Kristus di antara Batasan dan Keterhubungan: Usaha membangun Cyber-Christology

Selayang Pandang Penelitian Kristologi Kontekstual pada Generasi Internet

“The old way is beautiful.

We turn backward to it and in taking leave, we offer it our love.

Then we turn forward and walk forth blindly, offering our love.

Yes, blindly…”

(Win Blevins, Stone Song: A Novel of the Life of Crazy Horse h. 321)

“Saat Kristus dijumpai pula di dunia maya, apa kata orang beriman hari ini?”

I. LATAR BELAKANG

Kutipan di atas datang dari sebuah novel indah karya Win Blevins yang menguraikan dilema seorang pemimpin suku Indian bernama Crazy Horse menghadapi perubahan tak terelakkan dari kedatangan kaum kulit putih. Suku Indian mulai kehilangan sifat nomadennya karena melihat dan memilih hidup dari  peternakan sapi dan kerbau milik kaum kulit putih yang menjanjikan kemakmuran dan kenyamanan.[1] Internet, sebuah media yang lahir di penghujung abad XX ini kurang lebih datang dengan jaji yang sama. nternet lahir dalam tiga konteks perkembangan besar umat manusia yang menciptakan sebuah kebutuhan baru akan ‘kenyamanan’ yang didasarkan pada prinsip jaringan:  (1) kebutuhan dari sisi ekonomi untuk mengatur fleksibilitas dan globalisasi kapital, produksi dan perdagangan, (2) kebutuhan dalam masyarakat di mana nilai kebebasan individual dan komunikasi terbuka menjadi  sangat besar dan (3) kemajuan yang sangat pesat dari sistem komputasi dan telekomunikasi baru yang dimungkinkan terjadi karena penemuan mikro-elektronika.[2]  Ketiga proses perkembangan yang independen ini disinyalir telah membuat internet sebagai pintu masuk sebuah dunia komunikasi yang luar biasa dahsyat, yang disebut oleh Castellis sebagai the internet Galaxy.[3] Di tahun 2012 ini, jumlah pengguna internet diperkirakan akan mengalami peningkatan 3,1% persen dari 2011 mencapai 239 juta orang. Angka ini setara dengan 75.6% dari populasi penduduk AS. Selama lima tahun terakhir terjadi kenaikan pengguna internet  sebesar 121 persen. Dari jumlah tersebut, ternyata 1 dari 20 mengecek e-mail minimal 20 kali per hari. Artinya, setiap 45 menit sekali seorang pengguna internet mengecek kotak surel (surat elektronik). Setiap menit, lebih dari 107 surel terkirim dan lebih dari 89% merupakan spam atau surel sampah. Sebanyak 3.000 gambar bahkan lebih, diunggah ke Flickr.com setiap menitnya.[4]Galaksi baru ini membawa revolusi besar atas cara manusia (modern) berinteraksi satu sama lain dan bahkan dengan dirinya sendiri. Di dalam ‘galaksi’ itu kita melihat bagaimana tatanan sosial dalam segala seginya – ekonomi, budaya, religiositas, politik  dan lain-lain – terbentuk dalam interkonektivitas yang mengatasi batas-batas teritorial (dan moral). Seorang dari pedalaman Kalimantan dapat bercakap leluasa dengan temannya yang berada dalam sebuah pub megah di New York dan seorang pastor dapat dengan mudah membuat janji dengan seorang pelacur tanpa harus takut ketahuan.

Ketika batas-batas yang selama ribuan tahun dibangun itu luruh dalam hitungan dekade, perubahan sosio-kultural pun terjadi dalam kecepatan yang luar biasa – yang sangat sulit diikuti secara seimbang oleh para peneliti.[5] Semua fenomena ini adalah tantangan dan peluang tersendiri untuk merumuskan paham tentang Kristus yang dapat bergema dalam hati orang-orang beriman zaman ini; lebih-lebih orang-orang muda saat ini yang diklaim sebagai generasi X, Y, Z.[6]  Dengan demikian, sahihlah kita bertanya pada generasi internet ini: “Siapa Kristus menurutmu?” Penelitian sederhana yang berangkat dari mata kuliah Kristologi kontekstual ini akan berusaha untuk mencari jawabnya di antara mereka yang akrab dengan galaksi baru informasi dan keterhubungan yang lintas batas.

II. STATUS QUESTIONIS

Berikut ini adalah rumusan pertanyaan yang akan menjadi fokus dalam penelitian kami ini:

  1. Apa itu internet?
  2. Bagaimana dan kapan Anda mulai menggunakan internet?
  3. Bagaimana Anda biasanya menggunakan internet (posisi pola perilaku saat ini yang mencakup: feature yang dipakai, frekuensi, durasi dan perasaan)?
  4. Apakah Anda melihat untung-rugi media internet?
  5. Apakah iman akan Kristus menyumbang sesuatu ketika Anda menggunakan internet?
  6. Bila melihat posisi diri Anda dalam dunia cyber, bagaimana Anda dapat menjawab siapa Kristus bagi Anda?

