Tragedi “9/11”: Felix Culpa Est

“Tak mungkin lagi aku membenci celeng... –
Dan saat itu ia sungguh mengerti, mengapa,
untuk membebaskan diri dari celeng, ia mesti bertanya kepada celeng.”
(Sindhunata, Tak Enteni Keplokmu)
Monumen bagi korban tragedi 9/11

 

Sembilan tahun telah berlalu ketika pembajakan empat pesawat terbang yang ditabrakkan ke menara World Trade Center (WTC) dan Pentagon itu terjadi. Gelombang reaksi masif-pun lahir di seluruh pelosok dunia yang terperangah. Sebagian besar reaksi itu berisi sesal dan kutukan karena memang nyatanya peristiwa tersebut adalah sebuah kejahatan melawan kemanusiaan. Rantai penjelasan yang dibuat lalu banyak berkait seputar isu terrorisme. ‘Terror’ menjadi isu panas yang bergulir sedari obrolan anak SD hingga konferensi para pemimpin bangsa-bangsa. Namun, adakah ‘terorisme’ menjadi satu-satunya kunci untuk menjawab pertanyaan, “mengapa lembar buram ‘9/11’ itu harus terjadi?”

 Di tengah dunia yang sedang ‘meng-global’, meledaklah kemarahan mereka yang menjadi ‘korban’ disparitas yang terus tumbuh setinggi busung menara kembar WTC. Mungkinkah tabrakan maut yang sengaja itu pun pula hendak mengkritik kapital perdagangan transnasional yang menjadi perancang globalisasi?

 Inkohenrensi Ekonomi

Menurut Ettiene Perrot, seorang profesor ekonomi dan etika sosial di Universitas Paris,  globalisasi dapat dengan mudah dimengerti sebagai akumulasi dari internasionalisasi dan homogenisasi yang bergerak pertama-tama dan terutama dalam tataran ekonomi (“The Ambiguities of Globalization” dalam Concilium, 2001/5). Kesadaran mondial yang telah terpupuk sedari penemuan ‘dunia-dunia baru’ pada zaman eksplorasi bahari sepanjang sejarah peradaban manusia telah membuatnya lekat pada bahasa ekonomi dan dominasi. Sementara, kolaborasi sains dan teknologi di zaman modern telah menambahkan banyak kemungkinan baru untuk berkomunikasi dan bertukar informasi, yang menjadi imperatif penguasaan ekonomi. Namun kemajuan itu tak lalu serta merta berarti kemajuan dalam solidaritas manusiawi yang inter-subjektif.

 Globalisasi, pada mata pedang negatifnya, justru telah menyulam paksa inkoherensi dalam tata perekonomian lokal; sebuah tindakan destabilisasi yang dilahirkan dari banyaknya kemungkinan pilihan produksi dan konsumsi. Batas kepemilikan-pun tak lagi dikungkung oleh teritorial, tetapi oleh kapital sehingga struktur negara hanya menjadi salah satu pusat dari masyarakat yang kompleks. Sekian banyak perusahaan multi-nasional tumbuh subur sementara sumber-sumber kemakmuran lalu hanya menjadi hak mereka yang bermodal kuat, bukannya mereka yang miskin. Bantuan moneter (baca: utang) yang berbanjiran datang dari lembaga-lembaga supranasional, seperti IMF, Bank Dunia, justru menjadi jerat bagi struktur negara berkembang. Ilusi ‘standar kemajuan’ yang ditawarkan oleh negara dunia pertama akan menggiring negara dunia ketiga menjadi ‘negara-gagal’  ketika pesona sumber dayanya telah habis diserap secara tidak adil.

“Cerita Kecil” tentang “Orang Kecil”

Pada kutub sosial, inkoherensi ekonomi itu telah mencipta sebuah ‘dunia maya’ yang menjadikan ‘the haves’ sebagai cita-cita dan bahwa ada seribu-satu cara instan untuk mengatasi seluruh persoalan. Cerita besar tentang ‘dunia maya’ yang dilihat para pialang dari balik kaca jendela menara WTC tentu sangat berbeda dengan cerita kecil para ‘korban globalisasi’ yang kakinya masih tertanam di tanah kemiskinan, tanah realitas. Cerita kecil seorang bocah bernama Arifin, misalnya, bertutur pahit tentang pilihannya gantung diri karena putus asa tak mampu membayar SPP kedua adiknya. Sementara, narasi kecil lain berkisah tentang seorang TKI yang harus bergantung dengan jalinan kain di ketinggian apartemen demi melarikan diri dari majikan yang kejam atau cerita seorang ayah yang dihajar massa karena terpaksa mencuri demi sesuap nasi bagi anak-anaknya.

 Globalisasi, sebagaimana proses perubahan sosial lainnya, nyatanya selalu menciptakan pemenang dan korban. Para advokat globalisasi memuja globalisasi sebagai ‘kunci bagi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran manusia.’ Memang ada dasar empiris di atas kertas bahwa kondisi kehidupan di semua negara meningkat pasca bergulirnya globalisasi, apalagi jika diukur dengan indikator yang lebih luas. Namun seringkali teriakan mereka yang miskin dan menjadi korban inkoherensi ekonomi ini dibisukan di hadapan riuh-rendahnya transaksi arus besar di pasar global.  Tak heran bila pada satu titik, akumulasi murka dan tangis korban kesenjangan ini menghantam menara-menara gagah seperti WTC agar dunia mau mendengar impian dan, yang terutama, kritik mereka.

 Dari Kritik ke Diskursus: “Felix Culpa”

Bila kita sempat dengan bijak mengubah kritik menjadi diskursus, sebagaimana dilontarkan oleh Jurgen Habermas (F. Budi Hardiman, Filsafat Fragmentaris, 2007), tragedi ‘9/11’ itu dapat menyimbolkan soal lain yang melebihi daya mata telanjang kita. Diskursus mengandaikan problematisasi publik dan merangsang semua orang untuk bergegas meluaskan jawaban dan argumen rasional, hingga soal ‘terorisme’ tidak berhenti pada dirinya sendiri. Perluasan ini dapat dengan jujur melampaui tembok-tembok kepentingan politik tertentu dan berujung pada satu terma lain: globalisasi.

 Biarlah luka ‘9/11’ menjadi sebuah felix culpa  – “dosa yang yang membahagiakan” – sejauh ia diingat dan terus menjadi diskursus yang membuat manusia sesudahnya belajar untuk tidak menutup telinga pada teriakan para korban. Biarlah globalisasi dan imbasnya terus diproblematisasikan, agar wawasan rasional publik makin luas hingga tahu meneriakkan hak-hak para korban demi membangun solidaritas manusiawi yang lebih baik. Bila sebagian dunia hadir dengan cengkeraman dominasi ekonominya yang seolah membenci mereka yang miskin layaknya membenci celeng (babi hutan), kita dipanggil untuk menjumpai, menyentuh dan bertanya pada arak-arakan celeng itu. Siapa tahu, seperti digores Sindhunata dalam novel klasiknya Tak Enteni Keplokmu, kita akan mampu merasakan betapa tak mungkin membenci celeng yang kita jumpai di sepanjang lorong hidup kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s