Pendekatan Kritis Charles E. Curran terhadap Argumen Hukum Kodrat dalam Humanae Vitae 11 dan 14


Prof. Dr. Charles E. Curran: Pemikiran kritisnya atas moral seksual kristiani membuat Vatikan mencabut hak mengajarnya di institusi kepausan…

1. Pilihan Topik

Gereja mengeluarkan ajaran kontroversial yang menentang penggunaan kontrasepsi buatan dalam  bentuk apapun di Ensiklik Humanae Vitae (HV) no. 11 dan 14. HV diundangkan pada 29 Juli 1968 di Roma oleh Paus Paulus VI. Melalui studi pustaka atas beberapa karya – salah satunya adalah Pedoman Pastoral Keluarga yang dikeluarkan KWI baru-baru ini – penulis menemukan bahwa argumen dari HV 11 dan 14 adalah argumen yang paling sering dikutip untuk menegaskan dilarangnya penggunaan alat-alat kontrasepsi dalam hubungan seksual suami-istri.

HV no 11 dan 14 dengan jelas mengutuk penggunaan alat kontrasepsi apapun atas dasar hukum kodrat yang ‘ditafsirkan’ dengan penuh hanya oleh Gereja.[1] Dalam sejarahnya, ternyata ada begitu banyak teolog-moral yang menentang HV 12 ini sebagai dasar justifikasi Gereja atas kontrasepsi sebagai sesuatu yang secara intrinsik jahat dan menyimpang (disorder). Sejak awal diundangkannya ensiklik ini, para teolog moral dan para Uskup telah mengambil sikapnya masing-masing dan menghasilkan pula argumentasi-lawan (dissenting-oppinions).[2] Sampai saat inipun, sebagai diskusi di level akademis, HV 11 dan 14 masih ada dalam tegangan dan perdebatan moral.

Mengapa Gereja masih terus menerus mengulangi ajarannya tentang larangan penggunaan alat kontrasepsi? Lepas dari soal sahihnya argumentasi dalam ajaran Gereja itu, Charles E. Curran – seorang teolog Amerika Serikat – ‘menarik’ soal ini dalam ranah ‘kekuasaan’ yang dimiliki Hirarki Gereja sebagai penafsir utama Hukum Kodrat.[3]

2. Pendekatan Kritis pada Penafsiran Hukum Kodrat

Curran sendiri mengakui dalam bukunya, Directions in Fundamental Moral Theology, bahwa terdapat banyak segi yang melekat pada penolakan Gereja atas penggunaan kontrasepsi buatan ini. Namun demikian, Curran menyatakan bahwa pilihan Gereja untuk menggunakan hukum kodrat sebagai argumen utama penolakan itu adalah sumber awal dari seluruh argumen lainnya.[4]

2.1. Hukum Kodrat yang Relatif oleh Realitas Kedosaan

Curran pertama-tama mengkritisi argumen hukum kodrat sebagai sebuah argumen yang parasial karena tidak diletakkan dalam bingkai sejarah keselamatan Kristiani yang holistik. Memang hukum kodrat diakui sebagai sebuh pengakuan akan sumber etis lain di luar Kitab Suci dan Tradisi Suci, dan karenanya menjadi justifikasi untuk menetapkan sikap Gereja atas masalah-masalah etis yang umum sifatnya. Hanya saja, hukum kodrat dimengerti oleh Paus Paulus VI sebagai sebuah entitas yang begitu saja ada dan integral dalam kemanusiaan kita serta kemudian dapat ‘dilengkapi’ dengan hukum adikodrati. Pemutlakan yang terjadi dalam argumen hukum kodrat di HV menunjukkan kurang diletakkannya perspektif hukum kodrat dalam seluruh sejarah keselamatan. [5] Padahal, menurut Curran, hukum kodrat ini harus dimengerti juga secara relatif dalam paham soteriologi Kristiani yang sarat dengan pembahasan moral tentang ‘pengaruh dosa’ dalam kodrat manusia. Situasi kedosaan yang merasuk sampai ke kodrat terdalam manusia dapat mempengaruhi putusan moral seseorang. Hukum kodrat tidak lepas dari pengaruh dosa ini sehingga juga dapat saja salah dan karenanya tak boleh dimutlakkan sebagai kebenaran penuh.[6] Apa yang menjadi ‘kodrat’ kemanusiaan sangat relatif sifatnya dan karenanya dalam situasi kedosaan ini, seorang Krsistiani dapat didorong untuk mengadopsi tindakan yang tidak akan dipilih seorang saat ada dalam ketidak-berdosaan.[7]