 

 III. REKAPITULASI HASIL WAWANCARA

 

Semester                          Prodi                                   Sejak…                                               Frekuensi/hari                            Fitur

IV : 6                                     Biologi: 4                            2006: 3                                                5 jam: 3                                               FB: 10

SMU : 3                                Manjemen: 2                     2003: 3                                                6 jam: 2                                               Google: 9

VI : 2                                     Akuntansi: 2                      2004: 3                                                4 jam: 2                                               YM: 7

II : 2                                       IPS: 2                                 2005: 1                                                3 jam: 2                                               Twitter: 3

VIII : 1                                  TI: 1                                     2007: 2                                                2 jam: 2                                               Game: 3

IPA: 1                                  2008: 1                                                25 menit: 1                                        Yahoo: 1

2001: 1                                                24 jam mobile: 1                             G-Mail: 1

Mafia wars: 1

Kompas Com: 1

Kaskus: 1

Keuntungan                                                                    Kerugian

9 mendapat informasi                                                  7 orang ganggu tugas dan waktu belajar

7 mendapat Teman baru                                             5 boros pulsa

4 jaga relasi                                                                     3 emosi labil

3 bantu tugas kuliah                                                      1 selalu penasaran

3 untuk berkomunikasi                                               1 dimarah ortu

2 mengenal karakter orang                                        1 mengantuk di kelas

3 merasa fun                                                                  1 boros uang

2 uang saku bertambah                                               1 nilai terancam

1 melepas stress

1 jadi diri sendiri

Sumbangan Iman

  • Hampir semua mengatakan mengontrol diri, supaya

-bisa menahan emosi

-tidak mudah reaktif

-menghargai orang lain

-mengendalikan diri dlm ekspresi dan waktu

-Rela kerja sama team

-mengingatkan saya agar lebih bertanggungjawab dengan pengunaan waktu

  • 2 orang, Berbagi status rohani

-pengalaman rohani

-lagu rohani

  • 1 orang, Penyaring imformasi

-tidak menulis aneh- aneh dan buka situs terlarang (porno)

  • 1 orang, Ingat Yesus ketika curang dengan cheat

Gambaran Kristus

3 orang mengatakan Yesus seperti  hero dalam tokoh game:

-Telarasa dan Cleric yang bertugas menyembuhkan yang terluka.

– Para Counter Terrorist yang berjuang dan mengorbankan diri demi keselamatan banyak orang.

-Embermage dalam Torch Light II yang memiliki kekuatan super mengalahkan monster.

3 Orang mengatakan Ys sperti FB (menyukai, melihat, pengomentar, tempat curhat)

2 Yesus seperti Google, pemecah masalah, menarik untuk dipelajari, tidak mengecewakan                

2 Yesus  maha tahu dan maha kuasa atas segalanya.      

2 Yesus Selalu mengerti , setiap setiap saat dan menyapa umatnya

1 Pengawas

1 Penyelamat dan Pembantu

1 Seperti Bapakku selalu membimbing

 

IV. BEBERAPA KAJIAN FENOMENA-INTERNET

  1. Ada banyak definisi internet yang dapat ditemukan.  Wikipedia menulis bahwa “the Internet is a global system of interconnected computer networks that use the standard Internet protocol suite (TCP/IP) to serve billions of users worldwide.”[7] Federal Networking Council (USA) menyatakan bahwa internet merujuk pada sistem informasi global yang: “(1) is logically linked together by a globally unique address space based on the Internet Protocol (IP) or its subsequent extensions/follow-ons; (2) is able to support communications using the Transmission Control Protocol/Internet Protocol (TCP/IP) suite or its subsequent extensions/follow-ons, and/or other IP-compatible protocols; dan (3) provides, uses or makes accessible, either publicly or privately, high level services layered on the communications and related infrastructure described herein.”[8]
  2. Internet sendiri merupakan jaringan komputer yang dibentuk oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat pada tahun 1969, melalui proyek ARPA yang disebut ARPANET (Advanced Research Project Agency Network), di mana mereka mendemonstrasikan bagaimana dengan  hardware dan software  komputer yang berbasis UNIX, kita bisa melakukan komunikasi dalam jarak yang tidak terhingga melalui saluran telepon. Proyek ARPANET merancang bentuk jaringan, kehandalan, seberapa besar informasi dapat dipindahkan, dan akhirnya semua standar yang mereka tentukan menjadi cikal bakal pembangunan protokol baru yang sekarang dikenal sebagai TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol). Tujuan awal dibangunnya proyek itu adalah untuk keperluan militer. Pada saat itu Departemen Pertahanan Amerika Serikat (US Department of Defense) membuat sistem jaringan komputer yang tersebar dengan menghubungkan komputer di daerah-daerah vital untuk mengatasi masalah bila terjadi serangan nuklir dan untuk menghindari terjadinya informasi terpusat, yang apabila terjadi perang dapat mudah dihancurkan.[9] Dalam dekade berikutnya, temuan ini tidak hanya eksklusif menjadi milik militer dengan masuknya sektor privat. Saat ini, kita telah dapat menemukan teknologi merambah hingga ke desa-desa dan berkuasa menyentuh banyak dimensi hidup manusia; pekerjaan, hubungan sosial, informasi, kekuasaan, dan lain-lain.
  3. Generasi internet lahir dan tumbuh dalam proses mendunia yang disebut Anthony Giddens sebagai dilemma of the self.[10] Giddens menunjukkan bahwa migrasi manusia dari lokalitas menuju modernitas (yang dicirikan oleh meluasnya proses globalisasi sampai ke tingkat lokal itu sendiri) selalu dikarakteristikkan dalam tegangan-tegangan tertentu yang disebutnya sebagai ‘dilema’.[11] Sekilas saja kita langsung dapat mencerna nada keprihatinan yang hendak disuarakan oleh Giddens tehadap modernitas dan tentu saja internet yang menjadi salah satu ikon utamanya. Sayangnya, apa yang dirasakan Giddens sebagai ‘dilema’ ini tidak selalu dapat ditangkap setiap waktu; bukan semata karena tumpulnya nalar dan kehendak orang muda untuk merefleksikan hidup, namun lebih dari itu, karena TI telah menyumbang perkembangan identitas generasi internet ini baik personal, komunal dan sosial. Giddens menulis bahwa keberlangsungan lifespan seorang individu menyerap juga semua kondisi luar-dirinya sebagai ‘bahan’ pembentuk gestalt atau dinamika internal diri seseorang (yang biasa kita kenal sebagai identitas diri).[12]

