Andai Keajaiban itu Datang…

a tribute to Martin by Fra. Tugi SCJ

Fra. Tugi SCJ (Penulis)
Fra. Tugi SCJ (Penulis)

Suatu siang dipertengahan musim panas Juni 2012, sebuah mobil Mitsubhisi warna putih meluncur dari arah Pamulang menuju Wisma Bambu Apus.  Di dekat sebuah tikungan, mobil itu belok dan memasuki pintu gerbang rumah bercat putih. Beberapa saat setelah klakson berbunyi tampak keluar seorang anak lelaki usia 20-an berbaju coklat membukakan pintu. Dia adalah Martin, salah satu anak penghuni Wisma Bambu Apus.

Martin adalah anak yatim piatu yang dilahirkan di Jakarta 1984. Suatu yang istimewa adalah tanggal kelahirannya yaitu 25 Desember. Bagi orang Kristen tentu saja tanggal dan bulan itu merupakan suatu Kabar Sukacita dan hari yang penuh rahmat. Tetapi Martin dilahirkan dalam situasi yang kurang menguntungkan baginya. Dia memiliki penyakit epilepsy, gangguan pendengaran, jalannya yang agak miring dan bicaranya kurang jelas. Namun, dalam kondisi seperti itu Martin sangat rajin dalam melayani komunitasnya. Dari bangun pagi hingga menjelang dia tidur, Martin tak pernah lupa mengerjakan tugas  yang dipercayakan kepadanya.

Ketika sebuah mobil Mitsubhisi warna putih itu berhenti di depan rumah dan membunyikan klakson dua kali, dengan langkahnya yang agak sedikit tertatih Martin berlari kecil menyahut kunci pintu yang tergantung di sebuah paku dekat almari TV. Beberapa Frater yang seringkali menyaksikan semangat Martin sering merasa terharu. Ada perasaan melayang-layang, berandai-andai dan terkadang air mata pun jatuh tatkala menyaksikan Martin yang dengan keterbatasannya melakukan hal-hal sederhana menjadi luar biasa.

“Seandainya dapat kulakukan, aku ingin berlari secepat angin ataupun kereta bawah tanah. Aku juga ingin terbang seperti burung yang mengintari danau dan melompat dari ranting ke ranting. Tetapi Tuhan mengaruniakan padaku sesuatu lebih dari apa yang mungkin dimiliki orang lain. Dengan segenap kekuranganku, ternyata Kau tetap dapat memperhatikan sesamaku yang ada dalam keluarga tercinta Bambu Apus ini”.  

Mungkin kata ini akan terucap dari bibir Martin, jika dia dapat menceritakan isi hatinya dengan terbuka. Martin mampu menyimpan perkara-perkara besar dalam hatinya, dan sungguh yakin bahwa semangatnya yang besar dalam melayani dijiwai oleh suatu ketulusan dari lubuk hati yang dalam.

Musim liburan hampir tiba dan tiba saat bagi Martin untuk mengambil raport.

’Hoqeee,,, qigak aga ngiai meqrahnga”. Suatu kata yang asing didengar pada lazimnya diucapkan Martin. Sebenarnya dia ingin mengatakan, “Horeee,,,, tidak ada nilai merahnya”. Suatu ungkapan kegembiraan dari hati Martin yang paling dalam terlihat saat itu. Para Frater pun ikut merasa bahagia melihat anak-anak yang lain juga ada yang merasa bangga, tetapi ada juga yang terlihat sedikit murung ketika membuka-buka rapor mereka. Pak Peno sebagai pendamping asrama juga merasa senang, karena keberhasilan anak-anak juga keberhasilan semua keluarga Bambu Apus.

Malam hari ketika selesai makan, tugas utama Martin adalah mencuci peralatan makan. Saat itu Frater Gie dan dua Frater lainnya membantu tugas Martin. Tiba-tiba pada langit yang gemerlap oleh bintang-bintang terdapat suatu cahaya terang sebesar bola ping pong yang melesat dengan begitu cepat.

