Inkulturasi bagi Ekaristi Kaum Muda

 “Heal the world… make it a better place… For you and for me and for the entire human race…”

(Michael Jackson, Heal the World)

Image
Sebuah Misa bagi Orang Muda di Jerman

 Lagu itu tak asing di telinga. Ada harapan dalam lagu itu; sebuah harapan kuat yang mengajak orang muda malam itu menggumamkan bibir, menggoyangkan kepala dan mengetuk dengan ujung sepatu high-heels mereka. “Heal the world, make it a better place…” Lagi-lagi refren lagu yang syahdu itu lamat-lamat diulangi peserta Ekaristi Kaum Muda (EKM) Malam Paskah 2012 di Paroki Kotabaru ini. Tak ada satu kata-pun yang menyebut Tuhan, Allah, Yesus atau perangkat religius lain dalam lagu yang dipakai dalam perayaan puncak iman Kristiani ini. Aneh? Mungkin saja. Lagu ini mengalun bersama tayangan yang diunggah dari Youtube tentang hancurnya pesisir Jepang akibat tsunami tahun lalu, mulut ternganga korban amuk Merapi dan anak-anak penuh perban dengan mata yang menatap kosong. Sekali lagi, tampilan visual ini pun tak menyorot satupun simbol religius dan tak ada footage ayat-ayat Kitab Suci apapun! Kengerian yang ditampilkan di banyak penjuru  gedung gereja itu sejurus terasa agak aneh. Bukankah sejatinya malam ini mestinya menjadi malam sukacita, malam kegembiraan karena peristiwa Paskah, peristiwa Tuhan yang bangkit mulia? Mungkin lagu dan tayangan ‘tanpa Tuhan’ ini hendak menunjukkan pada Gereja arti literal Paskah sebagai sebuah peristiwa ‘Tuhan yang lewat’. Justru di tengah meriah Paskah yang segera tiba, lagu dan tayangan di pembuka EKM malam itu hendak mengingatkan bahwa di garis-garis air mata kemanusiaan dan di dalam lorong-lorong dunia yang kelam dan malang, ada harapan bahwa Tuhan masih mau lewat… dan menyembuhkan.

Harapan itu seolah hendak dirayakan dengan meriah dalam misa tengah malam ini. Penari dengan gaun ketat dan jas mengkilap menghantar air baptis dan cahaya lilin sampai ke depan altar; bahkan dengan lenggangnya berputar, meliuk dan menginjak-injak wilayah panti imam dengan hentakan kaki mengikuti musik instrumental yang berderap. Di sana, garis batas konvensional antara umat dan imam sebagaimana diajarkan oleh guru agamaku ketika SD menjadi relatif – juga garis batas antara yang suci dan profan. Rm. F.X. Murti Hadi Wijayanto, SJ – si produser film Soegija itu – bahkan lepas-bebas bercanda-ria dalam homilinya dan menghubungkan pesan Injil dengan kata-kata gaul, macam: sob’, alay dan gombalan, yang pasti datang dari iklan dan program televisi yang digandrungi orang muda (kata-kata ini tidak akan kau temukan dalam rubrik di buku TPE, sobat!). “EKM tu misanya lebih hidup ‘frat! Soalnya menarik! Isinya dekat dengan dunia kita! Gak ngebosenin!” tandas Wibi, seorang umat muda dan pelajar di SMU de Britto.

Di balik semua itu, adalah Team EKM Paroki St. Antonius Kota Baru-lah yang menjadi perencana lagu, video, dan tarian dalam misa agung ini. Tommy, juga anggota team, dan sekian banyak temannya yang rajin mengikuti misa harian dulu merasakan betapa Ekaristi menjadi sangat membosankan. Mereka prihatin karena Gereja jauh dari ‘bahasa’ orang muda saat merayakan liturginya.  Gilang, seorang anggota team mengatakan: “Lagu profan dan kemasan tema didiskusikan dulu dari jauh hari agar kita dapat menemukan hubungannya dengan pesan Injil yang direfleksikan pada EKM itu, frat!”

