“Senyum seorang Imam…”

#SoulBites 2.0 | 19112015

Saat saya berjumpa dengan romo Sepiono SCJ, hal yang paling kuat membekas adalah senyum tulusnya. Ia adalah romo dengan senyum yang meyakinkan kita bahwa dunia ini masih layak ditempati…

image

Padahal, sahabatku, paroki tempatnya bertugas terletak lebih jauh dari tempatku berkarya. Medan pelayanannya berat…ah ya, per mobilnya baru saja patah karena jalan yang terlampau buruk untuk dilalui… Di pedalaman Sumatera ini, saya belajar banyak dari sosok imam SCJ yang sederhana ini.

“Jo, Jo… semua dinikmati saja… inilah tugas kita, pelayanan kita…” ujarnya. Alih-alih mengeluh, ia memilih menghadirkan senyuman Allah saat berjumpa dengan umat; padahal saya tahu benar betapa letih tubuhnya setelah melayani Ekaristi di banyak stasi terpencil. Di salah satu stasi, bahkan beberapa kali kapal kecilnya menabrak buaya muara yang sedang menyeberang… Mungkin juga ia takut, namun toh imam satu ini tetap juga pergi dengan tas misa yang telah butut… Ia memilih tetap tersenyum!

Dan saya bangga dengan rekan imamku ini… Kami, para SCJ, Imam-Imam Hati Yesus tidak pertama dikenal dari universitas atau sekolah, atau dari karya parokial, atau dari karya sosial… Kami memilih berusaha dikenal dari pelayanan sederhana yang dikerjakan dengan kasih yang tulus dan senyum gembira yang lebar…

Saya tahu, sahabatku, banyak dari Anda yang pernah merasa kecewa dengan kami, para imam… Namun, berilah kesempatan untuk belajar dari kegagalan kami juga. Di atas semua kejatuhan dalam hidup ini, saya dan para imam yang lain, tetap berusaha untuk setia bagi Gereja serta tersenyum bagi Anda…Berjalanlah bersama kami, para umat Allah…menuju Bapa kita yang satu dan sama!

Ah ya, jangan takut mengingatkan kami untuk banyak tersenyum…di Surga, tak ada tempat untuk yang bermuram durja! Hahahaha + p. Albertus Joni SCJ šŸ˜Š

2 pemikiran pada ““Senyum seorang Imam…”

  1. belajar tersenyum..
    ya. itu adalah obat letih dan penat yang ku rasakan ketika ikut pelayanan bersama pastur/romo di paroki ku..semuanya hilang ketika aku landaskan niat untuk sebuah pelayanan dan bersuka cita bersama umat.
    Semoga kita semua belajar Tersenyum dan bersyukur bahwa hidup ini layak ditempati.
    terimakasih buat ceritanya, cerita ini membuat suara panggilan itu terjaga..

    salam “Senyum” šŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s