Para Frater Novis yang Mengalahkan Harimau

Salah satu sisi terbaik dari masa Postulat-Novisiat adalah bahwa ia menjadi masa untuk saling mengakrabkan diri dan mengenal lebih dalam rekan-rekan sepanggilan. Untuk itu, diperkenalkanlah program pairing bagi para postulan dan novis. Program ini menjadwalkan teman sharring per mingguan yang digilir di antara rekan-rekan calon SCJ yang ‘bertapa’ di Gisting.

Sharring-pun dilakukan secara informal – lewat jalan bersama setelah makan atau saat duduk istirahat setelah belajar pagi. Program ini sungguh amat baik karena membantu kami mengenal siapa rekan kami. Salah satu buahnya adalah kami dapat menemukan dua rekan frater setingkat yang mampu mengalahkan harimau Sumatera yang alkisah masih suka berkeliling dalam hutan di Gunung Tanggamus.

Di bawah temaram bulan setelah makan malam, dua rekan frater novis setingkat kami berjalan bersama ke arah lapangan volley. Sharring pun dimulai dengan hangat – perut sudah kenyang dan kebetulan esok tidak ada pekerjaan rumah yang harus dilakukan. Frater A dan Frater S saling berbagi suka duka pengalaman mereka dalam hidup di Novisiat sambil terus melangkahkan kaki dengan ayunan kecil.

Tiba-tiba frater S menghentikan langkah. Ceritanya tentang masa kecil dan orang tua pun mendadak terputus.

“Eh A, coba lihat deh! Hewan itu bagus sekali ya bulunya!” ujar frater S sambil menunjuk satu titik yang agak terang di sudut lapangan karena disinari rembulan purnama.

“Wah, iyo é! Itu sih kucing sepertinya!” sambut frater A yang juga turut kagum dengan kemilau bulu mahkluk yang ditunjukkan oleh frater S.

“Eh, bantu aku nangkep ya! Mau tak pelihara di kamar!” ujar frater S yang matanya tak kunjung beralih dari hewan tersebut.

Si hewan yang dimaksud pun sama sekali tak merasa terancam. Dia tetap berdiri dengan tenang

 

dan sesekali berjalan pelan. Padahal, frater S sudah siap dengan kurungan ayam jago dari kandang dari sebelah kanan. Frater A bertugas menghalau hewan itu agar berlari ke arah perangkap frater S. Rencana dua frater itupun berjalan mulus. Si hewan cantik itu berlari menuju arah kurungan ayam dan…

HAP!

Binatang kecil itu pun berhasil masuk perangkap. Dua frater itu tertawa sangat puas sambil merunduk rendah untuk melihat lebih jelas ‘kucing’ yang akan dipelihara di kamar frater S. Namun tiba-tiba ekor si ‘kucing’ berdiri tegak dan ia menghembuskan (lebih tepatnya: menyemprotkan) sesuatu tepat ke arah muka dan badan dua frater itu. Sejurus kemudian…

“Hmpppfhhh…. bushed… ini bauw aphaa yooww?” ujar frater A sambil menutup hidungnya.

 

 

Ternyata frater S yang ditanyai telah lari lebih dahulu sambil meludah-ludah dan ber-ouweeekkkkk ria ke dalam biara.

‘Kucing’ yang berbulu indah itu rupanya adalah sigung (atau senggung); hewan yang mempertahankan dirinya dengan kentut super busuk yang bisa lekat di kulit hingga berhari-hari.

Frater S segera lari menuju kamar mandi dan menyabuni dirinya cukup lama. Kami yang berada dalam radius 50 meter dan sedang studi di kamar masing-masing bahkan telah dapat mengendus bau tidak sedap yang sangat tajam ini.

 

Malam itu, kedua konfrater kami yang tertimpa kemalangan beracun ini sibuk membersihkan diri. Di tengah hawa gunung malam yang dingin berangin, mereka berdua sibuk mandi dan menyabuni diri… memakai parfum dan… akkkhh, baunya tetap saja tidak hilang.

Sial bagi frater A karena malam itu ternyata ia ada jatah bimbingan rohani dengan romo Sugino. Karena bau itu tidak mau hilang juga sementara waktu bimbingan makin dekat, maka frater A mandi de

ngan serbuk rinso yang dapat ‘mencuci sendiri’… nyatanya, justru panas deterjen-lah yang ia dapatkan sementara bau itu tak kunjung hilang.

 

Dengan berat hati, frater A datang ke kamar romo Gino.

“ ‘Mo, maaf! Ini saya baru dikentutin senggung hingga bau semua!” ujar frater A sambil tersenyum kecut.

“Ah, tidak mengapa frater! Yang penting frater siap toh untuk bimbingan?” jawab Romo Gino yang memang terkenal lembut dan baik hati itu.

Frater A masuk ke kamar dan percakapan rohani pun terjadilah. Di tengah bimbingan, frater A sendiri merasakan betapa busuknya bau yang melekat (dan bau itu kini sudah tercampur bau sabun, parfum AXE dan tentu saja… Rinso). Beb

erapa kali frater A bertanya: “Bau ya Romo?” dan Romo Gino yang lembut itu juga tetap menjawab dengan senyum dan ekspresi santai:

“Ah, tidak bau kok frater! Lanjutkan…”

Akhirnya, bimbingan-pun selesai tepat waktu. Setelah bimbingan selesai, Romo Gino langsung membuka seluruh jendela dan pintu kamarnya lebar-lebar. Saat itu frater A kembali bertanya:

“Bau ya Romo?” dan kali ini Romo Gino menjawab:

“Yah, sedikit…” (oh betapa halusnya hati seorang Romo Sugino… walau 4 jendela dan 1 pintu yang terbuka lebar menandakan dahsyatnya bau yang harus ia hirup selama satu jam secara personal itu!)

Dua frater itu dengan santai ikut pula masuk ruang rekreasi dan kapel serta tentu saja menjadi pengharum ruangan yang amat khas. Sambil menahan bau yang khas ini, kami semua tertawa terbahak-bahak dan Romo Socius bahkan berkata:

Lha wong macan saja takut kalau lihat senggung kok (mereka) yang ini malah justru mengejar dan mau miara senggung di kamarnya… é’alah!”

Yah, demikianlah. Program pengenalan inilah yang membuka mata kami sekomunitas. Di tengah kami dan di tengah zaman post-modern ini, masih ada anak-anak muda yang bisa mengalahkan nyali harimau. Luar biasa! :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s