Perjumpaan antara nilai-nilai Injil dengan simbol-simbol budaya popular, yang dapat lahir dari lagu, iklan, acara televisi, potongan video di youtube atau sekadar guyonan di radio, ini sangat nyata terasa dalam EKM. Di sana, dalam EKM, Gereja muda ini terdorong untuk menjadikan Ekaristi sebagai momen perjumpaan. Saat mereka menghadirkan diri di depan Allah, mereka hadir sebagai orang muda dalam dunia mereka yang ramai itu. Aku heran bagaimana pernak-pernik yang tampaknya bersih dari maksud dan refleksi teologis itu justru dengan gamblang dapat ditangkap sebagai sebuah penyingkapan kehendak Tuhan saat dibawa dalam sebuah EKM. “…Tuhan juga ingin komunitas orang muda ikut membaharui dunia dalam hidup sehari-hari, frater!” ujar Bertha, sang ketua Team, padaku selepas misa malam itu. Dalam EKM Malam Paskah itu, kehendak Tuhan ‘terlihat’ jelas dalam batinku: sebuah paguyuban Gereja Muda yang berjalan dalam kebersamaan menimba semangat dari altar yang tak terasingkan, dan lalu menuju pelataran, berbagi kebaikan Allah di tengah dunia yang sakit ini.

EKM sebentuk Inkulturasi (?)

Mengapa EKM dapat dikatakan sebagai sebentuk proses inkulturasi? Untuk dapat menjawab pertanyaan penting ini, marilah kita melihat lebih dahulu definisi, tahap dan tujuan dari inkulturasi terlebih dahulu. Inkulturasi dapat dirumuskan sebagai suatu proses yang terus menerus dimana Injil diungkapkan ke dalam suatu situasi sosio-politis dan religius-kultural dan sekaligus injil itu menjadi daya dan kekuatan yang mengubah dan mentransformasikan situasi tersebut dan kehidupan orang-orang setempat.[1] A.Chupungco melihat inkulturasi dalam konteks liturgi sebagai suatu proses dalam mana unsur-unsur tertentu dari budaya lokal diintegrasikan ke dalam teks, ritus, simbol dan institusi yang digunakan atau dijalani dari Gereja setempat bagi ibadatnya.[2] Penggunaan budaya popular dan simbol-simbolnya – walau tidak semata-mata merupakan budaya lokal – dalam EKM juga menjadi sebuah proses inkulturasi dalam pengertian bahwa di dalamnya terjadi juga relasi (timbal-balik) antar Injil Yesus Kristus yang merupakan warta kristiani dan budaya, serta dimensi transformatif yang meliputi aspek lahiriah dan batiniah. EKM menggunakan media-media tertentu yang memberi ruang yang cukup bagi kaum muda untuk mengekspresikan penghayatan imannya dalam liturgi. Simbol-simbol budaya popular – misalnya: penggunaan musik ber-genre non-musica sacra, tata gerak dan tari modern, lagu-lagu cinta dari artis atau grup band tertentu, video-klip yang diramu dengan bahasa orang muda – yang dirasa sangat dekat dengan hidup orang muda dapat diintegrasikan dalam bagian-bagian Ekaristi sejauh membantu kaum muda yang hadir dalam ekaristi itu untuk masuk dan terlibat dalam misteri Allah yang terungkap dalam liturgi yang sedang dirayakan.

Proses inkulturasi dengan budaya popular dalam EKM ini disadari mesti bergerak sesuai dengan tujuan umum inkulturasi, yaitu: agar hal-hal yang kudus dalam Injil dapat diungkapkan dengan lebih jelas dan umat dapat menangkapnya dengan jelas, dapat berpartisipasi dengan penuh sabar dan aktif menurut cara yang khas dan cermat.[3] Ungkapan simbol liturgis tersebut tidak memerlukan banyak penjelasan dan umat dengan cepat dapat mengerti dengan baik dan ikut serta dengan aktif. Sedangkan ”menurut cara yang khas dalam jemaat” diartikan bahwa berbagai ungkapan simbolik yang khas pada umat yang merayakan liturgi itu. Ungkapan ”partisipasi secara penuh dan aktif” oleh umat beriman dalam liturgi yang dirayakan mencakup perwujudan iman dalam kehidupan konkrit yaitu mengalami transformasi hidup umat beriman oleh warta Injil yang dirayakan. Penggunaan unsur-unsur budaya popular dalam EKM tidak dimaksudkan untuk membuat ekaristi menjadi sebuah ajang tontonan akan kreativitas yang ditampilkan atau ajang untuk merasakan suasana hiruk pikuk orang muda atau ajang untuk mencari popularitas pihak tertentu melainkan sebagai media atau sarana untuk membantu dan mengantar orang-orang muda untuk mengalami perjumpaan dengan Allah melalui simbol-simbol yang familiar dengan dunia mereka.

