Belajar Beriman pada Sang Agnostik

Ada saat mencinta, saat bimbang dan mempertanyakan, saat gusar dan saat ujian;
terhadap semua itu kita harus menambhakan saat kita berjuang bersama Yesus,
suatu perjuangan yang tidak pernah selesai…
seperti pergulatan Yakub di sebuah tempat penyeberangan sungai Yabok di malam hari,
ketika ‘seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing…
Kardinal Carlo Maria Martini, My Life With Christ

 

Sekilas ia tampak seperti anak muda Katolik di awal usia 20-an yang bahagia dan aktif dalam kegiatan Gereja: misa, persekutuan doa, dan putera altar. Suatu senja, ia datang dan berkata pada saya: “Frater, saya tidak lagi percaya pada Tuhan! Saya letih mencari pendasaran rasional atas iman saya. Telah bertahun-tahun saya melihat ajaran Gereja dan lantas sulit menjadi percaya. Tetapi saya tetap menghormati Gereja Katolik yang selalu menekankan kasih pada sesama.” Pria muda ini lalu mengisahkan bahwa saat studi di luar negeri, ia diyakinkan bahwa hidup mestinya pragmatis, rasionalis dan segala sesuatu harus dapat dibuktikan secara ilmiah.

Bukan pertama kalinya saya berhadapan dengan orang-orang muda Katolik yang mengaku diri ‘agnostik’. Menjadi agnostik  dapat berarti (1) yakin bahwa keberadaaan Allah adalah mustahil atau (2) yakin bahwa nilai kebenaran iman tidak dapat dipastikan dan diraih sehingga hanya dapat diragukan. Oleh karena itu, judul tulisan ini memang mengandung ironi: bagaimana mungkin kita belajar beriman pada seorang agnostik?

religion

 

Keraguan: Iman yang Tak Menyerah Mencari

Dalam sebuah satire dokumenter Religilous (2008) yang menertawakan agama-agama dunia, Bill Maher, si pembawa acara, mengatakan: “Iman berarti menciptakan keutamaan tanpa banyak pikir. Agama berbahaya karena ia memungkinkan manusia yang tidak punya jawaban atas semua pertanyaan berpikir bahwa mereka memilikinya.” Gamblangnya: bagaimana mungkin manusia modern saat ini dapat ‘mengimani’ kisah ular yang dapat bicara pada wanita dan pria dengan cawat daun? Bagaimana mungkin manusia rasional dapat percaya bahwa merekamenyantap tubuh-darah seorang manusia yang berusia 2000 tahun?

Pertanyaan-pertanyaan para agnostik ini seringkali sangat praktis dan mengena: bagaimana mungkin kita dapat beriman bila kita memiliki rasio untuk mencermati dan mengerti hubungan sebab-akibat dalam kaidah ilmu pasti? Saya tidak akan mengulangi jawaban klasik sebagian guru teologi tentang hubungan iman dan akal budi. Ah, tidak! Saya memilih untuk mengagumi jalan pencarian yang dilalui oleh para agnostik muda ini.

Perjalanan seorang agnostik biasanya ditandai dengan pergulatan intelektual yang panjang: sebuah pencarian kebenaraniman. Ia berusaha menemukan penjelasan-penjelasan logis tentang apa yang ia percayai. Ia membaca banyak sumber. Ia menganalisa pola hubungan kejadian dan keterkaitannya. Ia akhirnya memutuskan bahwa Allah bukanlah niscaya; bukanlah persona. Seorang agnostik selalu yakin bahwa Tuhan masuk wilayah ‘abu-abu’ – wilayah yang senantiasa harus diragukan. Dan hal inilah yang membuat saya kagum!

rosary-image

Iman, dalam banyak ukuran dan penjelasan, sering digambarkan sebagai usaha manusia ‘tunduk’ dan ‘berserah’ pada Allah dan rencanaNya. Seorang agnostik menempuh jalan yang agak berbeda dari pengertian‘iman’ pada umumnya. Dengan menolak tunduk, ia tak segan melawan, mencari dan meragukan Allah. Justru ‘perlawanan’nya ini menggambarkan bagaimana manusia telah diberi rahmat kehendak bebas dan nalar saat Allah mewahyukan diriNya. Mereka mengingatkan kita bahwa iman – pada bagian terbaiknya – juga adalah sebuah perjuangan dan pencarian terus menerus. Iman, jawaban manusia atas sapaan Allah, datang pada kita bukan pertama-tama sebagai sikap patuh dan tunduk pada ajaran Gereja. Iman datang dari pergulatan pribadi kita dalam mengalami Allah yang tak terselami sepenuhnya, yang tak pernah jelas dan yang selalu tinggal sebagai misteri.