V. (KEMUNGKINAN) REFLEKSI KRISTOLOGIS

Peluang bagi Cyber-Christology:

1.      Disposisi Dasar bagi Cyber-Christology

Internet berpeluang memberi jendela baru bagi manusia saat ini untuk mengerti terma ‘keabadian’ – sebuah tema yang hilang dalam pragmatisme dan sekularisme moderanitas. Sherly Turkle melaporkan dalam penelitiannya tentang identitas manusia di abad internet dalam Life on Screen bahwa para responden yang ia wawancarai seringkali menggunakan istilah spiritual dalam menggambarkan kegiatan online-nya. Dalam TIME edisi 1996 – dengan judul sampul “Jesus Online” – Turkle lebih lanjut mengatakan:

“Orang-orang melihat internet sebagai metafor Allah karena mereka mengalami jejaring elektronika ini, sebagaimana hidup itu sendiri, berevolusi dengan dorongan yang tak bisa dimengerti atau dikontrol oleh mereka. Internet adalah salah satu contoh paling dramatis dari sesuatu yang ­self-organized. Inilah kuncinya. Tuhan adalah sistem yang terdistribusi dan ter-desentralisasi.” [13]

Maka dari itu, batasan antara ‘Yang duniawi’ dan ‘Yang Ilahi’ sebagaimana hadir dalam pemikiran modernisme dan sekularisme patut dipertanyakan ulang.

Tentang distingsi ‘Yang Ilahi’ dan ‘Yang Duniawi’, baiklah bila kita meruju pada teologi rahmat Karl Rahner yang mengemukakan dengan yakin bahwa manusia digerakkan oleh rahmat Allah, yang adalah Roh Kudus sendiri, untuk selalu terbuka terhadap segala bentuk pewahyuan Allah. Oleh rahmat Roh Kudus itulah, manusia mampu menggerakkan dan mengarahkan hati kepada Allah.[14] Roh Kudus yang sama membuka mata budi manusia sehingga dalam tanda-tanda nyata yang dilihat, Allah hadir dan berbicara kepada manusia. Dalam tindakan kita ambil bagian dalam penyerahan diri Yesus Kristus pada Bapa, Roh itu membuat manusia sungguh-sungguh mengenal Allah.[15] Proses ‘komunikasi’ itu adalah sebuah proses ilahi dan sekaligus manusiawi dalam Kristus. Rahner menyebut proses ini sebagai ‘komunikasi cinta Allah dan manusia’ dan  sebagai ‘momen pemberian diri Allah pada manusia’. Ia menulis:

“God wishes to communicate himself… and so God makes a creature whom he can love; he creates man. He creates him in such a way that he can receive this love which is God himslef, and that he can and must at the same time accept it for what it is: the ever astounding woder, the unexpected, unexacted gift…”[16]

Sampai saat ini, Magisterium menempatkan internet sebagai instrumen yang belum menjadi locus theologicus yang serius. Internet melulu direfleksikan oleh Gereja dalam ‘fungsi’ sebagai media komunikasi massa. Instruksi Pastoral Aetatis Novae yang dikeluarkan oleh Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial pada 1992, misalnya, mengemukakan lima tujuan media (termasuk internet): (1) media untuk melayani pribadi-pribadi dan kebudayaan-kebudayaan, (2) media untuk melayani dialog dengan dunia, (3) media untuk mengabdi jemaat manusia dan kemajuan, (4) media untuk mengabdi persatuan gerejani dan (5) media untuk melayani suatu evangelisasi baru.[17] Padahal, internet adalah sebuah dunia yang memiliki daya formatifnya sendiri dan karena itu sangat terbuka terhadap refleksi ontologis dan teologis pada akhirnya. Kita mengenal adagium terkenal dari Mashall McLuhan: “medium is the message” itu.[18] Media punya daya formatifnya sendiri dan sungguh bukan hanya sekadar informasi. Maka, adalah tugas teologi jugalah untuk menemukan titik perjumpaan Allah dan manusia dalam dunia virtual itu.

