Aloysius Pieris, SJ: Sebuah Teologi dengan Rasa Asia

Albertus Joni, SCJ

(koko_scj@yahoo.co.id)

Riwayat Singkat Hidup Aloysius Pieris

Fr. Aloysius Pieris, S.J., pendiri-direktur dari Tulana Research Center for Encounter and Dialogue di Kelaniya, Sri Lanka, adalah seorag teolog ternama, cendekia Buddhisme dan indologis. Lahir di Sri Lanka pada 9 April 1934 dan masuk Serikat Yesus pada 23 Desember 1953.

Gelar ThD didapat dari  The Catholic Theological Faculty di Tilburg, Belanda dan PhD dalam Kajian Buddhis dari Pali dan Buddhist University of Sri Lanka di Colombo. Beliau mengajar di pelabagi universitas dan institusi pendidikan. Ia juga seorang anggota redaksi jurnal teologi internasional yang terkenal, Concilium.

 

Pokok Pemikiran Pieris tentang Inkulturasi

  1. Inkulturasi Barat yang Tak Dapat Diterapkan di Asia
  2. Gambaran Kristus “Guru’” dan Konteksnya
  3. Rasa Asia dalam Metode Teologi: Usaha Inkulturasi (?)
  4. Kristianitas dan Kristus yang Non-Kolonialis: Menuju Rasa Asia
  5. Baptisan Yesus: Disposisi bagi Inkulturasi di Asia
  6. Tradisi Monastik Buddhis dan Kristiani sebagai Pintu Masuk

 

Inkulturasi Barat yang Tak Dapat Diterapkan di Asia

Indigenisasi – yang merupakan istilah lain dari inkulturasi – bagi Pieris mempunyai 4 tradisi:

  1. Model Latin: penjelmaan dalam kebudayaan non-Kristiani.
  2. Model Yunani: asimilasi filsafat non-Kristiani.
  3. Model Eropa Utara: penyesuaian pada kereligiusan non-Kristiani.
  4. Model Monastik: mengambil bagian dalam spiritualitas non-Kristiani.

 

Inkulturasi model 1 dan 2 sudah diterapkan sejak De Nobili dan Ricci. Al. Pieris berpendapat bahwa kedua model inkulturasi ini dapat diterapkan di Asia dewasa ini. Ada 4 alasan Pieris:

  1. Teologi agama-agama yang meresapi tradisi Latin-Yunani tidak membantu di Asia, di samping tidak sesuai dengan pandangan KV II.
  2. Pemisahan agama dari kebudayaan dan agama dari filsafat tidak sesuai dengan alam pikir masyarakat Asia.
  3. Model Greko-Roma telah mewariskan kepada Gereja, yakni “teori instrumental” (menurut analisis Pieris) inkulturasi yang begitu saja diterima dalam teologi Barat.
  4. Lingkungan historis seputar Gereja pada masa awal di Laut Tengah sangat berbeda dengan lingkungan Asia abad ke-20.

Pada awal abad pertengahan, Eropa Utara dikenal dengan masyarakat klan, dan di Asia adalah masyarakat suku. Kebudayaan keduanya (Eropa Utara dan Asia) pada dasarnya dapat dilukiskan sebagai religius (kosmik-animis). Kebudayaan itu berlawanan dengan agama-agama metakosmis yang menuntut adanya Realitas transfenomenal yang secara imanen bekerja dalam kosmos dan secara soteriologis ada dalam jangkauan manusia.

Dua macam agama (kosmis dan metakosmis) dapat berhubungan satu sama lain sebagai pelengkap alamiah. Agama metakosmis tidak dapat berakar kuat (diinkulturasikan) dalam masyarakat suku kecuali dalam konteks agama kosmis mereka. Sebaliknya, agama kosmis merupakan spiritualitas yang terbuka yang menunggu orientasi transcendental dari agama metakosmis. Maka, bukan masalah yang satu menggantikan yang lain, tetapi yang satu menyempurnakan yang lain sedemikian rupa sampai membentuk soteriologi yang mempunyai dua dimensi yang mempertahankan ketegangan antara yang kosmis sekarang dan yang metakosmis.

