Ditangkap Oleh Kekaguman

f2

Waktu aku masih kecil, dunia terasa begitu luas dan menunggu untuk dijelajahi. Semua rupa dan corak yang begitu ajaib ingin kukumpulkan dalam saku celanaku. Ibu sering memarahiku karena pulang dengan baju kotor penuh lumpur dan tas sekolah yang berisi batu atau bunga liar aneka warna. Perlahan, ketika aku beranjak dewasa, banyak orang di sekitarku mulai menjelaskan bahwa hijaunya daun datang dari klorofil dan langit menjadi biru karena lapisan atmosfer. Bunga-bunga mulai tak menyenangkan lagi sejak aku harus menghafalkan nama latin mereka dalam pelajaran biologi dan bebatuan itu kehilangan pesona saat kutahu pasti bahwa mereka hanya muntahan dari perut bumi.

 

Rindu untuk Kagum

Dalam saat-saat kita tumbuh dan berkembang jadi dewasa, makin banyak hal terwahyukan pada kita dalam penjelasan ilmiah dan rasional. Keajaiban lantas tampak makin mustahil. Semua hal menjadi dapat tertebak dan terukur. Mungkin ini sebabnya, di tahun-tahun belakangan ini kita jadi tergila-gila dengan kisah kapten Jack Sully dalam film The Avatar dan planet Pandora yang penuh kejaiban itu. Kita terbuai dengan macam-rupa sihir Harry Potter dan kisah petualangan lima anak di negeri impian Narnia serta cerita imajinatif percintaan manusia serigala dan vampir penghisap darah.

Walau telah banyak tahun berlalu dan kepandaian nyaris penuh mengisi kepala, hati kita tetap merindukan lagi rasa kagum itu. Rasa kagum yang membangkitkan kesadaran bahwa sejatinya hidup adalah sebuah perjalanan yang luar biasa, dengan aneka pilihan jalan yang luar biasa dan dengan tujuan yang luar biasa.

 

Membatinkan Yang Lampau

Kadang memang kita harus mengambil waktu untuk hening dan dengan hati tertunduk menyadari hal-hal yang luar biasa dalam hidup kita. Kearifan mengajar bahwa perjalanan kita, dalam banyak bentuk panggilan hidupnya, terbentang antara sejarah dan masa depan. Kita ada di lautan ‘antara’: mengapung dan berenang ‘di tengah’ masa lalu dan yang akan datang!

Kagum itu adalah saat kita menoleh ke belakang dan menerima kebijakan pengalaman. Ya, sejarah dan pengalaman selalu menyediakan kaidah. Mereka menunjukkan pada kita banyak kebenaran tentang diri kita: bahwa saya adalah seorang anak yang pernah dilahirkan dari sepasang orang tua yang saling mengasihi dan bahwa ternyata saya tumbuh dalam keluarga yang tidak sempurna dan bahwa petai memiliki rasa mantap bila dimasak dengan sambal dan bahwa ternyata seorang Romo pun bisa terlepas kentutnya saat sedang misa.

Ya! Pengalaman…sejarah…yang lampau… membuat saya lebih tahu tentang dunia yang saya hidupi. Lebih-lebih dalam generasi muda belakangan, sejarah dapat terentang begitu jauh. Bukankah anak sekarang lebih tahu tentang dinosaurus daripada tentang sapi dan lembu?! Pada suatu program live-in di pedesaan, seorang anak SMUberkata: “Oh, Suster… Ayam itu ternyata ada bulunya ya?” Walaupun telah belajar teori fisika tentang penciptaan alam semesta, namun si siswi gaul itu tak pernah melihat ayam hidup lengkap dengan bulunya!

Sejarah menganugerahkan kita banyak momen indah untuk dikenang, untuk dipelajari dan untuk dihargai. Itu sebabnya beberapa di antara kita senang menulis diary dan mengambil foto: dua hal yang dapat membuat hangatnya kenangan itu kembali terasakan. Maka, ambillah sejenak waktu untuk membatinkan sejarah kita dan kisah yang telah lalu: yang indah untuk disyukuri dan yang kelam untuk diterima dengan penuh kelapangan hati.

p1140067

Bersama Allah dalam Harapan di Masa Depan

Pada titik selanjutnya, kagum itu juga hanya akan datang dalam kepenuhannya ketika pendangan kita jauh mengarah ke depan… menuju harapan yang menggerakkan langkah. Kenangan tak cukup berarti bila tak menggerakkan kita menatap masa depan. Perjalanan tak akan tentu arah bila tak punya tujuan. Masa depan mengingatkan kita bahwa hidup selalu merupakan petualangan menuju Dia! Setiap kisah petualangan punya tujuannya: Columbus di tanah Indian, Frodo dalam the Lord of the Rings di Kawah Api Gunung Modor, atau Rama di Alengka!

Sebagai seorang Kristiani, kita tahu benar bahwa tujuan akhir kita adalah untuk berbahagia bersama Allah, Sang Cinta! Kita tahu benar bahwa Kitab Suci dimulai dengan kisah penciptaan dan ditutup dengan gambaran indah turunnya Yerusalem Surgawi dari Surga. Kita tahu tujuan kita! Sayang, dalam banyak kejadian, kita merasa bahwa masa depan kita terlalu kabur dan lantas kita jadi kuatir dengan banyak perkara. Bahkan dalam beberapa kesempatan, kita jadi takut berharap pada Dia!

Harus diakui bahwa Kerajaan Surga yang menjadi tujuan akhir itu tidak menawarkan peta yang jelas. Bahkan sebaliknya, Kerajaan Allah itu justru merampas semua kepastian dan jaminan kenyamanan yang kita miliki. Siapa di antara para murid yang dapat menyangka bahwa setelah Perjamuan di ruang atas itu, Sang Guru maha terhormat dan terkenal itu akan dijatuhi hukum mati keji dan hina? Namun demikian, bagian indah dari kisah itu adalah bahwa kasih, pelayanan dan harapan dirayakan di depan ketidak-pastian itu! Setiap perjamuan Ekaristi menjadi lambang bahwa kita dapat tetap berjalan dalam harapan walau masa depan menjadi tak jelas!

Jurgen Moltmann
Jurgen Moltmann

Jurgen Moltmann pernah berujar: “Harapan hidup sejati, tidak lahir karena rasa diri muda, betapapun indah cita-cita pada masa muda ini. Pengharapan juga tidak lahir dari kesempatan yang ditawarkan oleh sejarah, betapapun luas dan tanpa batas peluang-peluang itu. Harapan hidup kita yang sejati akhirnya dibangkitkan, dipertahankan dan akhirnya dipenuhi oleh misteri Ilahi yang besar, yang ada di atas kita dan di dalam kita dan yang melingkungi kita dan yang lebih dekat dengan kita daripada hati hidup kita sendiri. Misteri Ilahi mendatangi kita sebagai janji besar bagi hidup dan menjadi janji bagi seluruh dunia: “Tak sesuatupun sia-sia – semuanya akan membuahkan hasil – pada akhirnya segala sesuatu akan menjadi baik!”

Maka sobatku, janganlah takut untuk berjalan menuju masa depan dengan kekaguman atas sejarah dan tujuan hidupmu! Bersama Allah dan MisteriNya yang menjanjikan keselamatan itu, kita bergerak menciptakan sejarah dengan penuh harapan. Segala sesuatu akan menjadi baik!

 

Albertus Joni SCJ

albertusjoni.scj@gmail.com

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s