Harapan Bersayarat dari Media dan Institusi Agama

Dari banyak percakapan yang saya dengar di warung makan tepi jalan hingga di pusat-pusat kajian ilmiah, ada fenomena menarik: krisis kepercayaan pada pejabat publik dan bangunan negara ini sangat parah.  Pesimisme terhadap mereka yang mengaku diri sebagai ‘penguasa’ mewabah di mana-mana. Sebenarnya, pesimisme tak selalu buruk. Pesimisme juga awalnya datang dari polaritas kesadaran seseorang atas harapan akan sebuah ideal, harapan untuk menjadi lebih baik. Harapan inilah yang harus diusahakan oleh dua institusi penting non-Pemerintah yang (semestinya) menjaga jarak dengan para pejabat publik: media massa dan institusi keagamaan.

Peran Institusi Keagamaan: menjaga tajamnya suara hati…

Cerita Baik untuk Berita yang Baik

Pertama, media massa dapat menjadi agen perubahan luar biasa karena tugasnya sebagai pembawa ‘kebenaran’. Sayang bahwa kebenaran tak pernah telanjang. Ia selalu memiliki konstruksi persepsi dan tak pernah bebas kepentingan. Bila kepentingan media massa sungguh terletak pada kebangkitan rakyat untuk menjadi lebih baik, saya pikir isi kebenaran yang disampaikan mestinya tidak berhenti pada sensasi sesaat saja. Berita buruk tentang pejabat publik dan kondisi bangsa ini tidak cukup berhenti hanya pada informasi. Rakyat kebanyakan juga punya hak untuk mendapatkan “jalan keluar” dari khaos yang ditimbulkan berita. Pesimisme di akar rumput terhadap kondisi bangsa ini terjadi karena media tak dapat menjawab pertnayaan utama “So, what?” setelah informasi skandal dan kasus mega-raksasa itu selesai diwartakan.

Bukankah mahfum di dunia media adanya pameo dalam dunia jurnalistik bahwa ‘cerita buruk adalah berita yang baik’? Mungkin ini yang menyebabkan banyak orang muda kita tak percaya lagi pada media massa dan memilih blog, twitter atau wordpress di internet untuk mengapresiasi ‘cerita baik’ sebagai ‘berita yang baik’. Saya sendiri jarang menemukan berita baik yang menginspirasi bangsa ini untuk menjadi lebih maju dalam surat kabar atau dalam berita televisi. Tidaklah salah media mengangkat aneka pemberitaan tentang carut marutnya negeri ini, namun apakah proporsi ‘cerita baik’ juga diperhatikan? Di kalangan masyarakat telah banyak muncul jaringan kebaikan yang dapat menjadi ‘cerita dan berita baik’. Ada kelompok pencinta lingkungan hidup, pemerhati soal-soal sosial, kelompok anti korupsi, dan banyak lagi yang menunggu untuk diwartakan media massa. Jawaban yang dirindukan rakyat dari media adalah jaringan kebaikan yang muncul di akar rumput dan informasi bagaimana seseorang dapat bergabung di dalamnya. Inilah yang disebut oleh Jürgen Habermas sebagai ‘diskursus publik’ yang bertujuan untuk mengubah informasi menjadi formasi masyarakat.

Media: Kabar Buruk adalah Berita Baik?

Iman (Institusi) Agama demi Kemanusiaan

Institusi keagamaan – mengacu pada teori perubahan struktur Anthony Giddens – adalah sebuah modalitas penting dalam proses reparasi situasi kebangsaan ini. Dengan mendaku diri sebagai negara berke-Tuhan-an Yang Maha Esa, Republik ini mengizinkan institusi keagamaan memberi pendasaran moral-etis bagi tiap tindakan warganya, termasuk juga di bidang politik. Sayangnya, masih ada jua institusi keagamaan yang hanya menyibukkan diri pada ritus kesalehan dan hukum-hukum suci daripada membuka pada dan bersikap pada soal kemiskinan, korupsi, pengangguran, ketidak-adilan. Belum lagi ada institusi keagamaan yang mengeluarkan aturan sektarian dengan mengatakan bahwa tak layaklah memberi ucapan hari raya pada mereka yang beragama lain. Sebagai benteng moralitas, institusi keagamaan tak boleh menumpulkan kekritisannya pada tata politik yang kacau-balau, turut bermain di dalam amisnya korupsi di tubuh Pemerintahan dan bersembunyi di balik topeng kekudusan. Hormat dan bakti pada Sang Pencipta tak boleh berhenti pada soal ortodoksi ajaran, soal legalisme agama, atau soal laku-doa, tetapi juga harus sampai pada perjuangan untuk hormat seluas-luasnya bagi kemanusiaan dan perdamaian seluruh tata ciptaan.

Langkah para pemuka agama di negara ini yang beberapa waktu lalu mengatakan Pemerintah berbohong dan melalaikan janji-janjinya adalah satu langkah besar yang patut dihargai. Sayangnya seruan itu tak diikuti dengan kesepakatan prksis yang konkret, misalnya edukasi kejujuran dan keutamaan moral dalam seluruh lini sekolah yang ada di bawah kuasa pemuka agama. Edukasi demi habitus baru ini bagaimanapun tetap menjadi jalan utama perubahan sosial. Ada contoh menarik dari negeri seberang. Seorang Imam Katolik dari Perancis, Ven. Jèan-Lèon Dehon, pernah menyerukan agar rekan-rekan pastornya keluar dari bangunan Gereja dan pergi menjumpai-mendidik umat-buruh yang menderita akibat revolusi industri. Dehon menugaskan para pastor bawahannya juga untuk bekerja di pabrik-pabrik agar dapat menjadi teman dan pendidik bagi orang-muda di sana sembari menyadarkan hak-hak kelompok buruh memperjuangkan hukum yang lebih adil di tingkat Kongres Rakyat. Apakah negara ini juga memiliki pemuka agama yang dapat menyeimbangkan praktek kesalehan dengan praksis edukasi sosial?

Mungkinkah Perubahan Itu?

Perubahan dapat datang bila dua institusi ini bersama melakukan otokritik atas posisi mereka yang sekarang dan dengan jelas menggariskan keberpihakan pada rakyat dengan tugas dan fungsi mereka. Tentu godaan tetap besar karena baik media massa maupun insitusi keagamaan tetap membutuhkan harta dan kuasa dalam porsinya untuk dapat bertahan hidup. Dalam pesimisme yang kental ini, kita dapat menunjukkan bahwa harapan bagi Indonesia dapat datang dari surat kabar di tangan kiri dan Kitab Suci di tangan kanan. Harapan ini baru mungkin kalau kedua institusi besar itu belajar mengendalikan nafsunya atas harta dan kuasa. Jadi, mungkinkah? Demi bangsa yang besar ini, jawabannya mestinya niscaya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s