Soegija dan Visi Politis Devosi Hati Kudus Yesus

“Kemanusiaan itu satu… ” (Mgr. Soegijapranoto, SJ)

Film Soegija yang telah banyak menjadi buah bibir umat naik tayang pada awal Juni 2012 ini. Bagi saya, momen ‘Soegija’ ini menjadi lebih bermakna karena Juni adalah sebuah bulan yang sesuai tradisi Gereja dipersembahkan pada Hati Kudus Yesus. Memang banyak di antara kita yang dekat dengan devosi ini dalam banyak bentuk: adorasi pemulihan, doa novena Hati Kudus Yesus, Ekaristi Jumat Pertama, atau hormat pada gambar-gambar Hati Kudus Yesus. Laku tapa-kesalehan ini telah membawa banyak sekali rahmat bagi jiwa-jiwa. Namun film ‘Soegija’ ini membuat saya ingat akan satu sisi lain dari devosi Hati Kudus Yesus, yaitu: visi politis, soal kekuasaan dan keterlibatan dalam tata masyarakat.

Di balik devosi yang menekankan hidup persatuan hati yang penuh kasih ini, terdapat pula seruan bagi umat untuk maju mengusahkan sebuah gerakan sosial: gerakan ‘Kerajaan Hati Kudus.’ Istilah ‘kerajaan’ ini dapat ditelusuri dari kisah St. Margareta-Maria, mistikus yang mendapat penampakan Hati Kudus Yesus dan pesan untuk menyebarluaskan hormat bakti bagi HatiNya. Sesudah penampakan Hati Kudus Yesus pada tanggal 17 Juni 1689, St. Margareta-Maria mengirim surat permohonan pada Raja Louis XIV yang meminta agar Kerajaan Perancis dibaktikan pada Hati Kudus dan gambar Hati Ilahi itu dipasang pada panji kerajaan. Bagi St. Maria-Margareta, pesan penampakan Hati Kudus Yesus menjadi jelas: agar kebaktian rohani ini menyentuh juga sendi-sendi hidup sosial-politik. Pada waktu itu memang monarki dan Gereja masih tidak dipisahkan secara organisatoris karena para Kaisar diangkat oleh Paus yang adalah wakil Allah. Walau demikian, tetap saja visi politis ini juga dapat diterapkan pada zaman ini.

Pater Leo Yohanes Dehon, pendiri Imam-Imam Hati Kudus Yesus, menangkap dua pengertian dalam visi politis devosi ini bagi umat saat ini: kerajaan Hati Kudus Yesus dalam jiwa-jiwa dan dalam masyarakat. Di dalam pengertian ini, terlihat jelas bahwa hidup batin dan kewajiban sosietal (gesellschaftlich) tidak dipisahkan. Bagi Dehon, ketika kita masuk dalam misteri Allah yang paling dalam, yaitu HatiNya yang penuh kasih, kita masuk dalam kasih yang menyejarah, yang konkret dan real dalam peristiwa Lambung Tertikam di salib. Maka, hidup batin yang mendalam mestinya juga masuk dalam sejarah, masuk dalam perjuangan nyata Gereja bagi kesekawanan, persaudaraan antar manusia, keadilan, serta pembelaan hak dan martabat manusia. Pembatinan yang mendalam akan misteri kasih Allah itu membuat kita sampai pada sebuah vitalitas rohani. Vitalitas ini tidak hanya mengundang orang untuk datang dan belajar pada Yesus yang lemah-lembut dan rendah hati, tetapi juga untuk bersama Yesus melemparkan api ke bumi, membalik meja-meja penuh uang hasil kongkalikong dengan penguasa di pelataran Bait Suci, dan berani melawan struktur sosial macam Sabat yang tidak memanusiakan orang.

Vitalitas inilah yang membuat kita dan sekian banyak orang non-Katolik tertegun dengan kisah Soegija. Kisah Soegija adalah kisah tentang seorang Kristiani yang berusaha melalui doa, keringat dan air mata meneruskan ‘sejarah keselamatan’ yang telah mulai sejak Allah menjadi manusia. Cintanya pada Allah tidak tinggal sebagai rasa-rasa rohani, atau gerakan emosi sesaat. Doa Soegija membuatnya mampu terlibat ‘melemparkan api ke bumi Indonesia’, sebagaimana dicita-citakan oleh setiap tradisi spiritualitas dan devosi Kristiani. Kita melihat perjuangan sang Uskup yang dengan sepeda onthel bersahaja membela orang-orang bangsanya yang rapuh dan dibelenggu penjajahan. Dengan kagum kita saksikan dalam diri Soegija bagaimana integritas yang datang dari doa-tapa dapat mengubah satu bangsa.

Semoga di bulan Hati Kudus Yesus ini, pelan-pelan kita belajar terlibat dalam tata-masyarakat dan memiliki integritas moral, iman dan tindakan yang sama dengan Soegija, yang lahir dari dalamnya pengenalan kita akan kasih Allah pada dunia. Inilah dua hal utama bagi bangsa kita yang belakangan makin akut dengan wabah korupsi, konsumerisme dan tumpulnya ketergerakan hati.

In Corde Iesu 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s