Devosi Hati Kudus Yesus dan Adorasi Ekaristi: Titik Temunya?

Devosi Hati Kudus Yesus dan Adorasi Ekaristi

1.        Pengantar

Saat ini, banyak praktek devosi bersama maupun pribadi yang dijalankan umat. Dari banyaknya praktek devosi itu, devosi Hati Kudus Yesus rasanya kurang menarik bagi umat. Memang, devosi ini pernah sangat berkembang dan diminati umat. Bahkan, sebelum 1960 Karl Rahner berpandangan bahwa devosi Hati Kudus merupakan puncak agama dan bahwa semestinya setiap orang Kristen menghormati Hati Yesus[1]. Namun, setelah 1966 rupanya devosi Hati Kudus yang begitu jaya mengalami kemunduran. Rahner menduga bahwa sebagai devosi umat, Hati Kudus akan mundur pula[2].

Saat ini, devosi adorasi Ekaristi sebagai salah satu bentuk devosi Ekaristi malah berkembang dan booming terutama di Keuskupan Agung Semarang. Menarik bahwa dua devosi ini rupanya dihidupi bahkan menjadi tradisi dalam kongregasi SCJ. Dihidupinya dua devosi dalam satu kongregasi memunculkan suatu pertanyaan: mungkinkah bahwa dua devosi ini sebenarnya terkait satu sama lain bahkan mempunyai penghayatan sama hanya saja bentuknya beda hingga sebuah kongregasi Hati Kudus Yesus mempunyai tradisi kuat akan adorasi?

 

2.        Isi Devosi Hati Kudus Yesus

Dalam Kapitel Jenderal Yesuit mengenai Devosi Hati Kudus Yesus, dinyatakan bahwa devosi kepada Hati Kudus adalah untuk membalas cinta kasih yang dinyatakan Allah kepada kita melalui Yesus, dan pelaksanaan cinta kasih kita kepada Allah dan sesama kita. Devosi Hati Kudus Yesus mewujudkan cinta kasih pribadi timbal balik yang merupakan inti hidup kristiani dan hidup membiara. Inilah alasannya mengapa devosi kepada Hati Kudus dipandang sebagai bentuk yang unggul dan teruji untuk pembaktian diri kepada Kristus Yesus, raja dan pusat segala hati, yang begitu diperlukan oleh zaman kita, sebagaimana ditegaskan oleh KV II[3].

Dinyatakan bahwa devosi kepada Hati Kudus adalah untuk membalas cinta kasih yang dinyatakan Allah kepada kita melalui Yesus. Hal ini terkait erat dengan pemahaman bahwa Hati Yesus adalah lambang dan perwujudan cinta kasih Kristus yang tak terbatas. Cinta kasih itulah yang menjadi alasan utama pembaktian kepada Hati Yesus. Cinta kasih Allah itu sudah dinyatakan baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Di dalamnya, kita dapati suatu penggambaran yang hidup, yang memuncak dalam kedatangan Sabda yang menjadi manusia. Itulah awal Hati Yesus sebagai lambang cinta kasih-Nya[4].

Hati Yesus adalah bagian badan Yesus yang paling suci, bagian yang paling luhur dari kodrat manusiawi-Nya. Di dalamnya terjadi persatuan hipostasis antara kemanusiaan dengan pribadi sabda Ilahi. Hati Yesus menampakkan dua kodrat dalam diri Yesus, yakni ilahi dan insani, dan menampakkan pribadi sang Sabda sendiri. Hati merupakan simbol seluruh misteri penebusan manusia. Maka, bila kita menyembah Hati Yesus, yang sesungguhnya kita sembah adalah cinta Kristus yang ilahi dan insani. Kristus memperlihatkan Hati-Nya yang terluka dan bernyala-nyala kepada manusia yang tiada pernah akan padam selamanya[5]. Bila devosi ini dipraktekkan dengan jujur dan dengan pemahaman yang benar, akan membantu umat beriman untuk merasakan cinta kasih Kristus yang besar yang merupakan puncak kehidupan Kristiani[6].