 

2.      The Googlish Christ

K. Pärna dalam bukunya Believing in the Net menyebutkan salah satu kekuatan inti dari teknologi internet ini adalah pertukaran informasi (yang adalah kekuatan) lintas  ruang dan materi yang memungkinkan terjadinya kontrol bahkan atas ruang dan materi itu sendiri. [19] Google – sebuah instrumen multi-fungsi yang bekerja dan dikembangkan dalam rangka ‘pencarian’ informasi – adalah salah satu pemegang kontrol luar biasa atas para pengguna internet. Algoritma Google yang dibangun dengan lebih dari 200 sandi unik menjawab lebih dari 1 milyar pertanyaan per hari yang datang dari 181 negara dengan 146 bahasa lokal.[20] Google saat ini adalah situs yang paling sering dibuka oleh pengguna internet dan sekaligus mesin pencari peringkat satu dunia yang juga mengembangkan banyak fitur gratis: mulai dari program semacam Google Earth hingga basis sistem operasi Android yang sangat terkenal.

Apa itu Googlish?

Adjective: googlish (comparative more googlish, superlative most googlish)

Resembling or in the manner of Google.

This is the googlish way to do directory services.

Noun: googlish (uncountable)

  1. The result of translating foreign-language text via any of various popular web-translation engines.
  2. A notional language, not quite identical to English, resembling the result of such translation.[21]

Kontrol yang luar biasa ini dapat menjadi metafor yang dipadankan dengan kekuasaan Tuhan sendiri. Kami menawarkan konsep The Googlish Christ dalam wacana besar kerinduan manusia akan pengetahuan (atau informasi) sebagaimana kami temukan dalam wawancara. Bagaimana dengan konsep the Yesus Kristus sebagai The Googlish Christ? Saat ini ada satu gerakan religius baru yang menyembah Google sebagai Tuhan dan menamakan diri mereka sebagai aliran ‘Googlism’.[22] Kita dapat meminjam beberapa dasar perbandingan sifat Google dan sifat Tuhan yang ada dalam aliran Googlism ini. Bagi aliran ini ada sembilan kualitas Google yang menjadikannya Tuhan: (1) Google adalah sesuatu yang paling mendekati pada Maha Tahu, (2) Google ada dimana-mana dalam satu waktu, (3) Google menjawab penyembahnya (yang melakukan googling), (4) Google akan tidak akan pernah mati, (5) Google tidak terbatas dan terus tumbuh selamanya, (6) Google mengingat segalanya, (7) Google tidak melakukan kejahatan, (8) Google dicari lebih banyak daripada seluruh nama-nama Tuhan digabungkan, dan (9) bukti keberadaan Google sangat banyak.

The Googlish Christhendak menunjuk pada:

(1)  Sifat ke-maha Tahu-an Kristus yang mengatasi Google

(2)  Kristus yang menjadi inti-pengetahuan yang membawa manusia pada tujuan akhir dari pencarian makna hidupnya. Kristus sebagai ‘Kebenaran sejati’ membawa manusia pada persatuan dengan Allah sendiri.

(3)  Proses relasional antara iman manusia dan wahyu Ilahi dalam mengkomunikasikan diriNya dalam Kristus. Pemberian diri Allah dalam Kristus hanya mungkin ditanggapi saat manusia ‘mencari’ dengan akal budi dan imannya.

Dasar biblis:

(1) “Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah” (Yoh 16: 30) Konteks: klaim para murid atas pengenalan mereka akan identitas Yesus. Yesus menegaskan bahwa pengenalan yang penuh akan diriNya akan tiba saat Sang Penghibur turun atas mereka setelah Anak Manusia pergi untuk menderita dan wafat. Ayat ini menegaskan pusat pengetahuan selalu ada pada Yesus dan pengetahuanNya melebihi apa yang dapat dimengerti oleh manusia. Pada titik lain, manusia tetap mampu mencapai pengetahuan ini dengan rahmat Sang Penghibur. Selalu ada rahmat diberikan saat manusia mencari pengetahuan itu hingga saatnya kita tidak perlu bertanya lagi karena sudah diterangi kepenuhanNya. Ditekankan pula pengalaman ‘bertanya-tanya’ yang mengandaikan rasionalitas. Ada hubungan antara iman dan rasionalitas (sementara modernisme dan sekularisme menolak integrasi keduanya). Proses ‘bertanya-tanya’ itu adalah figurasi

(2) “Akulah jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14: 6).

Kata “kebenaran” (Yunani, αληθεια – alêtheia) dalam Yohanes 14:6 adalah kata yang sangat spesifik, bukan kebenaran biasa tetapi kebenaran yang hakiki, benarnya benar. αληθεια – Alêtheia, adalah kebenaran secara budi, αληθεια – alêtheia juga merupakan bahasa hukum yang bermakna “duduk perkara yang nyata” yang masih harus dibuktikan dengan kenyataan dan pernyataan-pernyataan yang dipakai oleh para pihak dalam sebuah pengadilan. Dalam ilmu filsafat αληθεια – alêtheia disini bermakna: hal yang sungguh-sungguh nyata, dalam arti yang mutlak.