“Oh,,, ada bintang jatuh”, kata frater Gie.

“Hqa,,,, aqkwa?”, (maksud Martin adalah “Ha…apa..?”).

“Bintang jatuh!”, kata Frater Gie lebih tegas.

Konon ketika ada hujan meteor atau ada bintang jatuh katanya setiap orang yang melihatnya boleh mengucapkan suatu permohonan. (Orang-orang yang tidak melihat bintang jatuh juga boleh saja mengucapkan permohonan dan harapannya. Jadi, tidak perlu menunggu bintang jatuh). Hal itu hanya suatu kepercayaan yang tidak perlu diyakini, tetapi kesempatan itu digunakan Frater Gie untuk menyemangati Martin.

“Martin,,,  Martin,, coba lihat bintang itu”!.

“Hnga,,,, ungkuk anga?”. (Ha,,, untuk apa?)

“Ketika menyaksikan bintang jatuh, kamu dapat membuat suatu harapan besar!”.

Frater Gie mencoba menghibur dengan kata-kata itu, tetapi rupanya saat itu Martin belum mengerti maksud Frater Gie. Semua yang turut mencuci piring hanya tertawa, tetapi Martin masih terlihat dengan wajahnya yang terbesit suatu pertanyaan tentang bintang jatuh itu. Setelah selesai mencuci piring, semua anak dan para Frater masuk ruang doa untuk berdoa bersama.

Martin adalah namaku...
Martin adalah namaku…

Martin yang dengan segenap keterbatasannya pula tidak pernah terlambat dalam berdoa. Mungkin banyak anak zaman ini yang walaupun hidupnya serba berkecukupan dan memiliki jasmani yang lengkap terkadang masih tetap memiliki kekurangan, di antaranya sedikit lupa bersyukur. Ketika selesai berdoa malam, Martin pun segera masuk kamar. Dia tidak memiliki kebiasaan seperti anak-anak lain yang seringkali menghabiskan waktu mereka sampai larut untuk main Play station. Ketika teman-temannya tertawa karena serunya permainan itu, mungkin Martin sudah tidur bersama mimpi-mimpinya.

Di pagi hari ketika matahari mulai terbit, Martin telah mengumpulkan pakaian-pakaian temannya yang lebih berkesulitan. Ada pakaian yang kotor karena temannya yang mengompol, ada yang kotor karena keringat, air liur dan sebagainya. Satu bak penuh setiap harinya. Oh… tapi tunggu dulu. Tidak hanya itu saja. Martin juga mendapatkan giliran menyapu dan mengepel lantai. Frater Gie dan para frater lain menjadi saksi, bahwa Martin selalu mengerjakan tugas itu tanpa keluhan tetapi penuh dengan semangat pelayanan yang tulus ikhlas. Suatu cinta yang rela berkurban dan layak menjadi teladan bagi setiap orang. Bagi komunitasnya betapa setiap saat Martin begitu berharga meskipun kecil.

Bagaikan seorang pengembara yang mempunyai tujuan yang jauh, begitu juga terkadang pikiran melayang jauh tanpa batas. Jika saat ini banyak anak usia Sekolah Dasar berlomba dengan segudang cita-cita mereka yang tinggi, begitu juga Martin terkadang memiliki cita-cita yang tinggi walaupun hanya tinggal dalam angan-angan. Martin ingin dipeluk oleh Mama dan Papa, Martin juga ingin bermain bersama teman-teman. Martin ingin merasakan berlari dan memakai sepatu roda. Ingin mendaki bukit yang tinggi dan menyentuh awan. Tapi itu semuanya hanya tinggal mungkin. Mungkin di luar sana milyaran mata tertawa ketika langit menjadi cerah bersama harapan setiap orang. Tetapi menyaksikan Martin yang berjalan saja sulit maka keindahan itu akan tampak menjadi langit yang selalu keruh dengan mendung hitam menggelayut seperti habis hujan. Itulah yang akan dirasakan seseorang ketika menyaksikan kehidupan Martin.