 

3.        Isi Devosi Adorasi Ekaristi

Fokus seluruh praktek sembah sujud dan penghormatan di dalam Adorasi Ekaristi sebagai salah satu bentuk devosi Ekaristi adalah Tuhan Yesus Kristus yang diimani hadir dalam Ekaristi, dalam rupa roti dan anggur, baik dalam perayaan Ekaristi maupun sesudah misa kudus selesai[7]. Devosi Ekaristi merupakan ungkapan iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus yang hadir dengan seluruh misteri penebusan-Nya sebagaimana dirayakan secara sakramental dalam Perayaan Ekaristi. Maka, dalam devosi Ekaristi, meskipun hanya memandang dan menyembah Sakramen Mahakudus, yakni Kristus yang hadir dalam rupa roti, kita sebenarnya sedang mengungkapkan pujian syukur, sembah dan sujud, serta kekaguman atas misteri kasih Allah yang terwujud dalam karya penebusan Kristus yang dirayakan dalam Perayaan Ekaristi[8].

4.        Relasi antara Devosi Hati Kudus Yesus dengan Adorasi Ekaristi

Devosi Hati Kudus Yesus sangat erat kaitannya dengan Ekaristi Kudus. Dari dirinya sendiri, Ekaristi adalah anugerah Hati Yesus yang terluka karena cinta kepada kita. Sebab dari lambung yang tertikam, keluar darah dan air. Darah melambangkan sakramen Ekaristi. Kepada Margaretha Maria, Yesus mengeluh karena kedinginan dan ketidakacuhan manusia akan sakramen cinta kasih, yakni Ekaristi. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa perkembangan devosi Hati Kudus Yesus selanjutnya sangat berwarna ekaristis[9].

Paus Paulus VI sendiri menyatakan bahwa diantara devosi-devosi popular, devosi Hati Kudus mendapat tempat istimewa, sebab devosi itu terutama mempunyai dasarnya dalam misteri suci Ekaristi, yang daripadanya mengalir pengudusan manusia dalam Kristus dan pemuliaan Allah[10]. Bahkan, Paus Yohanes Paulus II menunjukkan bahwa hati Kristus yang ditikam demi kita, itulah cinta kasih yang menebus dosa, yang merupakan sumber keselamatan. Kita tidak hanya dipanggil untuk merenungkan dan memandang misteri cinta kasih Kristus itu, tetapi juga mengambil bagian di dalamnya. Itulah misteri Ekaristi Kudus, pusat iman kita, pusat kebaktian kita kepada cinta penuh belas kasih Kristus yang dinyatakan dalam Hati Kudus-Nya.

Oleh Yohanes Paulus II, devosi kepada Hati Kudus Yesus dengan tekanannya pada Ekaristi dipandang sebagai cara yang paling tepat untuk menghayati perutusan pokok Gereja, yaitu mengimani dan memberi kesaksian mengenai belas kasih ilahi. Dengan masuk ke dalam misteri Hati Kristus, kita mengenal kekayaan cinta kasih Kristus dalam sabda dan karya-Nya, yang mewahyukan cinta belas kasih Bapa di surga[11].

Dalam ensiklik Haurietis Aquas, devosi Hati Kudus akan membawa umat manusia untuk memperkembangkan penghormatan kepada Sakramen Mahakudus dan salib suci, sebab tidak ada seorangpun yang dapat mencintai Yesus yang tergantung di salib dengan tepat bila ia belum mengerti rahasia-rahasia misteri Hati Kudus Yesus. Devosi kepada Hati Yesus, bertujuan untuk mengingatkan kita bahwa karya cinta kasih Kristus yang paling utama ialah penetapan Ekaristi. Dengan sakramen Ekaristi, Kristus ingin bersama-sama dengan kita sampai akhir jaman. Ekaristi adalah anugerah Hati Yesus yang amat besar, sebab diberikan berdasarkan cinta-Nya yang amat besar pula[12]. Hati Yesus dalam Ekaristi melanjutkan hidup cinta kasih dan pengorbanan hidup-Nya di dunia ini. Semua misteri cinta kasih diungkapkan Tuhan secara padat dalam Sakramen Ekaristi yang agung dan patut dicinta[13].