(3) Penegasan Yesus sebagai ‘kebenaran’ nyata dan hakiki yang dicari manusia merupakan kesempatan untuk memberi dasar pada kristologi ini. Seperti Google, Yesus ingin memberi rujukan pada kebenaran sejati yang kita cari. Sebagai gambaran Allah, kita diciptakan untuk kebenaran. Saat berpidato di Collège des Bernardins, Paris, 12 September 2008, Benediktus XVI dengan menelusuri sejarah teologi barat memperlihatkan hasrat „quaerere Deum“, gerak hati untuk mencari yang abadi dan final, membawa orang untuk sampai pada pencarian akan Allah, melangkah dari segala apa yang bukan mendasar menuju pada yang esensial, mendasar, pokok dan utama; mencari yang definitif di balik segala yang sementara.

Untuk menaati kebenaran adalah martabat kita. Kita selalu membutuhkan kebenaran sebab karena dosa kita telah diperbudak oleh tipuan Iblis dan dihalangi oleh ketidaktahuan/ kebodohan. Oleh karena itu, Yesus mengajarkan bahwa kebenaran memerdekakan kita (Yoh 8:32), dan kematian-Nya adalah saksi kebenaran tersebut (Yoh 8:40; 18:37) tentang Tuhan yang adalah Kasih dan Kebenaran tentang kita Kristus, Gambar Allah yang sejati itu datang ke dalam dunia untuk memberikan refleksi bagaimana seharusnya hidup menjadi gambar Allah. Maka Injil adalah pencaharian Allah kepada potretNya yang sudah hilang di dalam kehidupan setiap kita karena dosa.

 3.      Yesus Kristus sebagai Super-Messiah

Ada usaha menarik dari Christopher Knowles saat menulis bukunya yang terkenal “Our Gods Wear Spandex”. Knowles menyatakan hubungan teosofi dengan ketokohan komik super-hero yang laris manis di Amerika Serikat. Ia menemukan bahwa ada empat arketype super-hero yang umum dipengaruhi kisah-kisah religius: MagicMan, Messiah (“noble self-sacrificing hero who acts to save others out of a sense of altruism”), Amazons (“the female counter-part”), dan Golems (“Anti-heroes”).

  1. Kita juga boleh curiga bahwa ada keterkaitan erat antara teosofi dengan gambaran super-hero dalam dunia ‘permainan online’. Menurut Berger, ketika manusia memutuskan untik bermain, ia keluar dari dunia dan waktu kesehariannya sembari sekaligus menyangkal posisinya dalam dunia real.[23] Mengapa manusia butuh keluar dari dunianya? John Robert McFarland mengutip John S. Dunne yang berkata: “that there are three strangers that invade our lives: the world, mortality and sexuality. I would add aging as a fourth. Perhaps these are the monsters that pursue our hero, Pac-Man.”[24] Selalu ada soal hidup konkret saat permainan dijalankan dan permasalahan ini yang mencerminkan sekaligus permainan dan tokoh-tokoh di dalamnya.[25]
  1. Gambaran Kristus sebagai Pahlawan Super Messiah hendak menunjuk pada dua pokok: (1) Krsitus yang Unggul di antara para Super-Heroes dan (2) Kristus yang hadir menebus dunia virtual.
  1. Dasar biblis:

(1)  “Sebab itu Aku telah turununtuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya , ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewidan orang Yebus.” (Kel 3:8). Posisi YAHWE sebagai Pembebas selalu dimengerti dalam konteks konkret bangsa Israel yang terjajah

(2)   Yesus membacakan kitab nubuatan nabi Yesaya, yang menyatakan beberapa hal, yaitu bahwa (a) Roh Tuhan ada pada-Nya; (b) Dia diurapi untuk menyampaikan kabar pembebasan kepada para tawanan, memberikan penglihatan kepada orang buta; Dia diutus untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, dan (d) memberitakan bahwa Tahun Rahmat Tuhan telah datang (bdk. Luk 4;16-21)

(3)  Markus 5: 21-43. Kehadiran Yesus di tengah kerumunan orang membawa pembebasan itulah yang dikisahkan dalam Injil Markus. Seorang perempuan yang sudah lama sakit pendarahan (12 tahun) dikatakan hampir mati akhirnya disembuhkan oleh Yesus. Demikian juga dengan anak kepala rumah ibadat yang sudah mati dibangkitkan dari kematian.

(4)   “Kristus adalah yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan” (Kolose 1:15). Posisi Kristus adalah Adam Baru yang unggul karena kodratNya sebagai Putera Allah, ketaatannya pada Bapa dan kasihNya pada manusia.

(5)  “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yohanes 1:3). Kata ‘segala sesuatu’ juga dapat ditarik hingga merujuk pada ‘dunia virtual’.