2.2. Hukum Kodrat: Sistem Filosofis yang Tidak Monolitik

Keberatan Curran atas absolutisasi argumen hukum kodrat dalam HV juga berangkat dari keasadaran bahwa refleksi tentang hukum kodrat tidak pernah berasal dari satu saja sistem filosofis. Kata ‘hukum’ sendiri memiliki nuansa berbeda seturut zamannya. Bila saat ini kata ‘hukum’ dimengerti dalam bingkai legal, Thomas Aquinas malah memaksudkannya sebagai ‘ordering of reason.’[8] Sementara itu, hukum kodrat juga berkembang dalam sejarah dan dalam pemikiran beragam tokoh yang berbeda – bukan hanya dalam gagasan Thomas Aquinas. Kerangka sejarah ini perlu untuk melihat perkembangan bagaimana dan kapan sifat unitif dan prokreatif dalam tiap hubungan seksual dimasukkan menjadi ‘hukum kodrat’.

2.3. Bahaya Physicalism

Argumen kritis Curran selanjutnya berkutat pada hipotesa yang datang dari penelusuran sejarah bahwa hukum kodrat Thomas Aquinas (yang dipakai juga dalam sistem teologi HV) mendapatkan pengaruh dari Ulpian, seorang pengacara Romawi yang wafat pada 228, yang hanya mengidentifikasi aksi manusia dalam struktur fisik dan biologis semata.[9] Thomas Aquinas banyak mengadopsi pemikiran Ulpian mengenai ‘natura’. Hukum ‘natura’ dalam pemikiran Ulpian ternyata didasari oleh kesamaan dan apa yang umum ditemukan dalam perbadningan basis tindakan manusia dan hewan. Teologi tradisional bahkan mengidentikkan ‘natura’ dengan proses hewani atau proses biologis semata tanpa merasa perlu menekankan manusia sebagai makhluk berakal budi. Hal ini membawa pengaruh besar dalam definisi dosa seksual sebagaimana tercatat dalam manual teologi moral pada zaman itu. Curran menjelaskan:

“The manusals generally divide the sins against the sixth commandments into two categories – the sins against nature (peccata contra naturam) and sins in acoord with nature (peccata secundum naturam). ‘Nature’ is thus used in Ulpian’s sense, as that which is common to humans and all the animals. In matters of sexuality, human share with the animal world the fact of the sexual union whereby mae seed is deposited in teh vas of the female. Sins against nature, therefore, are those acts which the animal or biological process is not observed – pollution, sodomy, bestiality, and contraception. Sins according to nature are those acts in which proper biological process is observed but something is lacking in the sphere which belongs only to rational beings. These include fornication, adultery, incest, rape and sacrilege.”[10]

 

Menjadi jelaslah bahwa bagian-bagian pokok dari pengertian hukum kodrat Thomas Aquinas yang banyak dipeluk oleh Gereja berasal dari tradisi primitif, sebuah tradisi yang sangat berbeda dengan masa sekarang. Pengaruh aliran Stoa yang banyak muncul dalam pemikiran Thomas misalnya sangat berbeda dengan pemikiran manusia saat ini yang telah berhasil menaklukan alam dan yang meletakkan kebahagiaannya bukan pada ketundukan pada hukum alam, melainkan sebaliknya, pada penundukan terbatas kekuatan-kekuatan alam. Masyarakat primitif memberi tekanan besar pada proses fisik-biologis sehingga masturbasi bahkan dilihat melulu hanya dari sudut fisik saja pada teologi moral abad XVI.  Sementara masyarakat saat ini – berkat kemajuan ilmu pengetahuan – tentu tidak dapat serta merta mengulangi begitu saja pa yang dikatakan oleh Alfonsus dari Ligouri, misalnya, mengenai masturbasi karena kita telah mengetahui lebih baik tentang aspek masturbasi daripada sang santo itu.[11] Bahaya yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa argumen hukum kodrat didasarkan pada sebuah pemikiiran tak seimbang yang memberi tekanan begitu kuat hanya pada proses fisik dan biologis saja sehingga dimensi lain tidak diperhatikan.

3. Pendekatan Metodologi Alternatif

Teori hukum kodrat – selemah apapun juga – tetap memegang dua nilai pokok yang sangat penting bagi teologi moral: (1) menjadi bukti adanya sumber pengetahuan dan kebijkasanaan etis yang juga dibagikan oleh Kristianitas pad aseluruh kemanusiaan; dan (2) menjadi fakta bahwa moralitas tidak bis ahanya menjadi ikatan subyektif bagi seorang individu atau sekelompok individu saja.[12] Tetapi untuk menopang dua kepentingan ini, Curran menunjukkan bahwa kita tidak harus berpegang pada teori hukum kodrat sebagaimana dianut dalam HV. Ada beberapa pendekatan lain yang dapat digunakan, yaitu: (1) personalime, (2) pendekatan relasional-komunitarian, dan (3) metodologi transendental. Semua pendekatan ini diklaim oleh Curran dapat menolak kesimpulan absolut dalam ensiklik HV yang dibuat Paus saat mengutuk begitu saja semua jenis kontrasepsi buatan.