 

5.        Sebuah pergeseran bentuk devosi namun sama dalam penghayatan

Telah dijelaskan bahwa devosi Hati Kudus Yesus rupanya mempunyai keterikatan yang sangat erat dengan Ekaristi yang menjadi sumber dari Adorasi Ekaristi. Dari devosi Hati Kudus Yesus dan Adorasi Ekaristi, sebenarnya terkandung spiritualitas yang sama, yaitu keterarahan pada cinta kasih Allah yang tanpa batas. Cinta kasih Allah ini, tampak dalam karya penebusan yang dihadirkan dalam Ekaristi dan kemudian dipandang dan disembah dalam bentuk Sakramen Mahakudus serta disimbolkan melalui Hati Yesus yang penuh cinta.

Spiritualitas yang sama ini, membuat masuk akal bahwa suatu kongregasi dengan spiritualitas Hati Kudus Yesus mempunyai tradisi Adorasi yang kuat. Bahkan, bila mau dikembangkan lebih lanjut, devosi Hati Kudus Yesus yang sekarang mundur dan diganti devosi Adorasi Ekaristi yang kini berjaya, sebenarnya tidaklah demikian. Devosi Adorasi Ekaristi yang sekarang berkembang sebenarnya adalah bentuk baru dari devosi Hati Kudus Yesus. Mengutip kembali apa yang dinyatakan oleh TT O’Donnel: “Ekaristi adalah anugerah Hati Yesus yang terluka karena cinta kepada kita,  tidak mengherankan bahwa perkembangan devosi Hati Kudus Yesus selanjutnya sangat berwarna ekaristis”. Pun pula pernyataan ensiklik Haurietis Aquas: “devosi Hati Kudus akan membawa umat manusia untuk memperkembangkan penghormatan kepada Sakramen Mahakudus dan salib suci, sebab tidak ada seorangpun yang dapat mencintai Yesus yang tergantung di salib dengan tepat bila ia belum mengerti rahasia-rahasia misteri Hati Kudus Yesus”.

Pernyataan bahwa Devosi Adorasi Ekaristi yang sekarang berkembang sebenarnya adalah bentuk baru dari devosi Hati Kudus Yesus, mungkin terlalu berani dan dianggap sebagai pembelaan dari pendukung devosi Hati Kudus Yesus.  Namun, tak ada salahnya untuk membuat suatu pernyataan yang baru dan unik.

 


[1] Bert van der Heijden, “Karl Rahner SJ, orang yang tertikam hatinya”, Pedoman Hidup 13 (1987) 6.

[2] Bert van der Heijden, “Karl Rahner SJ, orang yang tertikam hatinya”, 22.

[3] Bdk. NN, “Kapitel Jenderal Yesuit mengenai Devosi Hati Kudus Yesus”, Pedoman Hidup 13 (1987) 3-4.

[4] TT O’Donnel, “Ajaran Pimpinan Gereja Mengenai Devosi Kepada Hati Kudus Yesus”, Pedoman Hidup 20 (1990) 26.

[5] TT O’Donnel, “Ajaran Pimpinan Gereja Mengenai Devosi Kepada Hati Kudus Yesus”, 33.

[6] TT O’Donnel, “Ajaran Pimpinan Gereja Mengenai Devosi Kepada Hati Kudus Yesus”, 35.

[7] Bdk. E. Martasudjita, Pr, Ekaristi, Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral, 415.

[8] E. Martasudjita, Pr, Ekaristi, Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral, Kanisius, Yogyakarta 2005, 419.

[9] TT O’Donnel, “Ajaran Pimpinan Gereja Mengenai Devosi Kepada Hati Kudus Yesus”, 45-46.

[10] TT O’Donnel, “Ajaran Pimpinan Gereja Mengenai Devosi Kepada Hati Kudus Yesus”, 48.

[11] Bdk. TT O’Donnel, “Ajaran Pimpinan Gereja Mengenai Devosi Kepada Hati Kudus Yesus”, 52-53.

[12] Bdk. TT O’Donnel, “Ajaran Pimpinan Gereja Mengenai Devosi Kepada Hati Kudus Yesus”, 39.

[13] C. van Paasen, SCJ, “komentar pada konstitusi SCJ, Fasal II: setia pada kharisma bapa pendiri”, 68.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s