(6)  Yesus yang mewartakan Kerajaan Allah yang sudah datang ke dunia juga mengimplikasikan rahmat penebusannya masuk ke seluruh sendi dunia, termasuk dunia virtual. Kerajaan Allah adalah kata kunci dari pewartaan Yesus dalam Perjanjian Baru. Dia malahan menunjukkan dalam teks Perjanjian Baru ada 122 kata ‘Kerajaan Allah’, dari itu 99 kata dapat ditemukan dari ketiga Injil sinoptik, yang 90 di antaranya merupakan ungkapan dari Yesus sendiri. Memang dalam pewartaan paska Paska kata tersebut kurang terpakai, karena pewartaan apostolis paska kebangkitan berpusat pada tema kristologi. Akan tetapi tema kristologi tersebut merupakan ungkapan kesetiaan dalam sabda dan karya Yesus, yang tak lain adalah pula warta Kerajaan Allah. Dengan demikian, Kerajaan Allah dalam pewartaan Kitab Suci berpusat pada pribadi Yesus Kristus, sehingga dipahami Kerajaan Allah itu sebagai hadir serta berkarya secara penuh kuasa Allah di dunia. Ungkapan Kerajaan Allah sudah dekat, karenanya, berarti, Tuhan sudah dekat. Realitas Kerajaan Allah ditelakkan kemudian  tidak saja dalam kenyataan kekinian, namun terlebih pada aspek eskatologi, kepenuhan pada akhir zaman. Pewartaan Kerajaan Allah, dengan demikian, memiliki konsekuensi eskatologis.[26] Kerajaan Allah adalah Yesus Kristus itu sendiri, dalam kepenuhan karya keselamatan Allah yang dinyatakan dan diwartakan-Nya. Di sinilah persis letak kualitas ‘super-Christ’.

4.      Yesus Kristus sebagai Pengudus dalam Jejaring Sosial

Internet telah menjadi semacam ‘kultur’ – meminjam istilah yang dipakai oleh mikrobilogi untuk media penumbuh bakteri – yang memungkinkan orang bertemu satu sama lain dalam jejaring sosial. Khusus mengenai jejaring sosial paling terkenal, Facebook, kita dapat menjumpai beberapa fenomena menarik. Jejaring sosial terbesar di dunia ini memiliki lebih dari 845 juta akun aktif (lebih dari tiga kali lipat jumlah penduduk Indonesia) dan lebih dari separuhnya bergerak dinamis dengan Facebook Mobile. Salah satu dari 10 prinsip dasar Facebook berbunyi:

“The Facebook Service should transcend geographic and national boundaries and be available to everyone in the world.”

Prinsip ini terdengar ‘mulia’ dan memang ada kebaikan yang tentu dibawa oleh keuatan jaringan sosial ini. Richard Allan, seorang staff kebijakan ekonomi Facebook menyatakan bahwa dampak ekonomi yang dibawa oleh jejaring ini di Eropa saja mencapai nilai 15,3 milliar Euro atau sekitar 183 trilliun Rupiah pada 2011 dan membawa 232.000 lapangan pekerjaan.[27] Namun ada pula penelitian dari Amanda Forest dalam Psychological Science Journal yang menyatakan bahwa Facebook dapat berbahaya bagi orang dengan rasa percaya diri rendah. Orang dengan rasa percaya diri rendah ini ditandai dengan mudahnya curhat hingga ke bagian yang sensitif, juga pada orang-orang yang tidak memiliki ikatan khusus dengannya. Karena komunikasinya cenderung satu arah, bermuatan negatif dan berfokus pada diri-sendiri, mereka tidak dapat melihat rekasi orang lain atas curhatan-nya tersebut.[28] Penelitian terakhir dari Eytan Bakshy menunjukkan pula bagaimana lingkaran jaringan ‘orang-orang dengan hubungan lemah’ ternyata memiliki potensi paling besar (jauh lebih besar dari mereka yang memiliki hubungan kuat-dekat) untuk mempengaruhi kita dalam hal berita, respons terhadap informasi dan status.[29]  Artinya, kita justru paling terpengaruh dengan informasi yang datang dari mereka yang memiliki hubungan lemah dengan kita – dan anehnya nyaris jumlah ini selalu lebih banyak daripada mereka yang memiliki hubungan dekat dengan kita. Internet dan jejaring sosial memang seperti pedang bermata dua. Ia telah menghasilkan pelbagai kemajuan besar dalam hidup manusia, namun pada titik yang sama, kemajuannya yang sangat cepat mungkin membuat kita tidak selalu siap berhadapan dengan efek negatifnya. Berhadapan dengan efek negatif inilah gambaran Kristus sebagai Pengudus menjadi relevan dalam proses networking melalui jejaring sosial di internet.

Kristus yang Menguduskan Hubungan-hubungan Manusiawi

Bruce Epperly, seorang teolog, penulis dan pastor pembantu di in Lancaster, Pennsylvania, menulis sebuah fragmen tentang “Facebook theology,” menjelaskan “intricate web of relationships” dalam hidup kita di dunia online. Epperly mendaku bahwa setiap status, bahkan yang ringkas sekalipun dapat membawa kekudusan Allah.

