Minggu ‘Kita’ – Pengudusan ‘Kita’

“Aku ingin begini, aku ingin begitu.

Ingin-ingin-ingin ini itu banyak sekali…

La la la… Aku senang sekali Doraemon!”

Image
Sebuah Misa Mingggu di Gereja Haiti

Hari Minggu: antara Doraemon dan Kristus

Lagu ini sangat familiar di benak saya bahkan setelah saya duduk di bangku kuliah sekalipun. Figur Doraemon – si robot kucing animasi yang datang dari masa depan – ini sangat kuat tertanam dalam diri saya. Alasannya sederhana. Pertama, karena impian masa kecil saya adalah memiliki ragam alat ajaib. Kedua, karena setiap hari Minggu, Doraemon menjadi sumber perbantahan antara saya dan mama. Mama berkeras anak-anaknya ikut bersama dia ke Gereja untuk misa pagi. Sementara saya dan adik-adik merasa terlanggar haknya untuk menikmati petualangan Nobita, Shizuka dan teman-teman si kucing ajaib ini. Seperti orang-orang tua pada zamannya, bila bibir mama telah letih menghadapi kami, maka giliran rotan bertindak dan dengan mata sembab kami kemudian pergi ke Gereja.

 

Sampai saat ini keluhan masa kecil saya masih sering terngiang. Mengapa setelah hari-hariku penuh dengan kuliah, paper, diktat dan diskusi, aku tidak dapat menikmati hari Minggu? Hari Minggu-ku masih diisi dengan misa, dengan aneka pastoral, kunjungan keluarga, mengisi retret dan acara-acara lain yang meletihkan raga. Akibatnya? Senin pagi menjadi waktu di mana selimut seolah menjadi ‘kulit kedua’ yang sulit lepas dari tubuh. Seperti Garfield, tokoh kucing animasi lain, saya juga akan mengeluh: “I hate Mondays!” Keluhan macam ini juga rasanya dialami oleh banyak orang Katolik saat ini; terutama di kalangan orang muda. Ada begitu banyak alasan untuk menjadi ‘malas’ ke Gereja. Pepatah Italia yang dikutip Elizabeth – si tokoh wanita dalam film Eat, Pray and Love – sering begitu tepat kita rasakan: “Il dolce far niente” alias “Betapa nikmatnya tidak melakukan apa-apa!” Hari Minggu – entah kapan dan bagaimana – sangat bisa kita curigai telah kehilangan pesona kekudusannya karena pepatah Italia yang satu ini telah dihayati begitu dalam oleh masyarakat modern. Minggu lantas menjadi hanya memiliki arti ‘bersenang-senang dan bersantai’. Minggu menjadi sebatas ‘hari libur’ atau ‘tanggal merah’ yang maknanya dipisahkan dari pengudusan hidup kita.  

 

Ekaristi Minggu dan Pengudusan Hati Kita

Pengudusan? Ya! Bagi kita, umat beriman Katolik, hari Minggu adalah hari yang luar biasa istimewa karena unsur pengudusan ini. Hari Minggu tidak hanya menjadi waktu untuk ‘beristirahat’ seperti Allah ketika selesai menjadikan dunia dan ciptaan pada hari ketujuh sebagaimana begitu ketat dijaga dalam aturan-aturan Sabat Yahudi. Hari Minggu mestinya lebih bernilai bagi orang Kristiani. Pada hari itu, secara istimewa kita merayakan, mengenangkan dan menghadirkan kembali Kebangkitan Kristus yang telah menebus kita. Alasan ini mungkin terkesan terlalu religius bagi mereka yang hidup dalam dunia sekular. Saya bayangkan alis mata mereka dengan cepat naik sebelah karena alasan ini. Namun, jelas Gereja tak punya alasan yang lebih baik menganjurkan agar jemaatNya berkumpul sebagai Gereja, satu Tubuh Kristus di hari Minggu selain alasan ‘perayaan kebangkitan’ yang menjadi pusat pengudusan hidup para pengikut Kristus. Dengan mengambil bagian dalam Ekaristi hari Minggu, kita mengambil bagian dalam roti yang satu dan piala yang sama untuk menghadirkan kembali kasih Tuhan yang memberika diriNya dalam hidup, sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus. Idealnya, perayaan Ekaristi Minggu kta rayakan dengan agung dan meriah. Sayang, realitas kadang berbicara lain. Saya sering mendengar keluhan bagaimana Ekaristi Minggu menjadi sesuatu yang membosankan – terutama bagi orang-orang muda. Bayangkan: dari tiga ribu orang umat, hanya sekitar tigapuluh manusia dengan label ‘anggota koor’ yang membuka mulut dan bernyanyi. Belum lagi kita mendengar homili beberapa imam yang kurang menyentuh dan membosankan.

