Agama yang Ter(per)ang(ah)

 

Pendeta Terry Jones

Banyak orang terperangah saat mendengar rencana Terry Jones – seorang pendeta Kristen dari Florida, AS  – yang hendak membakar Al-Quran. Kecaman atas rencananya itu datang mengalir dari berbagai pelosok dunia, bahkan dari putri kandungnya sendiri. Aneka reaksi itu menunjukkan setidaknya satu hal positif: sakralitas yang tersimbolkan dalam Kitab Suci masih mendapat tempat dalam dunia yang makin modern ini. Minimal sekali, sakralitas dan nilai agama diperhitungkan sebagai salah satu tonggak hidup sosial yang utama. Namun demikian, kasus Terry Jones ini juga makin meyakinkan saya akan dua hal lain. Pertama, bahwa jurang antara sakralitas simbol agama dengan kemanusiaan justru terasa makin terbentang lebar. Kedua, semakin diperlukanlah sebuah kesadaran kolektif yang selalu kritis pada ragam-rupa wacana agamis sehingga teologi agama-agama sungguh juga mengabdi dan terarah pada perkembangan manusia yang lebih manusiawi.

 Kesucian versus Kemanusiaan?

Seraya meneriakkan kecaman pada rencana Jones membakar Al Quran, kita hendaknya tak boleh lupa bahwa sakralitas manusia juga harus diperjuangkan secara serius. Simbol-simbol sakral-agamis seperti Kitab Suci begitu dilindungi dari pencemaran dan perusakan karena ia sangat jelas menjadi wujud kehadiran dari Yang Ilahi sendiri. Dan mestinya, demikian pula yang mesti terjadi dengan kemanusiaan dalam hidup sehari-hari. Kasus Jones ini menjadi semacam pengingat kembali bahwa bukan hanya Kitab Suci, tetapi juga terutama manusia dalam tradisi agama-agama Abrahamis mendapat tempat utama dalam kosmos. Manusia dalam banyak cara digambarkan sebagai wakil Allah di dunia. Jones lupa bahwa dengan membakar Al-Quran, ia sama-sekali tidak dapat menista langsung Allah yang Maha Agung dan Maha Mulia. Penghinaan itu justru pertama datang karena ia melukai kerinduan terdalam manusia akan Allah yang terumuskan dalam kalam ilahi. Sejauh Jones menyakiti sesama manusianya dengan rencana itu, ia menyakiti ‘hati’ Allah sang Pencipta.

Rencana Jones tidak dapat melukai ‘Allah’ dan ‘Islam’ secara masif-anonim saja. Jones lupa  bahwa manusia yang mencintai Allah dan SabdaNya itu sungguh – meminjam istilah Levinas, sang filsuf Prancis – ‘berwajah’ dan ‘tidak anonim’. Ia menyakiti teman SD saya Muhammad Kurniawan. Ia menyinggung hati Bang Soleh yang adalah pengisi bensin di SPBU samping rumah saya dan Bu Yanti yang menjadi koki favorit keluarga. Artinya, ikatan makna dan persepsi yang menghasilkan sikap dan tindakan itu juga selalu bersifat relasional-personal. Terry Jones dengan mudah berencana membakar Al Quran karena rasanya ia tidak pernah sungguh mengenal wajah manusia Muslim sejati yang penuh kasih sebagaimana ditulis oleh Al. Andang L. Binawan dalam “Terima Kasih Islam!” (Kompas, 8/9/2011).

Rencana penodaan terhadap Al Quran oleh Jones mestinya membuat kita berpikir lebih jauh tentang sakralitas kemanusiaan kita. Anda, saya dan kita sendiri juga mungkin pernah turut terlibat ‘melukai’ liyan lewat perkataan atau tindakan yang kurang terpuji tanpa merasa bersalah karena moral (pemuka) agamaku mengajarkan bahwa pemeluk agama lain adalah sesat dan harus dihancurkan. Ada pertanyaan besar di balik reaksi atas rencana pembakaran Al Quran itu: sudah jauhkah ‘kesucian’ itu dari ‘kemanusiaan’ dalam hidup kita sehari-hari?

Falsifikasi dan Humanisme Praktis Teologi

Supaya jurang antara keduanya dapat terjembatani, dibutuhkan pikiran yang kritis pada semua wacana agamis; terutama yang datang dari para pemuka agama. Dalam pendekatan strukturasi Giddens, agama merupakan modalitas kekuasaan yang berasaskan norma-nilai. Oleh karena itu, modalitas yang terutama dimiliki oleh pemimpin agama mesti diimbangi dengan nalar kritis para pengikutnya agar teologi dan prinsip hermeneutika yang dikembangkan selalu terbuka pada falsifikasi. Previlegi normatif agama yang terletak pada infalibilitasnya (ke-tidak-dapat-salah-an) mesti terus dikaji dan ditafsirkan dengan teliti. Hans Küng, seorang teolog Katolik, misalnya membangun sebuah kriteria universal bagi agama-agama dunia agar dapat dikatakan sebagai ’benar’, yaitu: humanum alias ’kemanusiaan’.

Ia mengatakan dalam etika globalnya bahwa hanya agama yang sungguh mengabdi dan membela kemanusiaan-lah yang layak disebut sebagai ’benar’. Maka, rencana pendeta Jerry yang melukai sedemikian banyak orang secara objektif dapat dikatakan sebagai ’ajaran yang salah’. Orientasi dan keberpihakan pada liyan yang ditunjukkan Obama dalam dukungannya terhadap pembangunan masjid di kawasan Ground Zero adalah suatu tindakan etis yang heroik dan ungkapan iman yang hidup. Nalar budi yang terbuka dan disertai pertimbangan etis-humanis tanpa prasangka-lah yang akan dapat membuat agama kita menjadi agama yang mudah terperangah bukan hanya saat Kitab Suci kita hendak dinista, tetapi juga saat martabat kemanusiaan liyan disakiti dan direndahkan. Tentu saja terperangah tidak pernah cukup! Agama juga harus menumbuhkan iman yang hidup pada Allah, iman yang setia dengan ajaran masa lampau dan bergelut untuk soal hari ini seraya memberi harapan pada masa depan. Hanya dengan demikian, agama dapat menjadi terang bagi dunia yang makin kelam oleh kejahatan dan kekerasan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s