Pengalaman Ambang Batas: Hidup dan Kiamat dapat Berpadu!

Kemarin aku mendengar bahwa ada pasien baru yang sakitnya sangat parah dan yang suara erangannya terdengar sepanjang malam. Teman fraterku yang semalam berjaga bersama pasien itu bercerita bahwa baunya juga luar biasa. Sontak aku merasa takut dan jijik. Jangan-jangan besok pagi aku yang akan giliran menjaga pasien ini. Ah, entah apa yang akan terjadi bila aku harus menjaganya. Selama ini aku sangat takut dengan Rumah Sakit dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Malam itu aku sempat berdoa agar tidak ditugaskan di bangsal itu. Keesokan paginya, aku tahu bahwa doaku ini tidak terdengar.

Kulihat dengan mata kepalaku sendiri pemandangan mengerikan itu. Perempuan tua itu berbaring telungkup. Nyaris telanjang. Ibu Nur namanya. Seluruh bagian kaki hingga punggungnya kini merah kehitaman dilalap kobaran api hebat dari kompor minyaknya yang jatuh sebulan lalu. Minggu-minggu terus berlalu namun luka bakarnya tak kunjung mengering. Minyak-minyak tradisional yang ia pakai sebelumnya tak banyak membantu. Suara rintih kesakitannya begitu menusuk hatiku.

“Kami takut tidak kuat membayar biaya Rumah Sakit ini, Mas!” ujar Dwi, putra bungsu dari perempuan yang telah lama menjanda ini. Dwi sendiri memang belum menikah, namun selalu saja upahnya sebagai buruh tani harian tak pernah cukup dapat diandalkan sebagai pegangan. Aku sejenak terdiam mendengar kisah ini. Bau amis darah yang tajam kini lebih menyengat kurasa karena telah bercampur dengan peluh kemiskinan. Akhirnya, baru lima hari belakangan Bu Nur mendapat perawatan medis di RS Ngesti Waluyo ini. Terlambat sekali, pikirku! Kini lukanya terbuka menganga dan mengeluarkan nanah kental campur darah kering yang sangat bau. Aku memang merasa jijik saat harus masuk ke dalam bangsalnya pertama kali. Untuk pasien yang ‘bersih’ sekalipun, aku masih merasa enggan untuk menyentuh langsung, apalagi harus mendekati dan menolong perempuan yang satu ini. Namun demikian, tenggorokanku seketika tercekat saat air matanya terlihat mengalir saat luka-luka itu harus dibersihkan. Aku tak mampu berkata apa-apa. Selama dua puluh menit lebih luka-lukanya dibersihkan perlahan. Kulit-kulit kering bekas darah beku harus dipecahkan kembali agar jaringan parutnya dapat segera pulih dan Bu Nur dapat kembali bergerak bebas. Bu Nur mengucapkan sesuatu dalam bahasa Jawa yang tidak kumengerti, namun jelas bahwa di tengah kalimatnya terselip kata-kata ‘ampun, Tuhan’!

Air mata dan kata-kata inilah yang menyadarkanku segera bahwa yang sedang merintih di depanku ini adalah seorang manusia yang tengah bergulat dengan hidupnya, dengan pedih dan keterbatasannya. Bu Nur menangis. Dan ia menangis dalam kesendiriannya. Dwi masih pergi bekerja. Para perawat sedang bersibuk dengan kapas, alkohol dan cairan-cairan pembersih nanah. Ia menanggung segala derita itu sendirian. Bau dan rasa jijik-takutku memang tidak hilang. Kepalaku masih pusing. Ada bagian dalam diriku yang berteriak agar aku lari menyingkir dan segera pergi. Namun saat tatapanku bertemu dengan mata basahnya, segalanya mulai tampak jelas bagiku: aku tak dapat membiarkannya menderita sendirian. Tatapan Bu Nur berkisah banyak tentang rasa sakit dan kesepiannya tanpa harus berkata-kata. Mata sendunya terlalu dalam bagi kata-kata. Tidak! Aku tidak dapat meninggalkannya! Aku memang tak dapat berbuat apa-apa untuk mengobati lukanya tetapi bukankah aku dapat menjadi teman yang ikut merasakan deritanya; menjadi teman agar Bu Nur tahu benar bahwa ia tak sendirian. Maka aku berjuang untuk tetap sadar dan mengabaikan takut dan rasa jijikku. Aku berusaha untuk memberanikan diriku tetap tegak dan tinggal di sana. Kubiarkan bahuku dicengkeramnya kuat. Di sana, di bahu itu, deritanya menembus semua benteng penolakanku dan entah telah berapa lama tanganku menggenggam lembut tangan keriputnya yang tampak gemetar menahan perih hebat itu.

 “Seng sabar, yo Bu…” ujarku lirih dalam bahasa Jawa patah-patah. Ibu itu hanya menjawab dengan erangan. Berulang kali aku mengatakan kalimat yang sama. Kesabaran mungkin adalah jenis obat lain yang ia butuhkan saat ini. Kesabaran untuk menanggung segalanya dengan hati lapang. Kesabaran untuk tetap bertahan di hari-hari selanjutnya yang penuh tantangan karena pada waktu selanjutnya aku tetap menemani Bu Nur berjalan keliling kamar agar bekas lukanya tetap elastis – dan itu berarti rasa sakit kulit yang diiris-iris oleh tiap gerakan ototnya. Ya! Aku tak dapat meninggalkannya sendirian saja!

