IMAN, HARAPAN DAN CINTA

Di sepanjang sejarah keselamatan, iman, harapan dan cinta nyaris selalu menjadi kidung – dalam gelap sekalipun. Engkau pasti pernah mendengar kisah Abraham, yang dalam iman menangis pada Allahnya dengan nada-nada sunyi ketika diminta menyembelih putera tunggalnya di atas gunung. Engkau juga pasti pernah membaca cerita Ayub, yang  merayakan imannya di tengah kuburan anak-anaknya yang mati tiba-tiba, di tengah reruntuhan rumahnya, di tengah lalat yang mengerumuni borok-boroknya dan di tengah sahabat yang kini mencacinya. Atau perihal Hana dan Zakaria yang telah lama bertekun dalam sepotong harapan yang hampir-hampir naif; harapan tentang Allah mau menyelamatkan manusia. Bukankah kita tahu kemudian, bahwa naifnya harapan mereka justru dibalas dengan misteri yang tak pernah tuntas diselami: Allah Penyelamat yang menjelma dalam darah dan daging manusia. Kita dengar juga sukacita Maria yang berkata: “Terjadilah padaku seturut kehendakMu itu!” – “Fiat!” sewaktu sang Cinta sendiri merasuk dalam rahimnya. Hanya cinta yang sedemikian besarlah yang mampu membuat Maria bertahan hingga kaki salib dan mengucapkan kata-kata yang sama sekali lagi; walau dengan hati yang remuk.

 

Mungkin benarlah Tagore, seorang mistikus India, bila ia berujar: “…di kuil gelap malam, titahkanlah aku berdiri di hadapanMu, Junjunganku, untuk berkidung.” Kini, bersama tokoh sepanjang sejarah itu kita berkidung juga – walau tanpa nada dan bahkan… walau tanpa ceria sekalipun.

 

 ABRAHAM (dan mereka yang mencoba ‘beriman’)

 Image

Tuhan, ini aku: Abraham!

Pilihan untuk beriman memang kadang terlalu mahal untuk dibayar! Aku ingat pedih hatiku saat memandang Ishak-ku terkasih yang menjulurkan lehernya.. siap dihabisi oleh bapanya yang ia kasihi. Aku meratap dalam diam, Tuhan.. Engkau pasti tahu itu. Tapi aku tetap berusaha untuk setia dan berpegang pada janjiMu. Aku hadir di sini ya Tuhan, bersama mereka yang sedang galau dan tak cukup berani untuk melangkah dalam hidup, yang sedang kalut dan ragu dengan masa depannya. Tunjukkan gema suaraMu Tuhan, seperti ketika aku kalut di atas gunung itu! Ya, perdengarkan suaraMu dalam hati mereka agar mereka selalu tahu bahwa Engkau selalu berjalan bersama mereka, sebagaimana Engkau juga berjalan bersamaku dalam pendakian itu. Niscaya dengan iman itu Tuhan, mereka akan menjadi Abraham-Abraham yang baru…

 

 

AYUB(dan mereka yang mencoba ‘berharap’)

 Image

Ini aku, Tuhan: Ayub!

Aku kerap bertanya: “mengapa semua nestapa harus turun padaku?”. Bukankah aku orang benar dan lurus hati ya Tuhan? Dan pertanyaan itulah yang membuatku mengecam keadilanMu! Aku tak sendiri, Tuhan! Aku berdiri bersama sekian banyak orang-orang benar yang terkapar di jalan-jalan kehidupan yang kejam ini. Aku hadir dan menuntut Engkau bersama korban kekerasan dan kejahatan, bersama orang-orang yang dimiskinkan dan yang dilacurkan, yang harus meratap putus asa dalam debu dan abu.

Tuhan…Tuhan… buatlah kami cukup mengerti bahwa harapan padaMu tak boleh kehilangan harganya.. bahkan dalam gelap yang sesak dan menghimpit. Berbisiklah pada kami dalam badai dan angin ribut ya Tuhan, bahwa harapan padaMu bukanlah bianglala yang semarak. Bukankah dari riwayat yang rusak, Engkau menuntun kami untuk dengan penuh harap memandang satu titik sempurna di depan sana. Ajari kami untuk mengenal misteriMu lebih mendalam dengan penuh harapan, yang justru hadir dalam temaram yang penuh soal dan gelisah.  

 

MARIA (dan mereka yang berusaha mencinta)

Image

Tuhan, tak mungkin engkau lupa akan aku, akan hangatnya rahimku. Aku, Maria, bundaMu. Ingatkah Engkau sewaktu dulu kudongengkan kisah tentang kerajaan pepohonan yang hijau itu. Mana pernah kubayangkan bahwa salah satu kayunya akan menjadi singgasanamu di puncak kalvari. Dengan gemetar yang hebat kuikuti jalan-jalanmu yang berdarah. Hingga mati rasa aku mengelap darah-dagingMu, darah dagingku sendiri, di lantai tempat Engkau dicambuk. Hanya cinta saja, Anakku.. hanya cinta saja yang mengukuhkan aku! Dan entah mengapa, justru aku yang harus belajar banyak tentang cinta dariMu… Engkau mengampuni mereka yang menembus tangan dan kakiMu dengan keji. Engkau menjanjikan Firdaus tanpa mengenal tunda bagi penjahat di sebelahMu. Engkau tak pernah mengutuki mereka yang menghina dan meludahimu. Ah, Cinta… Cinta! Bantulah kami untuk menawarkan pengampunan, perhatian … menawarkan Cinta, itu pada sesama kami…bahkan ketika hal itu serasa mustahil dilakukan!   

 

***

 

Ah, teman…

Kidung itu tak memanggul seluruh niat, juga niatnya sendiri, karena ia sebenarnya hanyalah mencoba… mencoba untuk pergi pada yang Maha Cinta. Kidung kita adalah sesuatu yang kita kirim pergi, “agar membawa pulang sesuatu yang mustahil” tanpa harus jadi hilang tujuan. Tuhan bukanlah kepastian, teman! Kidung kita melagukan Dia sebagai sebuah harapan…sebuah harapan yang seperti mata pancing mengail iman dan cinta pada Yesus Kristus, Tuhan dan Sahabat kita. Amin!

 

Advertisements

2 thoughts on “IMAN, HARAPAN DAN CINTA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s