Jadi, dapat dikatakan bahwa bentuk inkulturasi abad pertengahan awal ini masuk akal di Asia di mana agama kosmis hidup dalam bentuk aslinya, tidak dijinakkan oleh agama metakosmis. Sejarah menunjukkan, dan sosiologi membenarkan, gejala bahwa satu agama metakosmis yang sudah diinkulturasikan dalam masyarakat klan tidak dengan mudah dapat dicabut oleh agama metakosmis lain kecuali dengan menggunakan paksaan dalam waktu yang lama (pertobatan massal).

Ini berarti bahwa di Asia Kristianitas tampil terlalu terlambat kecuali di Filipina dan beberapa masyarakat suku di India dan di Asia Tenggara di mana agama kosmis masih utuh. Dengan demikian, model inkulturasi ketiga ini juga sudah ketinggalan zaman di Asia.

 

Gambaran Kristus “Guru’” dan Konteks Asia

Yesus dilukiskan oleh Pieris sebagai “Guru Asia” yang dengan sikap kemiskinan-Nya telah mengumpulkan kaum miskin di sekitar diri-Nya menjadi suatu umat Allah yang berjuang bersama untuk mencapai kemerdekaan seutuhnya.

Adapun upaya penyusunan perspektif baru itu dilakukan atas dasar keprihatinannya pada pendekatan kristologi di Asia yang kurang kontekstual. Bagi Pieris, kristologis Asia harus bertitik tolak dari kisah pembaptisan Yesus. Di mana keselamatan Gereja-Gereja lokal Asia tidak lagi berasal dari gelar-gelar kristologis, melainkan dari sikap kerendahan hati Yesus yang ingin berpartisipasi menenggelamkan diriNya pada baptisan Yordan dan Salib Kalvari. Dengan perkataan lain, Pieris ingin mencetuskan gagasan kristologinya kepada orang-orang Kristiani Asia untuk ikut berpartisipasi menenggelamkan diri mereka ke dalam realitas “Yordan agama Asia” dan “Kalvari kemiskinan Asia.” Tampaknya refleksi kristologi dalam konteks Asia ini akan menjadi landasan Pieris di dalam mengembangkan eklesiologisnya di Asia.

Pieris melihat bahwa setiap refleksi Kristianitas dalam kebudayaan Asia terbentur pada adanya kenyataan bahwa kehadiran nama Yesus Kristus dan agama kristen yang diwartakan para misionaris sesungguhnya belum banyak diakui oleh semua orang Asia. Pada umumnya orang Asia lebih akrab dengan nama Buddha Gautama dan Nabi Muhammad daripada nama Yesus Kristus, padahal Yesus sendiri pun adalah orang Asia seperti halnya pendiri agama Budha dan Islam itu.

Menurut Pieris, keterasingan itu disebabkan oleh kenyataan bahwa Yesus yang lahir di benua Asia itu telah dibawa ke Barat beratus-ratus tahun lamanya, dan dibawa kembali ke Asia dalam konteks budaya Barat yang begitu tebal sehingga sulit menembus etos budaya Asia yang kompleks itu. Ketika para Kristen pendatang dan misionaris Barat membawa “Yesus” masuk kembali ke Asia guna mencari pengaruh dalam situasi kereligiusan Asia, seringkali terjadi bentrokan antara kuasa-kuasa orang Kristen pendatang dengan agama-agama non Kristiani yang telah terlebih dahulu menanamkan akar kelembagaannya dan dengan pengaruhnya mampu membangkitkan ego kultural bangsa-bangsa yang terjajah.

Di sisi lain, Pieris memperlihatkan ketidakmampuan teologi klasik menangkap rasa Asia dimana banyak segi dari rakyat Asia dipisahkan dari akar-akarnya akibat perjumpaan dengan Barat. Dalam semua soteriologi yang tak berdasarkan Kitab Suci, agama dan filsafat saling campur tak terpisahkan.

