Superman di Balik Altar: Mengapa Saya Menjadi Imam-Religius untuk Hati Yesus

Saat saya kecil, salah satu super-hero yang lekat dalam hidup saya adalah Superman. Saya ingat saat Mama membeli baju Superman lengkap dengan mantel merah menyala untukku yang berusia 5 tahun. Saya ingin menjadi Superman yang kuat, yang bisa terbang dan yang selalu menolong orang lain.

Kisah panggilanku: “Romo Koko”

Saat saya berusia 8 tahun, saya perlahan mengerti bahwa Superman adalah tokoh kartun dan bukan sosok nyata. Saya sedikit kecewa dengan kenyataan bahwa Superman adalah tokoh fiksi (hahaha… mungkin teman-teman juga pernah mengalami rasa kecewa yang sama).

Namun, di usia yang sama, saya mulai sadar bahwa ada Superman lain dengan mantel warna-warni yang indah: para Imam di balik altar. Mereka memakai jubah bersayap yang sangat mirip dengan sayap Superman – walau celana dalamnya para Romo tidak kelihatan di luar seperti Superman hahahaha!

 

O gosh, bagi saya yang berusia 9 tahun, the priests do look like a Superman!

And I wannabe one of them!

 

“Tragedi Wafer Sakti”

Saya juga ingat bahwa saya ingin sekali ikut mencicipi ‘wafer’ tipis yang diangkat oleh para imam dan yang selalu dibagikan ke semua umat. Saya belum menerima Komuni Pertama karena masih terlalu muda. Suatu Minggu, saya mencoba merengek meminta Hosti Suci pada Mama saya – dan saya nekat berusaha merebutnya dari tangan Mama. Saya pikir: “Wafer sakti itulah yang dapat membuat saya cepat besar dan segera menjadi seperti sang Romo!”

 

“Plak!!!”

Tangan Mama tak segan mendarat di ubun-ubunku!

Mata mamaku mendelik murka – bayangkanlah sejenak betapa sulitnya seorang Mama Tionghoa berusaha melotot demi menampakkan ekspresi geramnya, hahahaha…

Saya ingat saat itu saya menangis di Gereja.

Saat itu saya berdoa di sela isak-tangisku: “Tunggu aja, saat saya besar nanti, Tuhan… saya akan sekaligus merebut gelas emas yang ada di meja itu dan saya akan makan wafer sakti yang paling besar!”

 

Saya tak pernah menyangka bahwa Tuhan begitu serius mendengarkan doa seorang anak kecil yang menangis di dalam rumahNya!

 

Sejak “Tragedi Wafer Sakti” itu, saya makin serius untuk dekat dengan meja altar. Di usia 10 tahun, saya mulai mengikuti pelayanan Putra Altar (PA) di Paroki St. Theresia – Jambi. Kegiatan PA ini melelahkan karena usai jam sekolah, saya akan berlatih di Gereja yang jaraknya 15 menit berjalan kaki dari SD-ku. Pada saat bertugas sebagai Putra Altar, biasanya saya akan datang lebih pagi dari teman-teman. Tujuannya? Supaya saya dapat masuk ke lemari di mana jubah dan kasula para Romo digantungkan. Saya akan masuk diam-diam ke lemari itu dan kemudian menyelinap di balik jubah mereka. Hahaha… saya sering tertawa sendiri kalau mengingat kejadian ini. Saya benar-benar ingin menjadi seorang imam hanya karena kasula mereka mirip jubah Superman! Hahaha…

 

Saya menjadi makin tertarik membaca banyak hal tentang iman Katolik – dan saya menjadi sangat kagum dengan kisah Santo dan Santa yang luar biasa.

 

Ada Santo Fransiskus Assisi yang bisa berbicara dengan burung dan serigala. Ada pula Santa Bernadette Soubirous yang menerima penampakan Bunda Maria di Lourdes dan yang jasadnya masih utuh sampai hari ini. Ada juga Santo Dominikus yang lucu dan ‘agak tengil’ (Santo ini ngambek dengan umat yang tidak mau mendengarkan kotbahnya dan alih-alih memanggil ikan-ikan di tepi danau untuk mendengarkan kotbahnya, hahaha…)!

 

Saya juga ingin menjadi orang suci seperti mereka semua!

Hal inilah yang makin memantapkan saya untuk menjadi seorang Imam – seorang Romo.