 

Bila menghayati hari Minggu berarti pertama-tama merayakan pengudusan dalam Perayaan Ekaristi, maka saya merasa bahwa sangatlah penting bagi para Imam dan Umat untuk menyadari bahwa Perayaan ini mesti menjadi sebuah keterlibatan aktif yang hidup, menyentuh dan berdaya ubah. Kita tidak perlu menjadikan Ekaristi menjadi kebaktian Gereja denominasi Protestan Evangelikal yang meriah dengan musik pop menghentak atau kotbah yang berapi-api. Kita tidak pertama-tama memerlukan itu agar Ekaristi minggu menjadi ‘hidup’ dan ‘partisipatif’. Bila umat pelan-pelan mendalami makna Ekaristi dalam banyak buku sumber dan dalam katakese para imam, kita juga akan menumbuhkan hati baru yang terbuka pada pengalaman akan Allah. Penghayatan kita akan Ekaristi menjadi ‘kering’ saat kita tidak mengenal makna di balik ‘simbol-simbol’ sakramen yang sedang dirayakan. Usaha para imam untuk mengajarkan teologi ekaristi dengan sederhana, mendalam dan menarik sangatlah penting. Tentu hal ini hanya satu dari sekian banyak usaha menghidupi pengudusan dalam Ekaristi Minggu.

 

Istirahat yang Mengalir Dari Kekudusan

Tentu saja pengudusan dalam Ekaristi itu akan lebih berdaya-guna apabila raga kita juga dalam keadaan baik. Sulit membayangkan bahwa orang yang kelelahan akan dapat menghayati Ekaristi dengan baik. Maka, dengan bijak kita juga harus memberi perhatian pada soal ‘istirahat’ fisik. Lantas, salahkah bila di hari Minggu kita benar-benar beristirahat? Tidak! Kesempatan istirahat itu adalah kesempatan untuk menunjukkan pada dunia kita saat ini bahwa ‘berhenti dan beristirahat’ bukanlah sebuah ‘dosa’. Henri Nouwen pernah mengatakan bahwa manusia saat ini sulit ‘berhenti’ dari pekerjaannya. Ia seolah dikejar oleh target dan pencapaian, oleh prestasi dan lalu merasa mejadi berarti saat melakukan sesuatu. Orang lantas sering merasa berdosa saat tidak melakukan apa-apa. ‘Berhenti’ menjadi asing dalam dunia yang disebut oleh Giddens – seorang filsuf terkenal – sebagai ‘dunia yang sedang berlari.’ Istirahat selalu penting dan baik, apalagi bila istirahat kita ada dalam dan bersama keluarga. Yang penting, istirahat Anda tidak mengasingkan Anda dari diri Anda, dari sesama dan dari Tuhan sendiri… Seolah dengan istirahat ‘total’ di hari Minggu, diri kita menjadi milik kita sendiri dan Tuhan serta sesama diasingkan dalam wilayah kita sendiri.

 

Timothy Radcliffe, OP dalam buku terkenalnya What is the Point of Being Christian, mengisahkan bahwa kita mesti belajar berkata ‘kita’ di tengah dunia yang makin akrab dengan individualisme. Mudah bagi saya untuk merasa ‘dikorbankan’ saat meng-klaim hari Minggu sebagai “hari Minggu-ku“. Doraemon dan waktu bersantai terpaksa dihilangkan karena harus ke Gereja. Namun, saat saya meyakini hari Minggu sebagai “Hari Minggu kita“, saya akan belajar menjadikan hari khusus ini sebagai kesempatan untuk membiarkan pengudusan yang kita alami mengalir juga bagi keluarga, tetangga, dan orang-orang yang tinggal di sekitar kita. Bukankah kesempatan istirahat kita di hari Minggu itu menjadi spesial justru bukan karena saya tidur atau menonton sepanjang hari, melainkan karena saya membiarkan diri mengasihi dan dikasihi lebih oleh keluarga, oleh masyarakat kita?

 

Minggu dan Misa yang Terus-Menerus

Ven. Jean Leon Dehon, pendiri Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus (SCJ), pernah mengatakan: “hidup kita hendaknya menjadi sebuah Misa yang terus menerus…” Pater Dehon tidak memaksudkan bahwa kita harus pergi misa sepuluh kali sehari. Tidak!  Pater Dehon melihat bahwa di dalam Ekaristi kita dipersatukan secara istimewa dalam Kristus. Salah satu ayat favorit Dehon adalah Gal 2:20: “Bukan aku yang hidup dalam diriku, tapi Kristuslah yang hidup di dalam aku!” Persatuan dengan Tuhan inilah yang menjadikan hidup kita seperti sebuah ‘misa yang terus-menerus’. Panggilan bersatu dengan Allah: inilah panggilan Paskah yang kita rayakan dalam hari Minggu dan mengalir untuk hari-hari lainnya. Kita menjadi seorang “mistikus” yang membawa sifat-sifat Allah dalam keluarga, tempat kerja dan masyarakat lebih-lebih dalam 6 hari setelah hari Minggu yang penuh berkat. Semoga setiap hari Minggu kita menjadi berkat luar biasa untuk semua yang kita jumpai!

 

dimuat di Majalah UTUSAN edisi April 2012

Advertisements

One thought on “Minggu ‘Kita’ – Pengudusan ‘Kita’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s