Filsafat merupakan pandangan religius, dan agama merupakan filsafat yang dihayati. Pieris mengingatkan para teolog bahwa metode berteologi di Asia tidak bisa dipisahkan dari tujuan.

Dalam tradisi Asia, seni untuk melakukan itu sendiri sudah merupakan hal yang dilakukan. Akibatnya adalah bahwa metode Asia untuk berteologi itu sendiri sudah merupakan teologi Asia dan teopraksis sudah menjadi merupakan perumusan teologi. Hal ini dilihat Pieris sebagai kekurangan dalam tradisi teologi klasik yang menekankan pemisahan terhadap  filsafat “kafir” dari konteks religiusnya dan mengubahnya menjadi senjata intelektual yang membantu para apolegetik kristiani. Di sini Pieris dengan seksama melihat bahwa hal inilah yang hilang dalam teologi agama-agama sehingga menghambat usaha untuk mendapatkan gaya Asia.

 

This slideshow requires JavaScript.

 

 

Rasa Asia dalam Metode Teologi: Usaha Inkulturasi (?)

Suatu teologi yang kontekstual dan bercorak Asia harusnya menghadapi dua realitas yang saling berkaitan, yakni: kemiskinan Asia dan religiusitanya.

 

Hal terakhir, religiusitas, merupakan kekhasan Asia karena inilah yang menyajikan potensi terbesar untuk menciptakan teologi Asia yang berbeda secara radikal dengan teologi Amerika Latin dan Afrika. Atas dasar itu Pieris berupaya memaparkan 3 ciri khusus yang menentukan batas-batas religio kultural di Asia: 1)keanekaragaman bahasa; 2)integrasi unsur-unsur kosmik dan metakosmik dalam religiusitas Asia; 3)kehadiran soteriologi non Kristen.

 

Keanekaragaman bahasa

Asia memiliki ragam bahasa yang terbanyak jika dibandingkan dengan benua lainnya. Hal ini membawa konsekuensi pada terengkuhnya realitas asasi yang tertuang dalam bahasa dan lambang-lambangnya. Karena bagi Pieris bahasa adalah “pengalaman” akan realitas dan agama adalah “ekspresi”nya. Untuk itulah  sebagai langkah awal kita mesti mempelajari bahasa rakyat (tatacara dan upacara agama, nyanyian-nyanyian, gerakan tarian, music, puisi-puisi, mitos-mitos,dll), bukannya tulisan-tulisan canggih (ex:Tripitaka,Veda, Upanishad).  Alasan memperlajari bahasa rakyat   sebab di situ ada sentuhan “kebenaran” asali (inti soteriologi) setiap agama yang belum terasimilasi dengan kristianitas dan di situ pula terekam perjuangan demi kemanusiaan yang penuh.

Ada bahaya jika orang-orang Asia tidak saling berinteraksi dan berkonsultasi akan permenungan teologisnya karena bisa memutuskan “kekayaan” dari masing-masing daerah. Ini dirasa penting guna menghindari generalisasi akan kekhasan metodologi tiap-tiap daerah.

 

Integrasi unsur-unsur kosmik dan metakosmik dalam religiusitas Asia.

Dengan istilah “agama kosmik” mengacu pada sikap manusia sebagai homo religiousus yang berhadapan dengan realitas yang berdimensi tremendum et fascinosum. Tapi di Asia praksis agama kosmik telah berbaur dengan tiga soterilogi metakosmis ( Hindu, Budha, dan Taoisme). Ini mau mengatakan bahwa summum bonum yang ada di kosmik ini mesti diwujudkan sekarang dan pada saat ini. Upaya tersebut dilalui dengan pribadi manusia yang menjalani ulah spiritual dan gnosis demi sebuah kesempurnaan. Dengan keberhasilannya mencapai kesempurnaan, manusia bisa menjadi model dan lambang yang sudah “dibebaskan” bagi manusia lainnya. Jadi soteriologi metakosmis tidak pernah ditemukan dalam bentuk yang abstrak tetapi selalu dikontektualkan di dalam pandangan dunia kosmik.

