Singa Tanpa Auman

www.romokoko.org

Alkisah, hiduplah seekor singa yang tidak bisa mengaum. Di balik penampilannya yang gagah dan kokoh, sang raja padang rumput itu tidak mampu menggetarkan lawannya dengan suara yang dalam. Si Singa sejak masa kecilnya telah menemukan bahwa ia tidak bisa mengaum – namun tidak ada hewan lain di sekitarnya yang mengetahui hal ini. Si Singa tumbuh besar dengan suara yang lembut dan karenanya tidak ada hewan yang takut bermain di sekitar si Singa besar ini. Ia justru mendapatkan rasa hormat dari hewan lain karena si Singa selalu bertutur kata sopan dan lebih memilih untuk mendengarkan keluhan sahabat-sahabatnya.

Scott Randal

Sampai di suatu hari, seekor babi hutan muda membuat onar seluruh warga padang rumput. Babi hutan ini berani melanggar batas dengan merusak ladang manusia dan menyerang anak-anak hewan lain. Semua hewan datang mengeluh pada si Singa yang terkenal bijak dan lembut itu. Akhirnya si babi muda digiring menghadap si Singa dan semua hewan lain menunggu nasihat apa yang akan dikatakan oleh Raja mereka.

Mulailah sang Singa menasihati si babi muda pembuat masalah itu. Alih-alih menyesal, si babi menertawakan si Singa yang ‘terlalu lembut’. Merasa terhina, si Singa murka dan nalurinya untuk mengaum berkobar-kobar… namun ia seketika sadar dirinya tidak bisa mengaum.

Merasa malu dan terhina, si Singa diam-diam menciptakan sebuah mesin besar yang mampu mengeluarkan suara auman. Dan tepat saat mesin itu selesai dikerjakan, si babi hutan datang kembali untuk menghinanya. Si Singa memasang wajah sangat menakutkan, memperlihatkan deretan taringnya dan diam-diam memencet tombol mesin suara auman.

“GRRRRRRRRROOOOAAAAARRRRRR… AAAAUUUMMM…”

Suara auman itu bergema sampai ke ujung sungai. Si Babi terpana ketakutan. Semua hewan terkejut dan segera bersembunyi. Si Singa merasa sangat bangga karena akhirnya ia mengaum dan membuat semua hewan takut padanya. Namun rasa bangga itu tidak bertahan lama karena pada minggu-minggu selanjutnya, sang Singa merasa kesepian. Semua hewan selalu melarikan diri darinya karena takut. Ia sedih karena mesin auman itu mengubah cara pandang para sahabatnya: ia adalah singa yang kejam dan menakutkan.

Sahabatku yang terkasih,
Saya dan engkau seringkali berjumpa dengan Singa ini di dunia media sosial: di facebook, di twitter, di instagram dan di banyak platform online lainnya.

Saya terkaget-kaget dengan beberapa sahabat di dunia maya yang tiba-tiba mengunggah kata-kata kasar dan makian penuh kebencian dalam statusnya. Ada pula teman lain yang menuliskan penghakimannya secara publik dan terbuka di sana: “Ah, temanku Mr. X dan Mrs. Z ternyata orang bebal dan pembohong. Padahal mereka rajin berdoa dan bersedekah. Tetapi ternyata mereka adalah orang munafik! Aku tahu siapa kalian sebenarnya…” Tak sedikit pula kita jumpai orang yang panjang lebar mengisahkan persoalan pribadinya di status facebook-nya hingga kita merasa dia adalah orang paling sengsara di muka bumi ini. Apa pula sahabat yang memberi respons lucu namun hampir terkesan seperti body-shaming dan bully: “Hai, Ndut, apa kabar?” Dan “Halo, Item, tambah kucel aja…”

Rupanya, sahabatku, kita dapat dengan mudah memencet tombol mesin auman kita!
Dalam sekejap, saat jari dan jempolmu melemparkan ‘auman’ negatif di mesin media sosial, kita mampu berubah dari singa yang bijak dan lembut menjadi singa yang penuh negativitas, kemarahan dan penghakiman yang menakutkan. Kita bisa ikut berkata-buruk tentang sesama dan ikut menghakimi tanpa mengecek dulu fakta dan proporsi kebenaran. Dan dengan demikian, kita menggaungkan auman yang sejatinya bukan diri kita!

