Jurgen Moltmann: Harapan dari Atas Salib

Jurgen Moltmann

Menurut Moltmann, Yesus adalah kepenuhan sekaligus pintu gerbang dari janji keselamatan Allah bagi manusia dalam cinta. Keterlibatan ini tampak dalam dinamika sejarah yang terus menerus diperjuangkan oleh manusia dalam rangka antisipasi terhadap janji Allah. Janji Allah tidak lain menghadirkan Kerajaan Allah kepada manusia. Perwujudan Kerajaan Allah dalam kehidupan manusia, meminjam istilahnya Moltmann, berarti tindakan antisipasi terhadap janji Allah. Janji Allah adalah hidup kekal. Hidup kekal telah dimulai dan senantiasa berjalan dalam dinamika relasional antara Allah dan manusia. Iman memiliki masa depan kebangkitan kalau manusia mau menerima salib.

Keterarahan yang ada dalam proses transendensi manusia dalam pengalaman ambang batasnya ‘klop’ dengan pewayhuan diri Allah sebagai ‘penyelamat’ yang berpuncak dalam pribadi Yesus Kristus. Bagaimana hal ini mungkin? Menurut Moltmann, dengan menerima salib, penderitaan dan kematian bersama Kristus, dengan menerima perjuangan dan kesesakan dalam tubuh dan menyerahkan diri pada sengsara Sang Kasih yang juga merupakan pengalaman ambang batas, iman mewartakan masa depan kebangkitan, kehidupan dan keadilan Allah dalam hidup sehari-hari di dunia.

Yesus Kristus yang menderita, wafat, dan bangkit adalah wujud solidaritas Allah, atau keterlibatan hidup Allah dalam sejarah manusia yang mengalami penderitaan. Allah pun tersalib di dalam manusia yang menderita. Yesus menjadi realitas konkret solidaritas Allah atas dasar cintakasih-Nya[1]. Tindakan Allah melalui seluruh pribadi Yesus Kristus itulah yang menjadi dasar bagi orang beriman untuk bertindak seperti Yesus Kristus, yakni melibatkan diri dalam penderitaan sesama. Lebih lanjut menurut Multman, puncak dari solidaritas Allah tampak dari peritiwa salib. Dalam peristiwa salib ditunjukkan bahwa Allah sendiri adalah Allah  yang tidak dapat berpangku tangan atau tidak dapat menjadi apatis pada penderitaan manusia. Sebaliknya, lewat salib itulah Ia menunjukkan dengan nyata sebuah hati yang tergerak dan solider mencintai manusia (pathos).[2]

Moltmann juga menegaskan bahwa salib adalah sebuah titik-peralihan di mana Allah dengan terang-benderang  sungguh terlibat dalam sejarah manusia dan akan membawa sejarah itu sampai kepada pemenuhannya di akhir zaman. Penghayatan manusia akan pengharapan eskatologik hanya mungkin ada dalam pengalaman maut di dunia ini, namun kemusnahan maut (yang negatif) dari dunia ini diangkat dalam pengharapan menjadi masa depan (yang belum) dari janji Allah dalam peristiwa Yesus Kristus yang wafat dan bangkit.

Dengan iman akan Kebangkitan Kristus, maut tidak menjadi rintangan penyerahan diri pada Allah. Maut bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Maut adalah tantangan untuk semakin mengimani Kristus secara penuh-mendalam dan mewartakanNya dengan penuh harapan akan Kerajaan Allah dan kehidupan kekal yang menjadi buah penebusanNya bagi kita.


[1] Jürgen Moltmann, The Crucified God, pro manuscripto, FTW, 2010, 78

[2] Jürgen Moltmann, The Crucified God, 81.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s