 

Kehadiran Soteriologi non Kristiani

Ada baiknya Kristiani dengan rendah hati belajar dan ambil bagian dari upaya soteriologi yang digeluti oleh agama-agama non Kristiani. Gereja harus sama seperti sang Guru, yang rela membiarkan diriNya dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, yakni dengan rela untuk duduk si kaki guru Asia. Maka dari itu gereja pun mesti menjadi ecclesia discerns (gereja yang belajar), bukannya ecclesia docensi (gereja yang mengajar). Konsekuensinya Gereja harus memiliki kerendahan hati untuk dibaptiskan di dalam Yordandari religiusitas Asia dan dipermandikan di dalam salib dari kemiskinan Asia. Untuk itulah Pieris mengunakan Budhisme sebagai dasar pembelajaran. Dengan itu Gereja pun  bisa membuat pilihan-pilihan sebagaimana Budhisme telah berupaya menggapai pembebasan melalui tegangan antara kutub-kutub: kekayaan−kemiskinan; negara−sangha; pengetahuan saintifik−kebijaksanaan spiritual.

 

Dalam berteologi di Asia, Pieris mengajak umat kristiani  menerima rasa Asia ke dalam kesadaran Kristiani. Namun Pieris melihat bahwa ada hambatan-hambatan yang diwarisi dari gereja lokal Barat yang harus disingkirkan. Hambatan-hambatan itu dilihat dalam skema kritik dunia ketiga atas teologi kita masa lampau dan dari sudut pandang Asia sendiri. Menurut Pieris, Gereja Asia dewasa ini terperangkap di antara dua teologi yang bersifat Barat, yakni: (1) teologi Eropa klasik dan (2) teologi pemerdekaan Amerika Latin.

Namun Pieris melihat bahwa apa yang dinyatakan oleh orang Amerika Latin dalam teologi pemerdekaannya harus bersedia diterima oleh orang Asia, yakni mengenai metode yang benar untuk berteologi di Asia.

Bagi Pieris, ciri metodologi yang relevan bagi orang Asia adalah seperti yang termuat dalam perbandingan John Sobrino antara teologi Eropa dan teologi Amerika Latin, yakni: (1) menggunakan filsafat untuk menyelaraskan iman dan akal, (2) pengutamaan praxis atas teori, (3)  jalan salib sebagai jalan dan dasar segala pengetahuan, (4) menerapkan ‘teologi pemerdekaan’ yang menuntut partisipasi dinamis dalam perjuangan kemanusiaan demi mengikuti Kristus secara dinamis, dan (5) perjumpaan Allah (rahmat) – manusia (kebebasan) membuat manusia menggunakan segala kemampuan manusia untuk mengantisipasi Kerajaan, yang merupakan anugerah cuma-cuma Allah.

 

Kristianitas dan Kristus yang Non-Kolonialis: Menuju Rasa Asia

Pieris secara tidak langsung menyatakan bahwa Kristus hanya dapat dipahami dalam konteks budaya Asia apabila Gereja berani masuk dalam ungkapan-ungkapan soteriologis agama-agama non-Kristiani dan menemukan intisarinya yang mampu membebaskan.

Adapun inti dari soteriologi itulah, maka akan menjadi “pintu masuk satu-satunya” bagi pewartaan tentang Yesus di Asia. Dalam kritiknya terhadap gambaran-gambaran mengenai Kristus yang ada di Asia, Pieris menguraikan dua pendekatan terhadap masalah kristologis dalam konteks agama dan kemiskinan Asia. Kedua pendekatan itu meliputi:

  1. Pendekatan Pemenuhan

–          Sabda menjadi manusia Asia

–          Dulu dari Asia bisa ke arah Barat dan diterima (suatu terobosan) tetapi gagal menembus Asia.