Ekaristi Kaum Muda sebagai proses inkulturasi menjadi sebuah momen perjumpaan antara Allah dan orang-orang muda dimana di dalam Allah hadir dan berbicara melalui dunia mereka yang dihidupi dan dihayati setiap hari. Tidak hanya berhenti pada pengalaman perjumpaan itu dalam ekaristi melainkan kemudian ada kelanjutan dalam aspek perwujudan iman secara konkret dalam kehidupan sehari-hari dari kaum muda.


[1] Bdk. Giancarlo Collet, “Inkulturation”, dalam P. Eicher (ed.), Neues Handbuch Theologischer Grundbegriffe, Kosel, Muenchen 1991, 395 seperti dikutip dalam E. Martasudjita Pr. Pengantar Liturgi. Makna, sejarah dan Teologi Liturgi, Yogyakarta: Kanisius 1999, 79.

[2] Diktat Matakuliah Teologi Inkulturasi : Injil Yesus Kristus dalam Perayaan Iman Gereja Lokal, E.Martasudjita Pr., seperti dikutip dari Chupungco, Liturgy  and Inculturation, 339.

[3] Bdk. Liturgia Romana et Inculturatione (Liturgi Romawi dan Inkulturasi) 35.

Advertisements

One thought on “Inkulturasi bagi Ekaristi Kaum Muda

  1. Perlukah Tatanan Dalam Menjaga Sakralitas Tempat Suci dan Sakramen Maha Kudus Dalam Gereja Katholik

    “lonjor teu muenang dipotong, pondok teu muenang disambung” / terlalu panjang jgn dipotong, telalu pendek jgn disambung…. bagaimana kebijakan di “Orang Kanekes” atau sering kita kenal sebagai suku baduy, membuat mereka bertahan pada tradisi, menerima dgn rendah hati tiap aturan leluhur, hingga mereka tetap dipandang LUHUR sampai sekarang… selamat menghayati!
    Saat mempelajari masyarakat Baduy saya sempat menuliskan kata-kata singkat sebagai penghormatan saya pada masyarakat ini, berikut tulisan saya tersebut, “Orang-orang Kanekes lebih sosialis dibandingkan marxis, lebih naturalistik daripada pandangan ataupun segala gerakan naturalisme yang terispirasi Vandana Shiva dan lebih spiritualistik dibandingkan spiritualisme agama-agama impor”
    Sebuah masyarakat yang merupakan anti-tesis dari peradaban yang rusak, eksploitatif dan koruptif atau dalam bahasa lainnya bisa dikatakan bahwa mereka adalah Adam dan Hawa yang belum tercemar, Adam dan Hawa yang masih tinggal di Firdaus. Masyarakat yang sangat cerdas untuk hidup berdampingan dengan alam secara harmonis, masyarakat yang selalu merasa cukup dan bersyukur. Parimeter kecerdasan yang jelas sangat berbeda dengan peradaban masyarakat “modern”, namun saat ini kita bisa dengan jelas kecerdasan mana yang konstruktif dan kecerdasan mana yang konstruktif. Yang menarik adalah bagaimana dibanyak suku adat dan terutama di Baduy memandang obyek yang dipandang sakral bagi mereka. Dari mereka terlihat jelas bahwa obyek sakral perlu dihidupi dengan segala aturan dan tatanan yang melekat padanya. Dalam hal suku baduy, segala tatanan dari Buyut yang diturunkan kepada Puun (pimpinan tertinggi dalam pamarentahan suku Baduy) merupakan hal sakral (keramat) yang tidak perlu dipertanyakan dan direka-reka sesuai selera. Segala bentuk atau usaha mengubah tatanan tersebut merupakan potensi akan hancurnya sakralitas tersebut, bahwa sakralitas perlu dihidupi dengan tatanan yang kemudian harus disakralkan juga, merupakan sebuah usaha untuk mempertahankan identitas sakral dari obyek, karena pada dasarnya sakralitas sebuah obyek tidak pernah hidup dengan sendirinya melainkan dihidupi oleh pandangan subyek-subyek yang terkait dengannya.
