(Krisis) Intelektual Kritis: Catatan bagi ISKA

“Hanya dalam cahaya iman dan berkat renungan sabda Allah, manusia dapat selalu dan di mana-mana mengenal Allah
– ‘kita hidup, bergerak dan ada di dalam Dia’ – dalam segala peristiwa mencari kehendakNya,
memandang Kristus dalam semua orang, entah mereka termasuk kaum kerabat entah tidak,
mempertimbangkan dengan cermat makna serta nilai-nilai duniawi yang sesungguhnya, dalam dirinya maupun sehubungan dengan tujuan manusia” (AA 4)

 Dewasa ini, media dengan begitu gamblang mempertontonkan wajah kebangsaan yang tergagap-gagap menghadapi isu formalisme agama, terorisme, menjalarnya korupsi, karut-marutnya kebijakan pemerintahan, rekayasa tata peradilan, hingga rakyat yang makin sulit mencari makan dan kisah kecil yang terselip di antara narasi besar itu tentang Rio, bocah SD yang memilih gantung diri karena tak bisa membayar SPPnya. Kita dengar-saksikan pula sekian banyak komentar (dan sungguh… bahkan kadang dirasa terlampau banyak) atas galaunya hidup berbangsa kita ini. Banyak kalangan yang gelisah dengan semua hal yang kita alami belakangan ini, namun tidak sedikit pula yang merasa ‘aman-aman’ saja karena sekat antara mereka dan derita bangsa masih terlalu tebal atau karena hati mereka telah bebal.

 Satu kalangan yang mestinya bergulat paling dalam dengan kegelisahan akan coreng-moreng bangsa ini adalah kalangan intelektual – kalangan yang secara khusus mengabdi pada proses pembelajaran dan buah-buah pemikiran dalam ranah ilmu pengetahuan. ‘Modalitas’ – meminjam istilah Anthony Giddens dalam teori perubahan strukturasinya – kaum terpelajar ini terletak pada kemampuannya untuk menganalisa secara lebih dalam fenomena-fenomena yang terjadi di sekelilingnya sesuai dengan paham keilmuan yang ia geluti. Sayang memang, bahwa modalitas ini tak selalu berbanding lurus dengan kepekaan dan rasa tanggung jawab yang juga mestinya dimiliki oleh para intelektual. Pengetahuan yang dimiliki lalu hanya sebatas diketahui dan menjadi wacana – dan tidak menampakkan pengubahan yang lebih baik bagi masyarakat. Pengetahuan kehilangan dayanya untuk mengubah. Theoria dalam trilogi pengetahuan Plato kemudian tidak lagi disandingkan dengan poecis dan praxis – tuntutan pengetahuan untuk mengubah kondisi masyarakat menjadi lebih baik. Kondisi dasar macam inilah yang menciptakan disposisi bagi kekosongan ideologi dalam masyarakat kita.

 Kekosongan ideologi, menurut J.G. Blummer, lahir dari resistensi masyarakat terhadap golongan intelektual yang hanya pandai ‘berteori(a)’ dan tak mampu secara serius melawan arus maha dahsyat dari kapitalisme global dan komersialisasi gaya hidup. Di media televisi saat ini, sebagai contoh nyata, peran para intelektual dengan begitu mudah disandingkan dengan komentar warga biasa, pandangan orang yang hanya lewat di tepi jalan raya, atau talkshow interaktif dengan telepon. Apa artinya ini semua? Di sisi positif kita dapat pertumbuhan komunikasi publik yang menantang peran serta lebih besar dari lapisan masyarakat. Di sisi lain, kita justru ternganga karena legitimasi dunia intelektual makin tergeser dan hanya menjadi bagian dari marketing policy dari sekian banyak pemangku kepentingan media dan politik. Dan sekali lagi, para intelektual yang tidak sungguh memberi sumbangsih ‘mengubah’ dalam masyarakat akan kehilangan legitimasinya dengan segera.

 Kegelisahan atas kacaunya tatanan hidup berbangsa kita ini mengandaikan adanya ideal yang lahir dari analisa dan visi ke depan yang dimiliki kaum intelektual kita. Dalam istilah yang lebih baku, ‘kegelisahan’ atau lebih tepatnya ‘kemampuan untuk menjadi gelisah’ ini dinamakan juga kritisisme. Kritisisme ini menolak pola keberpusatan pengetahuan. Ia selalu mencari celah kebenaran pengetahuan hingga di periferi – di bagian pinggiran yang bahkan tak diperhitungkan. Lebih jelasnya, ia menolak menerima begitu saja fenomena sebagai fenomena. Kritisisme intelektual menuntut penjelasan alternatif yang ada di luar zona nyaman (nyaman akibat pangkat kedudukan yang tinggi atau, lebih parahnya, nyaman akibat malas berpikir).

 ISKA – Ikatan Sarjana Katolik – dalam kaitan dengan pemikiran-pemikiran ini – juga memiliki peran  besar dalam mengisi ‘kekosongan ideologi’ masyarakat Indonesia saat ini. Sebagai wadah bertemunya para intelektual Katolik, ISKA mestinya bertanya diri pula: apakah dirinya juga (masih bisa) gelisah dengan situasi kebangsaan saat ini – dan yang lebih penting – apakah sumbangsih pengubahan yang ia berikan bagi masyarakat sekitarnya dan bagi Gerejanya? Yang membuat ISKA istimewa bukan hanya kemampuannya untuk menjadi ‘kritis’ dalam membaca tanda-tanda zaman hingga berdaya ubah dan mendatangkan sesuatu yang konkret bagi masyarakat (baca: pragmatis), namun lebih-lebih kesetiaannya pada ajaran dan tradisi suci dari gereja Katolik. Mgr. Ignatius Suharyo, Pr., dalam buku visionernya, The Catholic Way, mengatakan bahwa sifat ke-Katolik-an inilah yang membuat orang-orang Katolik terlibat secara terbuka dan bagi semua – bukankah arti Katolik sendiri adalah ‘umum’, ‘terbuka’ dan ‘bagi semua orang’. Nilai inilah yang dirindukan oleh bangsa kita.

 Para intelektual Katolik tidak cukup mengembangkan kekritisan yang pragmatis saja karena bila demikian intelektual Katolik tidak berbeda dengan Dengan kesetiaannya pada nilai-nilai (dan bahkan ideologi) Kristiani, ISKA bahkan dapat digambarkan sebagai sebuah badan yang membawa suara kenabian untuk zaman ini – suara profetis yang yang dapat menjadi pegangan bagi orang-orang pada zaman ini untuk bersama-sama bertindak.

 Tiga poros inilah yang harus menjadi diskusi kita bersama: kritisisme – pragmatisme – dan suara profetis! Dalam tiga poros inilah kita melihat peran dan sumbangan ISKA secara holistik bagi Indonesia dan Gereja. Mungkinkah kita menjadi seorang intelektual yang ‘hatinya tergerak’ (kritis) dan lalu bertindak meng-ubah dengan daya analisa yang kuat (pragmatis) sembari tetap setia dan berpedoman pada ajaran dan tradisi suci Gereja Kristus yang kita cintai (profetis)? Seharusnya, ini bukan sebuah kemungkinan lagi… melainkan sebuah keniscayaan bila ISKA sungguh ingin berbuah sepuluh, seratus dan seribu kali lipat!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s