Gereja Sibolga: Sebuah Eklesiogenesis

Resensi Tulisan Mgr. Ludovicus Simanulang “Implementasi Dokumen Konsili Vatikan II di Keuskupan Sibolga”

Untuk mewartakan Injil di Asia pada zaman sekarang,

Kita harus sungguh-sungguh mendarah-dagingkan amanat

dan kehidupan Kristus dalam akal budi dan peri kehidupan bangsa kita

(Pernyataan Sidang Paripurna FABC I, n.9)[1]

 

Kita tahu bahwa seruan para Uskup Asia dalam sidang paripurnanya yang pertama ini jalin-menjalin dengan dua pertanyaan besar: (1) pertanyaan bagaimana mendarahdagingkan amanat Yesus Kristus di tengah keragaman budaya umat dan (2) bagaimana agar gereja setempat tidak hanya menjadi penerima pasif iman Kristiani yang sering dicap “Barat” oleh umat lokal yang trauma karena kolonialisme. Saya teringat nukilan pernyataan Uskup Asia ini saat membaca kisah Gereja Keuskupan Sibolga (selanjutnya: Gereja Sibolga) yang ditulis oleh Mgr. Ludovicus Simanulang – dengan dibantu para imamnya yang lain –  ini. Tulisan yang dibagi dalam delapan bagian ini menawarkan beberapa tema refleksi yang berkaitan dengan perkembangan Gereja Sibolga.

Mgr. Ludovicus Simanulang: Uskup Sibolga
Mgr. Ludovicus Simanulang: Uskup Sibolga

Bagian sejarah menampakkan pada kita bagaimana wilayah Sibolga yang sejak semula digembalakan oleh para misionaris Kapusin dari Jerman ini rupanya memiliki keragaman budaya lokal yang didominasi suku Nias dan Batak.Usaha ‘menjaga’ kelestarian budaya lokal ini sudah dibuat oleh Gereja. Mgr. Simanulang menulis: “Pengumpulan artefak-artefak dilakukan, dipamerkan dan dilestarikan. Tetapi penggalian makna terdalam dari bukti-bukti keluhuran adat itu masih belum dilakukan. Satu hal yang mendesak dilakukan ialah bagaimana agar kegiatan pemeliharaan nilai-nilai budaya itu menjadi langkah yang kuat untuk menerobos, masuk, menyentuh mentalitas tradisional itu dan menanamkan tata nilai baru yang lebih rasional, manusiawi dan kristiani.” Setelah 85 tahun Gereja Sibolga berakar, Mgr. Simanulang mengakui bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan agar iman Kristiani berdarah-daging pada kebudayaan lokal.

Yang menarik dalam tulisan Mgr. Simanulang ini adalah bahwa sebagian besar tulisannya merujuk pada kenyataan “eklesiogenesis” Gereja Sibolga yang berusaha berpijak pada budaya lokal ini. Eklesiogenesis atau ‘peristiwa terjadinya Gereja dalam masa-tempat-dan-kebudayaan tertentu’ yang diidealkan Mgr. Simanulang ini, adalah dialog. Eklesioenesis mesti menjadi perjumpaan antara pengejawantahan historis misteri Allah dalam pewahyuanYesus Kristus dan kenyataan orang-orang yang mendengarkan wahyu itu. Gereja lokal dengan ‘kearifan lokal’ di mata Mgr. Simanulang menjadi “locus” atau gelanggang pewartaan Injil yang sangat konkret.

DSC_4249

Eklesiogenesis yang tersirat dalam tulisan Mgr. Simanulang ini junga mengandaikan kesadaran bahwa “kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan juga kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus” (Gaudium et Spes art. 1). Ini sebabnya, Mgr. Simanulang menulis bahwa “Gereja Keuskupan Sibolga membuka diri untuk memberikan perhatian dan kepeduliannya bagi masyarakat sekitar, terutama bagi mereka yang kurang beruntung dalam hidupnya. Gereja berupaya melakukan pemberdayaan demi peningkatan kesejahteraan hidup rakyat banyak.”Gereja Sibolga berusaha secara nyata meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mendirikan Credit Union (CU). Kehadiran CU ini dirasa dapat membantu mengembangkan perekonomian rakyat.

Mgr. Simanulang dengan ringkas menguraikan pada kita bagaimana lahirnya Gereja selalu berada dalam banyak simpul dimensi hidup yang nyata-konkret. Posisi Gereja Katolik adalah realistis terhadap multi budaya dan agama, sehingga mengarahkan kebijakan Gereja pada posisi inklusive yang membuka dialog dengan yang lain. Tulisan ini menunjukkan dengan gamblang posisi Gereja yang terbuka untuk berdialog dengan tradisi-tradisi religius lain dan dapat memperkaya hidup doa umat penganut tradisi-tradisi yang berbeda-beda. Isi ringkas tulisan ini? Mgr. Simanulang dengan bernas membawa kita pada penutup tulisan yang mencerminkan keseluruhan cita-citanya tentang Gereja Sibolga: “Gereja Keuskupan Sibolga terus-menerus berusaha memperdalam iman umat dan mengakarkannya dalam budaya setempat lewat usaha-usaha inkulturasi, berusaha untuk memiliki petugas pastoral yang memadai dan bermutu, mampu menanggung beban finansial untuk menjalankan roda kehidupan Gereja”.

 

[1]Dokumen Sidang FABC, 1992-1995”, Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, Jakarta, Agustus, 1997

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s