Suatu hari sekolah Luar Biasa Pamulang yang merupakan tempat sekolah Martin dan teman-teman mengadakan olahraga bersama. banyak orang hadir, baik siswa maupun pendamping. Saat itu terlihat semuanya antusias menyiapkan sarana olahraga dan membawa alat-alat masing-masing. Di sudutsudut lapangan tampak beberapa orang yang memutar-mutar badannya melakukan pemanasan. Ada pula yang berlari-lari kecil mengelilingi lapangan. Tetapi yang tampak dilakukan oleh Martin adalah memegang sapu dan mengayunkannya pada daun-daun dan sampah yang berserakan di lapangan. Meskipun setiap orang dapat membuat pilihan masing-masing yang menurut mereka baik untuk dilakukan saat itu, ternyata Martin telah memilih yang terbaik.

Pada suatu malam di dalam kamar yang ditempati Martin bersama teman-temannya timbul suatu kegaduhan. Tempat tidur yang ditiduri Martin bergerak seperti ada gempa bumi besar. Saat itu ternyata Martin mengalami kejang. Seluruh badannya kaku dan matanya melotot kencang seperti seorang yang sedang marah. Begitulah dia ketika epilepsinya kambuh. Namun dalam keadan seperti itu juga tidak aka nada yang menolongnya, karena pada saat seperti itu memang tak ada yang dapat dilakukan orang-orang yang di sekitarnya kecuali menjadi penonton. Hal itu akan terjadi kurang lebih selama tiga menit. Rasa sakit yang luar biasa akan dialami oleh Martin. Hanya obat Tegretol  (obat untuk ayan), yang dapat membantu mengatasi sedikit rasa sakitnya itu pun harus diminum setiap hari dan jangan sampai terlambat.

Di antara perjuangan Martin menghadapi penyakitnya ada seorang pendamping yang juga hadir memperhatikannya. Pak Peno selalu mendoakan Martin dan membantu dia supaya selalu kuat dalam menghadapi penyakitnya. Walaupun harus membagi waktu bersama keluarga, pak Peno selalu hadir dengan penuh kasih bagi  Martin dan teman-temannya.

“Jangan sampai ada satu orang pun yang kekurangan cintakasih”.

Itulah kalimat pak Peno yang selalu diingat oleh frater ketika pak Peno melayani anak-anak yang diasuhnya termasuk Martin. Dalam komunitas keluarga Bambu Apus tampak suatu rasa memiliki dan persaudaraan yang besar. Hal itu pula selalu ditampakkan dalam diri Martin ketika berada ditengah teman-temannya. Sayang sekali tidak setiap kegiatan dapat diikuti oleh Martin.

Suatu hari komunitas Bambu Apus mengadakan rekreasi ke pantai Salyra Jawa Barat. Tampaknya perjalanan yang lumayan jauh pun menggembirakan, walau ada yang tertidur dalam perjalanan. Cuaca langit yang cerah menambah semangat untuk bermain di pantai. Ketika sampai di tempat parker, minibus yang ditumpangi mereka berhenti dan anak-nak langsung turun untuk berganti pakaian renang. Tidak ketinggalan para frater yang saat itu sedang Live in turut bermain bergembira di pantai. Mereka berenang, bermain ombak dan pasir. Tetapi Martin hanya dapat melihat dari pinggir pantai dan tidak dapat merasakan kegembiraan seperti temannya yang lain. Sekali-sekali Martin tersenyum melihat tingkah temannya yang lucu ketika tidak dapat berenang.

Suatu kali terlihat Martin yang sedang melamun ketika duduk di sebuah gundukan batu karang menatap laut.