Maka, sahabatku terkasih,
mari kita menjadi bijaksana, arif dan berwelas-asih dalam menggunakan media-sosial. Bila ada berita palsu yang memfitnah, bijaksanalah dalam mendengarkan kebenaran dan jangan mudah terpancing emosi negatif. Bila ada kabar buruk yang menyakitkan dan menyedihkan, ariflah dalam memberi klarifikasi dan tidak perlu kau bagikan berulang-kali emosi negatifmu karena wilayah privat dan wilayah publik harusnya dapat kau bedakan dengan bijaksana. Bila ada ujaran yang mengundang kebencian, permusuhan dan pertentangan di antara kita, ber-welas-asih-lah! Sadarilah bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, pun tidak juga kita… Kata-kata yang mengandung kebencian, amarah, permusuhan harusnya dibalas dengan pengertian dan belas-kasihan.

Maka, sahabatku… sekali lagi, mari kita mengatur kata-kata dan emosi kita dengan nalar yang sehat di media sosial! Kita tidak ingin menjadi singa yang tiba-tiba mengaum dan kehilangan kehormatan dan sahabat-sahabatnya…

Photo credit: Scott Randall

Advertisements

2 thoughts on “Singa Tanpa Auman

  1. Halo Romo Joni, selamat pagi dari Indonesia! Salam kenal, aku Agatha.

    Hari ini bahagia campur kaget karena bisa ketemu video Romo di YouTube mengenai api penyucian. Akhir-akhir ini aku sedang merasa butuh mempelajari topik itu.

    Pembahasannya sangat menarik dan mudah dipahami. Terima kasih ya, Romo! However, hal yang bikin aku kaget adalah, karena sepertinya aku pernah ketemu Romo di SCJ Jogja sekitar 10 tahun lalu. Saat itu aku masih SD, dan sedang ikut ziarek bareng teman-teman misdinar St. Bonaventura, Pulomas, Jakarta. Kalau dilihat dari senyum Romo sih, sepertinya bener orang yang sama. Soalnya khas senyumnya.

    Duh inget banget waktu itu temen-temen perempuan lainnya pada ngerumunin si Koko Frater satu ini hahaha! Bahkan pada minta no. HP / alamat e-mail. Akhirnya Romo nyatet alamat e-mail di balik nametag-ku karena aku satu-satunya yang punya pulpen. Kalo gasalah alamat e-mail Romo tuh koko_scj. “Soalnya di sini kan cuma ada satu koko,” begitu kata Romo.

    Semoga aku gak salah orang nih, Mo. Kalau Koko yang waktu itu beneran Romo, rasanya senang sekali karena Tuhan mempertemukan kita di kapasitas yang sudah lebih besar, dengan cara tak terduga. Yang dulu masih Frater sekarang sudah jadi Romo, dan yang dulu masih bocah SD sekarang sudah jadi orang dewasa yang sedang belajar lebih lanjut tentang iman Katolik.

    Kalaupun salah orang, aku tetep mau bilang terima kasih atas sharing pelajaran iman Katoliknya, dan sukses untuk setiap perjalanan Romo. Senang dengan pembawaan Romo saat sharing. Selalu penuh kasih (terlihat dari ketawanya yang lepas), dan menempatkan audiens di posisi yang setara.

    Keep going, God bless you, Romo Joni!

    -Agatha-

    1. Hi Agatha,
      it’s an impressive story that we can meet again after so many years!
      I am happy for you and I am proud of you!
      It is really me whom you met during the visitation to Yogyakarta.
      The grace of God enables us to meet and to be friends of prayer.
      Hahaha… I hope everything runs super well for you and keep in touch!
      Thank you for sharing the story of our first meeting!

      Jesus loves you and loves us all!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s