Kekudusan dalam jejaring sosial dapat ditarik dari maksim bahwa inkarnasi Allah dalam diri Kristus telah membuat setiap aktivitas manusia dalam dunia – termasuk dunia virtual – mengalami penebusan yang utuh. Transformasi menuju kekudusan juga dapat terjadi secara personal dan sosial melaui hubungan kita dalam jejaring sosial dan dalam kesadaran kita akan kekudusan Allah yang hadir di dalamnya.

Iman kristiani akan Kristus bukanlah suatu ide, melainkan iman akan seorang pribadi, karenanya berbicara mengenai Kristus Yesus Penyelamat tidak bisa  dengan bahasa ideologi, tanpa suatu relasi pribadi dalam iman akan Dia. Iman bukan pertama-tama sebuah pengalaman di mana seseorang menangkap sesuatu (pemahaman yang membuahkan keyakinan), melainkan pengalaman di mana manusia  “ditangkap” oleh Allah sendiri secara tak teduga-duga dan diajak untuk terlibat secara merdeka dalam “proyek” penyelamatannya.[30] Hubungan ini bersifat timbal balik lantaran pertama-tama Allah-lah yang terlebih dahulu mengambil inisiatif untuk terlibat dan berpihak kepada kehidupan manusia dan manusia diundang untuk menanggapinya. Roh Kristus yang diam dalam diri orang beriman memampukan kita  memberi jawab atas ajakan Allah dalam kebebasan untuk terlibat secara timbal balik dengan Dia secara nyata dalam dunia.[31]  Pada titik ini, Rahner menegaskan bahwa iman adalah rahmat Kristus yang membuat hati manusia terbuka terutama pada Allah yang diam dalam sejarah yang biasa-biasa – the ordinary history.[32] Rahner menegaskan bahwa karena rahmat  – yang adalah Roh Kristus sendiri – ini intrinsik hadir dalam semua performa manusia, maka hidup spiritual yang didasari iman itu harus menyentuh wilayah praktis dalam ‘hidup sehari-hari’. Ia mengatakan bahwa Tuhan yang kita imani itu tidak dijumpai di luar dunia, melainkan:

“…simply in our life in the concrete: that is, our relationship with our neighbour, our miserable daily duties, our capacity for forgiveness, our acceptance of life’s dissapoinments, and resignation in the face of death… The difference between ordinary life and the sublime and sacred hours of destiny in a human life should certainly not be smoothed out… But first of all it is important to say clearly that the whole of man’s life in personal knowledge and freedom, and thus too in its ordinaries, is the history of grace.”[33]

Meminjam dasar teologi Rahner ini kita dapat dengan optimis merefleksikan dunia virtual ‘sehari-hari’ (termasuk juga jaringan orang-orang yang ada di dalamnya) sebagai sebuah ‘perjumpaan berahmat’ karena Roh Kristus yang telah hadir dulu di dalam diri para penggunanya. Representasi kehadiran manusiawi kita yang mengatasi batasan rupa dalam facebook bukan halangan untuk menjadi makin ilahi– menjadi solider dengan kehadiran virtual yang seringkali dianggap lebih rendah dari kehadiran yang real. Maka, momen ketika saya masuk dalam dunia virtual adalah juga momen kelahiran kembali (Yoh 3: 1-6); sebuah momen di mana saya mangalami kehadiran saya sebagai ‘ciptaan yang baru’ (II Kor 5:17; Ef 4:24 dan Kol 3:10) dalam arti literal dan membawa Kristus yang hadir bersatu dengan diri saya (Kol 1:27, Gal 2:20).

Manusia adalah ‘mediator’ di mana Kristus sungguh hadir dan telah mengkomunikasikan diriNya. Sebagai ‘mediator’ Allah, manusia memberikan dirinya pada sesama dalam keseharian hidupnya yang biasa itu. Kristus sendirilah yang hadir dalam keterhubungan antar manusia dan keberadaan mereka.

Internet dan kenosis Allah. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Fil 2:5-7).


[1] Lih. Win Blevins, Stone Song: A Novel of the Life of Crazy Horse, Tom Doherty Associates, New York 1995.

[2] Manuel Castells, The Internet Galaxy, Oxford University Press, Oxford 2001, 2.

[3] Istilah ini dipakai dalam padanan dengan dampak revolusi yang dihasilkan oleh penemuan mesin cetak Guttenberg pada abad tengah yang sering disebut sebagai Guttenberg Galaxy. Bdk. Manuel Castells, The Internet Galaxy, 3.

[4] Bdk. Aditya Wardhana, “Perkiraan Jumlah Pengguna Internet dan Media Sosial di 2012” dalam http://salingsilang.com/baca/perkiraan-jumlah-pengguna-internet-dan-sosial-media-di-2012, diunduh 9 Maret 2012.

[5] Bdk. Manuel Castells, The Internet Galaxy, 3.