“Bersama teman engkau takkan kesepian

Hari-hari akan kembali

Tidak peduli dekat atau jauh

Aku mengangkat segenap cinta untuk mendorong angin dan hujan

Untuk selalu menahan badai

Aku percaya mimpi yang kusut tidak pernah berarti

Pelukan erat dan keberanian akanselalu mendorongku

Satu kata satu kehidupan

Ada kesepian ada keluh kesah

Jika engkau punya sahabat sejati maka engkau akan tahu

Badai akan berlalu dan hujanpun akan pergi

Berjalan keluar dari kabut

Berlari untuk melihat bintang-bintang

Menunggu matahari setelah hujan

Ada luka ada rasa sakit

Ada perpisahan

Aku selalu ada”.

Mungkin syair lagu itu yang dinyanyikan Martin ketika dalam lamunannya. Walaupun tiada orang tua kandungnya, tetapi teman-teman Martin selalu ada. Untuk saat yang baik atau saat buruk, Martin juga selalu ada bersama keluarga Bambu Apus. Para frater yang sedang Live –in di sana pun melihat suatu cerita indah tentang besarnya arti persahabatan yang terjalin akrab di antara Martin dan teman-temannya. Sungguh hal itu menjadikan suatu pengalaman berharga. Sesudah anak-anak merasa capai bermain air, pak Peno mengajak mereka dan para frater untuk beristirahat. Setelah selesai bersantap siang, rombongan masuk kembali ke dalam mobil minibus yang dikemudikan pak Leo. Di sepanjang perjalanan itu, semuanya tertidur, kecuali pak Leo sendirian.

Hari berikutnya adalah hari-hari yang semakin sepi bagi Martin begitu juga dengan keluarga Bambu Apus. Beberapa dari mereka yang masih memiliki orang tua ternyata dijemput untuk berlibur di rumah masing-masing. Itu artinya bagi Martin harus siap untuk menggantikan tugas mereka. Tetapi para frater yang ada di sana ternyata juga peka akan keadaan, sehingga turut ambil bagian meringankan beban Martin. Beberapa tugas seperti mengelap kaca jendela, menyapu lantai, mengepel, dan menyiram bunga akhirnya dibagi bersama-sama.

Suatu kesempatan yang menyenangkan bagi Martin adalah ketika ada kunjungan. Meskipun sekolah libur, tetapi seringkali ada kunjungan dari suatu lembaga instansi pendidikan atau pekerjaan. Yang menyenangkan adalah mereka terkadang menghibur dengan membawa pemain sulap atau membagi makanan ringan. Setiap kunjungan usai, ingin rasanya Martin memutar waktu yang tinggal kenangan ketika suasana itu sudah lewat darinya.

Pada Minggu kedua di pertengahan Juli, tibalah waktunya juga bagi para frater untuk kembali ke Jogja. Saat itu cuaca Jakarta cukup panas karena memang musim kemarau. Di hari itu Martin juga tampak sedih karena harus ditinggalkan oleh para frater yang akan kembali ke Jogja.

“Nangki kangau ugah sangai gangang ngupa nga”, (nanti kalau sudah sampai jangan lupa ya). Itulah pesan Martin kepada para frater.

“Oh,,, tentu saja Martin,,, kami akan selalu ingat kalian semua”. Jawab salah seorang frater. Akhirnya setelah mereka berpelukan dan saling melambaikan tangan, para frater meninggalkan rumah Bambu Apus dan Martin pun melangkah menuju kamarnya untuk istirahat. Pukul tiga sore Martin bangun dan kembali melaksanakan tugas-tugasnya dalam komunitas. Suatu pelayanan bagi Tuhan yang dilakukan oleh Martin melalui sesamanya sungguh berharga di mata dunia yang melihatnya. Hanya suatu harapan yang indah dan mungkin juga diharapkan yaitu jika keajaiban mungkin datang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s