 

Nyaris Vegetarian: Menuju Seminari Menengah

Singkat cerita, saat saya berusia 14 tahun dan mendekati kelulusan Sekolah Menengah Pertama, saya memutuskan untuk masuk ke Seminari Menengah St. Paulus Palembang.

 

“Apa? Seminari? Apa itu?” tanya ayahku.

Papa saya adalah seorang pengusaha kecil – dengan toko kelontong sederhana di depan rumah. Ia adalah seorang Buddhist yang mixed dengan Taoisme – walaupun ia jarang sekali berdoa di Vihara atau Kelenteng apapun. Papa saat itu sama sekali tidak kenal dengan urusan Gereja – apalagi iman Katolik.

 

Sebagai seorang pria Tiongha sederhana, Papa saya selalu memasang target standar: anak laki-laki pertamanya – yaitu: saya – harus lulus dari sekolah terbaik, dengan nilai terbaik, dan segera membuka bisnis yang sukses, menikah dan segera memberikan cucu tampan yang dapat meneruskan marga atau nama keluarga.

 

Saat Papa tahu bahwa Seminari adalah tempat pendidikan calon imam yang mensyaratkan para siswanya “tidak boleh mengenal cinta duniawi” (hahaha… I sound so lebay, I know!), ia-pun tidak mengizinkan saya berangkat.

 

“Opa-mu (Kakek-mu) bisa bangun dari kuburnya kalau tahu bahwa cucu pertamanya tidak mau menikah!” ujar Papaku geram. Segala cara saya lalui agar mendapat restu dari Papa. Papa dan Mama saya pernah bertengkar hebat karena soal ini. Papa curiga bahwa Mama-lah yang memaksa saya menjadi seorang Romo. Hahaha… Perang dingin antara Papa dan Mama tidak terselesaikan dengan baik hingga saya memutuskan untuk tetap berangkat ke Seminari Menengah walau hanya dengan restu dari Mama.

 

Papa sama sekali tidak mau melihat wajah saya yang penuh jerawat saat saya melangkah keluar dari rumah menuju Seminari. Apa daya? Jubah superman di balik altar itu begitu menggodaku.

 

Tanpa dukungan Papa, masa-masa Seminari terasa begitu berat pada awalnya. Saya harus tidur di bed yang keras, bangun jam 4.30 pagi (jauh lebih pagi dari ayam jantan), mulai mencuci baju sendiri (goodbye to Mbak Iyem yang selalu setia menolong keluarga kami). Yang paling menyiksaku saat itu adalah menu makanan yang polanya selalu berulang antara tempe, kubis, terong dan kangkung. Apapun variasinya, menu kami selalu terdiri dari empat bahan ini. Hahaha…

 

Saya ingat bahwa hanya seminggu sekali para seminaris mendapat menu daging – kecuali bila ulat-ulat di sayur mayur (dan sesekali ‘kecoak’ yang nyasar di dapur) kami dihitung juga sebagai sumber protein hewani. Hahahaha … Saya sangat rindu dengan masakan Mama.

 

Selama empat tahun di Seminari Menengah itu, saya belajar menjadi mandiri – belajar mengenal banyak budaya berbeda. Saya belajar untuk menggunakan garpu dengan baik (tidak hanya sumpit, hahaha), belajar bahasa Latin dengan serius dan berdoa dengan lebih teratur. Lebih dari semua itu, saya juga belajar menghadapi pengalaman jatuh cinta dengan siswi di SMA sebelah. Saya belajar dari pengalaman ‘cinta monyet’ yang membuat saya dan ‘si dia’ serasa seperti Dilan dan Milea – atau seperti Rangga dan Cinta. Saya ingat dengan surat cinta rahasia kami yang diletakkan di balik buku Puji Syukur di Kapel Seminari. Hahaha, untungnya saya lebih gentleman dan tidak menuliskan surat cinta saya dengan sandi morse!

Usia 21 tahun! 🙂

Menjadi dehonian

Setelah pendidikan di Seminari Menengah St. Paulus saya selesaikan, saya meneruskan panggilan dengan menjadi seorang biarawan SCJ.

