dengan kisah hidup Pater Leo Yohanes Dehon – Pendiri Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus.

Dalam pencarian batinnya, Romo Mariano pergi ke keuskupan Vitoria (1921-1922), di mana selama hampir setahun ia melayani sebagai kapelan untuk para Bruder Sekolah Kristen di Nanclares de Oca. Sementara tinggal di sana, dia meminta izin Uskupnya untuk dapat bergabung dengan Ordo Karmelit tak Berkasut (OCD). Romo Mariano memperoleh izin Uskupnya dan memulai masa Novisiat di Larrea (Vizcaya).

Namun untuk kesekian kalinya, kondisi kesehatannya memburuk. Mati raga yang sangat asketik dan sangat keras pada saat itu meruntuhkan daya fisiknya. Dia pun kembali ke Ávila. Selama dua tahun (1923-1924) ia bertanggung jawab atas paroki Santo Tomé de Zabarcos dan Sotillo de las Palomas. Namun demikian, Romo Mariano  tetap merindukan kehidupan yang intim dari kontemplatif.

Saat berkunjung ke Madrid, Romo Mariano sering ber-adorasi di gereja Paroki milik Imam-Imam Hati Kudus Yesus (SCJ). Pada suatu hari di tahun 1925, Romo Mariano bertemu di sana dengan Pater Guillermo Zicke SCJ; ia adalah misionaris Dehonian pertama yang memulai Provinsi Spanyol. Kedua imam ini menjadi teman dan Romo Mariano mengungkapkan kegelisahan hatinya dan kerinduannya untuk menjadi seorang religius.

Dari Mariano menjadi Juan Maria de la Cruz SCJ

Pater Zicke kemudian mengenalkannya pada Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus – yang pengikutnya dikenal sebagai para “Dehonian” – sesuai nama pendiri, Yohanes Leo Dehon. Romo Mariano pun terpikat dan kemudian memutuskan bergabung dalam Kongregasi yang masih baru berdiri ini. Ia memilih nama biara yang baru: Juan Maria de la Cruz SCJ; atau dalam Bahasa Indonesia: Yohanes Maria dari Salib SCJ. Inilah nama yang ia pilih karena cintanya pada Santa Perawan Maria dan pada Santo Yohanes dari Salib.

Pada 31 Oktober 1926, pada Hari Raya Kristus Raja, Pater Juan Maria – namanya yang baru – menyatakan kaul membiaranya dalam “semangat cinta, kurban dan pemulihan.”

Pater Leo Dehon yang mendirikan Kongregasi menyebut pengikutnya sebagai “Oblat (Kurban) Hati Kudus”. Siapa sangka, Pater Juan María de la Cruz akan merayakan panggilan pengurbanan ini sebagai martir yang merah darahnya kelak menyuburkan Gereja dan Kongregasi kita.

 

Langkahnya menuju persembahan kekal: Dehonian pemberani

Pater Juan Maria pada awalnya diutus untuk mencari para donatur dan mengusahkan derma bagi kelangsungan hidup para seminaris dan para frater SCJ di Spanyol. Situasi Eropa yang baru selesai dengan Perang Dunia I membuat banyak orang hidup dalam kemiskinan. Ia tak segan mengemis untuk masa depan Gereja dan Kongregasi. Pater Juan Maria berjalan dari rumah ke rumah, dari kota ke kota – dalam kondisi kesehatan yang tak selalu baik. Ia sendiri selalu berusaha membuat jadwal harian yang tetap agar selalu hidup sesuai dengan tuntutan Konstitusi SCJ; ia mencatat semua kegiatannya dalam jadwal harian agar hidup rohaninya tetap terjaga. Pater Juan Maria akan menunjukkan jadwal hariannya pada Superior komunitas dan meminta persetujuannya sebagai bentuk ketaatan total seorang biarawan Dehonian.

Pada tanggal 14 April 1931, bentuk negara Republik diproklamasikan di Kerajaan Spanyol. Semangat revolusi diteriakkan dan kekacauan politik terjadidi luar kendali. Semua ini memberi jalan kepada radikalisme ideologi sosialis-komunis. Gereja Katolik dianggap sebagai musuh utama rakyat karena dituduh telah memperbudak rakyat dengan ajaran-ajarannya. Propaganda ini makin kencang karena Gereja tidak memberikan perlawanan fisik. Kaum anarkis, sosialis, komunis, intelektual dan pemimpin antikler menyalahkan Gereja Katolik untuk semua kekacauan. Para pengusaha dan tentara, buruh dan tani, mengkambing-hitamkan Gereja untuk semua kemunduran yang terjadi di negaranya dan di Eropa. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Gereja dibakar dan dihancurkan: gedung gereja, seminari, pastoran, biara, pertapaan, barang-barang suci. Sebanyak 13 uskup, 4184 imam, 2365 bruder, 283 suster dan ribuan awam katolik dibunuh.

Impiannya menjadi martir

Dalam salah satu perjalanannya di tahun 1936, Pater Juan Maria berkesempatan mengunjungi ibunya. Salah satu adik perempuannya ingat bahwa: “Suatu kali, di rumah saya, ia berbicara dengan saya, dengan ibu dan suami saya, dia meramalkan revolusi berikutnya dan mewujudkan keinginan untuk mati sebagai martir. Saya berkata kepada suami saya: ‘Lihat, Victor, berbahagialah ia yang memiliki keberuntungan untuk menumpahkan darah bagi Tuhan kita!’”