Pada hari-hari selanjutnya, aku belajar memapahnya, menyuapinya makan, mendengar ceritanya dalam bahasa yang tak kumengerti, ikut menyisiri rambutnya dan juga berdoa bersamanya walau ia Muslim dan aku Katolik. Ada begitu banyak sekat yang kami lampaui bersama ketika berjumpa dengan pengalaman keterbatasan ini. Ah, aku sendiri heran mengapa selama ini lebih sering kudengar apa yang ‘membedakan’ daripada apa yang ‘menyatukan dan menyamakan’ kita sebagai manusia. Aneka kategori identitas menjadi tenggelam saat aku hadir di sana bersama Bu Nur. Pilihanku untuk tetap tinggal dan hadir di sana bagi Bu Nur merupakan pengalaman luar biasa. Aku belajar mengenal batas-batasku sendiri dan bahkan aku belajar melampaui batas-batas itu. Tak mudah memang untuk setia dengan pilihanku. Ada kalanya aku lebih ingin berjalan ke bangsal lain yang lebih ‘nyaman’ dan ‘sejuk’, namun dengan sadar aku tahu benar bahwa pasien kelas III macam Bu Nur inilah yang paling membutuhkan uluran tangan. Bagaimana mungkin aku dapat lari dari ia yang menderita sendirian?!

Pilihan untuk tetap hadir dan setia berusaha membantu sebisanya mereka yang menderita dalam ambang batasnya juga dirasakan dalam banyak pengalaman rekan-rekan yang lain: rela hadir bagi pasien yang meneriakkan sumpah serapah karena sakit luar biasa selepas operasi otak, memilih untuk menemani dan membantu menghentikan pendarahan seorang pemuda dengan tujuhbelas luka tusuk hingga ajal menjemputnya, atau sedia mencari alamat tinggal pasien yang jenazahnya ditinggal tanpa keterangan di Rumah Sakit. Di depan warna-warna buram penggalan hidup manusia itu, rasanya tak mungkin bagi kami untuk tinggal berpangku tangan saja tanpa berbuat apa-apa. Memang – seperti telah tertulis pada bagian sebelumnya – selalu ada kesempatan untuk lari dari semua itu. Namun dalam wajah mereka yang menderita itulah kami dapat bercermin melihat ‘kemanusiaan’ kami yang sejati: ‘kemanusiaan’ yang sarat dengan derita dan keterbatasan.

Dalam banyak lakon fiksi, kita temukan sederetan figur super-hero yang membuat kita seolah yakin bahwa ada kesempatan bagi ‘kemanusiaan’ untuk tetap tinggal kokoh, teguh-tak terkalahkan. Namun, perjumpaan dengan Bu Nur dan sekian banyak pasien lain menunjukkan bahwa ‘kemanusiaan’ adalah sesuatu yang rentan, rapuh dan mudah retak. Ketika kami memilih dengan sadar untuk tetap hadir dan setia ada di sana bagi para pasien, kami mengerti bahwa justru dalam pilihan inilah kami merayakan ‘kemanusiaan’ yang sesungguhnya. Kami mengerti bahwa kemanusiaan ditampakkan bukan melulu dalam ‘sukses’, ‘potensi’ atau ‘invetarisasi kekuatan’, tapi dalam kesediaan menerima derita dan kesetiaan untuk tinggal-berada bersama mereka yang ada di ambang batas itu.

Ketika pengertian-pengertian arif ini datang kepada kami, perlahan kami menyadari bahwa bukankah dalam semua ini iman Kristiani ditunjukkan dengan terang benderang. Iman Kristiani adalah iman pada Allah yang tak pernah lari menyerah dan berpangku tangan pada manusia yang telah celaka akibat dosa. Kami kenangkan dengan kagum betapa Allah setia hadir dan menyertai kita sampai rela menjadi manusia, merasakan derita dan bahkan kematian yang keji, sepi dan gelap. Sedemikian tinggi ‘kemanusiaan’ itu di mata Allah sehingga kita tidak dapat berdiam di depan sesama yang menderita. Bila ambang batas yang gelap itu juga menjadi saat yang dipilih Allah untuk tinggal dan menunjukkan belas-kasihNya, maka iman pada Allah adalah sebuah tindakan setia solidaritas pada sesama yang menderita: sebuah iman yang dengan bergegas hadir bersama mereka yang menderita. Iman inilah yang pada gilirannya menunjukkan bahwa ada saat di mana harapan lahir dari kehadiran Allah yang terlihat dalam diri mereka yang setia menemani yang sakit. Inilah saat di mana ambang batas tidak lagi menjadi halangan untuk menghargai hidup. Inilah saat yang dengan manis disebut Sitor Situmorang dalam sajaknya ‘Cathedral des Chartres’ sebagai saat di mana ‘hidup dan kiamat dapat berpadu’…

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s