 

SCJ? Makanan jenis apa itu? Sama dengan RSJ (Rumah Sakit Jiwa)? Hahaha

 

Kongregasi atau ‘ordo’ saya memang seringkali ‘diplesetkan’ menjadi “Serikat Cowok Jomblo” atau “Serikat Cowok Jail” – hahaha, walaupun ada benarnya, SCJ ini adalah sebuah singkatan dari bahasa Latin: “Sacerdotes Cordis Jesu.” Terjemahannya: “Imam-Imam Hati Kudus Yesus.” Anggota SCJ ini tersebar di lebih dari 50 negara seluruh dunia dan kami biasanya dikenal dengan sebutan “Dehonian.” Nama ini diambil dari pendiri SCJ – Ven. Yohanes Leo Dehon – yang lahir dan tumbuh di Perancis.

Para Romo dan frater SCJ di Yogyakarta

Bagi saya, para Dehonian adalah sebuah keluarga besar di mana para anggotanya belajar memberi cinta dan perhatian satu sama lain.

 

Satu hal lain yang menarik hatinya adalah bahwa Dehonian benar-benar berani melayani di pedalaman yang jauh, terpencil dan banyak tantangan.

 

Dua alasan inilah yang makin meyakinkan saya untuk menjadi seorang SCJ alias Dehonian. Pada Agustus 2006, saya mengikarkan kaul atau janji setia saya untuk menjadi seorang biarawan. Dengan jubah putih, saya bertiarap di depan altar mengikatkan diri pada janji miskin, murni dan taat.

 

Anugerah besar lain yang saya dapatkan pada tahun itu adalah bahwa Papa saya minta dibaptis menjadi Katolik saat melihat saya kembali ke rumah dengan jubah putih. Ia akhirnya mengizinkan saya menjadi seorang imam-biarawan. Papa yang sudah paruh baya seringkali kesulitan saat berusaha menghapalkan doa-doa dasar iman Katolik.

 

“Bapa kami yang ada di Surga, terpujilah Engkau di antara wanita,” Papa saya seringkali salah mencampurkan doa Bapa Kami dan Salam Maria, hahaha…

 

Frater muda yang usil

 

Balutan jubah putih itu tidak benar-benar mengubah saya menjadi seorang ‘santo’, hahaha. Saya dikenal sebagai frater yang usil dan tidak benar-benar bisa serius. Saya ingat bagaimana saya mengerjai salah satu frater lain dengan memasukkan panci ke dalam tas kuliahnya. Saya juga beberapa kali mengambil dupa yang sering dipakai di kapel untuk misa dan saya bakar dupa dengan aroma mistis itu di dalam kamar salah satu frater yang berulang tahun – lengkap dengan aneka kembang. Hahaha… dia mengaku sulit tidur malam itu. Akibatnya, beberapa kali saya juga menjadi korban keusilan teman-teman satu panggilan.

Saat masih frater muda 🙂

Pernah di suatu kali, sepeda saya digotong ke dalam kamar tidur dan didekorasi cantik. Ada juga teman frater yang mengiris biji petai lalu menyembunyikannya di bawah bed saya – sehingga kamar saya selama tiga hari beraroma sangat dahsyat. Hahaha…

 

Hal-hal kecil itu masih berkesan.

 

Saya juga seringkali bosan dan mengantuk di kelas-kelas Filsafat dan Teologi. Saya selalu duduk di bangku paling belakang supaya leluasa dari mata elang para dosen. Sayangnya, postur badan saya yang tinggi menyulitkan saya untuk lolos dari tatapan para dosen. Bila ada teman-teman yang masih mahasiswa, saya sarankan kalian membawa cabai rawit bila tidak ingin terlalu mengantuk di kelas, hahaha. Saat mengantuk, kunyah satu-satu cabai rawit itu dan rasakan sensasi pedasnya…satukan dengan rasa jengkel kalian terhadap dosen yang sedang mengajar. Biasanya, adrenalin kita akan terpacu dan rasa kantuk akan hilang… hahahaha.

 

Di Fakultas Teologi Wedhabakti Yogyakarta, saya dan teman-teman sepanggilan menempuh studi sebagai biarawan muda. Dari tahun 2006-2014 saya menempuh pendidikan S1 dan S2 di Kota Pelajar itu. Banyak sekali kenangan di kota yang sarat budaya ini.

 

Tahbisan suci

Saat semua pendidikan dasar dilalui, tibalah juga saat di mana saya akan menerima tahbisan diakonat dan imamat. I felt it’s getting real! Saya merasa ajaib sekali bahwa Tuhan memampukan saya melewati semua proses yang tidak mudah, jatuh dan bangun… dan tiba-tiba saya tiba di salah satu momen penting: tahbisan.