 

Sampai Fajar Menyingsing

(Alm.) Kardinal Carlo Maria Martini dalam tulisannya “My Life With Christ” (The Tablet, 251, 1997, hal. 416-418) mengisahkan bagaimana ia bergulat menemukan iman pada Kristus yang adalah misteri itu. Kardinal ini dengan luar biasa berkisah bagaimana imannya ditantang keluar dari ‘zona aman’ seorang anak kecil oleh para rasionalis dan para agnostik skeptis hingga menuju kebenaran yang paling dalam. Ia maju terus dan tak mau berhenti dengan menerima begitu saja apa yang diajarkan Gereja tentang Kristus. Budinya mencari dan bergulat, meragukan dan gusar, merasa dicobai dan frustasi. Pengetahuan-pengetahuan teologis yang muktahir dan pendalaman yang serius terhadap fakta sejarah Kitab Suci dan Tradisi membuat sang Kardinal gelisah dengan apa yang dikatakan orang beribu tahun tentang manusia Nazareth itu. Ia lelah. Tetapi ia tidak berhenti mencari.

Carlo Maria Cardinal Martini
Carlo Maria Cardinal Martini

Kita kemudian tahu bahwa sang Kardinal sampai pada pengalaman iman justru ketika pengetahuan tentang iman mencapai batasnya. Ia tertunduk bukan di depan ‘figur’ Yesus, tetapi di depan ‘misteri’ Yesus: hubungan unikNya dengan Bapa, transendensiNya, maknaNya bagi sejarah kemanusiaan dan kemampuanNya mewahyukan wajah Allah yang berbelas kasih justru dalam penderitaan dan salib. Di depan misteri ini, Kardinal Martini memutuskan untuk membuat lompatan untuk mengimani Yesus sebagai Allah; sebuah lompatan yang tidak didasarkan pada riset dan kaidah sains.

Ya. Akhir seorang Kardinal tentu berbeda dengan akhir seorang agnostik. Tetapi keduanya memiliki keutamaan yang sama: pencarian pemahaman akan Allah dalam nalar dan budi yang tak gampang dihentikan. Kedua kelompok ini sama-sama mengalami pergulatan seperti Yakub yang tak berhenti menyerah bergulat dengan Allah semalam-malaman sampai fajar menyingsing di tepi sungai Yabok. Gambaran pergulatan di ‘malam hari’ ini melambangkan pencarian di tengah buramnya ketidakpastian, keraguan dan kelelahan. Namun, Yakub tidak menyerah hingga fajar datang dan ia mendapatkan berkatNya.

 

Lebih Dekat dengan Kebijaksanaan

Paus Benediktus XVI dalam salah satu homilinya di Freiburg mengatakan bahwa para ‘agnostik yang terus mencari’ adalah lebih baik dari seorang yang mengaku Katolik hanya demi alasan bersosialisasi. Di Indonesia, kita mengalami bahwa agama adalah ‘wajib’ bagi setiap warga negara. Karenanya, kadang beragama bukanlah pilihan pribadi yang diambil-resapi matang-mendalam. Kadang, beragama hanya menjadi label ‘sosial’ dan budi tak pernah sungguh mencari sang Kebenaran.

Para agnostik yang terus mencari ini dapat jadi lebih dekat dengan sang Kebijaksanaan daripada orang-orang yang mengaku Katolik namun hidup imannya hanya sebuah rutinitas mingguan, memandang Gereja hanya sebagai institusi tanpa membiarkan hidup mereka disentuh oleh pengalaman akan Allah.Kita memang tak dapat mengatakan bahwa agnostisisme adalah sebuah jalan yang baik dibanding iman Kristiani. Tidak! Namun demikian, kita yang mengaku diri beriman, juga harus memiliki keutamaan seorang agnostik yang budinya tak lelah berziarah sampai pada pilihan sadar untuk mengikuti Kristus.

 

Albertus Joni, SCJ

albertusjoni.scj@gmail.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s