[6] Bdk. Dr. Tjipto Susana, ”Era Digital dan Kesetiaan pada Panggilan”, Pro Manuscripto, Januari 2011. Generasi X (the baby bust) yang lahir antara tahun 1965 hingga 1980. Anak-anak yang lahir pada generasi ini, tumbuh dengan video games dan MTV, serta menghabiskan  masa remajanya di tahun 80-an. Generasi X ialah generasi internet. Generasi X menganggap internet sebagai media yang tidak memerlukan kepakaran (nonspecialist media). Siapa saja boleh menggunakan internet dan bebas mengemukakan pandangan mereka. Sesudahnya muncul generasi Y (The Echo of the Baby Boom), (1981-1995) atau yang lebih dikenal dengan generasi Milenium, tumbuh seiring dengan banyak kejadian yang mengubah dunia, di antaranya berkembang komunikasi massa, serta internet. Setelah generasi Y, maka  muncul genersi Z yang disebut juga  Generation Net (lahir antara 1998 hingga sekarang) dengan ciri-ciri yaitu: (1) Memiliki akses yang cepat terhadap informasi dari berbagai sumber. (2) Dapat mengerjakan beberapa hal dalam waktu bersamaan (multitasking). (3) Lebih menyukai hal-hal yang bernuansa atau bernapaskan multimedia. (4) Lebih menyukai berinteraksi via dunia maya, jejaring sosial (Facebook, Twitter, Yahoo Messengger, hingga BBM). (5) Dalam belajar, lebih menyukai hal-hal yang bersifat aplikatif dan menyenangkan. Lih. Menyikapi Generasi Z Si Anak Instan. (2011, 23 Mei). Female Kompas.com. Diunduh dari http://female.kompas.com/read/2011/05/23/1928338/Menyikapi.Generasi.Z.Si.Anak.Instan

[7] Lih. http://en.wikipedia.org/wiki/Internet diunduh pada 22 Februari 2012.

[9] Lih. http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Internet diunduh pada 12 Februari 2012.

[10] Bdk. Anthony Giddens, Modernity and Identity: Self and Society in the Late Modern Age, Polity Press & Blackwell Publisher, Cambridge 1993, h. 187-201.

[11] Giddens menyebutkan empat jenis tegangan yang menandai migrasi ini: a. unification versus fragmentation b. powerlessness versus appropriation c. authority versus uncertainty d. personalised versus commodified experience.

[12] Bdk. Anthony Giddens, Modernity and Identity: Self and Society in the Late Modern Age, h. 75. Lebih jauh Giddens mengistilahkan seluruh proses pencerapan identitas ini sebagai trajectory of self.

[13] Sebagaimana dikutip oleh Charles Henderson, “The Internet as the Metaphor of God” dalam Cross Currents, Spring/Summer 2000, Vol. 50  Issues 1/2.

[14] Bdk. Karl Rahner, Foundations if Christian Faith: An Introduction to the idea of Christianity, trans. William V. Dych, The Seaburry Press, New York 1978, 146-147.

[15] Bdk. Karl Rahner, Foundations if Christian Faith: An Introduction to the idea of Christianity, 147-148.

[16] Karl Rahner, “Concerning the Realtionship between Nature and Grace”, dalam Theological Investigations, Vol. I, Darton, Longman & Todd, London 1967, 310.

[17] Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial, Aetatis Novae, DokPen KWI, Jakarta 1992, 27-31.

[18] Bdk. Marshall McLuhan, Understanding Media: The Existence of Man, London 2001, h. 8.

[19] Bdk. Karen Pärna, Believing in the Net, Leiden University Press, Leiden 2010,

[22] http://www.thechurchofgoogle.org, diunduh 9 Maret 2012.

[23] Peter Berger, A Rumor of Angels: Modern Society and the Rediscovery of the Supernatural , Doubleday and Co., Garden City, 1969, 86-87 .

[24] John Robert McFarland, “The Theology of Pac-Man” dalam Christian Century September 29, 1982, 956.

[25] K.P. Aleaz, “Play and Religion: Indication of Interconnection” dalam  Journal of the Asian Research Center for Religion and Social Communication, Volume 2 No. 1, 2004. Diunduh dari http://www.stjohn.ac.th/arc/playandreligion.pdf pada 9 Maret 2012.

[26]  Ratzinger, Joseph, 2007, 33-41

[27] Bdk. Richard Allan, “Measuring Facebook’s Economic Impatcs in Europe” diunduh dari http://www.facebook.com/facebookpublicpolicyeurope

[28] Bdk. Cheta Nilawaty, “Bahaya Facebook bagi Orang Rendah Diri” dalam TEMPO, No. 4050/13-19 Februari 2012, 44.

[29] Bdk. E. Bakshy, “Rethinking Information in Diversity Networks” diunduh dari https://www.facebook.com/notes/facebook-data-team/rethinking-information-diversity-in-networks

[30] Bdk. Ef. 3: 4-5

[31] Bdk. Rm 8:9-11; 1 Kor 3:16 dan Gal 5:22.

[32] Bdk. Karl Rahner, “Opportunities for Faith” dalam Foundations of Christian Faith: An Introduction to the Idea of Christianity, trans. William V. Dych, the Seaburry Press, New York 1968, 109.

[33] Bdk. Karl Rahner, “Opportunities for faith” dalam Foundations of Christian Faith: An Introduction to the Idea of Christianity, 8 dan 109.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s