3.1. Personalisme

Pendekatan personalis ini selalu berusaha melihat tindakan dalam pengertian dan perspektif pelaku saat melakukan tindakan tersebut. Gaudium et Spes 51 menunjukkan standar obyektif dalam moralitas seksual adalah “didasarkan pada kodrat manusia dan tindakannya.”[13] Personalisme dapat memberi pertimbangan obyektif sesuai situasi pribadi-pelaku sehingga – dalam situasi tertentu – kontrasepsi buatan dapat dibenarkan.[14]

3.2. Pendekatan relasional-komunitarian

Model pendekatan ini melihat pribadi sebagai agen moral yang memberikan respon terhadap jaringan-relasi di sekitarnya yang menuntut tanggung-jawab diri. Tanggungjawab diri ini tumbuh dari gerakan dan proses sosial untuk merespon dan menjadi seoarng yang dapat diandalkan dalam sebuah komunitas universal.[15] Maka, demi relasi pernikahan dan keluraga yang bertanggungjawab, pasangan suami-istri dapat dengan suara hati jernih memilih kontrasepsi buatan.

3.3. Metodologi Transendental

Pendekatan ini berhutang pada gagasan Joseph Marechal, yang kemudian dikembangakan dalam banyak bentuk oleh Lonergan, Rahner dan Emerich Coreth. Pendekatan transendental ini berusaha melampaui obyek yang diketahui dari struktur manusia dalam proses mengetahui sesuatu. Etika transendental Lonergan meletakkan tekanan pada ‘proses mengetahui dan membuat pertimbangan dari apa yang ia ketahui tentang dunianya’. Nilai moral bukanlah hak milik intrinsik dari tindakan atau obyek yang ada di luar diri saya. Subyek moral, sebaliknya harus msauk dalam dirinya dan memeriksa struktur dari proses mengetahui dan memutuskan. Kriterianya pemeriksaannya dalam etika Kristiani jelas: apakah saya mampu menjawab panggilan inisiatif Allah, Sang Kasih itu, dengan iman?[16] Bila keputusan untuk mengambil kontrasepsi buatan sungguh berangkat dari kesadaran matang saya untuk menjawab kasih Kristus yang menebus dan membebaskan manusia, maka kontrasepsi buatan dapat menemukan pembenarannya dan tidak harus selalu menjadi sesuatu yang ‘intrinsik jahat’. Bukankah pertimbangan transendental ini jauh lebih baik dibandingkan dengan pendekatan argumen hukum kodrat yang hanya melihat aspek fisik dan biologis manusia dalam kesamaannya dengan hewan?!

***

Medio April 2012

Albertus Joni, SCJ

(Program Magister Teologi – USD – FT 3028)

 


[1] bdk. James Likoedis, “How Humanae Vitae Continues to Be Subverted?” dalam The Wanderer, issue of January 24, 2002

[2] bdk. William F. Allen, Sexuality Summary, Alba Books, Ohio 1977, 131-134

[3] bdk. HV no. 4 dan Charles E. Curran et al., Dissent In and For the Church: Theologians and Humanae Vitae, 123-127.

[4] Bdk. Charles E. Curran, Directions in Fundamental Moral Theology, University of Notre Dame Press, Notre Dame 1986, 119.

[5] Bdk,. Charles E. Curran, Directions in Fundamental Moral Theology, 124-125.

[6] Bdk,. Charles E. Curran, Directions in Fundamental Moral Theology, 122-123.

[7] Bdk,. Charles E. Curran, Directions in Fundamental Moral Theology, 124.

[8] Bdk,. Charles E. Curran, Directions in Fundamental Moral Theology, 126.

[9] Bdk,. Charles E. Curran, Directions in Fundamental Moral Theology, 127-132.

[10] Bdk,. Charles E. Curran, Directions in Fundamental Moral Theology, 129.

[11] Bdk,. Charles E. Curran, Directions in Fundamental Moral Theology, 134-135.

[12] Charles E. Curran, Directions in Fundamental Moral Theology, 158.

[13] Bdk. GS 51.

[14] Bdk,. Charles E. Curran, Directions in Fundamental Moral Theology, 158-159.

[15] Bdk,. Charles E. Curran, Directions in Fundamental Moral Theology, 159.

[16] Bdk,. Charles E. Curran, Directions in Fundamental Moral Theology, 159-160.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s