Ragi di Pulau Seribu Dewata

Tanggapan atas tulisan Mgr. Silvester San:

“Implementasi Konsili Vatikan II di Gereja Lokal Keuskupan Denpasar”

 Misi Gereja berlangsung dalam interaksi dengan pihak-pihak lain. Dalam interaksi itu dialog merupakan aspek yang penting. Dialog itu suatu upaya untuk saling mengerti, saling memperkaya dan berkomunikasi tentang amanat penyelamatan dan hidup Yesus Kristus. Dialog yang sejati mencakup sikap saling memberi dan menerima, berbicara dan mendengarkan. (Dokumen Seputar Sinode Para Uskup Bagi Asia, 1998)

header3-980x425

Mgr. Silvester San dengan rinci dan ringkas menunjukkan bagaimana Gereja Keuskupan Denpasar (selanjutnya: Gereja Denpasar) berusaha berjalan dalam terang Konsili Vatikan II. Beliau menulis dalam bagian pembuka bahwa tulisannya ini bukanlah pertama-tama dimaksudkan sebagai tulisan akademik, melainkan sebuah kesempatan untuk berbagi refleksi spiritual. Beliau juga membuka tulisannya dengan deretan angka-fakta seputar Gereja Denpasar. Hal ini menarik perhatian saya karena refleksi yang hendak dibagikan Mgr. San dimulai dengan data konkret dan kemudian – pada bagian selanjutnya – diteruskan dengan ‘taktik penggembalaan’ dalam pelbagai lini. Dengan rumusan terstruktur, Mgr. San menunjukkan pada kita bagaimana semangat aggiornamento yang me-ruh-i Konsili Vatikan II ternyata terus menghinggapi Kawanan Kecil berjumlah 39.055 umat di Kepulauan Seribu Dewa itu.

Semangat pembaruan ini, menurut Mgr. San, adalah bagian dari usaha “mewartakan Injil kepada semua orang. Sebab para Rasul sendiri, yang menjadi dasar bagi Gereja, mengikuti jejak Kristus, mewartakan sabda kebenaran dan melahirkan Gereja-Gereja” (bdk. Ad Gentes, 1). Perjalanan tiga sinode Gereja Denpasar (2001, 2006 dan 2011) yang dinamikanya terus berubah bersama waktu rupanya menjadi tonggak yang mendasari gerakan umat. Ada tiga rumusan kunci yang dapat dilihat dalam tiga sinode ini: Gereja Inklusif (2001), Gereja Transformatif (2006) dan Gereja Berkualitas, Dialogis dan Berdaya-ubah (2011). Sinode yang terakhir dijalankan pada masa kegembalaan Mgr. San tahun 2011 agaknya berusaha menyatukan ide ‘Gereja Inklusif’ dan ‘Gereja Transformatif’ dalam satu wadah. Model Gereja ini merujuk pada, tulis Mgr. San, “model Dia yang terlibat: yang mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang  hamba dan menjadi sesama bagi kita (bdk. Fil. 2:5-11, Luk. 10:25-37)”.

Gerakan pastoral yang bersumber pada model ini secara konkret diwujudkan dalam tema-tema fokus yang dipilih-dalami untuk satu tahun: (2012) Katekese dan Lembaga Pendidikan Katolik, (2013) Orang Muda Katolik, (2014) Komunitas Basis Gerejani dan Kepemimpinan Pastoral, (2015) Pengembangan Ekonomi Umat dan (2016) Keluarga Katolik. Sayang, Mgr. San kemudian tidak menjelaskan secara lebih rinci lagi tema-tema fokus ini dan sasaran detail yang ingin dituju sesuai keprihatinan lokal. Mgr. San memilih melanjutkan tulisannya dengan membahas hubungan program komisi-komisi keuskupan dengan satu atau dua artikel dalam hasil-hasil Konsili Vatikan II. Menurut saya, bila sedari awal tulisan ini hendak dimaksudkan sebagai sharing iman seorang Gembala, mestinya ia juga memuat kisah-kisah nyata tentang wajah (baca: persona) yang digembalakan. Mungkin sekali saya salah, namun bagi saya Gereja Denpasar memiliki potensi menjadi Gereja yang iconic dengan karyanya di tengah mayoritas penganut Hinduisme (di Bali) dan Islam (di Nusa Tenggara Barat). Kata ‘Hindu’ dan ‘Islam’ misalnya hanya dua kali disebutkan dalam tulisan berjumlah 9.501 kata ini. Saya tidak bermaksud menyebut tulisan Mgr. San tidak konkret atau tidak ‘hangat’. Tidak! Saya hanya menduga bahwa ketika pilihan fokus separuh tulisan ini jatuh pada usaha menjelaskan program komisi-komisi keuskupan, maka justru ‘wajah’ umat yang sebenarnya menjadi kurang terlihat.

awal

Bagaimanapun juga, saya sadar, tidak mudah memberi gambaran yang komprehensif tentang sebuah Keuskupan yang memiliki latar belakang dan sejarah yang panjang dalam beberapa lembar halaman. Poin kuat dalam tulisan Mgr. San ini adalah bahwa dalam konteks kenyataan-kenyataan sosial-ekonomi, sejarah politik dan situasinya sekarang, dan dalam konteks tradisi religius yang beragam, kawanan kecil Yesus Kristus di keuskupan Denpasar ini harus hidup dan melaksanakan misi penyelamatanNya. Mgr. San menulis: “Dalam perjalanan menghadirkan Kerajaan Allah yang diterangi semangat Konsili Vatikan II, Gereja Katolik Keuskupan Denpasar senantiasa berusaha membangun dialog dengan semua pihak, baik Pemerintah, pimpinan agama dan dengan aneka ragam kelompok masyarakat. Dengan membangun kerja sama lintas agama yang dilandasi semangat kebersamaan, diharapkan tercipta suasana kehidupan yang aman, damai, saling menghargai, toleransi dan menumbuhkan sikap solidaritas satu sama lain.” Bandingkanlah kutipan ini dengan kutipan hasil Sinode Para Uskup Asia tahun 1998 yang diletakkan di atas resensi ini. Anda akan menemukan sikap dasar yang sama: dalam pewartaan Kerajaan Allah itu, dialog sejati dengan semua pihak adalah niscaya!

Refleksi sistematis Mgr. San ini ditulis untuk menangkap ‘tanda-tanda zaman’ yang terekam kekinian masyarakat luas. Di dalamnya kita dapat menemukan kegelisahan seorang Gembala yang menghadapi rupa-rupa tanda zaman. Di dalamnya, lebih dari itu, kita juga akan menemukan dorongan, permohonan, harapan, seruan moral Gembala yang meneguhkan umatnya untuk terus berjuang menjadi ragi di Kepulauan Seribu Dewata itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s