–          Di Asia: “Kristus Kolonial” itu mengecewakan. Yesus masuk lagi ke tanah kelahirannya sebagai penjajah yang membangkitkan Ego Kultural bangsa-bangsa Asia yang berbenturan dengan kekuasaan Kristiani.

–          Pintu Masuk Kristus kembali ke Asia adalah : Inti Soteriologis atau inti Liberatif dari berbagai agama Asia.

–          Perlu dibedakan antara agama Asia yang otentik dengan yang sudah rusak.

–          Nobili dan Ricci hanya membuat perbaikan kecil pada Kristologi dengan mempergunakan kebudayaan kafir  sebagai medium untuk menarik orang Asia.

–          Bagi orang Buddha, Yesus hanyalah salah satu bodhisatva, bagi Islam hanya salah seorang nabi.

–          Kristen Anonim Rahner sebenarnya sudah didahului oleh Hinduisme yang diri mereka sendiri sebagai keseluruhan lingkaran yang memayungi agama lain. Juga sudah didahului Buddha dengan pacekka buddha yang memungkinkan orang non Buddha di luar institusi Buddhisme juga mencapai nirwana tapi tetap di dalam kebenaran yang ditemukan Buddha.

2. Pendekatan Kontekstual

–          Teori Pemenuhan gagal karena mengabaikan masalah kemiskinan di Asia.

–          Ada dua pandangan kristologis lagi:

  1. Agama-agama non Kristiani adalah hambatan untuk mengatasi kemiskinan (aliran neokolonialis)
  2. Tuhan dalam Yesus mencerminkan persepsi religius kemiskinan Asia. Ada kemiskinan yang dipilih dan ada yang dipaksakan. Dalam Yesus, “Allah menjadi miskin” (aliran Ashram Kristiani)

–          Konflik Kristus dari agama-agama (inkulturasionis) vs Kristus melawan agama-agama (liberasionis). Pilih agama atau pembebasan?

 

Sejauh apa lantas Kristus dapat digambarkan dalam budaya Asia? Pieris mengajukan dua usul besar bagi usaha ‘inkulturasi’ Kristianitas di Asia.

  1. Kembali pada Yesus

–          Di Asia, para teolog menolak mengakui “keunikan Kristus”. Kristus hanya gelar.

–          Ada data dasar soteriologi agama-agama yang sama

  1. Keselamatan sebagai “yang mengatasi” penyelamat (Yahwe, Allah, Tao, Nirvana, Brahman-Atman, dsb)
  2. Berkat “pengantaraan yang menyelamatkan”, yang juga bersifat pewahyuan (tao, marga, dharma, dabar, gambaran)
  3. Adanya kemampuan manusia “untuk keselamatan atau kuasa penyelamatan yang scr paradoks ada dalam pribadi manusia” (purusa, citta, atman, dll).

–          Itu seperti struktur Theos-Logos-Pneuma. Misteri tiga-satu tersebut merupakan data soteriologis dasar dalam banyak kebudayaan religius.

–          Penting berbicara tentang Putera Allah dalam konteks seperti itu.

–          Saat Yordan sampai saat Kalvari.

–          Warta = memasuki inti soteriologis budaya (Yordan) dan berani berkonflik dengan mamon (Kalvari).

–          Pernyataan teologis janganlah “mendua arti” bagi orang Asia. Hubungkan Yordan agama Asia dengan Kalvari kemiskinan Asia. Biar Yesus diberi gelar, lambang, formula baru sesuai dengan penemuan Asia.

2. Formula Asia Baru

–          Gereja otentik adalah gereja yang lepas dari situasi yang “tak terkomunikasikan”, formula yang homologis dan kerigmatis, masuk akal bagi orang Kristiani dan non Kristiani.

–          Revolusi ekklesiologis sudah dimulai di pinggiran Gereja.

–          Dua sisi: Bekerja dan Berdoa

–          Apa yang menjadi tanggapan khas Asia di mana Yesus akan tersingkap.