Pada akhir Juli 1936, Pater Juan Maria dan para Dehonian lainnya diperintahkan oleh Pater Superior untuk pergi dari komunitas demi menyelamatkan diri dari serbuan milisi. Ia memutuskan pergi ke Valencia – salah satu kota yang paling berbahaya saat itu. Pater Juan Maria tidak banyak dikenal di kota itu sehingga ia berpikir mungkin dengan menyamar, ia akan lolos dari tentara dan milisi.

JuanMariaDeLaCruz

Ia melepaskan jubahnya dan mengenakan jaket sederhana layaknya seorang petani. Namun dalam pelariannya, ia melihat bagaimana Gereja St. Jeunes dicemari, diporakporandakan, dan para perusuh membakar benda-benda suci yang ada di dalamnya. Hatinya marah dan panas. Ia tidak tega melihat keadaan seperti itu. Ia pun protes dengan berteriak lantang kepada para perusuh:

“Sungguh mengerikan! Sungguh sebuah kejahatan! Sungguh penistaan!”

Salah seorang perusuh mendengarnya dan segera menuduhnya dengan mengatakan: “Kamu juga seorang Katolik! Kamu pembangkang Republik!”

Mendengar itu, Pater Juan Maria dengan berani menyatakan identitasnya: “Saya adalah seorang imam !”

Ia pun ditangkap dan dijebloskan di penjara Valensia tanpa proses pengadilan. Alasannya? Semata karena ia adalah seorang Imam Katolik. Ia dijebloskan dalam sel nomor 476 bersama ribuan imam, religius, dan awam yang ditangkap dalam masa proak poranda itu.

Keberaniannya dalam penjara

Kendati dalam penjara, Pater Juan Maria tetap setia pada identitasnya sebagai imam Dehonian. Ia tetap setia pada kebiasaan rohaninya. Ia tetap membuat jadwal rutin hidupnya. Di dalam selnya ia tetap berdoa. Bersama tahanan lain ia berdoa rosario dan doa-doa lainnya serta bacaan rohani. Ia juga tetap memberikan penghiburan dan semangat pada tahanan lain dalam menghadapi penderitaan mereka.

Kesetiaan sebagai imam dan biarawan Dehonian terus ia jalankan.

Para tahanan sangat sering melihatnya berlutut dalam doa di tengah-tengah serambi penjara. Rekan imam yang lain memperingatkannya agar tidak berdoa di ruang terbuka itu. Pater Juan Maria menjawab berani: “Kita tak perlu takut pada petugas penjara, kini kita harus  lebih beriman pada Kristus saja … kita harus meniru para martir pada abad-abad pertama yang berdoa dan berlutut serta bersiap untuk mati sebagai martir…”

Kendati dalam situasi sulit dan penuh tekanan, ia tetap setia pada imamat dan Gereja sampai saat akhir hidupnya. Pada malam hari 23 Agustus 1936, Pater Juan Maria bersama sembilan rekannya yang lain dibawa keluar penjara. Mereka diseret ke sebuah ladang di La Coma untuk disiksa dan kemudian ditembak mati. Jasad mereka dibuang ke jalan raya di Madrid – kemudian dikuburkan di tanah antah berantah.

Kesetiaannya sampai akhir hayat

Para saudara Dehonian lainnya berusaha mencari jenazah para martir ini. Dengan susah payah, mereka akhirnya menemukan jasad orang suci dari Avila ini. Jenazah martir Dehonian ini ditemukan bersama salib kaulnya, skapulir lambang Kongregasi SCJ yang telah berlubang ditembus dua peluru, sebuah buku agenda penuh noda darah berisi jadwal hariannya yang juga koyak karena peluru. Semua relik suci ini menjadi tanda bahwa ia setia mengurbankan dirinya sebagai Imam Hati Yesus yang pemberani, sebagai seorang Dehonian!

Pada 11 Maret 2001, St. Yohanes Paulus II memberikan anugerah gelar “Yang Berbahagia” atau “Beato” bagi Pater Juan María de la Cruz  bersama 232 martir Spanyol lainnya. Peringatan dan penghormatan pada Beato Juan María de la Cruz SCJ ditetapkan pada tanggal 22 September di setiap tahun.

Marilah berdoa:

“Allah yang Maha Kuasa dan Kekal, Engkau telah memberikan benih-benih kehidupan baru kepada GerejaMu melalui imam dan martir mulia, Beato Juan María de la Cruz SCJ. Kami mohon, berikanlah kami rahmat untuk meniru teladannya dengan dedikasi penuh bakti pada kehendakMu, dengan keberanian untuk menyatakan cintaMu sebagai pelayan pendamaian. Melalui Yesus Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.”

Amin.

Rm. Albertus Joni SCJ

Hales Corners, 21 September 2018

Disadur dari P. Evaristo Martínez de Alegría, SCJ

“Beato Padre Juan María de la Cruz, SCJ” –

http://webcatolicodejavier.org/JuanMariaDeLaCruz.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s