    Sebagai ilustrasi lain, dalam Kraton Jogjakarta,Kraton dan Sultan sebagai sebuah obyek sakral. Watak kepemimpinan dalam konsep kekuasaan Jawa atau menurut Budaya Mataram disebut dengan doktrin Keagungan binatharaan. Kewenangan yang besar dan mutlak atau “wewenang murba wisesa” yang digambarkan dengan ungkapan “bnathara, mbau dhendha anyakrawati” (sebesar kekuasaan, dewa, pemeliharaan hukum dan penguasa dunia), sehingga wajarlah, bahkan hingga sekarang mayoritas masyarakat DIY masih setuju penetapan dibandingkan pemilihan, dalam konteks keistimewaan DIY, dan bagaimana sakralitas Sultan dan Kraton (minimal dalam konteks Budaya) tetap dilindungi oleh tatanan-tatanan yang terkesan sangat feodalistik dalam kerangka pikir “modern” atau “popular”, semisal budaya sembah, cara jalan dan banyak lagi tatanan yang harus dilakukan seorang abdi dalem kepada rajanya.
    Dalam kaitannya dengan masyarakat agama, masyarakat agama selalu memiliki hal-hal yang disakralkan, baik itu tempat ibadah maupun tatacara ibadah, dll, dalam agama Katholik misalnya, Bagunan Gereja sebagai tempat suci serta tubuh Kristus yang tersimpan dalam Tabernakel merupakan obyek sakral bagi umat katholik, sehingga perlu tatanan untuk terus menghidupi kesakralannya dan tentunya tatanan tersebut haruslah dihidupi oleh umatnya, jikalau sakralitas tersebut ingin dipertahakan. Tatanan-tatanan tersebut banyak diatur, salah satunya dalam Dokumen Konsili Vatikan II yaitu dlm Sacrosanctum Concilium yang mengatur tentang kaidah-kaidah dalam beribadah. Dalam pandangan saya aturan-aturan tersebut dirumuskan oleh Bapa-bapa Gereja dengan tidak hanya memperhatikan aspek teologisnya saja namun juga aspek-aspek sosio-antropologis dan aspek-aspek yang lain, Inkulturasi dalam liturgi harus dipahami bukan sebagai sebuah proses yang semata-mata menyesuaikan diri terhadap selera umat, sehingga berpotensi merusak tatanan yang menghidupi sakralitas Gereja, apalagi ketika selera sangat terkait pada segmen dan terkait dengan budaya yang “populer” yang selalu bercirikan dinamis dan berubah dengan cepat. Terkait dengan Inkulturasi ini dinyatakan bahwa Gereja “hendak mengusahakan dengan seksama pembaruan umum liturgi” (SC 21). Maksudnya supaya umat kristiani terjamin mendapatkan rahmat yang berlimpah dari liturgi. Untuk itu ditentukan kaidah “siapa” yang berhak mengubah liturgi: Paus dan dalam batas-batas tertentu Konferensi Waligereja (SC 22), Hal itu adalah agar tradisi yang sehat dipertahankan, dan perkembangan yang wajar harud didasari oleh penyelidikan teologis, historis dan pastoral secara cermat. Bukan semau-maunya (SC 23). Kitab Suci merupakan tulang punggung liturgi, baik bacaan, homili, nyanyian, seruan permohonan, madah dan perlambangan (SC 24). Sikap yang mengutamakan keheningan dalam sebuah perayaan Korban Ekaristi menjadi penting dalam kaitannya dengan sakralitas Korban Ekaristi tersebut. Sekali lagi Gereja Katholik perlu menghidupi dan dihidupi umatnya, dalam hal ini saya berpendapat bahwa dari banyak studi tentang relasi sakralitas dan masyarakat dalam masyarakat adat ditemukan bahwa sakralitas memerlukan sebuah tatanan yang harus dijaga oleh otoritas yang mempunyai legitimasi kuat di mata masyarakatnya, dengan demikian masyarakat akan terus memegang teguh tatanan tersebut dan sakralitas tersebut akan terus dihidupi. Belajar dari masyarakat Baduy yang hingga kini berhasil menjadi anti-tesis dari masyarakat yang eksploitatif dan korup, jelas mereka tidak akan bertahan tetap menjadi seperti itu tanpa mematuhi tatanan yang menghidupi sakralitas mereka.
    Pertanyaannya sekarang, apakah Gereja Katholik masih memerlukan tatanan untuk menghidupi sakralitasnya? Ataukan demi selera umat, potensi-potensi yang dapat merusak sakralitas tersebut bisa bebas dilakukan?

    -Satrio S. Prihantoro, 100% awam Katholik-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s