–          Siapa Yesus Kristus menurut orang-orang non Kristen. Biarkan mereka berkisah seturut pengalaman mereka.

 

Baptisan Yesus: Disposisi bagi Inkulturasi yang Liberatif di Asia

Dengan perendahan diri di sungai Yordan sebagai sikap kenabian pertama-Nya, Yesus telah mengidentifikasikan diri-Nya dengan kaum miskin yang saleh dari pinggiran dan melakukan inisiasi di bawah seorang “Guru Asia” yang besar, Yohanes Pembaptis. Melalui pembaptisan kita dapat mengenal siapakah Yesus atau lebih tepatnya bagaimanakah peran Yesus bagi manusia. Di bawah ini kami menguraikan makna pembaptisan Yesus bagi Pieris:

Yesus, pada jaman-Nya, hidup dalam arus tradisi keagamaan Yahudi yang mengikat dan seringkali terlihat sangat “formal”. Ketika Ia menjawab panggilan profetis-Nya, Ia membuat opsi yang tegas yaitu tidak memilih gerakan ideologis kaum Zelot, puritanisme sekte Eseni, atau bahkan semangat kaum Farisi dan para Saduki yang aristokratik. Sebaliknya, Ia lebih suka memilih tradisi asketis kenabian Yohanes Pembaptis, yang di dalamnya dipertemukan spritualitas autentik dengan unsur liberatif agama Yahudi. Di sini kita mengenal Yesus sebagai seorang tokoh yang memecahkan tradisi keagamaan. Kepribadian-Nya telah menggambarkan seorang manusia yang berani dan berpendirian kuat di dalam menghadapi tradisi keagamaan yang kaku dan tidak adil. Melihat sosok Yesus yang memiliki opsi yang tegas, maka Pieris berharap agar Gereja-Gereja lokal Asia juga perlu menegaskan opsi di hadapan macam-macam trend ideologis dan religius yang semakin terus berkembang.

Di sungai Yordan ketika Yesus berdiri di hadapan Yohanes Pembaptis (seorang nabi spiritualitas kosmis) dan di antara orang-orang yang dibaptis, secara tidak terduga dua aliran spiritualitas telah menemukan titik pertemuan. Yesus yang akan melewati pengalaman padang gurun datang kepada Yohanes, bukan untuk membaptis orang-orang lain (kaum papa berdosa), tetapi sebaliknya Ia malahan minta dibaptis. Adapun makna dari peristiwa ini hendak menunjukkan kepribadian Yesus yang ingin menyamakan diri-Nya sebagai “kaum miskin religius” atau kaum anawim. Di sini kita bisa melihat Yesus sebagai tokoh kaum miskin (kaum anawim). Tindakan-Nya untuk ikut dibaptis bersama dengan orang-orang banyak telah menampilkan kepada kita sesosok manusia religius yang mau mencintai mereka yang haus akan pengharapan keselamatan dan siap menyambut kedatangan kerajaan Allah. Melihat spiritualitas Yesus yang mau memperkenalkan diri sebagai seorang anawim inilah, maka Pieris berpendapat bahwa Gereja-Gereja lokal Asia harus pula bersikap seperti Yesus yang mau menjadi pencetus titik temu antara spritualitas kosmis dan kereligiusan kaum sederhana (anawim) di Asia.

Yesus memiliki kewibawaan yang diperoleh-Nya dari perendahan diri. Dengan tindakan perendahaan diri-Nya itu (mau dibaptis oleh Yohanes Pembaptis), justru kredibilitas dan wibawa-Nya dijamin oleh Allah sendiri di hadapan kaum miskin: ”Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan”(Mat3:17) dan “Dengarkanlah Dia”. Di sini kita akan melihat Yesus sebagai Anak Allah yang berwibawa. Yesus digambarkan memiliki kewibawaan oleh karena sikap-Nya sendiri yang taat, saleh dan rendah hati. Sebagai Anak Allah Ia tidak pernah berupaya mencari muka, mempromosikan diri-Nya sebagai orang yang hebat, pembuat mujizat dan orang yang penuh kuasa. Berkaitan dengan ini, Pieris berpendapat bahwa Krisis misi hanya dapat terselesaikan bila Gereja-Gereja lokal Asia mau dibaptis dalam dua lapis tradisi liberatif dari kaum rahib dan kaum kecil yang saleh dan rendah hati di Asia, sebab kewibawaan yang bukan dicari-cari tetapi dipercayakan dari suara yang terdengar oleh semua orang itu hanya ada dalam “Yordan keagamaan Asia.”