Di malam sebelum saya menerima tahbisan imamat, saya sulit sekali tidur – bahkan saya tidak tidur semalam suntuk.

 

Apakah saya cukup layak untuk membawa Yesus pada sekian banyak orang?

Apakah saya mampu bertahan dalam janji biara dan janji imamat saya?

Apakah saya sungguh dipakai Tuhan?

Bagaimana bila saya bergumul kembali dengan cinta-cinta duniawi?

 

Banyak sekali pertanyaan dalam benak saya!

Namun, di penghujung malam – ketika matahari mulai muncul dan hari tahbisan tiba, saya ingat kembali impianku memakai jubah Superman itu. Ada suara yang menenangkan batinku; yang mengingatkanku bahwa Allah tidak memanggil orang-orang yang sempurna untuk jadi Superman. Allah memanggil orang-orang yang lemah dan berdosa; yang berkhianat dan yang cacat untuk mengikuti Dia!

 

Dan itu sebabnya, saya dan rekan se-angkatan tahbisan memilih motto yang sangat indah: “Quis separabit a caritate Christi?” – “Siapa yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus!” (Roma 8:38).

19 Agustus 2014 – Tahbisan Imamat diterima dari Mgr. Aloysius Sudarso SCJ

Pada 19 Agustus 2014, Mgr. Aloysius Sudarso SCJ – Uskup Agung Palembang – mengurapi kedua tanganku dengan minyak Krisma suci dan beliau menumpangkan tangannya di atas kepalaku. Saat saya ditahbiskan menjadi Imam Hati Yesus, semua pengalaman masa kecilku seolah diputar kembali di hadapanku: saya yang ditempeleng Mama dan menangis penuh dendam karena ingin merebut ‘wafer sakti’, saya yang bersembunyi di balik lemari Sakristi, saya yang bermimpi jadi Superman… dan saya begitu terharu menyadari bahwa Tuhan Yesus berjalan bersama saya sejak masa kecilku.

 

Ia ada di sana saat saya berbisik dalam doa padaNya: “Aku ingin jadi imam-Mu!”

 

IA ada dan mendengarkanku. IA tidak menyerah dengan doaku pada saat saya menyerah dengan cinta ala Dilan dan Milea. IA tetap di sampingku saat saya bergulat dengan kesepian dan rasa suntuk di musim-musim ujian akhir. IA ada di sana bagiku saat keluargaku bergumul dengan banyak kesulitan. IA di sana… setia berjalan bersamaku.

 

Pada saat tanganku diurapi minyak suci, saya berjanji pula untuk setia sekuat tenagaku agar tiap orang yang berjumpa denganku juga akan berjumpa denganNya! Lalu saya ingat dengan kata-kata kuat dari St. Yohanes Paulus II: “Dunia memandang para imam karena para imam selalu melihat Yesus dalam dirinya! Tidak seorangpun melihat Yesus; tetapi tiap iorang dapat melihat para imam – dan melalui para imam inilah dunia berharap dapat melihat secercah gambaran Tuhan.”

Mama: wanita paling luar biasa dalam hidupku!

 

Saya bahagia! Saya sama sekali tidak pernah menyesal menjadi imam dan biarawan Dehonian! Saya – dalam makna yang lebih luas – juga kini menjadi ‘Superman’ istimewa bagi Hati Yesus, bagi Gereja dan dunia.

Doakan saya, doakan para imam dan biarawan!

Selamat Hari untuk Panggilan!

 

Sacred Heart Seminary, Hales Corners USA – 22 April 2018

Rm. Albertus Joni SCJ

romokoko.org – IG: romo_koko

Advertisements

6 thoughts on “Superman di Balik Altar: Mengapa Saya Menjadi Imam-Religius untuk Hati Yesus

      1. Jangan Mo, nanti mematikan pasaran Romo Koko loh… (to tell the truth, semula saya kira warungnya Rm. Koko majalah Hidup loh, hahaha)

  1. rasa haru begitu membuncah saat membaca cerita romo.tanpa terasa ada yg menutupi pandangan ku.semoga lebih banyak lagi supermen2 lain bermunculan .Tetaplah kuat dlm panggilan .doa kami selalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s