Peristiwa pembaptisan Yesus mengandung makna pembebasan bagi manusia. Tindakan Yesus menceburkan diri yang seolah-olah lenyap dalam arus suatu spiritualitas nenek moyang di antara kaum sederhana, justru akhirnya tampil keluar dengan perutusan baru-Nya sendiri yang kontras dengan Yohanes Pembaptis dalam sikap, gaya hidup, dan pewartaan. Dengan sikap mau terbuka menerima kaum miskin dan pendosa, justru Yesus akhirnya mendapati identitas-Nya yang otentik sebagai: Anak Domba Allah yang memerdekakan manusia dari dosa, Putra Allah yang harus didengar dan Mesias yang membawa perutusan dan baptisan baru. Dengan demikian, menurut Pieris Gereja-Gereja lokal Asia tidak akan kehilangan identitas Kristiani mereka bila mereka bersedia membenamkan diri ke dalam “Yordan agama Asia” dengan cara berguru pada Yesus, “Guru Kebijaksanaan” dan melibatkan diri dalam kehidupan dan aspirasi kaum miskin religius (anawim) Asia. Melalui sikap perendahan diri, yakni ibarat seorang murid yang mau menempuh jalan yang ditempuh oleh Sang Guru sendiri, maka Gereja-Gereja lokal Asia justru akan menemukan identitas mereka yang sejati. Di sini jelaslah bahwa Yesus dapat kita lihat sebagai “Guru bagi Orang Asia”

Menurut Pieris, Yordan hanyalah permulaan Kalvari. Pembaptisan atau sikap kenabian yang pertama di Yordan di tengah kaum miskin YAHWEH itu pada akhirnya akan membawa Yesus kepada sikap kenabian-Nya yang terakhir, yakni pengosongan diri-Nya di salib Golgota dalam kemiskinan yang menyedihkan. Dari jalur kemiskinan yang menghubungkan Yordan dan Kalvari itulah, maka Pieris menarik paradigma eklesiologis lain yang patut direfleksikan oleh Gereja-Gereja di Asia.

 

Monastisme Buddhis dan Kristen harus saling memperkaya

Tradisi Monastik Buddhis dan Kristiani sebagai Pintu Masuk

Dalam abad-abad pembentukan monastikisme Kristiani, spiritualitas orang-orang non-Kristiani tahap demi tahap disaring ke dalam kereligiusan agapeis para rahib. Simbiosis itu terjadi dalam keheningan sel-sel monastik, sedangkan para teolog akademisi Gereja sibuk bereksperimen dengan bahasa legal orang Latin dan pemikiran filosofis orang Yunani sebagai usaha agar budi manusia memahami misteri Kristus. Jika Gereja (patriarkat Barat) belajar dari monastik Timur, Gereja akan tahu bagaimana memahami dan menghargai jenis inkulturasi yang dibutuhkan Asia dewasa ini.

Pewartaan Gereja harus dilengkapi dengan keterlibatan dengan dunia kaum miskin (Mat 19:21). Monastikisme Barat mempunyai banyak hal untuk diajarkan kepada Gereja Asia, karena Asia merupakan induk yang tertua dan terbesar monastikisme di samping menjadi pewaris terbesar kemiskinan dunia.

Sesungguhnya, Gereja yang terinkulturasi di Asia adalah Gereja yang dibebaskan dari mammon dan oleh karena itu harus terdiri dari kaum miskin: miskin karena pilihan dan miskin karena keadaan.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s